Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

QOWAID FIQH
AD - DHARAR YUZALU

DOSEN PENGAMPU: IFROHAN,S.Pd.I

DI SUSUN OLEH:
APRILIAWATI
SITI RUAHIDAH

PRODI: HUKUM EKONOMI SYARIAH


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AS-SHIDDIQIYAH
Jl. Lintas Timur Km. 123 Lubuk Seberuk, OKI, Sumatera Selatan

Tahun akademik 2013/2014


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia-Nya serta
kesempatan kepada kami sehingga dapat menyusun dan menyelesaikan makalah Qowaid Fiqh
dengan judul Ad-Dharar Yuzalu dalam bentuk makalah guna melengkapi tugas pada semester 3
di STAI AS-SHIDDIQIYAH.

Penulis menyadari tentunya banyak kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Hal itu di
karenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis oleh karena itu harapan penulis
sekiranya pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang konstruktif serta edukatif guna
kesempurnaan makalah dimasa mendatang.

Akhirulkalam kami mengucapkan semoga Allah SWT membimbing kita semua dalam
naungan kasih dan saying-Nya. Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan
kita. Amin..

Penulis.

2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..............................................................................................
1.2 Tujuan Penulisan ..........................................................................................
1.3 Rumusan Masalah .........................................................................................
1.4 Batasan Masalah ...........................................................................................
1.5 Metode Penulisan ..........................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
2.2 Pengertian kaidah “ad-dhararu yuzalu” ........................................................
2.3 Dasar-dasar pengambilan kaidah “ad-dhararu yuzalu ..................................
2.3 Perbedaan antara masyaqqat & dharar ..........................................................
2.4 Uraian kaidah “ad-dhararu yuzalu” ..............................................................
2.5 Cabang-cabang kaidah “ad-dhararu yuzalu” ................................................

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan .......................................................................................................
3.2 Saran .............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Syariat islam penuh toleransi dalam hukum-hukum dan amalan-amalannya. Sebagai
contoh, ibadah-ibadah yang tercakup dalam rukun Islam. Salah satunya dalam ibadah shalat. Jika
kita lihat ibadah ini merupakan amaliah yang mudah dan hanya membutuhkan sedikit waktu.
Demikian pula zakat, hanya memerlukan sebagian kecil dari harta orang yang terkena kewajiban
zakat. Itu pun diambil dari harta yang dikembangkan, bukan harta tetap. Namun Ada Kalanya
Ke-Mudhorotan itu dihilangkan karena ada dasar-dasar tertentu.

Begitu mudahnya islam itu, islam tak pernah menyulitkan para pemeluknya. Ada kemudahan
didalam kesulitan. Karena Allah Swt. Tidak menyukai kesukaran pada hambanya. Oleh karena
itu dalam islam tidak ada paksaan untuk mengikutinya.

1.2 Tujuan penulisan

Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Qowaid Fiqh dan memahami
tentang teori Ad-Dharar Yuzalu serta menerapkannya dalam dunia beribadah dan kehidupan
sehari-hari.

1.3 Rumusan Masalah


1.3.1 Pengertian kaidah “Adh-Dhararu Yuzalu”
1.3.2 Dasar-Dasar pengambilan kaidah “Ad-Dhararu Yuzalu”
1.3.3 Perbedaan antara Masyaqqat dan Dharar
1.3.4 Uraian Kaidah Ad-Dhararu Yuzalu
1.3.5 Cabang-Cabang Kaidah “Ad-Dhararu Yuzalu”

4
1.4 Batasan Masalah
Hal yang dibahas dalam makalah ini hanya tentang teori Ad-Dharar Yuzalu

1.5 Metode Penulisan


Penulis memakai metode study literature dan kepustakaan dalam penulisan makalah ini.
Referensi makalah ini bersumber tidak hanya dari buku, tapi juga dari media lain seperti blog,
web, dan perangkat media massa yang diambil dari internet.

