Anda di halaman 1dari 73

LAPORAN PENDAHULUAN

NIFAS DENGAN POST SECTIO SAECARIA

A. Tinjauan Teori Medis


1. Pengertian Nifas
a. Nifas adalah suatu periode dalam minggu-minggu pertama setelah
kelahiran. Lamanya periode ini tidak pasti, sebagian besar
menganggapnya antara 4 sampai 6 minggu.(Cuningham, 2013)
b. Masa perperium atau masa nifas dimulai setelah partus selesai dan
berakhir kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genital baru pulih
kembali seperti sebelum kehamilan dalam waktu 3 bulan.(Sarwono
Prawirohadjo. 2014)
c. Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan
berakhir ketika alat-alat genital kembali seperti keadaan sebelum lahir.
(Sarwono Prawirohadjo. 2014).
d. Masa nifas (puerpurium) berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari,
merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada
keadaan yang normal (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
e. Masa nifas atau post partum disebut juga puerpurium yang berasal dari
bahasa latin yaitu dari kata “Puer” yang artinya bayi dan “Parous”
berarti melahirkan. Nifas yaitu darah yang keluar dari rahim karena
sebab melahirkan atau setelah melahirkan (Anggraini, 2010).
2. Tahapan Masa Nifas
Menurut Anggraini (2010) menyatakan bahwa tahapan masa nifas di bagi
menjadi 3 yaitu :
a. Puerpurium dini
Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
Dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40
hari.
b. Puerpurium intermedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.

1
c. Remote puerpurium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila
selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu
untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, tahunan.
Sedangkan menurut Menurut (Wahyuni, 2018) tahapan masa nifas terbagi
menjadi :
a. Periode Immediate postpartum. Masa segera setelah plasenta lahir
sampai dengan 24 jam.
b. Periode early postpartum (>24 jam-1 minggu)
c. Periode late postpartum (>1 minggu-6 minggu)
d. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan
sehat terutama bila selama hamil atau bersalin memiliki penyulit atau
komplikasi (Wahyuni, 2018)
3. Asuhan Masa Nifas
Asuhan masa nifas mempunyai tujuan diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik secara fisik maupun
psikologi.
b. Melaksanakan skrining secara komprehensif, deteksi dini, mengobati
atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta
perawatan bayi sehari-hari.
d. Memberi pelayanan Keluarga Berencana (KB).
e. Mendapatkan kesehatan emosi (Maritalia, 2014).
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi masa nifas dan menyusui
a. Faktor Masa Lalu
Ibu yang sudah mengenal manfaat perawatan diri dan teknik yang akan
dilakukan, maka ibu akan lebih mudah dalam melakukan perawatan diri
pascapersalinan serta persiapan dan mekanisme kopingnya saat masa
nifas.

b. Faktor Lingkungan Pascasalin


Banyak adat istiadat atau tradisi keluarga yang harus tetap
dipertahankan dan dilakukan pada ibu yang baru melahirkan serta
bayinya. Tradisi tersebut kadang dapat menguntungkan atau bahkan

2
dapat merugikan ibu dan bayinya dalam melewati masa nifas dan
menyusui.
c. Faktor Internal Ibu
Faktor internal adalah segala sesuatu yang berasal dari dalam diri
sendiri. Kemampuan dalam menjaga kesehatan dan melakukan
perawatan diri pada masa nifas dan menyusui akan berbeda pada setiap
individu. Hal ini dipengaruhi oleh faktor internal pada diri individu
tersebut, diantaranya:
1) Usia
Usia ibu mempengaruhi kemampuan dan kesiapan diri ibu dalam
melewati masa nifas dan menyusui. Ibu yang berusia 18 tahun akan
berbeda dengan ibu yang beusia 40 tahun dalam melewati masa nifas
karena lebih matang dan berpengalaman.
2) Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan seseorang maka tuntutannya terhadap
kualitas kesehatan akan lebuh tinggi. Selain itu, ibu yang berlatar
belakang pendidikan medis tentu akan berbeda dalam
mempersiapkan dan melakukan perawatan dirinya dimasa nifas dan
menyusui.
3) Karakter
Ibu yang kurang bersabar dan terburu-buru biasanya kurang berhasil
dalam memberikan ASI eksklusif pada bayinya dibandingkan ibu
yang sabar dan telaten.
4) Paritas menurut lenovo (2009), paritas adalah jumlah kehamilan
yang mencapai viabilitas, bukan jumlah janin yang dilahirkan. Ibu
yang umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI
dibandingkan dengan ibu-ibu yang sudah tua. Pada kenaikan jumlah
paritas ada sedikit perubahan produksi ASI walaupun tidak
bermakna.
5) Keadaan Kesehatan
Ibu nifas yang melahirkan secara sectio caesarea disertai dengan
komplikasi akan lebih sulit dan membutuhkan perawatan khusus
pada masa nifas dan menyusui dibandingkan dengan ibu nifas yang
melahirkan secara spontan.
6) Lingkungan tempat ibu dilahirkan dan dibesarkan.

3
Lingkungan tempat ibu melahirkan dan dibesarkan akan
mempengaruhi sikap dan perilaku ibu dalam melakukan perawatan
diri dan bayinya selama masa nifas dan menyusui.
7) Sosial Budaya
Setiap suku memiliki kebudayaan dan tradisi yang berbeda dalam
menghadapi wanita yang sedang hamil, melahirkan dan
menyusui/nifas.
d. Petugas Kesehatan
Bidan merupakan orang yang dalam melakukan tindakannya didasari
pada ilmu pengetahuan serta memiliki keterampilan khusus yang jelas
dalam keahliannya, bidan memiliki wewenang dan tanggung jawab
dalam tindakan yang berorientasi pada pelayanan melalui pemberian
asuhan.
e. Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan ini akan mempengaruhi pengetahuan ibu dan
keluarga tentang perawatan diri pada masa nifas dan menyusui
(Maritalia, 2014).
5. Perubahan Fisiologis pada Masa Nifas
a. Sistem Reproduksi
1) Uterus
Perubahan pada uterus terjadi segera setelah persalinan karena
kadar estrogen dan progesteron yang menurun yang mengakibatkan
proteolisis pada dinding uterus. Dalam keadaan normal, uterus
mencapai ukuran besar pada masa sebelum hamil sampai dengan
kurang 4 minggu. Perubahan yang terjadi pada dinding uterus adalah
timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi
plasenta. Jaringan – jaringan di tempat implantasi plasenta akan
mengalami degenerasi dan kemudian terlepas. Tidak ada
pembentukan jaringan parut pada bekas tempat implantasi plasenta
karena pelepasan jaringan ini berlangsung lengkap. Uterus secara
berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali
seperti sebelum hamil dengan berat 60 gram. (Anggraini, 2010).

4
Proses itu dimulai segera setelah plasenta keluar akibat
kontraksi otot-otot polos uterus.(Vivian Nanny.2010:55)
Proses Involusi Uterus adalah sebagai berikut :
a) Atrofi Jaringan
Atrofi jaringan yaitu jaringan yang berpoliferasi dengan
adanya penghentian produksi estrogen dalam jumlah besar yang
menyertai pelepasan plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot
– otot uterus, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas
dengan meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi
menjadi endometrium yang baru.
Setelah kelahiran bayi dan plasenta, otot uterus berkontraksi
sehingga sirkulasi darah ke uterus terhenti yang menyebabkan
uterus kekurangan darah (lokal iskhemia). Kekurangan darah ini
bukan hanya karena kontraksi dan retraksi yang cukup lama
seperti tersebut diatas tetapi disebabkan oleh pengurangan aliran
darah ke uterus, karena pada masa hamil uterus harus membesar
menyesuaikan diri dengan pertumbuhan janin. Untuk memenuhi
kebutuhannya, darah banyak dialirkan ke uterus mengadakan
hipertropi dan hiperplasi setelah bayi dilahirkan tidak diperlukan
lagi, maka pengaliran darah berkurang, kembali seperti
biasaDisebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus
dari uterus setelah pengeluaran plasenta membuat uterus relatif
anemia dan menyebabkan serat otot atrofi.
b) Autolisis
Proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot
uterus. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon estrogen
dan progesteron.
c) Efek Oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi
otot uterin sehingga akan menekan pembuluh darah yang
menyebabkan berkurangnya suplai darah ke uterus.(Vivian
Nanny & Tri Sunarsih.2011:56)

5
Mekanisme terjadinya kontraksi pada uterus melalui 2 cara
yaitu :
(1) Kontraksi oleh ion kalsium
Sebagai pengganti troponin, sel-sel otot polos
mengandung sejumlah besar protein pengaturan yang lain
yang disebut kalmodulin. Terjadinya kontraksi diawali
dengan ion 22 kalsium berkaitan dengan calmodulin.
Kombinasi calmodulin ion kalsium kemudian bergabung
dengan sekaligus mengaktifkan myosin kinase yaitu enzim
yang melakukan fosforilase sebagai respon terhadap myosin
kinase.
Bila rantai ini tidak mengalami fosforilasi, siklus
perlekatan-pelepasan kepala myosin dengan filament aktin
tidak akan terjadi. Tetapi bila rantai pengaturan mengalami
fosforilasi, kepala memiliki kemampuan untuk berikatan
secara berulang dengan filamen aktin dan bekerja melalui
seluruh proses siklus tarikan berkala sehingga menghasilkan
kontraksi otot uterus.

(2) Kontraksi yang disebabkan oleh hormon


Ada beberapa hormon yang mempengaruhi adalah
epinefrin, norepinefrin, angiotensin, endhothelin, vasoperin,
oksitonin serotinin, dan histamine. Beberapa reseptor hormon
pada membran otot polos akan membuka kanal ion kalsium
dan natrium serta menimbulkan depolarisasi membran. Kadang
timbul potensial aksi yang telah terjadi. Pada keadaan lain,
terjadi depolarisasi tanpa disertai dengan potensial aksi dan
depolarisasi ini membuat ion kalsium masuk kedalam sel
sehingga terjadi kontraksi pada otot uterus dengan demikian
proses involusi terjadi sehingga uterus kembali pada ukuran

6
dan tempat semula. Adapun kembalinya keadaan uterus
tersebut secara gradual artinya, tidak sekaligus tetapi setingkat.
Sehari atau 24 jam setelah persalinan, fundus uteri agak tinggi
sedikit disebabkan oleh adanya pelemasan uterus segmen atas
dan uterus bagian bawah terlalu lemah dalam meningkatkan
tonusnya kembali. Tetapi setelah tonus otot-otot kembali
fundus uterus akan turun sedikit demi sedikit.
2) Implantasi Tempat Plasenta
Setelah persalinan tempat plasenta merupakan tempat dengan
permukaan kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar telapak tangan.
Dengan cepat luka itu mengecil, pada akhir minggu ke 2 hanya
sebesar 3 sampai 4 cm dan pada akhir nifas bekas plasenta
mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh
trombus. Regenerasi terjadi selama 6 minggu.(Vivian Nanny & Tri
Sunarsih. 2011:57)
Implantasi plasenta dengan cepat mengecil, pada minggu ke 2
sebesar 6-8 cm dan pada akhir masa nifas sebesar 2 cm (Anggraeni,
2010).
3) Lochea
Menurut Waryana (2010), lochea dibagi menjadi :
a) Lochea rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua,
vornik kaseosa, lanugo dan meconium, selama 2 hari pasca
persalinan.
b) Lochea sanguilenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir hari 3-7 hari
persalinan.
c) Lochea serosa
Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14
hari pasca persalinan.
d) Lochea alba
Cairan putih setelah 2 minggu.

7
e) Lochea purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
f) Lochea stasis
Lochea yang tidak lancar keluarnya.
4) Serviks
Setelah persalinan bentuk serviks akan menganga seperti corong.
Hal ini disebabkan oleh korpus uteri yang berkontraksi sedangkan
serviks tidak berkontraksi. Warna serviks berubah menjadi merah
kehitaman karena mengandung banyak pembuluh darah dengan
konsistensi lunak. Perubahan pada serviks adalah menjadi sangat
lembek, kendur dan terkulai. Segera setelah janin dilahirkan, serviks
masih dapat dilewati oleh tangan pemeriksa. Setelah 2 jam
persalinan serviks hanya dapat dilewati oleh 2 – 3 jari dan setelah 1
minggu persalinan hanya dapat dilewati oleh 1 jari. (Ambarwati dan
Wulandari, 2010).
5) Ligamen-ligamen
Ligamen, vasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu
kehamilan dan persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur
menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh
kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum
menjadi kendur.
6) Vulva dan Vagina
Vagina dan lubang vagina pada permulaan puerperium merupakan
suatu saluran yang luas berdinding tipis. Beberapa hari pertama
setelah proses melahirkan bayi vagina masih dalam keadaan kendur.
Setelah 3 minggu vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan
rugae dalam vagina secara berangsur – angsur akan muncul kembali
tetapi ukuran vagina jarang kembali seperti seorang nulipara. Seperti
halnya dengan vagina seberapa hari pertama sesudah proses
melahirkan vulva tetap dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu

8
vulva akan kembali kepada keadaan tidak hamil dan labia menjadi
menonjol.
7) Perineum
Terjadi robekan perinium hampir pada semua persalinan pertama.
Robekan umumnya terjadi di garis tengah dan bisa meluas, bisa
karena kepala janin lahir terlalu cepat. Sudut arkus pubis lebih kecil
dari masanya. Kepala janin melemah PBP dengan ukuran yang lebih
besar daripada sirkum forensia sub oksipito bregmatika (Suherni,
dkk. 2009:79)
b. Perubahan payudara
Pada hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara
mulai bisa dirasakan. Pembuluh darah payudara menjadi bengkak
terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak dan rasa sakit. Sel-
sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi. Ketika bayi
mengisap puting, refleks saraf merangsang lobus posterior pituitari
untuk mensekresi hormon oksitosin. Oksitosin merangsang refleks let
down (mengalirkan) sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus
aktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada puting.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Zamzara, 2015) yang
mengatakan bahwa Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran
Kolostrum pada Ibu Post Partum di Rumah Sakit Umum Daerah
Provinsi Kepulauan Riau hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh (Wulandari and All, 2014) mengatakan bahwa
oksitosin mempengaruhi kecepatan pengeluaran kolostrum Ibu Post
partum Sectio Caesar, sehingga rumah sakit dapat mengaplikasikan
SPO pijat oksitosin yang sebaiknya dilakukan pada 12 jam pertama
post partum.
c. Tanda – tanda Vital (TTV)
Menurut Ambarwati dan Wulandari (2010) terdapat perubahan
tanda-tanda vital (TTV)
1) Suhu Tubuh

9
Setelah proses persalinan, suhu tubuh dapat meningkat sekitar 0,5°
Celcius dari keadaan normal (36°C – 37,5°C) namun tidak lebih
dari 38°C. Hal ini disebabkan karena meningkatnya metabolisme
tubuh pada saat proses persalinan. Setelah 12 jam post partum,
suhu tubuh yang meningkat tadi akan kembali seperti keadaan
semula. Bila suhu tubuh tidak kembali normal atau semakin
meningkat, maka perlu dicurigai terhadap terjadinya infeksi.
2) Nadi
Denyut nadi normal bekisar 60 – 80 kali/menit. Pada saat proses
persalinan denyut nadi akan mengalami peningkatan. Setelah
proses persalinan selesai frekwensi denyut nadi dapat sedikit
lambat. Pada masa nifas biasanya denyut nadi akan kembali
normal.
3) Tekanan Darah
Tekanan darah untuk systole berkisar antara 110 – 140 mmHg dan
untuk diastole antara 60 – 80 mmHg. Setelah partus, tekanan darah
dapat sedikit lebih rendah dibandingkan pada saat hamil karena
terjadinya perdarahan pada proses persalinan. Bila tekanan darah
mengalami peningkatan lebih dari 30 mmHg pada systole atau
lebih dari 15 mmHg pada diastole perlu dicurigai timbulnya
hipertensi atau preeklamsi post partum.
4) Pernafasan
Frekuensi pernafasan normal berkisar antara 18 – 24 kali/menit.
Pada saat partus frekwensi pernafasan akan meningkat karena
kebutuhan oksigen yang tinggi untuk tenaga ibu meneran/mengejan
dan mempertahankan agar persediaan oksigen ke janin tetap
terpenuhi. Setelah proses persalinan, frekwensi pernafasan akan
kembali normal. Keadaan pernafasan biasanya berhubungan
dengan suhu dan denyut nadi.
d. Hormon

