Anda di halaman 1dari 17

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

Rahasia Medik di Era Pandemi

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat dalam Menempuh


Program Pendidikan Profesi Dokter

Dosen Penguji:
Dr.dr.Hadi,Msi.Med.,Sp.B

Residen Pembimbing:
dr. Risma Gayanti

Disusun Oleh:
Ilham Robbizaqtana 22010118210006 UNDIP
Dimas Muhammad Ilham 22010119220143 UNDIP
Alifatush Shabrina 22010119220097 UNDIP
Susanti 22010119220191 UNDIP
Arteria Dewi Nurhutami 22010119220168 UNDIP
Dian Kafahasindaya 22010118220168 UNDIP
Salma Melati Pertiwi 22010118220089 UNDIP
Nihayatul Istianah 22010118220209 UNDIP

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN DEPARTEMEN FORENSIK DAN STUDI MEDIKOLEGAL FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
RSUP DR. KARIADI SEMARANG

Periode 27 April – 10 Mei 2020


LEMBAR PENGESAHAN

Referat Berjudul

Rahasia Medis di Era Wabah COVID-19

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat dalam Menempuh Program

Pendidikan Profesi Dokter

Penyusun:

Telah dipresentasikan pada tanggal 6 Mei 2020 Mengetahui,

Dosen Penguji Residen Pembimbing

Dr.dr.Hadi,Msi.Med.,Sp.B dr. Risma Gayanti

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat,

karunia, dan bimbingan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan referat dengan judul

“Rahasia Medis di Era Wabah COVID-19” ini tepat waktu.

Adapun referat ini disusun sebagai tugas bersama dalam Kepaniteraan Klinik Ilmu

Forensik dan Medikolegal. Penyusun berharap, referat ini dapat memberi informasi yang

berguna sebagai bahan untuk pembelajaran bersama.

Dengan rasa hormat, penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-

besarnyaatassegalabimbinganyangtelahdiberikandalampenyelesaianreferatini kepada:

1. Dr.dr.Hadi.Msi.Med.,Sp.B selaku dosen penguji

2. dr. Risma Gayanti selaku residen pembimbing

Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam referat ini, oleh

karena itu penyusun mohon maaf bila terdapat kesalahan penulisan atau kata- kata yang

kurang berkenan. Kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat membantu sebagai

masukan bagi penyusun di kemudian hari.

Semarang, 6 Mei 2020

Penyusun
DAFTAR ISI
8
BAB III
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Data rahasia medis merupakan hal yang seringkali dibutuhkan dalam kepentingan
penanganan masalah kesehatan, baik individual maupun yang melibatkan masyarakat
luas. Kepentingan epidemiologi, klinisi, dan pembuat kebijakan seringkali
menggunakan data dari rahasia medis. Data rahasia medis mencakup identitas lengkap,
kronologi, hingga perjalanan penyakit dan penanganannya, termasuk yang seperti
tercantum dalam rekam medis.1

Pandemi COVID-19 yang terjadi di akhir 2019 dan berlanjut hingga awal 2020 ini
menjadi salah satu contoh kasus penggunaan data medis dalam penanganannya. Jumlah
kasus COVID-19 terus meningkat setiap harinya, hingga tanggal 29 April 2020, jumlah
kasus di dunia mencapai 3.131.659 kasus dengan angka kematian mencapai 217.203
kasus, sedangkan di Indonesia kasus positif sebanyak 10.118 kasus. Jumlah yang besar
ini membutuhkan intervensi lebih lanjut, salah satunya dengan pembukaan rahasia
medis, terutama bagi pihak medis dan pembuat kebijakan..2,3