5
ADH_DHARARU YUZALU
[kesulitan itu harus dihilangkan]

6
BAB II
PEMBAHSAN

1. Pengertian kaidah “Adh-Dhararu Yuzalu”


Arti dari kaidah “ad-Dhararu yuzalu” adalah kemudharatan/kesulitan harus dihilangkan.
Jadi konsepsi kaidah ini memberikan pengertian bahwa manusia harus dijauhkan
dari idhrar (tindak menyakiti), baik oleh dirinya maupun orang lain, dan tidak semestinya ia
menimbulkan bahaya (menyakiti) pada orang lain.[1]

Namun Dharar (Dharar) secara etimologi adalah berasal dari kalimat "adh Dharar" yang
berarti sesuatu yang turun tanpa ada yang dapat menahannya. Sedangkan Dharar secara
terminologi menurut para ulama ada beberapa pengertian diantaranya adalah:
 Dharar ialah posisi seseorang pada suatu batas dimana kalau tidak mau melanggar sesuatu
yang dilarang maka bisa mati atau nyaris mati. Nah hal seperti ini memperbolehkan ia
melanggarkan sesuatu yang diharamkan dengan batas batas tertentu.
 Abu Bakar Al Jashas, mengatakan “Makna Dharar disini adalah ketakutan seseorang pada
bahaya yang mengancam nyawanya atau sebagian anggota badannya karena ia
tidak makan”.
 Menurut Ad Dardiri, “Dharar ialah menjaga diri dari kematian atau dari kesusahan yang
teramat sangat”.
 Menurut sebagian ulama dari Madzhab Maliki, “Dharar ialah mengkhawatirkan diri dari
kematian berdasarkan keyakinan atau hanya sekedar dugaan”.
 Menurut Asy Suyuti, “Dharar adalah posisi seseorang pada sebuah batas dimana kalau ia
 tidak mengkonsumsi sesuatu yang dilarang maka ia akan binasa atau nyaris binasa.

Jadi, Dharar disini menjaga jiwa dari kehancuran atau posisi yang sangat mudharat
sekali, maka dalam keadaan seperti ini kemudaratan itu membolehkan sesuatu yang dilarang.

Berdasarkan pendapat para ulama di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Dharar adalah
kesulitan yang sangat menentukan eksistensi manusia, karena jika ia tidak diselesaikan maka
akan mengancam agama, jiwa, nasab, harta serta kehormatan manusia.

2. Dasar-Dasar pengambilan kaidah “Ad-Dhararu Yuzalu”


Kaidah ini menunjukkan bahwa kemadharatan itu telah terjadi atau akan terjadi, dengan
demikian setiap kemadharatan memang harus dihilangkan.

7
Dasar dari kaidah ini adalah firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 7: 56:

    


    
 �   
 
Artinya: dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan
harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik.(Q.S al-a’raf 7: 56)

Surat al-Qashash ayat 77:

  �9  


     �
     
     �
 �     

Artinya: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah
kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan. (Q.S al-Qashash 28: 77)

Hadits nabi SAW yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas:

‫ار‬ ِ َ‫ض َر َر َوال‬


َ ‫ض َر‬ َ َ‫ال‬
"Tidak diperbolehkan membuat kemadharatan pada diri sendiri dan kemadharatan pada orang
lain".

Masalah-masalah yang dapat mempergunakan kaidah ini banyak sekali, diantaranya:


khiyar, syuf’ah, hudud, kafarat, memilih pemimpin, fasakh dalam nikah karena ada aib dan
sebagainya.
3. Perbedaan antara Masyaqqat dan Dharar
 Masyaqqat adalah suatu kesulitan yang menghendaki adanya kebutuhan (hajat) tentang
sesuatu, dan jika tidak terpenuhi tidak akan mempengaruhi eksistensi manusia,

8
sedang Dharar adalah kesulitan yang sangat menentukan eksistensi manusia, karena jika
tidak terselesaikan akan mengancam agama, jiwa, nasab, harta, serta kehormatan manusia.
 Masyaqqat waktu terjadinya relative lama dan bias terjadi terus-menerus,
sedangkan Dharar relative singkat
 Masyaqqat solusi alternativenya banyak, sedangkan Dharar hanya ada satu
 Dengan adanya Masyaqqat akan mendatangkan kemudahan dan adanya Dharar akan ada
penghapusan hukum.

