Anda di halaman 1dari 11

GURU PEMBIMBING : SADIKIN, S.

Pd

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 4
ASIAH
MARIA ULFAH
NURUL AZATUL SA’ADAH
A.RIFANI
M.SAPRUDIN
KELAS XI IPS 5

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


SMAN 3 BARABAI
TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Pertama-tama Kami mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga tugas tentang Sosiologi ini dapat
Kami selesaikan dengan baik. Salawat dan Salam senantiasa dipanjatkan kepada
junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sebagai Uswatun Hasanah bagi hidup dan
kehidupan kita di muka bumi ini. Penyusun juga mengucapkan terima kasih bagi
seluruh pihak yang telah membantu Kami dalam menyelesaikan tugas ini.
Kami sangat menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan, baik materi maupun penyajian serta penulisan yang tidak sesuai. Untuk
itu Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, dan Kami juga mengharapkan kritik
dan juga sarannya kepada semua pihak demi kesempurnaan penulisan makalah ini
dan perbaikan-perbaikan dimasa yang akan datang. Terima kasih.

.
Birayang, September 2018
Penyusun

DAFTAR ISI
ii
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
KATA PENGANTAR....................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 3
A. Penyebab White Collar Crime ........................................................... 3
B. Jenis / white collar crime .................................................................. 3
C. Dampak /Akibat yang ditimbulkan dari White Collar Crime ........... 5
D. Contoh Kasus ..................................................................................... 6
E. Strategi Pemberantasan Korupsi .................................................... 6
BAB III KESIMPULAN ................................................................................. 7
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 8

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Istilah “white collar crime” sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia


sebagai “kejahatan kerah putih” ataupun “kejahatan berdasi”. ( I Wayan Landrawan )
White collar crime ini pertama kali dikemukakan daN dikembangkan oleh seorang
kriminolog Amerika Serikat yang bernama Edwin Hardin Sutherland sekitar tahun
1939 didepan American sosiological society, jenis kejahatan ini dipandang muncul
bersamaan dengan terjadinya pengelompokan masyarakat dalam kategori upper class
dan lower class dalam perusahaan-perusahaan juga kelas-kelas seperti itu white
collar (upper class), dan Blue Collar (Lower Class)
White Collar Crime (WCC) :
· Kejahatan oleh orang – orang yang memiliki jabatan tertentu yang
menyangkut manajemen. “tidak menjangkau yang diluar hokum pidana”
· Pelanggaran hokum pidana oleh orang yang memiliki kedudukan social
ekonomi tinggi.
· Sedangkan menurut EIDEL (Noach Simanjuntak, 1984) ; tindakan illegal
yang dilakukan dengan cara non fisik dan dengan penyembunyian atau tipu
muslihat untuk memperoleh uang atau harta benda dan pemanfaatan
perorangan.
· WWC adalah kejahatan yang dilakukan oleh seorang dari upper class (sosio,
ekonomi politik) yang berhubungan dengan pekerjaannya/ jabatannya baik
dibidang ekonomi , sosiopolitik, dan terutama pelanggaran atas kepercayaan
masyarakat kepadanya ( I Wayan Landrawan )
· E. A. Ros (Noach Simanjuntak, 1984) ; sedikit bertolak dengan EIDEL yang
menyatakan sedikit pelanggaran kaidah moral lebih penting dari sisi hokum
kejahatan korporasi sebagai WCC yang tidak di ilhami oleh dorongan jahat.
Kejahatan kerah putih (white collar crime) adalah istilah untuk menyebut berbagai
tindak kejahatan di lembaga pemerintahan yang terjadi, baik secara struktural yang
melibatkan sekelompok orang maupun secara individu. kejahatan kerah putih
sebagai penyalahgunaan jabatan yang legitim sebagaimana telah ditetapkan oleh
hukum.Umumnya, skandal kejahatan kerah putih sulit dilacak karena dilakukan
pejabat yang punya kuasa untuk memproduksi hukum dan membuat berbagai
keputusan vital. Kejahatan kerah putih terjadi dalam lingkungan tertutup, yang
memungkinkan terjadinya sistem patronase. Kejahatan kerah putih sungguh
memasung dan membodohi rakyat. Rakyat yang tidak melek politik akhirnya pasrah,
tetapi kepasrahan ini justru Kian membuat para pejabat menggagahinya.
White collar crime dibedakan dari blue collar crime. Jika istilah white collar
crime ditujukan bagi aparat dan petinggi negara, blue collar crime dipakai untuk