10
Sekitar 1 – 2 minggu sebelum partus dimulai, hormon estrogen dan
progesteron akan menurun dan terjadi peningkatan hormon prolaktin
dan prostaglandin. Hormon prolaktin akan merangsang pembentukan
air susu pada kelenjar mamae sedangkan hormon prostaglandin
memicu sekresi oksitosin yang menyebabkan timbulnya kontraksi
uterus.
e. Sistem Peredaran Darah (Cardio Vascular)
Setelah janin dilahirkan, hubungan sirkulasi darah ibu dengan
sirkulasi darah janin akan terputus sehingga volume darah ibu relatif
akan meningkat. Keadaan ini terjadi secara cepat dan mengakibatkan
beban kerja jantung sedikit meningkat. Namun hal tersebut segera
diatasi oleh sistem homeostatis tubuh dengan mekanisme kompensasi
berupa timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah akan
kembali normal. Biasnya ini terjadi sekitar 1 sampai 2 minggu setelah
melahirkan.
Tonus otot polos pada dinding vena mulai membaik. Volume darah
mulai berkurang, iskositas darah kembali normal dan arah jantung
serta tekanan darah menurun sampai kadar sebelum hamil.

f. Sistem Pencernaan
Buang air besar biasanya mengalami perubahan pada 1 – 3 hari
pertama post partum. Hal ini disebabkan terjadinya penurunan tonus
dan mobilitas otot traktus digestifus selama proses persalinan sehingga
dapat menimbulkan konstipasi pada minggu pertama post partum,
selain itu adanya rasa takut untuk buang air besar, sehubungan dengan
jahitan pada perineum, dan takut akan rasa nyeri (Suherni, dkk.
2009:80).
g. Sistem Perkemihan
Pada pelvis ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi selama
kehamilan kembali normal pada akhir minggu keempat setelah

11
melahirkan. Adanya trauma akibat kelahiran, laserasi
vagina/episiotomi, rasa nyeri pada panggul akibat dorongan saat
melahirkan dapat menurunkan dan mengubah refleks berkemih.
Adanya distensi kandung kemih yang muncul segera setelah wanita
melahirkan dapat menyebabkan perdarahan berlebih karena keadaan
ini bisa menghambat uterus berkontraksi dengan baik.
h. Sistem Integumen.
Perubahan kulit selama kehamilan berupa hiperpigmentasi pada wajah
(cloasma gravidarum), leher, mammae, dinding perut dan beberapa
lipatan sendi karena pengaruh hormon akan menghilang selama masa
nifas.
i. Sistem Musculoskeletal
Setelah proses persalinan selesai, dinding perut akan menjadi
longgar, kendur dan melebar selama beberapa minggu atau bahkan
sampai beberapa bulan akibat peregangan yang begitu lama selama
hamil. Ambulasi dini dan senam nifas sangat dianjurkan untuk
mengatasi hal tersebut.
1) Diastasis
Sebagian besar wanita melakukan ambulansi antara 4 sampai 8 jam
post partum. Untuk menghindari komplikasi meningkatkan involusi
dan meningkatkan cara pandang emosional. Relaksasi dan
peningkatan mobilitas artikulasi pelviks terjadi pada 6 minggu post
partum. Mobilisasi dan tonus otot gastrointestinal kembali ke
keadaan semula dalam 2 minggu post partum. Konstipasi terjadi
karena penurunan tonus otot dan rasa tidak nyaman pada
puerpenum. Hemoroid terjadi karena tekanan panggul dan
mengejan selama persalinan.
2) Abdominalis dan Peritonium
Peritonium membentuk lipatan akibat peritonium berkontraksi dan
beretraksi pasca persalinan dan beberapa hari setelahnya.
Ligamentum rotundum lebih kendur dan butuh waktu lama untuk

12
kembali normal. Dinding abdomen tetap kendur karena
konsekuensi dan putusnya serat elastis kulit dan distensi yang
berlangsung lama akibat pembesaran uterus selama hamil. Dinding
perut menjadi longgar disebabkan teregang begitu lama. Pulih
dalam waktu 6 minggu.
6. Adaptasi Psikologi Masa Nifas
a. Fase Taking in (1-2 hari post partum)
Wanita menjadi pasif dan sangat tergantung serta berfokus pada diri dan
tubuhnya sendiri. Mengulang-ulang, menceritakan pengalaman proses
bersalin yang dialami. Wanita yang baru melahirkan ini perlu istirahat
atau tidur untuk mencegah gejala kurang tidur dengan gejala lelah,
cepat tersinggung, campur baur dengan proses pemulihan (Anggraeni,
2010).
b. Fase hold period (3-4 hari post partum)
Yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah
melahirkan. Pada fase ini ibu timbul rasa khawatir akan
ketidakmampuan dan tanggung jawab dalam merawat bayi. Ibu
mempunyai perasaan sangat sensitif mudah tersinggung dan gampang
marah. (Maritalia, 2014)
Ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuan menerima tanggung
jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi
sangat sensitif sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan
perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu (Anggraeni, 2010).
c. Fase Letting go
Yaitu periode menerima tanggung jawab akan peran barunya. Fase
ini berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai
menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. (Maritalia, 2014)
Pada fase ini pada umumnya ibu sudah pulang dari RS. Ibu
mengambil tanggung jawab untuk merawat bayinya, dia harus
menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayi, begitu juga adanya

13
grefing karena dirasakan dapat mengurangi interaksi sosial tertentu.
Depresi post partum sering terjadi pada masa ini (Anggraeni, 2010).
7. Perubahan dan Adaptasi Psikologis Masa Nifas
a. Perubahan Emosi Masa Nifas
1) Perasaan yang kontradiktif dan bertentangan mulai dari kepuasan,
kegembiraan, kebahagiaan hingga kelelahan, ketidakberdayaan dan
kekecewaan karena pada beberapa minggu pertama tampak
didominasi oleh hal yang baru dan asing yang tidak terduga.
2) Kelegaan, ‘syukurlah semua telah berakhir’, mungkin diungkapkan
oleh kebanyakan.
3) Ibu segera setelah kelahiran, kadang-kadang ibu menanggapi secara
dingin terhadap peristiwa yang baru terjadi, terutama bila ibu
mengalami persalinan lama dengan komplikasi yang sulit.
4) Ketidaknyamanan karena nyeri (misalnya nyeri perineum, nyeri
puting susu, dll)
5) Peningkatan kerentanan, tidak mampu memutuskan (misalnya
menyusui), rasa kehilangan, libido, gangguan tidur, kecemasan dll.
6) Beberapa ibu mungkin merasa dekat dengan pasangan dan bayi,
beberapa ibu ingin segera merasakan adanya kontak kulit-ke-kulit
(skin to skin contact) dan segera menyusui.
7) Tidak tertarik atau sangat perhatian terhadap bayi.
8) Takut terhadap hal yang tidak diketahui dan terhadap
tanggungjawab yang sangat berat dan mendadak.
9) Kelelahan dan peningkatan emosi.
10) Postnatal blues atau Postpartum blues
Postnatal blues atau istilah lain postpartum blues merupakan suatu
fenomena.
Perubahan psikologis yang dialami oleh ibu. Postpartum blues
biasanya terjadi pada hari ke-3 sampai ke-5 post partum, tetapi
kadang dapat juga berlangsung seminggu atau lebih, meskipun
jarang. Gambaran kondisi ini bersifat ringan dan sementara.
Kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan ditandai dengan
gejala – gejala sedih, cemas tanpa sebab, mudah menangis
tanpa sebab, euforia, kadang tertawa, tidak sabar, tidak percaya

14
diri, sensitive, mudah tersinggung, merasa kurang menyayangi
bayinya (Wahyuni, 2018).
b. Penyimpangan Dari Kondisi Psikologis Yang Normal (Psikopatologi).
1) Depresi postpartum ringan hingga sedang.
Lebih kurang 10-15% ibu akan mengalami depresi postpartum
ringan hingga sedang untuk pertama kalinya (Cox et al., 1993
dalam (Wahyuni, 2018).Depresi postpartum dapat terjadi pada
bulan pertama postpartum, biasanya pada saat bidan sudah mulai
menghentikan asuhan, dan dapat berlangsung hingga setahun
(Fraser & Cooper, 2009 dalam (Wahyuni, 2018). Tanda-tanda awal
depresi postpartum meliputi kecemasan dan kekhawatiran terhadap
bayi. perasaan tidak mampu melakukan koping dan perasaan
tertekan dengan tuntutan menjadi ibu dan memiliki bayi baru lahir,
hal ini dapat menyebabkan gangguan tidur. Biasanya muncul
perasaan sedih, tidak mampu, tidak berharga, kehilangan nafsu
makan, harga diri rendah, serta menurunnya suasana hati secara
terus-menerus, serta hilangnya kegembiraan dan spontanitas.
Gambaran tersebut tidak sulit untuk dideteksi, tetapi mungkin
terabaikan oleh para bidan atau tenaga kesehatan yang lain yang
menangani ibu postpartum. Ada masalah lain yang menyebabkan
depresi masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan di kalangan
masyarakat, yang membuat banyak ibu memilih untuk diam. Ibu
mungkin merasa bersalah, terisolasi, dan merasa gagal ketika
seharusnya mereka merasakan kemenangan dan puas memperoleh
peran ibu yang kuat. Beberapa ibu dan pasangannya mungkin
tidak tahu secara jelas mengenai tanda dan gejala depresi
postpartum. Bidan harus cermat dalam melakukan pengkajian,
sehingga dapat mengidentifikasi adanya tanda dan gejala depresi
postpartum.
2) Gangguan depresi berat dapat terjadi pada periode postpartum awal
atau lanjut. Ibu yang mengalami depresi berat tampak mengalami
kesedihan yang mendalam dan sakit. Etiologi yang sesuangguhnya

15
belum jelas, namun dugaan yang paling kuat adalah riwayat
gangguan depresi, baik pada postpartum maupun waktu lainnya
3) Distress emosi akibat pengalaman persalinan yang traumatic
4) Duka cita dan kehilangan
Hal ini terkait. bentuk kehilangan ini adalah kematian bayi lahir,
abortus, kematian janin dalam kandungan, kematian
perinatal/neonatal dan kematian anak. Kehilangan janin dapat
menSbulkan duka cita dan kehilangan yang mendalam bagi ibu.
Kehilangan ini berarti juga kehilangan hubungan istimewa ibu
dengan janinnya atau bayinya, atau kehilangan harapan atas
kehadiran seorang bayi yang sempurna.
5) Psikosis Post Partum
Gejala psikosis bervariasi, muncul secara dramatis dan sangat dini,
serta berubah dengan cepat, yang berubah dari hari ke hari selama
fase akut penyakit. (Wahyuni, 2018). Gejala ini dari biasanya
meliputi perubahan suasana hati, perilaku yang tidak rasional dan
gangguan agitasi, ketakutan dan kebingungan, karena ibu
kehilangan kontak dengan realitas secara cepat. Biasanya terjadi
dalam minggu pertama postpartum dan jarang terjadi sebelum 3
hari postpartum, dengan mayoritas kejadian terjadi sebelum 16
hari postpartum.
8. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas
Kebutuhan dasar masa nifas antara lain sebagai berikut:
a. Gizi Ibu nifas dianjurkan untuk:
1) Makan dengan diit berimbang, cukup karbohidrat, protein, lemak,
vitamin dan mineral.
2) Mengkomsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada 6
bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500kalori/hari dan tahun kedua
400 kalori. Jadi jumlah kalori tersebut adalah tambahan dari kalori
per harinya.
3) Mengkonsumsi vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A dalam
bentuk suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI,
meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan

16
hidup anak. (Suherni, 2009,p.101)

Zat Wanita dewasa Wanita hamil Wanita


Makanan tidak hamil 20 minggu menyusui
(BB 47kg) terakhir

Kalori 2000 kalori 3000 kalori 800 kalori

Protein 47 gram 20 gram 40 gram

Kalsium 0,6 gram 0,6 gram 0,6 gram

Ferrum 12 mg 5 mg 5 mg

Vitamin A 400 iu 100 iu 200 iu

Thamin 0,7 mg 0,2 mg 0,5 mg

Riboflavin 1,1 mg 0,2 mg 0,5 mg

Niacin 12,2 mg 2 mg 5 mg

Vitamin C 60 mg 30 mg 30 Mg

Tabel 2. Penambahan makanan pada wanita dewasa, hamil, dan


menyusui (Suherni, 2009, p.102)

Ada beberapa makanan yang dapat di konsumsi oleh ibu nifas untuk
memperbanyak produksi ASI berdasarkan beberapa penelitian yang
telah dilakukan sebelumnya yaitu diantaranya :
a) Daun Katuk
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Endang Suwanti,
2015b) yang berjudul ” Pengaruh Konsumsi Ekstrak Daun Katuk
Terhadap Kecukupan Asi Pada Ibu Menyusui Di Klaten” yang
menyatakan bahwa Ada pengaruh yang signifikan konsumsi
ekstrak daun katuk terhadap kecukupan ASI ( p = 0,000) karena
dau katuk mengandung hampir 7% protein dan 19% serat kasar,
vitamin |K, pro-vitamin A ( beta karotin Vitmin B dan C. Mineral
yang dikandung adalah Kalsium (2,8%) zat besi, kalium, fisfor dan
magnesium. Sehingga disarankan kepada ibu menyusui dapat
mengkonsumsi daun katuk sebagai variasi menu makanan untuk
meningkatkan kecukupan ASI dan bagi bidan dapat memberikan

17
KIE tentang daun katku sebagai menu makanan sehari-hari untuk
meningkatkan produksi ASI. Penelitian tersebut sejaan dengan
penelitian yang dilakukan oleh (Semuel Layuk, 2016) yang
berjudul “ Menu Luhu (Katuk Saorophus Androginus) Sebagai
Kearifan Lokal Dalam Meningkatkan Produksi Asi Frekuensi Dan
Durasi Menyusui di Kabupaten Kepulauan Sangihe “ yang
mengatakan bahwa konsumsi menu luhu (katuk saorophus
androginus dapat meningkatkan produksi ASI sekaligus dapat
menambah berat badan bayi karena mengandung nilai gizi yang
tinggi.
b) Daun Kelor
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Sormin, 2018) yang
berjudul “Hubungan Konsumsi Daun Kelor Dengan Pemberian Asi
Eksklusif Pada Ibu Menyusui Suku Timor Di Kelurahan Kolhua
Kecamatan Maulafa Kupang “ mengatakan bahwa untuk menjaga
agar ASI tetap lancar dan cukup untuk bayi, responden ibu-ibu
Suku Timor di Kelurahan Kolhua Kecamatan Maulafa Kupang
mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan berupa kacang-
kacangan dan daun-daunan seperti daun katuk dan daun kelor yang
diyakini berkhasiat meningkatkan atau melancarkan produksi ASI,
disamping merawat payudara dan lebih sering menyusui bayi.
Manfaat daun kelor telah diketahui oleh 90% responden ibu-ibu
Suku Timor di Kelurahan Kolhua Kecamatan Maulafa Kupang
dapat meningkatkan produksi ASI.
c) Daun Kentang Manis
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Endang Suwanti,
2015a) yang berjudul ” Hubungan Konsumsi Ekstrak Daun
Kentang Manis Dengan Produksi Asi Di Laktasi Ibu Di Kabupaten
Klaten “ yang mengatakan bahwa ada adalah hubungan yang
signifikan antara konsumsi daun ubi jalar untuk meningkatkan
produksi ASI karena Daun ini adalah sumber protein, kalsium, besi
dan niacin. Kentang manis daun juga mengandung serat tinggi, pro
vitamin A, vitamin C, riboflamin, vitamin B6, folat, mg fosfor,