Terbukanya rahasia medis pasien ke khalayak umum ditengah-tengah pandemi


COVID-19 ini menggiring stigmatisasi negatif bagi penderita dan keluarga yang
tentunya akan membawa dampak psikososial seperti terjadinya diskriminasi. Rahasia
medis merupakan prinsip hukum dan etika bahwa ada informasi tertentu yang tidak
boleh dibuka sembarangan, dimana informasi tersebut lahir dari hubungan dokter-
pasien.1,2 Terkait pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia, pembukaan rahasia
medis ini menjadi polemik jika tenaga kesehatan tidak mengelolanya secara berhati-
hati, oleh sebab itu diperlukan pemahaman yang baik terhadap landasan etika dan
hukum rahasia medis termasuk dalam hal membuka rahasia medis tersebut bagi
kalangan kedokteran dan kesehatan..4,5

1
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas,maka muncul rumusan masalah yaitu
sebagai berikut.
1. Bagaimana pengertian dari rahasia medis?
2. Bagaimanakah pengertian dari wabah?
3. Bagaimanakah aturan dari pembukaan rahasia medis saat Pandemi?
4. Apakah kondisi-kondisi yang memperbolehkan rahasia medis dibuka?

5. Bagaimana mekanisme dari pembukaan rahasia medis saat Pandemi?


I.3 Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka dapat ditentukan tujuan yang hendak dicapai
yaitu sebagai berikut.
1. Mengetahui pengertian dari rahasia medis
2. Mengetahui pengertian dari Wabah
3. Mengetahui kondisi-kondisi yang diperbolehkan untuk membuka rahasia
medis
4. Mengetahui aturan dari pembukaan rahasia medis saat pandemi

5. Mengetahui mekanisme dari pembukaan rahasia medis saat pandemi

I.4 Manfaat
I.4.1 Manfaat bagi Mahasiswa
1. Menambah pengetahuan serta wawasan yang berhubungan dengan pembukaan
rahasia medis saat pandemi
2. Menambah pengetahuan mengenai peran dokter dalam pembukaan rahasia medis
saat pandemi
I.4.2 Manfaat bagi Institusi
1. Menambah wawasan mengenai pembukaan rahasia medis saat pandemi di
fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas maupun rumah sakit.
I.4.3 Manfaat bagi Masyarakat
1. Menambah pengetahuan serta wawasan yang berhubungan dengan aturan
pembukaan rahasia medis saat pandemi pada khalayak umum.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rahasia Medis


2.1.1 Definisi
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 36 Tahun 2012 Pasal 1 disebutkan
bahwa “Rahasia kedokteran adalah data dan informasi tentang kesehatan seseorang yang
diperoleh tenaga kesehatan pada waktu menjalankan pekerjaan atau profesinya”. 12
Sedangkan dalam Pasal 38 Undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit,
rahasia kedokteran adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan hal yang ditemukan
oleh dokter dan dokter gigi dalam rangka pengobatan dan dicatat dalam rekam medis
yang dimiliki pasien dan bersifat rahasia. 13
2.1.2 Ruang Lingkup Rahasia Kedokteran
Rahasia kedokteran mencakup data dan informasi mengenai:12
a. Identitas pasien;
b. Kesehatan pasien meliputi hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang, penegakan diagnosis, pengobatan dan/atau tindakan kedokteran;
dan
c. Hal lain yang berkenaan dengan pasien.

Data dan informasi tersebut dapat bersumber dari pasien, keluarga pasien, pengantar
pasien, surat keterangan konsultasi atau rujukan, atau sumber lainnya. 12
2.1.3 Kewajiban Menyimpan Rahasia Kedokteran
Aturan mengenai kewajiban menyimpan rahasia kedokteran diatur dalam
Pasal 48 Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Pasal
38 Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit dan Pasal 73
Undang-Undang No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. Secara khusus
diatur dalam Pasal 4 Peraturan Menteri Kesehatan No. 36 Tahun 2012 di mana
disebutkan bahwa semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kedokteran
dan/atau menggunakan data dan informasi tentang pasien wajib menyimpan
rahasia kedokteran. Pihak tersebut diantaranya :12
a. Dokter dan dokter gigi serta tenaga kesehatan lain yang memiliki akses
terhadap data dan informasi kesehatan pasien12,14
b. Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan
c. Tenaga yang berkaitan dengan pembiayaan pelayanan kesehatan;
d. tenaga lainnya yang memiliki akses terhadap data dan informasi kesehatan
pasien di fasilitas pelayanan kesehatan12,15
e. Badan hukum/korporasi dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan12,13
f. Mahasiswa/siswa yang bertugas dalam pemeriksaan, pengobatan,
perawatan, dan/atau manajemen informasi di fasilitas pelayanan kesehatan.
2.1.4 Pembukaan Rahasia Kedokteran

