Anda di halaman 1dari 13

Persinggungan Politik dan Agama

Maulita Rindi Yuniardi


Universitas Sains Al-Qur’an
maulitarindi299@gmail.com

Abstrak

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis dan mendeskripsikan fenomena


persinggungan politik dan agama yang terjadi di Indonesia. Jenis penelitian yaitu studi
pustaka dengan mencari referensi dari berbagai sumber yaitu artikel penelitian atau jurnal,
buku, berita online dan sumber internet yang relevan sesuai topik kajian yang dianalisis
yaitu terkait persinggungan politik dan agama.teknik analisis data yaitu deskriptif dan
interpretasi. Hasil temuan penelitian yaitu politik dan agama saling berhubungan secara
sejajar antara satu dengan yang lainnya. Politik dan agama dapat terjadi persinggungan
tergantung dimana agama diposisikan dan campur tangannya dunia politik terhadap
eksistensi agama. Agama tidak boleh di bawa ke ranah politik serta tidak boleh menjadi
perbincangan ataupun perdebatan dalam ranah politik agar tidak terjadinya penistaan
agama oleh elit politik. Kasus penistaan Agama yang dilakukan oleh Gubernur Ahok dimana
dalam suasana politiknya ia telah menghina ayat suci Al-Qur’an khususnya surah Al-
Maidah ayat 51 yang merupakan kitab suci umat Islam demi kepentingan kekuasaan
politiknya. Berdasarkan hasil temuan nilai naskah yang didapatkan yaitu politik dan agama
harus saling menghormati. Politik dan agama dapat hidup berdampingan dan beriringan
secara harmonis dengan simbiosis mutualisme tanpa melakukan perlawanan antara satu
dengan yang lainny.

Kata kunci: agama, persinggungan, penistaan, politik

1
Intersection of Politics and Religion

Maulita Rindi Yuniardi


University of Sains Al-Qur’an
maulitarindi299@gmail.com

Abstract

The purpose of this study is to analyze and describe the phenomenon of the intersection of
politics and religion that occurs in Indonesia. This type of research is literature study by
references from various sources, namely research articles or journals, books, online news
and relevant internet sources according to the study topic being analyzed, namely related to
the intersection of politics and religion. Data analysis techniques are descriptive and
interpretation. The results of the research findings are that politics and religion are parallel
to one another. Politics and religion can collide depending on where religion is positioned
and the political world interferes with the existence of religion. Religion must not be brought
into the political realm and may not become a conversation or debate in the political realm
so that there is no blasphemy by the political elite. The case of religious blasphemy
committed by Governor Ahok where in his political atmosphere he had insulted the holy
verses of the Al-Qur'an, especially Surah Al-Maidah verse 51 which is the holy book of
Muslims for the benefit of his political power. Based on the findings, the value of the text
obtained is that politics and religion must respect each other. Politics and religion can live
side by side and side by side in harmony with a symbiotic mutualism without fighting one
another.

Keywords: religion, contact, blasphemy, politics

Pendahuluan / Latar Belakang

Agama dan politik memiliki wilayah kajian atau kekhasan yang berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Akan tetapi secara fungsional, politik dan agama sama-sama
mengemban peran sosial sebagai suatu entitas kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa agama sebagai suatu kepercayaan yang dianut oleh
setiap insan manusia sebagai simbol religi yang didalamnya terdapat suatu ajaran-ajaran
sebagai pedoman hidup bagi manusia secara individu maupun dalam sosial masyarakat
sehingga dengan ini dapat dikatakan bahwa Agama menjadi suatu pedoman sebagaii
penjaga aturan secara religius dalam kehidupan manusia. Disisi lain, politik merupakan
suatu hubungan yang berkaitan dengan pemimpin dan kekuasaan dalam suatu

2
pemerintahan dimana didalamnya terkandung regulasi atau kebijakan yang berfungsi
mengatur kehidupan sosial warga masyarakat dalam kegiatan berbangsa dan bernegara.

