Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

ISOTERM ADSORPSI FREUNDLICH

OLEH

NI PUTU ASTINI 1713031004

I GUSTI AYU AGUNG MAS ROSMITA 1713031013

APLIANA PRISKILA MONE 1713031017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

2019
PERCOBAAN X
ISOTERM ADSORPSI FREUNDLICH

I. TUJUAN
Memverifikasi isoterm Freundlich pada proses adsorpsi asam oksalat (H2C2O4)
terhadap arang aktif.

II. DASAR TEORI


Penyerapan suatu zat oleh zat lain disebut sorpsi (Kundari & Wiyuniati, 2008).
Ada dua jenis sorpsi, yaitu absorpsi dan adsorpsi.Pada adsorpsi, zat yang diserap hanya
terdapat pada bagian permukaan zat penyerap, sedangkan pada absorpsi, zat atau ion
yang diserap masuk ke bagian dalam zat penyerap.Adsorpsi adalah gejala pengumpulan
molekul-molekul suatu zat pada permukaan zat lain akibat dari ketidakjenuhan gaya-
gaya pada permukaan tersebut (Buku PenuntunPraktikum Kimia Fisika,2014). Proses
adsorpsi dalam larutan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

a. Jenis adsorben
Kenaikan kelarutan menunjukkan ikatan yang kuat antara zat terlarut dengan
pelarut. Apabila adsorbat memiliki kelarutan yang besar, maka ikatan antara zat
terlarut dan pelarut makin kuat sehingga adsorpsi akan semakin kecil karena
sebelum adsorpsi terjadi diperlukan energi yang besar untuk memecahkan ikatan zat
terlarut dengan pelarut.
b. Luas permukaan adsorben
Luas permukaan adsorben sangat berpengaruh terhadap proses adsorpsi. Adsorpsi
merupakan suatu kejadian permukaan sehingga besarnya adsorpsi sebanding dengan
luas permukaan. Semakin banyak permukaan yang kontak dengan adsorbat maka
akan semakin besar pula adsorpsi yang terjadi.
c. Konsentrasi zat terlarut
Adsorpsi akan konstan jika terjadi kesetimbangan antara konsentarasi adsorbat
yang terserap dengan konsentrasi yang tersisa dalam larutan.
d. Temperatur
Reaksi yang terjadi pada adsorpsi biasanya eksotermis, oleh karena itu adsorpsi
akan besar jika temperatur rendah.
e. Waktu kontak dan pengocokan
Waktu kontak yang cukup diperlukan untuk mencapai kesetimbangan adsorpsi.
Jika fasa cair berisi adsorben diam, maka difusi adsorbat melalui permukaan
adsorben akan lambat. Oleh karena itu, diperlukan pengocokan untuk mempercepat
proses adsorpsi.
f. Jenis adsorbat atau zat yang teradsorpsi
Ada dua jenis komponen yang terlibat dalam adsorpsi,yaitu zat terserap
(adsorbat) dan zat penyerap (adsorben). Adsorbat dapat berupa gas, zat cair atau zat
padat yang terlarut, sedangkan adsorben dapat berupa zat padat yang dapat
menyerap molekul, atom atau ion.Terdapat beberapa kemungkinan adsorbsi larutan
oleh zat padat, seperti:

1. Adsorbsi positif, yaitu adsorpsi apabila solut relatif lebih besar teradsorbsi
daripada adsorben. Contohnya seperti penyerapan zat warna oleh aluminium atau
kromium.
2. Adsorbsi negatif, yaitu adsorpsi apabila solven relatif lebih besar teradsorbsi
daripada solut dalam larutan. Contohnya adsorpsi alkaloid dengan karbon aktif.

Berdasarkan kondisi dikenal dua jenis adsorbsi, yaitu:


1. Adsorbsi fisika (physisorption)
Apabila adsorbsi berjalan pada temperatur rendah dan prosesnya reversibel
jumlah asam yang hilang karena diadsorp = pengurangan konsentrasi asam dalam
larutan.
2. Adsorbsi kimia (chemisorption, activated adsorbsion)
Apabila adsorbsi berjalan pada temperatur tinggi disertai dengan reaksi kimia
yang irreversibel (Sukarta, 2009).

