Anda di halaman 1dari 8

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

KELENJAR TIROID

Dosen :

Atik Setiawan Wahyuningsih, S.Kep.,Ns.,M.Kep

Disusun oleh :

Sely Febriandani Ichwanti (1711B0067)

Semester 4B

PROGAM STUDI ILMU PENDIDIKAN NERS

STIKes Surya Mitra Husada

Kediri

2019
1. Jelaskan mengenai gangguan tiroid

Masalah umum yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon tiroid dalam


tubuh. Masalah yang terjadi ketika kelenjar tiroid menjadi kurang aktif (hipotiroid).
Kondisi kelenjar ini pada dasarnya berbentuk kupu-kupu kecil yang ditemukan di
depan leher. Kelenjar tiroid tidak esensial bagi kehidupan, tetapi ketiadaannya
menyebabkan perlambatan perkembangan mental dan fisik, berkurangnya daya tahan
terhadap dingin, serta pada anak-anak timbul retardasi mental dan kecebolan.
Sebaliknya, sekresi tiroid yang berlebihan menyebabkan badan menjadi kurus,
gelisah, takikardia, tremor, dan kelebihan pembentukan panas.

Fungsi tiroid diatur oleh hormone perangsang tiroid dari hipofisis anterior.
Sebaliknya, sekresi hormone ini sebagian diatur oleh umpan balik inhibitorik
langsung kadar hormontiroid yang tinggi pada hipofisis serta hipotalamus dan
sebagian lagi melalui hipotalamus. Dengan cara ini, perubahan-
perubahan pada hipofisis serta hipotalamus dan sebagian lagi melalui hipotalamus.

2. Bagaimana pemeriksaan fisik dan pembacaan hasil pemeriksaan gangguan


tiroid
Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi :
 Adanya benjolan di leher depan atau lateral
 Bila terlihat sesak, waspada adanya penekanan pada trakea
b) Palpasi :
 Benjolan kita palpasi, kalau dari tiroid maka pada waktu menelan akan
ikut ke atas.
 Pada tumor primer dapat berupa suatu nodul soliter atau multipel
dengan konsistensi bervariasi dari kistik sampai dengan keras
bergantung dari jenis patologi anatominya tetapi biasanya massa yang
merupakan suatu karsinoma berukuran > 4 cm dengan konsistensi
keras dan tidak bisa digerakkan dari dasarnya.
 Bila kelenjar besar sekali tetapi belum terlihat gejala sesak napas, kita
bisa tetap curiga ada tidaknya penekanan pada trakhea, caranya dengan
menekan lobus lateral kelenjar maka akan timbul stridor akibat
penekanan pada trakea.
 Ada tidaknya pembesaran KGB regional secara lengkap.
 Ada tidaknya benjolan pada tulang belakang, clavicula, sternum serta
tempat metastase jauh lainnya di paru, hati, ginjal dan otak.

Meskipun keganasan dapat saja terjadi pada nodul yang multiple, namun pada
umumnya pada keganasan nodulnya biasanya soliter dan konsistensinya keras sampai
sangat keras. Yang multiple biasanya tidak ganas kecuali apabila salah satu dari nodul
tersebut lebih menonjol dan lebih keras dari pada yang lainnya. Nodul soliter pada
tiroid kemungkinan ganasnya 15-20%, sedangkan nodul multipel mempunyai
kemungkinan 5%. Apabila suatu nodul nyeri pada penekanan dan mudah digerakkan,
kemungkinannya ialah suatu perdarahan ke dalam kista, suatu adenoma atau tiroditis.
Tetapi kalau nyeri dan sukar digerakkan kemungkinan besar suatu karsinoma.

Nodul yang tidak nyeri, apabila multiple dan bebas dan digerakan mungkin ini
merupakan komponen struma difus atau hyperplasia tiroid. Namun apabila nodul
multiple tidak nyeri tetapi tidak mudah digerakkan ada kemungkinan itu suatu
keganasan. Adanya limfadenopati mencurigakan suatu keganasan dengan anak sebar.