Dalam arena perpolitikan Indonesia, antara agama dan politik sering terjadi
ketegangan-ketegangan atau bahkan mengarah ke permusuhan karena terjadinya penistaan
agama yang dilakukan olek oknum pejabat politik yang baik secara sengaja maupun tidak
disengaja melontarkan kata-kata yang dapat merendahkan suatu agama tertentu demi
kepentingan politiknya. Beberapa kejadian terkait kasus persinggungan antara politik dan
agama yaitu kasus penistaan agama khususnya penistaan terhadap agama Islam.

Marzena Romanowska melalui tesisnya yang berjudul “Offences as a Political Tool”


mengatakan bahwa agama sering digunakan oleh suatu kelompok dalam negara untuk
kepentingan tertentu. Selanjutnya Sylvia Tamale (2012) menambahkan bahwa suatu negara
yang tidak membatasi kebebasan berpendapat dan pelanggaran terhadap agama maka
agama akan dapat masuk dalam dunia politik terlebih lagi jika negara tersebut tidak
memisahkan antara kebebasan beragama dan dunia politik.

Adanya penistaan agama khususnya penistaan terhadap agama Islam yang dilakukan
oleh oknum pejabat politik demi kepentingan politiknya maka hal ini tentu saja mayoritas
penduduk Indonesia yang beragama Islam menjadi tidak terima serta menuntut keadilan
yang setinggi-tingginya agar pejabat politik yang melakukan penistaan terhadap agama
Islam agar dapat dihukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut pada jurnal ini akan menganalisis
mengenai persinggungan antara politik dan agama dimana agama yang difokuskan pada
kajian yaitu agama Islam. Pertanyaan penelitian yaitu bagaimanakah proses terjadinya
persinggungan antara politik dan agama khususnya agama Islam di kancah perpolitikan
Indonesia?. Adapun asumsi utama atau hipotesis yang dapat dirumuskan yaitu
persinggungan antara politik dan agama khususnya agama islam dapat terjadi ketika oknum
pejabat politik melakukan penistaan terhadap agama Islam demi kepentingan politiknya.

Tinjauan Literatur
Literatur yang digunakan yaitu berdasarkan kajian Mathias Daven (2013)
dengan judul Agama dan Politik – Hubungan yang Ambivalen Dialog Versus
“Benturan Peradaban”?. Berdasarkan kajian diketahui bahwa agama dan politik
merupakan satu kesatuan. Ambivalensi agama terlihat pada konflik politik dimana
3
agama dapat dengan mudah masuk dan menjadi instrumen dalam kondisi krisis
untuk tujuan atau kepentingan politik tertentu. Hal ini mengakibatkan konflik agama
yang disebabkan akibat instrumentalisasi politik politis. Konflik akan semakin
memanas apabila elit politik menggunakan simbol-simbol agama yang
menggambarkan kondisi eksploitasi agama untuk kepentingan politik mereka sendiri.

Metode
Jenis penelitian yaitu studi pustaka atau studi literatur (library research).
Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi
penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan dan laporan-
laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir, 2014).

Pada penelitian ini bersifat kepustakaan atau telaah pustaka yang


dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya tertumpu pada
penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan
dengan pengkajian mengenai konsep dan teori yang digunakan berdasarkan literatur
yang tersedia, terutama dari artikel-artikel yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal
ilmiah.

Kajian pustaka berfungsi untuk membangun konsep atau teori yang menjadi
dasar studi dalam penelitian. Selanjutnya Sutrisno Hadi (2001) menambahkan bahwa
studi kepustakaan merupakan langkah yang penting, dimana setelah seorang peneliti
menetapkan topik penelitian, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian yang
berkaitan dengan teori topik penelitian.

Metode penelitian berdasarkan studi kepustakaan dengan mencari referensi


dari berbagai sumber yaitu artikel penelitian atau jurnal, buku, berita online dan
sumber internet yang relevan sesuai topik kajian yang dianalisis yaitu terkait
persinggungan politik dan agama.

