Anda di halaman 1dari 8

Contoh Penanganan Kasus Asuhan Gizi Terstandar

Ibu Nita berusia 50 thn seorang guru SD agama Islam mempunyai TB 155 cm dan BB 49,5 kg.
Sekarang dirawat dirumah sakit pemerintah dengan diagnosa Obstetrik Ikterik e.c.hydrops vesica
felea dd( cholelithiasis Diabetes Mellitus II)

Langkah Proses Asuhan Gizi Terstandar

1. Pengkajian Gizi

Riwayat Gizi/ Makanan

a. Riwayat Nutrisi Dahulu

Pasien menjalani diet rendah lemak sejak 2 tahun yang lalu atas anjuran dokter yang
merawatnya. Pasien tidak mengkonsumsi makanan yang digoreng dan bersantan. Pasien belum
pernah mendapatkan konsultasi gizi mengenai diet penyakit yang dideritanya. Pola makan pasien
sebelum masuk rumah sakit suka mengkonsumsi glukosa sederhana (sirup) dalam jumlah yang
berlebih.

b. Pasien suka mengkonsumsi makanan dalam porsi yang berlebih , nafsu makan normal. Hasil recall
konsumsi makan 24 jam terakhir saat di RS didapatkan Energi 1430 kkal, protein 53,97 g, lemak
30,57 g dan KH 272,05 g
Tabel 1. Tingkat Konsumsi Makan Pasien 24 jam terakhir
Implementasi Energi (kkal ) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g)
Aspan Oral 1130 28,97 30,57 222,05
Infus D 10 % 200 - - 50
Aminofusin Hepar 5 % 100 25 - -
Total Asupan 1430 53,97 30,57 272,05
Standar RS 1582 59,8 46,2 255
% Asupan 90,5 90,2 66 106,7
Penilaian

Asupan makan dibandingkan dengan standart makanan RS Energi 90,5 %, Protein 90,2 %, Lemak
66% dan KH 106,7 %. Asupan Makan : Baik, rujukan berdasarkan SK Kemenkes : No
129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit ( point 11, Sub Gizi dengan
indikator sisa makanan yang tidak termakan oleh pasien menggunakan nilai standar < 20 %, artinya
bahwa pasien dinilai memiliki asupan yang normal apabila mampu menghabiskan makanan sebesar
≥ 80% dari standar makanan RS, dan jika mengkonsumsi makanan < 80 % dari standar makanan RS,
pasien dinilai memiliki asupan makan yang kurang )

Berdasarkan riwayat pola makan pasien, pasien masih sering mengkonsumsi glukosa sederhana
(sirup), hal ini dikarenakan pasien tidak mengetahui efek konsumsi gula yang berlebihan.

Konsumsi gula sederhana yang berlebihan akan meyebabkan kadar gula darah tinggi. Meningkatnya
kadar gula darah tersebut sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh. Organ
tubuh yang terganggu adalah pankreas,jika pankreas terganggu maka kemampuan untuk
memproduksi hormon insulin juga terganggu. Insulin adalah sejenis hormon jenis polipeptida yang
dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Fungsi utama insulin ialah untuk menjaga keseimbangan glukosa
oleh sel tubuh. Kegagalan tubuh untuk menghasilkan insulin, atau jumlah insulin yang tidak
mencukupi akan menyebabkan glukosa tidak dapat masuk ke dalam tubuh dan digunakan oleh sel-
sel dalam tubuh). Dengan demikian glukosa meningkat di dalam darah, dan menyebabkan penyakit
Diabetes Mellitus.

Aktifitas Fisik : Sebagai seorang guru pasien bekerja sekitar 7 – 8 jam. Pasien rutin melakukan senam
pagi di sekolah dan sesekali melakukan jalan pagi. Jumlah jam tidur pasien sekitar 6 – 8 jam sehari.

