Anda di halaman 1dari 20

UMPAN BALIK

03/EXP/2017

Nama Peneliti : Wa Ode Zahra Amalia

NIM : Q11116513

Inisial Subjek : NK

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 19 tahun

Pendidikan Terakhir : SMA

Tanggal Penelitian : November 2017

Waktu Penelitian : Pikul 17.42-17.50 WITA

Tempat Penelitian : Ruangan PB. 142 Program Studi Psikologi, Fakultas

Kedokteran, Universitas Hasanuddin.

3.1 Rumusan Masalah

Apakah ada pengaruh pemberian umpan balik (feedback) terhadap ketepatan

mempersepsi ilusi Poggendorf?

1
2

3.2 Kajian Pustaka dan Hipotesis

3.2.1 Kajian Pustaka

3.2.1.1 Persepsi

Persepsi merupakan proses mengatur dan memberikan arti terhadap informasi

sensoris untuk memberikan makna (King,2010). Plotnik & Kouyoumdjian (2011)

mendefinisikan persepsi sebagai pengalaman yang kita dapatkan setelah otak kita

menemukan pola-pola bermakna dari informasi sensori. adapun Myers (2010)

juga mendefinisikan persepsi sebagai proses mengorganisasi dan menginterpretasi

informasi sensoris, sehingga memungkinkan kita untuk memahami sebuah objek

atau kejadian. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa persepsi merupakan proses

pemberian makna terhadap informasi sensoris sehingga memungkinkan kita untuk

memahaminya.

Dari persepsi inilah yang kemudian membuat seseorang mampu memberikan

sudut pandang terhadap dunianya (King, 2010). Sebagai contoh, ketika kita

melihat sebuah pesawat terbang, sel-sel reseptor pada indera kita mencatatnya

sebagai benda perak diangkasa, hingga setelah kita memberikan makna terhadap

benda perak tersebut sebagai pesawat. Jadi, sel-sel reseptor tidak melihat adanya

pesawat terbang, tapi hanya mencatat bahwa terdapat benda berwarna perak,

hingga setelah kita menginterpretasi benda tersebut, barulah kita mengetahuinya

sebagai pesawat terbang. Contoh lain, ketika kita melihat sebuah potret

pemandangan, maka informasi sensoris yang kita dapatkan berupa pantai ataupun

pegunungan, hingga setelah kita memberikan arti kepada pantai tersebut, barulah

kita menyadari bahwa betapa indahnya pemandangan tersebut.


3

A. Proses Persepsi

1. Stimulus

Sebelum terjadi persepsi pada manusia, diperlukan sebuah stimulus yang

berada dilingkungan, berupa cahaya, suara, tekanan, ataupun yang lainnya.

stimulus tersebut kemudian ditangkap oleh organ indra pada manusia, misalnya

mata, telinga, kulit, dan hidung. (Plotnik & Kouyoumdjian, 2011)

2. Transduksi.

Setelah sel reseptor pada indera mencatat adanya energi rangsangan, maka

selanjutnya energi tersebut dikonversi menjadi impuls kimia listrik. Proses

pengubahan dari energi fisik menjadi energi kimia listrik disebut sebagai

transduksi (transduction) (King, 2010). Dari transduksi, kemudian dihasilkan

potensial aksi yang mengalirkan informasi mengenai rangsangan melalui sistem

saraf ke otak (Jia, Dallos & He, 2007; Lumpkin & Caterina, 2007; King, 2010).
3. Brain:Primary Area.

Ketika rangsang ini telah sampai ke otak, maka ia akan bergerak ke bagian

yang berhubungan, misalnya impuls yang berasal dari telinga itu akan menuju ke

lobus temporalis, dari kulit itu akan menuju ke lobus parietal, dan impuls dari

mata itu akan menuju ke lobus oksipitalis. Ketika sebuah impuls dari indera mata

misalnya telah menuju ke globus oksipitalis, maka terjadilah yang namanya

sensasi. Proses menerima energi rangsangan dari lingkungan luar berupa cahaya,

suara, atau yang lainnya melalui organ indera kemudian disebut sebagai sensasi

(sensation) (King, 2010).

