Anda di halaman 1dari 12

PENGAUDITAN INTERNAL

BAB 9
Pekerjaan Lapangan II

Kelompok 12 [Kelas K] :

Ni Komang Dwi Mirandani (07)


Indah Agustini Damayanti (24)
Ni Nyoman Putu Manarawisa (30)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MAHASARASWATI
DENPASAR
2019
9.1. Penerapan Teknik Audit
Teknik-teknik audit seperti melakukan pengamatan, mengajukan pertanyaan, menganalisis,
melakukan verifikasi, menginvestigasi dan mengevaluasi diterapkan pada berbagai kondisi.
Teknik-teknik tersebut dapat digunakan terpisah maupun bersamaan atau gabungan. Kebanyakan
penugasan audit akan dilakukan dalam bentuk sebagai berikut :
a. Audit Fungsional
Audit fungsional (functional audit) adalah audit yang mengikuti proses dari awal hingga
akhir, melintasi lini organisasi. Audit fungsional cendrung lebih terkonsentrasi pada operasi
dan proses dibandingkan pada administrasi dan orang-orang yang ada dalam organisasi.
Audit ini bertujuan untuk menentukan seberapa baik fungsi-fungsi dalam organisasi akan
saling berinteraksi dan berkerja sama.
Audit fungsional memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibanding jenis audit lainnya, hal
ini dikarenakan audit fungsional mencakup semua aspek yang ada di perusahaan. Adapun
manfaat audit fungsional bagi manajemen adalah : berbagai pandangan bisa diidentifikasi,
kemacetan bisa ditemukan, tujuan-tujuan yang berbeda bisa direkonsiliasi, duplikasi dapat
diketahui, serta akuntabilitas dapat didefinisikan.
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai auditor internal, auditor harus bertindak sebagai
pihak yang generalis dan bukan spesialis, sehingga diharapkan auditor mampu menghadapi
berbagai lini organisasi. Oleh karena itu manajemen senior mengharapkan auditor, dalam
semua penugasannya, memiliki karakteristik :
- Menguasai teknik-teknik audit internal.
- Mampu menetapkan sumber-sumber informasi faktual.
- Memiliki kapasitas untuk secara mendalam menganalisis informasi yang diterima.
- Memiliki kemampuan untuk membuat rekomendasi berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
- Memiliki sifat bersungguh-sungguh, penuh integritas, dan rendah hati dalam melakukan
semua penugasan audit.
b. Audit Organisasional
Audit organisasional (organizational audit) tidak hanya memerhatikan aktivitas yang
dilakukan dalam organisasi tetapi juga dengan kontrol adminitrastif yang digunakan untuk
memastikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut dilaksanakan. Oleh karena itu auditor tertarik
pada seberapa baik manajer organisasi memenuhi tujuan organsisasi dengan sumber daya
yang ada. Pendekatan organisasional yang tajam sering kali bisa memberikan pandangan
yang luas atas operasi, melebihi yang diperoleh hanya dari pengujian transaksi.
Dalam melaksanakan audit organisasional, maka auditor harus memastikan bahwa prinsip
kontrol manajemen sudah diterapkan. Hal-hal yang harus dipahami auditor internal dalam
melakukan audit organisasional adalah :
- Mengetahui gambaran yang lengkap mengenai perusahaan misalnya struktur organisasi,
untuk mengetahui alur kewenangan di dalam perusahaan.
- Mengetahui prinsip-prinsip perencanaan, yaitu harus mengetahui tentang penetapan
tujuan, prosedur, kebijakan, pengevaluasian rencana, dan lain-lain.
- Mengetahui prinsip-prinsip pengarahan, yaitu kepemimpinan, motivasi, dan
komunikasi.
- Menelaah produktivitas, yaitu efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya yang
dipercayakan kepada manajer. Untuk menilai produktivitas, maka auditor internal harus
mempelajari tujuan dari produktivitas organisasi. Caranya yaitu dengan :
o Mengidentifikasi tujuan produktivitas
o Menetapkan tujuan atau sasaran-sasaran kuantitatif untuk dapat mengukur
produktivitas secara objektif.
o Merancang pengukuran yang sesuai dan memutuskan informasi yang
dibutuhkan.
c. Studi dan Konsultasi Manajemen
