Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

“CURRENT PROBLEMS IN INTERNATIONAL POLITICAL ECONOMY”

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Ekonomi Politik

Dosen Pengampu: Kus Irawan P., M. Pd.

Disusun Oleh Kelompok 9:

1. Adam Ababil (17402163631)


2. Khisma Hikmatul Laila (17402163652)
3. Abdur Rouf Dzunuroin (17402163655)
4. Ulfa Amin (17402163671)

SEMESTER VI – O
JURUSAN EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
MARET 2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa
atas berkat, rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik walaupun masih banyak kekurangan di dalamnya.
Makalah ini membahas mengenai “Current Problems in International Political
Economy”.

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah “Ekonomi Politik”. Kami juga berharap semoga pembuatan makalah ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

Dalam pembuatan makalah ini tentunya tidak terlepas dari bantuan


berbagai pihak. Untuk itu kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Kus Irawan P.,
M.Pd. selaku dosen pengampu. Serta pihak-pihak lain yang turut membantu
memberikan referensi buku.

Tiada gading yang tak retak, itu kata pepatah tiada satu pun manusia yang
luput dari kesalahan. Oleh karena itu, kami berharap pemberian maaf yang
sebesarnya-besarnya. Atas kekurangan dan kesalahan, baik yang disengaja
maupun yang tidak disengaja. Saran dan kritik sangat kami harapkan agar kami
dapat memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Tulungagung, 11 Maret 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...........................................................................................................i
KATA PENGANTAR.........................................................................................................ii
DAFTAR ISI. ......................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang.........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................1
C. Tujuan......................................................................................................................1
BAB I PEMBAHASAN......................................................................................................2
A. Hubungan Kebijakan Lingkungan dengan Perdagangan Bebas.............................2
B. Hubungan Globalisasi dengan Perdagangan Bebas................................................8
BAB III PENUTUP.............................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................25

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangannya zaman, maka permasalahan-
permasalahan baru mengenai ekonomi politik internasional bermunculan.
Globalisasi misalnya, dengan adanya globalisasi maka kegiatan ekonomi
politik, seperti perdagangan bebas menjadi semakin bebas dan persaingan
antarnegara untuk menjadi negara yang berkuasa semakin panas, terutama
negara China dan Amerika Serikat.
Selain itu, dengan adanya keberhasilan perdagangan bebas untuk
meningkatkan ekonomi suatu negara, seperti Korea, maka banyak negara,
terutama negara berkembang yang juga menginginkan keadaan ekonominya
membaik juga ikut melakukan perdagangan bebas. Dikarenakan komoditas
ekspor yang dimiliki sebagian besar berasal dari sumber daya alam, maka
terkadang aspek perlindungan dan pelestarian lingkungan dikesampingkan,
dalam arti, pemanfaatan sumber daya alam menjadi seenaknya dan tidak
efisien. Maka, supaya keduanya, yakni perdagangan bebas dan pelestarian
lingkungan memiliki dampak yang saling menguntungkan, diperlukannya
solusi, agar manfaat dari lingkungan juga dapat dinikmati oleh generasi
selanjutnya. Sehingga, pada makalah ini akan dibahas permasalahan-
permasalahan apa saja yang timbul dalam kegiatan ekonomi politik.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hubungan kebijakan lingkungan dengan perdagangan bebas?
2. Bagaimana hubungan globalisasi dengan perdagangan bebas?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui hubungan kebijakan lingkungan dengan perdagangan
bebas.
2. Untuk mengetahui hubungan globalisasi dengan perdagangan bebas.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Hubungan Kebijakan Lingkungan dengan Perdagangan Bebas


Perdagangan internasional dipercaya oleh kaum neoklasik memberi
banyak manfaat dalam pembangunan ekonomi sebuah negara. Apalagi
setelah menyaksikan keberhasilan perekonomian negara-negara seperti
Korea, Taiwan, dan Brazil yang memperlihatkan bahwa strategi
pembangunan yang berorientasi ke ekspor menjadi kunci meningkatnya
kinerja perekonomian mereka dan berhasil pula menurunkan tingkat
pengangguran. Sehingga banyak negara berkembang mengikuti strategi
yang sama. Akan tetapi, ada kekhawatiran bahwa adanya perdagangan
internasional akan memperburuk kondisi lingkungan hidup di negara-negara
berkembang.
Hal tersebut dapat dilihat bahwa setalah berakhirnya Perang Dunia
Kedua, perdagangan antarnegara mengalami pertumbuhan sangat pesat,
untuk periode antara tahun 1985-1990 misalnya, ekspor dari negara
berkembang meningkat sebesar 41%. Menurut jenis barang yang mengalir
dari dan ke negara berkembang, ekspor negara berkembang didomisili oleh
hasil sumber daya alam, sedangkan impor mereka adalah barang hasil
industri. Bank Dunia mencatat, misalnya pada tahun 1990, ekspor barang-
barang primer dari negara-negara berpendapatan rendah (kecuali China dan
India) sebesar 72% dari total ekspor mereka, padahal ekspor barang serupa
dari negara maju pada tahun yang sama adalah hanya 19%. Melihat
besarnya persentase barang primer yang diekspor oleh negara berkembang,
maka timbul pertanyaan, akankah ekspor tersebut berdampak pada
kerusakan lingkungan di negara-negara berkembang? Terutama jika
dihubungkan dengan kenyataan makin turunnya nilai tukar perdagangan
antara barang primer dan barang hasil industri, kinerja pemanfaatan dan

2
pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di negara berkembang yang
masih cenderung mengesampingkan kelestarian lingkungan.1
Sejatinya, lingkungan memiliki tiga peranan utama, yaitu sebagai
barang konsumsi, pemasok sumber daya, dan tempat pembuangan limbah.
Tiga peran tersebut dapat saling bertentangan antara satu sama lain.
Misalnya, menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan limbah dapat
menimbulkan konflik terhadap peran lingkungan sebagai pemasok sumber
daya dan sebagai barang konsumsi.2 Dengan perannya lingkungan sebagai
penyedia atau pemasok sumber daya dan barang konsumsi, maka akan
menimbulkan apa yang disebut dengan eksternalitas atau dampak eksternal.
1. Pengertian Eksternalitas
Eksternalitas secara umum didefinisikan sebagai dampak
(positif atau negatif) atau dalam bahasa formal ekonomi sebagai net
output atau benefit dari tindakan satu pihak terhadap pihak lain. Lebih
spesifik lagi eksternalitas terjadi manakala kegiatan produksi atau
konsumsi dari satu pihak memengaruhi utilitas (kegunaan) dari pihak
lain secara tidak diinginkan, dan pihak pembuat eksternalitas tidak
menyediakan kompensasi terhadap pihak yang terkena dampak
tersebut. Contoh eksternalitas yang dialami dalam kehidupan sehari-
hari yaitu musik yang terlalu keras, menghirup asap rokok dari orang
yang merokok. Dalam kaitannya dengan sumber daya alam,
eksternalitas sangat penting diketahui karena eksternalitas akan
menyebabkan alokasi sumber daya yang tidak efisien.3
2. Pengurangan Eksternalitas
Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa eksternalitas
dapat menyebabkan alokasi sumber daya yang tidak efisien, maka ada
beberapa cara untuk mengurangi eksternalitas, yaitu:

