Anda di halaman 1dari 22

TEORI AKUNTANSI KEUANGAN

RMK “THE FASB’S CONCEPTUAL FRAMEWORK”

OLEH:
KELOMPOK 8

KOMANG TRI UTARIYANI 1981621005


NI NYOMAN KOSI SYANURI 1981621011

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2020
THE FASB’S CONCEPTUAL FRAMEWORK

Kerangka konseptual terdiri dari enam pernyataan yang berbeda, yang


muncul antara tahun 1978 dan 1985. Masing-masing dari enam bagian ini disebut
sebagai Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC). Berikut keenam
SFAC dan tahun publikasi oleh FASB adalah:

SFAC No. 1 Objective of Financial Isi: tujuan pelaporan keuangan. 1978


Reporting by Business
Enterprises.
SFAC No. 2 Qualitative Characteristics of Isi : kualitas informasi yang harus 1980
Accounting Information. dipenuhi dalam pelaporan keuangan.
SFAC No. 3 Elements of Financial Isi : tujuan yang akan dicapai dalam 1980
Statements of Business pelaporan keuangan organisasi.
Enterprises.
SFAC No. 4 Objective of Financial Isi : kriteria pengakuan dan atribut 1980
Reporting by Non-Business pengukuran elemen laporan
Organizations. keuangan.
SFAC No. 5 Recognition and Measurement Isi : definisi dan karakteristik elemen 1984
in Financial Statement of laporan keuangan.
Business Enterprise
SFAC No. 6 Elements of Financial Isi : mengganti SFAC No. 3 dan 1985
Statements (merupakan berlaku juga bagi organisasi nirlaba.
pengganti SFAC No.3 dan
amandemen SFAC No.2).

1. THE CONCEPTUAL FRAMEWORK


Kerangka konseptual harus mewujudkan sistem yang koheren dari tujuan
yang saling terkait dan fundamental yang dapat menyebabkan konsistensi
standar dan yang mengatur sifat, fungsi, dan batas-batas akuntansi keuangan
dan laporan keuangan. Kerangka konseptual mencoba untuk memberikan
struktur metateoretis akuntansi keuangan.

1
1. Discussion Memorandum
Sebuah memorandum diskusi tentu bukan produk akhir pertimbangan
FASB. Memo diskusi untuk kerangka konseptual merupakan sebuah studi
besar-besaran dan mungkin studi yang paling luas yang pernah
diterbitkankan FASB, yang disebarluaskan dan dipublikasikan. Memo
tersebut disertai dengan dokumen yang berhubungan dengan kesimpulan
sementara pada tujuan yang terdapat pada Trueblood Report. Laporan yang
belakangan diterima oleh pengguna Trueblood Report berorientasi dan
menekankan pada arus kas. Memorandum diskusi membawa dua isu baru
yakni:
a. Tiga pandangan akuntansi keuangan dan laporan keuangan.
b. Sebuah garis besar tentang berbagai pendekatan dalam pemeliharaan
modal. Merupakan isu yang paling penting, yaitu mengenai pengukuran
pendapatan dalam kaitannya dengan pemeliharaan modal perusahaan
(aset dikurangi liabilitas) yang ada pada awal periode agar tetap utuh.
Pada kedua isu di atas memorandum mencoba memperlihatkan
berbagai alternatif dan kemungkinan yang terbuka untuk diterapkan tanpa
menentukan sikap perusahaan, agar dapat perhatian dari profesi.
Memorandum ini juga menyajikan berbagai defenisi untuk istilah dasar
seperti aktiva, liabilitas, pendapatan, beban dan labarugi.
2. Statement of Financial Accounting Concepts
SFAC merupakan bagian yang telah diselesaikan dari kerangka
konseptual. Statement ini dapat disamakan dengan APB Statement 4, dalam
satu aspek: tidak membentuk prinsip-prinsip akuntansi berterima umum
(GAAP) dan tidak ditujukan sebagaimana Rule 203 pada Rules of Conduct
of AICPA yang melarang penyimpangan dari GAAP. Kelemahan ini
mungkin mengecewakan, meskipun memiliki beberapa manfaat pentingnya
antara lain:
a. Menghindari munculnya krisis akibat kegagalan dalam mengikuti
standar.

