Anda di halaman 1dari 6

BUSINESS ETHICS

Zuni Barokah, M.Comm., Ph.D

CASE 2 :
GM BAILOUT

Disusun oleh:
Kelompok 3

Amal Fitria Iriansah 464989

Donny Wahyu Niagara 465025

Nabilla Sekarsari 465092

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2021
Summary case:

Pada pertengahan Desember 2008, GM, produsen mobil terbesar nomor 2 di dunia,
merugi sebesar USD 2 miliar sebulan. Rick Wagoner, CEO GM sejak tahun 2000, mengetahui
bahwa GM tidak memiliki cukup uang untuk bertahan lebih lama. Dari tahun 2005-2008 GM
sudah kehilangan USD 80 miliar.

Faktor terpenting yang membuat kas perusahaan tergerus adalah Great Recession tahun
2008 yang telah merugikan penjualan semua perusahaan mobil, bank yang sedang bermasalah
berhenti meminjamkan uang, sehingga pelanggan GM tidak bisa mendapatkan pinjaman kredit
mobil. Ditambah tahun 2006 GM menjual saham pengendali di GMAC (perusahaan leasing)
yang selama ini memberikan pinjaman murah kepada pembeli mobilnya. Cerberus sebagai
pemilik baru GMAC tidak ingin menyalurkan kredit yang murah ke pelanggan GM saja, hal ini
menjadi pukulan yang telak bagi penjualan GM.

Masalah lainnya adalah biaya tenaga kerja di GM yang besar dibandingkan dengan
pabrikan lainnya seperti Toyota dan Honda. Namun diyakini penyebab utama kesulitan GM
adalah ketergantungan pada penjualan kendaraan large SUV. Toyota dan Honda dapat membuat
mobil kecil dan sedang dengan harga yang lebih murah daripada biaya yang dikeluarkan GM
untuk membuat mobil yang sebanding. GM terlalu berfokus pada penjualan SUV, sehingga
ketika harga bensin naik, menyebabkan harga SUV juga meningkat, otomatis penjualan SUV
pun melambat menurun. Ditambah saat terjadi badai Katrina membuat harga bensin melambung
tinggi di tahun 2005, penjualan SUV ambruk.

Karena terfokus pada produk SUV, GM terlambat berinvestasi pada mobil kecil yang
hemat bahan bakar, padahal sebelumnya mereka telah mengembangkan mobil EV1, namun saat
itu mobil ini kurang laku di pasaran. Namun Toyota dan Honda tetap fokus mendesain mobil
listrik hibrid kecil mereka ke Amerika Serikat. Mobil Hybrid dari Toyota dan Honda ternyata
sukses secara komersial, sementara GM terlambat untuk memulai.

Dengan kerugian USD 80 miliar dan banyak analis yang meramalkan akan bangkrut,
banyak bank memutuskan memberikan pinjaman uang kepada GM. Dengan kondisi ini, Wagoner
sebagai CEO memutuskan untuk mengajukan dana talangan (bailout) kepada pemerintah yang
sebenarnya dana bailout ini dialokasikan untuk membeli aset bermasalah dari lembaga keuangan
manapun.

Banyak ekonom dan politikus di Senat yang menentang rencana bailout ini. Namun
dengan negosiasi ulet dari Wagoner ke pemerintah AS, maka Departemen Keuangan
memberikan persetujuan untuk bailout ini dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Pembahasan:

1. Bagaimana pandangan Locke, Smith dan Marx terhadap kasus ini?

Pandangan Locke :

Dengan disetujuinya pengajuan bailout General Motors di tahun oleh Departemen


Keuangan AS, membuat banyak pihak baik itu politikus maupun ekonom menentang.
Karena selama ini asas ekonomi yang diterapkan di Amerika Serikat adalah sistem pasar
bebas. Dengan diberikannya bailout dari pemerintah Amerika Serikat kepada GM,
membuat publik merasa hal ini bertentangan dengan pandangan dari John Locke yang
menyampaikan bahwa setiap manusia memiliki hak alami atas hidup, kebebasan, dan
properti. Tentunya penerapan dari pandangan John Locke terlihat di sistem pasar bebas,
dimana pemerintah tidak seharusnya ikut mengurus kebebasan setiap orang dalam
melakukan transaksi baik itu berupa penggunaan tenaga kerja dan aset mereka yang
dikelola secara ikhlas. Pihak pengusaha yang seharusnya melakukan transaksi ekonomi,
sedangkan pemerintah berada di luar sebagai regulator.

