Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH MPKT B

MASALAH PENURUNAN PERMUKAAN TANAH DI JAKARTA

Oleh Home Group 1 :


Adinda Nata Chintana (1506685441)
Annisa Sophia Rainy (1506732702)
Hisana Putri Gazali (1506733081)
Larasati Maheswari Ramadhanti (1506685593)
Mazaya Putri Diandari (1506755555)
Siti Nurdiyana (1506687125)

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik


Universitas Indonesia
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmat-Nya,
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Masalah Penurunan Permukaan
Tanah di Jakarta.
Makalah ini berisi mengenai permasalahan penurunan permukaan tanah yang
semakin banyak terjadi di Jakarta mengacu pada pemicu Problem Based Learning 2.
Kami menyadari bahwa selesainya penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan,
bimbingan petunjuk, dan saran dari semua pihak. Untuk itu kami dengan segala
kerendahan hati menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini, khususnya kepada Dr. Dra Ari Estuningtyas Apt.,
M.Biomed, sebagai fasilitator mata kuliah MPKT-B, serta seluruh teman-teman dari
kelas MPKT-B kelas H.
Kami menyadari makalah ini masih belum sempurna, masih terdapat kekurangan,
baik dalam cara pengungkapan, penyajian, maupun penulisan kata yang dipergunakan
karena keterbatasan kami. Sehingga kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan oleh kami.
Akhirnya, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang
membutuhkan.

Depok, 28 Mei 2016

Tim Penulis

ABSTRAK
Permasalahan penurunan permukaan yang terjadi di Indonesia, khususnya di
Daerah Khusus Ibukota Jakarta, merupakan hal yang sangat krusial untuk segera
ditangani. Di dalam permasalahan penurunan permukaan tanah, kelompok kami
menggunakan beberapa konsep atau teori dasar yaitu pedologi, geografi, biologi,
geologi, ilmu pemerintahan, dan juga konsep teknologi. Adapun faktor penyebab dari
munculnya penurunan tanah di wilayah DKI Jakarta yang terbagi menjadi faktor alam
dan faktor manusia. Selain itu, ada pula persebaran wilayah dan waktu sensitif di DKI
Jakarta yang rawan terjadi penurunan permukaan tanah. Berbagai pihak pun juga turut
terlibat dalam permasalahan dan juga penanggulangan dari dampak-dampak yang
ditimbulkan dari terjadinya penurunan permukaan tanah, sehingga ditemukan pula
berbagai solusi dan penanggulangan penurunan permukaan tanah yang juga salah
satunya bisa melibatkan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada
proses penanggulangannya. Teknologi itu antara lain metode GPS dan juga InSar.

Kata kunci : Jakarta, Penurunan, Permukaan, Tanah, Teknologi

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................................
i
ABSTRAK..........................................................................................................................
ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................
1
1.1. Latar Belakang.......................................................................................................
1
1.2. Rumusan Masalah..................................................................................................
1
1.3. Hipotesis.................................................................................................................
2
1.4. Tujuan Penulisan....................................................................................................
2
1.5. Manfaat Penulisan..................................................................................................
2
BAB II TEORI DASAR......................................................................................................
3
2.1. Pedologi.................................................................................................................
3
2.2. Geografi..................................................................................................................
3
2.3. Biologi....................................................................................................................
3
2.4. Geologi...................................................................................................................
4
2.5. Ilmu Pemerintahan.................................................................................................

4
2.6. Teknologi................................................................................................................
5
BAB III DISKUSI DAN PEMBAHASAN.........................................................................
5
3.1. Pengertian Penurunan Permukaan Tanah...............................................................
5
3.2. Penyebab Penurunan Permukaan Tanah di Jakarta................................................
6
3.3. Lokasi di Jakarta Rawan Penurunan Permukaan Tanah.........................................
7
3.4. Dampak Penurunan Permukaan Tanah di Jakarta..................................................
7
3.5. Pihak Penanggulangan Permukaan Tanah di Jakarta.............................................
8
3.6. Penanggulangan penurunan tanah di Jakarta terkait pada penggunaan TIK..........
9
BAB IV PENUTUP.............................................................................................................
11
4.1. Kesimpulan.............................................................................................................
11
4.2. Saran.......................................................................................................................
11
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................
12