Adsorpsi dipakai untuk menghilangkan warna dalam larutan,juga digunakan pada


penelitian gas,hidrogenasi minyak-minyak dan dalam pemotretan. Pada suhu tetap,
jumlah molekul yang dapat diadsorpsi pada suatu permukaan bergantung kepada tekanan
(jika gas) dan konsentrasi (jika larutan). Hubungan antara banyaknya zat yang
dapatdiadsorbsi dengan suhu dan konsentrasi dapat diberikan secara grafik yang dikenal
sebagai isotherm adsorpsi (Ensliklopedi Umum, 1973).

Persamaan Isoterm Adsorpsi Freundlich


Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara
fasa teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan fasa ruah saat kesetimbangan pada
temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan untuk
menjelaskan isoterm adsorpsi, yaitu Isoterm Langmuir, Isoterm Brunauer, Emmet, and
Teller (BET), dan Isoterm Freundlich.
Isoterm Freundlich digunakan untuk rentang konsentrasi yang kecil dan
campuran yang cair, isoterm adsorpsi dapat digambarkan dengan persamaan empirik
yang dikemukakan oleh Freundlich. Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben
mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan
yang berbeda-beda. Persamaan ini diturunkan secara empirik dan berlaku untuk gas yang
bertekanan rendah. Adapun persamaannya sebagai berikut.
V = k P1/n
Ket :
V = gas yang teradsorpsi pada tiap satu satuan massa adsorban pada tekanan gas P.
k, n = adalah konstanta , n biasanya > 1.

Apabila kedua ruas persamaan itu dilogaritmakan akan diperoleh :


1
logV = log k + n log P
Jika persamaan tersebut diaplikasikan untuk gas, maka y adalah jumlah gas yang
teradsorpsi dan c digantikan dengan tekanan gas. Plot log y terhadap log c atau log P
menghasilkan kurva linier yang ditunjukkan pada Gambar 1. Dengan menggunakan
kurva tersebut, nilai k dann dapat ditentukan.

Gambar 1. Grafik log c terhadap log x/m


Perbedaan utama antara isoterm Langmuir dan Freundlich, nilai batas V m tidak
akan dicapai walaupun tekanan gas terus dinaikkan.Plot isoterm Freundlich digunakan
dalam menentukan kapasitas adsorpsi. Hal-hal yang dapat dilihat dari kurva isoterm
Freundlich adalah sebagai berikut.
1. Kurva isoterm yang cenderung datar artinya, isoterm yang digunakan menyerap
pada kapasitas konstan melebihi daerah kesetimbangan.
2. Kurva isoterm yang curam artinya kapasitas adsorpsi meningkat seiring dengan
meningkatnya konsentrasi kesetimbangan.
Bagi suatu sistem adsorpsi tertentu, hubungan antara banyaknya zat yang
teradsorpsi persatuan luas atau persatuan berat adsorben dengan konsentrasi zat terlarut
pada temperatur tertentu disebut dengan isoterm adsorpsi. Oleh Freundlich isoterm
adsorpsi ini dinyatakan dengan rumus:
x
m = kC1/n ……………………………………. (1)
Dimana, x merupakan jumlah zat yang teradsorpsi (gram), m adalah jumlah
adsorben (gram) dan C adalah konsentrasi zat terlarut dalam larutan setelah tercapainya
kesetimbangan adsorpsi. Sedangkan k dan n merupakan suatu tetapan. Persamaan 1 di
atas dapat diubah menjadi:
x
log  log k  n log C
m ……………………… (2)
Dimana, k dan n merupakan suatu tetapan. Persamaan (2) mengungkapkan
x
log
bahwa bila suatu proses adsorpsi menurut isoterm Freundlich, maka aturan m
terhadap log C merupakan garis lurus. Berdasarkan garis lurus yang diperoleh pada
aluran tersebut, harga n dan k dapat ditentukan.
Persamaan Freundlich berlaku pada proses penyerapan yang berlangsung dalam
larutan encer, isotermal dan biasanya untuk menjelaskan penyerapan di permukaan
dengan panas penyerapan yang heterogen. Nilai 1/n biasanya berkisar antara 0,2 sampai
dengan 0,7 dengan kurva berbentuk parabolik. Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich
didasarkan atas terbentuknya lapisan monolayer dari molekul-molekul adsorbat pada
permukaan adsorben. Namun pada adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan
adsorben bersifat heterogen.