Teknik analisis data yaitu dengan teknik deskriptif dan interpretasi. Analisis
deskripsi dimaksudkan untuk menguraikan pembahasan secara deskriptif tentang
objek yang sedang diteliti. Analisis deskripsi merupakan salah satu unsur hakiki untuk
menemukan eidos pada suatu fenomena tertentu dalam hal ini yaitu fenomena
persinggungan politik dan agama. Sementara itu, analisis interpretasi mengandaikan

4
peneliti dapat menangkap pemahaman berupa arti, nilai, dan mampu mengungkap
maksud dari fenomena dan persoalan yang sedang diteliti (Bakker & Charris, 1990).

Bagian Inti / Diskusi / Hasil Penelitian

Politik dan agama tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Politik dan agama berisi
nilai-nilai serta aturan yang dapat memfungsikan tatanan masyarakat dimana dalam hal ini
politik dan agama dapat terjadi persinggungan tergantung dimana agama diposisikan dan
campur tangannya dunia politik terhadap eksistensi agama.

Ajaran agama menekankan pada keimanan, peribadatan serta moralitas dari suatu
individu, sedangkan politik menekankan pada kekuasaan dan kepemimpinan dalam sistem
pemerintahan. Dari sudut pandang intrinsik, maka secara sederhana agama adalah
keyakinan akan entitas spiritual sehingga dalam dunia politik agama tidak boleh dicampur
adukkan demi kepentingan politik. Agama tidak boleh di bawa ke ranah politik serta tidak
boleh menjadi perbincangan ataupun perdebatan dalam ranah politik. Agama cukup
digunakan sebagai keyakinan dan pedoman hidup setiap insan manusia dalam kehidupan
secara individual maupun secara sosial. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya
penyimpangan-penyimpangan dalam dunia perpolitikan yang berkaitan dengan agama serta
mencegah terjadinya penistaan dan penodaan agama.

Dalam kehidupan bernegara, kepolitikan tidak dapat terelakkan dimana setiap


kelompok ada yang dikuasai dan ada yang menguasai, ada yang memerintah dan yang
diperintah serta ada yang dipengaruhi dan mempengaruhi, itulah konteks politik. Politik
merupakan kebutuhan hidup menurut naluri manusiawi.

Secara khusus area kerja politik sebagai bagian dari pemerintahan terpisah dengan
agama sebagai bagian dari spiritualitas yang ditanamkan dalam lingkungan yang lebih kecil
yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat melalui tempat ibadah seperti masjid,
gereja, kuil, wihara dan tempat ibadah lainnya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran
agama tidak boleh disandingkan dengan politik kepentingan dimana segala sesuatu yang
berhubungan dengan agama hanya diselesaikan pada institusi keagamaan tersebut.

Berbanding terbalik dengan hal itu, setiap kebijakan politik atau segala aktivitas
politik dalam kegiatan pemerintahan harus didasarkan dan menghormati setiap ajaran
agama yang ada di Indonesia. Kekuasaan politik haruslah sejalan dengan tujuan syariat,
5
yaitu memelihara agama. Hal ini mengartikan bahwa jangan sampai kegiatan perpolitikan
atau regulasi sebagai produk politik dapat membahayakan atau berefek samping negatif
terhadap eksistensi suatu agama. Terguncangnya sistem agama dalam suatu pemerintahan
maka akan mengacaukan sistem ketatanegaraan.

Kegiatan perpolitikan dalam pemerintahan dapat dijaga oleh agama dimana dalam
hal ini agama berperan sebagai pengkritik kekuasaan politik yang telah melenceng. Posisi
agama sebagai pembentuk etika dan moral politik yang paling utama sesuai dengan
Pancasila sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Agama sebagai landasan filosofis
seluruh aktivitas perpolitikan.

Agama dapat melawan kekejaman, penyimpangan yang telah dilakukan oleh pejabat
politik karena perbuatan yang tentu saja bertentangan dengan ajaran agama. Berdasarkan
penyimpangan yang dilakukan oleh pejabat politik, agama dapat melakukan fungsi kritik
sosial sebagai sarana perubahan politik tatanan kekuasaan yang lebih baik.

