Anda di halaman 1dari 38

Tutorial Klinik

Gagal Tumbuh (Failure to Thrive)

Azalia Mentari Ramadhana


(1710029010)

Pembimbing :
dr. Anrih Roi Manthurio, Sp. A
Latar belakang

– Proses tumbuh kembang, termasuk pertumbuhan, merupakan proses utama dan


terpenting pada anak. Gangguan, hambatan, maupun penyimpangan yang terjadi
pada pertumbuhan anak akan berdampak buruk terhadap masa depan anak.1,2

– Salah satu gangguan pertumbuhan yang terjadi pada anak adalah gagal tumbuh
(Failure to thrive). Gagal tumbuh (failure to Thrive) adalah suatu keadaan yang
ditandai dengan kenaikan berat badan yang tidak sesuai dengan seharusnya, tidak
naik (flat growth) atau bahkan turun dibandingkan pengukuran sebelumnya
(diketahui dari grafik pertumbuhan). Gagal tumbuh merupakan tanda yang paling
sering terjadi pada anak yang mengalami gizi kurang. Berat badan dan tinggi badan
gagal untuk bertambah dengan kecepatan yang diharapkan.
Latar belakang

– Hal ini dapat terjadi karena satu atau kombinasi dari berbagai faktor, seperti
asupan gizi tidak adekuat, absorbsi zat gizi terganggu, kegagalan penggunaan
zat gizi, dan meningkatnya kebutuhan zat gizi. Faktor-faktor utama yang ikut
mempengaruhi gagal tumbuh adalah kemiskinan, kurangnya asuhan emosional
dan sosial serta infeksi terutama infeksi parasit pada saluran cerna.

– Penyebab gagal tumbuh bervariasi dan berhubungan dengan komplikasi di


kemudian hari, oleh karenanya setiap dokter harus dapat mengenal dan
menangani gagal tumbuh secara tepat untuk menurunkan risiko atau komplikasi
jangka panjang.
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
– Pertumbuhan Normal
Pertumbuhan adalah suatu proses bertambah besarnya ukuran fisik dan
struktur tubuh, adapun indikatornya adalah berat badan, panjang
badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan atas.
Pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan
berat (gram, kilogram) dan satuan panjang (centimeter, meter).1
Etiologi
Pertumbuhan anak setelah lahir dibagi dalam 3 fase yaitu4
– Bayi
Pada fase ini terjadi pertumbuhan yang cepat dari berat badan, panjang badan dan lingkar kepala bayi. Rata-
rata pertambahan panjang badan adalah 25 cm pada tahun pertama, 12 cm pada tahun kedua dan 8 cm pada
tahun ketiga.

– Anak
Pada fase ini pertumbuhan relatif konstan yaitu sebesar 5-7 cm per tahun sampai menjelang usia pubertas

– Pubertas
Pubertas di mulai pada usia 10-18 tahun untuk wanita dan 12-20 tahun pada laki-laki. Pada fase ini terjadi grow
spurt yang ditandai dengan adanya akselerasi dan deselerasi pertumbuhan. Setelah puncak percepatan
tumbuh maka akan terjadi perlambatan dan akhirnya pertumbuhan akan berhenti.
Faktor yang Mempengaruhi
Pertumbuhan Normal
Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
anak.7
– Faktor Genetik

– Faktor Lingkungan :
Faktor Prenatal
Faktor Postnatal
Parameter Penilaian
Pertumbuhan
Ukuran Antropometrik
Penilaian pertumbuhan anak dapat digunakan ukuran antropometrik yang dibedakan menjadi dua
kelompok.7
– Tergantung Umur (Age dependent)
Penilaian dengan menggunakan Berat badan (BB) terhadap umur (BB/U), tinggi/panjang badan
(TB) terhadap umur (TB/U), lingkar kepala (LK) terhadap umur (LK/U), lingkar lengan atas (LiLA)
terhadap umur (LiLA/U).

– Tidak Tergantung Umur


Penilaian pertumbuhan menggunakan BB terhadap TB (BB/TB) dan LILA terhadap TB (LILA/TB).
Ukuran antropometrik yang digunakan dalam penilaian
pertumbuhan adalah sebagai berikut

Berat Badan
Berat badan dipakai sebagai indikator yang terbaik pada saat ini untuk mengetahui keadaan gizi dan pertumbuhan anak

Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan ukuran antropometrik kedua yang terpenting.

Lingkar Kepala
Lingkar kepala mencerminkan volume intrakranial. Dipakai untuk menaksir pertumbuhan otak.