Karbon Aktif (Arang Aktif)


Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon,
dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu
tinggi. Arang tersusun dari kristal molekuler atau karbon yang berbentuk heksagonal
berlapis. Antar atom karbon yang satu dengan atom karbon yang lain terikat dengan
ikatan kovalen, sedangkan antara lapisan heksagonal yang satu dengan yang lapisan
heksagonal yang lain dihubungkan oleh gaya Van der Waals. Atom-atom karbon pada
arang mengalami hibridisasi sp2. Orientasi sp2 adalah trigonal datar, maka bagian dari
kristal yang terikat secara kovalen membentuk lapisan atau lembaran. Di antara lembaran
atau lapisan inilah gas atau zat lain dapat diserap. Ikatan yang lemah antar lapisan
menyebabkan arang mempunyai sifat yang rapuh sehingga mudah dibuat bubuk dengan
ukuran partikel yang halus.

Gambar 2. Arang Aktif


Arang selain digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai
adsorben (penyerap) dan ini berhubungan dengan struktur pori internal yang
menyebabkan arang aktif mempunyai sifat sebagai adsorben. Arang aktif dapat
mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif,
tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan. Arang umumnya
mempunyai daya adsorpsi yang rendah dan daya adsorpsinya sangat ditentukan oleh luas
permukaan arang sehingga daya adsorpsi arang dapat diperbesar dengan cara
mengaktifkan arang menggunakan uap atau bahan kimia. Daya serap arang yang telah
aktif sangat besar, yaitu 25- 1000% terhadap berat arang aktif. Aktivasi arang bertujuan
untuk memperbesar luas permukaan arang dengan membuka pori-pori yang tertutup tar,
hidrokarbon, abu, air serta zat-zat organik lainnya, sehingga memperbesar kapasitas
adsorpsi. Semakin luas ukuran partikel arang, maka semakin besar daya adsorpsi arang
tersebut. Luas permukaan arang aktif berkisar antara 300-3500 m2/gram. Beberapa bahan
kimia yang dapat digunakan sebagai zat pengaktif seperti HNO3, H3PO4, CN, Ca(OH)2,
CaCl2, Ca(PO4)2, NaOH, KOH, Na2SO4, SO2, ZnCl2, Na2CO3, dan uap air pada suhu
tinggi.
Aktivasi arang dapat dilakukan secara fisika dengan mengalirkan uap air panas
atau secara kimia dengan menggunakan bahan kimia. Pengaktifan dengan cara ini
menyebabkan arang aktif (activedcarbon) bersifat asam. Untuk menghindari hal ini
dilakukan pencucian hingga pH adsorben mendekati netral. Mutu arang aktif yang
diperoleh tergantung pada luas permukaan partikel, sifat kimia permukaan arang, jenis
bahan dasar arang, jenis pengaktif yang digunakan dan kandungan air. Semua faktor di
atas sangat mempengaruhi ukuran pori-pori serta efisiensi penyerapan.Berdasarkan
bentuknya, karbon aktif dibedakan menjadi empat golongan, yaitu:
1. Karbon aktif serbuk (powdered activated carbon) berbentuk serbuk dengan ukuran
partikel kurang dari 0,8 mm.
2. Karbon aktif granular (granular activated carbon), memiliki partikel-partikel yang
tidak rata dengan ukuran 0,2–5,0 mm.
3. Karbon aktif pelet (pellete activated carbon), berbentuk silinder dengan ukuran
diameter 0,8–5,0 mm. Karbon aktif ini umumnya dipakai untuk aplikasi dalam fasa
gas karena memiliki kandungan debu yang rendah, tetesan bertekanan rendah tapi
memiliki kekuatan mekanis yang tinggi.
4. Karbon aktif terlapisi polimer (polymer coated carbon), merupakan pori-pori karbon
yang dapat dilapisi dengan biopolymer yang mungkin untuk menghasilkan permukaan
halus dan permeabel tanpa menutupi pori, menghasilkan suatu karbon yang dapat
untuk hermoperfusi yaitu suatu teknik treatment dimana ke dalam darah pasien
ditekan dengan absorben untuk mengeluarkan senyawa toksik dari dalam darah.

