Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PERPAJAKAN DAERAH DAN RETRIBUSI

Oleh :

Riska Junianda
11970325389

PROGRAM STUDI AKUNTANSI S1


FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikanrahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil
menyelesaikan makalah ini dengan topik “Perpajakan Daerah dan Retribusi ”.
Makalah ini berisikan tentang bentuk usaha di Indonesia dan apa saja aspek
perpajakannya, bentuk pemilihan usaha orang pribadi dan badan, pengaruh bentuk
usaha untuk alternatif perpajakan.

Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada pembaca


makalah ini. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
untuk kesempurnaan makalah ini. Demikian, saya sampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal
sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhai segala usaha
kita. Amin.

Pekanbaru,

10 january 2021

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1

1.1 Latar belakang......................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah................................................................................6
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................6

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................7

2.1 Pengertian Pajak Daerah......................................................................7


2.2 Ciri-Ciri Pajak Daerah.........................................................................7
2.3 Jenis-Jenis Pajak Daerah dan Tarifnya................................................8
BAB III PENUTUP..............................................................................................15

3.1 Kesimpulan........................................................................................15

DAFTAR ISI.........................................................................................................16

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah sebagaimana
diamanatkan dalam undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang
pemerintahan daerah. Pemerintah daerah dalam menyelenggarakan urusan
pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan harus sesuai dengan
aspirasi dari masyarakat daerah yang bersangkutan. Sehubungan dengan
itu kebijakan pemerintah daerah tidak dapat dipungkiri lagi harus
menitikberatkan pada peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat
melalui manajemen keuangan daerah yang bertujuan selain ingin
meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan daerah, juga
ditunjukkan bagi peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat. Tujuan
pelayanan tersebut dapat diwujudkan melalui suatu sistem manajemen
dengan keterbukaan yang positif, efisiensi dan proaktif dalam setiap
tindakan. Berkaitan dengan manajemen keuangan daerah tentunya tidak
dapat dipisahkan dengan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) yang pada hakekatnya merupakan salah satu alat
instrumen yang dipakai sebagai tolok ukur dalam meningkatkan pelayanan
umum dan kesejahteraan masyarakat di daerah. Oleh karena itu,
pemerintah daerah bersama DPRD harus berupaya secara nyata dan
terstruktur guna menghasilkan APBD yang dapat mencerminkan
kebutuhan riil masyarakat sehingga terpenuhi tuntutan terciptanya
anggaran daerah yang berorientasi pada kepentingan publik. Konsekuensi
dari penerapan otonomi daerah yaitu setiap daerah dituntut untuk
meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) guna membiayai urusan
rumah tangganya sendiri. Peningkatan ini ditujukan untuk meningkatkan
kualitas pelayanan publik sehingga dapat menciptakan tata pemerintahan
yang lebih baik (good governance). Oleh karena itu, perlu dilakukan
usahausaha untuk meningkatkan penerimaan dari sumber–sumber

3
penerimaan daerah, salah satunya dengan meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD). Untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah beberapa
pos pendapatan asli daerah harus ditingkatkan antara lain pajak daerah,
retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan
lain-lain PAD yang sah.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah penerimaan yang diperoleh
daerah dari sumber-sumber dalam wilayah sendiri yang dipungut
berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan perundang-undangan yang
berlaku. Komponen pendapatan asli daerah yang mempunyai peranan
penting terhadap penerimaan adalah pajak daerah dan retribusi daerah.
Pemerintah daerah hendaknya mempunyai pengetahuan dan dapat
mengidentifikasi tentang sumber-sumber pendapatan asli daerah yang
potensial terutama dari pajak daerah dan retribusi daerah. Apabila tidak
memperhatikan dan mengelola pajak daerah yang potensial maka
pengelolaan tidak akan efektif, efisien dan ekonomis. Pada akhirnya akan
merugikan masyarakat dan pemerintah daerah sebagai pemungut, karena
pajak daerah dan retribusi daerah tidak mengenai sasaran dan realisasi
terhadap penerimaan daerah yang optimal (Handoko, 2013).
Pajak dan retribusi bagi pemerintah daerah berperan sebagai
sumber pendapatan (budgetary function) yang utama dan juga sebagai alat
pengatur (regulatory function). Pajak dan retribusi sebagai sumber
pendapatan daerah digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran
pemerintah. Melihat dari fenomena tersebut dapat diketahui pentingnya
pajak dan retribusi bagisuatu daerah, terutama dalam menyokong
pembangunan daerah itu sendiri dan merupakan pemasukan dana yang
sangat potensial karena besarnya penerimaan pajak dan retribusi akan
meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, perekonomian dan
stabilitas politik. Dalam Undang-undang No. 28 Tahun 2009 tentang pajak
daerah, pajak daerah merupakan iuran wajib yang dilakukan oleh orang
pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang
yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang

4
berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan
daerah dan pembangunan daerah. Jenis pendapatan pajak untuk provinsi
meliputi objek pendapatan berikut; (1) Pajak kendaraan bermotor, (2) Bea
balik nama kendaraan bermotor, (3) Pajak bahan bakar kendaraan
bermotor, (4) Pajak rokok, (5) Pajak air permukaan. Selanjutnya, jenis
pajak Kabupaten/Kota tersusun atas; (1) Pajak hotel, (2) Pajak restoran, (3)
Pajak hiburan, (4) Pajak reklame, (5) Pajak penerangan jalan, (6) Pajak
pengambilan bahan galian golongan C, (7) Pajak parkir, (8) Pajak air
tanah, (9) Pajak sarang burung walet, (10) Pajak Bumi dan Bangunan
Perdesaan dan Perkotaan, (11) Bea perolehan hak atas tanah dan
bangunan. Selain pajak daerah juga ada retribusi daerah yang berperan
sangat penting dalam sumber-sumber PAD. Retribusi daerah adalah
pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu
yang khusus disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk
kepentingan orang pribadi atau badan. Hal ini sesuai dengan Undang-
Undang No. 28 Tahun 2009 tentang retribusi daerah. Menurut peraturan
tersebut, jenis pendapatan retribusi daerah adalah; (1) Retribusi Jasa
Umum adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan Pemerintah
Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat
dinikmati oleh orang pribadi atau badan, (2) Retribusi Jasa Usaha yaitu
pelayanan retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh
pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada
dasarnya jasa tersebut dapat disediakan oleh sektor swasta, (3) Retribusi
Perizinan Tertentu yaitu retribusi atas kegiatan tertentu pemerintah daerah
dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan
dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan
pengawasan atau kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya
alam, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum
dan menjaga kelestarian lingkungan. Pemungutan pajak daerah ini harus
mengindahkan ketentuan bahwa lapangan pajak yang akan dipungut belum
diusahakan oleh tingkatan pemerintahan yang ada diatasnya. Sebelum

5
dilakukan reformasi terhadap pajak daerah, cukup banyak jenis pajak yang
dibuat oleh masing masing daerah. Untuk itu agar pajak daerah lebih
efektif dan efisien, maka pada tahun 1997 pemerintah telah melakukan
reformasi terhadap aturan pajak daerah dan retribusi yang ada sebelum
untuk disesuaikan dengan perkembangan perekonomian nasional
(Pangastuti, 2013).
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas ditemukan rumusan masalah yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan pajak daerah?


2. Apa saja ciri-ciri dari pajak daerah?
3. Apa saja jenis-jenis dan tariff pajak daerah?
4.

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui maksud dari pajak daerah
2. Untuk mengetahui apa saja ciri-ciri dari pajak daerah
3. Untuk mengetahui jenis-jenis dan tariff pajak daerah

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pajak Daerah


Menurut Mardiasmo (2011:12), Pajak Daerah adalah kesatuan
masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat menuru prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam
sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Mardiasmo (2011:12) Pajak Daerah adalah kontribusi
wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang
bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi
sebesarbesarnya kemakmuran rakyat
2.2 Ciri-Ciri Pajak Daerah
Berikut ini ciri-ciri pajak daerah yang membedakannya dengan
pajak pusat:

1. Pajak daerah bisa berasal dari pajak asli daerah atau pajak pusat
yang diserahkan ke daerah sebagai pajak daerah
2. Pajak daerah hanya dipungut di wilayah administrasi yang
dikuasainya.
3. Pajak daerah digunakan untuk membiayai urusan/pengeluaran
untuk pembangunan dan pemerintahan daerah
4. Pajak daerah dipungut berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) dan
Undang-undang sehingga pajaknya dapat dipaksakan kepada
subjek pajaknya.
Unsur-unsur yang ada dalam pajak daerah pada dasarnya sama seperti
unsur pajak lainnya yakni subjek pajak daerah, objek pajak daerah, dan
tarif pajak daerah.

7
2.3 Jenis – Jenis Pajak Daerah Tarif Pajaknya
Sama seperti pajak pusat, pajak daerah pun banyak jenisnya. Pajak
daerah dibedakan menjadi dua bagian yaitu Pajak Provinsi dan Pajak
Kabupaten/Kota. Masing-masing bagian tersebut memiliki jenisnya
masing-masing. Berikut ini jenis-jenis pajak daerah beserta
penjelasannya yang perlu diketahui.

 Pajak Provinsi
1. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air
Pajak Kendaraan Bermotor merupakan pajak terhadap seluruh
kendaraan beroda yang digunakan di semua jenis jalan baik darat
maupun air. Pajak ini dibayar di muka dan dikenakan kembali
untuk masa 12 bulan atau 1 tahun. Tarif yang yang dikenakan
untuk kendaraan bermotor beragam, berikut ini rinciannya: Bagi
kepemilikan kendaraan motor pertama sebesar 2%, kemudian
untuk kendaraan bermotor kedua sebesar 2,5% dan akan
meningkat untuk kepemilikan setiap kendaraan bermotor
seterusnya sebesar 0,5%. Bagi kepemilikan kendaraan bermotor
oleh badan, tarif pajaknya sebesar 2%. Bagi kepemilikan
kendaraan bermotor oleh pemerintah pusat dan daerah sebesar
0,50%. Bagi kepemilikan kendaraan bermotor alat berat sebesar
0,20%.
2. Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB)
Menurut Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2010 tentang
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), Bea Balik
Nama Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penyerahan hak
milik kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak
atau pembuatan sepihak atau keadaan terjadi karena jual beli,
tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke dalam badan
usaha. untuk tarif BBNKB, berikut ini rinciannya: Tarif Bea

8
Balik Nama Kendaraan Bermotor ditetapkan masing-masing
sebagai berikut:
 Penyerahan pertama sebesar 10%.
 Penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 1%.

Khusus kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang


tidak menggunakan jalan umum, tarif pajak ditetapkan masing-
masing sebagai berikut:

 Penyerahan pertama sebesar 0,75%.


 Penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 0,075%.
3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB)

Bahan bakar kendaraan bermotor yang dimaksud adalah semua


jenis bahan bakar baik yang cair maupun gas yang digunakan untuk
kendaraan bermotor.

Pajak PBB-KB ini dipungut atas bahan bakar kendaraan bermotor


yang disediakan atau dianggap berguna untuk kendaraan bermotor,
termasuk bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan yang beroperasi di
atas air. Pajak PBB-KB diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun
2010 tentang Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Tarif PBB-KB:

 Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor titetapkan sebesar 5%


 Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebagaimana yang
dimaksud pada poin sebelumnya, dapat diubah oleh Pemerintah
dengan Peraturan Presiden, dalam hal: Terjadi kenaikan harga
minyak dunia melebihi 130% dari asumsi harga minyak dunia yang
ditetapkan dalam Undang-undang tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara tahun berjalan.