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia sebagai bangsa yang sedang berkembang dengan berbagai upayanya
untuk terus memajukan bangsanya ini juga memiliki banyak permasalahan di dalam
prosesnya. Tak hanya permasalahan yang terjadi di daerah pelosok-pelosok saja demi
mensejahterakan masyarakat Indonesia, namun juga permasalahan yang terjadi di kotakota besar di Indonesia. Adapun salah satunya yaitu Daerah Khusus Ibukota Jakarta
dengan berbagai permasalahan yang ada dan yang dibahas mengacu pada pemicu
Problem Based Learning, yaitu permasalahan penurunan permukaan tanah. Definisi
penurunan tanah menurut NCICD (National Capital Integrated Coastal Development)
adalah salah satu fenomena deformasi permukaan bumi secara vertikal di samping
terjadi fenomena uplift1.
Dalam proses penurunan tanah yang terjadi di Jakarta, ada beberapa faktor-faktor
yang mendorong dan merupakan penyebab penurunan permukaan tanah serta wilayah
Jakarta sendiri pun memiliki wilayah atau daerah tertentu yang rawan untuk terjadi
penurunan permukaan tanah. Sebagai akibatnya, banyak dampak yang ditimbulkan
akibat dari penurunan permukaan tanah sehingga haruslah terdapat tindakan dari
berbagai pihak untuk mengatasi atau menanggulangi masalah penurunan tanah di
Jakarta.
Di era yang semakin modern ini pun tentu tidak luput dari adanya pengembangan
berbagai teknologi yang ada. Adapun dalam hal ini, termasuk juga dengan proses
pemantauan dan juga penanggulanan penurunan permukaan tanah yang memanfaatkan
teknologi yang ada.
1.2. Rumusan Masalah
Adanya permasalahan penurunan permukaan tanah di provinsi DKI Jakarta,
khususnya di wilayah Pademangan, Ancol. Adapun permasalahan terebut menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan, antara lain:
1. Apa pengertian penurunan permukaan tanah di Jakarta?
2. Mengapa terjadi penurunan permukaan tanah di Jakarta?
3. Dimana wilayah Jakarta yang rawan terjadi penurunan permukaan tanah?
4. Apa dampak yang ditimbulkan dari adanya penurunan permukaan tanah di
Jakarta?

5. Siapa pihak-pihak yang terlibat dalam kejadian penurunan permukaan tanah serta
dalam penanggulangan penurunan permukaan tanah di wilayah Jakarta?
6. Bagaimana penanggulangan penurunan tanah di Jakarta terkait pada penggunaan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)?
1.3. Hipotesis
Dari permasalahan yang ada, kelompok kami memberikan hipotesis bahwa
Jakarta akan hilang atau tenggelam apabila masalah penurunan permukaan tanah
dibiarkan tanpa adanya penanganan dari berbagai pihak dan pemanfaatan teknologi
yang baik serta tepat guna.
1.4.
1.
2.
3.

Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengertian penurunan permukaan tanah di Jakarta
Untuk mengetahui penyebab penurunan permukaan tanah di Jakarta
Untuk mengetahui persebaran wilayah Jakarta yang rawan terjadi penurunan

permukaan tanah
4. Untuk mengetahui dampak yang terjadi karena penurunan permukaan tanah
5. Untuk mengetahui pihak-pihak yang terlibat dalam kejadian penurunan
permukaan tanah serta dalam penanggulangan penurunan permukaan tanah di
wilayah Jakarta
6. Untuk mengetahui penanggulangan penurunan tanah di Jakarta terkait pada
penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
1.5. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah oleh kelompok kami yaitu untuk
mengetahui lebih jauh wawasan mengenai penurunan permukaan tanah dan dampaknya
sehingga selanjutnya kita memahami pihak-pihak yang selayaknya turut menanggulangi
penurunan permukaan tanah yang kemudian salah satunya dapat menggunakan suatu
teknologi yang ada.