Berdasarkan Pasal 48 Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik


Kedokteran, Pasal 38 Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit,
Pasal 73 Undang-Undang No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan
Peraturan Menteri Kesehatan No. 36 Tahun 2012 Pasal 5 disebutkan bahwa
rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien,
memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum,
permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.12,13,14,15 Pembukaan rahasia kedokteran dilakukan terbatas sesuai
kebutuhan. Hal ini juga disebutkan dalam.
Pembukaan rahasia kedokteran dapat dengan atau tanpa persetujuan pasien.12
1. Persetujuan pasien (Pasal 6 PMK No. 36 Tahun 2012)
Pembukaan rahasia kedokteran yang meliputi kepentingan pemeliharaan
kesehatan, pengobatan, penyembuhan dan perawatan dan keperluan
administrasi, pembayaran asuransu atau jaminan pembiayaan kesehatan
dilakukan dengan persetujuan pasien. Dalam hal pasien tidak cakap untuk
memberi persetujuan maka dapat diberikan oleh keluarga terdekat atau
pengampunya.
2. Tanpa persetujuan pasien (Pasal 9 PMK No. 36 Tahun 2012)

Pembukaan rahasia kedokteran berdasarkan ketentuan Pasal 5 Peraturan


Menteri Kesehatan No. 36 Tahun 2012 dilakukan tanpa persetujuan pasien jika
dalam rangka kepentingan penegakan etik atau disiplin, serta kepentingan
umum. Kepentingan umum yang dimaksud, meliputi :
a. Audit medis
b. Ancaman Kejadian Luar Biasa/wabah penyakit menular
c. Penelitian kesehatan untuk kepentingan Negara
d. Pendidikan atau penggunaan informasi yang akan berguna di masa yang
akan datang
e. Ancaman keselamatan orang lain secara individual atau masyarakat.

2.2 Wabah
2.2.1 Pengertian Wabah
Saat ini di dunia sedang ada pandemi COVID-19,Pandemi adalah …..
Terdapat beberapa pengertian wabah berdasarkan sumber yang berbeda. Menurut
KBBI, wabah adalah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang
sejumlah besar orang di daerah yang luas (seperti wabah cacar, disentri, kolera);
epidemi.11 Menurut PERMENKES RI Nomor 1501/MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis
Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya
Penanggulangan, wabah merupakan kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular
dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada
keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan
malapetaka.5 Pada PERMENKES RI Nomor 949/MENKES/SK/VIII/2004 tenang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) juga
disampaikan bahwa Menteri adalah pihak yang menetapkan dan mencabut daerah tertentu
dalam wilayah Indonesia yang terjangkit wabah sebagai daerah wabah. 4
Selain itu, terdapat istilah “Kejadian Luar Biasa” yang selanjutnya disingkat
sebagai KLB, yang menurut PERMENKES RI Nomor 1501/MENKES/PER/X/2010
diartikan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian
yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. KLB
merupakan suatu keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. 5

2.2.2 Jenis Penyakit Menular yang Dapat Menimbulkan Wabah


Penetapan jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah
didasarkan pada beberapa pertimbangan seperti pertimbangan epidemiologis, sosial
budaya, keamanan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan dapat menyebabkan
dampak malapetaka di masyarakat. Jenis-jenis penyakit menular yang dapat
menimbulkan wabah adalah seperti kolera, PES, DBD, campak, polio, difteri, pertussis,
rabies, malaria, avian influenza H5N1, dan penyakit menular tertentu lainnya yang dapat
menimbulkan wabah yang ditetapkan oleh Menteri. 5