Audit fungsional dan organisasional membentuk kerangka kerja program audit jangka
panjang. Setiap jenis audit umumnya akan diulang pada jangka waktu tertentu. Setiap
organisasi membutuhkan konsultan luar untuk melakukan studi manajemen, membuat
evaluasi, dan menawarkan rekomendasi untuk memperbaiki masalah organisasi.
Standar Implementasi 2010.C1 menyatakan bahwa :
“Kepala bagian audit harus mempertimbangkan diterimanya penugasan konsultasi yang
diusulkan berdasarkan potensi yang ada dalam penugasan untuk meningkatkan pengelolaan
risiko, menambah nilai, dan meningkatkan potensi organisasi ..”
Setiap bulan manajer audit bisa memberikan laporan kemajuan ke manajemen eksekutif
mengenai status studi tersebut. Laporan tersebut bisa berisi :
- Identifikasi studi manajemen yang sedang dilakukan
- Ringkassan sejumlah memorandum studi manajemen yang dikeluarkan dan statusnya
- Identifikasi masalah-masalah yang lebih penting
- Diskusi secara umum mengenai pekerjaan
- Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan studi.
d. Audit atas Program
Atas kemauan mereka sendiri atau atas permintaan manajemen eksekutif, auditor internal
bisa melakukan penelaahan khusus atas program yang sedang berjalan. “Program”
merupakan istilah umum yang mencakup setiap upaya yang didanai yang seiring dengan
aktivitas normal organisasi sedang berlangsung seperti program ekspansi, program baru
untuk manfaat karyawan, kontrak baru, program kesehatan pemerintah atau program
pelatihan, aplikasi komputer yang baru, atau program yang berhubungan erat dengan tujuan
organisasi.
Sedangkan dalam sektor publik, auditor internal akan memperhatikan hal-hal berikut :
- Keluaran, yaitu mengenai jasa yang diberikan, produk yang dihasilkan, serta bantuan
yang diberikan.
- Manfaat atau hasil, manfaat mencerminkan dampak dari keluaran
- Dampak, adalah efek dari suatu program terhadap suatu komunitas, masyarakat, atau
dunia.
Tujuan, sasaran dan standar harus diidentifikasi spesifik dalam penelaahan program. Hal ini
akan mudah diidentifikasi apabila :
- Manajemen, dewan komisaris, atau badan pembuat undang-undang tidak dengan jelas
mendefinisikan tujuannya.
- Tujuan-tujuan saling tumpang tindih.
- Orang yang bertanggungjawab untuk mencapai tujuan, standar, dan sasaran tidak benar-
benar memahaminya.
- Maksud ynag tampak dari manajemen, dewan komisaris, atau badan pembuat undang-
undang tidak diikuti.
- Tujuan program yang sebenarnya tidak diidentifikasi atau telah berubah meskipun
tujuan yang dinyatakan tetap sama.
e. Audit Kontrak
Kontrak konstruksi atau operasi sering kali melibatkan uang dalam jumlah besar. Kontrak
kontruksi biasanya bukan merupakan bagian dari bisnis rutin organisasi, kontrak operasl
bisa membrikan jasa atau operasi terprogram. Manajemen mungkin tidak begitu memahami
biaya konstruksi dan operasi seperti produksi yang dilakukan sendiri. Oleh karena itu
auditor internal bisa sangat membantu mengaudit kontrak.
f. Audit Terintegrasi
Akhir-akhir ini audit integrasi dianggap sebagai bagian utama dari fungsi audit internal.
Konsep integrasi bisa meluas dan mencakup aspek-aspek seperti menyediakan audit yang
berlaku sebagai :
- Audit berkelanjutan atas elemen-elemen neraca dan operasional dalam audit kinerja
- Pelaksanaan audit atas tahap varian dari operasi klien yang biasanya diaudit secara
terpisah
- Sebuah latihan dalam audit partisipatif dimana klien membantu perencanaan audit dan
berpartisipasi dengan staf dalam pelaksanaan audit.
- Sebuah audit yang sebenarnya menggabungkan berbagai tahap audit internal seperti
audit keuangan, kinerja, dan sistem informasi.
Jelasnya tingkat integrasi tergantung pada :
- Ukuran staf audit
- Kompetensi yang dimiliki staf audit
- Filosofi audit yang dipegang manajemen organisasi dan organisasi audit
- Tingkat aktivitas teknologi klien dan organisasi audit
- Biaya manfaat dari pengoperasian audit semacam itu