Dengan demikian adanya Rukhsoh (keringanan) dan penghapusan Dharar akan


mendatangkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia, dan dalam konteks ini keduanya tidak
mempunyai perbedaan. (Wahbah az-Zuhaili, 1982: 218)

4. Uraian Kaidah “Ad-Dhararu Yuzalu”


Islam tidak menghendaki adanya kemudaratan bagi pemeluknya, maka harus dihilangkan
jika ada. Kaedah ini sering diungkapakan melalui hadis rasulullah:
‫ار‬ ِ َ‫ض َر َر َوال‬
َ ‫ض َر‬ َ َ‫ال‬
“ tidak boleh memberi memudaratkan dan membalas kemudaratan ”

Para ulama berbeda pendapat tentang perkataan dharar dan dhirar yaitu:
 Al-Husaini mengartikan al-dharar dengan “bagimu ada manfaat tapi bagi tetanggamu ada
mudarat”. Sedangkan al-dhirar diartikan dengan “bagimu tidak ada manfaatnya dan bagi
orang lain memudaratkan”.
 Ulama lain mengartikan al-dharar dengan “ membuat kemudaratan” dan al-dhirar
diartikan membawa kemudaratan diluar ketentuan syari’ah.
 Contoh, jika seseorang tetangga membuat saluran air untuk rumahnya yang menyebabkan
kerapuhan tembok (dinding) rumah tetangganya sehingga dapat membuatnya roboh,
maka pembuatan saluran air ini tidak diperbolehkan karena alasan ini dan mengingat
bahaya yang begitu jelas di dalamnya.

Dari sini para ahli hukum dalam menetapkan asas hukum umum dalam perhubungan
bertetangga rumah, bahwa kebebasan tetangga dalam menjalankan hak kepemilikannya dibatasi
dengan keharusan tidak mendatangkan bahaya dan kerusakan yang nyata pada hak tetangganya.

Dalam segala kondisi, seseorang tidak dapat dipaksa untuk menghilangkan haknya yang
berpotensi menyebabkan kemudaratan bagi orang lain (tetangganya) jika memang ia lebih
9
dahulu ada sebelum Sitetangga. Misalnya, jika seseorang menempati atau membangun rumah
disamping pabrik roti yang telah berdiri sebelum ia menempati atau membangun rumah tersebut,
maka ia tidak berhak menuntut penutupan pabrik tersebut dengan alasan efek negatif yang
diterima dirinya. Hal itu dikarenakan ia sendiri yang memasuki wilayah bahaya dengan
keinginan dan pilihannya sendiri.
“ Diambil mudarat yang lebih ringan diantara dua mudarat ” artinya, apabila suatu
perkara atau tindakan menyebabkan suatu bahaya yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan
satu tindakan bahaya lainnya yang salah satu dari kedua bahaya tersebut lebih besar dari pada
yang lainnya, maka bahaya yang lebih besar dihilangkan dengan yang lebih kecil. Namun,
apabila tindakan tersebut mendatangkan akibat yang lebih besar, maka tidak boleh dilakukan.

Jika terkait dengan kemudartan umum (bahaya sosial), maka tidak lagi dilihat apakah
penyebab bahaya tersebut terlebih dahulu ada atau baru, tetapi dalam keadaan apapun bahaya ini
harus dihilangkan. Contohnya barang siapa yang membangun tenda besar ditengah jalan umum
atau membangun jembatan yang mempersulit arus lalu lintas, maka ia dapat diperintahkan untuk
menghancurkannya, meskipun memakan waktu yang lama.

Ada juga contoh lainnya mengenai kaidah ad-dhararu yuzalu antara lain:
 Larangan menimbun barang-barang kebutuhan pokok masyarakat karena perbuatan tersebut
mengakibatkan kemudaratan bagi rakyat.
 Larangan menghancurkan pohon-pohon, membunuh anak kecil, orang tua, wanita, dan
orang-orang yang tidak terlibat peperangan dan pendeta agama lain adalah untuk
menghilangkan kemudaratan.
 Kewajiban berobat dan larangan membunuh diri juga untuk menghilangkan kemudaratan.
 Larangan murtad dari agama islam dan larangan mabuk-mabukan juga untuk menghilangkan
kemudaratan.