2.2.3 Penetapan Daerah KLB atau Wabah


2.2.3.1 Penetapan Daerah KLB
Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, kepala dinas kesehatan provinsi, atau
Menteri dapat menetapkan daerah dalam keadaan KLB apabila memenuhi salah satu
kriteria berikut5:
1. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau
tidak dikenal pada suatu daerah
2. Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 kurun waktu dalam
jam, hari, atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian kesakitan >2 kali dibandingkan dengan periode
sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut jenis
penyakitnya.
4. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 bulan menunjukkan kenaikan >2
kali dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 tahun menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian
kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya.
6. Angka kematian kasus suatu penyakit (case fatality rate) dalam 1 kurun waktu
tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan angka
kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang
sama
7. Angka proporsi penyakit (proportional rate) penderita baru pada satu periode
menunjukkan kenaikan >2 kali dibanding satu periode sebelumnya dalam
kurun waktu yang sama.
Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota atau kepala dinas kesehatan provinsi
menetapkan suatu daerah dalam keadaan KLB di wilayah kerjanya masing-masing dengan
menerbitkan laporan KLB sesuai fomulir W1. Apabila dinas kesehatan kabupaten/kota
tidak menetapkan suatu daerah di wilayahnya dalam keadaan KLB, kepala dinas kesehatan
provinsi dapat menetapkan daerah tersebut dalam keadaan KLB. Apabila dinas kesehatan
kabupaten/kota dan kepala dinas kesehatan provinsi tidak menetapkan suatu daerah di
wilayahnya dalam keadaan KLB, Menteri berhak menetapkan daerah tersebut dalam
keadaan KLB.5

2.2.3.2 Penetapan Daerah Wabah


Seorang Menteri dapat menetapan suatu daerah dalam keadaan wabah apabila
situasi KLB berkembang dan berpotensi menimbulkan suatu malapetaka dengan
mempertimbangkan beberapa hal berikut:5
1. Secara epidemiologis data penyakit menunjukkan peningkatan angka kesakitan
dan/atau angka kematian
2. Terganggunya keadaan masyarakat berdasarkan aspek social budaya, ekonomi,
dan pertimbangan keamanan
Seorang Menteri harus mencabut penetapan daerah wabah berdasarkan pertimbangan
keadaan daerah tersebut sudah tidak sesuai dengan keadaan yang tersebut di atas.

2.2.4 Penanganan Daerah KLB atau Wabah


Suatu daerah yang dinyatakan daerah KLB atau wabah akan ditangani secara
terpadu oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Penanganan tersebut
meliputi:5,4
1. Penyelidikan epidemiologis
2. Penatalaksanaan penderita yang mencakup kegiatan pemeriksaan,
pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk tindakan karantina
3. Pencegahan dan pengebalan
4. Pemusnahan penyebab penyakit
5. Penanganan jenazah akibat wabah
6. Penyuluhan kepada masyarakat
7. Upaya penanggulangan lainnya, antara lain berupa meliburkan sekolah untuk
sementara waktu, menutup fasilitas umum untuk sementara waktu,
melakukan pengamatan secara intensif/surveilans selama terjadi KLB serta
melakukan evaluasi terhadap upaya penanggulangan secara keseluruhan yang
tentunya disesuaikan dengan jenis penyakit penyebab KLB/Wabah.
Upaya penanggulangan secara dini perlu dilakukan oleh dinas kesehatan
kabupaten/kota apabila di daerahnya memenuhi salah satu kriteria KLB, baik sebelum
maupun setelah daerah ditetapkan dalam keadaan KLB. Upaya penanggulangan secara
dini tersebut dilakukan kurang dari 24 jam terhitung sejak daerahnya memenuhi salah
satu kriteria KLB. 5,4