18
kalium dan mangan. Hal ini meningkatkan ASI karena daun ini
mengandung lagtogogum.
d) Daun Kacang Panjang
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Djama, 2018) yang
berjudul” Pengaruh Konsumsi Daun Kacang Panjang Terhadap
Peningkatan Produksi Asi Pada Ibu Menyusui” mengatakan bahwa
pemberian sayur daun kacang panjang dapat peningkatan produksi
ASI ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Jambula karena
daun kacang panjang mengandung saponin dan polifenol yang
dapat meningkatkan kadar prolaktin. Berbagai substansi dalam
laktagogum memiliki potensi dalam menstimulasi hormon
oksitosin dan prolaktin seperti Alkaloid,polifenol,steroid, flavonoid
dan substansi lainnya memerlukan kajian mendalam untuk menilai
substansi apa yang paling efektif dalam meningkatkan dan
memperlancar produksi ASI. Peningkatan produksi ASI pada
menyusui baik sebelum maupun setelah diberikan daun kacang
panjang adalah dilihat dari pertumbuhan berat badan anak diukur
dengan cara menghitung BB bayi pada hari ke 10 dikurangi berat
badan ke 0 dan berat badan pada hari ke 17 dikurangi berat badan
hari ke 10. Peningkatan produksi ASI bukan dinilai dengan
mengukur volume ASI.
e) Daun Pepaya
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Turlina and Wijayanti,
2015) yang berjudul ” Pengaruh pemberian serbuk daun pepaya
terhadap kelancaran asi pada ibu nifas di bpm ny. hanik dasiyem,
amd.keb di kedungpring kabupaten lamongan” yang mengatakan
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dalam pemberian
minuman daun pepaya terhadap kelancaran ASI pada ibu nifas
dengan nilai p = 0,004 (p<0,05). Sehingga dianjurkan pada ibu
nifas untuk sering mengkonsumsi minuman daun pepaya untuk
membantu memperlancar pengeluaran ASI pada ibu post partum.
Khasiat daun pepaya dalam meningkatkan produksi ASI ditunjukan

19
oleh kandung vitamin A 1850 SI; vitamin BI 0,15 mg; vitamin C
140 mg; kalori 79 kalori; protein 8,0 gram; lemak 2 gram; hidrat
arang 11,9 gram; kalsium 353 mg; fosfor 63 mg; besi 0,8 mg; air
75,4 gram; carposide; papayotin; karpai; kausyuk; karposit; dan
vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi dan kesehatan
ibu, sehingga dapat menjadi sumber gizi yang sangat potensial.
Kandungan protein tinggi, lemak tinggi, vitamin, kalsium (Ca), dan
zat besi (Fe) dalam daun pepaya berfungsi untuk pembentukan
hemoglobin dalam darah meningkat, diharapkan O2 dalam darah
meningkat, metabolisme juga meningkat sehingga sel otak
berfungsi dengan baik dan kecerdasan meningkat. Selain itu, daun
Pepaya juga mengandung Enzim Papain dan kalium, fungsi enzim
berguna untuk memecah protein yang dimakan sedangkan kalium
berguna untuk memenuhi kebutuhan kalium dimasa
menyusui.karena jika kekurangan kalium maka badan akan terasa
lelah, dan kekurangan kalium juga menyebabkan perubahan
suasana hati menjadi depresi, sementara saat menyusui ibu harus
berfikir positif dan bahagia.
f) Daun Bangun - Bangun
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh
(Sari, 2017) yang berjudul “Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun
Bangun-Bangun (Coleus Amboinicus Lour) Pada Berbagai Tingkat
Petikan Daun Dengan Metode Dpph “ mengatakan bahwa manfaat
daun bangun-bangun adalah untuk meningkatkan produksi ASI.
Daun bangun-bangun merupakan bahan pangan nabati yang
potensial sebagai sumber antioksidan karena kaya akan flavonoid
dan polifenol, sehingga daun bangun-bangun sering disebut sebagai
laktogogum.. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang
telah dilakukan oleh (Hidayat, 2014) dengan judul “Pemanfaatan
Daun Bangun-Bangun dalam Pengembangan Produk Makanan
Tambahan Fungsional untuk Ibu Menyusui” yang mengatakan
bahwa Daun tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour)

20
termasuk salah satu tanaman pangan yang memiliki fungsi sebagai
laktogogum, yaitu dapat meningkatkan sekresi dan produksi air
susu ibu. Oleh karena itu, daun bangun-bangun sangat potensial
untuk dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pengembangan
produk makanan tambahan fungsional bagi ibu menyusui.
Ada beberapa makanan yang dapat dikonsumsi oleh ibu nifas Post SC
agar dapat mempercepat penyembuhan luka operasi, diantaranya
adalah:

a) Telur
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Madiyant, 2018) yang
berjudul “Hubungan Asupan Protein Denganpenyembuhan Luka
Pada Pasien Post Operas Sectio Caesarea (Sc) Dirumah Sakit
Umum Daerah Pringsewu Lampung Tahun 2016” yang mengatakan
bahwa terdapat hubungan antara asupan protein dengan
penyembuhan luka Post Op SC Di RSUD Pringsewu Tahun 2016.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan asupan protein dengan penyembuhan luka Post OpSC
sehingga Penelitian ini merekomendasikan agar responden dapat
meningkatkan asupan protein untuk mempercepat penyembuhan
luka.
b) Ikan Gabus
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Nugraheni, 2016)
yang berjudul “ Perbedaan efektivitas ekstrak ikan gabus dan daun
Binahong terhadap lama penyembuhan luka operasi sectio caesarea
pada ibu nifas” yang mengatakan bahwa : Ada perbedaan
efektivitas ekstrak ikan gabus dan daun binahong terhadap lama
penyembuhan luka operasi sectio caesarea pada ibu nifas dimana
Rata-rata lama proses penyembuhan luka operasi sectio caesarea
pada ibu nifas yang mengkonsumsi ekstrak ikan gabus adalah 8
hari, ekstrak daun binahong adalah 12 hari sedangkan pada
kelompok kontrol tanpa perlakuan adalah 16 hari. Sehingga
Penelitian ini merekomendasikan agar responden dapat

21
meningkatkan asupan ikan gabus untuk mempercepat
penyembuhan luka post Sc.

b. Ambulasi
Ambulasi sedini mungkin sangat dianjurkan, kecuali ada
kontraindikasi. Ambulasi ini akan meningkatkan sirkulasi dan
mencegah risiko tromboflebitis, meningkatkan fungsi kerja peristaltik
dan kandung kemih, sehingga mencegah distensi abdominal dan
konstipasi. Bidan harus menjelaskan kepada ibu tentang tujuan dan
manfaat ambulasi dini. Ambulasi ini dilakukan secara bertahap sesuai
kekuatan ibu. Terkadang ibu nifas enggan untuk banyak bergerak
karena merasa letih dan sakit. Jika keadaan tersebut tidak segera
diatasi, ibu akan terancam mengalami trombosis vena. Untuk
mencegah terjadinya trombosis vena, perlu dilakukan ambulasi dini
oleh ibu nifas.
Pada persalinan normal dan keadaan ibu normal, biasanya ibu
diperbolehkan untuk mandi dan ke WC dengan bantuan orang lain,
yaitu pada 1 atau 2 jam setelah persalinan. Sebelum waktu ini, ibu
harus diminta untuk melakukan latihan menarik napas dalam serta
latihan tungkai yang sederhana Dan harus duduk serta mengayunkan
tungkainya di tepi tempat tidur.
Sebaiknya, ibu nifas turun dan tempat tidur sediri mungkin setelah
persalinan. Ambulasi dini dapat mengurangi kejadian komplikasi
kandung kemih, konstipasi, trombosis vena puerperalis, dan emboli
perinorthi. Di samping itu, ibu merasa lebih sehat dan kuat serta dapat
segera merawat bayinya. Ibu harus didorong untuk berjalan dan tidak
hanya duduk di tempat tidur. Pada ambulasi pertama, sebaiknya ibu
dibantu karena pada saat ini biasanya ibu merasa pusing ketika
pertama kali bangun setelah melahirkan. (Bahiyatun, 2009, pp.76-77).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prihatini, 2014
“Pengaruh Mobilisasi Dini terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri
pada Ibu Nifas di Paviliun Melati RSUD Jombang” menunjukkan

22
bahwa mobilisasi dini dapat mempercepat penurunan TFU pada ibu
nifas (Prihartini, 2014)
c. Hygiene Personal
Ibu Sering membersihkan area perineum akan meningkatkan
kenyamanan dan mencegah infeksi. Tindakan ini paling sering
menggunakan air hangat yang dialirkan (dapat ditambah larutan
antiseptik) ke atas vulva perineum setelah berkemih atau defekasi,
hindari penyemprotan langsung. Ajarkan ibu untuk membersihkan
sendiri.
Pasien yang harus istirahat di tempat tidur (mis, hipertensi, post-
seksio sesaria) harus dibantu mandi setiap hari dan mencuci daerah
perineum dua kali sehari dan setiap selesai eliminasi. Setelah ibu
mampu mandi sendiri (dua kali sehari), biasanya daerah perineum
dicuci sendiri. Penggantian pembalut hendaknya sering dilakukan,
setidaknya setelah membersihkan perineum atau setelah berkemih
atau defekasi.
Luka pada perineum akibat episiotomi, ruptura, atau laserasi
merupakan daerah yang tidak mudah untuk dijaga agar tetap bersih
dan kering. Tindakan membersihkan vulva dapat memberi kesempatan
untuk melakukan inspeksi secara seksama daerah perineum.
Payudara juga harus diperhatikan kebersihannya. Jika puting
terbenam, lakukan masase payudara secara perlahan dan tarik keluar
secara hati - hati. Pada masa postpartum, seorang ibu akan rentan
terhadap infeksi. Untuk itu, menjaga kebersihan sangat penting untuk
mencegah infeksi. Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan tubuh,
pakaian, tempat tidur, dan lingkungannya. Ajari ibu cara
membersibkan daerah genitalnya dengan sabun dan air bersih setiap
kali setelah berkemih dan defekasi. Sebelum dan sesudah
membersihkan genitalia, ia harus mencuci tangan sampai bersih. Pada
waktu mencuci luka (epistotomi), ia harus mencucinya dan arah depan
ke belakang dan mencuci daerah anusnya yang 20 terakhir. Ibu harus

23
mengganti pembalut sedikitnya dua kali sehari. Jika ia menyusui
bayinya, anjurkan untuk menjaga kebersihan payudaranya.
Alat kelamin wanita ada dua, yaitu alat kelamin luar dan dalam.
Vulva adalah alat kelamin luar wanita yang terdiri dan berbagai
bagian, yaitu kommissura anterior, komrnissura interior, labia mayora,
labia rninora, klitoris, prepusium klitonis, orifisium uretra, orifisium
vagina, perineum anterior, dan perineum posterior.
Robekan perineum terjadi pada semua persalinan, dan biasanya
robekan tenjadi di garis tengah dan dapat meluas apabila kepala janin
lahir terlalu cepat. Perineum yang dilalui bayi biasanya mengalami
peregangan, lebam, dan trauma. Rasa sakit pada perineum semakin
parah jika perineum robek atau disayat pisau bedah. Seperti semua
luka baru, area episiotomi atau luka sayatan membutuhkan waktu
untuk sembuh, yaitu 7 hingga 10 hari Infeksi dapat terjadi, tetapi
sangat kecil kemungkinanya jika luka perineum dirawat dengan baik.
Selama di rumah sakit, dokter akan memeriksa perineum setidaknya
sekali sehari untuk memastikan tidak terjadi peradangan atau tanda
infeksi lainnya. Dokter juga akan memberi instruksi cara menjaga
kebersihan perineum pascapersalinan untuk mencegah infeksi.
Perawatan perineum 10 hari :
1) Ganti pembalut wanita yang bersih setiap 4 - 5 jam. Posisikan
pembalut dengan baik sehingga tidak bergeser.
2) Lepaskan pembalut dari arah depan ke belakang untuk
menghindani penyebaran bakteri dan anus ke vagina.
3) Alirkan atau bilas dengan air hangat atau cairan antiseptic pada
area perineum setelah defekasi. Keringkan dengan kain pembalut
atau handuk dengan cara ditepuk – tepuk dari arah depan ke
belakang.
4) Jangan dipegang sampai area tersebut pulih.
5) Rasa gatal pada area sekitar jahitan adalah normal dan merupakan
tanda penyembuhan. Namun, untuk meredakan rasa tidak enak,
atasi dengan mandi berendam air hangat atau kompres dingin
dengan kain pembalut yang telah didinginkan.

24
6) Berbaring miring, hindari berdiri atau duduk lama untuk
mengurangi tekanan pada daerah tersebut.
7) Lakukan latihan Kegel sesering mungkin guna merangsang
peredaran darah di sekitar perineum. Dengan demikian, akan
mempercepat penyembuhan dan memperbaiki fungsi otot - otot.
Tidak perlu terkejut bila tidak merasakan apa pun saat pertama kali
berlatih karena area tersebut akan kebal setelah persalinan dan
pulih secara bertahap dalam beberapa minggu. (Bahiyatun, 2009,
pp.77-78).
Menurut Martini, 2015 “Efektifitas Latihan Kegel Terhadap
Percepatan Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas Di
Puskesmas Kalitengah Lamongan” bahwa latihan kegel dapat
dimanfaatkan sebagai salah satu bentuk latihan yang di anjurkan
bagi ibu nifas untuk mempercepat penyembuhan luka perineum
(Martini, 2015).
d. Istirahat dan tidur
Anjurkan ibu untuk :
1) Istirahat yang cukup untuk mengurangi kelelahan.
2) Tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.
3) Kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan.
Mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan waktu
untuk istirahat pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam.
Kurang istirahat pada ibu nifas dapat berakibat:
1) Mengurangi jumlah ASI.
2) Memperlambat involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan
perdarahan.
3) Depresi. (Suherni, 2009, pp.104-105).
e. Senam Nifas
Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami
perubahan fisik seperti dinding perut menjadi kendor, longgarnya
liang senggama, dan otot dasar panggul. Untuk mengembalikan
kepada keadaan normal dan menjaga kesehatan agar tetap prima,
senam nifas sangat baik dilakukan pada ibu setelah melahirkan. Ibu

25
tidak perlu takut untuk banyak bergerak, karena dengan ambulasi
secara dini dapat membantu rahim untuk kembali kebentuk semula.
Senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama
melahirkan setiap hari sampai hari yang kesepuluh, terdiri dari
sederetan gerakan tubuh yang dilakukan untuk mempercepat
pemulihan ibu. (Suherni, 2009, p.105). Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh (Tianastia Rullyni and Evareny, 2014)
yang berjudul “Pengaruh Senam Nifas terhadap Penurunan Tinggi
Fundus Uteri pada Ibu Post Partum di RSUP DR. M. Djamil Padang”
yang mengatakan bahwa salah satu asuhan untuk memaksimalkan
kontraksi uterus pada masa nifas adalah dengan melaksanakan senam
nifas, guna mempercepat proses involusi uteri. Hal tersebut sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh (Andriyani, Nurlaila, 2013)
yang berjudul “Pengaruh Senam Nifas Terhadap Penurunan Tinggi
Fundus Uteri Pada Ibu Post Partum” yang mengatakan bahwa Senam
nifas sangat penting dilakukan pada masa nifas, karena dapat
mempercepat proses involusi uteri dan pemulihan alat kandungan
pada ibu post partum sehingga di sarankan agar petugas kesehatan
dapat memberikan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan kepada
ibu-ibu nifas tentang manfaat senam nifas untuk mencegah berbagai
macam komplikasi pada masa nifas.
Senam nifas menurut (Runjati dkk, 2017) terdiri dari latihan
sirkulasi, latihan dasar pelvis, latihan abdomen dan latihan fisik paska
operasi sesar.
Latihan Sirkulasi
Latihan ini bertujuan untuk mempertahankan dan atau meningkatkan
sirkulasi sehingga dapat mencegah terjadinya risiko trombosis vena
atau komplikasi sirkulasi lainnya. Latihan ini sangat tepat dilakukan
pada ibu dengan pasca pemberian anestesi epidural, karena memiliki
risiko mengalami edema pergelangan kaki dan perlambatan
sirkulasi.Ambulasi dini dapat mencegah trombosis vena profunda.
Latihan dilakukan sesering mungkin segera setelah persalinan. Latihan

26
dapat dilakukan di tempat tidur beberapa kali setiap bangun tidur dan
dilanjutkan sampai ibu mampu mobilisasi total dan tidak ada edema
pergelangan kaki.
Gerakan meliputi:
1) Senam kaki: Duduk atau berbaring dengan posisi lutut lurus. Tekuk
ke arah dorsofleksi lalu regangkan secara perlahan, ulangi minimal
12 kali. Pertahankan posisi lutut dan paha, putar kedua pergelangan
sebesar mungkin putarannya sedikitnya 12 kali untuk satu arah.
2) Mengencangkan kaki: Duduk atau berbaring dengan kaki lurus.
Tarik kedua kaki pada pergelangan kaki dan tekankan bagian
belakang lutut ke tempat tidur. Pertahankan posisi ini dalam
hitungan 5, bernapas normal, lalu relaks. Ulangi sebanyak 10 kali.
3) Napas dalam: Pernapasan diafragma membantu mengembalikan
aliran vena dan harus diulangi beberapa kali sehari sampai ibu
dapat mobilisasi. Dalam posisi apapun, tarik napas dalam sebanyak
3-4 kali (tidak boleh lebih) untuk memungkinkan ventilasi penuh
paru.