BAB II
TEORI DASAR
2.1. Pedologi
Pedologi adalah salah satu dari dua cabang utama ilmu tanah selain edafologi atau
ilmu kesuburan tanah2. Pedologi berasal dari bahasa Rusia pedologiya, yang dalam
bahasa Yunani pedon artinya tanah, sehingga dapat disimpulkan bahwa pedologi adalah
cabang Ilmu tanah yang mempelajari sifat dan ciri tanah serta proses pembentukan
tanah3. Secara pedologi, tanah didefinisikan sebagai bahan mineral ataupun organik di
permukaan bumi yang telah dan akan mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh
faktor genetik dan lingkungan pada suatu periode tertentu. Pedologi memandang tanah
sebagai tubuh pembentuk alam terkait dengan asal-usul, pembentukan, penyusunan,
perkembangan, dan dinamikanya. Contoh hasil dari ilmu pedologi tanah adalah berupa
sifat kimia dan morfologi tanah yang digunakan untuk mengenali jenis tanah dan
mengetahui kualitasnya (Poerwowidodo, 1991)4. Pedologi tentu berkaitan dengan
terjadinya penurunan permukaan tanah di Jakarta.
2.2. Geografi
Istilah geografi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu geo
berarti bumi dan graphein berarti tulisan. Jadi, secara harfiah, geografi berarti tulisan
tentang bumi. Oleh karena itu, geografi sering juga disebut ilmu bumi5. Berikut adalah
pengertian geografi menurut para ahli:
1. Paul Claval (1976) berpendapat bahwa Geografi selalu ingin menjelaskan gejala
gejala dari segi hubungan keruangan
2. UNESCO (1956) mendifinasikan geografi sebagai: 1. satu agen sintesis; 2. satu
kajian perhubungan ruang; 3. sains dalam penggunaan tanah.
3. Paul Vidal de La Blace (1915) Geografi adalah studi tentang kualitas negaranegara, di mana penentuan suatu kehidupan tergantung bagaimana manusia
mengelola alam ini.
4. Geografi adalah studi tentang lokasi dan tatanan fenomena pada permukaan bumi
dan proses-proses yang menyebabkan distribusi fenomena tersebut (Fielding,
1974).
Maka, disimpulkan geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan
perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan
dalam konteks keruangan (Semlok 1988 dan Nursid Sumaatmaja, 1997). Kaitannya

dengan penurunan permukaan tanah di Jakarta adalah terkait kondisi letak wilayah
Jakarta itu sendiri.
2.3. Biologi
Beberapa pengertian terkait biologi yaitu bahwa biologi berasal dari bahasa
Yunani, yaitu dari kata bios berarti hidup dan logos berarti ilmu atau belajar tentang
sesuatu. Jadi biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sesuatu yang hidup serta
masalah-masalah yang menyangkut hidupnya6. Biologi adalah suatu disiplin ilmu
sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam yakni kajian tentang materi dan energi yang
berhubungan dengan makhluk hidup serta proses-proses kehidupannya. Biologi
mengkaji semua makhluk hidup, tidak hanya tumbuhan dan hewan yang hidup di muka
bumi ini, akan tetapi tumbuhan dan hewan yang hidup di masa lampau bahkan di
tempat-tempat lain jika mungkin ada kehidupan. Pada masalah penurunan permukaan
tanah yang terjadi di Jakarta, terdapat kaitannya dengan bilogi pula. Seperti yang
diketahui akan adanya ketidakseimbangan kondisi biologi berupa makhluk hidup seperti
tumbuhan akibat dampak dari penurunan permukaan tanah di Jakarta.
2.4. Geologi
Geologi adalah ilmu (science) yang mempelajari bumi, komposisi, struktur, sifat
fisik, sejarah, dan proses pembentukannya 7. Ini terkait pada faktor alamiah yang
menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah di Jakarta yaitu siklus geologi
yang menyebabkan adanya perubahan-perubahan pada komposisi tanah sehingga
terjadilah penurunan permukaan tanah.
2.5. Ilmu Pemerintahan
Ilmu Pemerintahan adalah menyangkut tanggung jawab dan peranan yang
menuntut adanya keterlibatan yang sangat besar dari pemerintah untuk dapat
meningkatkan kemakmuran rakyat banyak8. Konsep mengenai ilmu pemerintahan ini
berkaitan dengan penurunan permukaan tanah dalam hal keterlibatan pemerintah
khususnya Jakarta terkait dengan adanya peristiwa penurunan permukaan tanah di
Jakarta, baik dalam pembuatan kebijakan terkait penanggulangan penurunan permukaan
tanah maupun peran pemerintah dalam pengkoordinasian dengan pihak-pihak lain
terkait dengan penurunan permukaan tanah di Jakarta.