2.2.5 Pelaporan KLB/Wabah


Tenaga kesehatan atau masyarakat wajib memberikan laporan kepada kepala
desa/lurah dan puskesmas terdekat atau jejaringnya maksimal 24 jam sejak mengetahui
adanya penderita atau tersangka penderita penyakit tertentu. Pimpinan puskesmas yang
menerima laporan harus segera melaporkan kepada kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota maksimal 24 jam sejak menerima informasi. Kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota kemudian memberikan laporan tersebut secara berjenjang kepada
bupati/walikota, gubernur, dan Menteri melalui Direktur Jenderal maksimal 24 jam sejak
menerima laporan.5

2.3 Pembukaan Rahasia Medis Saat Wabah


2.3.1 Pembukaan Rahasia Kedokteran
Berdasarkan Pasal 48 Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran, Pasal 38 Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit,
Pasal 73 Undang-Undang No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan
Peraturan Menteri Kesehatan No. 36 Tahun 2012 Pasal 5 disebutkan bahwa
rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien,
memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum,
permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.12,13,14,15 Pembukaan rahasia kedokteran dilakukan terbatas sesuai
kebutuhan. Hal ini juga disebutkan dalam.
Pembukaan rahasia kedokteran dapat dengan atau tanpa persetujuan pasien.12
3. Persetujuan pasien (Pasal 6 PMK No. 36 Tahun 2012)
Pembukaan rahasia kedokteran yang meliputi kepentingan pemeliharaan
kesehatan, pengobatan, penyembuhan dan perawatan dan keperluan
administrasi, pembayaran asuransu atau jaminan pembiayaan kesehatan
dilakukan dengan persetujuan pasien. Dalam hal pasien tidak cakap untuk
memberi persetujuan maka dapat diberikan oleh keluarga terdekat atau
pengampunya.
4. Tanpa persetujuan pasien (Pasal 9 PMK No. 36 Tahun 2012)

Pembukaan rahasia kedokteran berdasarkan ketentuan Pasal 5 Peraturan


Menteri Kesehatan No. 36 Tahun 2012 dilakukan tanpa persetujuan pasien jika
dalam rangka kepentingan penegakan etik atau disiplin, serta kepentingan
umum. Kepentingan umum yang dimaksud, meliputi :
f. Audit medis
g. Ancaman Kejadian Luar Biasa/wabah penyakit menular
h. Penelitian kesehatan untuk kepentingan Negara
i. Pendidikan atau penggunaan informasi yang akan berguna di masa yang
akan datang
j. Ancaman keselamatan orang lain secara individual atau masyarakat.
2.3.2 Pembukaan Rahasia Kedokteran Saat Wabah
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 36 Tahun 2012 tentang Rahasia
Kedokteran disebutkan bahwa ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah
penyakit menular termasuk dalam kepentingan umum berkenaan dengan sebab
pembukaan rahasia kedokteran yang dapat dilakukan tanpa persetujuan pasien.12
Lebih lanjut dalam Pasal 9 (5) disebutkan bahwa untuk kepentingan terkait
adanya ancaman KLB/wabah penyakit menular serta ancaman keselamatan orang
lain secara individual atau masyarakat, identitas pasien dapat dibuka kepada
institusi atau pihak yang berwenang untuk melakukan tindak lanjut sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor
HK.02.01/MENKES/199/2020 tentang Komunikasi Penanganan Coronavirus
Disease 2019 (COVID-19), dalam rangka kegiatan komunikasi pada saat wabah
khususnya pada wabah Covid-19 di Indonesia dibentuk Tim Komunikasi di
tingkat Pemerintah Pusat dan Daerah.17
1. Kegiatan Komunikasi Pemerintah Pusat.
1) Membentuk Tim Komunikasi.
2) Menunjuk Juru Bicara dari Kementerian Kesehatan yang memiliki artikulasi
dan kemampuan dalam menghadapi media.
3) Membuat media center.
4) Membuat website sebagai rujukan informasi utama.
5) Menyampaikan data harian nasional secara berkala melalui konferensi pers
(yang dilakukan HANYA oleh Juru Bicara COVID-19), rilis dan update di
website:
a. Jumlah dan sebaran, Orang dalam Pemantauan (ODP).
b. Jumlah dan sebaran, Pasien dalam Pengawasan (PDP).
c. Jumlah dan sebaran, pasien yang sudah dinyatakan sehat.
d. Jumlah dan sebaran, spesimen yang diambil.
e. Jumlah dan sebaran, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen.
6) Membuat produk komunikasi dan menyebarkan lnformasi lain tentang:
a. Penjelasan dasar mengenai apa COVID-19
b. Penjelasan Pencegahan wabah COVID-19.
c. Protokol penanganan dari Pasien Dalam Pengawasan sampai
dinyatakan sehat.
d. Kriteria Pasien dalam Pengawasan.
e. Tindakan terhadap Pasien dalam Pengawasan.
f. Penjelasan tentang karantina, dan karantina yang dapat dilakukan di
rumah.
g. Kriteria Orang dalam Pemantauan.
h. Protokol penanganan orang masuk dari negara berisiko dan pengawasan
di perbatasan.
i. Protokol WHO tentang penggunaan masker dan alat pelindung diri
yang digunakan.
j. Protokol komunikasi sekolah.
k. Kesiapan logistik dan pangan.
l. 132 rumah sakit rujukan penanganan COVID-19.
m. Penjelasan tentang pemeriksaan kesehatan beserta biaya yang
dibebankan.
n. Penjelasan virus mati dalam 5-15 menit.
o. Penjelasan detail tentang fasilitas HOTLINE Pemerintah Pusat: 119.
p. Penjelasan mengenai hoax dan disinformasi yang terjadi.