Gambar 2.1 Latihan Sirkulasi


(Sumber Runjati dkk, 2017)
Latihan Dasar Pelvis
Prinsip latihan ini adalah menguatkan otot dasar panggul pasca
persalinan dengan tujuan mengembalikan fungsi otot dasar panggul
sesegera mungkin yaitu dalam hal mengontrol kandung kemih,
mencegah masalah prolapse dan mengembalikan fungsi kepuasan
seksual untuk kedua pasangan.

27
Kontraksi dan relaksasi pada otot-otot ini juga akan membantu
mengurangi ketidaknyamanan pada perineum, meningkatkan sirkulasi
lokal dan mengurangi edema. Latihan dasar panggul harus dimulai
sesegera mungkin setelah persalinan. Beberapa ibu yang mungkin
mengalami kesulitan dalam melakukan latihan karena mengalami
ketidaknyaman nyeri pada perineum akibat episiotomi atau memar
dan cemas karena takut jahitan rusak, harus tetap dSetivasi untuk
menggerakkan otot dasar panggul sedikit dan sering serta perlahan
dan cepat. Prosedur dapat dilakukan bersamaan dengan aktivitas yang
lain seperti saat menyusui bayi, memandikan bayi, mengganti popok,
selesai berkemih dan lain sebagainya.
Gerakan:
1) Kontraksikan atau kencangkan anus seperti menahan buang air
besar (BAB), kerutkan uretra dan vagina seperti menahan buang air
kecil (BAK), tahan dengan kuat selama mungkin sampai 10 detik.
Kemudian relakskan dengan melepaskan ketiganya (anus, uretra
dan vagina) bernapas secara normal selama 3 detik. Ulangi dcngan
perlahan sebanyak mungkin ataumaksimal 10 kali setiap sesi.
2) Jika latihan sudah dikuasai, ibu dapat dianjurkan untuk melakukan
pola 10 kontraksi lambat kemudian dilanjutkan dengan 10
kontraksi cepat tanpa menahan kontraksi.
3) Latihan ini dapat dilakukan, posisi duduk (sambil duduk di kamar
mandi setiap habis berkemih), posisi telungkup atau berbaring
miring dengan bantal diletakkan antara dua kaki atau posisi berdiri
dengan kedua kaki sedikit dibuka.
Menguji kekuatan otot dasar pelvis:
1) Dibutuhkan waktu 2-3 bulan untuk memperoleh fungsi penuh Otot
dasar panggul dan pada kondisi-kondisi tertentu seperti ketika
batuk, tertawa, mengangkat beban atau jongkok ibu sebaiknya
dianjurkan untuk membebat area dasar panggulnya.
2) Setelah 8-12 minggu pascapcrsalinan lakukan tes untuk menguji
kekuatan fungsi Otot-otot dasar panggul. Caranya melompat pada

28
saat kandung kemih penuh dan batuk kuat, lakukan tindakan
tersebut 2-3 kali. Jika tidak ada urine yang keluar menetes berarti
kekuatan dan fungsi Otot sudah normal.
3) Jika masih ada urine yang menetes, ulangi tes 4 minggu setelah
melakukan latihan Otot dasar panggul secara rutin. Jika masih tetap
ada penetesan urine perlu dilakukan tujukan ke ahli fisioterapi atau
konsultasikan ke dokter ginekologi untuk mendapatkan tetapi.
Latihan Abdomen
Tujuan latihan untuk mengembalikan tonus atm abdomen sesegera
mungkin setelah persalinan mengingat pentingnya fungsi Otot tersebut
dalam menjaga kestabilan panggul, melindungi sendi panggul dan
tulang belakang, mencegah nyeri punggung, dan membantu
mengembalikan bentuk tubuh ibu.
Latihan dapat dimulai saat ibu sudah merasa kuat dan dilakukan
sesering mungkin. Jika terjadi diastasis rekti yang berlebihan tidak
dianjurkan untuk melakukan latihan atau mtasi Otot abdomen karena
dapat menyebabkan stres pada linea alba yang dapat memperlebar
celah diastasis tersebut.
Gerakan meliputi:
1) Latihan otot transversus
a) Posisi berbaring dengan kedua lutut ditekuk dan kaki menapak
datar di tempat tidur. Kedua tangan diletakkan di abdomen
bawah. Tarik napas dan keluarkan dengan perlahan sambil
mengencangkan otot abdomen bagian bawah (daerah di bawah
umbilikus). Tahan posisi ini selama 10 detik, lanjutkan bernapas
secara normal, kemudian relakskan secara perlahan. Ulangi
gerakan ini sebanyak 10 kali.
b) Latihan dapat dilakukan bersamaan dengan aktivitas lain dan
dalam berbagai posisi (miring, duduk atau berdiri), gerakan
dapat dilihat seperti latihan pada senam hamil. Pemilihan posisi
berlututtelungkup harus dihindari selama 4-6 minggu
pascapersalinan.

29
c) Latihan transversus dapat dikombinasikan dengan latihan dasar
panggul dengan cara mengkontraksi transvesus terlebih dahulu
kemudian dilanjutkan dengan dasar panggul atau sebaliknya.

Gambar 2.2 Latihan Otot Transvesus


(Sumber : Runjati, dkk, 2017)
2) Latihan mengangkat panggul
a) Dapat dilakukan pada awal pasca-persalinan tel utama pada ibu
yang memiliki riwayat nye; punggung postural.
b) Posisi berbaring telentang dengan kedua lutu ditekuk dan kaki
ditapakkan di lantai, kencangkai otot abdomen dan otot panggul
dengan menekar sedikit area belakang ke arah lantai. Tahan
posisi ini sampai 5 hitungan, bernapas normal dan relaks.
Ulangi gerakan ini 10 kali. Di setiap pengulangan tingkatkan
sampai 10 hitungan pada setiap sesi pada minggu-minggu
berikutnya.
c) Latihan ini dapat dilakukan dengan berbagai posisi misalnya
berbaring miring, duduk atau berdiri. (Gerakannya dapat dilihat
pada latihan senam hamil).

Gambar 3.3 Latihan mengangkat panggul


(Sumber : Runjati,dkk, 2017)
3) Knee rolling

30
a) Latihan bertujuan untuk memperkuat otot oblik abdomen,
dilakukan apabila tidak terdapat diastasis rekti yang
berlebihan.
b) Posisi tidur telentang dengan lutut ditekuk dan kaki menapak
pada lantai, kontraksikan abdomen bagian dalam dan kedua
lutut dimiringkan sejauh mungkin ke samping, pertahankan
posisi bahu tetap rata. Kembalikan lutut posisi semula dan
relakskan abdomen. Ulangi gerakan ke arah sisi yang lain.
Latihan ini dapat dilakukan sampai 10 kali.
Menurut Noble (1995) diastasis rekti merupakan pemisahan otot
rektus abdominis lebih dari 2,5 cm (seukuran 2 jari yang kecil)
pada tepat setinggi umbilikus sebagai akibat pengaruh hormon
terhadap linea alba serta peregangan dinding abdomen. Untuk
mengetahui diastasis yang berlebihan, pemeriksaan otot rektus
biasanya dilakukan pada hari ke - dengan cara ibu berbaring
telentang dengan satu bantal di kepala, lutut ditekuk dengan kaki
menapak di tempat tidur, palpasi dengan satu atau dua jari
menekan melintang di abdomen sambil meminta ibu
mengangkat kepala dan bahunya, otot rektus akan teraba tegang di
antara kedua sisi jari. Tentukan lebar atau celah otot rektus, celah
selebar dua jari dianggap normal dan ibu dapat meneruskan latihan
otot oblik abdomen. Jika celahnya lebih dari dua jari maka ibu
hanya boleh melakukan latihan transversus dan latihan mengangkat
panggul dan dilakukan latihan beberapa hari. setelah itu lakukan
pemeriksaan ulang jika masih terdapat diastasis dan tidak
berkurang ibu sebaiknya dirujuk ke ahli fisioterapi.

31
Gambar 3.4 a. Rectus Abdominus normal b. Diastasis Rectus Abdominis
(Sumber : Runjati, dkk, 2017)

Latihan Fisik Pasca-operasi Sesar


Latihan fisik pasca-operasi sesar akan membantu proses pemulihan
pascanatal. Latihan fisik dapat dikenalkan dengan kegiatan yang
sederhana seperti cara naik-turun dari tempat tidur yaitu ibu
dianjurkan terlebih dahulu menekuk kedua lutut, tarik otot abdomen
dengan dorongan tangan dan kaki miringkan badan ke samping dan
untuk bangun dari tempat tidur kencangkan bagian transversus dan
dorong ke posisi duduk.
4) Latihan sirkulasi
Pada penggunaan anestesi epidural (lumbal anestesi) latihan
sirkulasi pada kaki dan tungkai dapat dilakukan sesegera mungkin
dan diikuti dengan melakukan napas dalam 3 – 4 kali juga
akan membantu meningkatkan
sirkulasi. Sedangkan pada anestesis umum ibu harus
diajarkan juga cara untuk mengeluarkan sekret dari paru yaitu
dengan napas dalarn diikuti dengan bufng (ekspirasi yang dipaksa
dan singkat). Jika teknik batuk diperlukan maka lutut ibu ditekuk
dan luka ditahan dengan tangan atau bantal untuk mencegah
tegangan yang berlebihan dan mengurangi nyeri pada daerah
operasi.

32
L
Gambar 2.5 Posisi batuk pada ibu pasca operasi sesar
(Sumber : Runjati dkk, 2017)
a) Latihan otot transversus, dilakukan sedini mungkin ketika ibu
sudah merasa siap dan nyaman dengan berbagai posisi kecuali
merangkak Ibu juga dapat dianjurkan untuk melakukan latihan
ini sebelum melakukan aktivitas dengan bayinya atau jika
ingin batuk. Kejadian flatulensi pada ibu pasca operasi sesar
dapat dikurangi dengan latihan menengadahkan lutut dan knee
rolling. Pemeriksaan celah diastasis rekti dapat dilakukan
setelah 5-6 hari sehingga latihan untuk otot oblik harus ditunda
dan setelah ibu merasa cukup kuat.
b) Latihan dasar pelvik
Meskipun sebuah penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan
persalinan sesar cenderung jarang mengalami inkontinensia
urine (Wilson et al, 1996), latihan dasar panggul tetap penting
dilakukan karena saat kehamilan terjadi peregangan yang hebat
pada Otot-otot panggul. Istirahat yang cukup sangat diperlukan
pada ibu pascapersalinan untuk membantu proses pemulihan
dan fungsi jaringan tubuh ke kondisi normal sebelum hamil.
Anggota keluarga dapat dianjurkan untuk membantu ibu
melakukan pekerjaan sehari-hari dan memastikan ibu dapat
beristirahat
f. Seksualitas masa nifas

33
Kebutuhan seksual sering menjadi perhatian ibu dan keluarga.
Diskusikan hal ini sejak mulai hamil dan diulang pada postpartum
berdasarkan budaya dan kepercayaan ibu dan keluarga. Seksualitas ibu
dipengaruhi oleh derajat ruptur perineum dan penurunan hormon
steroid setelah persalinan. Keinginan seksual ibu menurun karena
kadar hormon rendah, adaptasi peran baru, keletihan (kurang istirahat
dan tidur). Penggunaan kontrasepsi (ovulasi terjadi pada kurang lebih
6 minggu) diperlukan karena kembalinya masa subur yang tidak dapat
diprediksi. Menstruasi ibu terjadi pada kurang lebih 9 minggu pada
ibu tidak menyusui dan kurang Iebih 30 - 36 minggu atau 4 - 18 bulan
pada ibu yang menyusui.
Hubungan seksual dapat dilakukan apabila darah sudah berhenti
dan luka episiotomy sudah sembuh. Koitus bisa dilakukan pada 3-4
minggu post partum. Libido menurun pada bulan pertama postpartum,
dalam hal kecepatan maupun lamanya, begitu pula orgasmenya. Ibu
perlu melakukan fase pemanasan (exittement) yang membutuhkan
waktu yang lebih lama, hal ini harus diinformasikan pada pasangan
suami isteri. Secara fisik aman untuk melakukan hubungan suami istri
begitu darah merah berhenti dan ibu dapat melakukan sulasi dengan
memasukkan satu atau dua jari ke dalam vagina, apabila sudah tidak
terdapat rasa nyeri, maka aman untuk melakukan hubungan suami
istri. Meskipun secara psikologis ibu perlu beradaptasi terhadap
berbagai perubahan postpartum, mungkin ada rasa ragu, takut dan
ketidaknyamanan yang perlu difasilitasi pada ibu. Bidan bisa
memfasilitasi proses konseling yang efektif, terjaga privasi ibu dan
nyaman tentang seksual sesuai kebutuhan dan kekhawatiran ibu.
Hal-hal yang mempengaruhi seksual pada masa nifas, yaitu:
1) Intensitas respons seksual berkurang karena perubahan faal
tubuh. Tubuh menjadi tidak atau belum sensitif seperti semula.
2) Rasa lelah akibat mengurus bayi mengalahkan minat untuk
bermesraan.
3) Bounding dengan bayi menguras semua cinta kasih, sehingga
waktu tidak tersisa untuk pasangan.

34
4) Kehadiran bayi di kamar yang sama membuat ibu secara
psikologis tidak nyaman berhubungan intim.
5) Pada minggu pertama setelah persalinan, hormon estrogen
menurun yang mempengaruhi sel - sel penyekresi cairan
pelumas vagina alamiah yang berkurang. Hal ini menimbulkan
rasa sakit bila berhubungan seksual. Untuk itu, diperlukan
pelumas atau rubrikan.
6) Ibu mengalami let down ASI, sehingga respons terhadap
orgasme yang dirasakan sebagai rangsangan seksual pada saat
menyusui. Respons fisiologis ini dapat menekan ibu, kecuali
mereka memahami bahwa hal tersebut adalah normal.
g. Keluarga Berencana
Keluarga berencana adalah salah satu usaha untuk mencapai
kesejahteraan dengan jalan memberi nasihat perkawinan, pengobatan
kemandulan, dan penjarangan kehamilan. KB merupakan salah satu
usaha membantu 26 keluarga / individu merencanakan kehidupan
berkeluarganya dengan baik, sehingga dapat mencapai keluarga
berkualitas.
Manfaat keluarga berencana (KB) :
1) Untuk Ibu
a) Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya
kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu
pendek.
b) Adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak, untuk
istirahat, dan menikmati waktu luang, serta melakukan kegiatan
- kegiatan lain.
2) Untuk anak yang dilahirkan
a) Dapat tumbuh secara wajar karena ibu yang mengandungnya
berada dalam keadaan sehat.
b) Sesudah lahir anak tersebut akan memperoleh perhatian,
pemeliharaan, dan makanan yang cukup. Hal ini disebabkan
oleh kehadiran anak tersebut yang memang diinginkan dan
diharapkan.
3) Untuk anak yang lain

35
a) Memberi kesempatan perkembangan fisiknya lebih baik karena
memperoleh makanan yang cukup dan sumber yang tersedia
dalam keluarga.
b) Perkembangan mental dan sosial lebih sempurna karena
pemeliharaan yang lebih baik dan lebih banyak waktu yang
diberikan oleh ibu untuk anak.
c) Perencanaan kesempatan pendidikan yang lebih baik karena
sumber pendapatan keluarga tidak habis untuk mempertahankan
hidup semata - mata.
4) Untuk ayah
a) Memperbaiki kesehatan fisiknya
b) Memperbaiki kesehatan mental dan sosial karena kecemasan
berkurang serta lebih banyak waktu luang untuk keluarganya.
Evaluasi yang perlu dilakukan bidan dalam memberi asuhan kepada
ibu nifas dan rencana ber-KB, antara lain :
1) Ibu mengetahui pengertian KB dan manfaatnya.
2) Ibu dapat menyebutkan macam - macam metode kontrasepsi untuk
ibu menyusui.
3) Ibu dapat menyebutkan beberapa keuntungan pemakaian alat
kontrasepsi.
4) Ibu dapat memilih / menentukan metode kontrasepsi yang dirasa
cocok bagi dirinya.
h. Eliminasi : BAB dan BAK
1) Buang air kecil (BAK)
a) Dalam 6 jam ibu sudah harus bisa BAK spontan, kebanyakan
ibu dapat berkemih spontan dalam waktu 8 jam.
b) Urin dalam jumlah yang banyak akan diproduksi dalam waktu
12-36 jam setelah melahirkan.
c) Ureter yang berdilatasi akan kembali dalam waktu 6 minggu.
2) Buang air besar (BAB)
a) BAB biasanya tertunda selama 2-3 hari, karena enema
persalinan, diit cairan, obat-obatan analgetik, dan perineum yang
sangat sakit.
b) Bila lebih dari 3 hari belum BAB bisa diberikan obat laksantia.
c) Ambulasi secara dini dan teratur akan membantu dalam regulasi
BAB.