4. Interpretasi
4

Setelah rangsangan tersebut telah sampai ke otak (dalam hal ini telah terjadi

sensasi), maka kemudian terjadi proses penginterpretasian, yaitu proses pemberian

makna/arti terhadap informasi sensoris. Hal tersebut dilakukan oleh otak dengan

berusaha untuk menemukan pola-pola bermakna dari informasi sensoris tersebut.

Proses inilah yang kemudian kita kenal sebagai persepsi. Proses merasa dan

memersepsi kemudian memberikan kita sudut pandang mengenai pemandangan,

sebuah lagu, sentuhan kasih sayang, rasa manis, dan juga aroma bunga (King,

2010).

B. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persepsi

Sebuah artikel ilmiah psikologi menjelaskan bahwa ada dua faktor yang dapat

mempengaruhi persepsi seseorang, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Yang dimaksud faktor internal adalah hal-hal (keadaan, peristiwa) yang

terdapat dalam individu yang turut mempengaruhi proses persepsi tersebut. Hal

ini mencakup beberapa hal sebagai berikut :

a. Fisiologis
Seperti yang diketahui bahwa sensasi adalah proses yang mendahului

terjadinya persepsi, maka tentu kapasitas indra sangat penting kaitannya dalam

hal ini. Sebab kapasitas indra yang dimiliki seseorang untuk menangkap

stimulus itu berbeda-beda di setiap individu, maka interpretasi terhadap

lingkungan juga dapat berbeda-beda. Misalnya kapasitas mata orang normal

tentu berbeda dengan orang yang menderita minus.

b. Perhatian
Lingkungan menawarkan banyak stimulus yang tentunya tidak semua organ

indra mampu menangkapnya sekaligus, tetapi biasanya menaurh perhatian


5

lebih pada satu objek ada dua objek saja. Tentu perbedaan fokus antara satu

orang dengan orang lainnya, akan menyebabkan perbedaan persepsi diantara

mereka (Fauzi, 2004).


c. Kebutuhan
Kebutuhan-kebutuhan baik sesaat maupun menetap juga turut dapat

mempengaruhi persepsi seseorang (Fauzi,2004). Dengan demikian,

kebutuhankebutuhan yang berbeda di tiap orang tentu dapat mempengaruhi

persepsi orang tersebut.


d. Pengalaman
Pengalaman yang berbeda-beda juga turut mempengaruhi persepsi seseorang,

sebab orang cenderung untuk mengaitkan kejadian-kejadian lampau untuk

mengetahui dan memaknai suatu rangsangan.

Adapun faktor eksternal adalah hal-hal yang berada diluar individu yang tur

mempengaruhi persepsi, misalnya karakteristik dari lingkungan, ataupun objek-

objek yang terlibat di dalamnya. Faktor eksternal ini berupa :

a. Ukuran dan Penempatan dari sebuah objek.


b. Warna dari objek-objek.
c. Keunikan dan Kekontrasan stimulus.
d. Intensitas dan kekuatan stimulus.
e. Motion atau gerakan.

3.2.1.2 Ilusi (illusion)

Reber dan Reber (2010), mengemukakan bahwa ilusi (illusion) merupakan

keadaan di mana visual stimulus yang didapatkan tidak dapat diprediksi oleh

analisis sederhana. Selain itu Reber dan Reber (2010) juga mengemukakan bahwa

ilusi (illusion) bukanlah persepsi yang keliru. Apa yang kita tangkap merupakan

persepsi yang sebenarnya yang dihasilkan oleh proses-proses retina yang kita

miliki.
6

Plotnik dan Kouyoumdjian (2008) menyatakan bahwa ilusi merukapan

pengalaman perceptual dimana kita menerima atau menangkap suatu gambaran

yang terdistorsi dalam dunia nyata. Ilusi (Illusion) terbentuk akibat adanya

manipulasi dalam perceptual cues sehingga mengakibatkan otak tidak dapat lagi

menginterpretasikannya dengan benar terkait jarak (space), ukuran (size) dan

bahkan depth cues. Ilusi muncul ketika terjadi ketidaksesuaian antara kenyataan

dan perwakilan persepsi mengenai hal yang di persepsi. Ilusi adalah sebuah hal

yang tidak benar, tetapi bukan berarti sesuatu yang abnormal (King,2010).

