Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN YANG TERPASANG WSD

(WATER SEAL DRAINASE)

Disusun Oleh Kelompok 9 :

(S1-2A)

1. Alika Fitrianti (121.0009)


2. Fitri Lailiyah (121.0039)
3. Nia Dewi Syinta (121.0071)
4. Nur Indah R (121.0075)
5. Ryan Frandika (121.0095)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKES HANG TUAH SURABAYA

TAHUN AJARAN 2014/2015


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan atas karunia dan
rahmatnya sehingga penulis mampu menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok mata


kuliah Sistem Kardiovaskuler 2 yang berjudul MAKALAH ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN YANG TERPASANG WSD. Dalam
penyelesaian makalah ini, kami mendapatkan bantuan serta bimbingan dari
beberapa pihak. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika kami mengucapkan
banyak terima kasih.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu
kami mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun demi
perbaikan makalah mendatang. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat
dan memenuhi harapan berbagai pihak. Amin.

Surabaya, 14 April 2014

Penyusun

1 | Page
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................i

Daftar Isi.......................................................................................................ii

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.......................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah.................................................................................1
1.3 Tujuan....................................................................................................2
1.4 Manfaat..................................................................................................2

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi WSD..........................................................................................3


2.2 Macam-macam sistem WSD..................................................................3
2.3 Lokasi Pemasangan WSD.....................................................................4
2.4 Indikasi Pemasangan WSD...................................................................5
2.5 Kontraindikasi Pemasangan WSD.........................................................5
2.6 Komplikasi Pemasangan WSD..............................................................5
2.7 Monitoring WSD.....................................................................................6
2.8 Prosedur Perawatan WSD.....................................................................7

BAB III: PEMBAHASAN

3.1 Asuhan Keperawatan Pada Klien Terpasang WSD..............................10


3.1.1 Pengkajian.................................................................................11
3.1.2 Diagnosa....................................................................................11
3.1.3 Intervensi...................................................................................12
3.1.4 Evaluasi.....................................................................................16

BAB IV: PENUTUP

4.1 Kesimpulan..........................................................................................17
4.2 Saran...................................................................................................17

Daftar Pustaka...........................................................................................18

2 | Page
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bernapas merupakan aktivitas yang penting bagi manusia. Tubuh
memerlukan suplai oksigen yang cukup untuk proses metabolisme. Jika
terjadi gangguan pada saluran pernapasan misalnya saluran pernapasan
terisi oleh zat lain seperti cairan, maka pertukaran gas akan terganggu. Oleh
karena itu perlu dilakukan tindakan untuk membantu mengembalikan fungsi
normal saluran pernapasan, salah satunya adalah dengan pemasangan
WSD (Water Seal Drainage).
Kebutuhan pemasangan WSD (Water Seal Drainage) misalnya, pada
trauma (luka tusuk di dada), biasanya disebabkan oleh benda tajam, bila
tidak mengenai jantung, biasanya dapat menembus rongga paru-paru.
Mekanisme penyebabnya bisa satu tusukan kuat ataupun satu gerakan
mendadak yang hebat. Akibatnya, selain terjadi peradarahan dari rongga
paru-paru, udara juga akan masuk ke dalam rongga paru-paru. Oleh karena
itu, paru-paru pada sisi yang luka akan mengempis. Penderita nampak
kesakitan ketika bernapas dan mendadak merasa sesak dan gerakan iga
disisi yang luka menjadi berkurang (Kartono, M. 1991).
Untuk itu dalam makalah ini kelompok akan menjelaskan tentang asuhan
keperawatan pemasangan WSD (Water Seal Drainage) dan diharapkan bisa
membantu mahasiswa, tenaga kesehatan dan masyarakat umum untuk lebih
memahami tentang masalah WSD (Water Seal Drainage).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa definisi WSD (Water Seal Drainase)?
1.2.2 Dimana lokasi pemasangan WSD?
1.2.3 Apa indikasi pemasangan WSD?
1.2.4 Apa kontraindikasi pemasangan WSD?
1.2.5 Apa komplikasi dari pemasangan WSD?
1.2.6 Bagaimana monitoring klien yang terpasang WSD?
1.2.7 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien yang terpasang WSD?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan yang harus
diberikan kepada pasien dengan pemasangan WSD (Water Seal
Drainage).