Biokimia

Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Biokimia Pasien

Pemeriksaan Urin/ Satuan/Nilai Awal Masuk Data Akhir Keterangan

Darah Normal

Na ( Serum ) 136-145 mmol 138,8 Normal

K (serum ) 3,10 – 5,00 mmol 3,10 Normal

Cl (serum) 98 -107 mmol 109,5 Tinggi

TP 6,40 – 8,30 g/dl 6,98 Normal

Albumin 3,50-5,00 g/dl 2,10 Rendah

AST 10 – 42 U/L 377 Tinggi

ALT 10 – 40 U/L 180 Tinggi

BUN 7,0 – 18,0 mg/dl 11,1 Normal

Creatinin 0,6 -1,30 mg/dl 1,16 Normal

Uric Acid 2,6 – 7,2 mg/dl 5,9 Normal

GDS 70 – 120 mg/dl 211 140 Tinggi

GD2 JPP 80 – 140 mg/dl 241 Tinggi

HbA1C < 6,5 10,8 Tinggi

T BIL 0,20 – 1,00 mg/dl 11,21 Tinggi

D TIL 0,00 – 0,30 mg/dl 4,89 Tinggi

WBC 4,8 – 10,83/UL 5,5 Normal

RBC 4,2 – 5,4 106/UL 3,69 Rendah


Pemeriksaan Satuan/Nilai Awal Masuk RS Data Akhir Keterangan

Urin/Darah Normal

HGB 12 – 16 g/dl 12,0 Normal

HCT 37 – 47 % 34,9 Rendah

MCV 81 – 99 fL 94,4 Normal

MCH 27,0 – 31,0 pg 32,4 tinggi

RDW 11,5-15,5% 23,4 tinggi

PLT 130 – 400 103/UL 150 Normal

MPV 7,4 – 10,4 fL 8,6 Normal

PCT 0,000-0,990 % 0,128 Normal

Prot +

Bil +2

Uro = 30 cm +2

Blod +2

Pemeriksaan penunjang : Hasil USG ada Hepatosplenomegali dengan multiple cholelithiasis dan
obstruksi pada CBD

Penilaian

Hipoalbuminemia, proteinuria (+), DM ( GDS,GD2 JPP, HbA1C meningkat )

Antropometri

BB = 64 kg TB = 155 cm BBI = 49,5 kg, LLA = 30 cm

Riwayat perubahan BB, terjadi peningkatan BB sebanyak 7 kg dalam waktu 3 bulan

BB yang disesuaikan ( adjusted body weight ) = {(64kg – 49,5 kg) x 0,25 } + 49,5 kg = 53,12 kg

Perhitungan IMT : BB/(TB)2 = 64/)1,55)2 =26,64 kg/m2

Penilaian

Berdasarkan IMT, pasien memiliki status gizi Obese I ( 26,64 kg/m2), karena batasan Obese I yaitu 25
– 29,9 kg/m2, menggunakan WHO WPR/IASO/IOTF dalam the Asia Pacific Perspective: Redefining
Obesity and its Treatment, dengan kategori :

< 18,5 kg/m2 : BB kurang

18,5 – 22,9 kg/m2 : normal Redefining Obesity


≥ 23 : BB lebih

23 – 24,9 kg/m2 : at risk ( dengan resiko )

≥ 30 kg/m2 : obese II

Fisik Klinis

Tabel 3 Hasil Pemeriksaan Fisik dan Klinis

Pemeriksaan Satuan Nilai Normal Awal Kasus

Keadaan Umum Lemah , mata kuning, badan kuning,

BAK seperti teh

Tensi 120/80 mmHg 110/70 mmHg

Nadi 60 - 100 x/mnt 70 x/mnt

Suhu 36 – 37 0C Afebris

Respirasi 20 – 24 x/mnt 16 x/mnt

Keluhan utama ikterik yang telah berlangsung

Selama 5 bulan

Riwayat Personal

Data sosio ekonomi pasien adalah suku Jawa, bekerja sebagai seorang guru SD, tinggal bersama
suami, 2 orang anak , 1 menantu dan 1 orang cucu

Riwayat Penyakit Sekarang

Bulan Mei 2016 pasien mengeluh badan terasa lemas mual (+), muntah (-), BAK berwarna seperti
teh, nyeri ulu hati (+), periksa ke dokter dikatakan sakit maag, mendapat terapi obat, tetapi tidak
tahu nama obatnya. Dua minggu kemudian keluhan tidak berkurang, mual (+), muntah (-), nyeri
perut (+), BAK warna seperti teh, selanjutnya pasien periksa lagi ke dokter. Oleh dokter dirujuk ke
rumah sakit pemerintah. Pasien dirawat selama 26 hari dengan keluhan mata kuning ( + ), badan
kuning (+), mual (+), muntah (-), BAK seperti teh, dikatakan SGOT/SGPT > 1000, mendapat obat dan
terapi tapi pasien tidak tahu. Dilakukan USG tidak ditemukan batu. Keluhan membaik SGOT/SGPT
hampir mendekati normal. Pasien boleh pulang dan diberi obat urdafalk 2 x 1 tablet ( pasien minum
selama 1 bulan ).