9.2. Penelaahan Analitis


Penelaahan analitis telah lama digunakan untuk menentukan kewajaran data tertentu. Secara
tradisional, penelaahan ini telah dikaitkan dengan masalah-masalah keuangan. Misalnya:
 Perbandingan informasi keuangan periode sekarang dengan periode lalu.
 Perbandingan informasi keuangan saat ini dengan yang diharapkan, yaitu dengan anggaran,
perkiraan, dan pengalaman industri.
 Penelaahan hubungan informasi keuangan dan non-keuangan
Beberapa metodologi yang digunakan untuk melaksanakan penelaahan ini adalah:
1) Analitis Tren
Adalah pengujian yang dilakukan dengan membandingkan data sekarang dengan data
sebelumnya. Analisis kecenderungan mensyaratkan auditor untuk memeriksa perubahan-
perubahan dalam data sepanjang waktu. Premis yang mendasari analisa ini adalah bahwa
kecenderungan di masa lalu mungkin diharapkan berlanjut di masa yang akan datang kecuali
terjadi perubahan-perubahan keadaan yang material. Sebagai contoh, auditor dapat
mengamati perubahan dalam belanja dan pendapatan selama periode tertentu atau mungkin
mengamati perubahan dalam bentuk hubungan-hubungan. Contoh analisis kecenderungan
yang lain adalah penerapan analisis regresi untuk memprediksikan komponen belanja dan
pendapatan berdasarkan hubungan-hubungan yang diamati.
Aplikasi dari analisis kecenderungan adalah dengan membandingkan unsur-unsur utama
dalam laporan keuangan yang diaudit dengan laporan keuangan tahun sebelumnya dan
menyelidiki perubahan yang signifikan.
2) Analisis Rasio
Analisis rasio membandingkan hubungan-hubungan antara saldo akun. Meskipun analisa ini
lebih berguna ketika membandingkan auditan dengan organisasi lain, auditor harus juga
mengamati perubahan dalam rasio untuk suatu kurun waktu tertentu. Rasio-rasio keuangan,
seperti profitabilitas, solvensi (kemampuan melunasi utang), dan efisiensi, bisa digunakan
untuk menentukan kewajaran informasi saat ini.
3) Analisis Regresi.
Teknik ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel tertentu. Analisis
regresi merupakan sumber hubungan yang kaya dibandingkan analisi tren atau rasio karena :
(1) Memungkinkan penggunaan berbagai variable independent.
(2) Auditor dapat mengeksplorasi hubungan antara laporan keuangan dan indikator-
indikator non neraca; dan fluktuasi, tren, dan rasio yang bersifat musiman dapat
dimasukkan.

Auditor dapat menggunakan penelaahan analitis untuk menunjukkan masalah-masalah yang ada
dan memberi jalan bagi dilakukannya audit yang lebih intensif untuk menentukan tingkat
abnormalitasnya, dan yang lebih penting, penyebabnya.
9.3. Bukti Audit
Bukti audit (audit evidence) adalah informasi yang diperoleh auditor internal melalui
pengamatan suatu kondisi, wawancara, dan pemeriksaan catatan. Bukti audit harus mempunyai
dasar nyata untuk opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bukti audit terdiri dari :
1. Bukti Fisik (Physical Examination)
Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama kas dan persediaan.
Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud. Pemeriksaan langsung
auditor secara fisik terhadap aktiva merupakan cara yang paling objektif dalam menentukan
kualitas aktiva yang bersangkutan. Oleh karena itu, bukti fisik merupakan jenis bukti yang
paling bisa dipercaya.