Lingkar Lengan Atas (LiLA)


Lingkar lengan atas (LiLA) mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak terpengaruh oleh cairan tubuh
dibandingkan dengan berat badan
Gejala dan tanda pada
pemeriksaan fisik
– Keseluruhan fisik
Dilihat dari bentuk tubuh, perbandingan bagian kepala, badan dan anggota gerak tubuh
– Jaringan tubuh
Pertumbuhan otot diperiksa pada lengan atas, pantat, dan paha dengan cara cubitan tebal
– Jaringan Lemak
Jaringan lemak diperiksa pada kulit dibawah trisep dan subskapular dengan cara cubitan tipis
– Rambut
Pada rambut yang diperiksa adalah pertumbuhannya, warna, diameter (tebal atau tipis), sifat
(keriting atau lurus), dan akar rambut (mudah dicabut atau tidak).
– Gigi-geligi
Saat erupsi gigi susu, saat tanggal, dan erupsi gigi permanen.7
Gejala dan tanda pada pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium terutama pemeriksaan darah yaitu kadar Hb, serum
protein (albumin dan globulin) dan hormon.7

Gejala dan tanda pada pemeriksaan radiologis


Pemeriksaan radiologis terutama untuk menilai umur biologis yaitu umur tulang
(bone age) biasanya dilakukan kalau ada kecurigaan gangguan pertumbuhan
Gagal Tumbuh

Definisi
Gagal tumbuh (failure to Thrive) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan kenaikan
berat badan yang tidak sesuai dengan seharusnya, tidak naik (flat growth) atau bahkan
turun dibandingkan pengukuran sebelumnya (diketahui dari grafik pertumbuhan).

Gagal tumbuh bukan merupakan suatu diagnosis tersendiri, akan tetapi gagal tumbuh
dapat menggambarkan bahwa seorang anak yang tidak dapat mencapai potensi
pertumbuhan sesuai usianya. Meskipun hal ini sering ditemukan pada usia di bawah 2
tahun, tetapi gagal tumbuh dapat terjadi kapan saja pada masa anak-anak.4
Ada tiga kriteria umum untuk menentukan gagal tumbuh dengan
menggunakan kurva pertumbuhan NCHS/CDC-2000 4:

– Anak umur kurang dari 2 tahun dengan berat badan di bawah persentil ke-3
sesuai usianya pada lebih dari satu pengukuran.
– Anak umur kurang dari 2 tahun dengan berat badan per umur kurang dari 80%
– Anak umur kurang dari 2 tahun dengan penurunan berat badan memotong 2
persentil mayor atau lebih pada kurva pertumbuhan
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi gagal tumbuh pada anak lebih besar di negara berkembang dengan
angka kemiskinan dan angka malnutrisi yang tinggi. Dari data nasional, gagal
tumbuh berkisar antara 20 hingga 50 persen per provinsi, dan pada mayoritas
provinsi lebih dari sepertiga anak usia 6-15 tahun terganggu pertumbuhannya
Klasifikasi
Gagal tumbuh dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

– Non organic (psychosocial) failure to thrive


Pada gagal tumbuh non organik, tidak diketahui kondisi medis yang menyebabkan gagal tumbuh, namun
penyebabnya diantaranya karena kemiskinan, masalah psikososial di dalam keluarga, kurangnya
pengetahuan tentang nutrisi dan cara pemberian makan anak, penelantaran anak, dan single parent.
– Organic failure to thrive
Gagal tumbuh organik diketahui kondisi medis yang menyebabkan gagal tumbuhnya. Biasanya
disebabkan oleh infeksi (HIV, tuberkulosis), gangguan pada saluran cerna (diare kronik, stenosis pilorus,
gastroesofageal refluks), gangguan saraf (serebral palsy, retardasi mental), gangguan pada traktus
urinarius (infeksi saluran kemih, gagal ginjal kronik), penyakit jantung bawaan dan kelainan kromosom.
– Mixed failure to thrive
Gagal tumbuh disebabkan oleh kombinasi antara penyebab organik dan non organik.
– Failure to thrive with no spesific etiology
Dilihat dari literatur tentang gagal tumbuh terdapat 12-34% anak gagal tumbuh tidak memiliki etiologi
yang spesifik.
ETIOLOGI

Penyebab prenatal gagal tumbuh diantaranya sebagai berikut.


– Prematuritas dan komplikasinya
– Paparan uterus terhadap toxic agents seperti alkohol, rokok, obat-obatan
– Infeksi (Rubella, CMV, HIV, dll)
– Intra uterine growth retardation (IUGR) karena berbagai penyebab
– Abnormalitas kromosom (Down syndrome, turner syndrom).

