Anda di halaman 1dari 14

EKOLEKSIKON MASAKAN KHAS MASYARAKAT DESA JARING HALUS

Dosen Pengampu:
Dr. Nurlela, M.Hum; Dr. Mhd. Takari, M.Hum.
; Dr. Suprayitno, M.Hum.
Alvi Mawaddah, Lucy Theresia, Siti Ayu Nurhidayati
Program Studi Linguistik Pascasarjana USU
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keunikan masakan khas suku Melayu di Desa Jaring
Halus salah satu produk kebudayaan Melayu yaitu masakan Sikaiye dan Krabu Semangke
sebagai makanan khas yang diminati masyarakat di sana. Metode penelitian yang
digunakan adalah pendekatan etnosemantik dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil
penelitian ini antara lain: (1) 15 leksikon dalam kategori kata monomorfemis; (2) 7
leksikon dalam kategori kata polimorfemis; dan (3) 26 leksikon dalam kategori frasa
nominal.
Kata kunci : Ekolinguistik, Jaring Halus, leksikon, Sikaiye dan Krabu Semangke
LATAR BELAKANG
Potensi alam Desa Jaring halus cukup besar. Budaya masyarakatnya pun masih
terjaga. Kelestarian lingkungannya dipertahankan oleh masyarakatnya sesuai aturan-aturan
lokal. Hal ini membuat peneliti tertarik melakukan penelitian ke Desa yang berada di
Kecamatan Sicanggang Kabupaten Langkat.
Sebuah Desa yang bernama Jaring Halus ini merupakan desa kepulauan yang
letaknya di pesisir timur pantai timur di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Desa ini
berada di bibir Selat Malaka. Nama pulau ini kerap kali disebut-sebut bila bicara
konservasi mangrove (bakau). Banyak cerita tentang Desa Jaring Halus mulai dari kisah
spiritual (kebudayaan), kemiskinan (ekonomi), dan penderitaan (sosial) masyarakat pulau
sampai kepada upaya inisiatif masyarakat setempat melindungi pulau itu sebagai rumah
bersama seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya.
Kondisi alam Desa Jaring Halus yang merupakan pulau terluar di sisi timur Pulau
Sumatera ini masih dalam keadaan baik dan desa ini menyimpan banyak potensi. Potensi
alam misalnya desa ini masih memiliki Hutan desa seluas sekitar 40 hektare tersebut,
menyimpan banyak spesies mangrove di antaranya, Api-api (Aviceana marina), Dadap
(Sonneratia casedoris), Lenggadai (Brugueira Parviflora), Bakau (Rhizophora Apiculata),
1