2
b. Lebih terbuka untuk perubahan yang mendukung proses evolusi dalam
penyusunan struktur metateori.
3. Statement No. 1
SFAC No. 1 berfokus pada tujuan pelaporan keuangan. Tujuan secara
keseluruhan yaitu untuk memberikan informasi yang berguna bagi
pembuatan keputusan ekonomi dan bisnis. Oleh karena itu, SFAC No. 1
menyatakan bahwa laporan keuangan harus bertujuan umum secara natural
daripada diarahkan pada kebutuhan spesifik dari kelompok pengguna
tertentu, meskipun itu investor, kreditur, dan pengamat, yang dikhususkan di
antara pengguna eksternal lainnya. Statement ini merupakan turunan
langsung dari Trueblood Report dan secara umum merupakan versi singkat
dari laporan tersebut dengan beberapa pertimbangan nilai penting. Beberapa
pertimbangan nilai penting yang dibuat dalam laporan tersebut antara lain:
a. Informasi tidak tanpa biaya, sehingga manfaat dari penggunaan harus
melebihi biaya produksi.
b. Laporan Akuntansi tidak berarti satu-satunya sumber informasi tentang
perusahaan.
c. Akuntansi akrual sangat berguna dalam menilai dan memprediksi arus
kas suatu perusahaan.
d. Informasi yang diberikan harus membantu, namun pengguna membuat
sendiri prediksi dan penilaian mereka.
SFAC No. 1 tidak menjelaskan secara spesifik laporan yang harus
digunakan maupun bentuk dari laporan tersebut. Hanya menyebutkan
pelaporan keuangan seharusnya relatif menyediakan informasi sumber daya
ekonomi perusahaan, obligasi dan ekuitas pemilik (paragraf 41) dan
bagaimana kinerja perusahaan disajikan dengan mengukur earnings dan
komponennya (paragraf 43) bagaimana kas diperoleh dan dibayarkan
(paragraf 49). Karenanya SFAC No. 1 secara ekstrem merupakan himbauan
yang hati-hati dari tujuan komite Trueblood dan mempertahankan tingkat
kelaziman yang tinggi.
4. Statement No. 2

3
SFAC No.2 berhubungan dengan karakteristik kualitatif informasi
akuntansi. Istilah qualitative characteristics digunakan pada APB Statement
4, tetapi konsep yang dibahas berasal dari ASOBAT. SFAC No. 1
mengasumsikan bahwa laporan keuangan harus ditujukan pada inti yang
sama dari kebutuhan informasi yang serupa dan pengguna diasumsikan
memiliki pengetahuan yang memadai terhadap informasi dan laporan
keuangan. Karenanya kemampuan untuk mengerti pada SFAC No. 2 disebut
user-spesific quality.
Meskipun pengguna dianggap memiliki pengetahuan yang memadai,
informasi memiliki tingkat komprehensibitas yang berbeda. Kualitas
pemahaman (undertandability) merupakan karakteristik yang dipengaruhi
baik oleh pengguna maupun penyaji informasi akuntansi. Selain itu, hal
yang lebih penting dari pemahaman yaitu  pervasive constraint dimana
manfaat informasi keuangan harus melebihi biayanya. Karakteristik kualitas
akuntansi yang spesifik pada SFAC No.2 diletakkan di bawah judul
“decision usefulness” dengan penekanan pada pembuat keputusan dan
kebutuhannya.
a. Benefit > Cost
Batasan ini merupakan bagian yang paling sulit dari kerangka
konseptual untuk diterapkan dalam praktik. Manfaat (benefit) informasi
akuntansi dinyatakan dengan kegunaan informasi akuntansi untuk
berbagai kelompok pemakai (terutama inverstor dan kreditur) dalam
proses pengambilan keputusan.
Biaya langsung (direct cost) informasi adalah biaya dalam
memperoleh, menyajikan dan menyebarkan informasi (misalnya: biaya
yang muncul dalam penerapan SFAS No.33). Biaya tidak langsung
(indirect cost) meliputi kerugian dalam kompetisi disebabkan oleh
informasi yang dipublikasikan (misalnya SFAS No. 14 dan SFAS No.5).
Manfaat dan biaya informasi, baik langsung maupun tidak
langsung melibatkan konsekuensi ekonomi. Banyak konsekuensi
ekonomi yang muncul dari informasi akuntansi sulit dievaluasi. Misalnya

4
mengukur beban dan hutang pada currently exixting cost atau mencoba
mengestimasi biaya yang akan terjadi bila hal terjadi terjadi saat ini
(men-diskon pada present value, tepat untuk kedua pilihan). Jika
menggunakan future costs, yang mungkin lebih besar dari present cost,
beberapa kemungkinan konsekuensinya:
a. Bonus manajemen mungkin terpengaruh secara negatif bila
didasarkan pada laba yang dilaporkan.
b. Evaluasi terhadap kerja manajemen dalam mengelola akan dinilai
rendah karena pendapatan yang dilaporkan lebih rendah.
c. Dividen yang dibagikan kepada pemegang saham akan berpengaruh
secara negatif karena pendapatan lebih rendah tidak berpengaruh
secara negatif pada debt equity ratio.
d. Pemegang obligasi harus diproteksi akibat kemungkinan 1 dan 3.
e. Karena kemungkinan 1, 2 dan 3, manfaat pensiun akan berkurang dan
hal ini akan merugikan karyawan.
Pembahasan tentang pervasive constrain pada paragraf 133-144
pada SFAC No. 2 hanya sedikit membantu mengatasi masalah di atas.
Sebuah upaya yang telah dilakukan lebih memperhatikan
representational faithfulness (keyakinan yang representatif) daripada
konsekuensi ekonomi.
b. Relevance
Relevansi adalah kualitas yang diambil dari ASOBAT dan
diungkapkan pada SFAC No. 2 menjadi “mampu membuat perbedaan
dalam sebuah keputusan dengan membantu pengguna membentuk
prediksi tentang outcome masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang
atau untuk mengkonfirmasi atau memeriksa ekpektasi”.
Relevansi memiliki 2 aspek utama yaitu: predictive value dan
feedback value, serta 1 aspek tambahan yakni timeliness (ketepatan
waktu).
1) Predictive Value