Penyebab postnatal
– Intake kalori yang tidak adekuat
– Absorpsi yang tidak adekuat
– Peningkatan kebutuhan kalori
– Gangguan penggunaan kalori.
Manifestasi Klinis dan
Deteksi Dini
– Anamnesis
Terkadang orangtua tidak menyadari perlambatan pertumbuhan pada anak mereka. Oleh karena itu anamnesis secara
teliti penting dilakukan untuk mengevaluasi gagal tumbuh pada anak. Anamnesis yang perlu diperhatikan adalah8 :

– Pemberian asupan: asupan makanan baik ASI, kekuatan menghisap ASI, susu formula, makanan lunak atau
makanan lain, jumlah asupan yang diberikan dan frekuensi pemberian asupan.
– Riwayat perkembangan: riwayat kehamilan ibu dan riwayat kelahiran anak (usia ketika ibu hamil, komplikasi
kehamilan ibu, penggunaan obat-obatan ketika ibu hamil, konsumsi alkohol ketika ibu hamil, komplikasi ketika
melahirkan), riwayat merokok ibu, milestones perkembangan anak.
– Perilaku anak: gangguan tidur pada anak, pola makan anak, perilaku penolakan.
– Riwayat psikososial: komposisi keluarga, status pekerjaan dan ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga.
– Pengasuh: sangat penting untuk mengamati pengasuh anak ketika bermain dan memberi makan. Hal ini
memberikan petunjuk mengenai interaksi pengasuh dengan anak seperti cara pengasuh menyuapi anak, respon
pengasuh terhadap prilaku anak ketika bermain atau menangis dan interaksi anak dengan pengasuh.
Pemeriksaan Fisik

- Tinggi badan
Tinggi/panjang badan pasien harus diukur pada tiap kunjungan. Hasil pengukuran tinggi badan jika
dikaitkan dengan hasil pengukuran berat badan akan memberikan informasi yang bermakna
tentang status nutrisi dan pertumbuhan fisis anak.9 Dapat diinterpretasikan dengan9 :
– TB/U pada kurva :
– < persentil 5 : defisit berat
– persentil 5-10 : perlu evaluasi untuk membedakan apakah perawakan pendek akibat
defisiensi nutrisi kronik atau konstitusional

– TB/U dibandingkan standar baku (%)


– 90-110% : baik / normal
– 70-89% : tinggi kurang
– <70% : tinggi sangat kurang
Pemeriksaan Fisik

– Berat badan – BB/U dibandingkan acuan standar, dinyatakan


dalam persentase
– Berat badan adalah parameter – > 120% : gizi lebih
pertumbuhan yang sederhana, mudah
– 80-120% : gizi baik
diukur dan di ulang dan merupakan
indeks untuk status nutrisi sesaat. – 60-80% : tanpa edem : gizi kurang
Ukuran berat badan dipetakan pada – dengan udem : gizi buruk (kwashiorkor)
kurva standar berat badan/umur – < 60 % : gizi buruk : tanpa udem (marasmus)
(BB/U) dan berat badan/tinggi badan
(BB/TB).10
– dengan udem (marasmus-kwashiorkor)
– BB/TB
– Interpretasi : – >120% : Obesitas
– BB/U dipetakan pada kurva berat – 110-120% : overweight
badan – 90-110% : normal
– BB < persentil 10 : defisit – 70-90% : gizi kurang
– BB > persentil 90 : kelebihan – <70% : gizi buruk
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium hanya bermanfaat bila terdapat temuan signifikan pada


anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan labor meliputi darah perifer lengkap,
laju endap darah, urinalisis, kultur urin, tinja untuk melihat parasit dan malabsorbsi,
ureum dan kreatinin serum, analisa gas darah, elektrolit, tes fungsi hati. Pemeriksaan
lain misalnya skrining celiac dilakukan bila ada indikasi sesuai dengan hasil temuan
pada anamnesis dan pemeriksaan fisik.7

Jika dicurigai kelainan jantung dapat dilakukan echocardiography, jika dicurigaikelainan


paru dapat dilakukan pemeriksaan foto rontgen dan uji Mantoux. Jika dicurigai kelainan
endokrin atau tulang dapat dilakukan pemeriksaan usia tulang dan bone survey. Jika
dicurigai kelainan neurologis dapat dilakukan pemeriksaan CT-Scan kepala.7
Diagnosis

Untuk menentukan seorang anak mengalami gagal tumbuh maka harus dilakukan
pendekatan secara menyeluruh meliputi4 :
– Menilai penanganan diet, pemberian makan atau kebiasaan makan, respon anak
terhadap pemberian makanan
– Riwayat kelahiran (berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala saat lahir serta
data riwayat kehamilan ibu
– Data tinggi badan orang tua untuk menilai tinggi potensi genetik anak
– Data pertumbuhan sebelumnya, riwayat perkembangan, gambaran pola tidur anak,
riwayat kesehatan anak untuk mengetahui apakah terdapat penyakit kronis,
penyakit genetik, alergi atau adanya suatu sindrom atau adanya gangguan gizi
sebagai penyebab dari gagal tumbuh
– Riwayat pengobatan sebelumnya maupun pengobatan yang didapat pada saat ini
– Faktor sosial keluarga, interaksi ibu dan anak, serta lingkungan tempat anak
dibesarkan.
Diagnosis Banding