Pasien kontrol rutin setiap minggu di praktek dokter swasta diberikan obat lesichol dan Hp
Pro.Pasien menjalani USG lagi dengan hasil menunjukkan tidak ada batu pada kantung empedu.
Badan masih kuning(+), mual (-), muntah (-), nafsu makan tidak ada kelainan, BAB tidak ada
kelainan, BAK seperti teh, pasien tetap minum obat dan kontrol rutin.

Dua hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS) karena badan masih kuning, , pasien periksa ke
dokter spesialis gastrohepatologi , oleh dokter dilakukan USG abdomen ulang.Hasil USG
menunjukkan kesan : Hepatosplenomegali dengan multiple cholelithiasis dan obstruksi pada CBD.
Pasien disarankan melakukan periksa ulang laboratorium. Hasil menunjukkan SGOT 958/SGPT 324,
Gamma GT 95 dan fosfatase alkali 176, pasien disarankan menjalani rawat inap untuk menurunkan
kadar GOT /GPT pro cholecystectomy.

Keluhan pasien saat masuk mata kuning (+), badan kuning (+),mual -, muntah -, pusing -, BAK seperti
teh, BAB tidak ada keluhan, nafsu makan dan minum baik.

Riwayat Penyakit Dahulu : tidak ada riwayat penyakit keluarga, orang tua laki-laki pernah menderita
sakit kuning.

Terapi Medis

Jenis Obat/Tindakan Fungsi Interaksi dengan Zat Gizi

Infus D10%, tambahan asupan karbohidrat

Aminofusin Hepar tambahan asupan asam amino

(1 : 1 20 tpm )

Inj.OMJ 1A/12 (sebagai terapi jangka pendek ulkus gangguan GI,sakit kepala,ruam

Duodenal dan lambung,refluks esofagitis) kulit

Inj.SNMC 2A (hari I – III )

Inj SNMC 1A (hari IV-V) anti inflamasi hati

HP Pro 2 x 1 suplemen untuk hati

DIAGNOSA GIZI

NI.5.8.2 Asupan karbohidrat yang berlebihan (P) berkaitan dengan kurangnya pengetahuan (E)
ditandai dengan pola konsumsi glukosa murni (syrup) yang berlebihan, GDP tinggi, GD2JPP tinggi,
HBA1C tinggi peningkatan BB 7 kg selama 3 bulan (S/S).

NI.5.4 Penurunan kebutuhan lemak (P), berkaitan dengan adanya sumbatan pada saluran empedu
(E) ditandai dengan hasil USG, bilirubin tinggi, AST tinggi, ALT tinggi, ikterik, telah menjalani diet
rendah lemak (S/S)

NI.5.1 Peningkatan kebutuhan protein ( P ) berkaitan dengan gangguan sintesis albumin (E), ditandai
dengan kadar albumin rendah ( S/S)

3. Intervensi Gizi

Tujuan :

1. menurunkan konsumsi karbohidrat untuk membantu menormalkan kembali kadar glukosa darah,
dan mencegah kenaikan berat badan

2. membatasi pemberian makanan tinggi lemak


3. meningkatkan kadar albumin darah

Syarat :

1. Energi dihitung berdasarkan rumus PERKENI 2006, dengan memperhitungkan basal, jenis kelamin,
usia, aktifitas dan faktor kegemukan. Energi diberikan untuk memenuhi kebutuhan basal
metabolisme, aktifitas pada saat sakit, mengurangi berat badan pasien dan mempercepat proses
penyembuhan pasien, karena saat ini pasien dalam kedaan lemah. Contoh sumber bahan makanan :
beras giling, kentang, jagung

2. protein tinggi diberikan sebesar 1.3 g/kgBB/hr untuk membantu meningkatkan kadar albumin.
Contoh sumber bahan makanan : ayam, daging, ikan