1 | Page
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu mengetahui apa definisi WSD (Water Seal
Drainase)
2. Mahasiswa mampu mengetahui dimana lokasi pemasangan WSD
3. Mahasiswa mampu mengetahui apa indikasi pemasangan WSD
4. Mahasiswa mampu mengetahui apa kontraindikasi pemasangan
WSD
5. Mahasiswa mampu mengetahui apa komplikasi dari pemasangan
WSD
6. Mahasiswa mampu mengetahui bagaimana monitoring klien yang
terpasang WSD
7. Mahasiswa mampu mengetahui bagaimana asuhan keperawatan
pada klien yang terpasang WSD

1.4 Manfaat
Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami
asuhan keperawatan pada pasien dengan pemasangan WSD (Water Seal
Drainage) serta mampu mengimplementasikannya dalam proses
keperawatan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi WSD (Water Seal Drainase)


Drainasi toraks merupakan metode yang penting untuk mencegah dan
mengobati kolaps dari paru-paru. Keadaan ini dapat timbul karena obstruksi
bronchial akibat sekresi karena tekanan oleh udara, cairan, darah, dan pus.
Kendati terdapat berbagai metode yang diperlukan untuk kedua sebab,
kedua tipe tersebut dapat terjadi secara bersama, misalnya pneumo toraks
yang menyebabkan kolaps parsial dari paru-paru akibat kompresi (pasif)
dapat diikuti oleh drainase bronchial yang adekuat. Sekresi yang meningkat
tidak dapat diabsorbsi sehingga menyebabkan terjadinya koleps paru-paru.

2 | Page
Kavum pleura kemudian harus di aspirasi atau didrenase. Jika diperlukan
adanya drainase maka digunakan WSD. seal mencegah masuknya udah
melalui susunan drainase dan memungkinkan paru-paru mengembang.
Udara, darah, atau eksudat lainnya akan di drainase. (Tim Penulis Poltekes
Kemenkes Maluku. 2011)
WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan
udara, cairan (darah,pus) dari rongga pleura, rongga thorax; dan
mediastinum dengan menggunakan pipa penghubung untuk
mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut. Dalam keadaan normal
rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya terisi sedikit cairan pleura /
lubrican. (Hudak & Gallo, 1996.

1.2 Macam-Macam WSD


1.2.1 Sistem WSD 1 Botol
Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien
simple pneumothoraks. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang
mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke
dalam botol. Jenis ini mempunyai 2 fungsi, sebagai penampung dan
botol penampung. Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung
selang terendam 2cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam
tabung yang menyebabkan kolaps paru.

1.2.2 Sistem WSD 2 Botol


Digunakan 2 botol ; 1 botol mengumpulkan cairan drainage dan
botol ke-2 botol water seal. Botol 1 dihubungkan dengan selang
drainage yang awalnya kosong dan hampa udara, selang pendek pada
botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal.
Dapat dihubungkan dengan suction kontrol. Cairan drainase dari
rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk
ke water seal botol 2. Prinsip kerjasama dengan ystem 1 botol yaitu
udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara
dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD. Biasanya
digunakan untuk mengatasi hemothoraks, hemopneumothoraks, efusi
peural.
Keuntungannya adalah water seal tetappada satu level
1.2.3 Sistem WSD 3 Botol
Sama dengan sistem 2 botol, ditambah 1 botol untuk mengontrol
jumlah hisapan yang digunakan. Selain itu terpasang manometer untuk

3 | Page
mengontrol tekanan. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan.
Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-
3. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang
tertanam dalam air botol WSD. Drainage tergantung gravitasi dan
jumlah hisapan yang ditambahkan.
Botol ke-3 mempunyai 3 selang : Tube pendek diatas batas air
dihubungkan dengan tube pada botol ke dua. Tube pendek lain
dihubungkan dengan suction. Tube di tengah yang panjang sampai di
batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer

1.3 Lokasi Pemasangan WSD


Lokasi pemasangan ada di dua bagian yakni di bagian apex paru (apical)
dan bagian basal. Bagian apex paru tepatnya di anterolateral interkosta ke 1-
2 berfungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura. Pada bagian basal
letaknya di posterior latelar interkoste ke 8-9 berfungsi untuk mengeluarkan
cairan (darah,pus) dari rongga pleura.