1
Siwi Nugraheni, Perdagangan Internasional dan Lingkungan Hidup:Kasus Negara Berkembang,
Bina Ekonomi/November/1997, hal. 10-11.
2
Jeffry A. Frieden dan David A. Lake, International Political Economy: Perspectives on Global
Power and Wealth, (Boston: Bedford/St. Martin’s, 2000), hal. 434.
3
Akhmad Fauzi, Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Teori dan Aplikasi, (Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2004), hal. 19.

3
a. Peraturan pemerintah (Goverment Regulation)
Adanya eksternalitas negatif mengakibatkan sumber daya
yang dilakukan di pasar tidak efisien, maka di sinilah perlunya
peranan pemerintah untuk mengatasi eksternalitas.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah dalam
mengatasi eksternalitas, yaitu:
1) Regulasi
Pemerintah dapat mengambil kebijakan melalui Undang-
Undang dan berbagai peraturan, di antaranya adalah tentang
kebijakan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk
mengatasi suatu eksternalitas dengan dikeluarkannya Peraturan
Pemerintah No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial
dan Lingkungan Perseroan Terbatas, selain guna memperkuat
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007, tentang Perseroan
Terbatas Bab V pasal 74 ayat 1-4 yang dijelaskan definisi dan
sanksi apabila tidak melaksanakan CSR. Perusahaan harus
menyisihkan sebanyak 2%-5% dari keuntungan untuk dana
eksternalitas. Perusahaan tersebut mengeluarkan polusi untuk
mencemari lingkungan dan membuang limbah produksi dengan
cara mengganggu lingkungan, misalnya dialirkan ke sungai atau
laut.
2) Pajak pigovian dan subsidi
Pemerintah tidak dapat mengatur perilaku, tetapi hanya dapat
melakukan kebijakan dengan menyelaraskan insentif swasta dan
efisiensi sosial. Pemerintah dapat menginternalisasi eksternalitas
dengan cara menarik pajak yang disebut dengan pajak pigovian.
Pajak pigovian adalah pajak yang diberlakukan untuk
memperbaiki dampak-dampak dari suatu eksternalitas negatif.
Pabrik-pabrik yang membuang limbah di sungai atau di laut,
serta pabrik-pabrik yang mengeluarkan polusi melalui cerobong
asap yang di udara akan berdampak pada kesehatan masyarakat.

4
Selain penetapan pajak, pemerintah juga memberikan subsidi
kepada pabrik untuk meningkatkan efisiensi. Subsidi diberikan
pada setiap barang produksi yang dikurangi hasil produksinya.
Pada saat subsidi tidak diterima, maka perusahaan kehilangan
subsidi dari pemerintah sebesar biaya oportunitas perusahaan,
yaitu biaya marginal ditambah subsidi yang tidak diterima.
Biaya oportunitas tersebut lebih besar dari penerimaannya,
sehingga sebagai dampaknya pemerintah mengurangi
produksinya.
3) Pemberian hak polusi melalui lelang
Pemerintah dapat memperkecil eksternalitas dengan cara lelang,
yaitu dengan cara menawarkan pada perusahaan yang mau
membayar pajak terbesar yang mempunyai hak polusi pada
tingkat polusi yang optimum. Ini berarti akan tercapai distribusi
dari hak polusi yang optimal di antara pengusaha yang
mengeluarkan eksternalitas yang paling optimum. Maksudnya
pabrik yang berproduksi banyak adalah pabrik yang memiliki
keuntungan yang tinggi, dan dari produksi yang paling banyak
berarti mengeluarkan polusi yang paling tinggi, sehingga pabrik
itulah yang harus membayar pajak terbesar dan memiliki hak
polusi.4
b. Penetapan hak kepemilikan (assigning property rights)
Penetapan hak kepemilikan (assingning property rights)
adalah penetapan hak yang menyatakan tentang kepemilikan, hak
istimewa maupun pembatasan dalam penggunaan sumber daya
alam dengan mengetahui hak dan bagaimana pengaruhnya terhadap
perilaku manusia dalam pemanfaatan sumber daya alam. Dalam
cara ini, pelaku penyebab pencemaran seharusnya membayar

4
Jun Surjanti, dkk, Edisi Belajar Teori Ekonomi (Pendekatan Mikro) Berbasis Karakter,
(Yogyakarta: Deepublish, 2018), hal. 173-174.

5
kompensasi kepada masyarakat yang terkena pencemaran atau
yang terkena dampak eksternal.5
Dengan kata lain, kegagalan pasar adalah cerminan sifat
sumber daya alam yang dalam beberapa hal menjadi barang publik.
Jadi, barang publik, eksternalitas, dan kegagalan pasar (market
failure) adalah satu mata rantai yang sering timbul dalam
pengelolaan sumber daya alam.
Dalam teori ekonomi sering dikatakan bahwa pasar adalah
media untuk mengomunikasikan keinginan konsumen dan
produsen. Jadi, pasar misalnya, bisa gagal beroperasi manakala
pasar sudah tidak dapat mengomunikasikan keinginan masyarakat
secara tepat. Kegagalan pasar juga dapat timbul oleh situasi di
mana keputusan individual yang berdasarkan informasi harga tidak
menimbulkan alokasi sumber daya yang efisien. Untuk mengerti
kegagalan pasar, maka harus mengetahui konsep keberhasilan pasar
terlebih dahulu. Berikut beberapa persyaratan pasar dikatakan
berhasil, yaitu:
1) Pasar eksis dengan hak kepemilikan yang terkukuhkan dengan
jelas. Sehingga, pembeli dan penjual dapat secara bebas
melakukan transaksi. Hak kepemilikan ini akan terkukuhkan
dengan baik, jika beberapa karakteristik hak kepemilikan di
bawah dipenuhi, yaitu:
a) Hak milik tersebut dikukuhkan pemiliknya baik secara
individu maupun kolektif.
b) Ekslusif, artinya seluruh keuntungan dan biaya dari
penggunaan sumber daya sepenuhnya menjadi tanggung
jawab pemilik sumber daya.