3. lemak rendah diberikan 20 % dari kebutuhan energi total untuk menurunkan BB pasien. Contoh
Sumber bahan makanan : minyak

4. karbohidrat diberikan rendah untuk membantu menurunkan KGD, serta menurunkan BB apsien.
Contoh sumber bahan makanan : beras giling, kentang, roti

5. serat diberikan sebesar 25 – 30 g/hr, terutama untuk membantu memperlambat waktu


pengosongan lambung, meningkatkan waktu transit dengan memperlambat pergerakan di usus
halus, sehingga sangat membantu juga dalam menurunkan BB pasien

6. makanan diberikan dengan porsi kecil tapi sering, dengan frekuensi makan 3x makan utama, 2x
selingan dengan mematuhi prinsip 3 J ( tepat jumlah, jadual dan jenis )

Perhitungan Kebutuhan Energi dan zat Gizi

Kebutuhan Energi Basal (pr) = 25 kal/kg BB/hr = 25 kal x 64 kg = 1600 kkal

Koreksi usia ( 51 th) = 1600 kalori x 5 % = 80 kalori

Aktifitas ( istirahat ) = 1600 kalori x 10 % = 160 kalori

Komplikasi (P.hati ) = 1600 kalori x 20 % = 320 kalori

Koreksi berat badan = 1600 kalori x 20 % = 320 kalori

Total Kebutuhan Energi :

Energi Basal – koreksi usia + aktifitas + komplikasi – K.Berat badan

= 1600 kalori – 80 kalori + 160 kalori + 320 kalori – 320 kalori

= 1680 kalori ( dibulatkan menjadi 1700 kalori )

Protein (g) = 1.3 g/kgBB = 1.3 x 64 = 83.2 gram

% protein = ( 83.2 gram x 4 kal/g x 100 %) : 1700 kal = 19,6 %

Lemak 20 % x total kebutuhan energi = 20 % x 1700 kalori = 340 kalori


Lemak (g) = 340 kal : 9 kal/g = 37.8 g

% karbohidrat = 100 % - ( % protein + % lemak ) = 100 % - (19,6% + 20 %) = 60,4 %

Karbohidrat ( kal) = 60,4 % x total kebutuhan energi = 60,4 % x 1700 kalori = 1026,8 kalori

Karbohidrat (g) = 1026,8 kalori : 4 kal/g = 256,7 g

Kebutuhan vitamin dan mineral : lihat ditabel AKG

Kebutuhan Serat

25g/1000kal/hr, maka kebutuhan serat pasien = 25 g x 1700 kal/1000 kal = 42,5 g

Penyusunan Menu

Makan pagi ( 06.30)

Nasi tim

Telur mata sapi

Tempe bumbu bali

Cah sawi hijau wortel

Selingan ( 09.30)

Pepaya

Makan Siang ( 12.30)

Nasi tim

Pepes ikan

Tahu bacem

Sayur asem

Selingan II ( 15.30)

Bika Pisang

Makan Sore (18.30)

Nasi Tim

Basho daging

Capcay sayur

Selingan III ( 21.30)


Apel hijau

4. Rencana Monitoring dan evaluasi

Parameter Target Pelaksanaan

Asupan Makan asupan makan tetap normal setiap hari

Antropometri BB normal dan status gizi normal akhir perawatan

Biokimia albumin, GDS,GD2JPP,HbA1C hari ketiga pengamatan kasus

Fisik Klinis lemah berkurang setiap hari

DAFTAR PUSTAKA

1. Almatsier , Sunita.2010 Penuntun Diet.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

2. Anggraeni, Adisty Cynthia.2012. Asuhan Gizi Nutritional Care Process. Yogyakarta : Graha Ilmu

3. Gutawa, Miranti, dkk.2011. Pengembangan Konsep Nutrition Care Process (NCP) Proses Asuhan
Gizi Terstandar (PAGT).Jakarta ; Persagi – ASDI, Abadi Publishing & Printing

4. Hartono, Andry.2009.Asuhan Nutrisi Rumah Sakit, Diagnosis Konseling dan Preskripsi . Jakarta :
EGC Kedokteran

5. Perkeni, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan


Diabetes Mellitus tipe 2 di Indonesia Jakarta

6. SK Kemenkes No.129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal rumah Sakit