Dari suatu penelitian yang dilaksanakan di Subbagian Bedah Onkologi tentang


tanda-tanda klinis kecurigaan pada keganasan dengan ketepatan sebesar 82,6 % untuk
keadaan :

 Batas nodul yang tidak tegas


 Nodul dengan konsistensi keras
 Nodul disertai pembesaran kelenjar getah bening leher
 Letak nodul di isthmus
 Permukaan nodul yang berbenjol (tidak rata)

Pemeriksaan Penunjang

Menurut Smeltzer dan Bare(2002) terdapat beberapa jenis pemeriksaan


penunjang yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi
masalah pada kelenjar tiroid.
1) Test  T4 serum
Test yang paling sering dilakukan adalah penentuan T4 serum dengan
tekhnik radioimunoassay atau  pengikatan kompetitif nilai normal berada
diantara 4,5 dan 11,5 µg/dl ( 58,5 hingga 150 nmol/L) dan terjadi
peningkatan pada krisis tiroid.
2) Test T3 serum
Adalah test yang mengukur kandungan T3 bebas dan terikat, atau T3 total
dalam serum dengan batas normal adalah 70 hingga 220 µg/dl ( 1,15 hingga
3,10 nmol/L) dan meningkat pada krisis tiroid.
3) Test T3 Ambilan Resin
Merupakan pemeriksan untuk mengukur secara tidak langsung kadar TBG
tidak jenuh. Tujuannnya adalah untuk menentukan jumlah hormon tiroid
yang terikat dengan TBG dan jumlah tempat pengikatan yang ada. Nilai
Ambilan Resin T3 normal adal 25% hingga 35% ( fraksi ambilan relatif :
0,25 hingga 0,35 ) yang menunjukan bahwa kurang lebih sepertiga dari
tempat yang ada pada TBG sudah ditempati oleh hormone tiroid. Pada krisis
tiroid biasanya terjadi peningkatan.
4) Test TSH (Thyroid – Stimulating Hormone)
Pengukuran konsetrasi TSH serum sangat penting artinya dalam menegakkan
diagnosis serta penatalaksanaan kelainan tiroid dan untuk membedakan
kelainan yang disebabkan oleh penyakit pada kelenjar tiroid sendiri dengan
kelainan yang disebabkan oleh penyakit pada hipofisis atau hipothalamus.
5) Test Thyrotropin_Releasing Hormone
Merupakan cara langsung untuk memeriksa cadangan TSH dihipofisis dan
akan sangat berguna apabila hasil test T3 serta T4 tidak dapat dianalisa. Test
ini sudah jarang dikerjakan lagi pada saat ini, karena spesifisitas dan
sensitifitasnya meningkat.
6) Tiroglobulin
Tiroglobulin merupakan prekursor untuk T3 dan T4 dapat diukur kadarnya
dalam serum dngan hasil yang bisa diandalkan melalui pemeriksaan
radioimunnoassay. Pemeriksaan ini diperlukan untuk tindak lanjut dan
penanganan penderita karsinoma tiroid, serta penyakit tiroid metastatik.    