36
d) Asupan cairan yang adekuat dan diit tinggi serat sangat
dianjurkan.
(Suherni, 2009, p.117)
i. Pemberian ASI/ Laktasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan kepada pasien:
1) Menyusui bayinya setelah lahir minimal 30 menit bayi telah
disusukan.
2) Ajarkan cara menyusui yang benar.
3) Memberikan ASI secara penuh 6 bulan tanpa makanan lain.
4) Menyusui tanpa dijadwal, sesuka bayi.
5) Diluar menyusui jangan memberikan dot/kempeng pada bayi, tapi
berikan ASI dengan sendok.
6) Penyapihan bertahap meningkatkan frekuensi makanan dan
menurunkan frekuensi pemberian ASI. (Suherni, 2009, pp.117-118)
j. Kebiasaan Yang Tidak Bermanfaat Bahkan Membahayakan
1) Menghindari makanan berprotein seperti telur, ikan karena
menyusui membutuhkan tambahan protein
2) Penggunaan beban perut setelah melahirkan.
3) Penggunaan kantong es atau pasir untuk menjaga uterus tetap
berkontraksi.
4) Misahkan ibu dan bayi dalam waktu yang dalam satu jam
postpartum. (Suherni, 2009, p.118)
k. Perawatan Ibu pada Masa Nifas
Perawatan pasca melahirkan (masa nifas) merupakan perawatan
selama enam minggu atau 40 hari. Pada masa ini, ibu mengalami
perubahan fisik dan alat-alat reproduksi yang kembali ke keadaan
sebelum hamil, masa laktasi (menyusui), maupun perubahan
psikologis menghadapi keluarga baru. Perawatan pasca melahirkan
dapat dilakukan sendiri dan sesegera mungkin. (Anggraeni, 2010)
Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam perawatan
pasca melahirkan antara lain:
a. Payudara
Perawatan payudara yang dapat dilakukan semasa nifas adalah
dengan menggunakan Bra yang tidak menekan payudara atau

37
sempit dan breast care. Tujuan dari perawatan payudara adalah
untuk melancarkan pengeluaran ASI sehingga tidak terjadi
pembengkakan payudara, apabila pembengkakan terjadi, pijat
ringan bagian payudara yang menggumpal dengan menggunakan
air hangat dan baby oil. Kemudian sesegera mungkin menyusui
bayi. Pembengkakan yang berkelanjutan dapat menimbulkan
demam pada ibu. Bila hal ini terjadi, lakukan pengeluaran ASI baik
dengan cara menyusui maupun dipompa keluar (Ambarwati dan
Wulandari, 2010)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Mutika, 2018)
dengan judul “Efek breast care ibu nifas terhadap berat badan bayi
dan hormon prolaktin” mengatakan bahwa Teknik produksi ASI
melalui perawatan breast care bertujuan untuk melancarkan
sirkulasi darah dan mencegah saluran produksi ASI tersumbat.
Perawatan payudara sebaiknya dilakukan saat kehamilan.
Perawatan yang benar memperlancar ASI dan merangsang hipofisis
agar mengeluarkan hormon progesteron, estrogen, oksitosin lebih
banyak. Hormon oksitosin memicu kontraksi sel-sel lain sekitar
alveoli sehingga air susu mengalir turun . Penelitian ini bertujuan
untuk menilai efektivitas breast care pada ibu nifas terhadap berat
bayi lahir dan hormon prolaktin.
Selain itu perawatan payudara dapat menghindari bendungan
ASI seperti penelitian yang dilakukan oleh (Rosita, 2017) yang
berjudul “Hubungan Perawatan Payudara Pada Ibu Nifas Dengan
Bendungan Asi ” menyatakan bahwa ibu nifas yang melakukan
perawatan payudara selama menyusui berdampak baik selama
menyusui yaitu tidak terjadinya bendungan ASI. Hal ini
dikarenakan gerakan pada perawatan payudara akan melancarkan
reflek pengeluaran ASI, serta dapat mencegah dan mendeteksi dini
kemungkinan adanya bendungan ASI dapat berjalan lancar.
b. Rahim.

38
Involusi uterus dapat diketahui dengan meraba bagian bulat
agak keras di bawah pusat. Pada hari ke-10 sampai 14, rahim tidak
teraba lagi. Involusi uterus dibantu oleh oksitosin, yaitu hormon
yang mengontraksikan otot-otot rahim yang keluar saat menyusui.
Involusi uterus ini terjadi karena lancarnya pengeluaran cairan
vagina (lochea). Involusi uterus yang tidak normal terjadi akibat
infeksi lapisan rahim yang rentan infeksi akibat lepasnya plasenta
dan kurang mobilisasi. Tanda-tandanya antara lain sedikit demam,
agak sakit pada perut bagian bawah, dan kadang vagina berbau
kurang sedap karena keluarnya lochea tidak lancar.

c. Aktivitas
Aktivitas sangat bervariasi, tergantung pada komplikasi
persalinan, nifas dan sembuhnya luka (jika ada). Jika tidak ada
kelainan, lakukan mobilisasi sedini mungkin, 2 jam setelah
persalinan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan (Widia, Lidia, 2017)
terdapat hubungan yang sangat erat dengan Hubungan Antara
Mobilisasi Dini dengan Proses Penyembuhan Luka Ruptur
Perineum pada fase proliferasi di RSIA Paradise Simpang Empat
Kabupaten Tanah bumbu.
d. Eliminasi.
Buang air kecil (BAK) akan meningkat pada 2-4 hari setelah
persalinan. Ini terjadi karena volume darah ekstra yang dibutuhkan
selama hamil tidak diperlukan lagi. Sebaiknya ibu tidak menahan
BAK ketika ada rasa sakit pada jahitan. Sulit buang air besar
(BAB) dapat terjadi karena ketakutan yang berlebihan akan jahitan
terbuka, atau wasir. Untuk itu, konsumsi makanan tinggi serat, dan
cukup minum.
e. Hubungan seksual.

39
Pada banyak pasangan, perubahan karena kehamilan dapat
mengganggu keseimbangan dalam hubungan seksual, begitu juga
setelah persalinan. Beberapa agama melarang untuk melakukan
hubungan seksual selama masa nifas. Setelah itu, pada prinsipnya
adalah tidak bermasalah. Hanya saja, terkadang istri kurang
percaya diri untuk melakukan hal tersebut. Untuk itu diperlukan
pengertian dan pemahaman suami atas kondisi psikologi istri.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010).
f. Perawatan luka perineum
Jalan lahir m emiliki batas maksimal keelastisannya, jika besar bayi
melebihi batas elastisitas kemungkinan besar akan terjadi robekan
perineum (rupture perineum), tetapi sebelum terjadi rupture
perineum bidan seharusnya sudah melakukan episiotomi pada
perineum. Perineum yang rupture tentunya akan dijahit dan
membutuhkan proses penyembuhan. Proses penyembuhan itu
membutuhkan perawatan yang benar. Menurut APN (2010)
perawatan luka yang disarankan adalah bersih kering.
9. Deteksi Dini Komplikasi Masa Nifas
Menurut (Runjati dkk, 2017) deteksi dini komplikasi ibu nifas meliputi :
a. Perdarahan Pasca Persalinan
Perdarahan pascapersalinan atau perdarahan popstpartum adalah
perdarahan yang terjadi setelah bayi lahir dengan jumlah perdarahan
2500 ml atau jumlah perdarahan yang keluar melebihi normal
berp0tensi memengaruhi perubahan tanda-tanda vital (sistolik <90
mmHg, nadi >100 denyutl mcnit), pasien lcmah, kesadaran menurun,
berkeringat dingin, menggigil, hiperkapnia dan kadar Hb <8 g%.
Perdarahan posrpartum dibagi menjadi 2 yaitu perdarahan prSer yang
terjadi pada 24 jam pertama postpartum dan perdarahan sekunder
yang terjadi setelah 24 jam postpartum (Saifuddin, 2009).
b. Infeksi Masa Nifas
Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia yang terjadi
setelah persalinan ditandai dengan adanya kenaikan suhu sampai 38°C

40
atau lebih yang terjadi antara hari kedua sampai kesepuluh
postpartum, suhu diukur peroral scdildtnya 4 kali sehari (Saifuddin,
2009).
c. Keadaan Abnormal Pada Payudara
Pada masa nifas dapat terjadi keaadaan abnormal payudara karena
beberapa sebab : putting susu lecet atau luka, payudara bengkak dan
putting susu datar atau terbenam.
d. Eklampsia dan Preeklampsia
Eklampsia dano merupakan keadaan serangan kejang tiba-tiba pada
pada wanita hamil, bersalin, atau masa nifas yang telah menunjukkan
gejala preeklampsia sebelumnya. Eklampsia dibedakan menjadi 3
berdasarkan timbulnya serangan yaitu eklampsia gravidarum
(antepartum) eklampsia partuirentum (intrapartum), dan eklampsia
puerperale (postpartum). Eklampsia postpartum adalah kondisi
serangan kejang tiba – tiba pada ibu post partum. Lima puluh
persen serangan ini terjadi pada hari kedua postpartum dan dapat
timbul setelah 6 minggu postpartum. Preeklampsia berat adalah
kondisi dengan tekanan darah >160 mmHg, proteinuria ..>2+, dan
edema pada daerah ekstremitas (Prawirohardjo, 20102 dan
(Cunningham, 2005).
e. Disfungsi simfisis pubis atau disfungsi otot dasar panggul
Adalah kelainan yang mengenai dasar panggul mulai dari simfisis
ossis pubis menuju ke os coccygeus yang merupakan jaringan
kompleks yang terdiri dari jaringan ikat dan jaringan otot. Kehamilan
dan persalinan menyebabkan otot dasar panggul melemah atau rusak
sehingga menurunkan fungsi otot dasar panggul (Barber, 2002) .
f. Diastasis Rekti Diastasis Rectus Abdominis
Diastasis Rekti Diastasis Rectus Abdominis adalah pemisahan otot
rectus abdominis lebih dari 2,5 cm pada tepat setinggi umbilikus
sebagai akibat pengaruh hormon terhadap Ymea alba serta akibat
perenggangan mekanis dinding abdomen. Kasus ini sering terjadi pada
multi-paritas, bayi besar, polihidramnion, kelemahan otot abdomen
dan postur yang salah.
g. Nyeri Perineum

41
Setiap ibu yang telah menjalani proses persalinan dengan
mendapatkan luka perineum akan merasakan nyeri. Nyeri yang
dirasakan pada setiap ibu dengan luka perineum menimbulkan
dampak yang tidak menyenangkan seperti kesakitan dan rasa takut
untuk bergerak sehingga banyak ibu dengan luka perineum jarang mau
bergerak pasca-persalinan sehingga dapat mengakibatkan banyak
masalah di antaranya subinvolusi uterus, pengeluaran lokea yang tidak
lancar, dan perdarahan pascapartum.
Timbulnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya
rangsangan. Reseptor nyeri yang dimaksud adalah nociceptor.
Reseptor nyeri dapat memberi respons akibat adanya rangsangan.
Rangsangan tersebut dapat berupa kimiawi, termal, atau mekanis.
Stimulasi oleh zat kSiawi misalnya histamin dan prostaglandin, atau
stimulasi yang dilepas apabila terdapat kerusakan pada jaringan.
Nyeri akibat luka perineum yang dirasakan oleh setiap ibu
nifas berbeda-beda apalagi dalam 2 jam postpartum, itu merupakan
beban yang dialami ibu. Oleh sebab itu, sebagai tenaga kesehatan kita
dapat membedakan atau mengklasifikasikan tiap nyeri yang dirasakan
ibu sehingga mempermudah dalam memberikan asuhan yang tepat
pada ibu nifas (Potter, 2005).
Penanganan nyeri perineum dapat dilakukan secara
farmakologi maupun non – farmakologi (Olivierra Sonia, 2012).
Penanganan nyeri secara farmakologi yaitu dengan memberikan
analgesik oral (parasetamol 500 mg tiap 4 jam atau jika perlu),
sedangkan penanganan secara non-farmakologi antara lain: mandi
dengan air es, teknik acupressure dan cold therapy dengan kompres
dingin dengan ice pack atau cooling gel pads dan pijat es dan
aromaterapi. Menurut penelitian (Rahmawati, 2013) pemberian
kompres dingin merupakan alternatif lain mengurangi nyeri selain
dengan memakai obat – obatan karena menimbulkan efek analgetik
dengan memperlambat kecepatan hantaran saraf sehingga impuls

42
nyeri yang mencapai otak lebih sedikitdan menurut (Widayani, 2016)
saat ini penanganan nyeri perineum yang sering digunakan yaitu terapi
komplementer aromaterapi dengan minyak essensial lavender, karena
lavender mempunyai sifat antikonvulsan, antidepresi, anxiolytic, dan
menenangkan. Aromaterapi akan menstimulasi hipotalamus untuk
mengeluarkan mediator kimia yang berfungsi sebagai penghilang rasa
sakit dan menimbulkan perasaan bahagia.

h. Inkontinensia Urine (IU)


Inkontinensia Urine (IU) oleh International Continence Society (ICS)
didefinisikan sebagai keluarnya urine yang tidak dapat dikendalikan
atau dikontrol; secara objektif dapat diperlihatkan dan merupakan
suatu masalah sosial atau higienis.
i. Nyeri Punggung
Nyeri punggung (Vamey, 2004; Agustina, 2014) merupakan gejala
pascapartum jangka panjang yang sering terjadi. Hal ini disebabkan
adanya ketegangan postural pada sistem muskuloskeletal akibat posisi
saat persalinan
10. Tinjauan Teori Sectio Saecaria
a. Pengertian
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus (Prawirohardjo, 2010a).
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui depan perut atau vagina. Atau
disebut juga histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam Rahim
(Mochtar, 2012)
b. Etiologi
Indikasi SC : Indikasi klasik yang dapat dikemukakan sebagai dasar
section caesarea adalah :
1) Prolog labour sampai neglected labour.
2) Ruptur uteri imminen
3) Fetal distress

43
4) Janin besar melebihi 4000 gr
5) Perdarahan antepartum (Manuaba, Manuaba and
Manuaba, 2010)
Sedangkan indikasi yang menambah tingginya angka persalinan
dengan sectio adalah :

1) Malpersentasi janin
a) Letak lintang
Bila terjadi kesempitan panggul, maka sectio caesarea adalah
jalan /cara yang terbaik dalam melahirkan janin dengan segala
letak lintang yang janinnya hidup dan besarnya biasa. Semua
primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan sectio
caesarea walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit.
Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan
cara lain.
b) Letak belakang
Sectio caesarea disarankan atau dianjurkan pada letak belakang
bila panggul sempit, primigravida, janin besar dan berharga.
c) Plasenta previa sentralis dan lateralis
d) Presentasi lengkap bila reposisi tidak berhasil.
e) Gemeli menurut Eastman, sectio cesarea dianjurkan bila janin
pertama letak lintang atau presentasi bahu, bila terjadi interior
(looking of the twins), distosia karena tumor, gawat janin dan
sebagainya.
f) Partus lama
g) Partus tidak maju
h) Pre-eklamsia dan hipertensi
i) Distosia serviks
c. Tujuan Sectio Caesarea