5
Endang Bidayani, Ekonomi Sumberdaya Pesisir yang Tercemar, (Malang: UB Press, 2014), hal.
50.

6
c) Transferable (dapat dipindahtangankan), dikarenakan hak
kepemilikan yang transferable akan menimbulkaninsentif
untuk melestarikan sumber daya tersebut.
d) Terjamin (secure), artinya dengan adanya jaminan memiliki,
maka akan timbul insentif untuk memperbaiki atau
memperkaya sumber daya tersebut selama masih dalam
kepemilikannya.
2) Konsumen dan produsen berlaku secara kompetitif dengan
memaksimumkan keuntungan atau meminimumkan biaya.
3) Harga pasar diketahui oleh konsumen dan produsen.
4) Tidak ada biaya transaksi (transaction cost = 0).
Jika ciri-ciri di atas tidak dipenuhi, maka akan timbul
ketidaksempurnaan pasar yang pada gilirannya akan mengarah
pada kegagalan pasar, yaitu eksternalitas.
Oleh karena itu, pengendalian eksternalitas dengan
pemberian hak kepemilikan akan sangat tergantung pada biaya
transaksi. Sebagaimana dijelaskan oleh Teori Coase, jika biaya
positif, maka:
1) Pemberian hak kepemilikan akan meningkatkan kesejahteraan
pemilik, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya
eksternalitas.
2) Pemberian hak kepemilikan akan mengurangi masalah
eksternalitas, tetapi tidak akan menghilangkannya.
3) Pemberian hak kepemilikan untuk mengurangi eksternalitas
akan efektif apabila pihak-pihak yang terlibat saling mengetahui
satu sama lain.
Jadi, perlu diperhatikan bahwa pemberian hak kepemilikan
tidak sepenuhnya menghilangkan eksternalitas, hanya
meningkatkan manfaat dari pertukaran (gains from trade) atas
eksternalitas. Pemberian hak kepemilikan merupakan salah satu
langkah efektif untuk mengurangi eksternalitas jika diketahui persis

7
siapa yang melakukan eksternalitas. Dengan demikian, kerusakan
bisa dihitung dan tawar-menawar (bargaining) bisa dilakukan
sehingga eksternalitas bisa dikurangi, karena pemberian hak akan
meningkatkan gains (manfaat ekonomi) dari salah satu pihak
dengan menurunkan gains dari pihak lain.6
3. Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan dapat disebut berkelanjutan apabila memenuhi
kriteria ekonomis, bermanfaat secara sosial, dan menjaga kelestarian
lingkungan hidup. Earth Summit di Rio de Jeneiro pada tahun 1992
merupakan titik tolak dipertimbangkannya dimensi sosial dalam
pembangunan berkelanjutan. Salah satu hasil penting dalam
konferensi tersebut adalah pembentukan komisi pembangunan
berkelanjutan (CSD – Commission on Sustainable Development).
Pembentukan komisi berkelanjutan merupakan faktor penting
dalam proses pembangunan suatu negara, terlebih lagi bagi negara
yang sedang berkembang. Komisi tersebut diharapkan mampu
memberikan bantuan baik secara konseptual maupun secara
implementatif dalam proses pembangunannya. Tinjauan secara
empiris menunjukkan bahwa kondisi sumber daya alam di negara
sedang berkembang sangat melimpah. Akan tetapi, karena
pengelolaan terhadap sumber daya alam dan lingkungan yang tidak
diarahkan pada aspek sustainabilitas, maka kemanfaatannya terhadap
pencapaian kesejahteraan hidup masyarakat tidak optimal.7
B. Hubungan Globalisasi dengan Perdagangan Bebas
Globalisasi adalah proses yang melibatkan perluasan dan
pendalaman serta saling ketergantungan di antara masyarakat dan negara di
seluruh dunia. Memperluas wilayah geografis dari keterkaitan untuk
mencakup hampir semua masyarakat dan negara besar. Sedangkan
pendalaman mengacu pada peningkatan frekuensi dan intensitas interaksi.

6
Akhmad Fauzi, op.cit. hal. 21-27.
7
Imam Mukhlis, Eksternalitas, Pertumbuhan Ekonomi, dan Pembangunan Berkelanjutan dalam
Perspektif Teoritis, Jurnal Ekonomi Bisnis, Tahun 14, No. 3, November 2009, hal. 194-195.

8
Globalisasi menandakan bahwa, saat ini memasuki era “dunia tanpa batas”
di mana perusahaan multinasional kehilangan identitas nasional mereka dan
negara kehilangan kekhasan mereka. Dengan demikian, globalisasi
mempengaruhi beberapa negara bagian dan wilayah lebih dari yang lain,
mengancam otonomi negara dalam beberapa hal, tetapi memberikan negara
beberapa peran baru dan tidak menghalanginya membuat pilihan kebijakan
dan berkontribusi pada fragmentasi dan konflik serta persatuan dan kerja
sama. Kemajuan teknologi, komunikasi dan transportasi memfasilitasi
proses globalisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, peran perusahaan
multinasional dalam menghasilkan FDI, perdagangan, dan teknologi belum
pernah terjadi sebelumnya, sistem ekonomi kapitalis menyebar ke seluruh
dunia, dan organisasi ekonomi internasional menjadi benar-benar universal
dalam keanggotaan.
Ada beberapa pendapat dari beberapa aliran, yaitu realis, liberal, dan
teoritikus kritis. Di mana masing-masing aliran memiliki pandangan yang
berbeda mengenai globalisasi. Pertama, aliran realis, berpendapat bahwa
globalisasi memberikan peningkatan yang signifikan dan terjadi akibat
dorongan dari negara yang paling kuat. Aliran liberal, berpandangan bahwa
globalisasi adalah kekuatan yang dapat mengikis kontrol negara, tetapi
memiliki perkembangan yang positif, seperti kemajuan transportasi dan
komunikasi. Kekuatan utama dalam globalisasi menurut pendapat kaum
liberal adalah perusahaan internasional. Sedangkan aliran ahli teori kritis,
memiliki pendapat yang hampir sama dengan kaum liberal, yaitu melihat
globalisasi memiliki makna yang signifikan dan juga memiliki dampak
negatif.
Beberapa ahli teori Gramscian berpendapat bahwa globalisasi
mengarah pada pengembangan "blok bersejarah transnasional" yang terdiri
dari MNC, bank internasional, organisasi ekonomi internasional, dan
kelompok bisnis nasional di negara-negara kapitalis yang paling kuat. Unsur
penting dari blok bersejarah ini adalah kekuatan dan mobilitas modal
transnasional, yaitu menempatkan kelompok-kelompok nasional seperti