2. Konfirmasi (Confirmation)
Konfirmasi merupakan proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi langsung dari
pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan informasi tentang unsur tertentu yang
berdampak terhadap asersi laporan keuangan. Konfirmasi merupakan bukti yang sangat
tinggi reliabilitasnya karena berisi informasi yang berasal dari pihak ketiga secara langsung
dan tertulis. Konfirmasi sangat banyak menghabiskan waktu dan biaya.
Ada tiga jenis konfirmasi yaitu:
 Konfirmasi positif, merupakan konfirmasi yang respondennya diminta untuk
menyatakan persetujuan atau penolakan terhadap informasi yang ditanyakan.
 Blank confirmation, merupakan konfirmasi yang respondenya diminta untuk
mengisikan saldo atau informasi lain sebagai jawaban atas suatu hal yang ditanyakan.
 Konfirmasi negatif, merupakan konfirmasi yang respondenya diminta untuk
memberikan jawaban hanya jika ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap informasi
yang ditanyakan.

3. Dokumentasi (Documentation)
Bukti dokumenter merupakan bukti yang penting dalam audit. Menurut sumber dan tingkat
kepercayaan bukti, bukti dokumenter dapat dikelompokkan sebagai berikut:
 Bukti dokumenter yang dibuat oleh pihak luar dan dikirim kepada auditor secara
langsung.
 Bukti dokumenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor melalui klien.
 Bukti dokumenter yang dibuat dan disimpan oleh klien.
Bukti dokumenter antara lain meliputi notulen rapat, faktur penjualan, rekening koran bank,
dan bermacam-macam kontrak. Reliabilitas bukti dokumenter tergantung sumber dokumen,
cara memperoleh bukti, dan sifat dokumen itu sendiri. Sifat dokumen mengacu tingkat
kemungkinan terjadinya kesalahan atau kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan dokumen.

4. Prosedur Analitis (Analytical Procedures)


Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan perbandingan data klien dengan anggaran
atau standar prestasi, trend industri dan kondisi ekonomi umum. Bukti analitis menghasilkan
dasar untuk menentukan kewajaran suatu pos tertentu dalam laporan keuangan. Keandalan
bukti analitis sangat tergantung pada relevansi data pembanding.
Bukti analitis meliputi juga perbandingan atas pos-pos tertentu antara laporan keuangan
tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya. Perbandingan ini
dilakukan untuk meneliti adanya perubahan yang terjadi, dan untuk menilai penyebabnya.
Bukti-bukti ini dikumpulkan pada awal audit untuk menentukan objek pemeriksaan yang
memerlukan pemeriksaan yang lebih mendalam.

5. Hitung Uji (Repeformance)


Bukti matematis diperoleh auditor melalui penghitungan kembali oleh auditor. Penghitungan
yang di auditor merupakan bukti audit yang bersifat kuantitatif dan matematis. Bukti ini
dapat digunakan untuk membuktikan ketelitian catatan akuntansi klien.

6. Wawancara Kepada Klien (Inquiries)


Auditor dalam melaksanakan tugasnya banyak berhubungan dengan manusia sehingga ia
mempunyai kesempatan untuk mengadakan pengajuan pertanyaan lisan. Masalah yang dapat
ditanyakan antara lain meliputi kebijakan akuntansi, lokasi dokumen dan catatan,
pelaksanaan prosedur akuntansi yang tidak lazim, kemungkinan adanya utang bersyarat
maupun piutang yang sudah lama tidak ditagih. Jawaban atas pertanyaan yang dinyatakan
merupakan bukti lisan. Bukti lisan harus dicatat dalam kertas kerja audit.

7. Observasi (Observation)
Penggunaan panca indra untuk menilai aktivitas tertentu. Bukti audit ini jarang dipenuhi
karena terdapat suatu resiko bahwa para karyawan klien yang terlibat dalam aktivitas itu
telah menyadari kehadiran auditor.
Standar-standar Bukti Audit
Semua bukti audit harus memenuhi 3 uji yaitu :
1) Kecukupan
Bukti dianggap memadai jika bersifat faktual, memadai dan meyakinkan sehingga bisa
menuntun orang yang memiliki sifat hati-hati untuk mengambil kesimpulan yang sama
dengan auditor.
2) Kompeten
Bukti yang kompeten adalah bukti yang andal, bukti tersebut haruslah yang terbaik yang
dapat diperoleh. Dokumen asli lebih kompeten dibandingkan salinannya, pernyataan lisan
yang menguatkan adalah lebih kompeten dari pernyataan biasa, bukti langsung lebih andal
dibandingkan bukti kabar angin.
3) Relevansi
Mengacu pada hubungan antara informasi dengan penggunaannya. Fakta dan opini yang
digunakan untuk membuktikan atau menyangkal suatu masalah harus memiliki hubungan
logis dan masuk akal dengan masalah tersebut.

