Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

KRISIS HIPERTENSI

STASE KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

Oleh:
Widya Aprinika Sari, S.Kep
NPM 2014901110093

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
2021
LAPORAN PENDAHULUAN
KRISIS HIPERTENSI
A. Definisi
Krisis hipertensi ditandai dengan peningkatan darah akut dan sering berhubungan dengan gejala
sistemik yang merupakan konsekuensi dari peningkatan darah tersebut.
Hipertensi urgency (mendesak) merupakan situasi terkait peningkatan TD yang berat pada kondisi
klinis stabil tanpa adanya perubahan akut atau ancaman kerusakan organ target atau disfungsi
organ. Pada keadaan ini tekanan darah harus segera diturunkan dalam 24 jam dengan memberikan
obat-obatan anti hipertensi oral.
Hipertensi emergency (darurat) adalah peningkatan darah sistolik >180 mmHg dan diastolic >120
mmHg secara mendadak disertai kerusakan organ target dengan penanganan sesegera mungkin
dalam satu jam dengan obat-obatan intavena.

B. Pathway
C. Tatalaksana Pasien dengan Krisis Hipertensi

PENGKAJIAN
ETIOLOGI Anamnesis:
- Penyakit Parenkim Ginjal
Infeksi ginjal karena bakteri
- Riwayat HT (awitan, durasi, pengoatan anti-HT
Peradangan pada glomerulus sebelumnya)
- Penyakit Vaskular pada Ginjal - Riwayat obat-obatan (pengguna steroid, esterogen)
Penyempitan Arteri Renalis - Riwayat sosial (merokok, minum alcohol, kehamilan)
Peradangan pembuluh darah arteri - Riwayat penyakit keluarga
- Obat-obatan Pemeriksaan Fisik:
Penghentian tiba-tiba obat obatan agonis alfa-2 adrenergik - Pemeriksaan fisik dilakukan sesuai dengan kecurigaan
yang bekerja sentral seperti clonidine dan metildopa organ target yang terkena berdasarkan anamnesis
Masuknya obat simpatomimetik (kokain, dll)
- Pengukuran peningkatan tekanan darah
Interaksi dengan obat MAO-Inhibitor (phenilzine,
selegiline)
- Kehamilan
Eklampsia/pre-eklampsi berat
- Pemeriksaan
Endokrin Penunjang: Komplikasi :
Feokromositoma Aldosteronisme primer (tumor) a. Jantung
1. Darah perifer lengkap
Kelebihan hormone glukokortikoid b. Gagal jantung kongestif
2. Urinalisis
Tumor yang mensekresikan rennin
3. EKG c. Stroke
- Kelainan Sistem Saraf Pusat
4. CT Scan d. Gangguan penglihatan
Stroke hemoragik
5. MRI
Cedera Kepala e. Ginjal
6. Foto thoraks
PENATALAKSANAAN UMUM HT URGENCY

Manajemen penurunan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi urgensi tidak membutuhkan obat-
obatan parenteral. Pemberian obat-obatan oral aksi cepat akan memberi manfaat untuk menurunkan
tekanan darah dalam 24 jam awal Mean Arterial Pressure (MAP) dapat diturunkan tidak lebih dari 25%.
Pada fase awal standard goal penurunan tekanan darah dapat diturunkan sampai 160/110 mmHg.
Penggunaan obat-obatan anti-hipertensi parenteral maupun oral bukan tanpa risiko dalam menurunkan
tekanan darah. Pemberian loading dose obat oral anti-hipertensi dapat menimbulkan efek akumulasi dan
pasien akan mengalami hipotensi saat pulang ke rumah. Optimalisasi penggunaan kombinasi obat oral
merupakan pilihan terapi untuk pasien dengan hipertensi urgensi.

OBAT-OBATAN SPESIFIK UNTUK HT URGENCY:

OBAT-OBATAN SPESIFIK UNTUK HT EMERGENCY


Nyeri Akut Penurunan Curah Jantung Risiko Ketidakefektifan Perfusi
NOC: NOC: Jaringan Cerebral
Setela dilakukan tindakan keperawatan selama Setelah dilakukan tindakan keperawatan NOC:
16-30 menit, nyeri dapat berkurang dengan selama 1x24 jam, masalah dapat diatasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan
kriteria hasil: dengan kriteria hasil: selama 1x24 jam, masalah dapat berkurang
1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab atau dapat diatasi dengan kriteria hasil:
1. Berpartisipasi dalam aktivitas yang
nyeri, mampu menggunakan tekhnik non 1. TD dalam batas normal, tidak ada
menurunkan TD
farmakologi untuk mengurangi nyeri) keluhan sakit kepala, pusing, nilai-
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang 2. Mempertahankan TD dalam rentang
nilai laboratorium dalam batas
3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, yang dapat diterima
normal.
frekuensi dan tanda nyeri) 3. Memperlhatkan irama dan frekuensi
2. Haluaran urin 30 ml/ menit
4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri jantung stabil
berkurang 3. TTV dalam batas normal
NIC NIC NIC
Manajemen Nyeri 1. Pantau TD, ukur pada kedua tangan, 1. Pertahankan tirah baring
1. Observasi tanda-tanda vital gunakan manset dan tehnik yang tepat 2. Tinggikan kepala tempat tidur,
2. Manajemen nyeri – ajarkankan teknik posisikan head up
2. Catat keberadaan, kualitas denyutan
relaksasi dan distraksi 3. Kaji tekanan darah saat masuk pada
3. Atur posisi yang nyaman untuk klien sentral dan perifer
3. Amati warna kulit, kelembaban, suhu kedua lengan, tidur, duduk dengan
4. Kolaborasi pemberian Analgesik.
dan masa pengisian kapiler pemantau tekanan arteri jika tersedi
4. Catat edema umum 4. Ambulasi sesuai kemampuan, hindari
5. Berikan lingkungan tenang, nyaman, kelelahan
kurangi aktivitas, batasi jumlah 5. Amati adanya hipotensi mendadak
pengunjung. 6. Pertahankan cairan dan obat – obatan
6. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti sesuai program
istirahat ditempat tidur/ kursi 7. Pantau elektrolit, BUN, kreatinin
7. Bantu melakukan aktivitas perawatan sesuai program
diri sesuai kebutuhan
8. Lakukan tindakan yang nyaman spt
pijatan punggung dan leher,
meninggikan kepala tempat tidur.
9. Pantau respon terhadap obat untuk
mengontrol tekanan darah
10. Berikan pembatasan cairan dan diit
natrium sesuai indikasi
11. Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan
sesuai indikasi
DAFTAR PUSTAKA

Devicaesaria, Asnelia. Hipertensi Krisis. Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo. Medicinus Vol. 27, No.3, Desember 2014.

Zampagniole B, Pascale C, Marchisio M, et al. Hypertensive urgencies and emergencies. Prevalence


and clinical presentation. Hypertension. 1996;27:144-7.

Sutters, M. Systemic Hypertension dalam Papadakis M, McPhee S, Rabow M. Current Medical


Diagnosis and Treatment 55th edition. 2016. McGraw-Hill Education

Banjamasin, 20 Mei 2021


Ners Muda,

Widya Aprinika Sari, S.Kep

Mengetahui,
Presptor Akademik

Hanura Aprilia, Ns., M.Kep

Anda mungkin juga menyukai