Anda di halaman 1dari 14

Makalah

HAMA [ENYAKIT TANAMAN PANGAN DAN SAYURAN


“Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Jahe”

Oleh :

1. MUHAMMAD AKMAL (D1F1 16 047)


2. RAHMANA (D1F1 16 023)
3. SELVIANTI KADIR (D1F1 16 029)

JURUSAN PROTEKSI TANAMAN


PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat

menyelesaikan makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan

dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk

itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah

berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena

itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca

agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan

manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi

terhadap pembaca.

Kendari, 18 Mei 2018

Penyusun

DAFTAR ISI

ii
KATA PENGANTAR.......................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
I. PENDAHULUAN.........................................................................................1
A. Latar Belakang .......................................................................................1
II. PEMBAHASAN............................................................................................4
A. Klasifikasi Tanaman Jahe.......................................................................3

B. Hama dan Penyakit Tanaman Jahe.........................................................4

III. PENUTUP...................................................................................................9
A. Kesimpulan.............................................................................................9
B. Saran........................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA

iii
4
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanaman jahe ( Zingiber officinale ) ialah tanaman rimpang yang sangat

populer sebagai rempah-rempah dan sebagai bahan obat. Rimpangannya

berbentuk jemari yang menggembung diruas-ruas tengahnya. Rasa yang dominan

pedas yang disebabkan senyawa keton bernama zingeron. Jahe ini termasuk suku

Zingiberaceaa. Tanaman jahe ini tidak tumbuh dengan begitu saja jika kita

biarkan, tanaman yang berkhasiat ini memiliki musuh juga saat dalam proses

masa pertumbuhan. Jahe merupakan komoditas yang banyak digunakan oleh

masyarakat Indonesia untuk berbagai keperluan baik untuk keperluan masakan

maupun untuk keperluan pembuatan jamu. Komoditas ini penting sebagai

penghasil devisa, terutama dari hasil jahe segar yang setiap tahun meningkat

jumlah dan nilainya.

Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan

banyak mengandung humus. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir,

liat berpasir. Tanah di Indonesia memiliki tesktur tanah yang gembur dan

memiliki kandungan humus yang besar, karena di Indonesia banyak memiliki

gunung berapi yang limpahan dan luberan dari gunung merapi mengandung

banyak humus.  Jahe  tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan

ketinggian 0- 2.000 m dpl Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian

200 – 600 m dpl. Rata-rata lahan pertanian di Indonesia sekitar 10-2000 m

dpl,jadi sangat cocok dalam budidaya tanaman jahe.

1
Kandungan senyawa lainnya yang terkandung dalam rimpang jahe merah :

Rimpang jahe merah selain mengandung senyawa-senyawa kimia tersebut juga

mengandung gingerol, 1,8-cineole 10-dehydro-gingerdione, 6-gingerdione,

arginine, a-linolenic acid, aspartic, β-sitostrerol, caprylic acid, capsaicin,

chlorogenis acid, farnesal, farnesene, farnesl dan unsur pati seperti tepung kanji,

serta serat-serat resin dalam jumlah sedikit. Berdasarkan beberapa penelitian,

dalam minyak atsiri jahe terdapat unsur-unsur : n-nonylaldehyde, d-camphene, d-

β phellandrene, methyl heptenone, cineol, d-borneol, geraniol, linalool, acetates

dan caprylate, citral, chavicol dan zingiberene. Bahan-bahan tersebut merupakan

sumber bahan baku terpenting dalam industri farmasi dan obat-obatan.

Kandungan minyak atsiri jahe merah sekitar 2,58 – 2,72% dihitung berdasarkan

berat kering.

Kandungan minyak atsiri jenis jahe yang lain jauh berada dibawahnya.

Ada jahe besar atau jahe badak berkisar 0,82 – 1,68% dan pada jahe kecil atau

jahe emprit berkisar 1,5 – 3,3%. Minyak atsiri umumnya berwarna kuning sedikit

kental dan merupakan senyawa yang memberikan aroma yang khas pada jahe.

Besarnya kandungan minyak atsiri dipengaruhi oleh umur tanaman. Artinya,

semakin tua umur jahe tersebut, maka semakin tinggi kandungan minyak

atsirinya.

2
II. PEMBAHASAN

A. Klasifikasi Tanaman Jahe

Jahe (Zingiber officinale) adalah tanaman rimpang yang sangat populer

sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Rimpang jahe dapat digunakan sebagai

bumbu masak, pemberi aroma dan rasa padamakanan seperti roti, kue, biskuit,

kembang gula dan berbagai minuman. Jahe juga dapat digunakan pada industri

obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinanjahe, dibuat

acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Dewasa ini para petani cabe

menggunakan jahe sebagai pestisida alami. Dalam perdagangan jahe dijual dalam

bentuk segar, kering, jahe bubuk dan awetan jahe. Rimpangnya berbentuk jemari

yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa dominan pedas disebabkan

senyawa keton bernama zingeron.

Divisi                    : Spermatophyta

Sub-divisi             : Angiospermae

Kelas                    : Monocotyledoneae

Ordo                     : Zingiberales

Famili                   : Zingiberaceae

Genus                   : Zingiber

Species                 : Zingiber officinale

3
B. Hama dan Penyakit Tanaman Jahe

a. Hama Pada Tanaman Jahe

1. Hama Kepik (Epilahre Sp.)

Gejala serangan yang ditimbulkan pada hama ini yaitu tanaman memiliki

daun yang berlubang-lubang bahkan bisa tinggal tulang daunnya saja jika

penyerangan hama tersebut sudah parah. Penyebab hal tersebut adalah

Kumbang Epilachna spp. Kumbang dewasa pada jenis ini memiliki bentuk oval,

panjangnya 6-8 mm, warnanya bervariasi dari kemerahan sampai cokelat

kekuningan. Kepik betina meletakkan telurnya di bawah permukaan daun. Tiap

ekor mampu meletakkan telurnya dalam dua belas kelompok, masing-masing

kelompok 22-25 butir. Larvanya berwarna kuning pucat dan ditutupi bulu-bulu

lembut saat ditetaskan dari telur. Segera setelah menetas larva langsung memakan

daun. Hama ini memiliki tanaman inang berupa mentimun, kacang- kacangan,

jagung, padi, kubis, serta tanaman lain dari keluarga Solanaceae.

Pengendalian kepik

Hama kepik dapat dikendalikan dengan cara membuang kepik satu-

persatu atau dengan menggunakan penyemprotan insektisida organik yang berupa

4
air tuba. Apabila sekiranya sudah tidak efektif bisa dengan menggunakan pestisida

kimia seperti profenofos atau betasiflutrin, namun harap berhati-hati karena cara

ini akan mengurangi kesehatan dan kualitas jahe nantinya.

2. Ulat Penggerek Akar (Dichorcrosis Puntiferalis)

Jenis hama yang satu ini menyerang tanaman jahe pada bagian akarnya.

Gejala yang muncul yakni pada akar jahe yang semakin mengering, bila dibiarkan

dalam waktu yang lama. Hama ini akan terus menyerang akar hingga tanaman

tidak bisa memperoleh nutrisi secara normal melalui akarnya kemudian mati.

Cara pengendalian Hama ini dapat dikendalikan dengan cara yang sama

dengan hama kepik, untuk pengendalian kimiawi dengan menggunakan

insektisida nematisida dengan karbofuran berdosis 1 gram/tanaman.

3. Kutu Daun (Aspidiella Hartii)


Hama ini menyerang tanaman jahe pada bagian daunnya, karena sari pati

daun diserap. Gejala dapat terlihat pada daun yang mulai menggulung,

menguning, layu dan kemudian mati. Cara pengendalian dapat dikendalikan

dengan cara sama dengan pengendalianseperti hama kepik.

5
b. Penyakit Pada Tanaman Jahe

1. Penyakit layu bakeri (Pseudomonas Solanacearum)

 Penyebab penyakit layu bakteri adalah Pseudomonas Solanacearum.

Tanaman jahe yang terserang penyakit layu menunjukan gejala daun menguning

dan menggulung, dimulai dari daun yang lebih tua kemudian diikuti daun yang

lebih muda. Gejala daun menguning biasanya dimulai dari pinggir daun kemudian

menyebar ke seluruh helai daun. Pada tahap perkembangan gejala, maka batang

mudah dilepas/dicabut dari bagian rimpang. Bila potongan pangkal batang atau

rimpang di pijit dengan tangan akan keluar eksudat bakteri berwarna putih susu.

Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menanam jahe sehat pada

lahan yang bebas patogen. Perlakuan benih jahe dengan anti biotik, seperti

agrimisin, dapat dilakukan untuk membunuh patogen yang mungkin terbawa pada

permukaan rimpang jahe. jaminan kesehatan bibit jahe, karantina tanaman jahe

yang terkena penyakit, pengendalian dengan pengolahan tanah yang baik,

pengendalian pestisida dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)2) 

6
2. Penyakit Busuk Rimpang (Rhizoctonia Solani Kuhn)

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Rhizoctonia Solani Kuhn. Tanaman

jahe yang terserang menunjukan duan-daun tua bagian pinggirnya menguning,

kemudian seluruh daun menguning. Pada tahap ini tanaman jahe menjadi layu dan

mengering. Bagian batang masih kuat sehingga sulit dipisahkan dari bagian

rimpangnya. Rimpang yang terserang penyakit menjadi busuk, berwarna

kecoklatan dan mudah ditemukan miselia berwarna putih.

Pengendalian penyakit ini dengan cara pemilihan bibit yang bebas

penyakit. Penerapan pola tanam yang baik. Benih sebelum tanam perlu direndam

dengan fungisida, seperti metiltiofonat ataumetiltolklofos (5-10g/l) selama 30

menit, lakukan juga sanitasi kebun untuk mengurangi inokulum patogen di

lapangan.

3. Penyakit bercak daun (Phylloscitta Sp)

7
Penyakit ini disebabkan oleh Phylloscitta Sp dapat menular dengan

bantuan angin, akan masuk melalui luka maupun tanpa luka. Gejala: Pada daun

yang bercak-bercak berukuran 3-5 mm, selanjutnya bercak-bercak itu berwarna

abu-abu dan ditengahnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam, sedangkan

pinggirnya busuk basah. Tanaman yang terserang bisa mati. Pengendalian

penyakit dapat dilakukan dengan menanam jahe sehat pada lahan yang bebas

patogen. Perlakuan benih jahe dengan anti biotik, seperti agrimisin, dapat

dilakukan untuk membunuh patogen yang mungkin terbawa pada permukaan

rimpang jahe. jaminan kesehatan bibit jahe, karantina tanaman jahe yang terkena

penyakit, pengendalian dengan pengolahan tanah yang baik,

8
III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Hama pada tanaman ini yaitu Hama Kepik (Epilahre Sp), Ulat Penggerek

Akar (Dichorcrosis Puntiferalis), Kutu Daun (Aspidiella Hartii). Penyakit pada

tanaman ini yaitu Penyakit layu bakeri (Pseudomonas Solanacearum), Penyakit

Busuk Rimpang (Rhizoctonia Solani Kuhn), Penyakit bercak daun (Phylloscitta

Sp),

B. Saran

Pada pembuatan makalah kali ini saya berharap materi yang dibawakan

dapat tersampaikan dan diaplikasikan oleh pembaca

9
DAFTAR PUSTAKA

Luqman. 2011. budidaya jahe. http://luqmanmaniabgt.blogspot.com. Diakses pada


tanggal 17 mei 2018
Wira. 2013. Panduan budidaya jahe. http://wirausaha.blog.unsoed.ac.id. Diakses
pada tanggal 17 mei 2018

Soetajie,S.2013.  Budidaya jahe. Sari Ilmu. Yogyakarta

Sumarno,M. 2011. Jahe. Guna Dharma Karya. Bandung.

10