Terkait GM bailout, terlihat pemerintah akhirnya ikut campur tangan dengan


menggunakan uang pajak dari masyarakat melalui dana TARP untuk membantu kondisi
keuangan industri besar mobil di Amerika Serikat seperti General Motors dan Chrysler.

Pandangan Smith :

Dana bailout diberikan pemerintah sebagai bantuan kepada industri atau perusahaan
untuk menyelesaikan permasalahan keuangan perusahaan dengan harapan untuk
mencegah kondisi terburuk hingga perusahaan likuidasi. Seharusnya pembiayaan dana
talangan diberikan ke industri tertentu seperti perbankan maupun lembaga keuangan.
Sedangkan pada kasus GM bailout ini disalurkan kepada industri yang berbeda, yaitu
industri mobil.

Seorang filsuf dan ekonom ternama Adam Smith berpandangan “ketika seorang individu
dibebaskan untuk memenuhi kebutuhannya dalam pasar yang bebas, maka individu
tersebut pasti akan menuju kesejahteraan umum dituntun oleh invisible hand”. Terkait
pembahasan case GM bailout ini, seharusnya pemerintah tidak ikut campur dalam
internal transaksi di perekonomian, karena seluruh transaksi ekonomi seharusnya
diberikan ke mekanisme pasar bebas. Apabila pemerintah turut campur dalam kegiatan
perekonomian, maka akan menimbulkan penolakan dari berbagai komponen masyarakat,
serta efek negatif yang lebih dominan dibanding efek positif yang muncul.

Pandangan Marx :

Langkah yang diambil Departemen Keuangan AS dengan menyetujui pemberian bailout


kepada GM dan Chrysler dengan harapan dan analisa mendalam bahwa GM dapat
diselamatkan dari jurang kebangkrutan dan tenaga kerja tetap dapat bekerja. Tentunya
pendapatan yang diperoleh dari perusahaan dengan sales yang membaik akan dibayarkan
kembali ke pemerintah Amerika Serikat sebagai kreditur.

Dari penjelasan kasus di atas, menurut pandangan seorang filsuf bernama Karl Marx
sosialisme memiliki arah untuk perubahan bentuk masyarakat dengan menjadikan
perangkat produksi seperti tanah, peralatan, bangunan, dan lain-lain menjadi milik
bersama dan pembagian hasil dilakukan secara merata. Hal ini diharapkan akan
memberikan kepastian dan jaminan guna mewujudkan keadilan kepada seluruh pihak.
Bila dilihat dari kacamata Marx, bailout yang diberikan oleh Pemerintah Amerika Serikat
kepada GM, bisa digambarkan sebagai pemilik perangkat produksi yang mempekerjakan
masyarakat pekerja penghasil produksi. Pemerintah dan GM akan menunjukkan
simbiosis yang saling menguntungkan.

Dalam sudut pandang Marx yang menjunjung tinggi paham sosialisme, yaitu kesamaan
hak antara kaum borjuis (pemilik perangkat produksi) dengan kaum buruh (pekerja). Ada
penegasan secara tegas bahwa hubungan antara kaum pemilik perangkat produksi dan
kaum pekerja merupakan sebuah hubungan kerja sama yang saling menguntungkan.

2. Jelaskan ideologi yang diterapkan oleh Joseph Stiglitz (dalam surat pernyataan untuk US
Congress yang ditandatangani oleh 100 ekonom), Bob Corker (Resolusi partai republik
terhadap bailout GM), Robert Higgs dan Michael Winther!

Ideologi beberapa ekonom sebagai berikut :

Menurut Joseph Stiglitz bailout merupakan bentuk paham sosialis terhadap kaum
borjuis, sehingga langkah pemberian bailout untuk GM yang diambil oleh pemerintah
tentunya tidak tepat, GM seharusnya dibiarkan menyelesaikan masalah keuangannya
sendiri tanpa perlu adanya bantuan dari pemerintah. Stiglitz berpendapat setiap
pengusaha harus berani untuk mengambil risiko agar diperoleh keuntungan, serta berani
menanggung kerugian.
Bob Corker berpendapat kebijakan bailout yang dilakukan oleh pemerintah Amerika
Serikat merupakan peringatan untuk seluruh warganya yang menganut sistem pasar
bebas. Hal ini berbahaya untuk kedepannya bagi sistem perekonomian Amerika
Serikat, karena dengan terjadinya bailout mendorong sistem perekonomiannya sedikit
lagi mendekati sistem perekonomian sosialis.

Robert Higgs melihat kebijakan bailout yang dikeluarkan oleh pemerintah, selain
membantu menyelamatkan GM, sekaligus juga mengubah paham ekonomi negaranya
menjadi sosialis.