Melihat kondisi krisis tiroid merupakan suatu keadaan gawat medis maka
diagnosis krisis tiroid didasarkan pada gambaran klinis bukan pada gambaran
laboratoris. Jika gambaran klinis konsisten dengan krisis tiroid, terapi tidak boleh
ditunda karena menunggu konfirmasi hasil pemeriksaan laboratorium atas
tirotoksikosis. Kecurigaan  akan terjadinya krisis tiroid harus diketahui dengan jelas
oleh perawat. Kecurigaan akan terjadinya krisis tiroid terdapat dalam triad 1).
Menghebatnya tanda tirotoksikosis 2). Kesadaran menurun 3). Hipertermi. Apabila
terdapat tiroid maka dapat meneruskan dengan menggunakan skor indeks klinis
kritis tiroid dari Burch – Wartofsky. Skor menekankan 3 gejala pokok hipertermia,
takikardi dan disfungsi susunan saraf.
3. Bagaimana penatalaksanaan pasien gangguan tiroid
1. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medis pada krisis tiroid mempunyai 4 tujuan yaitu menangani
faktor pencetus, mengontrol pelepasan hormon tiroid yang berlebihan,
menghambat pelepasan hormon tiroid, dan melawan efek perifer hormon tiroid
(Hudak & Gallo, 1996).
Penatalaksanaan medis krisis tiroid meliputi:
a. Koreksi hipertiroidisme
1) Menghambat sintesis hormon tiroid
Obat yang dipilih adalah propiltiourasil (PTU)atau metimazol. PTU
lebih banyak dipilih karena dapat menghambat konversi T4 menjadi
T3 di perifer. PTU diberikan lewat selang NGT dengan dosis awal
600-1000 mg kemudian diikuti 200-250 mg tiap 4 jam. Metimazol
diberikan dengan dosis 20 mg tiap 4 jam, bisa diberikan dengan atau
tanpa dosis awal 60-100mg.
2) Menghambat sekresi hormon yang telah terbentuk
Obat pilihan adalah larutan kalium iodida pekat (SSKI) dengan dosis
5 tetes tiap 6 jam atau larutan lugol 30 tetes perhari dengan dosis
terbagi 4.
3) Menghambat konversi T4 menjadi T3 di perifer
Obat yang digunakan adalah PTU, ipodate, propanolol, dan
kortikosteroid.
4) Menurunkan kadar hormon secara langsung
Dengan plasmafaresis, tukar plasma, dialisis peritoneal, transfusi
tukar, dan charcoal plasma perfusion. Hal ini dilakukan bila dengan
pengobatan konvensional tidak berhasil.
5) Terapi definitif
Yodium radioaktif dan pembedahan (tiroidektomi subtotal atau
total).
b. Menormalkan dekompensasi homeostasis
1) Terapi suportif
a) Dehidrasi dan keseimbangan elektrolit segera diobati dengan
cairan intravena
b) Glukosa untuk kalori dan cadangan glikogen
c) Multivitamin, terutama vitamin B
d) Obat aritmia, gagal jantung kongstif
e) Lakukan pemantauan invasif bila diperlukan
f) Obat hipertermia (asetaminofen, aspirin tidak dianjurkan karena
dapat meningkatkan kadar T3 dan T4)
g) Glukokortikoid
h) Sedasi jika perlu
2) Obat antiadrenergik
Yang tergolong obat ini adalah beta bloker, reserpin, dan guatidin.
Reserpin dan guatidin kini praktis tidak dipakai lagi, diganti dengan
Beta bloker. Beta bloker yang paling banyak digunakan adalah
propanolol. Penggunaan propanolol ini tidak ditujukan untuk mengobati
hipertiroid, tetapi mengatasi gejala yang terjadi dengan tujuan
memulihkan fungsi jantung dengan cara menurunkan gejala yang
dimediasi katekolamin. Tujuan dari terapi adalah untuk menurunkan
konsumsi oksigen miokardium, penurunan frekuensi jantung, dan
meningkatkan curah jantung.
c. Pengobatan faktor pencetus
Obati secara agresif faktor pencetus yang diketahui, terutama mencari
fokus infeksi, misalnya dilakukan kultur darah, urine, dan sputum, juga
foto dada (Bakta & Suastika, 1999).

2. Penatalaksanaan keperawatan
Tujuan penatalaksanaan keperawatan mencakup, mengenali efek dari krisis yang
timbul, memantau hasil klinis secara tepat, dan memberikan perawatan suportif
untuk pasien dan keluarga. Intervensi keperawatan berfokus pada
hipermetabolisme yang dapat menyebabkan dekompensasi sistem organ,
keseimbangan cairan dan elektrolit, dan memburuknya status neurologis. Ini
termasuk penurunan stimulasi eksternal yang tidak perlu, penurunan konsumsi
oksigen secara keseluruhan dengan memberikan tingkat aktivitas yang sesuai,
pemantauan kriteria hasil. Setelah periode krisis, intervensi diarahkan pada
penyuluhan pasien dan keluarga dan pencegahan proses memburuknya penyakit
(Hudak &Gallo, 1996).
4. Tuliskan asuhan keperawatan dan intervensi pasien gangguan tiroid