2.6. Teknologi
Teknologi merupakan sekumpulan pengetahuan ilmiah, mesin, perkakas, serta
kemampuan organisasi produksi yang dikelola secara sistematik dan efektif. (Judet &
Perrin, 1971)9. Kaitannya dengan penurunan permukaan tanah di Jakarta adalah terkait
pada penanggulangannya. Penanggulangan penurunan permukaan di Jakarta selain
melibatkan berbagai peran seperti pemerintah, masyarakat, lembaga keilmuwan, juga
bisa memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Adapun contohnya yaitu
penggunaan GPS untuk memantau daerah yang rawan akan terjadinya penurunan
permukaan tanah serta berbagai metode untuk menanggulangi penurunan permukaan
tanah.

BAB III
DISKUSI DAN PEMBAHASAN
3.1. Pengertian Penurunan Permukaan Tanah
National Capital Integrated Coastal Development atau Pembangunan Terpadu
Pesisir Ibukota Negara (NCICD) dalam websitenya mengatakan bahwa penurunan tanah
merupakan salah satu fenomena deformasi permukaan bumi secara vertikal di samping
terjadi fenomena uplift10. Artinya, deformasi permukaan tanah tersebut berpengaruh
pada posisi permukaan tanah dalam posisi vertical (ketinggian atau kedalaman).
Penurunan tanah dapat menjadi suatu fenomena yang membahayakan masyarakat
setempat mengingat penurunan tanah dapat merusak infrastruktur ketika kondisi tanah
dalam keadaan tidak stabil.
Menurut sumber yang sama, penurunan tanah seperti yang disebutkan pada
pemicu PBL 2, yaitu di DKI Jakarta, dapat mencapai angka penurunan 5 hingga 10 cm
per tahunnya. Kondisi vertikal tanah yang tidak stabil tersebut menunjukkan bahwa
deformasi permukaan bumi sedang terjadi di DKI Jakarta. Merujuk pada definisi dari
NCICD, maka fenomena deformasi permukaan bumi di DKI Jakarta tersebut
(penurunan permukaan tanah 5-10cm) membuktikan adanya penurunan tanah di daerah
ibukota yang tentunya harus segara diatasi karena DKI Jakarta merupakan salah satu
provinsi padat penduduk di Indonesia.