Fenomena yang kerap terjadi di dunia perpolitikan Indonesia yaitu digunakannya


agama demi kepentingan politik. Menurut Irwan Ahmad Akbar (2019) bahwa penggunaan
agama sebagai alat politik dapat dilakukan karena nilai absolut dalam agama. Agama dilihat
sebagai kebenaran mutlak dan ada pemeluknya yang meyakini bahwa tidak ada ruang untuk
dialog. Hal ini kemudian menjadi alat yang digunakan dalam politik dan membatasi
kebebasan berpendapat.

Berdasarkan teori dari Stephen Tong (2012) mengenai agama dimana ia menyatakan
bahwa agama-agama setidaknya mempunyai lima hal yang sama. Pertama, semua agama
percaya bahwa manusia merupakan makhluk yang berdosa. Tanpa kepercayaan ini, agama
bukanlah agama. Kedua, semua agama percaya bahwa terdapat jalan keluar bagi dosa
manusia. Tanpa jalan keluar ini, manusia akan mati dalam kebinasaan. Ketiga, semua agama
percaya bahwa moralitas merupakan hal yang bernilai meskipun ukurannya tidak sama dan
standarnya berbeda-beda. Keempat, semua agama percaya setelah mati, manusia bukan
lenyap tapi terus ada. Kelima, semua agama percaya ada kuasa supranatural di atas
manusia.

Selanjutnya Agama Islam yang sangat erat hubungannya dalam politik dimana
dalam Islam sendiri Istilah politik dikenal dengan siyasah. Kata siyasah secara harfiah
memiliki arti: pemerintahan, pengambilan keputusan, pembuatan kebijakan, pengurusan,

6
pengawasan, perekayasaan, dan arti lain-lainnya. Sementara secara istilah siyasah adalah
“pengurusan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan syara’ (Dzajuli, 2003). Definisi
politik di atas pada intinya ingin mengambarkan bahwa Politik itu berkaitan dengan
kemahiran, menghimpun kekuatan, meningkatkan kuantitas dan kualitas kekuatan,
mengawasi dan menggunakan untuk mencapai tujuan tertentu di dalam negara dan
institut lainnya karena politik pada akhirnya ingin memenangkan pertarungan untuk
merealisasikan tujuan atau cita-cita politik (Ayi Sofyan, 2012). Stephen Tong (2012) juga
menyatakan bahwa aktivitas politik didasari oleh agama.

Menurut Amirullah (2015) agama Islam tidak bisa dipisahkan dari politik meskipun
Islam bukan agama politik. Meski demikian diskursus mengenai Islam dan politik tidak
berjalan datar tapi terus berkembang menjadi diskursus yang melahirkan banyak
khazanah pemikiran yang kemudian melahirkan perdebatan dan juga perbedaan cara
memahami hubungan Islam dengan politik.

Perpolitikan Indonesia juga pernah terjadi persinggungan dengan penistaan


terhadap agama Islam yang dilakukan oleh salah satu elite politik yaitu Basuki Tjahaja
Purnama atau lebih akrab disapa sebagai Ahok yang merupakan politikus asal Belitung. Ahok
memulai karier politiknya pada tahun 2004 dengan menyalonkan diri sebagai Caleg (calon
legislatif) tingkat kota di Belitung Timur dibawah naungan Partai Perhimpunan Indonesia
Baru (PPIB), dan kemudian terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode
i2004-2009. Selepas melalui perjalanan politik yang cukup panjang sejak 2004 silam, Ahok
kembali maju sebagai Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Joko Widodo.
Kemudian pada 14 November 2014, DPRD DKI Jakarta kembali memublikasikan pergantian
Gubernur (Ahok memutasikan Joko Widodo yang telah menjabat sebagai Presiden RI) (Maya
Permatasari, 2018).