Walgito (2010) berpendapat bahwa Ilusi yaitu kesalahan individu dalam

memberikan persepsi atau arti terhadap stimulus yang diterimanya. Orang

seringkali mempersepsi suatu kejadian atau keadaan yang terjadi di sekitarnya.

Dalam mempersepsi tersebut seringkali terjadi kesalahan, karena dalam

mengartikan suatu stimulus ini melibatkan perasaan dan pemikiran. Kesalahan

dalam mempersepsi stimulus ini wajar terjadi pada individu.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kesalahan persepsi atau terjadinya ilusi

yaitu (Walgito, 2010) :

1. Faktor kealaman, dimana kesalahan persepsi terjadi karena faktor alam,

misalnya illusi echo (gema), illusi kaca.


2. Faktor stimulus, dimana faktor stimulus terbagi atas 2 yaitu:
a. Stimulus yang memiliki makna ambigu, memberi peluang terjadinya persepsi

ganda.
b. Stimulus yang tidak dianalisis lebih lanjut, yang memberikan impresi secara

total.

3. Faktor individu, hal ini dapat disebabkan karena adanya kebiasaan dan juga

kesiapan psikologis dari individu


7

Stenberg & Stenberg (2012) mendefinisikan bahwa ilusi terjadi karena apa

yang dirasakan oleh individu (di organ sensoris) berbeda dengan apa yang

dipersepsikan (di dalam pikiran). Pikiran individu akan memproses dan

memanipulasi informasi yang diterima untuk membentuk representasi mental

individu. Representasi mental ini tergantung dengan masing-masing cara pandang

individu akan stimulus. Sedangkan, fenomena ilusi optikal adalah kesalahan

dalam menginterpretasi stimulus visual, atau stimulus yang ditangkap oleh indra

mata.

3.2.1.4 Ilusi Poggendorf (Poggendorf Illusion)

Ilusi Poggendorf (Poggendorf Illusion) merupakan salah satu geometrical-

optical illusion yang terkenal dan banyak menarik perhatian selama hampir

ratusan tahun (Spehar & Gillam, 2002). Dalam pandangan Morgan (Spehar &

Gillam 2002), Poggendorf illusion melibatkan proses retinal dan proses cortical.

Selain itu Poggendorf illusion juga terkait dengan processing of relative posisiton,

orientation, dan collinearity of spatially dari garis yang dipisahkan oleh sebuah

objek.

Knowlton & Bridgeman (1993) juga menjelaskan ilusi Poggendorf

(Poggendorf illusion) adalah memersepsikan figur dua garis terpisah yang

didistorsi oleh dua garis paralel (berbentuk persegi panjang) dan membuatnya

menjadi lurus. Pada penelitian yang dilakukan menggunakan Poggendorf illusion

yang bertujuan untuk melihat efek yang ditimbulkan dari garis (pemberian

feedback) pada figur ilusi. Ilusi yang timbul pada figur ilusi Poggendorf
8

disebabkan oleh bagaimana seseorang memersepsikan kelurusan panah yang

diberi jarak antara dua bagian.

3.2.1.5 Umpan Balik (Feedback)

Umpan balik adalah informasi mengenai kinerja atau perilaku yang mengarah

pada sebuah tindakan untuk mengembangkan kinerja dan perilaku tersebut

(Thatcher & John, 1994 dalam Roland & Flance, 1996). Russel dan Tim (1994,

dalam Roland & Flance, 1996) menjelaskan bahwa yang dimaksud pemberian

umpan balik adalah membiarkan seseorang tahu mengenai apa yang telah mereka

lakukan untuk mencapai suatu standar, sehingga mereka dapat mengetahui bahwa

apa yang telah mereka lakukan itu belum mencapai standar. Jadi, dari dapat

disimpulkan bahwa umpan balik merupakan proses pemberian informasi

mengenai kinerja dan perilaku, dimana informasi tersebut dapat membantu

mereka belajar dan bertumbuh.