5. Cabang-Cabang Kaidah “Ad-Dhararu Yuzalu”


Sebagai kaidah pokok, ada beberapa kaidah yang menginduk pada kaidah ini, yaitu:

Kaidah pertama:

‫الضرورات تبيح المحظورات‬


"Madharat itu dapat memperbolehkan yang diharamkan"

Dasar nash dari kaidah di atas adalah firman Allah:


10
‫وقد فصل لكم ما حرم عليكم االمااضطررتم اليه‬
Artinya: “Dan sesunguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya
atasmukecualiapa yang terpaksa kamu memakannya” (.QS. al-An’am:119)

‫فمن اضطر غير باغ وال عاد فال اثم عليه‬


Artinya: “Maka barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedangkan ia tidak
menginginkannya, serta tidak melampaui batas maka tiada dosa baginya.(QS. Al-Baqarah : 173)

Melihat ayat di atas, tidak semua keterpaksaan itu memperbolehkan yang haram, namun
keterpaksaan itu dibatasi dengan keterpaksaan yang benar-benar tidak ada jalan lain kecuali
hanya melakukan itu, dalam kondisi ini maka yang haram dapat diperbolehkan memakainya.
Misalnya seseorang di hutan tiada menemukan makanan sama sekali kecuali babi hutan dan bila
ia tidak memakannya akan mati, maka babi hutan itu dapat dimakan sebatas keperluannya.
Batasan kemadharatan adalah suatu hal yang mengancam eksistensi manusia, yang terkait
dengan panca tujuan yaitu: memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara
keturunan, dan memelihara kehormatan atau harta benda. Dengan demikian Dharar itu terkait
dengan dharuriyah, bukan hajiyah dan tahsiniyah. Sedangkan hajat (kebutuhan) terkait dengan
hajiyah dan tahsiniyah.
Karena itu terdapat kaidah:

‫ال حرام مع الضرورات وال كراهة مع الحاجة‬


“Tiada keharaman baagi Dharar dan tidak ada kemakruhan bagi kebutuhan”(Abdul Hamid
Hakim, 1956:81).

Kaidah kedua:

‫ماابيح للضرورة يقدَّر بقدرها‬


“Apa yang diperbolehkan karena Dharar maka diukur menurut kadar kemadharatannya” (as-
Suyuthi, TT:60).

Contoh kaidah di atas adalah: kebolehan memakan bangkai bagi seseorang hanya sekadar
dalam ukuran untuk mempertahankan hidup, tidak boleh melebihi.

Kaidah ketiga:

11
‫االضطرار ال يبطل حق الغير‬
“Keterpaksaan itu tidak dapat membatalkan hak orang lain” (Wahbah az-Zuhaili 1982:259)

Misalnya seseorang dalam keadaan lapar, dan dia akan mati jika ia tidak makan, dan jalan
satu-satunya mendapat makanan adalah mencuri, maka ia tidak boleh melakukannya, karena
pengguguran terhadap keterpaksaan ini mengganggu hak orang lain, maka jalan keluar orang
tersebut adalah boleh makan makanan yang haram seperti babi, bangkai dan sebagainya.

Kaidah keempat:

‫الضرار اليزال بالضرر‬


“kemadharatan itu tidak bisa dihilangkan dengan kemadhratan yang lain” (as-Suyuthi,TT:61)
Kaedah ini semakna dengan kaedah:
َ ‫ْال‬
‫ض َر ُر الَيُزَ ا ُل بَ ِمثْ ِل ِه‬
“ kemudharatan tidak boleh dihilangkan dengan kemudharatan yang sebanding”

Maksud kaedah itu adalah kemudharatan tidak boleh dihilangkan dengan cara melakukan
kemudharatan lain yang sebanding keadaannya. Misalnya, seseorang debitor tidak mau
membayar utangnya padahal waktu pembayaran sudah habis. Maka dalam hal ini tidak boleh
kreditor mencuri barang debitor sebagai pelunasan terhadap hutangnya.

Contoh lain seorang dokter tidak boleh melakukan donor darah dari satu orang ke orang
lain jika hal itu menyebabkan si pendonor menderita sakit lebih parah dari yang menerima donor.

Kebolehan berbuat atau meninggalkan sesuatu karena Dharar adalah untuk memenuhi
penolakan terhadap bahaya, bukan selain ini. Dalam kaitan ini Dr. Wahbah az-Zuhaili membagi
kepentingan manusia akan sesuatu dengan 5 klasifikasi, yaitu:
 Dharar, yaitu kepentingan manusia yang diperbolehkan menggunakan sesuatu yang dilarang,
karena kepentingan itu menempati puncak kepentingan manusia, bila tidak dilaksanakan
maka mendatangkan kerusakan. Kondisi semacam ini memperbolehkan segala yang
diharamkan atau dilarang, seperti memakai pakaian sutra bagi laki-laki yang telanjang , dan
sebagainya.
 Hajat, yaitu kepentingan manusia akan sesuatu yang bila tidak dipenuhi mendatangkan
kesulitan atau mendekati kerusakan. Kondisi semacam ini tidak menghalalkan yang haram.
Misalnya seorang laki-laki yang tidak mampu berpuasa maka diperbolehkan berbuka dengan
makanan halal, bukan makanan haram.
12
 Manfaat, yaitu kepentingan manusia untuk menciptakan kehidupan yang layak. Maka hukum
diterapkan menurut apa adanya karena sesungguhnya hukum itu mendatangkan manfaat.
Misalnya makan makanan pokok seperti beras, ikan, sayur-mayur, lauk-pauk, dan
sebagainya.
 Zienah, yaitu kepentingan manusia yang terkait dengan nilai-nilai estetika.
 Fudhul, yaitu kepentingan manusia hanya sekedar utuk berlebih-lebihan, yang
memungkinkan mendatangkan kemaksiatan atau keharaman. Kondisi semacam ini dikenakan
hukum saddu adz dzariah, yakni menutup segala kemungkinan yang mendatangkan
mafsadah. (Wahbah az-Zuhaili, 1982:246-247)

Contoh kaidah di atas adalah kebolehan memakan bangkai bagi seseorang hanya sekadar
dalam ukuran untuk mempertahankan hidup, tidak boleh melebihi.

Kaidah kelima :

‫ماجاز لعذر بطل بزواله‬


“Apa yang diizinkan karena adanya udzur, maka keizinan itu hilang manakala udzurnya hilan.”
(wahbah az-Zuhaili, 1982:245)

Misalnya kebolehan tayammum bagi seseorang yang lagi sakit, maka ketika sudah
sembuh kebolehan tayammum itu hilang atau tidak perlaku lagi.

Kaidah keenam:

‫الميسور اليسقط بالمعسور‬


“Kemudahan itu tidak dapat digugurkan dengan kesulitan” (Wahbah az-Zuhaili, 1982:257)
Kaidah tersebut menurut Ibnu Subki diambil dari sabda nabi SAW:
‫اذاامرتكم بامر فأتوا منه مااستطعتم‬
“Apabila aku perintahkan kalian dengan suatu perintah maka lakukanlah perintah itu semampu
kalian”

Misalnya seorang yang buntung tangan atau kakinya maka cara wudhunya cukup
membasuh yang ada, kalau tidak ada sama sekali maka cukup membasuh anggota yang paling
ujung sendiri.

Kaidah ketujuh:
13
‫درءالمفاسد اولى من جلب المصالح فاذاتعارض ممفسدة ومصلحة قدم دفع المفسدة غالبا‬
“Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mendapatkan kemaslahatan, dan apabila
berlawanan antara mafsadah dan maslahah maka yang didahulukan adalah menolak
mafsadahnya” (as-Suyuthi, TT:62)

Kaidah tersebut diilhami oleh hadits nabi SAW:

‫اذاامرتكم بامرفأ توا مااستطعتم واذانهيتكم عن شئ فاجتنبوه‬


“Apabila aku telah memerinahkanmu dengan suatu perintah maka kerjakanlah perintah itu
semampumu, tetapi jika aku telah melarang padamu tentang sesuatu maka jauhilah”.(HR.
Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah)"

Misalnya seseorang diprintahkan shalat dalam keadaan berdiri, namun ia tidak mampu
melaksanakannya, maka shalat itu dapat dikerjakan dengan duduk atau berbaring. Menolak
madharat didahulukan karena kerusakan akan berakibat pada hilangnya manfaat. Misalnya
minum khomr itu disamping ada madharatnya merusak akal dan menghambur-hamburkan uang
sedang manfaatnya untuk menguatkan badan , walaupun demikian maka yang dimenangkan
adalah menolak kerusakannya.

Kaidah kedelapan:

‫اذا تعارض مفسدتان روعى اعظمهما ضررا بارتكاب اخ ِِّفهما‬


“Apabila dua mafsadah bertentangan, maka perhatikan mana yang lebih besar madharatnya
dengan memilih yang lebih ringan madharatnya” (Abdul Hamid Hakim, 1956:82)

Misalnya diperbolehkan mengadakan pembedahan perut wanita yang mati jika


dimungkinkan bayi yang dikandungnya dapat diselamatkan. Demikian juga boleh shalat denga
bugil jika tidak ada alat penutup sama sekali.