– Familial Short Stature


Anak dengan perawakan pendek.
– Constitutional Growth Delay
Constitutional growth delay adalah keadaan transien hipogonadisme hipogonadotropik terkait dengan
perpanjangan fase pertumbuhan, penundaan maturasi tulang, penurunan kecepatan pertumbuhan
pada masa pubertas (pubertal growth spurt), dan penurunan sekresi insulin-like growth factor-1.
– Anak Pada Populasi Tertentu
Bayi preterm dan bayi yang mengalami intra uterine growth restriction (IUGR) biasanya akan
menunjukkan tanda-tanda gagal tumbuh langsung pada masa postnatal, tetapi catch-up pertumbuhan
akan terjadi pada 2-3 tahun pertama kehidupan.
– Sindrom Diensefalik
Sindrom diensefalik biasanya muncul pada pada tahun pertama kehidupan dengan tampilan klinis gagal
tumbuh, kurus, peningkatan nafsu makan, euforia, dan pergerakan mata nystagmoid.
– Psychosocial Short Stature (Psychosocial Dwarfism)
Psychososcial dwarfism adalah sindrom perlambatan pertumbuhan linier yang dikombinasikan dengan
karakteristik gangguan prilaku seperti gangguan tidur dan kebiasaan makan yang tidak biasa.
Penatalaksanaan

Tatalaksana utama pada gagal tumbuh adalah mengetahui penyebab yang mendasarinya dan
memperbaiki keadaan tersebut. Sebagian besar kasus membutuhkan intervensi nutrisi dan
modifikasi perilaku yang bermakna. Edukasi keluarga mengenai kebutuhan gizi dan cara
pemberian makan pada anak sangat penting dalam tatalaksana anak dengan gagal tumbuh. Anak
yang tidak respon terhadap modifikasi nutrisi dan perilaku membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Ada dua hal utama yang dibutuhkan anak dengan gagal tumbuh yaitu kebutuhan akan diet tinggi
kalori untuk tumbuh kejar dan pemantauan minimal satu kali sebulan sampai tercapai
pertumbuhan yang normal.

Perawatan di rumah sakit jarang dibutuhkan kecuali jika gagal dengan tatalaksana rawat jalan,
pada gagal tumbuh yang berat atau disertai penyakit berat yang membutuhkan perawatan di
rumah sakit.4
– Makanan dengan kalori tinggi dapat diberikan selama periode catch-up. Anak
yang lebih besar dapat diberikan, selai kacang, keju, buah kering, dan saus krim.
– Untuk orang tua yang menyusui anaknya, evaluasi pemberian ASI pada bayi
dengan cara memperbaiki manajemen laktasi, selalu pastikan jumlah asupan
serta jadwal pemberian ASI disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Frekuensi
pemberian berkisar 8-12 kali dalam 24 jam dengan lama pemberian minimal 10
menit disetiap payudara.
– Makanan pendamping dapat diberikan pada bayi di atas 6 bulan. Pastikan
pemberian makanan cukup, pemberian makanan pada balita sebaiknya 3 kali
makan, 3 kali snack bergizi per hari, susu sebanyak 480-960 ml/hari. hentikan
pemberian jus, punch, dan soda sampai target catch-up tercapai dan jangan
memberikan makanan secara paksa.14
Komplikasi

Gangguan pertumbuhan dalam 6 bulan pertama berhubungan dengan gangguan


mental dan psikomotor pada tahun kedua. Dampak terhambatnya pertumbuhan
terhadap perkembangan intelektual dan tingkah laku tergantung dari
penyebabnya. Malnutrisi berat yang lama dan timbul dini berhubungan dengan
gangguan perkembangan sistem saraf.
Prognosis

Untuk mencapai pertumbuhan dewasa normal, maka prognosis gagal tumbuh


tergantung dari penyebab gagal tumbuh itu sendiri. Intervensi dini sangat penting
untuk mengurangi resiko gangguan pertumbuhan yang berkelanjutan. Makin cepat
timbulnya gangguan tumbuh dan makin berat penyakit yang mendasarinya maka
prognosisnya makin kurang baik. Gangguan pertumbuhan selama bayi dan anak
merupakan faktor resiko potensial untuk pertumbuhan selanjutnya. Prognosisnya
baik jika kebutuhan medis, nutrisi dan psikososial anak serta keluarga tercukupi.4

TERIMA KASIH

Beri Nilai