1
menyebut semua skandal kejahatan yang terjadi di tingkat bawah dengan kualitas dan
kuantitas rendah. Namun, kita juga harus tahu, kejahatan di tingkat bawah juga
sebuah trickle down effect. Maka, jika kita mau memberantas berbagai kejahatan
yang terjadi di instansi pemerintahan, kita harus mulai dari white collar crime, bukan
dari blue collar crime.
 White collar crime identik dengan suatu kejahatan yang dilakukan bersamaan
dengan aktifitas pekerjaan / jabatanya / dilakukan oleh orang yang terhormat
dalam instansi pemerintahan.
Kejahatan kerah putih (white collar crime), sebagai salah satu contoh atau bentuk
perilaku menyimpang yg terkategorikan sbg kejahatan (kriminal), di samping
beberapa fakta lain, seperti organized crime (kejahatan terorganisasi) dan crime
without victim (kejahatantanpakorban).
Kejahatan kerah putih adlh istilah temuan Hazel Croal ( Education Article
Http //: www.google.com : white collar crime ,artikel education,) :untuk menyebut
berbagai tindak kejahatan dilembaga pemerintahan yg terjadi, baik scr struktural yg
melibatkan sekelompok org maupun scr individu. Hazel Croal mendefinisikan
kejahatan kerah putih sbg penyalahgunaan jabatan yg legitim sebgmn telah
ditetapkan oleh hukum. Istilah ini diciptakan pd thn 1939 dan skrg identik dgn
berbagai macam penipuan yg dilakukan oleh para profesional bisnis dan pemerintah.
Pada awalnya, kejahatan kerah putih merupakan kejahatan bisnis (business crime)
atau kejahatan ekonomi (economic criminality). Pelakunya adlh para “pengusaha-
pengusaha” dan para “penguasa-penguasa” atau pejabat-pejabat publik didlm
menjalankan fungsinya, atau menjalankan perannya sehubungan dgn kedudukan atau
jabatannya. Keadaan keuangan dan kekuasaan para pelaku relatif kuat, sehingga
memungkinkan mereka utk melakukan perbuatan2 yg oleh hukum dan masyarakat
umum dikualifikasikan sbg kejahatan, krn mereka -dgn keuangannya yg kuat- dpt
kebal thdp hukum dan sarana2 pengendalian sosial lainnya. Tdk mudah utk
memenjara para pelaku kejahatan kerah putih, karena kelemahan dari para
korbannya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Penyebab White Collar Crime ?
2. Sebutkan Jenis / white collar crime !
3. Apa saja Dampak /Akibat yang ditimbulkan dari White Collar Crime ?
4. Sebutkan Contoh Kasus !
5. Bagaimana Strategi Pemberantasan Korupsi / White Collar Crime ?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyebab White Collar Crime