Nipah (Nypa Fructicans), Nyirih (Xylocarpus Granatum) dan Buta-buta (Exoecaria


Agallocha). Di dalam hutan mangrove juga masih banyak ditemukan satwa lokal mulai
dari jenis burung bangau tuntong, raja udang sungai, kuntul kerbau maupun calak merah
serta kera berbulu abu-abu yang sering bergerombol di pucuk pohon bakau. Ada juga
beberapa jenis elang juga sering nampak sedang hinggap di dahan pohon bakau.
Warga di desa ini berasal dari berbagai etnis antara lain Melayu, Banjar, Mandailing
dan Jawa. Dengan etnis dominan adalah Melayu. Sejarah desa ini menurut satu versi
bahwa sekitar tahun 1917 mengisahkan perang antara rakyat Malaysia (yang pimpinan Abu
Bakar bin Awang) warga Kedah Malaysia dengan Inggris di sebut Perang Larut. Ada
sekelompok orang yang melarikan diri ke wilayah yang kini menjadi bagian dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagian besar masyarakat Desa Jaring Halus yang berpenduduk sekitar 3.600 jiwa itu
berprofesi sebagai nelayan dan menggantungkan hidupnya pada keseimbangan ekosistem
laut di sana, selebihnya bekerja sebagai pegawai negeri sipil, pengusaha ikan, buruh, dan
pedagang. Sehingga saat ini, masyarakat masih mempertahankan kearifan budaya lokalnya
untuk mempertahankan dan melindungi kawasan hutan desa. Ritual yang paling terkenal di
desa ini adalah Jamu laut, sebuah ritual menghormati para leluhur yang menguasai
kawasan laut. Ini adalah sebuah peninggalan kebudayaan yang telah berlangsung lama
sejak tahun 1917 dan dilakukan setiap tiga tahun sekali. Tujuan ritual ini adalah
keselamatan dan kesejahteraan masyarakat nelayan. Dalam ritual ini, mereka melakukan
sesaji kepada para leluhur berupa kepala kambing, kepala ikan dan kue-kue buatan
masyarakat. Lalu masyarakat melakukan makan bersama. Sorenya, mereka melakukan hari
pantang. Hari di mana selama 24 jam mereka tidak boleh mengangkat air yang berasal dari
tanah maupun laut. Tidak boleh mengambil seluruh benda yang jatuh ke tanah, tidak boleh
menebang kayu. Serta dilarang memotong sesuatu yang berdarah selama 40 hari sejak hari
pantang diberlakukan. Beberapa jam setelah ritual jamu laut selesai, biasanya kampung
mulai kosong. Warga meninggalkan kampung karena mereka tidak bisa menjamin anakanaknya dapat menghindari seluruh pantangan. Mereka memilih meninggalkan kampung
pergi ke tempat sanak famili yang tinggal di luar pulau.
Selain memiliki ritual rutin tahunan, masyarakat Jaring halus juga memiliki masakan
khas, yaitu srikaye (srikaya) dan krabu semangke (sambal semangka). Masakan khas suku
2

Melayu di Desa Jaring Halus ini sangat unik. Masyarakat Melayu yang masih dipengaruhi
dari Kedah Malaysia ini memiliki masakan khas bernama Krabu Semangke yang bahan
utamanya semangka merah yang manis diolah menjadi sambal yang segar dengan
dipadukan cabai, bawang merah, terasi. Ketertarikan terhadap masakan Melayu di Desa
Jaring Halus ini membawa peneliti mengamati secara langsung pembuatan masakan
tersebut. Dari masakan tersebut masyarakat menyebut bahan, alat, cara masak dengan
leksikon khas Melayu Kedah yang sedikit berbeda dengan Melayu Indonesia seperti Riau
dan lain-lain. Misal menyebutkan semangka tembikai.
Agar penelitian ini terarah, penelitian ini difokuskan kepada kajian ekolinguistik.
Ekolinguistik merupakan kajian interdisipliner yang mengkaitkan ekologi dan linguistik.
Kajian ini diawali pada tahun 1970-an ketika Einar Haugen (1972) menciptakan paradigma
ekologi bahasa. Dalam pandangan Haugen, ekologi bahasa adalah kajian tentang
interaksi bahasa dan lingkungannya. Dalam konteks ini, Haugen menggunakan konsep
lingkungan bahasa secara metaforis, yakni lingkungan dipahami sebagai masyarakat
pengguna bahasa, sebagai salah satu kode bahasa. Bahasa berada hanya dalam pikiran
penuturnya, dan oleh karenanya bahasa hanya berfungsi apabila digunakan untuk
menghubungkan antarpenutur, dan menghubungkan penutur dengan lingkungannya, baik
lingkungan sosial ataupun lingkungan alam. Dengan demikian, ekologi bahasa ditentukan
oleh orang-orang yang mempelajari, menggunakan, dan menyampaikan bahasa tersebut
kepada orang lain (Haugen, 2001:57).
Dua dekade setelah diciptakannya paradigma ekologi bahasa, barulah muncul istilah
ekolinguistik ketika Halliday (1990) pada konferensi AILA memaparkan elemen-elemen
dalam sistem bahasa yang dianggap ekologis (holistic system) dan tidak ekologis
(fragmented system). Berbeda dengan Haugen, Halliday menggunakan konsep ekologi
dalam pengertian non-metaforis, yakni ekologi sebagai lingkungan biologis. Halliday
mengkritisi bagaimana sistem bahasa berpengaruh pada perilaku penggunanya dalam
mengelola lingkungan. Dalam tulisannya yang berjudul New Ways of Meaning, Halliday
(2001) menjelaskan bahwa bahasa dan lingkungan merupakan dua hal yang saling
mempengaruhi. Perubahan bahasa, baik di bidang leksikon maupun gramatika, tidak dapat
dilepaskan dari perubahan lingkungan alam dan sosial (kultural) masyarakatnya. Di satu
3

