Anda di halaman 1dari 10

PENYELESAIAN SENGKETA KONSTRUKSI

Ghina Yovelia1, Winda Fitria2


1
Mahasiswa Program Studi Teknik Ekonomi Konstruksi, Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan, Universitas Bung Hatta, Padang. Email: ghinayoveliaa@gmail.com
2
Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Bung Hatta, Padang. Email:
fitri4wind4@gmail.com

ABSTRAK

Penyedia jasa konstruksi dan pengguna jasa konstuksi dalam pelaksanaan kegiatan yang
akan sama-sama disepakati dibidang pengerjaan kontruksi membutuhkan konstruksi untuk
meminimalisir terjadinya sengketa konstruksi antara masing-masing pihak. Fenomena
dewasa ini dalam pengerjaan di bidang kontruksi meskipun sudah diatur melalui kontrak
yang telah sama-sama disepakati dan terikat secara hukum akan tetapi masih adanya
dijumpai penyelewengan-penyelewengan serta penyimpangan yang tidak sesuai dengan
pedoman dalam pelaksanaan kegiatan dibidang kontruksi yang diatur dalam kontrak
konstruksi. Sengketa kontruksi mencakup sengketa biaya, sengketa waktu, sengketa
lingkup pekerjaan, sengketa gabungan antara perubahan biaya, waktu dan lingkup
pekerjaan, serta sengketa administrasi. Berdasarkan hal itu penyelesaian sengketa
kontruksi dapat dilakukan secara litigasi dan non litigasi. Penyelesaian sengketa kontruksi
secara litigasi terjadi ketika pihak yang bersengketa atau pihak yang merasa dirugikan
membawa kasus tersebut ke ranah hukum pengadilan perdata untuk mendapat hasil yang
bersifat final dan mengikat. Selanjutnya penyelesaian sengketa diluar pengadilan
diantaranya melalui negosiasi dimana masing-masing pihak yang bersengketa bertemu
secara langsung dan saling mengutarakan permintaan dan penawaran, berikutnya melalui
musyawarah untuk menyelesaikan sengketa secara kekeluargaan, berikutnya melalui
konsiliasi dengan peran konsultan dalam menangani sengketa secara teknis di lapangan
serta melalui arbitrase dengan suatu badan arbitrase berdasarkan surat perjanjian kontrak
dimana masing-masing pihak sepakat memilih penyelesaian sengketa secara arbitrase
yang dituangkan tertulis oleh pihak I dan Pihak II yang bersengketa. Hasil keputusan
penyelesaian sengketa secara arbitrase bersifat mengikat secara final.

Kata Kunci : kontruksi, litigasi, non litigasi, sengketa

1. Pendahuluan

Penyedia jasa konstruksi dan pengguna jasa konstuksi dalam pelaksanaan


kegiatan yang akan sama-sama disepakati dibidang pengerjaan kontruksi membutuhkan
suatu perjanjian atau kontrak yang disebut dengan kontrak konstruksi. Kontrak
konstruksi dalam kegiatan kontruksi antara pihak penyedia jasa maupun pengguna jasa
kontruksi berisi aturan-aturan, cara kerja, lokasi dan waktu pengerjaan, rencana dan
jadwal pekerjaan serta jangka waktu pelaksanaan pekerjaan, lingkup pekerjaan

1
kontraktor, dasar perjanjian kontrak, dasar pelaksanaan, nilai kontrak pekerjaan, sistem
dana dan pembayaran serta penyesuaian harga, pengelolaan sistem kerja, jaminan kerja
serta asuransi, pekerjaan tambahan, manajemen kontruksi, hak dan kewajiban masing-
masing pihak, pengendalian pelaksanaa pekerjaan, personil dan peralatan konstruksi,
bahan dan material, retribusi, jaminan kegagalan kontruksi, keadaan kahar, sanksi dan
denda, penghentian dan pemutusan kontrak kerja, resiko dan tanggung jawab, serta
penyelesaian sengketa apabila terjadi sengketa. Kontrak kontruksi membuktikan bahwa
telah terjadinya hubungan kontraktual antara pihak penyedia jasa kontruksi atau
kontraktor dan pihak pengguna jasa kontruksi (Karolus, 2018).

Kontrak konstruksi sangat penting sebagai pedoman bagi masing-masing pihak


baik pihak penyedia jasa konstruksi maupun pihak pengguna jasa kontruksi untuk dapat
sama-sama menjalankan kewajiban serta tugasnya secara maksimal. Melalui kontrak
konstruksi masing-masing pihak juga mendapatkan jaminan akan hak yang akan mereka
dapatkan melalui kesepakatan yang telah disepakati dan dituang dalam perjanjian
tertulis yaitu kontrak konstruksi. Melalui perjanjian yang sama-sama disepakati dan
terikat kontrak dimana hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya sengketa
konstruksi antara masing-masing pihak.

Fenomena dewasa ini dalam pengerjaan di bidang kontruksi meskipun sudah


diatur melalui kontrak yang telah sama-sama disepakati dan terikat secara hukum akan
tetapi masih adanya dijumpai penyelewengan-penyelewengan serta penyimpangan yang
tidak sesuai dengan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan dibidang kontruksi yang
diatur dalam kontrak konstruksi. Kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh salah satu
pihak yaitu pihak penyedia jasa konstruksi atau kontraktor ataupun pihak pengguna jasa
kontruksi yang tidak sesuai dengan kontrak kontruksi akan menimbulkan suatu sengketa
yang disebut dengan sengketa konstruksi atau construction dispute sehingga merugikan
salah satu pihak. Sengketa konstruksi yang dimaksudkan di sini adalah sengketa di
bidang perdata yang menurut UU no.30/1999.