Biasanya, suatu white collar crime dilakukan untuk salah satu dari 2 (dua) motif
berikut ini :
1. Motif Mencari Keuntungan Finansial.
2. Motif Mendapat Jabatan Pemerintahan.
Dari data yang ada tentang white collar crime dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kumulasi dari kejahatan yang tergolong kedalam kejahatn white collar crome
jauh lebih besar jumlah uang yang terlibat daripada kejahatan biasa.
2. Hukuman penjara kepada penjahat biasa jauh lebih sering ketimbang
hukuman penjara terhadap pelaku white collar crime yang lain.
3. Hukuman penjara bagi penjahat konvensional jauh lebih berat ketimbang
hukuman penjara bagi pelaku kejahatan kerah putih.
Yang dimaksud dengan istilah white collar crime adalah suatu perbuatan (atau
tidak berbuat) dalam sekelompok kejahatan yang spesifik yang bertentangan dengan
hukum pidana yang dilakukan oleh pihak professional, baik oleh individu, organisasi,
atau sindikat kejahatan, ataupun dilakukan oleh badan hukum.
Dari pengertian white collar crime tersebut diatas dapat ditarik unsur-unsur yuridis
dari white collar crime, yaitu sebagai berikut:
1. Adanya perbuatan (atau tidak berbuat) yang bertentangan dengan hukum,
baik hukum pidana dan atau hukum perdata dan atau hukum tata usaha
negara.
2. Sekelompok kejahatan yang spesifik.
3. Pelakunya adalah individu, organisasi kejahatan, atau badan hokum.
4. Pelakunya sering kali (tetapi tidak selamanya) merupakan terhormat/kelas
tinggi dalam masyarakat, atau mereka yang berpendidikan tinggi.
5. Tujuan dari perbuatan tersebut adalah unutk melindungi kepentingan bisnis
atau kepentingan pribadi, atau untuk mendapatkan uang, harta benda, maupun
jasa, ataupun untuk mendapatkan kedudukan dan jabatan tertentu.
6. Perbuatan tersebut dilakukan bukan dengan cara-cara kasar, seperti
mengancam, merusak, atau memaksa secara fisik, melainkan dilakukan
dengan cara-cara halus dan canggih.
7. Perbuatan tersebut biasanya (tetapi tidak selamanya) dilakukan ketika
pelakunya sedang menjalankan tugas (orang dalam) atau ketika menjalankan
profesinya/ jabatan.

B. Jenis / white collar crime


kelompok Pengelompokan terhadap white collar crime adalah sebagai
berikut:
1. White collar crime yang bersifat individual, berskala kecil dengan modus
operand an sederhana.
2. White collar crime yang bersifat individual, berskala besar dengan modus
operandi kompleks.
3. White collar crime yang melibatkan korporasi.
4. White collar crime di sektor publik.

3
Respon yang diberikan para pelaku white collar crime apabila dilakukan fait acompli
terhadap tindakan yang telah dilakukannya muncul dalam 4 (empat) tipe sebagai
berikut:
1. Tipe Pemaafan.
2. Tipe Justifikasi.
3. Tipe Konsesi.
4. Tipe Refusal
WCC terdiri dari :
 Kejahatan Okupasi : memperoleh keuntungan dalam melakukan kejahatan
korporasi. Misalnya, seorang pegawai negeri melakukan manipulasi / mark up
data anggaran untuk kepentingan pribadi.
 Kejahatan Korporasi : kejahatan yang dilakukan dengan menggunakan nama
korporasi tersebut.
Sebagaii konsekuensi berbagai istilah dan focus perhatianya, “ Joan Miller “
membagi WCC kedalam empat kategori :
1. organizational of occupational crime yaitu kejahatan yang dilakukan para
eksekutif demi keuntungan perusahaan berakibat kerugian pada masyarakat.
Dimanapun mereka berada.
Misalnya ; manipulasi pajak, penipuan iklan.
2. governmental occupational crime yatu kejahatan yang dilakukan oleh pejabat
atau birokrat misalnya perbuatan sewenang – wenang yang merugikan
masyarakat yang terkait dengan kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki dan
sangat sulit terdeteksi karenadilakuakn berdasarkan keahlian dan berbarengan
dengan kejabatanya.
3. profesional occupational crime yaitu pelaku kajahatan ini mencakup berbagai
pekerjaan atau profesi. Disamping kerugian yang bersifat ekonomis juga
mengancxam keselamatan jiwa seseorang. ( tidak menutup kemungkinan
timbulnya kriminogen / kejahatan dalam bentuk lain.
Misalnya ; dokter, pengacara, akuntan.
Contoh ; aborsi, eutasia / suntik mati, tindakan dokter diluar profesi.
4. individual occupational crime yaitu kejahatan yang dilakukan oleh individu
artinya pekerjaan yang dilakukan dengan menyimpang yang menimbulkan
kerugian perusahaan.
Dari ke empat defininisi tersebut WCC dilakukan tanpa kekerasan melainkan
dengan kecurangan, rekayasa. Dll.
Untuk mengenali WCC lebih jauh berikut karkteristik “ WCC “ :
1. low visibility ; kejahatan tersebut sulit dilihat karena biasanya tertutup oleh
kegiatan pekerjaan yang normal yang rutin dan melibatkan keahlianya serta
sangat komplexs.
2. complexcity ; kejahatan tersebut sangat komplexs karena berkaitan dengan
kebohongan, penipuan, pengingkaran, serta berkaitan dengan sesuatu yang
ilmiah, teknologi, terorganisasi, melibatkan banyak orang dan berjalan
bertahun – tahun.
3. defussion of responsibility ; terjadinya penyebaran tanggung jawab yang
semakin luas akibat kekomplekan organisasi, artinya setiap kebijakan yang
merupakan bagian kejahatan yang ditimbulkan oleh perusahaan biasanya
tanggung perusahaan bertanggung jawab terhadap hal tersebut meskipun hal
etrsebut dilakukan oleh satu pihak saja namun disini tanggung jawab tidak