5
Seperti dalam dokumen sebelumnya prediktive value merujuk
pada kegunaan input untuk prediksi seperti cash flow dan earning
power daripada menjadi perkiraan aktual sendiri.
2) Feedback Value
Feedback value berhubungan dengan mengkonfirmasi atau
mengoreksi ekspektasi pembuat keputusan. Hal ini merujuk pada
menentukan posisi perusahaan dan tumpang tindih dengan sejauh
mana manajemen telah menjalankan fungsinya. Jika ditinjau lebih
luas, feedback value terkait dengan pertanggungjawaban. Informasi
yang menyediakan kualitas ini harus mempengaruhi atau berdampak
predictive value. Karenanya, muncul dua pengertian pada istilah
feedback value yang agak membingungkan. Walaupun hal tersebut
tidak mempengaruhi keterkaitan antara predictive dan feedback value.
3) Timeliness
Ketepatan waktu sebenarnya merupakan sebuah constraint
terhadap kedua aspek utama relevansi. Agar relevan, informasi harus
tepat waktu, artinya harus tersedia pada pembuat keputusan sebelum
(informasi tersebut) kehilangan kapasitasnya dalam mempengaruhi
keputusan. Terdapat pertentangan antara ketepatan waktu dengan dua
aspek utama relevansi karena informasi akan lebih lengkap dan akurat
jika batasan waktunya dilonggarkan. Karenanya sering terjadi trade
off antara ketepatan waktu dengan kedua aspek utama relevansi
tersebut.
c. Possible Inconsistency Between Predictive Value and Feedback Value
Predictive value dan feedback value yang merupakan karakteristik
kualitatif yang diturunkan dari tujuan menyediakan informasi yang
bermanfaat untuk memprediksi cash flow dan untuk
pertanggungjawaban. Sejak Trueblood Report sampai SFAC No. 1 dan
kemudian SFAC No. 2, penjelasan yang sedikit lebih detail ditambahkan
pada setiap dokumen yang menggantikan. Melalui ketiga dokumen ini
ditekankan pentingnya pengambilan keputusan oleh pengguna eksternal.

6
SFAC No. 2 mencatat bahwa stewardship (feedback) juga terkait
dengan pembuatan keputusan. Oleh karena itu feedback value benar-
benar melibatkan dua tujuan pengguna: (1) menilai seberapa baik
manajemen telah melakukan, yang dinyatakan sebagai konfirmasi atau
harapan disconfirming relatif terhadap akuntabilitas, dan (2) pengambilan
keputusan. Predictive value yakni mengandung maksud “dapat
memanfaatkan, sampai batas tertentu, seberapa baik apa yang dilakukan
manajemen selama periode berjalan”. Misalnya dalam kasus akuntansi
dana pensiun. SFAS No. 87 membuat penyimpangan yang tajam dari
pendahulunya APB Opinion No.8. Pada SFAS No. 87, penyusunan biaya
pensiun periodik ditentukan dengan mengalikan faktor-faktor yang
didasarkan pada masa pengabdian karyawan pada perusahaan dan gaji
tahunan. Gaji yang terakhirlah yang merupakan faktor utama.
Kebanyakan rencana pensiun didasarkan pada gaji tahunan dan bukan
atas dasar gaji terakhir sebelum pensiun atau berdasarkan gaji rata-rata
tahunan. Sedangkan pada APB Opinion No. 8, biaya pensiun didasarkan
pada gaji saat ini (currently existing salaries). SFAS No. 87 mengubah
faktor biaya dengan estimasi gaji terakhir atau rata-rata gaji terakhir,
mana yang lebih kuat dalam kontrak pensiun perusahaan akan digunakan
untuk penentuan pembayaran pensiun yang sesungguhnya.
Future salaries tentu tergantung pada future events, misalnya
inflasi umum dan khusus, kemajuan karyawan, peningkatan kualitas
kerja karyawan (dengan atau tanpa promosi). FASB membenarkan
pilihan pada future salay dengan latar bahwa prediksi arus kas
merupakan hal penting dalam pelaporan keuangan. Dari sudut pandang
akuntabilitas, future salaries bertentangan dengan akuntabilitas.
Bagaimana manajemen sekarang dapat mengestimasi dan
mempertangggungjawabkan beban yang didasarkan atas future cost,
dimana manajemen sekarang sesungguhnya tidak menentukan dan tidak
menerima manfaat (dari biaya tersebut).