Kata feedback (umpan balik) sebenarnya berasal dari istilah teknologi yang

bermakna sebagian dari hasil (output) yang dikembalikan (di umpan kembali) ke

sistem untuk membuat suatu penyesuaian (Clement, 2006). Misalnya dalam

sistem pendinginan, bila suhu ruangan telah sampai pada temperatur yang

dinginkan, maka diberikan informasi kembali ke dalam sistem pendingin untuk

melakukan penyesuaian kerja. Apabila tidak ada umpan balik berupa informasi

mengenai suhu ruangan yang telah dingin, maka pendingin akan terus menerus

membuat ruangan menjadi lebih dingin. istilah ini kemudian diterapkan dalam

kehidupan, dimana perilaku adalah hasil (output) dari manusia.


9

Umpan balik dikonsepkan sebagai informasi yang di tawarkan oleh seseorang

(misalnya, guru, teman sebaya, orang tua) mengenai aspek dari kinerja dan

pemahaman (Hattie & Timperley, 2007). Guru misalnya mengoreksi pemahaman

yang kita miliki, teman sebaya memberikan masukan terhadap apa yang kita

lakukan, begitu pula orang tua. Jadi, umpan balik (feedback) ini merupakan

konsekuensi dari kinerja atau perilaku kita yang ditunjukkan ke lingkungan.

Pemberian umpan balik kepada perilaku, tugas atau apa yang telah kita

lakukan, itu akan membuat hal tersebut menjadi lebih baik. Sebab dari adanya

umpan balik, kita akan mempelajari dan memahami kesalahan yang dibuat,

merenungkannya, dan mengubahnya agar berjalan lebih baik dimasa yang akan

datang (Clement, 2006). Pemberian umpan balik ini juga nantinya dipakai

sebagai pemandu bagaimana sebaiknya proses itu di lakukan. jadi, dari umpan

balik ini, kita bisa mengetahui dimana letak kelemahan kita dalam berkinerja dan

berperilaku.

3.2.2 Hipotesis

3.2.2.1 Individu

Ada perbedaan ketepatan individu dalam memersepsi ilusi Poggendorf

sebelum dan sesudah mendapatkan umpan balik (feedback).

3.2.2.2 Individu

Ada perbedaan ketepatan kelompok dalam memersepsi ilusi Poggendorf

sebelum dan sesudah mendapatkan umpan balik (feedback).


10

3.3 Metode Penelitian

3.3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan menggunakan One

Group Pretest-Posttest Design.

3.3.2 Sarana Penelitian

Sarana yang digunakan dalam penelitian ini adalah komputer jinjing berisi

program INTPSYCH.

3.3.3 Prosedur Penelitian

Prosedur yang dijalankan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Peneliti mempersiapkan segala sesuatunya termasuk sarana yang akan

digunakan. Cara mengaktifkan program:

a. Aktifkan INTPSYCH dengan menekannya dua kali (double click).

b. Masukkan nama depan anda, tekan ENTER masukkan nama belakang tekan

ENTER, tekan No, jika nama anda sudah benar, dan Yes jika anda ingin

menulis ulang nama anda, setelah itu tampilan layar berubah tekan click to

continue dua kali.

c. Anda akan masuk dalam menu pilihan. Tekan The Poggendorf Illusion:

Effects of Feedback akan tampil tulisan Are you ready to begin this

program (apa anda siap memulai program ini?) tekan YES.

d. Tekan tanda panah kanan ( )


2. Observer menempati tempat duduk yang telah disediakan.
3. Peneliti mempersilahkan subjek penelitian (OP) memasuki tempat penelitian.
4. Peneliti memberikan instruksi awal berupa pengantar pada OP.
11

5. Peneliti memberikan instruksi penelitian sebagai berikut: Nanti di hadapan

Saudara, akan tampil suatu garis yang di potong oleh suatu persegi panjang.

Garis di sisi kanan persegi panjang telah ditentukan posisinya, sehingga tidak

bisa Anda ubah. Tugas Anda adalah meletakkan garis di sisi kiri persegi

panjang agar sejajar (lurus) dengan garis di sisi kanan dengan menggeser garis

tersebut ke atas atau ke bawah. Apakah ada pertanyaan? Bisa kita mulai?.
6. Percobaan ini di lakukan sepuluh (10) kali (bagian pertama).
7. Pada percobaan ke sebelas (11) anda akan mendapat garis bantuan setelah

anda menggeser letak jawaban dari garis tersebut menjadi sejajar. Percobaan

ini juga anda lakukan sepuluh kali (10) (bagian kedua).