3.2. Penyebab Penurunan Permukaan Tanah di Jakarta


3.2.1. Penurunan tanah alami (natural subsidence)
Yaitu penurunan tanah yang disebabkan oleh proses-proses geologi. Beberapa
penyebab terjadinya penurunan tanah alami bisa digolongkan menjadi yang pertama
adalah siklus geologi yang melalui proses-proses pelapukan (denuation),
pengendapan (deposition), dan pergerakan kerak bumi (crustal movement). Adapun
keterkaitan siklus geologi dengan penurunan tanah alami adalah pelapukan bisa
disebabkan oleh air seperti pelapukan batuan karena erosi baik secara mekanis maupun
kimia, oleh perubahan temperatur yang mengakibatkan terurainya permukaan batuan,
oleh angin terutama di daerah yang kering dan gersang karena pengaruh glasial, dan
oleh gelombang yang biasanya terjadi di daerah pantai (abrasi). Kemudian sedimentasi
daerah cekungan dimana sedimen yang terkumpul di cekungan semakin lama semakin
banyak dan menimbulkan beban yang bekerja semakin meningkat, kemudian proses
kompaksi sedimen tersebut menyebabkan terjadinya penurunan pada permukaan tanah.
3.2.2. Penurunan tanah akibat pengambilan airtanah (groundwater extraction)
Pengambilan airtanah secara besar-besaran yang melebihi kemampuan
pengambilannya akan mengakibatkan berkurangnya jumlah airtanah pada suatu lapisan
akuifer. Hilangnya airtanah ini menyebabkan terjadinya kekosongan pori-pori tanah
sehingga tekanan hidrostatis di bawah permukaan tanah berkurang sebesar hilangnya
airtanah tersebut. Selanjutnya akan terjadi pemampatan lapisan akuifer11.
3.2.3. Penurunan akibat beban bangunan (settlement)
Penambahan bangunan di atas permukaan tanah dapat menyebabkan lapisan di
bawahnya mengalami pemampatan. Pemampatan tersebut disebabkan adanya deformasi
partikel tanah, relokasi partikel, keluarnya air atau udara dari dalam pori, dan sebab
lainnya yang sangat terkait dengan keadaan tanah yang bersangkutan. Proses
pemampatan ini pada akhirnya menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah.
(Quaxiang, 2001)12. Adapun penurunan tanah akibat beban bangunan dibagi menjadi
tiga jenis, yaitu penurunan seketika (penurunan elastis) yang terjadi pada saat beban
diberikan dan diterima oleh air pori, sehingga timbul tegangan air pori pada tanah
berpermeabilitas rendah, penurunan konsolidasi (primer) yang terjadi bersamaan
dengan terdispersinya air pori, akibat penurunan yang terjadi disertai dengan perubahan
volume; tegangan air pori diteruskan ke partikel tanah menjadi tegangan efektit tanah;

kecepatan terjadinya konsolidasi tergantung kecepatan keluarnya air pori yang


merupakan fungsi permeabilitas tanah dan batas-batas drainase dan yang ketiga adalah
penurunan sekunder dan penurunan jangka panjang yang terjadi setelah seluruh
tegangan air pori terdisipasi dan tegangan efektif tanah konstan; deformasi ini terjadi
akibat efek rangkak (drained creep).
3.3. Lokasi di Jakarta Rawan Penurunan Permukaan Tanah
Wilayah DKI Jakarta merupakan suatu wilayah dimana penurunan tanah terbesar
di dominasi di daerah Jakarta Utara. Hal ini juga dipengaruhi oleh dua faktur yaitu di
daerah

Jakarta

Utara

terdapat

kepadatan

penduduk

dan

berbagai

aktivitas

industritertadat disana. Setiap tahunnya terjadi penurunan 5 sampai dengan 10 cm oleh


karena itu 40% dari Jakarta Utara berada di bawah permukaan laut13. Adapun persebaran
lokasi-lokasi di Jakarta yang rawan terjadi penurunan permukaan tanah, yaitu:
Jakarta Utara : Muara Angke, Muara Baru, Penjaringan, Pantai Indah Kapuk,

Pademangan, Pantai Mutiara, Ancol


Jakarta Barat : Cengkareng, Meruya, Kebon Jeruk, Daan Mogot
Jakarta Pusat : Cikini, MH. Thamrin, Gunung Sahari
Jakarta Timur : Cibubur, Pulogadung
Jakarta Selatan : Pondok Indah, Kuningan, Kebayoran

3.4. Dampak Penurunan Permukaan Tanah di Jakarta


Penurunan tanah di Jakarta yang disebabkan oleh dua faktor yaitu kegiatan
manusia dana kegiatan alam dapat menyebabkan posisi Jakarta terhadap laut semakin
rendah. Penyebab penurunan tanah berdasarkan kegiatan manusia seperti pengambilan
air tanah yang berlebihan, pengembangan bawah tanah, beban bangunan yang dibangun
diatas permukaan tanah dan ekstraksi gas dan minyak bumi. Meskipun hal itu untuk
memenuhi kebutuhannya namun dampaknya negatif terhadap permukaan tanah.
Penyebab penurunan tanah berdasarkan kegiatan alam seperti sedimentasi daerah
cekungan, aktivitas tektonik dan vulkanik, siklus geologi dan adanya rongga dibawah
tanah yang menyebabkan sink hole. Penyebab berdasarkan kegiatan alam ini tidak dapat
kita cegah. Waktu untuk kita menanggulangi penurunan tanah adalah saat dampakdampak dari penurunan tanah ini sudah terasa di masyarakat. Dampak dari penurunan
tanah dapat dikategorikan dalam fisik, sosial dan ekonomi. Kategori fisik, dampak dari
penurunan tanah adalah terjadinya banjir rob dan kerusakan pada gedung, rumah dan
infrastruktur kota. Kategori sosial, dampaknya adalah berkurangnya kualitas hidup dan