Kasus ini terjadi pada tahun 2016 dimana Ahok yang saat itu masih menjabat sebagai
Gubernur DKI Jakarta sedang melakukan kunjungan kerja di Pulau Pramuka, Kepulauan
Seribu untuk meninjau Program Budi Daya Kerapu. Ahok mengatakan bahwa meskipun
dalam pemilihan Gubernur pada Februari 2017 semisal ia tidak terpilih menjadi Gubernur
maka program pemberdayaan budi daya kerapu tersebut akan terus berjalan. Selanjutnya
Ahok melontarkan kata-kata yang dalam hal ini telah menistakan agama Islam dengan
menyebut dibodohi oleh Almaidah ayat 51. Dilansir dari Portal Berita BBC News Indonesia
(2016) pernyataan yang dilontarkan Ahok yaitu sebagai berikut:

7
“Kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu, nggak pilih saya karena dibohongi
(orang) pakai Surat Al Maidah 51 macam-macam itu. Itu hak Bapak Ibu.
Kalau Bapak Ibu merasa nggak bisa pilih karena takut masuk neraka,
dibodohin, begitu, oh nggak apa-apa, karena ini panggilan pribadi Bapak Ibu.
Program ini (pemberian modal bagi budi daya kerapu) jalan saja. Jadi Bapak
Ibu nggak usah merasa nggak enak karena nuraninya nggak bisa pilih Ahok”.

Video pernyataan Ahok tersebut yang mengandung penghinaan terhadap ayat Al-
Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam tersebar secara luas dan mengundang
organisasi-organisasi Islam seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Ulama Indonesia (MUI)
dan organisasi Islam lainnya melaporkan kasus penistaan terhadap agama yang dilakukan
oleh Ahok selaku aktor politik dalam hal ini Gubernur DKI Jakarta. Majelis Ulama Indonesia
secara tegas telah mengambil sikap bahwa pernyataan Ahok demi kepentingan politisasi
telah menistakan Al-Qur’an dan menghina Ulama.

Akhirnya setelah gelar perkara maka Ahok kemudian ditetapkan oleh Kepolisian
Republik Indonesia sebagai tersangka dan dinyatakan bersalah dalam kasus penistaan
agama meskipun sebelumnya Ahok telah memberikan klarifikasi bahwa ia tidak bermaksud
melecehkan siapapun khususnya kitab suci umat muslim dimana dalam hal ini Ahok
meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan.

Pasal 1 UU Penodaan Agama menyatakan bahwa Setiap orang dilarang dengan


sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengesahkan dukungan umum,
untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau
melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan
dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran
agama itu.

Berdasarkan bunyi pasal 1 UU Penodaan Agama tersebut jika dikaitkan dengan


fenomena yang terjadi dimana Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta yang notabene nya
adalah beragama kristen dan tidak mengetahui seluk beluk ajaran agama Islam bahkan
tafsiran ayat-ayat Al-Quran secara menyeluruh, maka tidak sepantasnya ia melakukan
penafsiran pada surah Al-Maidah ayat 51 secara sepihak terlebih lagi ia bukanlah ahli tafsir
atau ahli kitab serta bukanlah ulama yang memiliki krediblitas dalam menafsirkan setiap
ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik dan benar. Berdasarkan hal ini maka dapat dikatakan

8
bahwa Ahok sebagai seorang penganut agama Kristen tidak berhak mengulas ataupun
menafsirka serta membicarakan ayat suci dari kitab selain kitab agamanya.

Pernyataan Ahok sebagai aktor politik yang sedikit menyinggung pemilihan


Gubernur 2017 dan dikaitkan dengan ayat Al-Qur’an yang merupakan kitab suci Al-Qur’an
dengan pernyataan di bohongi dengan Surah Al-Maidah ayat 51. Perlu diketahui bahwa arti
surah Al-Maidah ayat 51 yaitu

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang


Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia (mu); mereka satu sama lain saling
melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman
setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”

Pernyataan Ahok tersebut sangat berhubungan dengan fenomena politik karena


pada bulan Februari 2017 akan ada pemilihan Gubernur dimana Ahok merasa tidak
keberatan apabila para penerima program pemberdayaan budi daya kerapu di Pulau
Pramuka tersebut tidak memilihnya karena ia beragama kristen dimana berdasarkan surah
Al-Maidah ayat 51 dikatakan bahwa umat muslim yang beriman dilarang untuk menjadikan
orang Nasrani sebagai pemimpin. Hal itulah yang menyebabkan Ahok dapat berkata kepada
warga ayat tersebut sangat membohongi.