8. Pada bagian ketiga, tugas anda masih sama tetapi anda tidak lagi mendapatkan

garis bantuan. Percobaan ini anda lakukan sepuluh kali (10).


9. Setelah trial ke tiga puluh, akan muncul Result, tekan tanda panah kanan satu

kali akan muncul tabel hasil percobaan (Data Summary) yang telah anda

lakukan. Data hasil percobaan ini tidak diperlihatkan pada OP.


10. Peneliti memberikan instruksi akhir berupa penutup pada OP.
11. Peneliti mempersilahkan dan menemani OP keluar ruangan.
12. Peneliti masuk kembali ke dalam ruangan dan membenahi segala sesuatunya.

3.4 Hasil

3.4.1 Pencatatan Hasil

3.4.1.1 Individu

Bagian I Bagian II Bagian III


Tidak Ada Umpan Balik Ada Umpan Balik Tidak Ada Umpan Balik
Percobaan 1 -2 Percobaan 11 -5 Percobaan 21 -2
Percobaan 2 -4 Percobaan 12 -3 Percobaan 22 -1
Percobaan 3 -4 Percobaan 13 0 Percobaan 23 0
Percobaan 4 -3 Percobaan 14 -2 Percobaan 24 0
Percobaan 5 -2 Percobaan 15 -4 Percobaan 25 -2
Percobaan 6 -1 Percobaan 16 -3 Percobaan 26 -1
Percobaan 7 -5 Percobaan 17 0 Percobaan 27 -3
Percobaan 8 -1 Percobaan 18 -1 Percobaan 28 -2
12

Percobaan 9 -2 Percobaan 19 -4 Percobaan 29 -3


Percobaan 10 -6 Percobaan 20 -2 Percobaan 30 -1
X A -30 X B -24 X C -15
Rata-RataA -3 Rata-RataB -2,4 Rata-RataC -1,5

3.4.1.2 Kelompok

No. Subjek Bagian I Bagian II Bagian III


1. SNBZS -9,6 -9,9 -11,7
2. ASR -5,5 0,9 -0,4
3. Y -9,6 -2,4 -4,3
4. AMBT -3,2 1,9 4,9
5. NK -3 -2,4 -1,5
6. ASSS -7,8 -2,2 -2,7
X -38,7 -14,1 -15,7
X 2 1497,69 198,81 246,49
\Cat. Data yang dimasukkan ke dalam tabel adalah nilai rata-rata.

3.4.2 Pengolahan Hasil

3.4.2.1 Individu

PERCOBAAN Bagian 1 Bagian 3


13

1 -2 -2
2 -4 -1
3 -4 0
4 -3 0
5 -2 -2
6 -1 -1
7 -5 -3
8 -1 -2
9 -2 -3
10 -6 -1

Rata-rata -3 -1,5

3.4.2.2 Kelompok

Data dalam penelitian ini di analisis dengan uji Wilcoxon.

Bagian2 Bagian1
Z -1,787b
Asymp. Sig. ( ,074
2-tailed)
Berdasarkan hasil penelitian menggunakan SPSS dengan uji Wilcoxon,

didapatkan nilai signifikansi sebesar 0.074 di mana nilai ini lebih besar dari 0,05.

Karena nilai tersebut lebih besar dari 0,05, berarti data tersebut tidak signifikan.

Deangan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan ketepatan

kelompok dalam mempersepsi ilusi Poggendorf sebelum dan sesudah

mendapatkan umpan balik (feedback) yang berarti hipotesis ditolak dan HO

diterima.

3.4.3 Observasi

3.4.3.1 Kondisi Fisik

1. Terdapat 1 buah AC dalam ruangan


14

2. Suhu ruangan 180C, dilihat pada remote AC.

3. Tiga buah kursi disusun saling berhadapan dan sebuah laptop diletakkan di

salah satu kursi.

4. Ruangan yang digunakan tidak dipenuhi dengan barang-barang.

5. Ruangan yang digunakan selama praktik bersih dan rapi. Terlihat dari tidak

adanya sampah yang berserakan dalam ruangan dan kursi serta meja yang

sudah diatur dengan sebelum praktik dilaksanakan.