sisi, perubahan lingkungan berdampak pada perubahan bahasa, dan di sisi lain, perilaku
masyarakat terhadap lingkungannya dipengaruhi oleh bahasa yang mereka gunakan. Kajian
terhadap hubungan dialektika antara bahasa dan lingkungannya telah melahirkan topiktopik penelitian di
Berdasarkan alasan itulah peneliti merasa tertarik untuk meneliti tentang Ekoleksikon
masakan Khas Masyarakat Jaring Halus.
METODOLOGI
Pendekatan kualitatif yang dilakukan di dalam penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan informasi secara langsung dari informan dengan menggunakan metode
wawancara dan pengamatan, mengumpulkan data leksikon. Pendekatan yang digunakan di
dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif
adalah penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau
bentuk hitungan lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian kaji tindak yang bertujuan
untuk menjawab berbagai persoalan yang diangkat dalam penelitian ini secara mendalam.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Smith dan Cormaek dalam
Moleong (2005: 239) menjelaskan bahwa penelitian kaji tindak sebagai proses untuk
memperoleh hasil perubahan dan memanfaatkan hasil perubahan yang diperoleh dalam
penelitian ini.
Penelitian kaji tindak adalah cara melakukan penelitian dan berupaya bekerja untuk
memecahkan masalah pada saat yang bersamaan. Pendekatan yang dilakukan untuk
pengukuran dasar dengan memanfaatkan pengamatan, pengumpulan data, wawancara, dan
perekaman.
LANDASAN TEORI
1. Ekolinguistik
Ekolinguistik mengkaji interaksi bahasa dengan ekologi pada dasarnya ekologi
merupakan kajian saling ketergantungan dalam suatu sistem. Ekologi bahasa dan ekologi
memadukan lingkungan, konservasi, interaksi, dan sistem bahasa. Jadi pendekatan
ekolinguistik digunakan dalam penelitian ini, karena konsep-konsep ekologis dalam bahasa
4

Melayu dialek Jaring Halus akan tersingkap. Lebih luas lagi, konsep-konsep sosialkultural,
historis demografis, filosofis religius, dan kolektif keetnikan pada cara pembuatan dari
makanan khas daerah Jaring Halus secara keseluruhan akan tergambar.
Kajian ekolinguistik menghubungkan dimensi biologis, sosiologis, dan ideologis dalam
bahasa hubungan ketiga model tersebut dapat digambarkan menurut model Bang & Drs
(1995: 47) dialoque Model dalam Jeppe Bundsgaard & Sune Steffensen (2000: 10)
Dalam perspektif ekolinguistik, perubahan bahasa mencerminkan atau menggambarkan
perubahan lingkungan, baik lingkungan budaya maupun lingkungan alam, demikian pula
sebaliknya. Berkurang atau menghilangnya biota, fauna atau flora di lingkungan alam dan
budaya tertentu mengubah pula pemahaman dan interelasi manusia dengan alam di
lingkungan itu.
Kondisi ini pada akhirnya memengaruhi pemakaian bahasa, misalnya penggunaan
leksikon pada makanan khas masyarakat Jaring Halus. Masyarakat Pakpak Dairi sebagai
penutur asli memahami makna leksikon yang digunakan pada kegiatan berkomunikasi
antarpenutur dengan menggunakan leksikon yang berasal tumbuhan hutan, gunung, alam,
nama-nama binatang karena memang tanaman, benda alam dan binatang tersebut masih
ada di lingkungan. Hal ini seiring pula dengan perubahan waktu, dengan menghilangnya
tanaman, penghuni hutan, gunung, alam, nama-nama binatang dan leksikon yang berkaitan
dengan kehidupan di lingkungan. Dengan demikian, telah terjadi pula penyusutan
pemahaman makna leksikal dan fungsinya yang leksikon tersebut disebutkan tapi wujud
benda yang bertautan dengan nama tumbuhan nyaris tidak dikenali lagi oleh genarasi
muda.
Sapir dalam Fill dan Mhlhusler (eds) (2001:14) menyebutkan tiga bentuk
lingkungan:
1) Lingkungan fisik yang mencakupi karakter geografis seperti topografi sebuah negara
(baik pantai, lembah dataran tinggi, maupun pegunungan, keadaan cuaca dan jumlah
curah hujan).
2) Lingkungan ekonomis kebutuhan dasar manusia yang terdiri atas flora dan fauna
dan sumber mineral yang ada dalam daerah tersebut.
5