Penanganan Bukti yang Sensitif


Harus terdapat rencana yang dibuat untuk menangani dan mengamankan bahan-bahan yang
sensitif, rencana ini harus mencakup metode untuk menjaga integritas dokumen yang harus
dipisahkan dari dokumen kertas kerja biasa dan harus disimpan dalama lemari terkunci atau
kotak penympanan yang aman, penyimpanan juga dapat dilakukan di lokasi luar.
Selain itu perlu mengamankan informasi bukti terkomputerisasi untuk menghindari akses ke
bentuk aslinya. Metode penyajian tambahan adalah mengembangkan dokumen-dokumen
pendukung yang disimpan pada lokasi selain lokasi penyimpanan catatan atau dokumen asli.

Kertas Kerja
Kertas kerja merupakan dasar pengembangan bukti. Ada beberapa jenis kertas kerja yang
semuanya penting, yaitu mencakup:
 Kutipan dari sumber berwenang tentang kriteria dan standar.
 Ringkasan wawancara, pertemuan, dan percakapan.
 Subtansi verifikasi dan pemeriksaan dokumen.
 Analisis temuan dari kertas kerja atau pengamatan lainnya.
 Perhitungan analitis terkait dengan audit.
Kertas kerja merupakan substansi audit yang harus diberikan pengawasan dan pemeriksaan
seksama untuk menentukan keabsahannya dan tidak meninggalkan pertanyaan yang tersisa juga
bahwa materi di beberapa kertas kerja tidak bertentangan dengan yang terdapat dalam kertas
kerja yang lain.

9.4. Audit Berkelanjutan


Sifat sistem yang ada di enterprise wide system memungkinkan dilakukannya audit
berkelanjutan. Ikatan Akuntan Kanada dan AICPA mendefinisikan audit berkelanjutan
(continuous auditing) sebagai “sebuah metodologi yang memungkinkan auditor independent
memberikan keyakinan tertulis mengenai suatu subjek masalah menggunakan serangkaian
laporan auditor yang dikeluarkan secara simultan dengan atau setelah suatu periode yang pendek,
terjadinya suatu kejadian yang melandasi masalah tersebut”
Studi penelitian menyimpulkan bahwa kondisi berikut memerlukan diselenggarakannya audit
berkelanjutan:
b. Subjek masalah dengan karakteristik yang sesuai.
c. Keandalan sistem yang melandasi subjek tersebut.
d. Bukti audit yang diberikan oleh prosedur audit dengan tingkat otomatisasi yang tinggi.
e. Sarana yang dapat diandalkan untuk mendapatkan hasil-hasil prosedur audit secara tepat
waktu.
f. TIngkat keahlian auditor yang tinggi dalam teknologi informasi dan subjek masalah.

Berikut masalah yang menjadi perhatian utama yang berdampak pada pekerjaan lapangan dan
pelaporan auditor internal:
 Keterlibatan auditor internal dengan subjek masalah.
 Pengetahuan auditor internal mengenai keandalan subjek masalah.
 Keterlibatan auditor internal dalam pelaporan dan evaluasi tanggapan manajemen terhadap
laporan.
 Keahlian internal auditor dengan teknologi informasi dan masalah-masalah yang sedang
diaudit.
Salah satu komponen kunci dalam audit berkelanjutan adalah perancangan dan implementasi
kontrol otomatis dan pemicu tanda bahaya. Pemicu tanda bahaya menjadi penanda bagi auditor
internal dan manajemen akan :
 Kontrol berfungsi dan mereka telah mengidentifikasi sebuah kesalahan yang harus
diinvestigasi dan atau diperbaiki.
 Kontrol tidak berfungsi berdasarkan informasi yang diidentifikasi.
Dalam enterprise wide system, auditor internal harus memainkan peran kunci dalam mengurangi
risiko hingga ke tingkat yang dapat diterima.
DAFTAR PUSTAKA

1. http://bangijang.blogspot.com/2012/05/pekerjaan-lapangan.html
2. http://www.scribd.com/doc/74611631/Bab-6-Dan-7-Lengkap
3. http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/22/makalah-masyarakat-interaksi-dan-perubahan-
sosial-405714.html