7
Dalam masalah akuntabilitas juga terdapat masalah verifiabilitas
untuk mengestimasi future salaries, sebagaimana masalah teori
keagenan, bonus manajemen sebagian didasarkan pada current income.
Akuntansi pensiun memberikan contoh dimana pengukuran akan
bermanfaat untuk prediksi arus kas secara pasti relatif tidak optimal
untuk tujuan akuntabilitas. Jika pengukuran beban pensiun didasarkan
pada current existing salaries (seperti pada APB Opinion No. 8 dan
SFAS No. 35) pengukuran akan bermanfaat untuk dua tujuan sekaligus
yakni untuk akuntabilitas dan prediksi (walaupun tujuan ini tidak sebaik
yang diberikan SFAS No. 87).
d. Reliability
Reliabilitas terdiri dari verifiability, representational faithfullness,
dan neutrality.
1) Verifiability
Verifiabilitas pada SFAC No. 2 diartikan sebagai tingkat
kesepakatan diantara pengukur (degree of consensus among
measurer). Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat
diuji, dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak
yang berbeda, hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak
berbeda jauh. Oleh karena itu, veriabilitas berhubungan dengan teori
pengukuran (measurement theory). Tidak seperti aspek-aspek
relevansi, pada verifiablitas terdapat sebuah elemen yang dapat
dikuantifikasi (quantifiable), tetapi tidak diragukan.
2) Representational Faithfulness
Representational faithfulness juga berhubungan dengan teori
pengukuran. Dalam akuntansi, penilaian aktiva tetap mungkin
dihitung dengan menggunakan depresiasi garis lurus untuk 20 tahun
tanpa nilai sisa, akan terdapat kadar verifiablitas yang tinggi, tetapi
menghasilkan nilai yang dalam banyak kasus tidak representatif dari
atribut biaya yang tidak diamortisasi jika karakter ini dianggap
menjadi indikasi proporsi historical cost yang masih memiliki manfaat

8
ekonomi. Secara individu skedul depresiasi yang ditetapkan dapat
memperlihatkan sebuah perhitungan yang lebih baik dari atribut biaya
yang disebutkan sebelumnya. Dengan cara yang sama, jika
replacement cost dipilih untuk properti yang akan diukur  jika tersedia
nilai pasar aktual akan menyelesaikan representatif faithfulness,
sehingga tidak banyak perusahaan yang dapat menjual assetnya.
Hal ini jelas bahwa ada tradeoff antara verifiability dan
representatif faithfulness, dan kemungkinan untuk menciptakan trade-
off antara dua karakteristik reliability mungkin timbul. Misalnya,
current value mungkin lebih relevan untuk tujuan prediktif daripada
historical cost, tetapi historical cost lebih verifiabel daripada current
value dalam mengukur.
3) Neutrality
Netralitas merujuk pada keyakinan bahwa proses penyusunan
kebijakan terutama dihubungkan dengan relevansi dan reliabllitas,
bukan dampak sebuah standar atau aturan yang mungkin dimiliki
kelompok pengguna yang spesifik. Atau dengan kata lain, informasi
diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan
pihak tertentu. Netralitas berhubungan dengan laporan keuangan “apa
adanya”, bukan “bagaimana yang disukai” kelompok pengguna
tetentu, seperti manajemen dan pemegang saham.
Netralitas adalah satu-satunya karakteristik kualitatif
bersinggungan secara menyeluruh dengan perilaku anggota dewan
yang bertentangan secara langsung dengan aspek spesifik dari
informasi itu sendiri.
Tujuan netralitas menurut Wyatt dan Brown adalah sebagai
sebuah upaya sadar untuk mencegah interfensi oleh kelompok yang
mempunyai sebuah kepentingan pada laporan keuangan dan standar
akuntansi yang mendasarinya. Sebagaimana peran netralitas telah
menemui banyak kontroversi.
e. Representational Faithfulness Versus Economic Consequences

9
Representational framework adalah bagian dari kerangka
konseptual, sedangkan economic concequences bukan. Beberapa artikel
memberi pendapat dalam masalah ini.
1) Sole Emphasis Upon Representational Faithfulness
Ruland (1984) dengan jelas menekankan representatif
faithfulness sebagai kewajiban FASB dalam membuat draft standar.
Dalam pandangannya, representatif faithfulness sebagai justifikasi
yang memadai untuk standar akuntansi. Jika konsekuensi ekonomi
yang digunakan dalam penyusunan standar, maka hasil pembuatan
kebijakan akuntansi harus ditentukan dengan hati-hati, namun tanpa
kepastian.
2) The Complementary Roles of Representatif Faithfulness and
Economic Consequences
Ingram dan Rayburn (1989) mengambil keduanya dalam proses
penyusunan standar. Sayangnya, kesulitan-kesulitan melekat dalam
pencapaian representatif faithfulness. Misalnya defenisi asset pada
SFAC No. 6, tidak cukup lengkap untuk memungkinkan menentukan
sebuah jumlah tersendiri untuk cost dari ladang minyak. Berdasarkan
pendekatan full cost, suatu negara bahkan benua harus
dipertimbangkan sebagai cost center.
Komponen defenisi pada SFAC No. 6 penting, tetapi tidak
memadai untuk mendefenisikan asset secara penuh. Bahkan
pergantian kepada current valuastion tidak menghilangkan masalah
tingkat agregasi pencapaian representatif faithfulness.
Ingram dan Rayburn berpandangan faithfulness of
representation sering menjadi masalah dalam menggunakan aturan
pengukuran (atau kalkulasi aturan) daripada “memetakan realitas”
yang menentukan angka yang benar dari sudut pandang representatif
faithfulness. Karena representatif faithfulness tidak menggunakan
sesuatu yang relatif mudah dipastikan pada kenyataan objektif, maka
proses pembuatan standar memerlukan pertimbangan atas konsekuensi

10
ekonomi: bagaimana pengguna, penyiap dan pihak lain yang
terpengaruh oleh bakal standar akuntansi.
Ingram dan Rayburn menyimpulkan representatif faithfulness
dan economic consequences bukan alternatif dalam penyusunan
standar, melainkan keduanya bersifat komplementer (saling
melengkapai).
3) The Preeminence of the Economic Consequences View
Daley dan Tranter (1990) memilih sikap yang bertentangan
dengan Ruland. Mereka berpandangan economic consequences sudah
tercakup dalam kerangka konseptual, meskipun FASB berusaha
mengutamakan representatif faithfulness dalam penyusunan standar
akuntansi. Alasannya adalah FASB tidak biasa netral dalam
menentukan relevansi dan reliabilitas informasi akuntansi yang
diberikan terhadap batasan tradeoff biaya-manfaat.
Daley dan Tranter memandang tradeoff biaya manfaat meliputi
kesimpulan yang luas dari isu economic consequences. Kesimpulan
Ruland bahwa tradeoff manfaat lebih besar dari biaya sebagai ambang
materialitas untuk menentukan kegunaan standar akuntansi, manfaat
pada pengguna harus lebih besar dari biaya persiapannya. Pembahasan
batasan tersebut pada SFAC No. 2 ditekankan pada isu-isu tentang
kenyataan bahwa penyiap pada awalnya menanggung beban
mengumpulkan, memproses dan menyebarkan informasi kepada
pengguna dan hanya sedikit membahas dampak distribusi pada
kelompok pengguna yang berbeda (misalnya manfaat off-balance-
sheet financing untuk investor berbeda dengan kreditur).
Daley dan Tranter juga benar, karena tidak diragukan tradeoff
biaya manfaat berhubungan dengan konsekuensi ekonomi berkaitan
dengan biaya mempersiapkan informasi untuk pengguna. Aspek
penyusunan standar pada dasarnya adalah bagian dari proses yang
harus dipandang sebagai tipe khusus konsekuensi ekonomi. Dengan
kata lain, penyusun standar secara langsung mempengaruhi biaya

11
persiapan informasi sebagai akibat sebuah standar yang dihasilkan.
Pada sudut ini, netralitas memainkan peran yang tepat karena
fokusnya berhubungan dengan relevansi dan realibilitas. Daley dan
Tranter tidak percaya bahwa netralitas dapat jadi komponen
reliabilitas karena batasan reliabilitas membawa konsekuensi
ekonomi. Dari perspektif teori relevansi dan reliabilitas merupakan
karakteristik utama yang harus diperhatikan penyusun standar.
f. Concervatism
Konservatisme dibahas pada SFAC No. 2 dan disebut convention.
SFAC No. 2 tidak menyokong pengaturan “pelaporan yang lebih
rendah”  atau “pelaporan yang lebih tinggi” asset atau income.
Pengaturan understatement bertentangan dengan representational
faithfulness, netralitas dan kedua aspek utama relevansi. Konservatisme
diasosiasikan dengan kebutuhan terhadap pelaporan yang bijak dimana
pembaca diberi informasi ketidakpastian dan resiko. Konservatisme
berhubungan dengan pengungkapan sebuah konsep penting yang tidak
dibahas dalam SFAC No. 2.
g. Comparability and Consistency
Kedua karakter ini sebagai karakter yang berorientasi output,
karenanya keduanya seharusnya merupakan hasil kerangka konseptual
yang dapat berjalan, bukan bagian dari struktur teori.
h. Materiality
Pertanyaan yang muncul pada materialitas adalah apakah item ini
cukup luas mempengaruhi keputusan pengguna. Materialitas diterima
sebagai karakteristik kualitatif, meskipun tidak dapat
diimplementasikan dalam kebiasaan profesi. Materialitas merupakan
konsep relatif dan bukan konsep absolut.

5. Statement No. 3
SFAC No. 3 mendefenisikan 10 elemen laporan keuangan yang
merupakan sebuah resolusi dari defenisi yang disajikan pada memorandum