3.4.3.2 Kondisi Psikologis

1. Saat pemberian instruksi, testee terlihat menganggukkan kepala.

2. Testee mendekatkan wajah ke layar laptop setiap kali memasuki soal baru.

3. Saat menggerakkan garis, testee terlihat memiringkan kepala.

4. Saat ingin memastikan apakah garis yang dipasang sudah sejajar atau belum,

testee terlihat memundurkan kepala atau sedikit menjauh dari layar.

5. Testee merasa kurang nyaman dalam menyelesaikan tugasnya, dikarenakan

layar computer yang terlalu terang. Hal ini disampaikan oleh testee saat sesi

wawancara. Testee berkata, layar computer yang digunakan terlalu terang

sehingga membuat dirinya kurang nyaman melihat layar computer tersebut,

sehingga beberapa kali mempengaruhi kefokusan penglihatannya dalam

meluruskan garis.

3.5 Pembahasan

3.5.1 Individu
15

Hasil mean yang dihasilkan dari data subjek menunjukkan adanya perbedaan

yang signifikan. Pada sesi pertama (sebelum diberikan feedback), rata-rata yang

dihasilkan adalah sebesar -3. Sedangkan pada sesi kedua (setelah diberikan

feedback), rata-rata yang dihasilkan sebesar -2,4. Nilai error subjek berkurang

setelah diberikannya umpan balik (pada bagian kedua). Hal ini membuktikan

adanya pengaruh pemberian umpan balik. Subjek menunjukkan kemajuan pada

sesi ketiga yaitu angka yang dihasilkan tidak jauh dari 0 (berarti semakin dekat

dengan ketepatan letak, karena 0 merupakan letak yang seharusnya). Dengan kata

lain bahwa terdapat perbedaan ketepatan individu dalam mempersepsi ilusi

Poggendorf sebelum dan sesudah mendapatkan umpan balik (feedback). Hasil

perbandingan ini sejalan dengan teori yang telah dibahas, dimana pemberian

umpan balik kepada perilaku, tugas atau apa yang telah kita lakukan, itu akan

membuat hal tersebut menjadi lebih baik dari tugas sebelumnya (Clement, 2006).

3.5.2 Kelompok

Analisis data kelompok dengan menggunakan uji Wilcoxon, dari hasil analisis

didapatkan nilai signifikansi 0,074 yang berarti nilai tersebut tidak signifikan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis ditolak dan HO diterima. Hal ini

dapat dilihat kembali dari kondisi masing-masing subjek. Beberapa subjek

mengatakan bahwa kondisi tubuhnya saat itu mempengaruhi kefokusannya dalam

mengerjakan soal eksperimen. Kondisi psikis, kondisi fisik, hingga pikiran subjek

pada saat itu akan mempengaruhi seberapa jauh dalam dalam memusatkan

perhatiannya terhadap objek yang dilihat.


16

3.6 Simpulan

3.6.1 Individu

Perbandingan hasil yang cukup signifikan terjadi pada saat subjek saat belum

diberikan umpan balik (feedback) dan pada saat subjek sudah diberikan umpan

balik (feedback). Nilai error pada sesi setelah diberikan umpan balik (feedback)

lebih rendah apabila dibandingkan dengan sesi sebelum diberikan umpan balik

(feedback). Hal ini membuktikan bahwa pemberian umpan balik (feedback)

memberikan pengaruh terhadap ketepatan subjek dalam menempatkan posisi garis

yang sempurna. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima dan H O

ditolak.

3.6.2 Kelompok

Berdasarkan hasil analisis data kelompok dengan menggunakan uji Wilcoxon,

didapatkan nilai signifikansi 0,074 yang berarti nilai tersebut tidak signifikan.

Maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan ketepatan kelompok

dalam mempersepsi ilusi poggendorf sebelum dan sesudah mendapatkan umpan

balik (feedback), ditolak. Jadi, berdasarkan hasil analisis data kelompok,

didapatkan bahwa pemberian umpan balik kepada sebagian besar subjek

penelitian tidak mempengaruhi ketepatan dalam mempersepsi ilusi poggendorf.

3.7 Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari


17

1. Feedback dalam kehidupan sehari-hari dapat berguna untuk memberikan

semangat dan keberanian pada murid atau pada anak, hal ini biasanya

dilakukan oleh para guru dan orang tua (Hattie & Timperley, 2007).