Contoh Kasus :
Ny. Y berumur 26 tahun, sudah menikah. Datang ke RS dengan keluhan sesak, badan
sebelah kanan terasa lemah, sakit sudah 4 hari. Ny. Y mengatakan makan 1x/hari pada
saat pagi hari dengan 3 sendok dari porsi makanan yang disediakan. Ny. Y
mengatakan selama di rumah sakit hanya berbaring lemas di tempat tidur. Ny. Y juga
tidak mengetahui tentang penyakit yang dideritanya.
TTV : Suhu : 38,3º C
Nadi : 88x/menit
TD : 120/70 mmHg
RR : 24x/menit

Analisa Data

No Data Etiologi Masalah


1. DS : klien mengatakan badan terasa panas Proses jalannya Hipertermi
DO : penyakit
- Klien tampak lemah
- S : 38,3º C
- Mukosa bibir kering
2. DS : klien mengatakan makan 1x/hari pada Anoreksia Ketidakseimbangan
saat pagi hari dengan 3 sendok dari porsi nutrisi kurang dari
makanan yang disediakan kebutuhan tubuh
DO : klien tampak lemah
3. DS : klien mengatakan selama di rumah Kelemahan fisik Intoleransi aktivitas
sakit klien hanya berbaring lemas di
tempat tidur
DO :
- Klien tampak
- Aktivitas klien dibantu oleh
keluarga
- Skala aktivitas 3
4. DS : klien mengatakan tidak mengetahui Kurang Kurang
tentang penyakit yang dideritanya terpaparnya pengetahuan
DO : klien tampak bertanya-tanya informasi tentang
penyakit

Diagnosa Keperawatan

1. Hipertermi berhubungan dengan proses jalannya penyakit


2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi tentang
penyakit

Rencana Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Intervensi


keperawatan
1. Hipertermi Setelah dilakukan tindakan 1. Berikan kompres air hangat
berhubungan keperawatan 3x24 jam sesuai kebutuhan
dengan proses suhu tubuhh kembali 2. Anjurkan klien
jalannya penyakit normal dengan KH : menggunakan baju yang
- Tidak ada tanda- dapat menyebabkan keringat
tanda infeksi 3. Pertahankan lingkungan
- Mukosa bibir yang sejuk
lembab 4. Kolaborasi dengan tim
- S : 37ºC medis dalam pemberian obat
2. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan 1. Awasi pemasukan diet
nutrisi kurang dari keperawatan 3x24 jam 2. Anjurkan klien makan
kebutuhan tubuh diharapkan nutrisi klien sedikit tapi sering
tercukupi dengan KH : 3. Berikan Ht tentang
- Porsi makan pentingnya nutrisi bagi
kembali normal tubuh
- BB normal 4. Kolaborasi dengan tim
- Tidak medis dalam pemberian obat
menunjukkan
tanda-tanda
malnutrisi
3. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi TTV
berhubungan keperawatan selama 3x24 2. Bantu dan latih klien untuk
dengan kelemahan jam diharapkan klien dapat melakukan aktivitas/gerakan
fisik melakukan aktivitas 3. Atur posisi secara periodik,
dengan KH : sesuai kondisi klien
- Klien dapat 4. Memahami klien untuk
melakukan melakukan latihan
aktivitas sendirian
4. Kurangnya Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji tingkat pengetahuan
pengetahuan keperawatan 3x24 jam keluarga
berhubungan keluarga klien mulai 2. Memberikan penyuluhan
dengan kurang mengerti tentang penyakit kesehatan tentang penyakit
terpaparnya hipertiroid dengan KH : hipertiroid
informasi tentang - Klien tidak 3. Gali sumber-sumber
penyakit bingung lagi dukungan yang ada
informasi sudah
didapat
Daftar pustaka
Hariawan, Hamdan. 2013 . Askep Krisis Tiroid. http://hamdan-hariawan-
fkp13.web.unair.ac.id/artikel_detail-88249-askep%20endokrin-askep%20krisis
%20tiroid.html. Diunduh tanggal 26 Februari 2014.

Nanda International. 2007. Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC.

Rumahorbo, H. 1999. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Endokrin.


Jakarta: EGC.

Smeltzer dan Bare.2002.Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Volume 3.
Jakarta: EGC.