1.4 Indikasi Pemasangan WSD


1.4.1 Pnemorotaks > 20%
1.4.2 Pnemotoraks < 20% yang memerlukan fentilator
1.4.3 Hematotoraks
1.4.4 Hematopnemotoraks
1.4.5 Empiema toraks
1.4.6 Fluido toraks yang tidak dapat diatasi dengan tindakan lumbal punksi
1.4.7 Pasca torakotomi

1.5 Kontraindikasi Pemasangan WSD


1.5.1 Infeksi pada tempat pemasangan
1.5.2 Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol

1.6 Komplikasi Pemasangan WSD


1.6.1 Komplikasi primer : perdarahan, edema paru, tension pneumothoraks,
atrial aritmia
1.6.2 Komplikasi sekunder : infeksi, emfiema
1.6.3 Komplikasi lainnya : laserasi ( yang mencederai organ: hepar, lien),
perdarahan, empisema subkutis, tube terlepas, tube tersumbat

1.7 Monitoring Klien Yang Terpasang WSD


1.7.1 Perhatikan undulasi pada selang WSD.
Bila undulasi tidak ada, berbagai kondisi dapat terjadi antara lain :
1. Motor suction tidak berjalan
2. Slang tersumbat dan terlipat
3. Paru-paru telah mengembang

4 | Page
1.7.2 Yakinkan apa yang menjadi penyebab, segera periksa kondisi system
drainase, amati tanda-tanda kesulitan bernafas.
1.7.3 Cek ruang control suction untuk mengetahui jumlah cairan yang
keluar
1.7.4 Cek batas cairan dari botol WSD, pertahankan dan tentukan batas
yang telah ditetapkan serta pastikan ujung pipa berada 2cm di bawah
air.
1.7.5 Catat jumlah cairan yg keluar dari botol WSD tiap jam untuk
mengetahui jumlah cairan yg keluar.
1.7.6 Observasi pernafasan, nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama
1.7.7 Perhatikan balutan pada insisi, apakah ada perdarahan
1.7.8 Anjurkan pasien memilih posisi yg nyaman dengan memperhatikan
jangan sampai slang terlipat
1.7.9 Anjurkan pasien untuk memegang slang apabila akan merubah posisi
1.7.10 Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu
1.7.11 Ganti botol WSD setiap 3 hari dan bila sudah penuh. Catat jumlah
cairan yang dibuang
1.7.12 Lakukan pemijatan pada slang untuk melancarkan aliran
1.7.13 Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas, sianosis,
emphysema subkutan
1.7.14 Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan ystem cara batuk
efektif
1.7.15 Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh
1.7.16 Yakinkan bahwa selang tidak kaku dan menggantung di atas WSD
1.7.17 Latih dan anjurkan klien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan
latihan gerak pada persendian bahu daerah pemasangan WSD.

1.8 Prosedur Perawatan WSD


1.8.1 Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. Mendeteksi di bagian
dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan
perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya
slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.
1.8.2 Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit
yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter.
1.8.3 Dalam perawatan yang harus diperhatikan :
1. Penetapan slang.
Slang diatur senyaman mungkin, sehingga slang yang dimasukkan
tidak terganggu dengan bergeraknya pasien, sehingga rasa sakit di
bagian masuknya slang dapat dikurangi.
2. Pergantian posisi badan.
Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang
bantal kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada slang,
melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil

5 | Page
mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas
yang cedera.
3. Mendorong berkembangnya paru-paru
a. Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang.
b. Latihan napas dalam.
c. Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan
batuk waktu slang diklem.
d. Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.
e. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.
Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 - 800 cc.
Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan
torakotomi. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang,
perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan.

1.8.4 Suction harus berjalan efektif :


1. Perhatikan setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah operasi
dan setiap 1 - 2 jam selama 24 jam setelah operasi.
2. Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan pasien,
warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan darah.
3. Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk
jika suction kurang baik, coba merubah posisi pasien dari
terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian
operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat
oleh gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang
slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru.
4. Perawatan slang dan botol WSD/ Bullow drainage.
a. Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa
cairan yang keluar kalau ada dicatat.
b. Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan
adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage.
c. Penggantian botol harus tertutup untuk mencegah udara masuk
yaitu mengklem slang pada dua tempat dengan kocher.
d. Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas
botol dan slang harus tetap steril.
e. Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-
sendiri, dengan memakai sarung tangan
Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam
rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena
kesalahan dll WSD (Water Seal Drainage)