III. ALAT DAN BAHAN


Tabel 1. Daftar alat
No. Nama Alat Ukuran Jumlah
1 Labu Erlenmayer 100 mL 6 buah
2 Pipet tetes - 2 buah
3 Pipet Volumetri 10 mL 2 buah
4 Buret 25 mL 1 buah
5 Statif dan Klem - 1 set
6 Batang pengaduk - 2 buah
7 Kaca arloji - 3 buah
8 Pipet Volumetri 20 mL 1 buah
9 Spatula - 2 buah
10 Labu ukur 100 mL 2 buah
11 Gelas ukur 100 mL 1 buah
12 Corong - 1 buah
Tabel 2. Daftar bahan
No. Nama Bahan Konsentrasi Jumlah

50 mL
0,3 N
50 mL
0,2 N
50 mL
Larutan asam oksalat 0,1 N
1.
50 mL
0,05 N
50 mL
0,01 N
50 mL
0,05 N
2. 0,1 N 50 mL
Larutan standar NaOH
3. - 3 mL
Indikator PP
4. - 6 gram
Arang aktif
5. - 500 mL
Aquades

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM


A. Penentuan Tegangan Permukaan Larutan Murni/Udara

Arang dipanaskan suhu 105 oC selama 3 jam

Arang dimasukkan ke dalam enam labu erlenmeyer

1,01 g arang 1,02 g arang 1,02 g arang 1,01 g arang 1,01 g arang 1,01 g arang
+ 50 mL + 50 mL + 50 mL + 50 mL + 50 mL + 50 mL
H2C2O4 0,30 H2C2O4 0,20 H2C2O4 0,10 H2C2O4 0,05 H2C2O4 0,01 H2C2O4
N N N N N 0,005 N

Labu erlenmeyer ditutup, biarkan selama 2 hari

Diduk perlahan
Larutan disaring menggunakan kertas saring
kering

Filtrat dititrasi dengan NaOH 0,098 N yang sudah


distandarisasi

V. HASIL PENGAMATAN
Tabel 3. Hasil pengamatan
Konsentrasi Konsentrasi Volume NaOH Volume rata- Volume
H2C2O4 awal NaOH (N) (volume titran) rata titran H2C2O4
(N) (mL) (mL) (titrat) (mL)
0,30 0,098 25,1 26,2 25,65 10
0,20 0,098 15,9 15,6 15,75 10

0,10 0,098 7,2 7 7,1 10

0,05 0,098 3,2 3,2 3,2 10

0,01 0,098 0,4 0,3 0,35 10

0,005 0,098 0,2 0,2 0,2 10

VI. ANALISIS DATA


1. Perhitungan untuk labu erlenmeyer H2C2O4 0,30 N
Konsentrasi H2C2O4 awal = 0,30 N = 0,15 M
Volume H2C2O4 awal = 50 mL = 0,05 L
Konsentrasi NaOH = 0,098 N
Volume NaOH rata-rata untuk titrasi = 0,2 mL
Volume filtrat (H2C2O4) saat dititrasi = 10 mL
 Massa H2C2O4 awal
mol H 2C2O4
Konsentrasi H2C2O4 =
Volume H 2C2O 4