4
bias di bebankan oleh satu pihak tersebut. Misalnya, seseorang pegawai
melakukan kejahatan atau kecurangan terhadap perusahaan sehingga
menyebabkan pencemaran lingkungan, nah disini secara otomatis perusahaan
juga ikut bertanggung jawab.
4. defusion of victimization ; penyebaran korban melalui pencemaran
lingkungan. Misalnya, sebuah pabrik yang menghasilkan limbah berbahaya
dan limbah tersebut mencemari sungai maka secara otomatis sepanjang
sungai tersebut akan tercemar sehingga banyak sekali korban.
5. detection and proccution ; hambatan dalam penuntutan akibat profesi dualisme
yang tidak seimbang antara penegak hokum dan pelaku. Misalnya ; seorang
penyidik kepolisian hanya lulus SMU yang sedang menangani kasusu
sedangkan tersangkanya seorang intelektual yang berpendidikan tinggi.
6. ambiguitas law ; peraturan yang tidak jelas yang sering menimbulkan
kerugian pada penegak hokum.
Pengaturan WCC justru lebih banyak ditemukan diluar KUHP. Berbagai bentuk
WCC sudah dapat pengaturan dalam literatur kriminologi dikenal beberapa
istlah :
 street crime
 underwold crime
ditujukan pada masyarakat secara konvensional atau pelakunya adalah orang – orang
yang mempunyai status social bawah sedangkan “organization crime” ditujukn pada
masyarakat yang erorganisasi ( korporasi, badan hokum ) sedangkan WCC kejahatan
dilakukanoleh orang – orang terhormat “upperwold crime” sehingga disini oleh
Gilberg Geis” dikatakan WCC merupakan kesamaan dari “upperwold crime.”
Penemuan hokum pidana menjadi WCC dilatarbelakangi oleh pelaku besertar latar
belakangnya karena memiliki sifat –sifat yang khas.
Ada beberapa yang dijadikan alasan ;
 adanya paradikma baru dalam memahami kejahatan, adanya WCC
menegaskan alasan sebelumnya bahwa kemiskinan menjadi alasan penyebab
terjadinya kejahatan (kurangnya gaji alasan bagi pejabat).
 Memperluas pelaku, (subyeknya diprluas ) kejahatan hanya dilakukan oleh
subyek hokum orang ternyata tidak sepenuhya mampu menjangkau
permasalahan. Bentuk – bentuk baru perbuatan pidana ebelumnya tidak
dipandang sebaai perbuatan pidana, pelaku bias dalam bentuk badan hokum.
 Perluasan terhadap pengertian kejahatan, kemajuan sector ekonomi dan lainya
ada pengaruh timbale balik terhadap hokum pidana .
WCC, ditafsirkan sebagai tingkat kemunafikan apa yang dikatakan WCC merupakan
penipuan oleh kalangan atas atau kerah putih.