9
serikat pekerja pada posisi defensif. Satu-satunya cara untuk melawan blok
bersejarah ini adalah untuk mengembangkan counterhegemony yang terdiri
dari tenaga kerja, hak asasi manusia, perempuan, lingkungan, konsumen,
dan kelompok pembangunan.8
1. Globalisasi dan Perubahan Logika Aksi Kolektif
Philip G. Cerny (dalam bukunya yang berjudul Globalization
and the Changing Logic of Collective Action), berpendapat bahwa
globalisasi memiliki banyak efek, di antaranya yakni globalisasi
mampu mengubah negara (yang merupakan unit dasar dari ekonomi
politik internasional) dengan cara mendalam. Globalisasi
menyebabkan skala pasar melebar dan organisasi ekonomi menjadi
lebih kompleks, sehingga keadaan ini menjadikan negara tidak cukup
untuk menyediakan berbagai barang publik yang diminta oleh warga
negaranya. Namun, alih-alih menciptakan “negara super” tunggal, ia
(Cerny) mengidentifikasi serangkaian arena politik yang tumpang
tindih yang berkembang di tingkat lokal, menengah, dan
transnasional. Cenry menyimpulkan, negara terus memiliki kekuatan
budaya yang hebat, dan tidak akan segera menghilang. Namun
demikian, negara mungkin mengalami krisis legitimasi.
Baik dalam sistem politik domestik modern dan sistem
internasional modern, negara telah menjadi arena struktural utama di
mana tindakan kolektif telah ditempatkan dan dilakukan, serta
menjalankan kekuatan struktural dan relasional sebagai aktor dalam
haknya sendiri. Akan tetapi, negara tidak hanya terkikis tetapi juga
secara fundamental ditransformasikan dalam konteks struktural yang
lebih luas. Sistem internasional bukan lagi sekedar sistem negara. Hal
ini ditandai oleh struktur majemuk atau biasa disebut “plurilateral”.
Transformasi ini memiliki konsekuensi signifikan bagi logika aksi
kolektif. Kata “globalisasi” sering digunakan untuk mewakili proses

8
Theodore H. Cohn, Global Political Economy: Theory and Practice, (United States: Pearson
Education, 2012) , hal. 382-383.

10
perubahan ini. Globalisasi tidak seragam atau homogen; batas-
batasnya tidak jelas dan elemen-elemen penyusunnya dan karakter
multidimensi belum dieksplorasi secara memadai. Tetapi dengan
membentuk kembali konteks struktural pilihan rasional itu sendiri,
globalisasi mengubah cara-cara aturan permainan kerja dalam politik
dan hubungan internasional dan mengubah matriks hasil yang semakin
kompleks yang dihadapi oleh para aktor dalam mengevaluasi opsi-
opsi mereka secara rasional.
Dalam studi modern tentang hubungan internasional, negara
telah membentuk unit kunci dari tindakan kolektif, sementara interaksi
negara telah menjadi objek penyelidikan; sama halnya di arena
domestik, negara telah mencakup sistem politik dan merupakan agen
kolektif yang berpotensi otonom dalam bidang tersebut.
Philip G. Cerny mendefinisikan globalisasi sebagai satu set
struktur ekonomi dan politik, serta proses yang berasal dari perubahan
sifat barang dan aset yang berdasarkan kepada ekonomi politik
internasional. Dari segi politik, globalisasi bermakna sebagai bidang
permainan politik itu sendiri ia sangat ditentukan oleh dalam unit yang
terbuka. Oleh karena itu, globalisasi adalah sesuatu a priori yang
terletak di atas dan di luar genggaman peringkat unit, namun secara
mendalam dapat mempengaruhi identitas unit- unit dari waktu ke
waktu.
Dalam bukunya, Philip G. Cerny berfokus pada pengembangan
"skala ekonomi politik”. Dalam masyarakat skala kecil, barang dan
aset (dan struktur serta lembaga yang menstabilkan dan mengaturnya )
tetap relatif tidak berbeda. Namun, ketika skala barang dan aset
meluas, kesenjangan struktural utama dapat berkembang antara
berbagai jenis aset dan antara barang publik dan barang pribadi.
Khususnya, ketika masyarakat dan ekonomi Eropa tumbuh pada
periode feodal dan kapitalis awal, kesenjangan seperti itu diisi oleh
kemunculan negara-bangsa modern sebagai bentuk organisasi untuk

11
menyediakan barang publik di seluruh arena domestik dan
internasional. Selain itu, pengembangan skala ekonomi baik dalam
sistem ekonomi dan tatanan politik selama abad ke-19 dan awal abad
ke-20 secara dramatis memperkuat dan memperluas ruang lingkup
isomorfisme institusional ini. Konvergensi struktural yang kuat
dikembangkan antara ekonomi revolusi industri kedua, di satu sisi dan
negara birokrasi di sisi lain. Namun, dalam beberapa dekade terakhir,
percepatan divergensi telah terjadi antara struktur negara dan struktur
pasar industri dan keuangan di dunia revolusi industri ketiga yang
kompleks dan mengglobal. Ada keterputusan baru antara kapasitas
institusional untuk menyediakan barang publik dan karakteristik
struktural dari ekonomi global berskala jauh lebih besar. Di sini Philip
G. Cerny menyarankan bahwa "negara residual" hari ini menghadapi
krisis efisiensi organisasi dan legitimasi kelembagaan.9
2. Barang, Aset, dan Ekonomi Politik dari Skala
Perkembangan negara modern dan pertumbuhan kapitalisme
melibatkan proses interaksi yang kompleks, yaitu antara politik
dengan ekonomi dan antara pasar dengan hierarki. Inti dari
perkembangan tersebut adalah “skala ekonomi politis”, di mana
struktur politik tertentu tampaknya lebih atau kurang efisien dalam
menstabilkan, mengatur, mengendalikan, atau memfasilitasi kegiatan
ekonomi tertentu. Proses ekonomi dikatakan berbeda ditandai oleh
skala efisiensi minimum yang berbeda, mengingat teknologi yang ada
dan ukuran permintaan pasar, yaitu semakin besar efisiensi, semakin
besar pabrik atau sistem distribusi. Dalam kasus skala ekonomi
politik, konsep ini diperluas untuk mencakup skala struktur negara,
lembaga, proses dan tugas ekonomi, peran, serta kegiatan yang
mereka lakukan. Skala ekonomi politik yang optimal karenanya terus
bergeser, menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi, sosial-
politik, dan politik. Memang, mereka telah bergeser secara dramatis