lingkungan seperti sanitasi dan kenyamanan lingkungan. Kategori ekonomi,


dampaknya ada yang terasa langsung disebabkan oleh kerugian dari rusaknya gedung
dan infrastruktur dan juga dari sisi penduduknya seperti kehilangan mata pencaharian
sehingga menurunnya laju pertumbuhan perekonomian Jakarta.
3.5. Pihak Penanggulangan Permukaan Tanah di Jakarta
Dalam menanggulangi penurunan permukaan tanah di Jakarta, perlu adanya
kerjasama antara masyarakat dan pemerintah, serta kerjasama pemerintah dengan para
ilmuwan dalam mengaplikasikan teknologi-teknologi untuk mengatasi permasalahan
tersebut. Pihak yang paling penting dalam menanggulangi hal ini adalah pemerintah.
Pemerintah harus membuat suatu regulasi yang jelas dan tegas mengenai larangan
pengambilan air tanah dan pembatasan pembangunan gedung bertingkat dan
infrastruktur lainnya14. Berkaitan dengan larangan pengambilan air tanah, jika
pemerintah membatasi atau melarang pengambilan air tanah yang merupakan sumber
air masyarakat, pemerintah perlu memberikan alternatif lain dari sumber air. Alternatif
dari sumber air tersebut yaitu air permukaan yang terdiri dari mata air, sungai, danau,
lahan basah, dan laut. Pemerintah pada hal ini harus bekerja sama dengan masyarakat
agar menjaga kebersihan sumber air permukaan dengan tidak membuang limbah ke
sungai, danau dan laut.
Pemerintah juga harus bekerja sama dengan masyarakat dalam upaya
penanaman kembali daerah-daerah yang tidak terdapat tumbuhan dan pohon atau
reboisasi. Kondisi tanah di wilayah yang tidak terdapat pohon tentu menjadi sangat
rapuh karena tidak adanya akar-akar pohon yang memperkuat kondisi tanah. Hal ini
dapat membantu mencegah penurunan permukaan tanah. Pemerintah juga dapat
bekerjasama dengan pihak ilmuwan. Seiring dengan perkembangan teknologi yang
semakin maju setiap waktunya, berbagai ahli banyak yang mencari cara untuk
menanggulangi permasalahan penurunan permukaan tanah yang terjadi. Salah satu
teknologi yang ada, yaitu Aquifer Storage and Recovery (ASR)15.
3.6. Penanggulangan penurunan tanah di Jakarta Terkait pada Penggunaan TIK
3.6.1. Teknik Pemantauan Penurunan Tanah

Teknik ini dapat dilakukan melalui dua metode yaitu metode hidrogeologis
yang berupa pengamatan level muka air tanah dan juga melakukan pengamatan dengan
alat ukur ekstensometer dan pisometer. Metode berikutnya yaitu metode geodetik
berupa survey yang dilakukan melalui sistem GPS dan juga InSar. GPS adalah sistem
satelit navigasi dan penentuan posisi yang berbasiskan pada pengamatan satelit-satelit
Global Positioning System. Prinsip studi penurunah tanah dengan metode survei GPS
yaitu dengan menempatkan beberapa titik pantau di beberapa lokasi rawan penurunan
permukaan tanah yang dipilih, secara periodik atau kontinyu untuk ditentukan
koordinatnya secara teliti16. Dengan mempelajari perubahan pola dan kecepatan
perubahan tinggi dari satu survei ke survei yang lain, maka karakteristik penurunan
muka tanah dapat ditentukan.
InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar) adalah cara berupa metode
yang digunakan untuk mempelajari fenomena penurunan tanah yang berbasiskan pada
penggunaan citra satelit radar (Abidin dkk, 2004). Hasil dari metode InSAR
mengkonfirmasi dan melengkapi hasil dari metode-metode sipat datar dan survei GPS
tentang karakteristik fenomena penurunan muka tanah di Jakarta. Berkaitan dengan
studi penurunan muka tanah yang umumnya menuntut ketelitian pada tingkat mm-cm,
penggunaan sistem radar ini haruslah dalam moda interferometri, yaitu dengan
memanfaatkan teknik interferometri radar.