6 | Page
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

YANG TERPASANG WSD

3.1 Pengkajian
3.1.1 Anamnesa
1. Identitas Klien

7 | Page
Terdiri dari nama, umur, suku bangsa, agama, pendidikan, dan
pekerjaan.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan keluhan yang paling utama dirasakan
pasien. Biasanya pada pasien dengan efusi pleura didapatkan
keluhan berupa : sesak nafas, rasa berat pada dada, nyeri pleuritik
akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama
pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif,
sedangkan pada pneumothorak
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit yang dulu pernah diderita klien yang
berhubungan dengan penyakit yang diderita pasien sekarang.
4. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat yang menceritakan perjalanan penyakit pasien hingga
pasien dibawa ke rumah sakit.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit yang mungkin diderita oleh anggota keluarga
pasien yang disinyalir sebagai penyebab penyakit pasien sekarang.
Contohnya: Ca paru, TBC, dll.
6. Riwayat Psikososial
Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara
mengatasinya serta bagaimana respon pasien terhadap tindakan
pengobatan yang dilakukan terhadap dirinya.

3.1.2 Pemeriksaan Persistem


1. B1 (Breath)
a. Kaji ada tidaknya kesulitan bernafas seperti adanya keluhan
sesak
b. Batuk (produktif atau tidak produktif, secret, warna,
konsistensi, bau)
c. Irama nafas pasien (teratur/tidak teratur), takipnea
d. Adanya peningkatan kerja nafas, penggunaan otot bantu
dada, retraksi interkostal
e. Fremitus fokal
f. Perkusi dada : hipersonor
g. Pada inspeksi dan palpasi dada tidak simetris
h. Pada kulit terdapat sianosis, pucat, krepitasi subkutan
i. Selain itu kaji riwayat penyakit paru kronik, peradangan,
infeksi paru, tumor, biopsi paru
2. B2 (Blood)
a. Taki kardi, irama jantung tidak teratur ( disaritmia )
b. Suara jantung III, IV, galop / gagal jantung sekunder

8 | Page
c. Hipertensi / hipotensi
d. CRT untuk mengetahui tingkat perfusi perifer, normalnya <
3 detik
e. Akral : hangat, panas, dingin, kering atau basah
3. B3 (Brain)
a. Tentukan GCS pasien
b. Tentukan adanya keluhan pusing,
c. Lamanya istirahat/tidur, normal kebutuhan istirahat tiap hari
adalah sekitar 6-7 jam.
d. ada tidaknya gangguan pada nerves pendengaran,
penglihatan, penciuman.
e. Kaji adanya nyeri, tentukan skala nyeri pasien, lokasi nyeri
misallnya nyeri dada sebelah kanan, frekuensi nyeri
(serangan datang secara tiba-tiba), nyeri bertambah saat
bernapas, nyeri menyebar ke dada, badan dan perut dan
hal-hal lain yang berhubungan dengan nyeri yang dirasakan
pasien
4. B4 (Bladder)
Kaji beberapa hal yang berhubungan dengan system perkemihan,
meliputi:
a. Keluhan kencing : nocturia, poliuria, disuria, oliguria, anuria,
retensi, inkontinensia.
b. Produksi urine tiap hari, warna, dan bau. Produksi urine
normal adalah sekitar 500cc/hari dan berwarna kuning
bening.
c. Keadaan kandung kemih : membesar atau tidak, adanya
nyeri tekan.
d. Intake cairan tiap hari, pemberiannya melalui oral atau
parenteral. Intake cairan yang normal setiap hari adalah
sekitar 1 liter air.
e. Kaji ada tidaknya penggunaan alat bantu kateter.
5. B5 (Bowel)
a. Kaji keadaan mulut pasien: bersih, kotor atau berbau
b. Keadaan mukosa: lembab, kerig, stomatitis
c. Tenggorokan : adanya nyeri menelan, pembesaran tonsil,
nyeri tekan
d. Keadaan abdomen: tegang, kembung atau ascites
e. Adanya nyeri tekan, ada tidaknya luka bekas operasi
f. Peristaltic usus tiap menitnya
g. Frekuensi BAB tiap hari da konsistensinya (keras, lunak,
cair atau berdarah)
h. Nafsu makan, adanya diet makanan dan porsi makan tiap
hari
6. B6 (Bone)

9 | Page
a. Tentukan pergerakan sendi pasien (bebas, terbatas)
b. Kaji adanya kelainan ekstermitas, kelainan tualang
belakang dan fraktur
c. Keadaan kulit: ikteri, siaonis, kemerahan atau hiperglikemi
d. Keadaan turgor kulit

3.1.3 Pemeriksaan Fisik


1. Tanda-tanda vital meliputi: tekanan darah, suhu, nadi, dan RR.
2. Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, apakah composmentis,
apatis, somnolen, sopor atau koma. Bagaimana penampilan pasien
secara umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa,
bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan
ketegangan pasien.

