Anda di halaman 1dari 2

Mochammad Agil Fahri Gibran

X MIA 5

Pidato Tentang Keikhlasan

ِ‫الر ِحي ِْم ْح َم ِن‬


َّ ‫الر‬ ِِّ ‫ِب ْس ِِم‬
َِّ ‫للا‬
Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah hirabbil alamin wasshalatu wassalamu a’la asrafil anbiyai


warmursalin wa’alaalihi wasabbihi ajma’in ammaba’du

Pertama-tama kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kita beribu-ribu nikmat,baik nikmat Islam,nikmat iman maupun
nikmat sehat wal’afiat,sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul tanpa satu
halangan apapun untuk hadir di acara yang inshaallah diridhoi Allah SWT.

Shalawat serta salam kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi besar Nabi
Muhammad SAW,yang telah membawa kita dari jaman jahilliyah sampai jaman
yang terang benerang seperti sekarang ini.

Yang terhormat Ibu Rizka selaku guru pembimbing dan teman-teman yang saya
cintai.Pada kesempatan kali ini saya akan berpidato tentang keikhlasan,sebagai
pembuka saya akan membacakan hadits tentang keikhlasan:

Bissmillahirrahmanirrahim

“ Innamal a’malu binniyati, wa innama likullam di’im Manawa”

Yang artinya:”Sesungguhnya perbuatan tergantung pada niatnya ,dan


setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang apa ia
niatkan”(HR.Bukhari dan Muslim)
Ikhlas merupakan sebuah kata yang terdiri dari 6 huruf. Meski sedikit, namun makna kata ikhlas itu
mendalam dan cukup sulit untuk dilaksanakan oleh kita sebagai manusia biasa.

Ikhlas dapat kita artikan sebagai suatu sikap menerima keadaan tanpa mengeluh, selalu berbuat
baik tanpa mengharapkan imbalan atau pun pujian dari orang lain.

Sebagai manusia biasa, mungkin kita pernah mempunyai perasaan ingin dipuji ketika berbuat baik.
Jika dilihat dari perspektif Islam, perasaan demikian dapat di-kategori-kan ke dalam perbuatan "riya".

Dalam Islam, riya adalah suatu perbuatan yang di-umpama-kan seperti se-percik api yang dapat
membakar kayu dalam waktu singkat. Makna dari kalimat tersebut yaitu: ketika melakukan
perbuatan baik dengan harapan ingin mendapat imbalan berupa pujian (bukan karena Allah), maka
amalan itu tidak berarti apa-apa di hadapan Allah SWT, karena nilai amalannya telah rusak dengan
sifat riya

Pujian memang datang dari orang lain. Apabila dalam kenyataannya kita dipuji, itu sah-sah saja.
Tapi, apabila kita yang menginginkan pujian, itulah yang disebut dengan sifat riya. Alangkah baiknya
ketika kita dipuji orang lain, ucapkanlah Alhamdulillah yang artinya segala puji hanya milik Allah.

Dari materi yang telah saya sampaikan tadi ada dua kesimpulan yang dapat kita ambil

1.Ikhlas merupakan sikap yang sangat penting dalam Islam sebagai dasar dari amal

2.Ikhlas dapat menjaga amalan kita tetap bernilai dihadapan Allah.

Semoga dengan ceramah singkat ini kedepannya kita bisa lebih ikhlas keetika berbuat baik,agar
kebaikan itu bernilaiِdanِdapatِmenjadiِbekalِkitaِdiِakhiratِnanti…..Amin

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh