Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN.

P
DENGAN MASALAH UTAMA RESIKO PERILAKU KEKERASAN
DI 6 RUANG GATOT KOCO RSJD DR. AMINO GONDOHUTOMO
PROVINSI JAWA TENGAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Profesi Stase Keperawatan Jiwa
Pembimbing Akademik : Ns. Sri Padma Sari, S.Kep., MN
Pembimbing Klinik : Ali Achwan, S.Kep., Ns

Disusun oleh:
Dita Citra Andini
22020117220141

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS ANGKATAN XXXI


DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. P
DENGAN MASALAH UTAMA RESIKO PERILAKU KEKERASAN
DI 6 RUANG GATOT KOCO RSJD DR. AMINO GONDOHUTOMO
PROVINSI JAWA TENGAH

I. IDENTITAS KLIEN
A. Nama : Tn. P
B. Umur : 30 tahun
C. Jenis kelamin : Laki-laki
D. Alamat : Karas Sedan RT 03/04 Rembang Jawa Tengah
E. Pendidikan : Tamat SD
F. Pekerjaan : Petani
G. Tgl. Masuk RS : 13 Agustus 2018
H. Tgl. Pengkajian : 27 Agustus 2018
I. Dx. Medis : Skizofrenia Tak Terinci
J. No. RM : 00115273

II. ALASAN MASUK


Keluarga mengatakan + 4 hari sebelum dibawa ke RSJ Tn. P sering marah-
marah sendiri tanpa sebab, klien juga membanting barang-barang dan
berbicara kasar dan keras kepada orang tua.
MK: Resiko Perilaku Kekerasan

III. PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI


A. Gangguan jiwa di masa lalu
Tn. P mengatakan sudah pernah rawat inap di rumah sakit ini (RSJ
Gondohutomo) pada tahun 2017 dikarenakan klien mengamuk dan
marah-marah. Klien juga mengatakan sudah rutin kontrol dan konsumsi
obat rutin berwarna putih.
B. Pengalaman yang tidak menyenangkan
Tn. P mengatakan melihat hantu besar hitam di pohon sejak kecil kira-kira
kelas 5 SD. Tn, P setelah lulus SD memutuskan untuk bekerja dikarenakan
orang tua tidak memiliki cukup biaya untuk sekolah. Tn. P mengatakan
bekerja di proyek yaitu kuli bangunan, akan tetapi dalam waktu terakhir
ini tidak ada proyek sehingga Tn. P membantu orang tuanya di kebun.
C. Apakah ada gangguan jiwa di dalam keluarga
Keluarga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki
gangguan jiwa.
D. Apakah ada aniaya fisik/seksual
Tn. P mengatakan tidak pernah mengalami aniaya fisik maupun seksual.
E. Trauma
Tn. P mengatakan tidak pernah mengalami trauma seperti kecelakaan
yang menyebabkan cedera kepala.
F. Kekerasan
Tn. P tidak mengalami kekerasan secara verbal maupun fisik.
G. Tindak kriminal
Tn. P tidak pernah melakukan tindak criminal sebelum maupun setelah
gangguan jiwa.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


A. Kesadaran
Composmentis GCS 15 (E4M6V5)
B. Tanda-tanda vital
1) Tekanan darah : 110/70 mmHg
2) Nadi : 92 kali/menit
3) RR : 18 kali/menit
4) Suhu : 36,7 oC
C. Data Antropometri
1) BB : 41 kg
2) TB : 150 cm
𝐵𝐵(𝑘𝑔)
D. IMT : 𝑇𝐵2 (𝑚) = 18,2 𝑘𝑔/𝑚2 (status gizi normal)

E. Keluhan Fisik
Tn. P mengatakan terkadang kepalanya pusing
F. Pemeriksaan Head to Toe
No Bagian Hasil Pemeriksaan
1 Kepala Bentuk kepala mesocephal, kulit kepala bersih,
rambut berwarna hitam, pendek dan tidak
beruban. Tidak terdapat lesi ataupun nyeri tekan.
2 Wajah Wajah berbentuk bulat, kulit sawo matang,
bersih dan tidak ada lesi, bibir dapat tersenyum
dengan simetris. Tidak ada nyeri tekan dan
benjolan.
3 Mata Kedua mata simetris, konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik, tidak ada lesi. Tidak ada
nyeri tekan dan benjolan.
4 Hidung Tidak terpasang NGT, hidung bersih, tidak
terdapat lesi. Tidak ada nyeri tekan dan benjolan.
5 Telinga Bentuk simetris, tidak ada cairan dan serumen,
tidak menggunakan alat bantu pendengaran,
dapat merespon setiap pertanyaan yang diajukan
dengan tepat. Tidak ada nyeri tekan dan benjolan
6 Mulut dan Mulut bersih, mukosa lembab, gigi tampak agak
Gigi kuning. Tidak ada pembesaran tonsil serta tidak
terdapat sariawan. Tidak ada nyeri tekan dan
benjolan
7 Paru-paru I : Pengembangan dada simetris, RR 18 kali
/menit, bentuk dada sebelah kanan dan kiri sama,
tidak terdapat lesi
P : Taktil fremitus teraba, gerakan dada saat
bernafas teratur dan tidak ada nyeri tekan
P : Bunyi sonor pada kedua lapang paru
A : Suara nafas vesikuler
9 Jantung I : Ictus cordis tidak terlihat
P : Nadi 92 kali/menit
P : Pekak dan tidak ada pembesaran jantung di
SIC II – SIC V lateral
A : tidak ditemukan suara tambahan pada
jantung
10 Abdomen I : Tidak ada asites, warna kulit sawo matang
A : Bising usus 10x/menit
P : Bunyi perkusi timpani
P: Tidak ada pembesaran hati dan terdapat nyeri
tekan
11 Ekstremitas Kuku bersih, tidak ada lesi, tidak ada udema,
CRT <2 detik, tidak ada deformitas, warna kulit
Atas
sama dengan warna kulit bagian tubuh yang lain,
tidak ada nyeri.
Kekuatan Otot
5 5

5 5
12 Ekstremitas Kuku bersih, tidak ada lesi, tidak ada udema,
CRT <2 detik, tidak ada deformitas, warna kulit
Bawah
sama dengan warna kulit bagian tubuh yang lain,
tidak ada nyeri.
Kekuatan Otot
5 5

5 5

G. Riwayat makan dan minum di rumah


Keluarga mengatakan klien makan secara mandiri (inisiatif) yaitu 2-3 kali
dalam sehari dan tidak memiliki alergi makanan. Klien juga minum 5-6
gelas dalam sehari.
H. Tanda-tanda dehidrasi
Tn. P tidak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
V. PSIKOSOSIAL
A. Genogram

Tn. P
(30 tahun)

Keterangan:
: Laki-laki/Perempuan meninggal
: Laki-laki
: Perempuan
: Menikah
: Anak
: Tinggal satu rumah
: Hubungan komunikasi paling dekat
: Pasien
: bercerai

Tn. P berusia 30 tahun merupakan anak ketiga dari 4 bersaudara. Tn. P


belum menikah sehingga Tn. P masih tinggal bersama orang tuanya dan
adiknya yang berusia 14 tahun.

B. Konsep Diri
1. Body image
Tn. P mengatakan bahwa klien bersyukur diberikan tubuh yang
lengkap tidak ada kecacatan fisik dan semuanya berfungsi dengan
normal.
2. Identitas diri
Klien mengatakan bahwa dirinya seorang laki-laki yang bekerja
sebagai petani. Klien mengatakan sebelumnya klien bekerja sebagai
buruh bangunan, akan tetapi sekarang klien membantu orang tuanya
di kebun. Klien mengatakan merasa bosan menjadi petani dan ingin
bekerja yang lain. Pendidikan terakhir klien yaitu tamat SD.
3. Peran diri
Klien berusia 30 tahun, akan tetapi klien belum menikah dan belum
memiliki pekerjaan tetap sehingga klien memiliki hambatan sebagai
pencari nafkah untuk dirinya sendiri.
4. Ideal diri
Klien ingin memiliki pekerjaan yang tetap sehingga klien dapat
memulai rumah tangga (menikah).
5. Harga diri
Klien mengatakan merasa belum dapat mandiri dan belum menikah
serta masih menumpang di rumah orang tuanya sedangkan kakak-
kakaknya sudah memiliki pekerjaan tetap dan tidak memiliki rumah
sendiri.
C. Hubungan sosial
1. Orang yang berarti
Tn. P mengatakan paling dekat dengan ayahnya. Selama di rumah
sakit Tn. P di jenguk satu kali oleh ayah dan keluarganya yang lain.
2. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat
a. Di rumah
Tn. P mengatakan di rumah biasanya bermain hp dan menonton
tv.
b. Di rumah sakit
Klien mengatakan selama di rumah sakit membantu petugas
merapikan ruang makan seperti menumpuk tempat makan,
menyapu, mengambil baju di laundry dan menatanya di lemari.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
3. Hambatan dalam berhubunan dengan orang lain
Selama di rumah sakit Tn. P aktif mengobrol dengan pasien yang lain
dan ramah kepada pasien yang lain. Tn. P mengatakan jarang
berkumpul bersama warga masyarakat ataupun teman sebayanya
dikarenakan sudah menikah semua sehingga hanya di rumah bersama
orang tua dan adiknya.

D. Spiritual
1. Nilai dan keyakinan
Tn. P mengatakan tidak merasa khawatir ataupun takut dengan
penyakitnya. Klien mengatakan memasrahkan semuanya kepada
Allah SWT.
2. Kegiatan ibadah
Tn. P mengatakan melakukan solat 5 waktu berjamaah secara rutin.

VI. STATUS MENTAL


A. Penampilan
Badan dan pakaian Tn. P terlihat rapi dan bersih. Rambut klien tertata
dengan rapi serta kuku tangan dan kaki juga bersih serta penampilan Tn.
P sesuai dengan usianya yaitu 30 tahun.
B. Pembicaraan
Tn. P berbicara dengan jelas dan mudah di mengerti, akan tetapi volume
suara klien kecil sehingga sulit di dengar dan klien tidak dapat memulai
pembicaraan
C. Aktivitas motorik
Tn. P tidak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan, akan tetapi klien
terlihat kaku dan tegang.
D. Alam perasaan
Tn. P mengatakan sedih karena berada di rumah sakit. Klien mengatakan
ingin cepat pulang ke rumah.
E. Afek
Afek Tn. P selama wawancara yaitu tumpul. Selama wawancara irama
suara klien monoton dan tidak terdapat bahasa tubuh, akan tetapi apabila
terdapat stimulus yang kuat, klien dapat tersenyum.
F. Interaksi selama wawancara
Selama wawancara Tn. P kooperatif dan mampu menjawab pertanyaan
dengan jelas. Selama wawancara klien mampu membuat kontak mata dan
duduk berhadapan.
G. Persepsi
Tn. P mengatakan terkadang suka mendengar suara “Asam” saat klien
sendiri dan melamun. Suaranya biasanya muncul 1 kali dalam sehari dan
terdengar hanya 1 kata. Klien mengatakan biasanya apabila muncul suara
tersebut klien hanya diam.
MK: Halusinasi: Pendengaran
H. Proses fikir
Proses piker Tn. P perseverasi dikarenaka sering adanya pengulangan
pembicaraan mengenai perkerjaan. Klien mengatakan ingin bekerja
sebagai buruh bangunan, klien merasa bosan menjadi petani.
I. Isi fikir
Tidak terdapat gangguan proses fikir pada Tn. P.
J. Tingkat kesadaran
Tn. P tidak mengetahui berada di RSJ dan saat di bawa ke rumah sakit
klien hanya diberi tahu akan dibawa ke pondok agar lebih tenang. Tn, P
dapat menyebutkan 5 waktu solat dan dapat menjawab dengan benar
alamat dan menyebutkan nama ayah dan ibu.
K. Memori
1. Memori jangka pendek
Tn. P tidak memiliki gangguan daya ingat jangka pendek dikarenakan
klien mampu menjelaskan alasan klien dibawa ke rumah sakit. Klien
mengatakan klien di bawa ke rumah sakit dikarenakan klien
mengamuk membanting barang di rumah dan menghancurkan
tanaman di kebun.
2. Memori jangka panjang
Memori jangka panjang Tn. P baik. Tn. P mampu mengingat kejadian
penting yang dulu pernah dialami dengan baik antara lain Tn. P
mengatakan pernah bekerja di Surabaya sebagai kuli bangunan
(proyek). Tn. P mengatakan tinggal di Rembang.
3. Saat ini
Memori Tn. P saat ini baik. Tn. P tidak lupa tentang kejadian yang
telah dilakukan. Ketika di tanya tentang menu sarapan, Tn. P dapat
menyebutkan secara jelas dan benar. Tn. P mengatakan makan dengan
nasi, sayur tauge, tempe dan udang tepung.
L. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Tn. P mampu diajak berkomunikasi dengan baik, dapat menghitung
sederhana misal 6x2 = 12, 6+5 = 11.
M. Kemampuan penilaian
Tidak terdapat gangguan bermakna pada kemampuan penilaian Tn. P
mampu mengambil keputusan yang sederhana secara mandiri. Tn. P dapat
memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum makan.
N. Daya tilik diri
Tn. P tampak mengingkari penyakit yang dideritanya saat ditanya
mengapa disini Tn. P menjawab disuruh istirahat oleh bapak “Apakah pak
P kemarin marah-marah?” Tn. P menjawab “saya tidak marah, kapok saya
marah, saya dibawa kesini karena menebang pohon, saya disuruh istirahat
disini oleh bapak. Saya sakitnya pusing”.

VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG (DISCHARGE PLANNING)


A. Makan
Tn. P dapat makan secara mandiri. Klien makan sebanyak 3 kali dalam
sehari yaitu pukul 07.00 WIB, 12.00 WIB dan pukul 17.00 WIB. Klien
selalu mengabiskan makanannya. Klien juga selalu merapikan sisa
makanan dengan membawa piring kotor ke tempat yang telah disediakan.
B. BAB/BAK
Tn. P mampu memenuhi kebutuhan BAB/BAK secara mandiri. Tn. P
BAB dengan frekuensi 1 kali dalam sehari dengan konsentrasi lunak,
warna dan bau khas tinja. Tn. P BAK dengan frekuensi 4-5 kali dalam
sehari, warna jernih dan bau khas urine. Tn. P mampu menggunakan toilet
secara mandiri dengan menyirampkan air, serta mencuci tangan dengan
menggunakan air bersih dan sabun setelah BAK ataupun BAB.
C. Mandi
Tn. P mengatakan mandi 2 kali dalam sehari secara mandiri yaitu pagi dan
sore hari. Klien mengatakan mandi menggunakan air dan sabun untuk
membersihkan tubuhnya. Klien mengatakan apabila keramas dan gososk
gigi hanya dapat dilakukan 1 kali yaitu pada pagi hari dikarenakan
shampoo dan sikat serta pasta gigi tidak disediakan di kamar mandi.
D. Berpakaian
Tn. P dapat memilih pakaian dan berpakaian sesuai serta dapat
menggunakan alas kaki secara mandiri, Tn. P tampak rapi, Tn. P
mengatakan mengganti pakaiannya dua kali dalam sehari.
E. Istirahat dan tidur
Klien mengatakan biasanya tidur siang dikarenakan setelah makan siang
tidak boleh keluar kamar. Klien mengatakan biasnya setelah makan siang
jam 12.00, klien solat dan tidur pukul 1 siang hingga pukul 3 sore. Klien
mengatakan sebelum tidur tidak dapat menyikat gigi karena tidak
disediakan akan tetapi setiap sebelum tidur klien mengatakan selalu
berdoa. Klien mengatakan tidak mengalami kesulitan tidur baik pada
siang maupun malam hari. Klien mengatakan biasanya setelah bangun
tidur, klien mandi dan solat selajutnya klien merapikan tempat tidur.
F. Penggunaan obat
Tn. P mengatakan tidak mengetahui nama obat yang di konsumsinya,
namun biasanya setelah minum obat klien menjadi mengantuk. Klien
mengatakan rutin minum obat di rumah sebanyak 2 kali dalam sehari
dengan cara minum melalui oral. Selama di rumah sakit klien
mendapatkan obat risperoden 2 x 2 mg.
G. Pemeliharaan kesehatan
Keluarga mengatakan sudah membawa Tn. P untuk kontrol rutin dan
menggunakan BPJS APBN sehingga ditanggung oleh dinas sosial.
H. Kegiatan di dalam rumah
Saat di rumah kegiatan Tn. P hanya berada di kamar dan kadang berbicara
dengan adiknya, bermain hp, menonton tv. Sejak Tn. P sering marah-
marah, Tn. P tidak bekerja dan hanya di kamar.
I. Kegiatan di luar rumah
Tn. P tidak pernah berkumpul oleh temannya ataupun masyarakat di
kampungnya. Tn. P keluar rumah hanya untuk mengambil rumput,
membawa pupuk dan bertani.

VIII. MEKANISME KOPING


Maladaptif
Tn. P mengatakan apabila memiliki masalah lebih memilih diam dan tidak
bercerita kepada keluarga dan memedamnya sendiri.

IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


Tn. P bekerja sebagai petani membantu orang tuanya, akan tetapi klien tidak
pernah mengikuti kegiatan yang diadakan kampungnya dan jarang bergaul
dengan orang lain.

X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG


Tn. P mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit yang dideritanya, Tn. P
mengatakan dirinya hanya sering pusing. Klien tidak mengetahui bahwa
dirinya menderita gangguan jiwa dan berada di rumah sakit jiwa.
XI. ANALISA DATA
Data Masalah
DS: Resiko Perilaku Kekerasan
- Keluarga mengatakan sebelum dibawa ke rumah sakit Tn. P sering marah-marah dan
berteriak tanpa sebab yang jelas
- Keluarga mengatakan sebelum di bawa ke RSJ Tn. P berbicara kasar dan keras,
membanting barang-barang dan marah kepada orang tua
- Tn. P mengatakan pernah di rawat di rumah sakit ini tahun 2017 di karenakan marah-marah
dan memukul kaca
DO:
- Afek tumpul
- Postur tubuh klien selama wawancara kaku dan tegang
DS: Gangguan Persepsi Sensori:
- Keluarga mengatakan sebelum di bawa ke RSJ Tn. P sering marah-marah, berbicara kasar Halusinasi Pendengaran
dan keras, membanting barang-barang dan marah kepada orang tua
- Tn. P mengatakan mendengar suara-suara dengan kata “Asam”
- Tn. P mengatakan suara terdengar saat klien sedang sendiri dan sekali dalam sehari
- Tn. P mengatakan biasanya apabila mendengar suara klien hanya diam
DO:
- Tn. P tampak bingung dan pandangan kosong
- Tn. P tidak menyadari bahwa dirinya berhalusinasi
POHON MASALAH

Resiko perilaku kekerasan

Tidak mampu mengontrol


effect
perilaku

Core problem Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran

cause Trauma, masalah psikolog, kesedihan


memanjang, putus minum obat
XII. ASPEK MEDIK
A. Diagnosa Medis : Skizofrenia Tak Terinci
B. Terapi Medis :
Nama obat Rute Dosis Indikasi Kontraindikasi Efek samping
Risperidone Oral 2x2 Pengobatan skizofrenia akut dan Hipersensitif terhadap Insomnia, agitasi, ansietas,
mg kronik dan kondisi psikotik lainnya risperidone atau komponen- sakit kepala, somnolen,
dengan atau tanpa adanya gejala komponen lain formulasi. fatigue. Kadang-kadang
predominan. Meringankan gejala hipotensi ortostatik, refleks
yang berhubungan dengan takikardi atau hipertensi,
skizofrenia. gejala ekstrapiramidal,
peningkatan BB.

XIII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


1. Gangguan persepsi sensori: halusinasi penglihatan
2. Resiko perilaku kekerasan

XIV. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Resiko perilaku kekerasan : ketidakmampuan mengontrol perilaku
2. Gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran: masalah psikologis
XV. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Tgl Dx. Kep Tujuan Rencana Tindakan
Selasa, Resiko perilaku Setelah dilakukan tidankan keperawatan strategi 1. Bina hubungan saling percaya
28 kekerasan: pelaksanaan 5 x pertemuan selama 30 menit, (BHSP) seperti mengucapkan salam
Agustus ketidakmampuan diharapkan masalah resiko perilaku kekerasan terapeutik, berjabat tangan,
2018 mengontrol dapat teratasi dengan kriteria hasil: menjelaskan tujuan interaksi,
perilaku 1. Klien dapat mengindentifikasi penyebab membuat kontrak topik, waktu,
perasaan marah, tanda dan gejala, jenis tempat setiap kali bertemu
perilaku, akibat dan cara mengontrol 2. Identifikasi penyebab marah, tanda,
perilaku kekerasan dan gejala yang dirasakan
2. Klien dapat mengidentifikasi perilaku 3. Indentifikasi akibat serta ajarkan
kekerasan yang dilakukan cara mengontrol resiko perilaku
3. Klien dapat mempraktikan cara kekerasan secara fisik 1: latihan
mengontrol marah dengan cara ke-1: nafas dalam dan pukul bantal atau
latihan nafas dalam dan memukul bantal kasur
4. Klien dapat mempraktikan kontrol 4. Susun jadwal harian untuk
kemarahannya dengan cara yang ke-2: melakukan kemarahannya dengan
secara mandiri dengan metode lain : cara ke-2 : mengkonsumsi obat
mengkonsumsi obat secara teratur dengan secara prinsip 6 benar (pasien, jenis,
prinsip 6 benar (pasien, jenis, dosis, dosis, frekunsi, cara, dan
frekunsi, cara, dan kontinuitas) kontinuitas)
5. Klien dapat mempraktikan kontrol marah 5. Ajarkan klien cara mengontrol
dengan cara yang ke-3: cara verbal atau kemarahannya dengan cara ke-3:
berbicara dengan baik-baik cara verbal atau berbicara baik-baik
6. Klien mampu mempraktikan cara kontrol 6. Ajarkan klien mengontrol rasa
marah yang ke-4: cara spiritual marah dengan cara ke-4: cara
(mendengarkan Al-Qur’an) spiritual (mendengarkan Al-Qur’an)
Selasa, Gangguan Setelah dilakukan tindakan keperawatan strategi 1. Bina hubungan saling percaya (BHSP)
28 persepsi sensori pelaksanaan selama 5 x pertemuan selama 30 seperti mengucapkan salam terapeutik,
Agustus halusinasi menit, masalah gangguan persepsi sensori: berjabat tangan, menjelaskan tujuan
2018 pendengaran: halusinasi pendengaran dapat teratasi dengan interaksi, membuat kontrak topik,
masalah kriteria hasil: waktu, tempat setiap kali bertemu
psikologis 1. Klien mampu mengindentifikasi 2. Bantu klien mengenali halusinasi
halusinasi (jenis, isi, frekuensi waktu dan 3. Ajarkan klien cara mengontrol
halusinasi dengan cara ke-1:
respon)
menghardik halusinasi
2. Klien mampu mengidentifikasi penyebab
4. Ajarkan cara mengontrol halusinasi
halusinasi dengan cara ke-2: menggunakan dan
3. Klien mampu mempraktikan cara kontrol meminum obat secara teratur dengan
halusinasi dengan cara ke-1: menghardik prinsip 6 benar (pasien, jenis, dosis,
halusinasi frekuensi, cara, kontinuitas)
4. Klien dapat melakukan kontrol halusinasi 5. Ajarkan mengontrol halusinasi dengan
dengan cara ke-2: rutin minum obat secara cara ke-3: bercakap-cakap bersama
teratur dengan prinsip 6 benar (pasien, jenis, orang lain
dosis, frekuensi, cara, kontinuitas) 6. Susun jadwal latihan cara mengontrol
5. Klien mampu mempraktikan cara kontrol halusinasi dengan cara ke-4: melakukan
halusinasi dengan cara ke-3: bercakap- aktivitas terjadwal
cakap dengan orang lain
6. Tn. P dapat mempraktika cara mengontrol
halusinasi dengan cara ke-4 : melakukan
aktivitas yang terjadwal
XVI. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Tgl/ Jam No. Implementasi Evaluasi
Dx
Rabu, 29 1 1. Membina hubungan saling percaya S:
Agustus - Mengucapkan salam terapeutik sambil - Klien mengatakan bahwa namanya Tn. P
2018 memanggil nama pasien - Klien mengatakan biasanya yang
- Memperkenalkan diri kembali kepada menyebabkan marah dikarenakan dimarahi
pasien sambil menjabat tangan pasien oleh orang lain
- Menanyakan kabar pasien - Klien mengatakan di rumah mengamuk,
- Menjelaskan maksud dan tujuan membanting panci, merusak tanaman di
- Menjelaskan kontrak waktu kebun
- Memberikan rasa aman dan sikap - Klien mengatakan sulit untuk tidur selama
empati beberapa hari sebelum dibawa ke rumah
2. Membantu klien mengenali perilaku kekerasan sakit
- Penyebab marah - Klien mengatakan saat marah tidak
- Tanda & gejala perilaku kekerasan mengingat apapun dan menjadi hilang
- Jenis yang pernah dilakukan kendali
- Akibat dari perilaku kekerasan - Klien mengatakan pernah di rawat
- Cara mengontrol yang sudah dilakukan dikarenakan marah-marah memukul kaca
3. Mengajarkan cara mengontrol marah dengan pada tahun 2017
cara ke-1: Latihan fisik memukul bantal dan - Klien mengatakan karena marah-marah
nafas dalam barangnya menjadi rusak dan tidak dapat
4. Mengevaluasi cara mengontrol marah yang dipakai kembali
diajarkan - Klien mengatakan setelah diajarkan cara
5. Melakukan kontrak waktu dan tempat untuk nafas dalam dan memukul bantal, lain kali
pertemuan selanjutnya mendiskusikan cara apabila akan marah klien akan mencoba cara
mengontrol kemarahan dengan cara ke: 2 yaitu tersebut untuk mengontrol marah
rutin minum obat secara prinsip 6 benar O:
-
Paisen kooperatif
-
Afek tumpul
-
Kontak mata (+)
-
Tidak ada tanda-tanda kegelisahan atau
tanda marah
- Klien dapat mempraktika cara mengontrol
marah dengan cara ke-1: cara memukul
bantal dan nafas dalam
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
- Memberikan SP 2 RPK: penggunaan obat
secara teratur dengan prinsip 6 benar (pasien,
jenis, dosis, frekuensi, cara, kontinuitas)
- Membngevaluasi efektivitas cara
mengontrol marah SP 1: Latihan fisik pukul
bantal dan nafas dalam
Jum’at, 30 1 1. Membina hubungan saling percaya S:
Agustus - Mengucapkan salam terapeutik sambil - Klien mengatakan belum menggunakan cara
memanggil nama pasien mengontrol marah memukul bantal
- Memperkenalkan diri kembali kepada dikarenakan klien belum merasakan marah
pasien sambil menjabat tangan pasien - Klien mengatakan tidak mengetahui nama
- Menanyakan kabar pasien obat yang di minum
- Menjelaskan maksud dan tujuan - Klien mengatakan selama di rumah obat di
- Menjelaskan kontrak waktu konsumsi rutin
- Memberikan rasa aman dan sikap - Klien mengatakan setelah meminum obat
empati terkadang suka mengantuk
2. Mengevaluasi keefektifan cara mengontrol - Klien mengatakan sekarang paham
marah dengan cara ke-1: latihan fisik memukul mengenai obat yang di konsumsinya
bantal dan nafas dalam menimbulkan efek samping mengantuk
3. Mengajarkan cara mengontrol marah dengan - Klien mengatakan obat yang di minumnya
cara ke-2: penggunaan obat secara teratur namanya risperidone yang berfungsi agar
dengan prinsip 6 benar (pasien, jenis, dosis, klien tidak mengamuk dan hilang kendali
frekuensi, cara, kontinuitas) - Klien mengatakan obat diminum setelah
- Memberikan pendidikan kesehatan makan, 2 kali sehari, risperidone 2 mg, dan
mengenai obat Tn. P harus dikonsumsi rutin
- Menjelaskan akibat dari putus obat O:
- Menjelaskan penggunaan obat dengan - Klien dapat menyebutkan jenis obat
prinsip 6 benar (pasien, jenis, dosis, risperidone, dosisnya 2 mg, frekuensi 2 kali
frekuensi, cara, kontinuitas) sehari, di minum setelah makan dan rutin
4. Melakukan kontrak waktu dan tempat untuk setiap hari
pertemuan selanjutnya mendiskusikan cara - Klien dapat menyebutkan akibat dari putus
mengontrol kemarahan dengan cara ke-3: obat
secara verbal yaitu berbicara baik-baik A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
- Mengevaluasi cara penggunaan obat dengan
prinsip 6 benar
- Mengajarkan cara mengontrol marah dengan
cara ke-3: secara verbal yaitu berbicara baik-
baik
Sabtu, 31 1 1. Membina hubungan saling percaya S:
Agustus - Mengucapkan salam terapeutik sambil - Klien mengatakan sudah minum obat yang
2018 memanggil nama pasien namanya risperidone, 2 kali yaitu pagi dan
- Memperkenalkan diri kembali kepada sore hari
pasien sambil menjabat tangan pasien
- Menanyakan kabar pasien - Klien mengatakan sudah tidak menyebabkan
- Menjelaskan maksud dan tujuan ngantuk saat setelah minum obat
- Menjelaskan kontrak waktu - Klien mengatakan kemarin sudah
- Memberikan rasa aman dan sikap mempraktikan cara nafas dalam saat akan
empati marah dan klien mengatakan menjadi lebih
2. Mengevaluasi keefektifan cara mengontrol tenang
marah dengan cara ke-2: penggunaan obat - Klien mengatakan kemarin yang
dengan prinsip 6 benar (pasien, jenis, dosis, membuatnya marah dikarenakan disiram air
frekuensi, cara, kontinuitas) saat sedang tidur oleh salah satu pasien
3. Mengajarkan cara mengontrol marah dengan remaja
cara ke-3: cara verbal atau berbicara dengan - Klien mengatakan selama disini sering
baik-baik interaksi atau mengobrol dengan pasien lain
4. Mengevaluasi cara mengontrol marah dengan seperti Tn. T, Tn. S.
cara ke-3: latihan verbal berbicara dengan - Klien mengatakan apabila di rumah biasanya
baik-baik hanya tidur, menonton tv dan ke ladang
5. Melakukan kontrak waktu dan tempat untuk - Klien mengatakan saat di rumah sulit untuk
pertemuan selanjutnya mendiskusikan cara berbicara baik-baik lebih baik diam
mengontrol kemarahan dengan cara ke-4: cara O:
spiritual dengan mendengarkan Al-Qur’an - Postur tubuh klien rileks
- Kontak mata (+)
- Klien defensive mengenai lebih baik diam
dibandingkan untuk berbicara baik-baik saat
sedang marah
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
- Mengevaluasi cara mengontrol marah ke-3:
berbicara baik-baik
- Mengajarkan cara mengontrol marah ke-4:
cara spiritual dengan mendengarkan Al-
Qur’an dan berdzikir
Senin, 1 1 1. Membina hubungan saling percaya S:
September - Mengucapkan salam terapeutik sambil - Klien mengatakan apabila marah menurut
2018 memanggil nama pasien klien lebih baik diam
- Memperkenalkan diri kembali kepada - Klien mengatakan apabila dibicarakan
pasien sambil menjabat tangan pasien dengan baik-baik, klien hanya akan
- Menanyakan kabar pasien bertambah marah
- Menjelaskan maksud dan tujuan - Klien mengatakan lebih baik menarik nafas
- Menjelaskan kontrak waktu dalam saat akan marah dibandingkan
- Memberikan rasa aman dan sikap membicarakannya
empati - Klien mengatakan setelah mendengarkan Al-
2. Mengevaluasi keefektifan cara mengontrol Qur’an dan berdzikir, klien merasa lebih
marah dengan cara ke-3: latihan verbal tenang
berbicara dengan baik-baik - Klien mengatakan saat sedang di lading
3. Mengajarkan cara mengontrol marah dengan biasannya klien melamum
cara ke-4: cara spiritual dengan mendengarkan - Klien mengatakan sekarang akan mencoba
Al-Qur’an berdizkir dibandingkan dengan melamun
4. Melakukan kontrak waktu dan tempat untuk O:
pertemuan selanjutnya mendiskusikan - Klien mengikuti arahan dengan baik
mengenai halusinasi - Klien dapat mempraktikan nafas dalam
disertai dengan berdzikir
- Klien defensif yaitu menganggap berbicara
baik-baik bukan solusi untuk mengontrol
marah
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
- Mengevaluasi cara mengontrol marah ke-4:
cara spiritual dengan mendengarkan Al-
Qur’an dan berdzikir
- Memberikan SP-3 RPK: cara mengontrol
marah dengan berbicara baik-baik
Selasa, 2 2 1. Membina hubungan saling percaya S:
September - Mengucapkan salam terapeutik sambil - Klien mengatakan saat sedang akan tidur
2018 memanggil nama pasien berdzikir dan membuat hati tenang
- Memperkenalkan diri kembali kepada - Klien mengatakan akan meminta adiknya
pasien sambil menjabat tangan pasien untuk memasukan ayat Al-Qur’an di telepon
- Menanyakan kabar pasien genggamnya
- Menjelaskan maksud dan tujuan - Klien mengatakan saat merasakan marah,
- Menjelaskan kontrak waktu klien akan mendengarkan music Al-Qur’an
- Memberikan rasa aman dan sikap dari hp
empati - Klien mengatakan akan mencoba berbicara
2. Mengevaluasi keefektifan cara kontrol marah baik-baik saat merasakan jengkel atau marah
dengan cara ke-4: cara spiritual dengan - Klien mengatakan merasa bersalah kepada
mendengarkan Al-Qur’an orang tuanya karena telah merusak barang di
3. Mengulang SP-3 RPK: cara mengontrol marah rumah
dengan berbicara baik-baik - Klien mengatakan apabila berbicara baik-
4. Melakukan kontrak waktu dan tempat untuk baik, klien tidak perlu merusak barang-
pertemuan selanjutnya mendiskusikan cara barang
mengontrol halusinasi dengan cara ke-1: O:
menghardik halusinasi - Klien kooperatif
- Klien mampu mengidentifikasi keuntungan
dari cara berbicara baik-baik
- Postur tubuh rileks, tidak ada tanda-tanda
kemarahan
A: Masalah teratasi
P: Pertahankan intervensi
- Mengevaluasi cara mengontrol kemarahan
seperti latihan nafas dan memukul bantal,
bebicara baik-baik, cara spiritual dengan
mendengarkan Al-Qur’an
Rabu, 3 2 1. Membina hubungan saling percaya S:
September - Mengucapkan salam terapeutik sambil - Klien mengatakan biasanya mendengar kata
2018 memanggil nama pasien “Asam” saat sedang melamun di ladang
- Memperkenalkan diri kembali kepada - Klien mengatakan mendengar suara sudah
pasien sambil menjabat tangan pasien lama namun tidak pernah di respon
- Menanyakan kabar pasien dikarenakan hanya mendengar 1 kali dalam
- Menjelaskan maksud dan tujuan sehari
- Menjelaskan kontrak waktu - Klien mengatakan hanya suara, tidak pernah
- Memberikan rasa aman dan sikap melihat bayangan-bayangan
empati - Klien mengatakan akan menggunakan cara
2. Mengajarkan cara mengontrol halusinasi menghardik saat muncul suara-suara
dengan cara ke-1: menghardik halusinasi - Klien mengatakan selama di rumah sakit,
3. Membantu mengenali halusinasi (isi, jenis, klien belum mendengar suaranya lagi
frekuensi, waktu) O:
4. Mengevaluasi cara klien menghardik - Klien mampu menyebutkan halusinasi yang
halusinasi dialaminya
5. Melakukan kontrak waktu dan tempat untuk - Klien mampu mempraktekkan cara
pertemuan selanjutnya mendiskusikan cara mengontrol halusinasi dengan menghardik
mengontrol halusinasi dengan cara ke-2: A: Masalah belum teratasi
penggunaan obat P: Lanjutkan intervensi
- Mengevaluasi cara mengontrol halusinasi
dengan menghardik
- Mengajarkan cara mengontrol halusinasi
dengan cara ke-2: penggunaan obat dengan
prinsip 6 benar
Kamis, 4 2 1. Membina hubungan saling percaya S:
September - Mengucapkan salam terapeutik sambil - Klien mengatakan sebelumnya obatnya 3
2018 memanggil nama pasien namun sudah 1 minggu hanya 1 obat yaitu
- Memperkenalkan diri kembali kepada risperidone
pasien sambil menjabat tangan pasien - Klien mengatakan tidak tahu namanya hanya
- Menanyakan kabar pasien tahu warnanya oranye dan putih, kuning
- Menjelaskan maksud dan tujuan - Klien mengatakan perawatnya bilang itu
- Menjelaskan kontrak waktu obat halusinasi
- Memberikan rasa aman dan sikap O:
empati - Klien mampu menyebutkan nama obat
2. Mengevaluasi efektivitas cara mengontrol Haloperidol, trihexypenidil dan
halusinasi dengan cara ke-1: menghardik kegunaannya
halusinasi - Klien mampu menyebutkan frekuensi dan
3. Mengajarkan cara mengontrol halusinasi dosis yang didapatkan klien
dengan cara ke-2: penggunaan obat dengan A: Masalah belum teratasi
prinsip 6 benar P: Lanjutkan intervensi
4. Mengevaluasi cara penggunaan obat - Mengajarkan mengontrol halusinasi dengan
5. Melakukan kontrak waktu dan tempat untuk cara ke-3: bercakap-cakap dengan orang lain
pertemuan selanjutnya mendiskusikan cara - Mengevaluasi penggunaan obat
mengontrol halusinasi dengan cara ke-3:
bercakap-cakap dengan orang lain
Jum’at, 5 2 1. Membina hubungan saling percaya S:
September - Mengucapkan salam terapeutik sambil - Klien mengatakan biasanya di rumah
2018 memanggil nama pasien mengobrol dengan adik
- Memperkenalkan diri kembali kepada - Klien emngatakan tinggal serumah bersama
pasien sambil menjabat tangan pasien orang tua dan satu orang adiknya
- Menanyakan kabar pasien - Klien mengatakan adiknya masih SMP,
- Menjelaskan maksud dan tujuan namun sudah lulus akan lanjut bekerja
- Menjelaskan kontrak waktu membantu klien di kebun
- Memberikan rasa aman dan sikap - Klien mengatakan satu kamar juga bersama
empati adiknya
2. Mengevaluasi efektivitas cara mengontrol O:
halusinasi dengan cara ke-3: bercakap-cakap - Klien kooperatif
dengan orang lain - Selama wawancara sudah ada komunikasi
3. Melakukan kontrak waktu dan tempat untuk dua arah
pertemuan selanjutnya mendiskusikan - Kontak mata (+)
keefektifan cara mengontrol halusinasi ke-4: - Afek sesuai dengan stimulus
melakukan aktivitas terjadwal A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
- cara mengontrol halusinasi ke-4: melakukan
aktivitas terjadwal
Senin, 10 2 1. Bina hubungan saling percaya S:
Sepetmber 2. Mengevaluasi bercakap-cakap dengan orang - Klien mengatakan bangun tidur solat subuh
2018 lain di mesjid
3. Mengajarkan cara mengontrol halusinasi - Klien mengatakan pukul 06.00 mengambil
dengan cara ke-4: melakukan aktivitas rumput untuk makanan kambing dan kelinci
terjadwal - Klien mengatakan mengambil pupuk
- Membuat daftar kegiatan yang - Klien mengatakan ke kebun bertani
dilakukan - Klien mengatakan solat dzuhur di rumah
- Menyusun jadwal selama 1 hari - Klien mengatakan biasanya istirahat jam
12.00 pulang ke rumah untuk makan
- Klien pulang ke rumah sore hari, mandi dan
solat masgrib di mesjid
O:
- Klien mampu menyebutkan kegiatan yang
dapat dilakukan klien dalam sehari
- Klien dapat membuat jadwal selama 1 hari
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
- Mengevaluasi keefktifan cara mengontrol
halusinasi dengan cara ke-4: melakukan
kegiatan terjadwal
- Mengevaluasi aktivitas yang dijadwalkan
Rabu, 12 2 1. Membina hubungan saling percaya S:
September - Mengucapkan salam terapeutik sambil - Klien mengatakan saat di rumah akan
2018 memanggil nama pasien membuat jadwal aktivitas
- Memperkenalkan diri kembali kepada - Klien mengatakan hari ini sudah membuat
pasien sambil menjabat tangan pasien jadwal aktivitas selama 1 hari
- Menanyakan kabar pasien - Klien mengatakan hari ini sudah
- Menjelaskan maksud dan tujuan mendapatkan rehabilitasi
- Menjelaskan kontrak waktu - Klien mengatakan di rehabilitasi ada tenis
- Memberikan rasa aman dan sikap meja dan besok klien ingin mencoba jadi
empati masuk dalam daftar kegiatan
2. Mengevaluasi keefektifan cara mengontrol - Klien mengatakan di tempat rehabilitasi
halusinasi dengan cara ke-4: melakukan yaitu bertani
aktivitas terjadwal O:
3. Memberikan reinforcement - Klien mampu membuat jadwal ativitas
secara mandiri
- Klien sudah mampu merencanakan kegiatan
untuk esok hari
A: Masalah teratasi
P: Pertahankan intervensi
- Mengevaluasi cara-cara yang sudah
diajarkan untuk mengontrol halusinasi