3) Lingkungan sosial yang melingkupi pelbagai kekuatan yang dalam masyarakat yang
membentuk kehidupan dan pikiran masyarakat satu sama lain. Namun yang paling
penting dari kekuatan sosial tersebut adalah agama, standar etika, bentuk organisasi
politik dan seni.
Lebih lanjut Sapir menjelaskan bahwa secara lahiriah bahasa itu dipengaruhi lingkungan
yang melatari pengguna atau pemakai suatu bahasa. Lingkungan fisik ragawi tersebut
tergambar dalam bahasa-bahasa yang telah dipengaruhi faktor-faktor sosial. Namun,
perubahan lingkungan fisik akan lebih terlihat jelas dari kosa kata bahasa tersebut.
Pembahasan utama dalam studi ekolinguistik adalah hubungan antara lingkungan dan
bahasa pada ranah leksikon bukan pada ranah bunyi bahasa (fonologi) dan ranah bentuk
kata (morfologi). Hubungannya ini dijelaskan lebih rinci oleh Sapir dalam Fill dan
Mhlhusler (2001: 2), yaitu This interrelation exists merely of the level of the vocabulary
and not, for example, on that of phonology or morphology. Keterkaitan ini ada hanya pada
tingkat kosa kata dan bukan, pada fonologi atau morfologi. Lebih lanjut Sapir dalam Fill
dan Mhlhusler (2001: 14) menjelaskan hubungannya, yaitu lingkungan fisik dan sosial
masyarakat penutur sebuah bahasa akan tercermin dari penggunaan kosa kata bahasa
mereka. Kosa kata lengkap sebuah bahasa dipandang sebagai inventaris kompleks dari
semua ide, minat yang menyita perhatian masyarakat, misalnya kamus lengkap sebuah
suku menyimpulkan karakteristik budaya masyarakatnya yang memanfaatkan itu sehingga
tidaklah sulit menemukan contoh-contoh kosakata sebuah bahasa yang digunakan oleh
sekelompok penutur tempat mereka berada.
Perubahan bahasa pada tataran leksikon dipengaruhi oleh tiga dimensi (Lindo dan
Bundsgaard, 2000:11) yaitu ideo-logical dimension, socio-logical dimension, and biological dimension. Pertama, dimensi ideologis berkaitan dengan adanya ideologi
masyarakat. Misalnya ideologi kapitalisame dan ideologi pasar sehingga perlu dilakukan
aktivitas terhadap sumber daya lingkungan untuk
Dalam mendeskripsikan cara pembuatan, bahan-bahan dan alat yang digunakan penulis
mengacu kepada Koentjaraningrat (1985:243) yaitu Adapun landasan teori yang digunakan
dalam tulisan ini adalah prinsip kerangka cuisine (Rozin,dlm. Crotty).

1.

a. Bahan dasarpemilihannya dipengaruhi oleh: ketersediaan, faktor lingkungan


(iklim, nilai

gizi, mudah diproduksi, kepercayaan/agama.

b. Bahandihasilkan makanan dengan variasi : rasa, aroma, tekstur,

2.
3.

c. Penampilanmerupakan aspek penting dari pengalaman makan


Tehnik memasak segi membedakan dengan bahan yang sama,
Prinsip-prinsip aromasetiap kultur cenderung membuat kombinasi bumbu &
bahan Makanan sesering mungkin & konsisten memberikan ciri pada

4.

masakannya.
Alat yang digunakan.
1. Leksikon
Leksikon merupakan komponen bahasa yang memuat informasi tentang makna.