3.1.4 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan laboratorium
2. Darah lengkap dan kimia darah
3. Bakteriologis
4. Analisis cairan pleura
5. Pemeriksaan radiologis
6. Biopsi

3.2 Diagnosa
3.2.1 Ketidakefektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan
immobilitas, tekanan dan nyeri.
3.2.2 Nyeri dada berhubungan dengan faktor-faktor biologis (trauma
jaringan) dan faktor-faktor fisik (pemasangan selang dada)
3.2.3 Resiko infeksi berhubungan dengan terpasangnya benda asing dalam
tubuh
3.2.4 Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan
berhubungan dengan kurang terpajan informasi.

10 | P a g e
3.3 Intervensi

NO DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL RENCANA KEPERAWATAN


INTERVENSI RASIONAL
1 Ketidakefektifan Setelah dilakukan asuhan 1. Pertahankan posisi nyaman, 1. Meningkatkan inspirasi maksimal,
pola pernapasan keperawatan selama biasanya peninggian kepala tempat meningkatkan ekspansi paru dan
yang b.d diharapkan pola pernapasan tidur (head up) ventilasi pada sisi yang tak sakit.
2. Mempertahankan tekanan negative
immobilitas, pasien menjadi efektif dapat Bila selang dada dipasang :
intrapleural sesuai yang diberikan,
tekanan dan nyeri. dibuktikan dengan kriteria hasil : 2. Periksa pengontrol penghisap,
a. Menunjukkan pola napas yang meningkatkan ekspansi paru
batas cairan
normal/efektif 3. Observasi gelembung udara botol optimum dan/ atau drainase cairan
b. Bebas sianosis dan tanda 3. Gelembung udara selama ekspirasi
penampung
gejala hipoksia 4. Klem selang pada bagian bawah menunjukkan lubang angin dari
unit drainase bila terjadi kebocoran pneumothorak. Naik turunnya
5. Awasi pasang surutnya air
gelembung udara menunjukkan
penampung dan water seal
ekspansi paru.
6. Catat karakter/jumlah drainase
4. Mengisolasi lokasi kebocoran udara
selang dada.
pusat system
7. Berikan oksigen melalui
kanul/masker, latih napas dalam 5. Fluktuasi (pasang surut)
dan batuk efektif. menunjukkan perbedaan tekanan
8. Observasi pola napas dan
inspirasi dan eksprirasi
komplikasi. 6. Berguna dalam menevaluasi

11 | P a g e
perbaikan kondisi/terjadinya
komplikasi atau perdarahan yang
memerlukan upaya intervensi
7. Alat dalam menurunkan kerja napas;
meningkatkan penghilangan distress
respirasi dan sianosis b.d
hipoksemia.
8. Agar pasien tercukupi oksigennya
dan pola napasnya efektif, serta
untuk mencegah terjadinya
komplikasi yang bias memperparah
kondisi klien
2 Nyeri dada b.d Setelah dilakukan asuhan 1. Berikan teknik relaksasi distraksi 1. Mengalihkan perhatian apsien
2. Jika nyeri tidak
faktor-faktor keperawatan selama terhadap rasa nyerinya sehingga
berkurang,kolaborasikan dengan
biologis (trauma diharapkan kenyamanan pasien nyeri pasien berkurang
dokter untuk pemberian obat 2. Mengurangi tingakt nyeri yang
jaringan) dan terpenuhi dengan kriteria hasil :
analgesik dirasakan pasien
faktor-faktor fisik - nyeri berkurang bahkan hilang
3. Observasi skala nyeri setelah 3. Sebagai evaluasi terhadap interensi
(pemasangan - RR dan nadi kembali normal
intervensi yang telah dilakukan yang telah dilakukan dan untuk
selang dada) yaitu 16-20x/menit dan 60-
merencanakan intervensi selanjutnya
100x/menit