Gambar 1. Prinsip pemantauan deformasi dengan metode InSar


3.6.2. Aquifer Storage and Recovery(ASR)
Aquifer Storage and Recovery(ASR) atau yang biasa disebut dengan sumur
injeksi atau sumur penyelamat. Metode dan caranya adalah dengan membuat resapan
air dan kemudian menginjeksikan air ke saluran-saluran yang telah ditentukan. Secara
9

singkat, ASR didefinisikan pula sebagai penyimpanan air pada lapisan tanah yang
dilakukan melalui pengeboran17. Cadangan air tanah berasal dari air hujan yang turun
selama musim penghujan dan proses pengambilannya dilakukan ketika musim kemarau.
Pada teknologi ini, sumur bor ASR dilengkapi dengan pisometer sebagai alat pemantau,
yang dipakai untuk mengukur tekanan statis cairan dalam sebuah sistem. Selain itu,
pada sumur bor ASR juga ditambahi dengan bangunan pelengkap untuk pengolahan air
imbuhannya. Adapun mengenai komponen-komponen dalam teknologi ASR, antara lain
saluran pengelak dari saluran utama yang telah ada, unit kontrol di saluran pengelak
untuk mengontrol kuantitas dan kualitas aliran air ke sumur injeksi, petunjuk
pelaksanaan untuk treatment aliran air berlebih yang akan digunakan, tampungan
(wetland) untuk penyimpanan sementara yang digunakan pada saat proses recovery dan
saat penggunaan kembali, spillway menuju ke tampungan (wetland), sumur injeksi,
peralatan recovery di sumur injeksi, Water Treatment System (tergantung pada
penggunaan kembali air yang di-recovery), sistem monitoring (elevasi muka air, volume
air yang diinjeksikan atau yang diekstraksi), sistem monitoring kualitas air, titik
pemantauan kualitas air pada jalur yang menuju injeksi, serta sistem kontrol untuk
menghentikan injeksi pada saat-saat tertentu18.

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang merupakan pusat dari negara Indonesia
memiliki wilayah-wilayah yang rawan untuk terkena bencana penurunan permukaan
tanah (land subsidence). Penurunan permukaan tanah ini terjadi akibat faktor alam yang
meliputi siklus geologi, sedimentary basin, aktifitas tektonik, siklus geologi, sink hole
dan faktor manusia yaitu eksploitasi air tanah dan settlement karena beban bangunan.
Akibat dari adanya penurunan permukaan tanah di Jakarta yaitu beberapa aspek
diantaranya aspek fisik yang menurunkan pula aspek ekonomi dan sosial. Untuk itu,
perlu diadakan penanggulangan dari berbagai pihak diantaranya pemerintah,
masyarakat, lembaga dan ilmuwan. Adapun dapat juga diterapkan cara pemantauan
wilayah rawan penurunan permukaan tanah dengan teknologi GPS dan InSar. Karena
apabila masalah penurunan permukaan tanah ini didiamkan, maka kemungkinan jakarta

10

akan tenggelam karena seringnya peristiwa penurunan pada tanah dan ditambah pula
karena kondisi geografisnya yang di dekat pesisir bagi wilayah yang rawan penurunan
permukaan tanah.
4.2. Saran
Dalam permaslahan penurunan permukaan tanah yang ada di Jakarta, adapun
saran yang dapat disampaikan antara lain bagi pemerintah hendaknya dipertegas serta
diperjelas lagi dalam membuat kebijakan-kebijakan terkait dengan adanya permasalahan
dan penanggulangan penurunan permukaan tanah. Bagi masyarakat hendaknya berpikir
dalam jangka panjang bila ingin mendirikan bangunan sehingga tidak terlalu banyak
untuk menyedot air tanah yang mengakibatkan penurunan permukaan tanah. Kemudian,
dalam pengimplementasian penggunaan teknologi untuk memantau daerah rawan
penurunan permukaan tanah serta ASR, hendaknya dilakukan secara tepat guna.