Sejalan dengan itu Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan leksikon sebagai
kosakata; komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna pemakaian
kata dalam bahasa; kekayaan kata yang dimiliki suatu bahasa (2001: 805). Sibarani
menyebutkan, Leksikon mencakup komponen yang mengandung segala informasi
tentang kata dalam suatu bahasa seperti perilaku semantik, sintaksis, morfologis, dan
fonologisnya, sedangkan perbendaharaan kata lebih ditekankan pada kekayaan kata yang
dimiliki seseorang atau suatu bahasa. (1997: 4).
Penjelasan di atas dapat dirarik kesimpulan leksikon yaitu, komponen bahasa yang
memuat semua informasi tentang makna pemakaian kata dalam bahasa seperti perilaku
semantik, sintaksis, morfologis, dan fonologisnya atau perbendaharaan kata lebih
ditekankan pada kekayaan kata yang dimiliki seseorang atau suatu bahasa suatu bahasa .
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Ekoleksikon pada Masakan Sikaiye Khas Jaring Halus
Dalam masakan khas daerah Jaring Halus, terdapat 7 leksikon makanan dan peralatan
yang digunakan. Leksikon-leksikon tersebut diklasifikasikan dalam bentuk kata dan frasa.
Berikut ini klasifikasi bentuk lingual leksikon makanan dan peralatan yang digunakan
dalam makanan khas daerah Jaring Halus yaitu Sikaiye.
7

1. Leksikon yang Berwujud Kata


Leksikon makanan dan peralatan yang digunakan dalam makanan Sikaiye terbagi
menjadi kata monomorfemis dan polimorfemis. Berikut dijelaskan leksikon-leksikon
tersebut.
a. Leksikon yang Berwujud Kata Monomorfemis
Dalam pembuatan makanan Sikaiye terdapat 7 leksikon yang berwujud kata
monomorfemis atau kata dasar. Adapun leksikon makanan dan peralatan dalam upacara
adat Wuku Taun yang berwujud kata monomorfemis adalah sebagai berikut
Tabel 1
Leksikon Makanan Berwujud Kata Dasar
No
1
2
3
4
5
6
7

Leksikon
nyot
Tlh
Bincu
Suduk
Cebok
Blang
Saringan

Gloss
kelapa
telur
Pewarna makanan
sendok
gayung
wajan
saringan

Semua leksikon di atas berwujud kata monomorfemis karena leksikon tersebut


hanya terbentuk dari satu morfem. Sebagai contoh, nyot, bincu dan suduk leksikon tidak
bisa diuraikan lagi menjadi bentuk morfologis yang lebih kecil karena kelima leksikon
tersebut memang hanya memuat satu morfem
Pada leksikon yang berwujud kata monomorfemis (kata dasar) di atas, peneliti
hanya menemukan satu kategori, yaitu kategori dalam bentuk nomina (kata benda). Adanya
keseragaman kategori sebagai nomina tersebut dapat dipahami karena seluruh leksikon
tersebut mengacu pada nama-nama makanan dan peralatan yang digunakan dalam
pembuatan makanan sikaye.
b. Leksikon yang Berwujud Kata Polimorfemis
8

Dalam pembuatan Sikaiye, peneliti menemukan 5 leksikon makanan dan peralatan


yang berwujud kata polimorfemis (berimbuhan). Adapun leksikon-leksikon tersebut adalah
sebagai berikut.
Tabel 2
No
1
2
3

Leksikon
Dirajang
Disaring
Diprh

4
5

dicampur
Dikaco

Gloss
dipotong
disaring
diperas, dilakukan pada saat memeras kelapa
untuk mengambil santannya
dicampur
diaduk
Leksikon Makanan Berwujud Kata Berimbuhan