Berdasarkan realita serta fakta lapangan yang terjadi dimana dalam perjalanan
politik Ahok dalam pilkada Bupati Belitung Timur hingga terpilih sebagai Bupati Belitung
Timur, ia selalu mendapat lawan politik yang sering menggunakan surat al-Maidah ayat 51
sebagai bahan kampanye untuk menolak pemimpin non-Muslim. Hingga saat ia dilantik
menjadi Gubernur DKI Jakarta serta menjelang pilkada DKI 2017 juga banyak lawan politik
yang memakai surat al-Maidah ayat 51 untuk menolak atau tidak memilih pemimpin yang
non-Muslim.

Pernyataan dibohongi pakai surah Al-Maidah ayat 51 yang dilontarkan oleh Ahok
tersebut sudah secara jelas telah menghina Al-Qura’an sebagai kitab suci agama Islam serta
menghina keputusan warga yang tidak memilihnya dalam pemilihan Gubernur 2017
mendatang karena memegang teguh ajaran dalam surah Al-Maidah ayat 51.

Penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok dalam suasana perpolitikan jelas
melanggar Pancasila sebagai pedoman dalam bertingkah laku khususnya yaitu pelanggaran
9
terhadap sila pertama ‘Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
bersinggungan dengan nilai-nilai agama dimana sebagai dasar Negara, Pancasila digunakan
untuk mengatur seluruh tatanan kehidupan bangsa dan juga negara Indonesia, segala
sesuatu yang hubungannya dengan pelaksanaan sistem ketatanegaraan Negara kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) yang wajib atau harus berdasarkan Pancasila (Rohmatul Izad,
2017).

Sikap Ahok yang diduga menistakan agama sangat berhubungan dengan nilai
ketuhanan. Pancasila yang menjadi dasar negara sudah menegaskan bahwa kesadaran akan
ketuhanan telah menjadi esensi terdalam dari Bangsa Indonesia. Dengan demikian, apabila
ada seseorang yang telah menistakan agama baik secara sengaja ataupun tidak sengaja,
orang tersebut telah melanggar nilai ketuhanan.

Larangan menistakan agama diatur dalam Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 tentang


Pencegahan Penyalahgunaan dan Pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang
Penodaan Agama. Berdasarkan fenomena penistaan agama yang dilakukan oleh elit politik
Gubernur DKI Jakarta ‘Ahok” pasal yang bisa menjerat Ahok adalah Pasal 156a KUHP, yang
berbunyi “Dipidana dengan penjara selamalamanya 5 tahun barang siapa dengan sengaja
di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: yang pada pokoknya
bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut
di Indonesia” (Rohmatul Izad, 2017).

Kegaduhan dengan menistakan agama dalam suasana politik oleh Ahok


mempengaruhi kehidupan masyarakat terutama kehidupan umat beragama. Ketegangan
yang terjadi ditengah kehidupan beragama berakibat negatif terhadap pembangunan
bangsa.

Setiap ajaran agama harus disikapi dengan menghormati ajaran tersebut tanpa
merendahkan apalagi demi kepentingan politik. Hal inilah yang menjadi suatu pertimbangan
bahwa kegiatan perpolitikan tidak boleh mencampur adukakan dengan agama terlebih
dengan menghina agama serta unsur-unsur yang berkaitan dengan agana. Berdasarkan hal
ini dapat dikatakan bahwa ternyata politik juga dapat mengintimidasi, melawan, dan
menghancurkan agama.