11

DAFTAR PUSTAKA
1. National Capital Integrated Coastal Development (Pembangunann Terpadu Pesisir
Ibukota Negara). 2013. (http://en.ncicd.com/2013/08/post-2-2/#, diakses pada 26
Mei 2016 pukul 19:30)
2. Setiawan, Parta. 2015. Pengertian Pedologi. (http://www.gurupendidikan.com/
pengertian-pedologi-menurut-ahli-geografi/, diakses pada 27 Mei 2015 pukul
13:50)
3. Fatimah,

Soja

Siti.

2015.

(http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._KIMIA/196802161994022SOJA_SITI_FATIMAH/Kuliah_Kimia_terapan_pada_jurusan_agro_industri/Kimi
a_Tanah/Kimia_tanah_1.pdf, diakses pada 27 Mei 2016 pukul 13:55)
4. http://digilib.unila.ac.id/20661/14/BAB%20II.pdf (diakses pada 27 Mei 2016
pukul 13:37)
5. http://www.e-jurnal.com/2013/11/pengertian-geografi-menurut-para-ahli.html
(diakses pada 27 Mei 2016 pukul 13:42)
6. http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196805091994031/
KUSNADI/BUKU_SAKU_BIOLOGI_SMA,KUSNADI_dkk/Kelas_X/Bab.Biolo
gi_sbg_ilmu.pdf (diakses pada 27 Mei 2016 pukul 14:06)
7. Kurniawan, Aris. 2015. Pengertian Geologi. (http://www.gurupendidikan.com/19pengertian-geologi-menurut-para-ahli-beserta-cabangnya/ diakses pada 27 Mei
2015 pukul 14:12)
8. YLST,
Franciscus

Van.

1998.

Hakekat

Ilmu

Pemerintahan

(http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=77533&lokasi=lokal, diakses pada 27 Mei


2016 pukul 14:19)
9. ftp://ftp.dinus.ac.id/uploads/d-one/kt02.pdf (diakses pada 27 Mei 2016 pukul
14:16)
10. Penurunan

Permukaan

Tanah

di

Pesisir

Jakarta,

Land

Subsidence,

(http://en.ncicd.com/tag/berita-media/, diakses pada 18 Mei 2016)


11. Seaton, W.J., Burbey, T.J. 2005. Influence of Ancient Thrust Faults on The
Hydrogeology of The Blue Ridge Province: Ground Water, v. 43, no. 3. Page 301313
12. Whittaker BN, Reddish JR. 1989. Developments in Geotechnical Engineering,
Subsidence: Occurrence, Prediction and Control. Amsterdam: Elsevier
13. http://metro.news.viva.co.id/news/read/195076-lokasi-penurunan-tanah-di-jakarta,
diakses pada 9 mei 2016

12

14. http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/19/05130577/Penurunan.Tanah.di.J
akarta.Utara, diakses pada 27 Mei 2016 pukul 14:39
15. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/09/04/nbd60v-airpermukaan-solusi-penurunan-tanah-jakarta, diakses pada 27 Mei 2016 pukul
15:00
16. Irwan Gumilar, H.Z. Abidin, L.M. Hutasoit, D.M. Hakim, D. A. SArsito, H.
Andreas, T.P Sidiq. 2012. Studi Pemantauan Penurunan Muka Tanah di Cekungan
Bandung dengan Metode Survei GPS dan InSAR. Indonesian Journal of
Geospatial. Vol. 1, No. 4, Hal 44-53
17. http://journals.itb.ac.id/index.php/ijog/article/view/2176/1115 (diakses pada 28
April 2016, pukul 17:12)
18. http://ugm.ac.id/id/berita/8261sumur.injeksi.solusi.masalah.penurunan.muka.air.tanah.dki (diakses pada 28 April
2016, pukul 17:01)

13