C. Dampak /Akibat yang ditimbulkan dari White Collar Crime


- Social : Terjadinya kesengsaraan masyarakat sebagai korban dari WWC
- Ekonomi : Terjadinya kemiskinan akibat WWC
- Budaya : Adanya Bad Living Culture.
- Politik : Adanya image yang tidak baik serta kurangnya kepercayaan
masyarakat terhadap pejabat Negara.
-

D. CONTOH KASUS
5
Kejahatan Kerah Putih (White Collar Crime) adalah Suatu tindak
kecurangan yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja pada sektor pemerintahan
atau sektor swasta, yang memiliki posisi dan wewenang yang dapat
mempengaruhi suatu kebijakan dan keputusan. Menurut Federal Beureau
Investigation (FBI) kejahatan kerah putih (white collar crime) adalah berbohong,
curang, dan mencuri. Istilah ini diciptakan pada tahun 1939 dan sekarang identik
dengan berbagai macam penipuan yang dilakukan oleh para profesional bisnis dan
pemerintah.

E. Strategi Pemberantasan Korupsi


Menurut Gunner Myrdal jalan untuk memberantas Korupsi di negara-negara
berkembang ialah:
1. Menaikkan gaji pegawai rendah (dan menengah)
2. Menaikkan moral pegawai tinggi
3. Legalisasi pungutan liar menjadi pendapat resmi atau legal
Untuk mencegah terjadinya Korupsi besar-besaran bagi pejabat yang menduduki
jabatan yang rawan korupsi seperti bidang pelayanan masyarakat, pendapatan negara,
penegak, dan pembuat kebijaksanaan harus didaftar kekayaannya sebelum menjabat
jabatannya sehingga mudah diperiksa pertambahan kekayaannya dibandingkan
dengan pendapatannya yang jelas.

BAB III

6
KESIMPULAN

Istilah “white collar crime” sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia


sebagai “kejahatan kerah putih” ataupun “kejahatan berdasi”.

Biasanya, suatu white collar crime dilakukan untuk salah satu dari 2 (dua) motif
berikut ini :
1. Motif Mencari Keuntungan Finansial.
2. Motif Mendapat Jabatan Pemerintahan.

Dari data yang ada tentang white collar crime dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kumulasi dari kejahatan yang tergolong kedalam kejahatn white collar crome
jauh lebih besar jumlah uang yang terlibat daripada kejahatan biasa.
2. Hukuman penjara kepada penjahat biasa jauh lebih sering ketimbang
hukuman penjara terhadap pelaku white collar crime yang lain.
3. Hukuman penjara bagi penjahat konvensional jauh lebih berat ketimbang
hukuman penjara bagi pelaku kejahatan kerah putih.

Dampak /Akibat yang ditimbulkan dari White Collar Crime


- Social : Terjadinya kesengsaraan masyarakat sebagai korban dari WWC
- Ekonomi : Terjadinya kemiskinan akibat WWC
- Budaya : Adanya Bad Living Culture.
- Politik : Adanya image yang tidak baik serta kurangnya kepercayaan
masyarakat terhadap pejabat Negara.

Strategi Pemberantasan Korupsi


Menurut Gunner Myrdal jalan untuk memberantas Korupsi di negara-negara
berkembang ialah:
1. Menaikkan gaji pegawai rendah (dan menengah)
2. Menaikkan moral pegawai tinggi
3. Legalisasi pungutan liar menjadi pendapat resmi atau legal
Untuk mencegah terjadinya Korupsi besar-besaran bagi pejabat yang menduduki
jabatan yang rawan korupsi seperti bidang pelayanan masyarakat, pendapatan negara,
penegak, dan pembuat kebijaksanaan harus didaftar kekayaannya sebelum menjabat
jabatannya sehingga mudah diperiksa pertambahan kekayaannya dibandingkan
dengan pendapatannya yang jelas.

DAFTAR PUSTAKA

7
Noach Simanjuntak, 1984 . kriminologi, bandung, Tarsito
Drs. I Wayan Landrawan, 2005 . Pengantar Kriminologi, singaraja
http://www.bacajaditahu.com/2016/06/pengertian-white-collar-crime-dalam.html
http://sosbudpolhuk.blogspot.com/2013/04/makalah-white-collar-crime.html