44
Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat
lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan
segmen bawah rahim. Sectio caesarea dilakukan pada plasenta previa
totalis dan plasenta previa lainnya jika perdarahan hebat. Selain dapat
mengurangi kematian bayi pada plasenta previa, sectio caesarea juga
dilakukan untuk kepentingan ibu, sehingga sectio caesarea dilakukan
pada placenta previa walaupun anak sudah mati.

d. Jenis - Jenis Operasi Sectio Caesarea (SC)


1) Abdomen (SC Abdominalis)
2) Sectio Caesarea Transperitonealis
Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang
pada corpus uteri. Sectio caesarea profunda : dengan insisi pada
segmen bawah uterus.
3) Sectio caesarea ekstraperitonealis
Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis
dan dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis.
Vagina (sectio caesarea vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan
apabila :
a) Sayatan memanjang (longitudinal)
b) Sayatan melintang (tranversal)
c) Sayatan huruf T (T Insisian)
4) Sectio Caesarea Klasik (korporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus
uteri kira-kira 10cm.
Kelebihan :
a) Mengeluarkan janin lebih memanjang
b) Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik
c) Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan :

45
a) infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak
ada reperitonial yang baik.
b) Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri
spontan.
c) Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi
dibandingkan dengan luka SC profunda. Ruptur uteri karena
luka bekas SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan,
sedangkan pada luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi
dalam persalinan.
Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri, dianjurkan
supaya ibu yang telah mengalami SC jangan terlalu lekas
hamil lagi. Sekurang -kurangnya dapat istirahat selama 2
tahun. Rasionalnya adalah memberikan kesempatan luka
sembuh dengan baik. Untuk tujuan ini maka dipasang akor
sebelum menutup luka rahim.
5) Sectio Caesarea (Ismika Profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada
segmen bawah rahim kira-kira 10cm
Kelebihan :
a) Penjahitan luka lebih mudah
b) Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik
c) Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan
isi uterus ke rongga perineum
d) Perdarahan kurang
e) Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri
spontan lebih kecil
Kekurangan :
a) Luka dapat melebar ke kiri, ke kanan dan bawah sehingga
dapat menyebabkan arteri uteri putus yang akan menyebabkan
perdarahan yang banyak.
b) Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi.

46
e. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan,
misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit,
disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama,
partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi
janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan
pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan
menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga akan
menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan
sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak
mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri
sehingga timbul masalah defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan,
dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas
pada pasien. Selain itu, dalam proses pembedahan juga akan
dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga
menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah,
dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang
pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan
rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah
insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang bila tidak
dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi.
f. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji
perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek
kehilangan darah pada pembedahan.
b. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
c. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
d. Urinalisis / kultur urine

47
e. Pemeriksaan elektrolit
g. Penatalaksanaan Medis Post SC
a. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka
pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan
mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau
komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan
biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan
jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah
diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan.
b. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita
flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral.
Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh
dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air
teh.
c. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah
operasi
Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur
telentang sedini mungkin setelah sadar
Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5
menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu
menghembuskannya.
Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi
setengah duduk (semifowler)
Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien
dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan
kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca
operasi.

48
d. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak
enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan
menyebabkan perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam
/ lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.

e. Pemberian obat-obatan
1) Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda
setiap institusi
2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran
pencernaan
a) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
b) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
c) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila
perlu
3) Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita
dapat diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C
f. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah
dan berdarah harus dibuka dan diganti
g. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu,
tekanan darah, nadi,dan pernafasan (Manuaba, Manuaba and
Manuaba, 2010).

11. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas


Menurut (Kemenkes RI, 2013) kebijakan program nasional masa nifas
adalah sebagai berikut :
a. Kunjungan I (6-8 jam post partum)
1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

49
2) Mendeteksi dan merawat pennyebab lain perdarahan; rujuk jika
perdarahan berlanjut
3) Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara
pencegahan perdarahan yang disebabkan karena atonia uteri
4) Pemberian ASI awal
5) Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi yang
baru lahir
6) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hypotermi
7) Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal
dengan ibu dan bayi yang baru lahir selama 2 jam pertama setelah
kelahiran atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil
b. Kunjungan II (6 hari setelah persalinan)
1) Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus berkontraksi,
fundus di bawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan
abnormal
3) Memastikan ibu mendapatkan istirahat cukup
4) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan bergizi dan cukup
cairan.
5) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar, serta tidak ada
tanda-tanda kesulitan menyusui. Ibu perlu diberikan pendidikan
kesehatan tentang cara menyusui yang baik dan benar. Menurut
(Angsuko, Supadmi, & Sumiyarsi, 2009) semakin tinggi tingkat
pengetahuan tentang cara menyusui, maka semakin baik perilaku
menyusui bayinya. Untuk memperlancar ASI , ibu dapat diberi
tindakan pijat oksitosin.
Berdasarkankan penelitian (Isnaini & Diyanti, 2015) diketahui dari
15 responden yang dilakukan pijat oksitosin sebanyak 9 ibu nifas
(60%) yang pengeluaran asinya cepat, 5 ibu nifas (33 % ) yang
pengeluaran asinya normal dan ibu yang mengalami pengeluaran
asinya lambat sebesar 1 ibu nifas (7 % ) dan kelompok yang tidak
dilakukan pijat oksitosin 15 responden sebanyak 12 ibu nifas (80%)
yang pengeluaran asinya lambat, 3 ibu nifas (20 % ) yang
pengluaran asinya normal dan tidak ada ibu yang mengalami
pengeluaran asinya cepat, perhitungan menggunakan SPSS

50
ditemukan p value 0,000 <p α 0,05 atau (5%). artinya adanya
hubungan pijat oksitosin pada ibu nifas dengan pengeluaran ASI.
(a) Cara Menyusui Yang Benar
(1) Ibu duduk dengan santai dan nyaman
(2) Persilakan pasien membuka pakaian bagian atas
(3) Oleskan sedikit ASI pada putting susu dan areola
(4) Pegang bayi dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada
lengkung siku dan bokong bayi terletak pada lengan.
(5) Tempelkan perut bayi pada perut ibu, satu tangan bayi di
belakang badan ibu dan yang satu di depan, kepala bayi
menghadap payudara ibu
(6) Posisikan telinga dan lengan bayi pada satu garis lurus
(7) Pegang payudara dengan ibu jari ibu jari di atas dan ibu
jari menopang di bawah serta jangan menekan putting
susu atau areolanya saja
(8) Rangsang bayi agar membuka mulut dengan
menyentuhkan putting susu ke pipi atau sudut mulut bayi
(9) Setelah mulut bayi terbuka, dekatkan kepala bayi dengan
cepat ke payudara, kemudian masukkan putting susu dan
sebagian besar areola ke mulut bayi.
(10) Setelah bayi menghisap, lepaskan tangan ibu dari
payudara
(11) Perhatikan bayi selama menyusui
(12) Lepaskan isapan bayi dengan cara masukkan jari kelingkin
ke sudut mulut bayi dagu bayi ditekan ke bawah.
(13) Setelah selesai menyusui oleskan sedikit ASI pada putting
susu dan areola dan biarkan kering sendiri
(14) Sendawakan bayi setelah menyusu dengan cara : bayi
digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu, tepuk
punggung ibu pelahan-lahan sampai bayi bersendawa
( bila tidak bersendawa 10-15 menit ).
(15) Susukan bayi pada kedua payudara secara bergantian
(16) Susukan bayi setiap menginginkan ( on demand )
(Ariyanti dkk, 2019)
(b) Pijat Oksitosin

51
(1) Ibu berada dalam posisi duduk bersandar ke depan sambil
memeluk bantal agar lebih nyaman. Taruh meja di depan
anda sebagai tempat untuk bersandar.
(2) Pijat kedua sisi tulang belakang menggunakan kepalan
tangan dengan ibu jari menunjuk ke depan. Pijat kuat
dengan gerakan melingkar.
(3) Pijat sisi tulang belakang ke arah bawah sampai sebatas
dada, dari leher sampai ke tulang belikat.
(4) Lakukan pijatan ini selama 2-3 menit (Veratamala, 2019).

6) Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.


c. Kunjungan III (2 minggu setelah persalinan)
Sama seperti kunjungan II.
d. Kunjungan IV (6 minggu setelah persalinan)
1) Menanyakan pada ibu tentang kesulitan-kesulitan yang yang
dialami ibu selama masa nifas.
2) Memberikan konseling KB secara dini.
Sedangkan menurut (Runjati dkk, 2017) , pelayanan kesehatan pada ibu
nifas dilakukan minimal 3 kali :
a. Kunjungan I yaitu satu kali pada periode 6 jam sampai dengan 3 hari
pasca-persalinan
b. Kunjungan II yaitu satu kali pada periode 4 hari sampai dengan 28
hari pasca-persalinan
c. Kunjungan III yaitu satu kali pada periode 29 hari sampai dengan 42
hari pasca-persalinan.

B. Tinjauan Teori Asuhan Nifas dan Menyusui


1. Dimensi Model Asuhan Puzzle Jigsaw
Asuhan kebidanan pada ibu nifas dalam praktik pelayanan kebidanan
mempertimbangkan asuhan ibu dan bayi dari sudut pandang holistik,
bahwa asuhan kebidanan mempertimbangkan asuhan dari konteks fisik,
emosional, psikologis, spiritual, sosial, dan budaya. Bagian dari Jigsaw
secara nyata berhubungan satu sama lain dan setiap bagian diperlukan bagi

52
penyediaan asuhan kebidanan yang aman dan holistik. Jika salah satu
bagian hilang, gambaran menjadi tidak lengkap dan tujuan asuhan
potensial tidak akan tercapai.
Dimensi model asuhan puzzle jigsaw meliputi :
a. Women Centered ( Asuhan Kebidanan Berpusat Pada Ibu )
Pengambilan keputusan asuhan kebidanan berpusat pada ibu,
mempertimbangkan hak-hak dan pilihan ibu tentang asuhan yang akan
dilakukan pada dirinya.
b. Menggunakan Bukti Terbaik (Evidence Based)
Dalam melaksanakan asuhan kebidanan nifas, kita harus berdasarkan
bukti yang terbaik (evidence based practice), pelaksanaan praktik
asuhan kebidanan bukan sekedar berdasarkan kebiasaan rutinitas
praktik atau pengalaman klinis saja, namun berdasarkan bukti yang
terbaik. Adapun yang dimaksud bukti yang terbaik (evidence
based) adalah hasil – hasil riset yang terbukti terpilih dan
direkomendasikan untuk memperbaiki kualitas asuhan kebidanan.
c. Isu Profesional Dan Legal
Ibu nifas perlu merasa yakin bahwa bidan yang memberikan asuhan
kebidanan pada mereka, bekerja dalam kerangka kerja yang
mendukung praktik asuhan yang aman. Adapun yang dimaksud
praktik asuhan yang aman adalah praktik menggunakan bukti yang
terbaik, mengutamakan keselamatan ibu (patient safety) dan utamanya
ditujukan pada kesejahteraan ibu dan anak (wellbeing mother and
child). Bidan dalam memberikan asuhan kebidanan nifas harus
menaati pedoman, protap dan aturan-aturan mengenai kewenangan
serta dasar hukum yang berlaku (legal aspect) dalam menjalankan
praktik kebidanan. Sebagai seorang profesional, bidan harus
bertanggung gugat terhadap tindakan dan kelalaian dalam praktik
kebidanan dan harus selalu menggunakan bukti yang terbaik sebagai
dasar tindakan atau keputusan klinik dalam praktik. Bidan harus selalu
bertindak berdasarkan hukum yang berlaku, baik hukum tersebut

53
berhubungan dengan praktik professional sebagai bidan, maupun
kehidupan pribadi. Hukum yang berhubungan dengan praktik
profesional misalnya tentang Undang-undang tentang Kesehatan,
Undang-undang tentang Tenaga Kesehatan, maupun aturan-aturan
hukum lain yang mendasari praktik bidan, kewenangan serta otonomi
dalam praktik kebidanan.
d. Kerja Tim Dan Kolaborasi Dalam Asuhan
Meskipun bidan adalah profesi yang mandiri dan profesional dalam
asuhan kebidanan nifas terutama adalah kasus nifas fisiologis maupun
risiko rendah, namun bidan perlu tetap berkewajiban kerja dalam tim
maupun kolaburasi dalam memberikan asuhan kebidanan, untuk
memberikan asuhan yang komprehensif dan aman. Bidan bekerja
sebagai bagian dari tim profesional, yang masing-masing membawa
ketrampilan, otonomi atau kewenangan serta perspektif tertentu pada
asuhan ibu dan keluarga. Adapun yang dimaksud kerja tim dalam
pelayanan kebidanan adalah kerja dengan sesama profesi bidan.
Sedangkan kolaborasi dalam asuhan kebidanan terutama adalah
kerjasama dengan profesi lain dalam sebuah tim profesional untuk
memberikan asuhan kebidanan yang komprehensif dikenal dengan
istilah Inter Professional Collaburation (IPC).
e. Komunikasi Efektif
Memberikan asuhan berpusat pada ibu nifas (women centered) selama
periode postnatal mewajibkan bidan untuk membina hubungan dan
berkomunikasi secara efektif dengan mereka. Bidan harus menyadari
pentingnya petunjuk yang diberikan kepada ibu postnatal selama
pemberian asuhan. Bidan harus meyakinkan ibu postnatal, bahwa ibu
adalah fokus perhatian bidan dalam memberikan asuhan. Bidan harus
selalu memberikan penjelasan kepada ibu postnatal tentang asuhan
yang akan diberikan dan tahapan asuhan apa yang akan dilalui oleh
ibu. Beri penjelasan mengapa asuhan kebidanan penting dilakukan.
f. Penerapan Model Asuhan Kebidanan
Salah satu rekomendasi kebijakan utama adalah ibu harus memiliki
pilihan tentang dimana mereka dapat memperoleh pilihan tentang

54
asuhan postnatal. Untuk memfasilitasi hal ini, bidan harus bekerja di
berbagai tatanan pelayanan kebidanan dalam sistem pelayanan
kebidanan. Misalnya bidan bekerja pada tatanan pelayanan primer
seperti; Puskesmas, Klinik Pratama, Rumah Bersalin dan Praktik
Mandiri Bidan; maupun berkerja pada tatanan pelayanan sekunder dan
tersier, misalnya Rumah sakit, RSKIA, Puskesmas PONED, dan
rumah sakit pusat rujukan tersier. Bidan juga dapat berkerja secara
mandiri dalam memberikan asuhan kebidanan holistik yang berpusat
pada ibu, atau dalam pusat layanan tersier besar yang memberi asuhan
bagi ibu yang memiliki kebutuhan kesehatan.
g. Lingkungan Yang Aman
Bidan yang memberi asuhan postnatal perlu memastikan bahwa
lingkungan tempat mereka bekerja mendukung praktik kerja yang
aman dan efektif serta melindungi ibu dan keluarga dari bahaya.
Dalam memberikan pelayanan kebidanan nifas bidan harus menjaga
privasi ibu dan menghindarkan dari resiko tertular infeksi.
h. Promosi Kesehatan Dan Akses Ke Asuhan
Memberi asuhan postnatal bagi ibu dan keluarga, memberikan
kesempatan bagi bidan untuk meningkatkan kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat. Bidan harus mendorong hubungan positif
dari hubungan dengan ibu postnatal guna membantu ibu mencapai
adaptasi positif menjadi orang tua dan meningkatkan pilihan gaya
hidup dan asuhan yang akan menguntungkan ibu, bayi dan keluarga di
masa mendatang.
i. Kecakapan Klinis
Hal utama dalam memberikan pelayanan kepada ibu nifas adalah
kecakapan klinis sehingga dapat mengatasi masalah-masalah
kesehatan ibu pada masa nifas sesuai dengan kompetensinya,
2. Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
Menurut Sulistyawati (2010), peran dan tanggung jawab bidan dalam masa
nifas antara lain:
a. Teman terdekat, sekaligus pendamping ibu nifas dalam menghadapi
saat-saat kritis masa nifas