Semua leksikon di atas berwujud kata polimorfemis karena leksikon tersebut


terbentuk dari beberapa morfem. Leksikon dirajang, diprh dan disaring dapat diuraikan
lagi menjadi bentuk morfologis yang lebih kecil. Leksikon rajang dapat diuraikan menjadi
morfem di menyatakan melakukan pekerjaan. Dalam tuturan lisan masyarakat selama
pelaksanaan pembuatan makanan sikaiye, keempat leksikon tersebut dapat berdistribusi
secara bebas.
Pada leksikon yang berwujud kata polimorfemis (kata berimbuhan) di atas, peneliti
hanya menemukan satu kategori, yaitu kategori dalam bentuk kata kerja pasif yang ditandai
dengan imbuhan di-. Hal tersebut dapat dipahami karena seluruh leksikon tersebut
mengacu pada proses pembuatan makanan dan peralatan yang digunakan dalam Sikaiye

2. Leksikon yang Berwujud Frasa


Beberapa leksikon makanan dan peralatan yang digunakan dalam masakan khas
Jaring Halus berwujud frasa. Adapun leksikon-leksikon tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 3
Leksikon Makanan Berwujud Kata Frasa
No

Leksikon

Gloss
Gula merah
Gula pasir
Tepung terigu
Sendok kayu
baskom
Alat pengocok

Unsur Pembentuk
Unsur inti
Pewatas
Kategori
N
Grk
Nomina
N
Putih
Nomina
N
gandum
Nomina
N
Kayu
Nomina
N
Plastik
Nomina
N
Tloh
Nomina

1
2
3
4
5
6

gula grk
gula puteh
tepung gandum
suduk kayu
mangkok plastik
kocokan tloh

telur
kayu manis
Kayu manis
N
Manis
Nomina
Semua leksikon di atas berwujud frasa karena leksikon tersebut merupakan

gabungan dari dua kata atau lebih. Leksikon gula grk, gula putih, tepung gandum, suduk
kayu merupakan gabungan dari beberapa kata yang kemudian membentuk frasa. Leksikon
gula grk terbentuk dari kata gula dan kata gerek, kata gerek berarti bulat,roda gula
merah disebut gerek karena bentuknya yang bulat seperti roda, tepung gandum terbentuk
dari kata tepung dan kata gandum; suduk kayu terbentuk dari kata suduk dan kata kayu;
kocokan tloh terbentuk dari kata kocokan dan frasa tloh.
Pada leksikon makanan dan peralatan yang digunakan dalam pembuatan Sikaiye
yang berwujud frasa, peneliti hanya menemukan satu kategori, yaitu kategori dalam
bentuk nomina (kata benda). Adanya keseragaman kategori sebagai nomina tersebut dapat
dipahami karena seluruh leksikon tersebut mengacu pada nama-nama makanan dan
peralatan yang digunakan dalam pembuatan Sikaiye tersebut.
Terdapat beberapa leksikon makanan dan peralatan yang digunakan dalam masakan
khas masyarakat Jaring Halus. Leksikon-leksikon tersebut diklasifikasikan dalam bentuk
kata dan frasa. Berikut ini klasifikasi bentuk lingual leksikon makanan dan peralatan yang
digunakan dalam masakan khas masyarakat Jaring Halus.
10

B. Ekoleksikon pada Masakan Krabu Semangke Khas Jaring Halus


1. Leksikon yang Berwujud Kata
Leksikon makanan dan peralatan yang digunakan dalam masakan khas masyarakat
Jaring Halus krabu semangke terbagi menjadi kata monomorfemis dan polimorfemis.
Berikut dijelaskan leksikon-leksikon tersebut.
a. Leksikon yang Berwujud Kata Monomorfemis
Adapun leksikon makanan dan peralatan dalam makanan krabu semangke yang
berwujud kata monomorfemis adalah sebagai berikut.
Tabel 1
Leksikon Makanan Berwujud Kata Dasar
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Gloss
Semangka
Cabai
Bawang merah
Terasi
Garam
Blender
Sendok
Piring
Pada leksikon yang berwujud kata

Leksikon
Tembikai
Cabe
Bawa
Blacan
Garam
Blender
Sendok
Piri
monomorfemis (kata dasar) di atas, peneliti

hanya menemukan satu kategori, yaitu kategori dalam bentuk nomina (kata benda).
Adanya keseragaman kategori sebagai nomina tersebut dapat dipahami karena seluruh
leksikon tersebut mengacu pada nama-nama makanan dan peralatan yang digunakan
dalam masakan krabu semangke.
b. Leksikon yang Berwujud Kata Polimorfemis
Dalam masakan krabu semangke, peneliti menemukan tiga leksikon cara memasak
berwujud kata polimorfemis (berimbuhan). Adapun leksikon-leksikon tersebut adalah
sebagai berikut.
Tabel 2
Leksikon Makanan Berwujud Kata Berimbuhan
No
11