2. Kegiatan Komunikasi Pemerintah Daerah


1) Membentuk Tim Komunikasi yang diketuai oleh Pimpinan Daerah.
2) Menunjuk Juru Bicara dari Dinas Kesehatan yang memiliki artikulasi dan
kemampuan dalam menghadapi media.
3) lnformasi berikut dapat disampaikan setelah mendapat persetujuan dari
Pemerintah Pusat, dan HANYA disampaikan oleh Juru Bicara COVID19
Pemerintah Daerah:
a. Jumlah dan sebaran, Orang Dalam Pemantauan (ODP) khusus di daerah
tersebut.
b. Jumlah dan sebaran, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) khusus di daerah
tersebut.
c. Jumlah dan sebaran, pasien yang sudah dinyatakan sehat khusus di
daerah tersebut.
d. Jumlah dan sebaran, spesimen yang diambil khusus di daerah tersebut
e. Jumlah dan sebaran, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen
khusus di daerah tersebut.
f. Data dan identitas pasien tidak disebarluaskan ke publik.
4) Juru Bicara dari tingkat Provinsi dapat mengumumkan informasi yang
disebut di nomor 3 di atas pada tingkat provinsi masing-masing.
5) Juru Bicara dari tingkat kab/kota dapat mengumumkan informasi yang
disebut di nomor 3 di atas pada tingkat kab/kota masing-masing.
6) Menggunakan materi yang telah dikembangkan oleh Pemerintah Pusat
(Kementerian Kesehatan dan Kementerian Komunikasi dan lnformasi)
untuk dapat disebarluaskan di daerah masing-masing:
a. Penjelasan dasar mengenai apa COVID-19
b. Penjelasan Pencegahan wabah COVID-19.
c. Protokol penanganan dari pasien dalam Pengawasan sampai d
inyatakan sehat.
d. Kriteria Pasien dalam Pengawasan.
e. Tindakan terhadap Pasien dalam Pengawasan.
f. Penjelasan tentang karantina dan karantina yang dapat dilakukan di
rumah.
g. Kriteria Orang dalam Pemantauan.
h. Protokol penanganan orang masuk dari negara berisiko dan pengawasan
di perbatasan.
i. Protokol WHO tentang penggunaan masker dan alat pelindung diri
yang digunakan.
j. Protokol komunikasi sekolah.
k. Kesiapan logistik dan pangan.
l. 132 rumah sakit rujukan penanganan COVID-19.
m. Penjelasan tentang pemeriksaan kesehatan beserta biaya yang
dibebankan.
n. Penjelasan virus mati dalam 5-15 menit.
o. Penjelasan detail tentang fasilitas HOTLINE Pemerintah Pusat: 119.
p. Penjelasan mengenai hoax dan disinformasi yang terjadi.
7) Seluruh pimpinan daerah di tingkat provinsi dan kab/kota dihimbau untuk
mensosialisasikan informasi yang disebutkan di nomor 6 di atas kepada
seluruh lapisan masyarakat, dengan dipandu oleh Dinas Kesehatan
setempat, dan menggunakan narasi-narasi yang disiapkan di website rujukan
Kementerian Kesehatan.
8) Pemerintah Daerah dapat membuat produk komunikasi sesuai dengan data
dan kebutuhan daerah masing-masing.