55
b. Pendidik dalam usaha pemberian pendidikan kesehatan terhadap ibu
dan keluarga
c. Pelaksana asuhan kepada pasien dalam hal tindakan perawatan,
pemantauan, penanganan masalah, rujukan dan deteksi dini
komplikasi masa nifas.
3. Manajemen kebidanan
Manajemen Kebidanan terdiri atas 7 ( tujuh ) langkah yang berurutan
,diawali dengan pengumpulan data sampai dengan evaluasi. Proses ini
bersifat siklik(dapat berulang), dengan tahap evaluasi sebagai data awal
pada siklus berikutnya (Varney & Jan M.K, 2010) :
a. Langkah I ( kesatu )Pengumpulan Data Dasar
Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesis. Anamnesis adalah
pengkajian dalam rangka mendapatkan data tentang pasien melalui
pengajuan pertanyaan-pertanyaan. Anamnesis dapat dilakukan melalui
dua cara, yaitu anamnesis yang dilakukan kepada pasien langsung
(Auto Anamnesis) dan anamnesis yang dilakukan kepada keluarga
pasien untuk memperoleh data tentang pasien (Allo Anamnesis).
Menurut (Puspitasari, 2014b) dalam anamnesa diajukan pertanyaan
sebagai berikut:

Identitas Pasien dan Penanggungjawab/Suami


1) Nama penderita dan suaminya
Ditanyakan nama dengan tujuan agar dapat mengenal/ memanggil
penderita dan tidak keliru dengan penderita-penderita lain.
2) Usia Penderita
Hal ini bertujuan untuk mengetahui keadaan ibu, terutama pada
nifas yang pertama. Apakah pasien itu termasuk pasien beresiko
tinggi untuk melahirkan atau tidak. Menurut pendapat
ahli,kehamilan yang pertama kali itu yang baik antara usia 19
sampaai 25 tahun di mana otot masih bersifat sangat elastis dan
mudah diregang. Tetapi menurut pengalaman, penderita umur 25
tahun sampai 35 tahun masih mudah melahirkan anak, maka ada
yang mengubah pendapat di atas. Jadi melahirkan anak tidak saja

56
pada umur 19-25 tahun, tetapi 19-35 tahun terutama mengingat
pula emansipasi bahwa wanita yang bercita-cita memegang
pimpinan, menjadi sarjana dan lain-lain hingga kadang-kadang
tidak menghendaki kawin lebih cepat, sebelum cita-citanya
tercapai. Jadi sekarang biasanya primipara tua dikatakan mulai
umur 35 tahun, dimana otot sudah kaku,kurang elastis dan susah
diregang. Primipara ini ada 2 macam, ialah yang memegang ibu itu
kawinnya sudah usia agak tua dan yang lain ialah sudah lama
kawin tetapi dalam usia agak tua baru hamil.
3) Agama
Agama ini ditanyakan berhubungan dengan perawatan penderita,
misalnya dari agamanyaa tidak boleh makan daging dan
sebagainya. Dalam keadaan yang gawat ketika memberi
pertolongan dan perawatan dapat diketahui dengan siapa harus
berhubungan, misalnya pada agama Roma katolik memanggil
Pastor, pada agama Protestan memanggil Domine atau Pendeta,
dan sebagainya.

4) Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat intelektualnya, karena tingkat
pendidikan mempengaruhi sikap perilaku seseorang.
5) Pekerjaan
Yang ditanyakan pekerjaan suami dan ibu itu sendiri.Menanyakan
pekerjaan ini untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan social
ekonomi penderita itu agar nasehat kita nanti sesuai. Kecuali itu
mengetahui pekerjaan itu akan menganggu kehamilan atau tidak.
Misalnya pada ibu yang bekerja di pabrik rokok, di percetakan
ataau di pabrik yang lain, mungkin zat yang terhisap dalam pabrik
itu akan berpengaruh kepada janin. Bagi ibu yang pekerjaannyaa
dapat mengganggu kehaamilan atau terlalu berat, dapat
dinasehatkan misalnya mengurangi pekerjaan atau pindah ke
bagian yang lain (Puspitasari, 2014a).
6) Kebangsaan

57
Hal ditanyakan untuk mengadakan statistic tentang kelahiran.
Mungkin juga untuk menenukan prognose persalinan dengan
melihat keadaan panggul. Wanita Asia dan Afrika biasanya
mempunyai panggul bundar dan normal bagi persalinan dan
biasanya wanita-wanita dari barat panggulnya ukuran melintang
lebih panjang tetapi ukuran muka belakang lebih kecil.
7) Alamat
Untuk mengetahui ibu itu tinggal dimana, menjaga kemungkinan
bila ada ibu yang mana hendak ditolong itu. Kecuali yang tersebut
diatas, alamat juga diperlukan bila mengadakan kunjungan kepada
penderita.
Data Subyektif
a) Alasan Datang
Wanita datang ke tempat bidan/klinik, yang diungkapkan dengan
kata-katanya sendiri.

b) Keluhan Utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang
kefasilitas pelayanan kesehatan.
c) Riwayat Kebidanan
Data ini penting diketahui oleh tenaga kesehatan sebagai data
acuan jika pasien mengalami penyulit postpartum.
(1) Riwayat Menstruasi
Data ini memang tidak tidak secara langsungberhubungan
dengan masa nifas,namun dari data yang diperoleh kita akan
mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ
reproduksinya. Beberapa data yang diperoleh dari riwayat
menstruasi antara lain sebagai berikut :
(a) Menarche
Menarche adalah usia pertama kali mengalami
menstruasi, wanita Indonesia umumnya mengalami
menarche sekitar 12 sampai 16 tahun.
(b) Siklus

58
Siklus menstruasi adalah jarak antara menstruasi yang
dialami denganmenstruasi berikutnya,dalam hitungan hari.
Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari.
(c) Warna darah : warna normal : merah kehitaman
(d) Banyaknya
Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi
yang dikeluarkan. Kadang kita akan kesulitan untuk
mendapatkan data yang valid. Sebagai acuan biasanya kita
gunakan kriteria banyak, sedang, dan sedikit. Jawaban
yang diberikan oleh pasien biasanya bersifat subjektif,
namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dengan beberapa
pertanyaan pendukung, misalnya sampai berapa kali
mengganti pembalut dalam sehari.
(e) Lama : normal 5-7 hari
(f) Leukhorhea normal tidak ada leukhorrhe
(2) Riwayat Persalinan dan Nifas yang Lalu
(a) Persalinan
Meliputi jenis persalinan, ditolong oleh siapa, dan
bagaimana keadaan bayi, waktu lahir ada/tidaknya
penyulit.
(b) Nifas
Meliputi ada tidaknya penyakit/perdarahan selama nifas.
(3) Riwayat Persalinan Sekarang
Meliputi paritas, riwayat aborttus, tempat persalinan, penolong
persalinan, jenis persalinan, masalah dalam persalinan,
keadaan plasenta, keadaan tali pusat, keadaan bayi, jeni
kelamin, tanggal/jam lahir, apgar score, berat badan, panjang
badan, ligkar kepala, lingkar dada.
(4) Riwayat KB
Meskipun baru melahirkan , namun tidak ada salahnya jika
kita mengkajinya lebih awal agar pasien mendapatkan
informasi sebanyak mungkin mengenai pilihan beberapa alat
kontrasepsi. Kita juga dapat memberikan penjelasan mengenai

59
alat kontrasepsi tertentu yang sesuai dengan kondisi dan
keinginan pasien (Sulistyawati, 2011).
(5) Riwayat Kesehatan
Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai
“penanda” akan adanya penyulit masa nifas.
(6) Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-Hari
(a) Nutrisi
 Pola Makan
Ini penting untuk diketahui supaya kita mendapatkan
gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya
selama ini. Kita bisa menggali dari pasien tentang makanan
yang disukai dan yang tidak disukai, seberapa banyak dan
sering ia mengonsumsinya,sehingga jika kita peroleh data
yang tidak sesuai dengan standar pemenuhan,maka kita
dapat memberikan klarifikasi dalam pemberian pendidikan
kesehatan mengenai gizi ibu hamil. Beberapa hal yang perlu
kitaa tanyakan pada pasien berkaitan dengan pola makan
adalah sebagai berikut (Sulistyawati, 2011).
 Menu
Ini dikaitkan dengan pola seimbang bagi ibu hamil. Jika
pengaturan menu makan yang dilakukaan oleh pasien
kurang seimbang sehingga ada kemungkinan beberapa
komponen gizi tidak akan terpenuhi, maka bidan dapat
memberikan pendidikan kesehatan mengenai
penyusunan menu seSbang bagi ibu. Kita dapat
menanyakan pada pasien tentang apa saja yang ia makan
dalam sehari (nasi, sayur, lauk, buah, makanan selingan
dan lain-lain) (Sulistyawati, 2011).
 Frekuensi
Data ini akan memberi petunjuk bagi kita tentang
seberapa banyak asupan makananyang dikonsumsi ibu
(Sulistyawati, 2011).
 Jumlah per hari

60
Data ini memberikan volume atau seberapa banyak
makanan yang ibu makan dalam satu kali makan.
Untuk mendapatkan gambaran total makanan yang ibu
makanan, bidan dapat mengalikannya dengan frekuensi
makan dalam sehari (Sulistyawati, 2011).
 Pantangan
Ini juga penting dikaji karena ada kemungkinan pasien
berpantang makanan justru pada makanan yang sangat
mendukung pemulihan fisiknya, misalnya daging, ikan
atau telur.
 Pola minum
Kita juga harus dapat memperoleh data dari kebiasaan
pasien dalam memenuhi kebutuhan cairannya.Apalagi
dalam masa hamil asupan cairan yang cukup sangat
dibutuhkan. Hal-hal yang perlu kita tanyakan kepada pasien
tentang pola minum adalah sebagai berikut (Sulistyawati,
2011).
 Frekuensi
Kita dapat tanyakan pasien berapa kali ia minum dalam
sehari dan dalam sekali minum menghabiskan berapa
gelas.
 Jumlah per hari
Frekuensi minum dikalikan seberapa banyak ibu
minumdalamsekali waktu minum akan didapatkan
jumlahasupan cairan dalam sehari
 Jenis minuman
Kadang pasien mengonsumsi minuman yang sebenarnya
kurang baik untuk kesehatannya.
(b) Pola istirahat
Istirahat sangat diperlukan oleh ibu hamil. Oleh karena itu,
bidan perlu menggali kebiasaan istirahat ibu supaya
diketahui hambatan yang mungkin muncul jika di dapatkan
data yang senjang tentang pemenuhan kebutuhan istirahat.

61
Bidan dapat menanyakan tentang berapa lama tidur di
malam dan siang hari (Sulistyawati, 2011).
(c) Aktivitas Fisik sehari – hari
Kita perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data
ini memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas
yang biasa dilakukan pasien dirumah. Jika kegiatan pasien
terlalu berat sampai dikhawatirkan dapat menimbulkan
penyulit masa nifas, maka kita dapat memberikan
peringatan sedini mungkin kepada pasien untuk membatasi
dahulu kegiatannya sampai ia sehat dan pulih kembali.
Aktivitas yang terlalu berat dapat menyebabkan stress dan
dapat berakibat produksi ASI berkurang. Perlu dikaji juga
apakah ibu sudah melakukan senam nifas atau belum.
(d) Personal hygiene
Data ini perlu dikaji karena bagaimanapun juga hal ini akan
memengaruhi kesehatan pasien dan bayinya. Jika pasien
mempunyai kebiasaan yang kurang baik dalam perawatan
kebersihan dirinya, maka bidan harus dapat memberikan
bSbingan mengenai cara perawatan kebersihan diri dan
bayinya sedini mungkin. Beberapa kebiasaan yang
dilakukan dalam perawatan kebersihan diri diantaranya
adalah sebagai berikut (Sulistyawati, 2011).
 Mandi
Kita dapat menanyakan kepada pasien berapaa kali ia
mandi dalam sehari dan kapan waktunya (jam berapa
mandi pagi dan sore).
 Keramas
Pada beberapa wanita ada yang kurang peduli dengan
kebersihan rambutnya karena mereka beranggapan
keramas tidak begitu berpengaruh terhadap kesehatan.
Jika kitaa menemukan pasien yang seperti ini, maka kita
harus memberikan pengertian kepadanya bahwa keramas

62
harus selalu dilakukan ketika rambut kotor karena bagian
kepala yang kotor merupakan tempat yang mudah
menjadi sumber infeksi. Kepala akan terasa gatal, yang
secara spontan tangan pasti akan menggaruk-garuk
kepalanya yang gatal, padahal saat itu ia juga harus
menyentuh bayinya jika meneteki atau mengganti
popoknya. Kulit bayi yang masih sensitive akan mudah
untuk iritasi dan infeksi akaan mudah tertular dari tangan
ibunya yang tidak bersih.
 Ganti baju dan celana dalam
Ganti baju minimal sekali dalam sehari, sedangkan
celana dalam minimal dua kali. Namun jika sewaktu-
waktu baju dan celana dalam sudah kotor, sebaiknya
segera diganti tanpa harus menunggu waktu untuk ganti
berikutnya.
(e) Aktivitas Seksual
Walaupun ini adalah hal yang cukup privasi bagi pasien,
namun harus menggali data dari kebiasaan ini, karena
terjadi beberapa kasus keluhan dalam aktivitas seksual yang
cukup menganggu pasien namun ia tidak tahu kemana harus
berkonsultasi. Dengan teknik berkomunikasi yang
senyaman mungkin bagi pasien, bidan dapat menanyakan
hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas seksual, melalui
pertanyaan berikut ini.
 Frekuensi
Kita tanyakan berapa kaali melakukaan hubungan
seksual dalam seminggu.
 Gangguan
Kita tanyakan apakah pasien mengalami gangguan ketika
melakukan hubungan seksual, misalnya nyeri saat
berhubungan,adanya ketidakpuasan dengaan
suami,kurangnya keinginan untuk melakukan hubungan,
dan lain sebagainya.

63
Jika kita mendapatkan data-data tersebut di atas maka
sebaiknya kita membantu pasien untuk mengatasi
permasalahannya dengan konseling lebih intensif
mengenai hal ini (Sulistyawati, 2011).

(f) Riwayat Psikososial


 Riwayat Perkawinan
 Status Perkawinan
Ini penting untuk dikaji karena dari data ini kita akan
mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah
tangga pasangan. Beberapa pertanyaan yang dapat
ajukan antara lain sebagai berikut
 Berapa tahun usia ibu ketika menikah pertama kali?
 Status perkawinan (sah/tidak) ?
 Lama perkawinan?
 Ini adalah suami yang ke?
 Respon dan dukungan keluarga terhadaap nifas ini
 Mekanisme koping (cara pemecahan masalah)
:Bagaimana koping ibu sehari-hari apakah dengan
musyawarah, memutuskan sendiri dan sebagainya.
 Ibu tinggal serumah dengan siapa dan siapa orang
terdekat ibu serta siapa pengambil keputusan utama
dalam keluarga akan membantu tenaga kesehatan untuk
mengambil keputusan klinik.
 Penghasilan per bulan akan membantu tenaga kesehatan
untuk memberi alternative pelayanan kesehatan yang
tepat.
Data Obyektif
Setelah data subjektif kita dapatkan, untuk melengkapi data kita dalam
menegakkan diagnosis, maka kita harus melakukan pengkajian data
objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi
yang dilakukan secara berurutan (Sulistyawati, 2011)
Langkah-langkah pemeriksaannya adalah sebagai berikut:

64
1) Pemeriksaan Fisik
a) Pemeriksaan Umum
(1) Keadaan umum
Untuk mengetahui data ini cukup dengan mengamati
keadaan pasien secara keseluruhan .hasil pengamatan
kita laporkan dengan kriteria sebagai berikut.
Baik. Jika pasien memperlihatkan respon yang baik
terhadap lingkungan dan orang lain serta secara fisik
pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.
Lemah. Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika ia
kurang atau tidak memberikan respon yang baik terhadap
lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak
mampu lagi untuk berjalan sendiri.
(2) Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien,
kita dapat melakukanpengkajian tingkat kesadaran mulai
dari
keadaan compos mentis (kesadaran maksimal) sampai
dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar).
(3) Tanda vital
(a)Tekanan Darah
Tekanan darah pada ibu nifas tidak boleh mencapai
140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik.
(b)Suhu
Mengukur suhu bertujuan untuk mengetahui keadaan
pasien apakah suhu tubuhnya dalam keadaan normal
(36,5 C – 37,5 C) atau tidak. Pasien dikatakan
hipotermi apabila suhu badan < 36,5 C dan pasan bila
suhu badan > 37,5 C (Kusmiyati, 2009).