9
Jeffry A. Frieden dan David A. Lake, op. cit, hal. 446-448.

12
pada akhir abad kedua puluh, baik ke tingkat transnasional dan global
dan ke bawah ke tingkat lokal. Dalam lingkungan yang lebih lancar
ini, pilihan aktor memiliki konsekuensi signifikan bagi perubahan
struktur negara dan bahkan bagi evolusi politik dan masyarakat yang
lebih luas.
Suatu kekeliruan manakala menganggap bahwa struktur negara
sangat hierarkis dan birokratis dalam beberapa cara yang melekat,
sedangkan struktur ekonomi pada dasarnya didasarkan pada
pertukaran pasar. Negara dan ekonomi adalah senyawa kompleks
pasar dan hierarki serta hasil interaksi antara politik dan ekonomi.
Evolusi struktur politik-ekonomi dihasilkan dari interaksi perubahan
independen di sepanjang setiap dimensi (pasar/hierarki dan
politik/ekonomi) dan dari efek umpan balik yang kompleks yang
terjadi sebagai konsekuensi dari interaksi itu. Bagi suatu negara untuk
memperkirakan peran publik yang menyeluruh dari tipe klasik akan
membutuhkannya untuk memiliki kapasitas organisasi yang nyata dan
efektif untuk membentuk, mempengaruhi, dan/atau mengendalikan
kegiatan ekonomi yang ditentukan. Dengan kata lain, ia harus
menstabilkan, mengatur, mempromosikan, dan memfasilitasi kegiatan
ekonomi secara umum serta melaksanakan bentuk-bentuk lain dari
kontrol yang diinginkan secara politis dan/atau secara struktural layak
atas proses produksi dan pertukaran yang lebih spesifik. Inti dari
masalah ini terletak pada karakter dari berbagai jenis sumber daya dan
nilai-nilai yang dibutuhkan dan/atau diinginkan oleh individu dan oleh
masyarakat. Mengidentifikasi karakteristik struktural dari barang
dan/atau aset yang berbeda sangat penting untuk memahami apa yang
mungkin dilakukan pemain rasional dalam situasi yang berbeda.
Philip G. Cerny membedakan antara dua jenis barang atau aset
utama. Yang paling terkenal adalah kontras antara barang-barang
publik (barang-barang yang tidak dapat dibagi dalam cara-cara
penting dan dari penggunaan orang-orang tertentu tidak dapat dengan

13
mudah atau efektif dikecualikan dan barang-barang pribadi (barang-
barang yang keduanya dapat dibagi dan dikecualikan). Perhatikan
bahwa "publik" dan "pribadi" dalam konteks ini tidak merujuk pada
siapa yang memiliki barang tetapi pada fitur struktural spesifik dari
barang itu sendiri.
Perbedaan kedua, ditemukan dalam ekonomi kelembagaan,
yakni antara aset spesifik dan nonspesifik. Perbedaan ini didasarkan
pada dua dimensi. Pertama adalah skala ekonomi dalam produksi,
distribusi, atau pertukaran. Jika pengembalian ke skala tinggi, maka
semakin banyak unit barang yang diproduksi dalam satu proses
produksi terintegrasi, maka semakin rendah biaya unit produksi
marjinal dibandingkan dengan proses produksi terpisah yang lebih
kecil. Dalam istilah aset, berarti bahwa nilai entitas yang disimpan
secara keseluruhan secara teori akan jauh lebih berharga daripada
harga "putus" nya. Dimensi kedua adalah biaya transaksi, yaitu biaya-
biaya yang dikeluarkan dalam proses upaya untuk menetapkan harga
efisiensi untuk suatu aset dan benar-benar menukarnya dengan aset
pengganti lainnya. Biaya transaksi biasanya termasuk biaya negosiasi,
biaya pemantauan, biaya penegakan, dan sejenisnya. Aset spesifik
adalah aset yang tidak ada penggantinya dengan mudah.
Pertukarannya akan melibatkan biaya transaksi yang tinggi, skala
ekonomi yang tinggi, atau keduanya, yang menyebabkan kesulitan
dalam menemukan harga efisiensi dan pasar yang siap. Pada
gilirannya, berbagai jenis barang atau aset dikatakan lebih atau kurang
efisien disediakan melalui serangkaian pengaturan struktural atau
lembaga yang berbeda, bukan hanya melalui proses ekonomi abstrak.
Barang publik tidak dapat disediakan dalam jumlah optimal melalui
pasar, karena penunggang gratis tidak akan membayar bagian dari
biayanya. Hanya struktur dan proses yang otoritatif yang
memungkinkan biaya dapat secara efisien diperoleh kembali dari
pengguna barang publik. Aset spesifik juga lebih efisien diatur dan

14
dikelola secara otoritatif, melalui hierarki. Alokasi otoritatif semacam
itu dilakukan melalui kontrak jangka panjang (menjaga kolaborator
yang sama) dan pengambilan keputusan dengan fiat manajerial
(integrasi, merger, kartelisasi, dll.) Daripada melalui jangka pendek,
‘kontrak berulang’ yang dapat dipasarkan, mudah diganti, aset tidak
spesifik. Sementara regulasi pasar yang efisien untuk yang terakhir
hanya membutuhkan penanganan hukum pasca hoc melalui hukum
kontrak dan pengadilan,yang pertama membutuhkan peningkatan
derajat tata kelola yang dilembagakan secara proaktif dalam alokasi
sumber daya dan nilai-nilai. Berbagai jenis integrasi struktural
(campuran pasar dan hierarki yang berbeda ) dapat dinilai sesuai
dengan campuran tertentu dari aset spesifik dan tidak spesifik.
Jenis otoritas politik yang sah dan holistik dari negara
tradisional mencerminkan komitmen yang dilembagakan untuk
menyediakan barang publik secara efisien, atau keberadaan aset
spesifik yang luas, atau keduanya. Yang terakhir ini terutama
diwujudkan dalam manusia (modal manusia), faktor modal tidak
bergerak seperti infrastruktur, dan promosi jenis tertentu dari proses
industri terpadu berskala besar. Tentu saja, konsepsi tradisional negara
juga mencakup faktor-faktor spesifik lainnya, terutama pertahanan
nasional (kapasitas untuk berperang terutama publik dan spesifik);
promosi budaya bersama, ideologi nasional, atau seperangkat norma
konstitusional; pelestarian persatuan kolektif dalam menghadapi "yang
lain"; dan pemeliharaan sistem hukum yang dapat diterima secara luas
dan berfungsi. Jenis-jenis tugas dan kegiatan ini biasanya juga akan
lebih efisien dilakukan melalui lembaga-lembaga yang secara hierarki
dominan (teka-teki klasik pengambilan keputusan dalam demokrasi
liberal). Namun, di dunia nyata, sebagian besar proses ekonomi dan
politik melibatkan campuran pasar dan hierarki atau barang yang
bercampur karakteristik publik dan pribadi. Dalam konteks ini,
penting untuk diingat bahwa politik melibatkan tidak hanya