2.3.3 Pelaku Pembukaan Rahasia Kedokteran


Pihak-pihak yang disebutkan dapat membuka atau mengungkapkan
rahasia kedokteran menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 36 Tahun 2012
Pasal 10 diantaranya penanggung jawab pelayanan pasien, ketua tim yang
berwenang apabila ditangani secata tim, atau jika berhalangan dapat dilakukan
oleh salah satu anggota yang ditunjuk oleh ketua tim. Dalam hal penanggung
jawab pelayanan pasien tidak ada maka pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan
dapat membuka rahasia kedokteran. Penanggung jawab pelayanan pasien atau
pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dapat menolak membuka rahasia
kedokteran apabila permintaan tersebut bertentangan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

2.3.4 Pembukaan Rahasia Kedokteran oleh Rumah Sakit ke Media Massa


Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang
disebutkan dalam pasal Pasal 4 Peraturan Menteri kesehatan No. 36 Tahun 2012
di mana memiliki kewajiban menyimpan rahasia kedokteran. Selain itu, pasal 38
Undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit menyebutkan keharusan
yang sama. Dalam pasal 44 disebutkan bahwa Rumah Sakit dapat menolak
mengungkapkan segala informasi kepada publik yang berkaitan dengan rahasia
kedokteran. Pasien dan/atau keluarga yang menuntut Rumah Sakit (dalam Pasal
13 PMK No. 36 Tahun 2012 menyebutkan tenaga kesehatan dan/fasilitas
pelayanan kesehatan) dan menginformasikannya melalui media massa, dianggap
telah melepaskan hak rahasia kedokterannya kepada umum.
Penginformasian kepada media massa memberikan kewenangan kepada Rumah
Sakit (tenaga kesehatan dan/fasilitas pelayanan kesehatan) untuk mengungkapkan
rahasia kedokteran yang bersangkutan sebagai hak jawab.
BAB III

PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Rahasia medis merupakan data dan informasi tentang kesehatan seseorang yang
diperoleh tenaga kesehatan pada waktu menjalankan pekerjaannya, yang merupakan hak
pasien untuk dirahasiakan oleh tenaga kesehatan. Namun, dalam suatu kondisi tertentu seperti
KLB / wabah penyakit menular yang dapat mengancam keselamatan orang lain secara
individual atau masyarakat, rahasia medis beserta identitas pasien dapat dibuka kepada
institusi atau pihak yang berwenang untuk melakukan tindak lanjut dengan menyesuaikan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

1.2 Saran
Untuk penerapan pembukaan rahasia medis di saat wabah, kami memberikan saran:
1. Pada pembukaan rahasia medis di saat wabah, walaupun diperbolehkan untuk dibuka
tanpa persetujuan pasien, tetap diperlukan untuk menginformasikan kepada pasien
bahwa rahasia medisnya akan dibuka disertai dengan edukasi mengenai kepentingan
pembukaan rahasia medis tersebut supaya tidak terjadi kesalahpahaman.
2. Rahasia medis harus disampaikan dengan keadaan yg tepat sesuai peraturan
perundangan, disampaikan oleh dan pada institusi yg sah menurut perundangan.
3. Pembukaan rahasia medis di saat wabah harus dilakukan dengan mempertimbangkan
prinsip moral dan kode etik yang berlaku.