Gloss

Leksikon

1
2
3

Dirajang
diraja
Digiling
digili
Dibakar
dibak
Semua leksikon di atas berwujud kata polimorfemis karena leksikon tersebut

terbentuk dari beberapa morfem. Leksikon dirajang, digiling, dan dibakar dapat diuraikan
lagi menjadi bentuk morfologis yang lebih kecil. Leksikon dirajang dapat diuraikan
menjadi morfem rajang yang kemudian mengalami pengimbuhan sehingga menjadi kata
dirajangr; digiling dapat diuraikan menjadi morfem di- dan morfem giling; dan morfem
dibakar dapat diuraikan menjadi morfem giling yang kemudian mengalami pengimbuhan
sehingga menjadi kata digiling
Pada leksikon yang berwujud kata polimorfemis (kata berimbuhan) di atas, peneliti
hanya menemukan satu kategori, yaitu kategori dalam bentuk verba (kata kerja). Adanya
keseragaman kategori sebagai verba tersebut dapat dipahami karena seluruh leksikon
tersebut mengacu pada nama-nama makanan dan peralatan yang digunakan dalam
masakan krabu semangke.
2. Leksikon yang Berwujud Frasa
Adapun leksikon-leksikon yang berwujud frasa adalah sebagai berikut:
No
1

Gloss
Gula pasir

Leksikon
Gula puteh

Leksikon di atas berwujud frasa karena leksikon tersebut merupakan gabungan dari
dua kata atau lebih. Leksikon gule puteh merupakan gabungan dari beberapa kata yang
kemudian membentuk frasa. Leksikon gule puteh terbentuk dari kata gule dan kata puteh
Pada leksikon makanan dan peralatan yang digunakan dalam masakan krabu
semangke yang berwujud frasa, peneliti hanya menemukan satu kategori, yaitu kategori
dalam bentuk nomina (kata benda). Adanya keseragaman kategori sebagai nomina tersebut
dapat dipahami karena seluruh leksikon tersebut mengacu pada nama-nama.

SIMPULAN

12

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti dapat merumuskan


kesimpulan sebagai berikut. Terdapat 30 leksikon makanan dan peralatan yang digunakan.
Ada 15 leksikon yang termasuk dalam kategori kata monomorfemis (kata dasar), 7
leksikon yang termasuk dalam kategori kata polimorfemis (kata berimbuhan), dan 26
leksikon yang termasuk dalam kategori frasa nominal. Berdasarkan kategori kata, semua
leksikon makanan dan peralatan tersebut termasuk ke dalam kategori nomina atau frasa
nominal. Dengan demikian, kekayaan leksikon nomina atau frasa nominal ini sekaligus
menunjukan kekayaan produk budaya masakan khas masyarakat Desa Jaring Halus di
Kecamatan Sicanggang Kabupaten Langkat.

13

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. (2007). Leksikologi dan Leksikografi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Darheni, Nani. (2010). Leksikon Aktivitas Mata dalam Toponim di Jawa Barat: Kajian
Etnosemantik dalam Jurnal Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 1, Februari 2010, hal.
55-67.
Ibrahim, Abdul Syukur. (1994). Panduan Penelitian Etnografi komunikasi. Surabaya:
Usaha Nasional.
Keraf, Gorys, (1991). Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Keraf, Gorys, (1979). Komposisi. Jakarta: Nusa Indah.
Koentjaraningrat. (1985). Ritus Perlihan di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Koentjaraningrat. (1994). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Koentjaraningrat. (2002). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Palmer, Gary B. 1999. Toward a Theory of Cultural Linguistics. Austin: University of
Texas Press.
Ramlan, M. 1987. Morfologi. Yogyakarta. Karyono.
Ramlan, M. (1991). Tata Bahasa Indonesia: Penggolongan kata. Yogyakarta: Andi Offset.

14