2. Feedback dapat digunakan untuk meningkatkan performance seseorang dalam

bekerja atau melaksanakan tugasnya (Hattie & Timperley, 2007).


3. Feedback dalam kehidupan sehari-hari dapat berguna untuk menyusun

kembali informasi terkait suatu hal setelah mendapatkan informasi baru yang

lebih lengkap. Akibatnya seseorang akan menjadi lebih paham dan lebih tahu

akan suatu hal (Hattie & Timperley, 2007).


4. Terkait dengan poggendorf illusion, pemain sepak bola atau golf dapat

memperkirakan ketepatan jarak atau lengkungan agar dapat memasukkan

bolanya sesuai sasaran. Hal ini berkaitan dengan penjelasan geometrical

illusion (Kitaoka, 2007).

5. Pemberian umpan balik (feedback) dalam kegiatan pembelajaran merupakan

peristiwa yang memberikan kepastian kepada peserta didik bahwa kegiatan

belajar telah atau belum mencapai tujuan (Silverius, 1991).

Makassar, 24 November 2017


Peneliti

Wa Ode Zahra Amalia


NIM. Q11116513
Asisten Praktikum 1 Asisten Praktikum 2

Afga Yudistikhar
Theresia Arief NIM. Q11115019
NIM. Q11114302
18

Daftar Pustaka

Ferris, D. R. (2010). Second Language Writing Research and Written Corrective


Feedback in SLA. Studies in Second Language Acquisition, 32(02), 181-
201.

Frances, B., & Roland. (2000). Constructive Feedback. London: CIPD.


Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The Power of Feedback. Review of educational
research, 77(1), 81-112.

Hoeksema, N., Fredrickson, B., & Loftus, G. A. (2009). Atkinson & Hilgards
Intorduction to Psychology. USA: Wadsworth Cengage Learning.

Kitaoka, A. (2007). Tilt illusions after Oyama (1960): A review1. Japanese


Psychological Research, 49(1), 7-19.
19

Myers, D. G. (2010). Psychology: Ninth Edition. USA: Worth Publiser.

Plotnik, R & Kouyoumdjian, H. (2008). Introduction to Psychology: 9th edition.


USA: Wadsworth, Cengage Learning.

Reber, A. S. & Reber, E. S (2010). Kamus Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Silverius, S. (1991). Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: Grasindo.

Spehar, B., & Gillam, B. (2002). Modal completion in the Poggendorff Illusion:
Support for The Depth-processing Theory. Psychological Science, 13(4),
306-312.

Spivey-Knowlton, M. J. and B. Bridgeman. (1993). Spatial Context


Affects the Poggendorff Illusion. Perception & Psychophysics, 53,
467-474.

Stenberg, Robert J., Stenberg, & Karin. (2012). Cognitive


Psycholoy. USA: Wadsworth.

Sugihartono, K. N. F., Harahap, F., Setiawati, F. A., & Nurhayati, S. R. (2007).


Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Walgito, B.(2010). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Prodi Psikologi
Universitas Hasanuddin

LAMPIRAN UMPAN BALIK (FEEDBACK)


03/EXP/2017

Inisial OP : NK
Umur : 19 tahun
Pendidikan Terakhir : SMA
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal Penelitian : November 2017
Waktu Penelitian : WITA
20

Bagian I Bagian II Bagian III


Tidak Ada Umpan Balik Ada Umpan Balik Tidak Ada Umpan Balik
Percobaan 1 Percobaan 11 Percobaan 21
Percobaan 2 Percobaan 12 Percobaan 22
Percobaan 3 Percobaan 13 Percobaan 23
Percobaan 4 Percobaan 14 Percobaan 24
Percobaan 5 Percobaan 15 Percobaan 25
Percobaan 6 Percobaan 16 Percobaan 26
Percobaan 7 Percobaan 17 Percobaan 27
Percobaan 8 Percobaan 18 Percobaan 28
Percobaan 9 Percobaan 19 Percobaan 29
Percobaan 10 Percobaan 20 Percobaan 30

Makassar, 24 November 2017


Peneliti

Wa Ode Zahra Amalia


NIM. Q11116513