15
membangun struktur yang relatif efisien untuk menyediakan barang
publik dan meminimalkan biaya transaksi dalam pemeliharaan aset
tertentu tetapi juga mengelola sistem menyeluruh di mana kedua jenis
barang dan aset diproduksi dan dipertukarkan, sistem ini sendiri
merupakan barang publik.10
3. Evolusi Sejarah Ekonomi Politik Skala
Struktur ekonomi-politik yang kompleks berkembang melalui
proses yang terus-menerus. Namun, perubahan paradigmatik sesekali
terjadi ketika persyaratan untuk menyediakan barang publik dan
barang pribadi dalam beberapa kombinasi yang dapat diterapkan
meningkat di luar kapasitas struktur kelembagaan untuk
merekonsiliasi keduanya dalam jangka menengah hingga panjang.
Transformasi besar seperti itu tercermin dalam perubahan historis dari
masyarakat berskala kecil ke skala besar. Di salah satu ujung
spektrum, semakin kecil skala ekonomi/masyarakat, semakin banyak
yang publik dan swasta cenderung tumpang tindih dan bertepatan.
Mekanisme seperti itu tetap relatif tidak berbeda. Contoh luar biasa
tentang bagaimana sistem manajemen ini bekerja dapat dilihat dalam
peran kekerabatan sebagaimana dipelajari oleh para antropolog.
Produksi dan reproduksi surplus subsisten dan awal dalam komunitas
kecil yang relatif terisolasi biasanya melibatkan munculnya struktur
kelembagaan tunggal yang relatif homogen di mana kekuatan
ekonomi dan politik merupakan bagian dari sistem hierarkis yang
kurang lebih sama.
Sebaliknya, semakin besar dan kompleks skala struktural
masyarakat/ekonomi, semakin banyak aset dan barang yang
dibedakan. Skala pengaturan sosial dan politik yang ada untuk
stabilisasi dan regulasi produksi, pertukaran, dan konsumsi (yaitu
untuk penyediaan barang publik) cenderung suboptimal untuk skala
barang publik yang diperlukan dan aset spesifik yang terlibat. Lebih

10
Ibid, hal. 448-450.

16
jauh, beberapa barang publik dan aset spesifik sebelumnya mungkin
lebih mudah dan efisien disediakan oleh pasar, mengingat semakin
banyak faktor produksi yang tersedia dan semakin banyak peserta di
pasar berskala besar. Karenanya penyelesaian struktural baru yang
mencerminkan perubahan skala ekonomi politik optimal harus
ditemukan.
Proses diferensiasi politik dan ekonomi adalah kunci untuk
memahami bagaimana ekonomi politik dari skala bergeser dari waktu
ke waktu. Dalam masyarakat pertanian, negara-negara awal
menunjukkan karakteristik struktural yang analog apakah mereka
muncul sebagai hasil pemangsaan oleh satu kelompok atau melalui
pengembangan pembagian kerja yang lebih kompleks. Kemudian
negara-negara modern, apa pun asal-usul historis spesifiknya,
berkembang, tidak hanya dari kebutuhan untuk menyediakan tingkat
barang publik yang baru dan lebih luas dalam istilah material, tetapi
juga untuk menciptakan kondisi yang tepat untuk menstabilkan dan
mempromosikan proses pasar yang berkembang pesat . Membangun
dan memelihara lapangan permainan yang stabil dan teratur di mana
barang pribadi dan publik dapat disediakan secara efisien semakin
terlihat sebagai barang publik, berbeda dengan negara pemangsa
semu-swasta yang pertama kali berhasil feodalisme. Inovasi struktural
ini memungkinkan masyarakat postfeodal untuk bertahan hidup dan
bersaing dalam perjuangan militer dan ekonomi yang sengit pada
periode itu.
Proses inti dalam pengembangan negara-bangsa kapitalis
modern adalah dengan melibatkan pergeseran kompleks dan saling
bergantung struktur politik dan ekonomi ke skala yang lebih luas.
Interaksi antara negara persaingan ekonomi dan konflik militer sangat
penting bagi konvergensi ini. Untuk mendorong perluasan penyediaan
barang-barang pribadi, pengembangan pasar nasional dan proses
produksi dipromosikan oleh jenis negara yang berbeda. Negara-negara

17
pada umumnya, yang sebelumnya hanya memenuhi fungsi sosial-
ekonomi yang terbatas, dengan demikian datang untuk melakukan
serangkaian fungsi sosial, ekonomi, dan politik inti yang meningkat.
Terutama stabilisasi tatanan sosial, promosi budaya nasional,
pembentukan dan pertahanan yang lebih jelas, batas wilayah yang
ditentukan, peningkatan regulasi kegiatan ekonomi, dan
pengembangan dan pemeliharaan sistem hukum untuk menegakkan
kontrak dan properti pribadi. Meskipun perluasan fungsi-fungsi umum
negara ini disertai dengan tuntutan yang meningkat terhadap
pemerintahan konstitusional dan demokratis untuk mendefinisikan dan
mengamankan fungsi-fungsi tersebut, birokrasi-birokrasi yang
hierarkis dan otoriter dibentuk pada saat yang sama untuk
melaksanakannya. Selain itu, negara mengambil fungsi barang publik
yang lebih spesifik seperti pekerjaan umum, promosi dan
perlindungan industri tertentu, pengembangan monopoli, penyediaan
infrastruktur, dan sejenisnya. Evolusi fungsi-fungsi ini sangat tidak
merata, baik di dalam maupun di seberang perbatasan negara. Hanya
dengan datangnya apa yang disebut revolusi industri kedua pada akhir
abad ke-19 dan awal abad ke-20, proses pergeseran mencapai tahap
konvergensi yang lebih komprehensif. Revolusi industri kedua terdiri
dari pengembangan bentuk-bentuk lanjutan dari produksi massal,
peningkatan penerapan ilmu pengetahuan dan metode ilmiah untuk
proses produksi dan teknik manajemen, dan perluasan skala ekonomi.
Era ini secara umum diakui telah lepas landas dengan pertumbuhan
sistem kereta api dari jalur kecil ke jaringan nasional. Di Amerika
Serikat, perusahaan oligopolistik muncul sebagai inti dari modal
industri berat baru ketika Amerika pada tahun 1880-an menjadi
produsen industri terbesar di dunia. Di negara-negara industri baru
lainnya, negara mengambil peran yang lebih langsung dalam mengikat
ekonomi dan masyarakat bersama-sama. Terlepas dari ukuran absolut
yang berbeda dari negara industri baru tersebut, kombinasi hierarki