Hal ini tentu saja perlu dihindari dan dalam hal ini Pemerintah selaku penguasa
dalam sistem pemerintahan perlu bersikap netral serta menjunjung tinggi hukum yang

10
berlaku sehingga jika terjadinya kasus penistaan agama yang dilakukan oleh elit politik
sebagai kasus persinggungan antara politik dan agama maka posisi Pemerintah harus
menegakan keadilan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Politik dan agama harus saling menghormati. Politik dan agama dapat hidup
berdampingan dan beriringan secara harmonis dengan simbiosis mutualisme tanpa
melakukan perlawanan antara satu dengan yang lainnya dimana politik memberi jaminan
proteksi keamanan masyarakat agama, sementara agama memberi “legitimasi teologis”
untuk melanggengkan kekuasaan politik. Politik dan agama berhubungan secara sejajar,
saling melengkapi dan saling menguntungkan sehingga perpecahan antara elit politik dan
kalangan pembela agama dapat terelakkan dan keamanan serta kedamaian Negara Republik
Indonesia dapat terciptakan secara sempurna.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa persinggungan antara


politik dan agama yang terjadi di Indonesia disebabkan karena elit politik demi kepentingan
politiknya menyisipkan pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan agama misalnya
dengan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam orasi politiknya. Hal ini dapat dilihat pada
contoh kasus penistaan Agama yang dilakukan oleh Gubernur Ahok dimana dalam suasana
politiknya ia telah menghina ayat suci Al-Qur’an khususnya surah Al-Maidah ayat 51 yang
merupakan kitab suci umat Islam.

Saran yang dapat penulis rekomendasikan untuk penelitian selanjutnya yaitu


perlunya kajian yang lebih mendalam dengan mengangkat tema persinggungan antara
politik dan agama dengan contoh kasus yang berbeda dengan yang telah dikaji pada
penelitian ini.

Daftar Pustaka / Referensi / Bibliografi

Jurnal:

Amirullah. (2015). Hubungan Islam dan Politik di Indonesia SertaImplikasinya Terhadap


Pendidikan Islam. Jurnal Ilmiah “Kreatif”, 2(12), 1-17

11
Irwan Ahmad Akbar. 2019. Dinamika Kasus Penistaan Agama di Indonesia (Polemik
Pemaknaan Ayat-Ayat Penistaan dan UU Penodaan Agama). Jurnal QOF, 1(3), 89-
105

Mathias Daven. (2013). Agama dan Politik – Hubungan yang Ambivalen Dialog Versus
“Benturan Peradaban”?. Jurnal Ledalero, 2(12), 198-2019

Maya Permatasari. (2018). Konstruksi Realitas Dalam Pemberitaan Isu Penistaan Agama
(Analisis Framing Berita Penistaan Agama oleh Basuki Tjahaja Purnama Pada
Media Cetak Solopos dan Republika). Publikasi Ilmiah, 1(1), 1-21

Rohmatul Izad. (2017). Fenomena Penistaan Agama dalam Perspektif Islam dan Filsafat
Pancasila (Studi Kasus terhadap Demo Jilid II pada 04 November 2016). Jurnal
Penelitian Agama dan Masyarakat, 191, 171-189

Stephen Tong. (2012). Hubungan Agama dan Politik: Suatu Refleksi Teologis-Kultural.
Societas Dei, 1(1), 8-34

Sylvia Tamale. (2012). Exploring The Contours Of African Sexualities: Religion, Law And
Power. African Human Rights Law Journal, 1(14), 150-177.

Buku:

Ayi Sofyan. (2012). Etika Politik Islam. Bandung: Pustaka Setia

Bakker, Anton & Ahmad Charris Zubair. (1990). Metode Penelitian Filsafat. Yogyakarta:
Kanisius

Dzajuli. (2003). Fiqh Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-Rambu


Syari’ah. Jakarta: Kencana

Nazir. (2014). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia

Sutrisno Hadi. (2001). Metodologi Research. Yogyakarta:Andi Offiset

12
Surat Kabar Online:
Reffy Maulana. (2016). Pidato di Kepulauan Seribu dan Hari-hari hingga Ahok menjadi
tersangka. BBC News Indonesia. Diakses 16 Januari 2021, dari
bbc.com/indonesia/indonesia-37996601

13