Kaidah kesembilan:

‫الحاجة العا مة اوالخاصة تنزل منزلة الضرورة‬


“Kebutuhan umum atau khusus dapat menduduki tempat Dharar” (Wahbah az-Zuhaili,
1982:261)

14
Kaidah diatas menunjukkkan bahwa keringanan itu tidak hanya berlaku bagi
kemadharatan, baik kebutuhan umum maupun khusus, sehingga dapat dikatakan bahwa
keringanan itu diperbolehkan karena kebutuhan sebagaimana kebolehan keringanan atas
kemadharatan, karena itu hajat itu hampir sama kedudukannya dengan mudharat.

Misalnya, pada dasarnya transaksi jual beli diharuskan terpenuhi semua rukun dan
syaratnya, namun untuk mempermudah transaksi tersebut maka diperbolehkan akad salam
(pesanan) walaupun pada dasarnya hal itu tidak mengikuti hukum asal.

Perbedan Dharar dan Hajat:


 Dharar lebih berat keadaanya sedangkan hajat hanya sekedar butuh.
 Hukum Dharar dalam mengecualikan terhadap hukum yang sudah diterapkan walaupun
terbatas waktu dan kadarnya, misalnya wajib menjadi mubah, haram menjadi mubah. Sedang
hukum hajat tidak dapat mengubah hukum nash yang sudah jelas.(Wahbah az-Zuhaili,
1982:273-274)

Sedang syarat adanya hajat adalah sebagai berikut :


 ia membutuhkan atas ketidak berlakuan hukum asal karena adanya kesulitan (hajat atau
masyaqqat) yang tidak bisa terjadi.
 Sesuatu yang dihajati itu patut menggunakan hukum istisna’(pengecualian) bagi individu
menurut kebiasaan.
 Hajat yang dihadapi merupakan hajat yang jelas untuk suatu tujuan bagi hukum syara’.
 Kedudukan hajat sama dengan Dharar dalam aspek penggunaan kadar yang dibutuhkan.
(Wahbah az-Zuhaili, 1982:275-276)

Jumhur ulama menggunakan keringanan-keringanan dalam hajat atau Dharar jika


ternyata hajat dan Dharar itu memenuhi syarat-syaratnya.

Keterangan:

Menurut Abdul Qadir Audah seorang tokoh Ihwanul Muslimin dan seorang qadi Mesir,
Dharar bisa diperhitungkan bila mempunyai ciri sebagai berikut:
 Dikhawatirkan membahayakan jiwa, raga, agama seseorang.
 Dalam keadaan serius hingga tidak bisa ditunda.
 Tidak ada jalan lain.
 Dilakukan seperlunya saja.
15
Izzuddin bin Abdissalam dalam al Qawaid Li al-Maqasid membagi maslahah dan
mafsadah menjadi tiga:
1. Afdhal (seperti al Wajibat)
2. Fadl (seperti al Mandubat)
3. Mutawassith (seperti al Ibahah)

16
DAFTAR PUSTAKA

[1] Nashr farid Muhammad washil, Qawa’id Fiqhiyyah, hlm17.


[2] pondok pasantren islam nirul iman, Dhorurat dalam Perspektif
Islam, http://ppnuruliman.com/artikel/fikih/228-dhorurat-dalam-perspektif-
islam.html, 10/10/2012, 02.19 WIB
[3] Nur Alim, Ad-Dhararu Yuzalu, http://noeraliem.blogspot.com/2010/10/ad-dhararu-yuzalu-
kemudharatan-itu.html, 10/10/2012, 02.23 WIB
[4] Q.S al-a’raf 7: 56
[5] Q.S al-Qashash 28: 77
[6] Muchlis Usman, kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyyah, (Jakarta: PT RajaGrafindo persada,
2002), hal.132
[7] Abdul hamid hakim, as-sullam, juz II, Jakarta: maktabah as-sa’diyah putra, hlm 59
[8] Ibid., hlm 132
[9] Ibid., hlm.19
[10] Djuzuli, Kaidah-Kaidah Fikih, (Jakarta: Kencana, 2007), Cet.2, h.68
[11] QS. al-An’am:119
[12] QS. Al-Baqarah : 173
[13] Musbik imam, qawa’id al-fiqfiyah, Jakarta:PT rajagrafindopersada, 2001, hlm 70
Diposkan oleh vauzan ahmad di 10/23/2012 09:21:00 PM

17