18
internal dan persaingan eksternal memberi mereka karakter kesatuan
dan kesetaraan relatif tertentu dibandingkan dengan tambalan unit
politik dan ekonomi yang telah ditandai feodalisme akhir dan bahkan
kapitalisme industri awal.
Promosi negara untuk pengembangan industri selanjutnya
menyatukan negara-bangsa dan mengarah pada intensifikasi
persaingan ekonomi nasional. Di Amerika Serikat, dengan pasar
domestik yang besar, ini melibatkan intervensi negara yang relatif
kurang langsung, sedangkan di Jerman dan Jepang promosi negara
sangat penting untuk modal skala besar. Ironisnya, kemunduran
Inggris tak terhindarkan terkait dengan ketidakmampuannya untuk
berkembang jauh melampaui struktur negara revolusi industri
pertama. Perkembangan selanjutnya dari negara revolusi industri
kedua dapat ditelusuri ke depan ke kompetisi nasional yang intens
pada 1930-an, yang paling mencolok diwujudkan dalam kebangkitan
fasisme dan Stalinisme, tetapi juga tercermin dalam New Deal
Presiden Franklin Roosevelt di Amerika Serikat. Pergeseran skala
dunia ini menyebabkan perubahan dari upaya revolusi industri
pertama untuk mendirikan pasar yang mengatur sendiri global,
menjadi korporatis, sosial demokratik, negara kesejahteraan nasional,
yang mengkristal pada tahun 1930-an dan menjadi dominan setelah
Perang Dunia II. Negara-negara revolusi industri yang kedua dengan
demikian bersatu pada model yang kurang lebih terpusat terkait
dengan serangkaian fungsi kebijakan yang semakin meningkat:
mempromosikan dan mempertahankan industri produksi massal skala
besar; menyediakan tingkat regulasi dan permintaan yang diperlukan
untuk memastikan, khususnya bahwa aset spesifik mereka yang luas
tidak akan dirusak oleh kemerosotan ekonomi, dan menciptakan tidak
hanya pasar massal tetapi juga tenaga kerja yang disiplin untuk
menjaga pabrik tetap bersenandung.

19
Penjelasan di atas tentang konvergensi struktur politik dan
ekonomi dari revolusi industri kedua. Satu masalah yang jelas adalah
bahwa ia tidak terlalu memperhatikan ketegangan dan kontradiksi
dalam struktur ekonomi-politik dari revolusi industri kedua. Namun,
masalah yang lebih kritis adalah bahwa kisah ini tidak dapat
mengantisipasi perkembangan baru yang akan menciptakan tekanan
bagi perubahan struktural mendasar di luar model revolusi industri
kedua. Pada tingkat endogen, tekanan ekonomi utama untuk
perubahan berasal dari persaingan antara berbagai fraksi modal dan
meningkatnya diferensiasi proses produksi dan konsumsi. "Persaingan
modal" tidak begitu mementingkan persaingan antara perusahaan
kapitalis saingan karena persaingan antar sektor berakar pada struktur
aset yang berbeda, memproduksi dan memasarkan berbagai jenis
barang. Sektor produksi berskala besar yang ditandai dengan tingkat
aset spesifik yang tinggi, terutama monopoli alami dan sektor yang
memproduksi barang modal, ditempatkan paling baik untuk
mendapatkan keuntungan secara struktural dari promosi dan
pengadaan negara dan dari struktur terpusat dari modal keuangan
publik dan / atau swasta. Sektor skala kecil yang dicirikan terutama
oleh aset nonspesifik secara struktural berorientasi pada produsen
kecil dan konsumen akhir dan menemukan hubungan mereka dengan
negara atau dengan keuangan tinggi yang tidak ada, tidak relevan, atau
mengancam pasar mereka. Amerika Serikat mungkin satu-satunya
negara yang, karena ukuran pasar lokalnya, secara kelembagaan dapat
memenuhi kedua sektor tersebut. Namun, di sebagian besar negara,
ketegangan antara sektor-sektor ekonomi ini terjalin dengan bentrokan
politik dan ideologis di berbagai kelompok sosial dan ekonomi yang
mendukung berbagai bentuk dan kombinasi otoritarianisme dan
demokrasi. Rentang kendali internal hirarki negara qua terus-menerus
di bawah tantangan, bahkan di negara paling otoriter, dan kegagalan
hierarki untuk bekerja secara efisien adalah hal biasa.

20
Interaksi dari ketegangan endogen ini dengan yang eksogen
menjadi hal yang penting dalam jangka panjang. Pada tingkat
eksogen, bentuk-bentuk utama ketegangan antara berbagai jenis
barang atau struktur aset adalah antara nasionalisasi peperangan (dan
sistem produksi yang diperlukan untuk perang total modern) di satu
sisi, dan internasionalisasi bertahap, tetapi tidak merata, produksi dan
pertukaran sipil, di sisi lain. Sampai Perang Dunia I, dinamika
persaingan ekonomi dan persaingan militer tidak begitu berbeda
dengan banyak masalah utama. Seperti pengembangan sistem kereta
api ganda, industri baja, dan industri pembuatan kapal. Selain itu,
negara-bangsa merupakan unit organisasi yang dominan (walaupun
bukan satu-satunya) untuk kedua jenis kegiatan. Ketidakstabilan
ekonomi internasional tahun 1920-an dan Depresi Hebat tahun 1930-
an, bagaimanapun merupakan kehilangan yang mendasar dari kontrol
oleh negara-negara, baik yang otoriter maupun liberal, atas proses
ekonomi internasional. Hasil langsungnya tentu saja adalah upaya
untuk menegaskan kembali bentuk-bentuk kontrol yang sudah ada
sebelumnya dalam bentuk-bentuk yang lebih intensif karena semua
negara-negara besar berusaha untuk merebut kembali kendali hirarki
atas ekonomi mereka.11
4. Globalisasi dan Masalah Barang yang Berubah
Dimensi terpenting antara struktur politik dan ekonomi di
negara revolusi industri adalah dominasi aparatur organisasi tingkat
nasional di setiap bidang dan pengembangan terorganisir yang rumit
yang memotong dan menghubungkan dua bidang. Transformasi
mendasar telah terjadi dalam struktur barang publik di era global saat
ini, menjadikan pengejaran dan penyediaannya melalui negara-bangsa
menjadi lebih bermasalah. Dalam dunia yang mengglobal, negara-
negara nasional kesulitan memasok atau mengembangkan semua
kategori barang publik ini. Barang publik resmi adalah kasus yang