12
diskusi untuk kerangka konseptual. Karena ini telah diamandemen pada
SFAC No.6, elemen tersebut akan dibahas pada dokumen tersebut.
Beberapa pengamatan yang dilakukan secara khusus tentang apa yang
dilakukan SFAC No. 3, ada beberapa hal tidak masuk dalam SFAC No. 3
yakni: (1) tidak menyebutkan tiga pandangan akuntansi keuangan yang
terdapat dalam memorandum diskusi, (2) tidak menjelaskan secara spesifik
tiga konsep pemeliharaan modal yang digunakan, (3) tidak menunjukkan
masalah pengakuan dan pengukuran sebagaimana yang ditunjukkan pada
laporan keuangan.
Kelemahan SFAC No. 3 lainnya adalah pemutarbalikan terminologi.
Pada memorandum diskusi dan SFAC No. 1 kata earnings digantikan
dengan income. Pada SFAC No. 2, istilah earnings dihilangkan dan kata
income dipakai pada paragraf 90 dan 94. SFAC No. 3 membuat kebalikan
dengan merancang istilah income untuk istilah yang menunjukkan
keseluruhan atau total perubahan asset bersih yang terjadi sepanjang periode
sebagai hasil operasi. Earnings dibalik menjadi kemungkinan komponen
income.
6. Statement No. 4
SFAC No. 4 berhubungan dengan tujuan pelaporan keuangan non bisnis.
Karakteristik organisasi non-bisnis antara lain:
a. Menerima sumber daya dalam jumlah yang signifikan dari penyedia yang
tidak mengharapkan menerima pembayayan kembali atau manfaat
ekonomi sebanding dengan sumber daya yang disediakan
b. Tujuan operasional utama adalah selain untuk menyediakan barang dan
jasa sebagai laba.
c. Tidak mendefenisikan kepentingan pemilik yang dapat dijual, ditransfer
atau diperoleh kemabali atau hak membagi sisa distribusi sumber daya
pada saat likuidasi organisasi.
SFAC No. 4 menekankan organisasi non bisnis tidak memiliki indikator
tunggal kinerja organisasi yang dapat dibandingkan dengan pengukuran
income pada sektor profit.

13
7. Statement No. 5
Penantian panjang pada SFAC No. 5 berakhir Desember 1984, tepat 4
tahun setelah SFAC No. 4. Karena statement ini menguraikan isu-isu sulit
pengakuan dan pengukuran, sehingga akan menjadi tiang penentu
kesuksesan atau kegagalan keseluruhan proyek. Kriteria pengakuan dan
panduan dalam statemen ini secara umum konsisten dengan current practise
(praktik berlaku) dan tidak termasuk perubahan yang radikal. Tidak tertutup
kemungkinan perubahan praktik pada masa yang akan datang. Dewan
bermaksud perubahan pada masa yang akan datang terjadi secara bertahap,
cara evolusi telah terkarakter dalam perubahan yang lalu
a. Scope of the Statement
SFAC No. 5 menjelaskan konsep yang dibahas diterapkan secara
kaku pada laporan keuangan dan tidak ditujukan untuk pengungkapan
yang lain. Walaupun tidak secara tegas, SFAC No. 5 kelihatan
menyangkal salah satu prinsip utama dalam hipotesis pasar efesien yaitu
pengungkapan di luar laporan keuangan lebih efektif daripada
pengungkapan dengan laporan keuangan. Sejumlah kritikan pada
hipotesis pasar efesien menjustifikasi opini FASB. Variasi format
penyajian informasi keuangan diilustrasikan dengan baik dalam SFAC
No.5.
b. Earnings and Comprehensive Income
Salah satu prinsip yang diperhatikan SFAC No. 5 adalah format
dan penyajian perubahan pada ekuitas pemilik yang tidak berasal dari
transaksi dengan pemilik. Hal ini mengacu pada pentingnya
pengungkapan. Earnings diganti dengan net income dan berbeda dari
yang terakhir, dengan meniadakan dampak komulatif pada tahun sebelum
perubahan prinsip akuntansi, seperti menukar dari depresiasi garis lurus
ke depresiasi jumlah angka tahun.
Earnings akan menjadi indikator yang lebih baik untuk current
operating performance daripada net income. Menyertai statement of
earnings akan menjadi statement of comprehensive income. Yang

14
terakhir, saat ini diharapkan akan menjadi sebuah laporan yang
mencakup semua perubahan ekuitas pemilik sepanjang periode selain
transaksi dengan pemilik. Dampak komulatif dari perubahan prinsip
akuntansi akan terlihat, juga beberapa dampak terhadap income dari rugi
atau laba (yang diakui) surat-surat berharga yang tidak tergolong aktiva
lancar, misalnya penyesuaian mata uang asing. Hanya ada 2 item yang
digolongkan sebagai penyesuaian periode sebelumnya yang dimasukkan
ke dalam comprehensive income statement.
Penilaian kinerja terhadap earnings dan comprehensive income
pada SFAC No. 5 merupakan hasil dari ketidakmampuan mengatasi
masalah pengukuran. Earnings, lebih kurang adalah sebuah upaya
menjaga status quo income dan kemungkinan yang terbuka pada masa
yang akan datang untuk memasukkan unrealized holding gains pada
comprehensive income.
c. Recognition Criteria
Kriteria pengakuan merujuk kepada ketika suatu asset, liabilitas,
beban, pendapatan, laba atau rugi harus dicatat pada perkiraan. Kriteria
pengakuan yang mendasar berasal dari bagian permulaan kerangka
konseptual, yaitu:
1) Defenisi: item tersebut memiliki defenisi dari elemen laporan
keuangan.
2) Measuribilitas: memiliki atribut yang relevan dengan reliabilitas
yang cukup.
3) Relevansi: informasi mengenai kemampuannya membuat informasi
yang berbeda pada keputusan pengguna.
4) Reliability: informasi secara representatif meyakinkan, verifiabilitas
dan netral.
Dalam mengaplikasikan kriteria pengakuan pada pendapatan dan
situasi laba, pengakuan membutuhkan asset yang diterima, direaliasi atau
dapat direalisasi dan pendapatan yang harus diterima. Demikian juga
kriteria pengakuan pada beban dan situasi rugi terjadi karena asset