Michael Winther menanggapi pemberian bailout kepada GM oleh pemerintah Amerika


Serikat mengatakan sosialisme dicirikan dan didefinisikan oleh salah satu dari dua
kualitas, yaitu kepemilikan atau kendali pemerintah atas modal, atau pengumpulan paksa
dan redistribusi kekayaan. GM bergerak di bidang bisnis yang produktif, sehingga
kebijakan pemerintah memberikan bailout kepada GM mengindikasikan sistem
perekonomian sosialis yang berlawanan dengan sistem perekonomian kapitalis, yaitu
pasar bebas yang selama ini diterapkan di Amerika Serikat.

3. Menurut pandangan Anda, apakah bailout GM harus terjadi? Jelaskan mengapa dan
mengapa tidak. Apakah bailout etis dalam keterkaitannya dengan utilitarianism, justice,
rights dan caring?

Perspektif utilitarian melihat segala sesuatu dari manfaat dan kerugian. Pada kasus GM
bailout, manfaat yang didapat dari tindakan ini adalah ekonomi yang tetap stabil dan
menjaga supaya tidak banyak pekerja kehilangan mata pencaharian. Sedangkan
kerugiannya adalah kehilangan dana untuk menalangi GM. Maka, jika dilihat dari
utilitarian, bailout lebih baik dilakukan.

Sebaliknya, secara justice tindakan bailout tidak etis karena tidak adanya keadilan dengan
perusahaan lain. Ketika pemerintah setuju membantu GM, seharusnya perusahaan lain
yang mengalami kesulitan juga mendapatkan perlakukan yang sama. Maka bisa
disimpulkan bahwa bailout seharusnya tidak dilakukan jika melihat dari perspektif justice
yang mengusung persamaan distribusi manfaat dan kerugian antar pihak.

Sedangkan right menyatakan bahwa semua orang memiliki hak untuk memilih dan
bertindak, sehingga tindakan bailout etis dilakukan. Menjadi hak GM untuk meminta
bantuan pemerintah dan menjadi hak pemerintah untuk memberikan bantuan tanpa perlu
melakukan hal serupa pada perusahaan lain.

Tindakan bailout juga sesuai dengan ethics of care yang mengutamakan kepedulian
terhadap pihak-pihak yang berhubungan dengan seseorang. Tindakan bailout yang
dilakukan oleh GM dan pemerintah tidak hanya menyelamatkan perusahaan tapi juga
stakeholders, seperti pekerja, supplier, dan perekonomian negara.

4. Dalam penilaian Anda, apakah keputusan pemerintah untuk mengambil 61% kepemilikan
GM merupakan keputusan yang baik atau buruk? Jelaskan menurut teori Locke, Smith
dan Marx!

Menurut kami, keputusan pemerintah untuk menjadi pemilik mayoritas sudah tepat.
Tindakan ini dapat mencegah kenaikan pengangguran akibat kebangkrutan GM dan
mencegah terjadinya monopoli pada pasar bebas jika dikuasai oleh pihak swasta lain.
Apa yang dilakukan state tidak sejalan dengan teori Locke dan Smith yang menjunjung
tinggi kebebasan pribadi dalam menjalankan bisnis. Sebaliknya, sesuai dengan
pernyataan Michael Winter, menyelamatkan GM secara finansial oleh pemerintah sudah
tepat dilakukan dan tindakan ini bersifat “super-socialism” yang mendukung teori Marx.

Pada dasarnya, banyak warga Amerika yang lebih mendukung pasar bebas, sehingga
banyak penolakan dari berbagai pihak terkait keputusan ini. Namun, perlu digaris bawahi
bahwa GM-lah yang meminta bantuan pemerintah dan perlu proses yang lama sampai
proposal disetujui. Ini artinya, sudah saatnya pemerintah turun tangan karena individu
atau perusahaan sudah tidak mampu berjalan dengan sendirinya. Hal ini bisa dilihat dari
GM yang belum menyiapkan perbaikan internal saat mengajukan proposal ke senat.
Namun, setelah tim administrasi Obama mempelajari rencana GM dan memberikan saran
berupa pemangkasan anggaran, membuat pernyataan bangkrut atau menganjurkan
Wagoner mundur; kondisi GM dapat kembali sehat dan siap beroperasi dengan optimum.
Jika melihat dari sudut pandang ini, pengambilan 61% kepemilikan GM sudah tepat
karena pemerintah dapat melakukan kontrol supaya perusahaan tidak mengulang
kesalahan yang sama.