11
Ibid, hal 450-453.

21
jelas. Dalam dunia perdagangan yang relatif terbuka, deregulasi
keuangan, meningkatnya dampak teknologi informasi, dan mengenai
hak-hak properti lebih sulit dibangun dan dipertahankan oleh negara.
Aliran modal internasional dan menjamurnya pusat-pusat keuangan
luar negeri dan tempat-tempat bebas pajak telah menjadikan
kepemilikan perusahaan dan kemampuan perusahaan secara internal
untuk mengalokasikan sumber daya melalui transfer pricing dan
sejenisnya yang semakin buram bagi otoritas pajak dan peraturan
nasional. Bentuk tradisional proteksionisme perdagangan juga mudah
dilewati dan kontraproduktif.
Nilai tukar mata uang dan suku bunga semakin ditetapkan
dalam pasar global dan pemerintah berusaha untuk memanipulasinya
dengan risiko sendiri. Aturan hukum semakin mudah dihindari, dan
upaya untuk memperluas jangkauan hukum negara nasional melalui
pengembangan ekstrateritorial tidak efektif dan diperdebatkan dengan
panas. Akhirnya, kemampuan perusahaan, pelaku pasar, dan bagian-
bagian yang bersaing dari aparatur negara nasional sendiri untuk
mempertahankan dan memperluas wilayah ekonomi dan politik
mereka melalui kegiatan-kegiatan seperti jejaring kebijakan
transnasional dan arbitrase peraturan kapasitas sektor industri dan
keuangan untuk memutarbalikkan negara.12
Hal ini menjadikan berkurangnya kapasitas pemerintahan
nasional dalam mengatur dan mengelola ekonomi-ekonomi
pemerintahan tersebut dan penolakan terhadap rekstruksi
pemerintahan selaras dengan garis-garis besar pasar bebas dalam
perkembangan globalisasi ekonomi. Sehingga tidak adanya ekonomi
nasional yang terpisah maupun menyendiri, dikarenakan saling
terkaitnya dalam ekonomi global. Globalisasi ekonomi mencerminkan
aliran-aliran modal dan barang lintas negara, menghancurkan ide

12
Ibid, hal. 446.

22
tentang kedaulatan ekonomi. Proses dari globalisasi ekonomi sendiri
ialah terjadinya suatu perubahahan perekonomian dunia yang bersifat
mendasar atau secara terstruktur dan berkembang dengan pesat yang
mengikuti kemajuan teknologi dengan proses yang semakin cepat.
Perkembangan globalisasi ekonomi terlihat dengan meningkatnya
hubungan saling ketergantungan dan juga memperkuat persaingan
antar negara yang tidak hanya bergerak di perdagangan internasional
melainkan juga dalam investasi, finansial dan produksi. Globalisasi
ekonomi sendiri ditandai dengan semakin tipisnya batas kegiatan
ekonomi atau pasar baik dalam skala nasional maupun regional, tetapi
harus bergerak dalam skala internasional yang melibatkan banyak
negara.13

13
Akhmad Nur Zaroni, Globalisasi Ekonomi Dan Implikasinya Bagi Negara-Negara
Berkembang : Telaah Pendekatan Ekonomi Islam, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam: Al-Tijary,
Vol. 1, No. 1, Desember 2015, hal. 3.

23
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Dengan adanya keberhasilan perdagangan bebas dalam meningkatkan
perekonomian suatu negara, maka semua negara yang ada di dunia ini,
tidak tertinggal negara yang sedang berkembang berbondong-bondong
ikut serta dalam perdagangan bebas. Akan tetapi, ternyata dengan
adanya perdagangan bebas dapat menimbulkan masalah terhadap
kelestarian lingkungan, salah satunya dengan adanya eksternalitas
negatif, seperti pencemaran air akibat limbah pabrik yang dibuang di
sungai, pencemaran udara akibat asap pabrik, dan lain-lain. Untuk
mengatasi adanya eksternalitas negatif tersbut, ada beberapa cara yaitu
penetapan hak kepemilikan (property rights) dan campur tangan
pemerintah dalam bentuk regulasi, penetapan pajak, dan lain-lain.
Selain itu, untuk menciptakan keharmonisan antara kelestarian
lingkungan dan perdagangan bebas, maka perlu dilakukannya
pembangunan berkelanjutan, dengan tujuan manfaat dari sumber daya
alam dapat dinikmati generasi selanjutnya.
2. Globalisasi memberikan kebebasan kepada seluruh dunia untuk bisa
melakukan perdagangan bebas, dalam arti semua barang masuk atau
keluar dari negara lain menjadi lebih mudah. Dalam kata lain, dengan
adanya globalisasi batas wilayah antar negara dihilangkan.

24
DAFTAR PUSTAKA

Bidayani, Endang . 2014. Ekonomi Sumberdaya Pesisir yang Tercemar. Malang:


UB Press.
Cohn, Theodore H. 2012. Global Political Economy: Theory and Practice. United
States: Pearson Education.
Fauzi, Akhmad. 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Teori dan
Aplikasi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Frieden, Jeffry A. David A. Lake. 2000. International Political Economy:
Perspectives on Global Power and Wealth. Boston: Bedford/St. Martin’s.
Surjanti, Jun, dkk. 2018. Edisi Belajar Teori Ekonomi (Pendekatan Mikro)
Berbasis Karakter. Yogyakarta: Deepublish.
Mukhlis, Imam. 2009. Eksternalitas, Pertumbuhan Ekonomi, dan Pembangunan
Berkelanjutan dalam Perspektif Teoritis. Jurnal Ekonomi Bisnis. Tahun
14. No. 3, November
Nugraheni, Siwi. 1997. Perdagangan Internasional dan Lingkungan Hidup:Kasus
Negara Berkembang, Bina Ekonomi. Edisi November.
Zaroni, Akhmad Nur. 2015. Globalisasi Ekonomi Dan Implikasinya Bagi Negara-
Negara Berkembang : Telaah Pendekatan Ekonomi Islam. Jurnal Ekonomi
dan Bisnis Islam: Al-Tijary. Vol. 1. No. 1.

25