9
 Diperlukan stabilitas harga bahan bakar minyak untuk jangka waktu
paling lama 3 tahun sejak ditetapkannya Undang-undang Nomor 28
tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Dalam hal harga minyak dunia sebagaimana dimaksud pada poin


kedua huruf a sudah kembali normal, Peraturan Presiden dicabut dalam
jangka waktu paling lama 2 bulan.

4. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah

Pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah merupakan setiap kegiatan


pengambilan dan pemanfaatan air tanah yang dilakukan dengan cara
penggalian, pengeboran atau dengan membuat bangunan untuk
dimanfaatkan airnya dan/atau tujuan lainnya. Pajak Air Tanah didapat
dengan melakukan pencatatan terhadap alat pencatatan debit untuk
mengetahui volume air yang diambil dalam rangka pengendalian air tanah
dan penerbitan Surat Ketetapan Pajak Daerah. Tarif Pajak Pengambilan dan
Pemanfaatan Air Bawah Tanah

 Dasar pengenaan pajak adalah nilai perolehan air tanah


 Nilai perolehan air tanah dinyatakan dalam satuan rupiah yang
dihitung berdasarkan faktor-faktor berikut:
1. Jenis sumber air. Lokasi/zona pengambilan sumber air.Tujuan
pengambilan atau pemanfaatan air.
2. Volume air yang diambil atau dimanfaatkan.
3. Kualitas air.
4. Tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan
atau pemanfaatan air.
 Penghitungan Nilai Perolehan Air Tanah sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (2) dengan cara mengalikan volume air yang
diambil dengan harga dasar air.

10
 Penghitungan Harga Dasar Air sebagaimana yang dimaksud
pada ayat (3) dengan cara mengalikan faktor nilai air dengan
Harga Air Baku.
 Nilai Perolehan Air Tanah dan Harga Air Baku sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4)ditetapkan dengan Peraturan
Walikota
 Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan sebesar 20%.
 Besaran pokok Pajak Air Tanah yang terutang dihitung dengan
cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak.
5. Pajak Rokok
Pajak Rokok merupakan pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh
pemerintah pusat. Objek pajak dari Pajak Rokok adalah jenis rokok yang
meliputi sigaret, cerutu, dan rokok daun. Konsumen rokok telah
otomatis membayar pajak rokok karena WP membayar Pajak Rokok
bersamaan dengan pembelian pita cukai. Wajib pajak yang bertanggung
jawab membayar pajak adalah pengusaha pabrik rokok/produsen dan
importir rokok yang memiliki izin berupa Nomor Pokok Pengusaha kena
Cukai. Subjek pajak dari Pajak Rokok ini adalah konsumen rokok. Tarif
pajak rokok sebesar 10% dari cukai rokok dipungut oleh instansi
pemerintah yang berwenang memungut cukai bersamaan dengan
pemungutan cukai rokok.

 Pajak Kabupaten/Kota
1. Pajak Hotel
Pajak Hotel merupakan dana/iuran yang dipungut atas penyedia
jasa penginapan yang disediakan sebuah badan usaha tertentu
yang jumlah ruang/kamarnya lebih dari 10. Pajak tersebut
dikenakan atas fasilitas yang disediakan oleh hotel tersebut. Tarif
pajak hotel dikenakan sebesar 10% dari jumlah yang harus
dibayarkan kepada hotel dan masa pajak hotel adalah 1 bulan.
2. Pajak Restoran

11
Pajak Restoran merupakan pajak yang dikenakan atas pelayanan
yang disediakan oleh restoran. Tarif pajak restoran sebesar 10%
dari biaya pelayanan yang ada diberikan sebuah restoran.
3. Pajak Hiburan
Pajak Hiburan adalah pajak yang kenakan atas jasa pelayanan
hiburan yang memiliki biaya atau ada pemungutan biaya di
dalamnya. Objek pajak hiburan adalah yang menyelenggarakan
hiburan tersebut, sedangkan subjeknya adalah mereka yang
menikmati hiburan tersebut. Kisaran tarif untuk pajak hiburan ini
adalah 0%-35% tergantung dari jenis hiburan yang dinikmati.
4. Pajak Reklame
Pajak Reklame merupakan pajak yang diambil/dipungut atas
benda, alat, perbuatan, atau media yang bentuk dan coraknya
dirancang untuk tujuan komersial agar menarik perhatian umum.
Biasanya reklame ini meliputi papan, bilboard, reklame kain, dan
lain sebagainya Namun, ada pengecualian pemungutan pajak
untuk reklame seperti reklame dari pemerintah, reklame melalui
internet, televisi, koran, dan lain sebagainya. Tarif untuk pajak
reklame ini adalah 25% dari nilai sewa reklame yang
bersangkutan.
5. Pajak Penerangan Jalan
Pajak Penerangan Jalan merupakan pajak yang dipungut atas
penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun
dari sumber lain. Tarif pajak penerangan ini berbeda-beda,
tergantung dari penggunaannya. Berikut ini tarif Pajak
Penerangan Jalan terbagi menjadi 3, yakni:
 Tarif Pajak Penerangan Jalan yang disediakan oleh PLN
atau bukan PLN yang digunakan atau dikonsumsi oleh
industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam,
sebesar 3%.

12
 Tarif Pajak Penerangan Jalan yang bersumber dari PLN
atau bukan PLN yang digunakan atau dikonsumsi selain
yang dimaksud pada poin pertama sebesar 2,4%.
 Penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri, tarif
Pajak Penerangan Jalan ditetapkan sebesar 1,5%.
6. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan merupakan pajak yang
dikenakan atas pengambilan mineral yang bukan logam seperti
asbes, batu kapur, batu apung, granit, dan lain sebagainya.
Namun, pajak tidak akan berlaku jika dilakukan secara komersial
Berikut ini tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan:
 Tarif untuk mineral bukan logam sebesar 25%,
 Tarif untuk batuan sebesar 20%.
7. Pajak Parkir
Pajak Parkir merupakan pajak yang dipungut atas pembuatan
tempat parkir di luar badan jalan, baik yang berkaitan dengan
pokok usaha atau sebagai sebuah usaha/penitipan kendaraan.
Lahan parkir yang dikenakan pajak adalah lahan yang
kapasitasnya bisa menampung lebih dari 10 kendaraan roda 4
atau lebih dari 20 kendaraan roda 2. Tarif pajak yang dikenakan
sebesar 20%.
8. Pajak Air Tanah
Pajak Air Tanah adalah pajak yang dikenakan atas penggunaan
air tanah untuk tujuan komersil. Besar tarif Pajak Air tanah
adalah 20%.
9. Pajak Sarang Burung Walet
Pajak Sarang Burung Walet merupakan pajak yang dikenakan
atas pengambilan sarang burung walet. Tarif pajak sarang burung
walet sebesar 10%.
10. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan

13
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan merupakan
pajak yang dikenakan atas bumi atau bangunan yang dimiliki,
dikuasi, atau dimanfaatkan. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan
Perdesaan dan Perkotaan: Pajak untuk pajak bumi dan bangunan
perdesaan dan perkotaan yang bernilai kurang dari 1 miliar
sebesar 0,1%. Pajak bumi dan bangunan perdesaan dan
perkotaan yang bernilai lebih dari 1 miliar sebesar 0,2%.
Sedangkan tarif untuk pemanfaatan yang menimbulkan
gangguan terhadap lingkungan, dikenakan tarif sebesar 50%.
11. Pajak Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan
Pajak Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan merupakan
pajak yang dikenakan atas perolehan tanah dan bangunan oleh
orang pribadi atau badan tertentu, misalnya melalui transaksi
jual-beli, tukar-menukar, hibah, waris, dll. Tarif dari pajak ini
sebesar 5% dari nilai bangunan atau tanah yang diperoleh orang
pribadi atau suatu badan tertentu.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan
secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat.Pengertian tersebut termuat di dalam
Undang-undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 Tahun
2009.

15
DAFTAR PUSTAKA

https://www.online-pajak.com/tentang-pajak-pribadi/pajak-daerah

http://eprints.perbanas.ac.id/2280/4/BAB%20II.pdf

16