3 Resiko infeksi Setelah dilakukan asuhan 1. Rawat daerah yang terpasang 1. Untuk menjaga kebersihan daerah

12 | P a g e
berhubungan keperawatan selama... WSD secara teratur yang terpasang WSD sehingga
2. Ajarkan kepada keluarga untuk
dengan diharapkan tidak terjadi infalamsi dapat meminimalisir peluang
merawat daerah WSD dan
terpasangnya pada daerah yang terpasang terjadinya infeksi
instruksikan untuk merawatnya 2. Untuk melindungi tubuh dari resiko
benda asing dalam WSD dengan kriteria hasil :
secara teratur infeksi
tubuh - Tidak timbul rasa nyeri
3. Ajarkan pasien teknik mencuci 3. Mencegah kontaminasi lingkungan
- Suhu tubuh normal (36,5-37,5)
tangan yang benar terhadap pasien yang dapat memicu
4. Ajarkan kepada pengunjung untuk
terjadinya infeksi
mencuci tangan sewaktu masuk 4. Mendeteksi adanya infeksi sedini
dan meninggalkan ruang pasien mungkin sehingga dapa segera
serta ajarkan kepada pasien dan dilakukan tindakan agar infeksi tidak
keluarga tanda/gejala infeksi dan semakin parah
5. Mengendalikan factor pemicu infeksi
kapan harus melaporkan ke pusat
6. Meminimalkan pemicu infeksi
kesehatan
5. Kolaborasikan untuk member
antibiotik jika diperlukan
6. Batasi jumlah pengunjung jika
diperlukan
4 Setelah dilakukan asuhan 1. Berikan peran aktif pasien/ orang 1. Belajar ditingkatkan bila individu
Kurang keperawatan selama... terdekat dalam proses belajar, secara aktif berperan
pengetahuan 2. Membantu pasien dan orang
diharapkan pengetahuan pasien misalnya: diskusi, partisipasi
mengenai kondisi, terdekat membuat pilihan
dapat terpenuhi dengan kriteria kelompok
aturan pengobatan 2. Berikan informasi tertulis dan berdasarkan informasi tentang masa
hasil :

13 | P a g e
- pasien mengungkapkan verbal sesuai indikasi. Masukkan depan.
berhubungan 3. Mengurangi ras cemas pasien
pemahaman tentang kondisi/ daftar artikel dan buku yang
dengan kurang akibat terpasangnya alat di
proses penyakit dan rencana berhubungan dengan kebutuhan
terpajan informasi. tubuhnya
pengobatan pasien/ keluarga dan dorong
4. Mengetahui keefektifan intervensi
- Pasien berpartisipasi dalam membaca dan memdiskusikan apa
yang telah dilakukan
program pengobatan yang mereka pelajari
3. Informasikan kepada pasien
tentang efek-efek pemasangan
WSD
4. Tinjau ulang pengetahuan pasien
akan penyakit dan proses
pengobatannya

14 | P a g e
3.4 Evaluasi
3.4.1 Produksi cairan <50 cc/hari
3.4.2 Bubling sudah tidak ditemukan
3.4.3 Pernafasan pasien normal
3.4.4 1-3 hari post cardiac surgery
3.4.5 2-6 hari post thoracic surgery
3.4.6 Pada thorax foto menunjukkan pengembangan paru yang adekuat atau
tidak adanya cairan atau udara pada rongga intra pleura

BAB IV

PENUTUP

15 | P a g e
4.1 Kesimpulan
WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan
udara, cairan (darah,pus) dari rongga pleura, rongga thorax; dan
mediastinum dengan menggunakan pipa penghubung untuk
mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut. Dalam keadaan normal
rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya terisi sedikit cairan
pleura / lubrican.

4.2 Saran
Diharapkan bagi pembaca setelah membaca makalah ini khususnya
perawat dapat memahami dan mengerti serta dapat mengaplikasikan
tindakan yang harus dilakukan apabila mendapati klien yang terpasang WSD

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC
Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Hudak & Gallo, 1996. Keperwatan Kritis Pendekatan Holistik Edisi VI. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Smeltzer, S.C. & Bare. B.G., 2002. Brunner & Suddarths Textbook of Medical
Surgical Nursing 8thEdition Volume I, Jakarta: ECG.

16 | P a g e
Tim Penulis Poltekes Kemenkes Maluku. 2011. Penuntun Praktikum
Keterampilan Kritis III untuk Mahasiswa D3 Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika

17 | P a g e