(c) Nadi

65
Nilai denyut nadi digunakan untuk menilai sistem
kardiovaskular. Nadi harus dihitung 1 menit penuh.
Tiga komponen yang harus diperhatikan dalam
mengukur nadi adalah frekuensi, teratur tidaknya, dan
isi. Frekuensi normal orang dewasa adalah 60-90 kali
permenit (Kusmiyati, 2009).
(d)Respirasi
Tujuan pengukuran pernapasan adalah
mempertahankan penukaran oksigen dan
karbondioksida dalam paru-paru dan pengaturan asam
basa. Pernapasan normal orang dewasa adalah 16-20
kali permenit.
(e)Berat Badan dan Pengukuran Tinggi Badan
Pertambahan berat badan yang normal pada ibu hamil
yaitu berdasarkan masa tubuh (BMI: Boddy Masa
Indeks) . Nilai BMI ditentukan dengan satuan kg/
m2 . Interpretasi nilai : < 18,5 ( kurus ), 18,5 – 24,9
( normal ), 25 – 29,9 ( gemuk ), > 30 ( obesitas )
(Runjati dkk, 2017).
(f) Ukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)
Standar minimal untuk ukuran lingkar lengan atas
pada wanita dewasa atau usia reproduksi adalah 23,5
cm. jika ukuran LILA kurang dari 23,5 cm maka
interpretasinya adalah kurang energy kronis (KEK)
b) Status Present dan Obstetrik
(1) Kepala dan leher
(a) Oedema di wajah, icterus dan anemis pada mata,
oedema kelopak mata, pandangan kabur, chloasma
gravidarum
(b) Oedema pada mukosa hidung, polip dan secret
(c) Bibir pucat,sianosis, stomatitis,epulis,karies pada mulut
dan lidah kering.
(d) Tanda-tanda infeksi pada telinga, serumen dan
kesimetrisan

66
(e) Leher meliputi pembengkakan kelenjar limfe atau
pembengkakan kelenjar tiroid dan bendungan vena
jugularis.
(2) Dada dan mammae
(a) Traksi pembesaran kelenjar limfe pada ketiak, massa
dan nyeri tekan.
(b) Tegang,hiperpigmentasi aerola, kelenjar montgomery,
papilla mammae menonjol atau masuk, keluarnya
kolostrum.
(3) Abdomen
(a) Luka bekas operasi, pembesaran hepar dan lien, nyeri
pada daerah ginjal.
(b) Linea nigra, striae gravidarum.
(4) Tangan dan kaki
(a) Oedema di jari tangan , kuku jari pucat, varises vena
(b) Oedem, reflek patella dan human sign.
(5) Genetalia luar
(a) Varices
(b) Perdarahan
(c) Luka
(d) Cairan yang keluar : lochea warna dan baunya
(e) pengeluaran dari uretra dan skene
(f) Kelenjar bartholini : bengkak (massa), cairan yang
keluar
(6) Perineum
Dikaji apakah terdapat luka jahitan pada perineum, jenis
jahitan, keadaan luka, infeksi atau tidak
(7) Anus : adakah hemoroid
2) Pemeriksaan laboratorium :
a) Pemeriksaan haemoglobin
b) Pemeriksaan protein urine
c) Pemeriksaan glukosa urine.
b. Langkah II ( kedua ) Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa
atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang
benar atas data-data yangdikumpulkan. Data dasar yang
sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan
masalah atau diagnosa yang spesifik. Kata masalah dan
diagnosa keduanya digunakan, karena beberapa masalah tidak

67
dapat diselesaikan seperti diagnosa tetapi sungguh membutuhkan
penanganan yang dituangkan kedalam sebuahrencana asuhan terhadap
klien.
Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain sebagai
berikut (Sulistyawati, 2011):
1) Diagnosa
2) Masalah
Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah “masalah” dan
“diagnosis”. Kedua istilah tersebut dipakai karena beberapa
masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap
perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh.
Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu
mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya (Sulistyawati, 2011).
3) Kebutuhan : asuhan yang diberikan kepada klien sesuai masalah
yang timbul
c. Langkah III (ketiga) : Merumuskan Diagnosis/ Masalah Potensial
Pada langkah ini kita kita mengidentifikasi masalah aataau diagnose
potensial lain berdasarkan rangkaian masalah yang lain juga. Langkah
ini membutuhkan anitisipasi, bila memungkinkan dilakukaan
pencegahan,sambil terus mengamati kondisi klien. Bidan diharapkan
dapat bersiap-siap bila diagnosis atau masalah potensial benar-benar
terjadi.
d. Langkah IV (keempat) : Mengindentifikasi dan Menetapkan
Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Dalam pelaksanaannya terkadang bidan diharapkan pada beberapa
situasi yang memerlukan penanganan segera (emergensi) di mana
bidan harus segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan
pasien,namun kadang juga berada pada situasi pasien yang
memerlukan tindakan segera sementara menunggu instruksi dokter,
atau bahkan mungkin juga situasi pasien yang memerlukan konsultasi
dengan tim kesehatan lain. Disini bidan sangat dituntut
kemampuannya untuk dapat selalu melakukan evaluasi keadaan
pasien agar asuhan yang diberikan tepat dan aman
e. Langkah V (kelima) Pelaksanaan Asuhan Kebidanan

68
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang diuraikan
pada langkah ke lima dilaksanakan secara efisien dan aman. Realisasi
dari perencanaan dapat dilakukan oleh bidan, pasien atau anggota
keluarga yang lain. Jika bidan tidak melakukannya, ia tetap memikul
tanggung jawab atas terlaksananya seluruh perencanaan. Dalam situasi
dSana ia harus berkolaborasi dengan dokter, misalnya karena pasien
mengalami komplikasi, bidan masih tetap bertanggung jawab terhadap
terlaksananya rencana asuhan bersama tersebut. Manajemen yang
efisiensi akan menyingkat waktu, biaya dan meningkatkan mutu
asuhan (Sulistyawati, 2011)
f. Langkah VI (keenam) : Melaksanakan Perencanaan.
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang
telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan
aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau
sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau
anggota tim kesehatan yang lain.
g. Langkah VII (ketujuh) : Evaluasi.
Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari
asuhan yang telah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan
bantuan apakah benar-benar terpenuhi sesuai dengan kebutuhan
sebagaimana telah diidentifikasi dalam masalah dan diagnosa.
Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif
dalam pelaksanaannya.
4. Masalah Etika

Masalah etika dalam pemberian asuhan kebidanan merupakan masalah


yang sangat penting dalam pemberian asuhan kebidanan (Hidayat, 2012).
Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut :
1. Anonimity
Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang memberikan
jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak
memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat
ukur atau hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau

69
hasil penelitian yang akan disajikan (Hidayat, 2012). Pada studi kasus
ini, nama responden tidak disebutkan dan diganti dengan huruf inisial.
2. Kerahasiaan
Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan
kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah
lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkann dijamin
kerahasiaan oleh peneliti, hanya sekelompok data tertentu yang akan
dilaporkan pada hasil riset. Subyek mempunyai hak untuk meminta
bahwa data yang diberikan harus dirahasiakan, untuk itu perlu adanya
tanpa nama (anonimity) dan rahasia (confidentiality) (Hidayat, 2012).

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati dan Wulandari. (2010). Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra


Cendekia Press.
Andriyani, Nurlaila, R. P. (2013) ‘Pengaruh senam nifas terhadap penurunan
tinggi fundus uteri pada ibu post partum’, Jurnal Keperawatan, IX(2),
pp. 180–185.
Anggraini, Yeti. 2010. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Yogyakarta : Pustaka
Rihama

Ariyanti dkk, I. (2019). Modul Praktik Kebidanan Fisiologis dan Holistik Nifas
dan Menyusui. Semarang: Poltekkes Kemenkes Semarang.

Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta : EGC.

Cuningham, F. G. (2013) Obstetri Wiliams. Jakarta: EGC.


Cynthia puspariny, triani yuliastanti, anggun suhastina.2014. Korelasi Pemberian
Asi Eksklusif Dengan Tingkat Iq Pada Anak Tk Di Tk Aisyah Kecamatan
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Tahun 2014.

Dewi Cendika dkk. 2010. Panduan Pintar Hamil & Melahirkan, Jakarta :
WahyuMedia
Djama, N. K. D. K. P. T. P. P. A. P. I. Menyusui. T. (2018) ‘Pengaruh Konsumsi

70
Daun Kacang Panjang Terhadap Peningkatan Produksi ASI Pada Ibu
Menyusui’, Jurnal Riset Kesehatan, 14(1), pp. 5–10.
Endang Suwanti, K. (2015b) ‘PENGARUH KONSUMSI EKSTRAK DAUN
KATUK TERHADAP KECUKUPAN ASI PADA IBU MENYUSUI DI
KLATEN’, Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan, 5(2), pp. 132–135.
Endang Suwanti, K. (2015a) ‘HUBUNGAN KONSUMSI EKSTRAK DAUN
KENTANG MANIS DENGAN PRODUKSI ASI DI LAKTASI IBU DI
KABUPATEN KLATEN Endang Suwanti, Kuswati’, Kebidanan Dan
Kesehatan Tradisional, 1(2), pp. 2014–2017.
Handayani dan Pujiastuti. (2016). Asuhan Holistik Masa Nifas dan Menyusui.
Yogyakarta: Transmedika.

Hidayah, S. N. (2017) ‘HUBUNGAN ANTARA VULVA HYGIENE DENGAN


LAMA PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM DI BPS NY S DESA
GROBOG WETAN KECAMATAN PANGKAH KABUPATEN TEGAL
TAHUN 2015’, Siklus, 6(1), pp. 188–194.
Hidayat, et al (2014) ‘Pemanfaatan Daun Bangun-Bangun dalam Pengembangan
Produk Makanan Tambahan Fungsional untuk Ibu Menyusui
( Utilizationand Product Development of Bangun-bangun Leaves as
Supplement and Functional Food for Lactating Mother )’, Jurnal Ilmu
Pertanian Indonesia (JIPI), 19(April), pp. 38-42-4217.
Madiyant, D. A. (2018) ‘HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN
DENGANPENYEMBUHAN LUKA PADA PASIEN POST OP SECTIO
CAESAREA (SC) DIRUMAH SAKIT UMUM DAERAHPRINGSEWU
LAMPUNG TAHUN 2016’, Jurnal IBU& ANAK, 3(6), pp. 1–9.
Maritalia, D. (2014) Asuhan Kebidanan Nifas Dan Menyusui. Pertama. Edited by
S. Riyadi. Yogyakarta: PUTAKA PELAJAR.
Marmi. (2015). Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas "Puerperium Care".
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Maroh, Muflikhatul. 2011. Hubungan Pola Istirahat Ibu Nifas Dengan Kelancaran
Produksi Asi Bps Ny. Lastak Anang Arief, S.ST Perum Jengala Jl.
Sunandar 4 No 1 Sidokare Sidoarjo.
https://www.academia.edu/9137036/HUBUNGAN_POLA_ISTIRAHAT_I
BU_NIFAS_DENGAN_KELANCARAN_PRODUKSI_ASI. Diakses
tanggal 26 Februari 2018.

Martini, D. E. (2015) ‘EFEKTIFITAS LATIHAN KEGEL TERHADAP


PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA IBU
NIFAS DI PUSKESMAS KALITENGAH LAMONGAN’, SURYA, 7(3)
Mutika, W. T. (2018) ‘Efek breast care ibu nifas terhadap berat badan bayi dan

71
hormon prolaktin’, Berita Kedokteran Masyarakat ( BKM Journal of
Community Medicine and Public Health ) Volume, 34(4), pp. 175–178.
Nugraheni, I. (2016) ‘PERBEDAAN EFEKTIVITAS EKSTRAK IKAN GABUS
DAN DAUN BINAHONG TERHADAP LAMA PENYEMBUHAN
LUKA OPERASI SECTIO CAESAREA PADA IBU NIFAS’, Jurnal
Terpadu Ilmu Kesehatan, 5(2), pp. 157–162.
Prasetyono, Dwi Sunar. 2009. Buku Pintar ASI Eksklusif. Jakarta : Diva Press

Prawirohardjo, Sarwono. (2014). Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo.

Puspitasari, D. (2014a). Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Dina Puspitasari,


Kebidanan DIII UMP, 2014, 11–106.

Puspitasari, D. (2014b). Asuhan Kebidanan Komprehensif. Purwokerto: DIII


Kebidanan UMP.

Roesli Utami.2008. Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif. Pustaka Bunda.
Jakarta
Rukiyah, Ai Yeyeh, Yulianti, Lia, Maemunah dan Susilawati, Lilik. (2010).
Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta : Trans Info Media.
Runjati dkk. (2017). Kebidanan Teori dan Asuhan. (Runjati & S. Umar, Eds.) (1st
ed.). Jakarta: EGC.
Sabrina.2014.Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri
Pada Ibu Nifas Di Paviliun Melati Rsud Jombang.

Setyoningrum Meriana Wahyu, Kudarti, Reny Siswanti. 2016. Hubungan


Pendidikan Dengan Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Tanda Bahaya Nifas di
BPM Handayani Jepang Pakis Jati Kudus. Jurnal Kebidanan dan
Kesehatan.

Sormin, R. E. M. (2018) ‘HUBUNGAN KONSUMSI DAUN KELOR DENGAN


PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU MENYUSUI SUKU
TIMOR DI KELURAHAN KOLHUA KECAMATAN MAULAFA
KUPANG’, CHMK NURSING SCIENTIFIC JOURNAL, 2(2), pp. 59–
63.
Suherni. 2009. Perawatan Masa Nifas.Yogyakarta:Fitramaya.

Sulistyawati. (2015). Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta:
ANDI.
Sulistyawati, A. (2011). Asuhan Kebidanan Pada kehamilan. Jakarta: salemba

72
medika.

Supiati, S. Y. (2015) ‘PENGARUH KONSUMSI TELUR REBUS TERHADAP


PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM DAN
PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU NIFAS’, Jurnal
Terpadu Ilmu Kesehatan, 4(2), pp. 141–146.
Tianastia Rullyni, N. E. and Evareny, L. (2014) ‘Pengaruh Senam Nifas terhadap
Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Post Partum di RSUP DR. M.
Djamil Padang’, Jurnal Kesehatan Andalas, 3(3), pp. 318–326.
Tulas, V. D. P. (2017) ‘HUBUNGAN PERAWATAN LUKA PERINEUM
DENGAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE IBU POST PARTUM
DI RUMAH SAKIT PANCARAN KASIH GMIM MANADO’, e-
Journal Keperawatan, 5(1), pp. 1–9.
Turlina, L. and Wijayanti, R. (2015) ‘PENGARUH PEMBERIAN SERBUK
DAUN PEPAYA TERHADAP KELANCARAN ASI PADA IBU NIFAS
DI BPM NY. HANIK DASIYEM, Amd.Keb DI KEDUNGPRING
KABUPATEN LAMONGAN’, 7(1).

Varney H, Kriebs JM, Gegor CL. Buku ajar asuhan kebidanan volume 2. Jakarta:
EGC; 2008.
Vivian Nanny. 2010. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta : Salemba
Medika
Widia Lidia, 2017. Hubungan Antara Mobilisasi Dini Dengan Proses
Penyembuhan Luka Perineum Pada Fase Profilerasi Ibu Post Partum.
Jurnal Darul Azhar Vol 3 No.1

Wulandari, F. T. and All, E. (2014) ‘Pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran


kolostrum pada ibu post partum di rumah sakit umum daerah provinsi
kepulauan riau’, kesehatan, 2, pp. 173–178. Available at:
http://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/view/53/46.
Zamzara, et all (2015) ‘PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP WAKTU
PENGELUARAN KOLOSTRUM IBU POST PARTUM SECTIO
CAESARIA’, Ilmiah Kesehatan, 8(1), pp. 229–241.

73