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 ⁄126,07 𝑔 𝑚𝑜𝑙 −1


0,15 N = 0,05 𝐿
Massa H2C2O4 awal = 0,945 g

 Konsentrasi H2C2O4 setelah dicampur arang


NH2C2O4 x VH2C2O4 = NNaOH x VNaOH
0,3 N x 10 ml = 0,098 x 25,65
NH2C2O4 = 0,251 N
= 0,125 M

 Massa H2C2O4 sesudah dicampur dengan arang aktif


𝑚𝑜𝑙
Konsentrasi H2C2O4 = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 ⁄126,07 𝑔 𝑚𝑜𝑙 −1
0,125 = 0,05 𝐿
Masaa H2C2O4 = 0,792 g

 Massa H2C2O4 yang Teradsorpsi (x)


x = massa H2C2O4 awal – massa H2C2O4 akhir
= 0,945 g – 0,792 g
= 0,153 g
Lakukan perhitungan yang sama untuk labur erlenmeyer dengan konsentrasi H2C2O4
0,20 N; 0,10 N; 0,05 N; 0,01 N; dan 0,005 N. Masukkan hasil analisis data pada tabel
berikut.

Tabel 4. Hasil analisis data

Konsentras
Massa Massa zat i H2C2O4
adsorben teradsorp setelah 𝒙 𝒙
No. Log 𝒎 Log C
(m) si (x) dicampur 𝒎
(gram) (gram) arang aktif
(C)
1. 1,01 0,153 0,125 0,1514 -0,819 -0,903
2. 1,02 0,143 0,0771 0,1401 -0,853 -1,112
3. 1,02 0,095 0,0347 0,0931 -1,830 -1,459
4. 1,01 0,058 0,015 0,0574 -1,240 -1,823
5. 1,01 0,0206 1,715 x 10-3 0,0203 -1,690 -2,765
6. 1,01 9,52 x 10-3 9,8 x 10-4 9.42 x 10-3 -2,025 -3,008
Berdasarkan hasil analisis data pada tabel 4 di atas, maka dapat diperoleh kurva
x
hubungan antara log (sumbu y) dengan log konsentrasi asam oksalat sisa hasil
m
adsorpsi oleh arang aktif (log C) (sumbu x).

Kurva Hubungan Log C


Terhadap Log x/m
0
-3.5 -3 -2.5 -2 -1.5 -1 -0.5 0
-0.5
y = 0,5535x - 0,255
R² = 0,977
-1
Log x/m

-1.5

-2

-2.5
Log C

Berdasarkan grafik yang diperoleh, dapat ditentukan nilai n dan k melalui


persamaan regresi garis lurus. Nilai tan a sama dengan kemiringan garis atau gradien (m)
merupakan nilai 1/n, sehingga nilai n dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan
berikut.
1
m =𝑛
1
0,5535 =
𝑛
1
n = 0,5535
n = 1,806

Nilai k atau tetapan Freundlich dapat ditentukan melalui persamaan garis lurus:

y = 0,5535x – 0,255

sehingga, log k = -0,255

k = 0,555

VII. PEMBAHASAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk memverifikasi isoterm Freundlich pada
proses adsobsi asam oksalat (H2C2O4) terhadap arang aktif. Pada percobaan ini dilakukan
penentuan besar tetapan adsorpsi Freundlich melalui proses penyerapan suatu zat pada
permukaan zat lain. Prinsip percobaan ini didasarkan pada teori Freundlich yaitu
banyaknya zat yang di adsorpsi pada temperatur tetap oleh suatu adsorben bergantung
pada konsentrasi dan keaktifan suatu adsorbat ketika megadsobsi zat tertentu.
Percobaan ini diawali dengan melakukan pemanasan terhadap karbon aktif pada
suhu 105 oC yang bertujuan untuk membuka pori-pori permukaan dari arang yang
tertutup tar, hidrokarbon, air, dan zat-zat organik lainnya sehingga memperbesar
kapasitas adsorpsi. Semakin luas permukaan karbon maka semakin besar daya
adsorpsinya. Pada percobaan ini karbon dicampurkan dicampurna sebanyak 1 gram
karbon aktif ke dalam asam oksalat dengan enam variasi konsentrasi yaitu, 0,3 N; 0,2 N;
0,1 N; 0,05 N; 0,01 N dan 0,005 N.
Larutana asam oksalat bertindak sebagai adsorbat atau zat yang diserap oleh
adsorben. Agar proses adsopsi bertangsung dengan maksimal maka setelah asam oksalat
dan karbon aktif dicampurkan dilakukan pengadukan menggunakan shaker selama tiga
jam. Setelah dilakukan pengadukan, campuran dibiarkan kontak selama dua hari. Kedua
hal ini bertujaun untuk memperluas dan menambah waktu kontak antara asam oksalat
dengan karbon aktif sehingga sehingga dapat memaksilakan proses adsorpsi.
Tahap berikutnya adalah dilakukan penyaringan terhadap keenam campuran.
Penyaringan ini bertujuan untuk memisahkan arang aktif dari larutan asam oksalat.
Untuk mengtahui banyaknya asam oksalat yang teradsopsi maka dilakukan titrasi untuk
menentukan konsentrasi asam oksalat setelah kontak dengan karbon aktif. Titrasi
dilakukan menggunakan NaOH 0,098 M yang telah distandarisasi sebelmunya. Sebelum
dititrasi asam oksalat terlebih dahulu ditambahkan dengan indikator fenolftalein (pp).
Volume titran yang dihabiskan pada masing-masing larutan asam oksalat dengan
konsentrasi yang berbeda dicatat untuk menentukan konsentrasi asam oksalat setelah
proses adsorpsi.
Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa konsentrasi asam oksalat setelah
melalui proses adsorpsi lebih kecil dari konsentrasi awal. Hal ini dikarenakan sejumlah
asam oksalat telah teradsorpsi oleh karbon aktif. Berdasarkan analisisi data pada tabel 4
dapat dibuat kurva hubungana antara log C terhadap log sehingga nilai n dan k dapat

diperoleh melalui regresi garis lurus. Persamaan yang diperoleh yaitu y= 0,5535x– 0,255.
Dari persamaan ini diperoleh nilai n sebesar 1,806 dan niali k sebesar 0.555.

VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa
hubungan antara log x/m dengan log c asam oksalat pada isoterm Freundlich berbanding
lurus, yang mana semakin besar konsentrasi awal larutan H2C2O4 maka semakin besar
pula adsorpsinya. Begitu juga sebaliknya konsentrasi larutan H2C2O4 sisa mengalami
penurunan seiring dengan semakin kecilnya konsentrasi awal larutan H 2C2O4 yang
digunakan dengan massa arang aktif yang sama. Hal ini sesuai dengan isotherm
Freundlich. Berdasarkan perhitungan isotherm menurut Freundlich pada proses adsorpsi
H2C2O4 pada arang aktif diperoleh nilai n = 1,806 dan nilai k = 0,555.
DAFTAR PUSTAKA
Suardana, I Nyoman dan Nyoman Retug. 2003. Kimia Fisika III. Singaraja: IKIP
Negeri Singaraja.
Retug, Nyoman., dan Ni Made Wiratini. 2014. Buku Penuntun Praktikum Kimia
Fisika. Singaraja: Jurusan Pendidikan Kimia, FakultasMIPA, Undiksha
Singaraja.
LAMPIRAN GAMBAR

Larutan asam oksalat Larutan asam oksalat + arang aktif

Pengocokan arutan asam oksalat + Titrasi larutan asam oksalat dengan


arang aktif NaOH

Larutan asam oksalat setelah titrasi