15
digunakan atau tidak ada manfaat berikutnya yang diharapkan (paragraf
85). Metoda pengakuan untuk beban “include matching” dengan
pendapatan. Write-off sepanjang periode ketika kas yang dikeluarkan
atau liabilitas yang terjadi untuk item beban berumur pendek atau
prosedur rasional sistemetis lainnya.
Walaupun secara logis statement sebelumnya mendekati siklus,
SFAC No. 5 harus membutuhkan lebih banyak kerja untuk kriteria
pengakuan, misalnya defenisi eleemen dari SFAC No. 3 dan SFAC No. 6
jelas lebih unggul dari sebelumnya, tetapi tidak lengkap. Contoh serupa
dari tidak lengkapnya defenisi liablitas yang diaplikasikan pada deferred
taxes dan definisi asset mengenai tingkat aggregasi (full costing atau
succesful effort) pada akuntansi untuk biaya eksplorasi minyak dan gas.
d. Measurement Attributes
Lima atribut pengukuran secara ekstensif didiskusikan dalam
memorandum diskusi tahun 1976, dikemukakan dan dimasukkan ke
dalam SFAC No. 5, yaitu:
1) Historical cost
2) Current cost (replacement cost)
3) Current market value (exit value)
4) Net realizable value (selling cost less any cost to complete or dispose)
5) Present (discounted) value of future cash flow
SFAC No. 5 harus mempertimbangkan banyak masukan jika tidak
ingin mengalami kegagalan, beberapa masukan di antaranya, Sterling
(1985) mengatakan FASB melakukan hal yang terbalik dengan
meletakkan pengakuan di depan pengukuran. Masalahnya pada saat
mengakui sebuah elemen, tidak akan bisa dibahas sampai mengetahui
karakteristik pengukuran yang harus diakui. Miller (1990) menganalisa
SFAC No. 5 tidak membawa perubahan radikal sebagaimana SFAC No.
1-3.
e. Statement No. 6

16
SFAC No. 6 sebagai pengganti dari SFAC No. 3. SFAC No. 6
sebenarnya identik dengan SFAC No. 3, karena SFAC No. 6 juga
menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan organisasi non bisnis.
SFAC No. 6 tidak ada tambahan lebih lanjut untuk kerangka kerja
konseptual dari pandangan organisasi bisnis. SFAC No. 6 mendefinisikan
10 elemen dalam laporan keuangan, antara lain:
1) Asset adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa
mendatang (future economic benefits) yang diperoleh atau
dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat transaksi atau
peristiwa masa lalu.
2) Liabitilies adalah pengorbanan manfaat ekonomi yang mungkin
terjadi (probable  future sacrifies) dimasa mendatang yang berasal
dari kewajiban sekarang suatu entitas untuk mentrasfer asset atau
menyerahkan jasa pada entitas lain dimasa mendatang sebagai akibat
transaksi masa lalu.
3) Equity adalah hak sisa (residual interest) atas asset suatu entitas
setelah dikurangi dengan utang. Dalam perusahaan bisnis, ekuitas
sama dengan hak pemilik.
4) Investasi oleh pemilik (investment by owners) adalah kenaikan asset
neto suatu perusahaan yang berasal dari transfer entitas lain ke
perusahaan tersebut atas sesuatu yang bernilai untuk memperoleh atau
meningkatkan hak kepemilikan (atau ekuitas) dalam perusahaan
tersebut.
5) Distribusi pada pemilik (distribution to owners) adalah penurunan
asset neto suatu perusahaan yang berasal dari transfer asset,
penyerahan jasa, atau penambahan utang oleh perusahaan kepada
pemilik.
6) Comprehensive income adalah perubahan ekuitas (asset neto) suatu
entitas selama satu periode yang berasal dari transaksi atau peristiwa
dan kondisi lainnya dari sumber yang bukan berasal dari pemilik.

17
7) Revenue adalah aliran masuk kenaikan asset suatu entitas atau
penurunan utang suatu entitas (atau kombinasi keduanya) selama satu
periode, yang berasal dari pengiriman atau produksi barang,
penyerahan jasa, atau pelaksanaan kegiatan lainnya, yang merupakan
kegiatan utama perusahaan secara terus menerus.
8) Expenses adalah aliran keluar atau pemakaian asset suatu entitas, atau
penambahan utang suatu entitas (atau kombinasi keduanya) selama
satu perioda, yang berasal dari pengiriman atau produksi barang,
penyerahan jasa atau pelaksanaan kegiatan lainnya yang merupakan
kegiatan utama perusahaan secara terus menerus.
9) Keuntungan (gains) adalah kenaikan ekuitas (asset neto) dari transaksi
insidentil suatu entitas dan berasal dari semua transaksi, peristiwa dan
kondisi lainnya yang mempengaruhi entitas dalam satu periode diluar
transaksi yang berasal dari pendapatan dan investasi oleh pemilik.
10) Kerugian (losses) adalah penurunan ekuitas (asset neto) dari
transaksi insidentil suatu entitas dan berasal dari semua transaksi,
peristiwa dan kondisi lainnya yang mempengaruhi entitas dalam satu
perioda diluar transaksi yang berasal dari biaya dan distribusi pada
pemilik.
Definisi ini adalah peningkatan atas pendahulunya mereka, definisi
melingkar dan berlebihan dari APB Statement No. 4, tetapi perbaikan
lebih lanjut belum dapat terjadi.

2. THE CONCEPTUAL FRAMEWORK AS A CONDIFICATIONAL


DOCUMENT
Pendekatan postulat dan prinsip dalam ARS No. 1 & 3 dikenal sebagai
dasar pembuatan standar karena pendekatan tersebut mencoba menyediakan
dasar logika untuk mendapatkan pembenaran deduktif atau penyesuaian
terhadap standar akuntansi. Dalam pandangan codificational pengaturan
standar, kerangka kerja konseptual masuk akal karena dapat mendukung dan
mempromosikan sifat rasional alami dari proses itu. Gaa melihat kerangka

18
konseptual mewujudkan aspek konstitusi dan teori. Kerangka konseptual dalam
pandangan Gaa, memiliki aspek teoritis karena memberikan kriteria untuk
pilihan ketika mengevaluasi alternatif akuntansi. Ini termasuk faktor-faktor
seperti relevansi, keandalan, dan kendala manfaat-biaya dibahas dalam SFAC
No. 2, serta definisi disediakan di SFAC No. 6. Kriteria ini dapat membantu
atau membimbing FASB, tetapi mereka tidak dapat menjamin hasil terbaik
meskipun pedoman konstitusi untuk informasi yang berguna calon investor,
kreditur, dan pengguna di luar lainnya. Menurut pandangan codificational,
tidak hanya standar yang ditingkatkan, tapi kerangka konseptual itu sendiri
juga tunduk pada koreksi dan perbaikan.
The Jurisprudential View
Pandangan jurisprudential yang bersangkutan dengan proses
legitimasi dan penerimaan dari kerangka konseptual yang bertentangan
dengan "teori" yang sebenarnya yang terkandung dalam dokumen. Archer
mempertanyakan apakah dokumen teoritis yang solid dapat dikembangkan
di satu sisi sementara sisi lain untuk pengaturan memanfaatkan konsensus di
antara berbagai kelompok yang terkena dampak dengan cara sistem
memorandum diskusi dan pemaparan draft.
Michael Power, kritikus konstruktif lain dari kerangka konseptual,
melihat dokumen sebagai salah satu yang mampu memberikan bantuan
untuk standar tapi tidak memberikan jawaban final dan konklusif (ini juga
berlaku dari Archer). Kerangka konseptual bukan landasan utama dalam arti
klasik tapi titik acuan dalam jaringan standar dan praktik akuntansi yang
berfungsi untuk mengatur agar berpikir tentang kedua hal tersebut.
Archer dan Power memberikan kritik yang berguna untuk
pembangunan kerangka konseptual. Pendekatan evolusioner tentu tidak
bertentangan dengan Archer dan Power, dan mewujudkan pendekatan
kodifikasi dibahas oleh Gaa. Secara khusus, evolusi pendekatan dengan
kerangka kerja konseptual memiliki kedua aspek deduktif dan induktif mirip
dengan saran Power.

19
3. EMPIRICAL RESEARCH ON THE CONCEPTUAL FRAMEWORK
Telah ada jumlah terbatas riset empiris dilakukan pada kerangka
konseptual. Dalam sebuah eksperimen yang melibatkan 28 mantan anggota
FASB dan APB yang berusaha untuk menggunakan karakteristik kualitatif
SFAC No 2, hanya verifiability dan biaya. Hudack dan McAllister melakukan
pemeriksaan analisis isi pertama pada 117 SFAS. Mereka menemukan bahwa
Dewan menekankan, lebih atau kurang merata, baik relevansi dan keandalan
dari SFAC No. 2.
Studi lain dari SFAC No. 2 yang prihatin dengan pentingnya karakteristik
kualitatif untuk tiga kelompok, yaitu preparers, auditor, dan users. Users dan
preparers memberi bobot lebih untuk relevansi daripada auditor. Hasilnya
tidak berbeda secara signifikan antara tiga kelompok dalam kategori keandalan,
meskipun auditor memberikan lebih penting untuk netralitas daripada dua
kelompok lain. Keandalan adalah lebih penting bagi auditor dari relevansi.
Materialitas, sebagai kendala meresap, bahkan dengan relevansi dan keandalan
dalam setiap dari tiga kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

20
Harry I. Wolk, Michael G. Tearney, James L. Dodd. (2001). Accounting Theory:
A Conceptual and Institutional Approach. Edisi 5. USA; South Western
Collage Publishing.

21