Sengketa kontruksi dapat terjadi diantaranya yaitu keterlambatan pembayaran


oleh pengguna jasa kontruksi, keterlambatan penyelesaian pekerjaan kontruksi oleh
kontraktor, perbedaan pendapat mengenai isi perjanjian kontrak, kemampuan teknis dan
manajerial masing-masing pihak yang tidak baik, tidak adanya dukungan dana serta
pengelolaan yang baik oleh pihak pengguna jasa konstruksi (Hadi Ismanto, Sarwono
Hardjmuljadi, 2018).

Sengketa kontruksi dapat berdampak pada kedua belah pihak diantaranya yaitu
kerugian waktu, adanya biaya-biaya tambahan, serta terkurasnya tenaga dan fikiran.
Selain itu dengan adanya sengketa kontruksi otomatis pekerjaan akan terhenti sehingga
pekerjaan kontruksi akan semakin terkendala (Suntana, 2018).

Apabila salah satu pihak melakukan penyelewengan dan penyimpangan dari


perjanjian kontrak kontruksi yang ditetapkan sehingga merugikan salah satu pihak yang
lain, maka pihak yang dirugikan dapat menuntut kerugian. Pihak yang merasa dirugikan
atau pihak yang merasa sesuatu telah terjadi tetapi tidak sesuai dengan perjanjian atau
kontrak yang ditentukan maka pihak tersebut dapat mengajukan klaim. Adanya klaim

2
yang diajukan baik dari pihak pengguna jasa ke penyedia jasa ataupun sebaliknya maka
klaim ini harus dianalisis secara cermat (Miftahul Huda, 2009). Setelah dianalisis maka
perlu dicari solusi penyelesaian sengketa kontruksi yang terjadi.

Berdasarkan uraian permasalahan tersebut maka pada artikel ini akan


menganalisis beberapa contoh kasus sengketa kontruksi serta bagaimana alternatif
penyelesaian sengketa yang dilakukan oleh pihak yang bersengketa. Tujuan penulisan
artikel ini yaitu untuk menganalisis dan mendeskripsikan penyelesaian sengketa
kontruksi sehingga diharapkan artikel ini dapat memberikan sumber literatur tambahan
bagi pihak pembaca atau pihak yang membutuhkan mengenai upaya-upaya yang
dilakukan dalam kasus sengketa kontruksi yang terjadi di bidang kontruksi.

2. Studi Pustaka

2.1 Studi Pustaka tentang Sengketa Kontruksi

Sengketa kontruksi mencakup sengketa biaya, sengketa waktu, sengketa lingkup


pekerjaan, sengketa gabungan antara perubahan biaya, waktu dan lingkup pekerjaan,
serta sengketa administrasi (Dede Amar Udi, Fadia Fitriyanti, Faqih Ma’Arif, Nasrun
Baldah, Bambang Utoyo, 2020). Menurut Bambang Poerdyatmono (2007) sengketa
kontruksi terdiri dari tiga bagian yaitu sebagai berikut:

1. Sengketa precontractual yaitu sengketa yang terjadi sebelum adanya


kesepakatan kontraktual, dan dalam tahap proses tawar menawar.
2. Sengketa contractual yaitu sengketa yang terjadi ketika kontrak sudah
disepakati, ditandatangi dimana pada pada saat ini sengketa terjadi pada saat
pekerjaan pelaksanaan konstruksi. Sengketa ini terjadi karena tidak sesuainya
apa yang tertera pada kontrak kontruksi dengan apa yang di lakukan dilapangan.
Ketidaksesuain seperti apa yang telah disepakati inilah yang menimbulkan
permasalahan sehingga mengakibatkan terjadinya sengketa kontruksi.
3. Sengketa pascacontractual yaitu sengketa yang terjadi ketika bangunan
kontruksi telah rampung dan selesai dikerjakan serta sudah terjadinya serah
terima akan tetapi seiring berjalannya waktu setelah bangunan beroperasi atau
dimanfaatkan selama kurang lebih 10 (sepuluh) tahun didapati hal-hal yang
merugikan misalnya terjadinya kerusakan karena pembuatan bangunan tidak
maksimal dan tidak baik.

2.2 Studi Pustaka tentang Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Upaya secara hukum dalam penyelesaian sengketa kontruksi merupakan suatu


bentuk usaha yang dilakukan oleh masing-masing pihak yang bersengketa untuk
mengakhiri dan mencari solusi jalan keluar atas permasalahan atau sengketa yang
terjadi antara pihak penyedia jasa kontruksi maupun pihak pengguna jasa kontruksi
(Aryuda Sinaga, Bahmid, Irda Pratiwi, 2019).

Penyelesaian sengketa kontruksi dapat dilakukan melalui dua pilihan yaitu litigasi
dan non litigasi. Penyelesaian sengketa secara litigasi melalui pengadilan dengan

3
mengikuti ketentuan dan prosedur hukum sesuai dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Perdata. Penyelesaian sengketa non litigasi dapat melalui arbitrase (lembaga atau
ad hoc) ataupun melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) seperti konsultasi,
negosiasi, mediasi, dan konsiliasi.

Penyelesaian sengketa kontruksi biasanya sudah diatur dan disepakati oleh kedua
belah pihak sehingga pihak-pihak yang bersengketa dapat melakukan penyelesaian
sengketa sesuai dengan perjanjian yang dicantumkan dalam kontrak (Martin Putri Nur
Jannah & Dewi Nurul Musjtari, 2019). Apabila di dalam kontrak tidak disebutkan
tempat atau cara penyelesaian kasusnya maka dalam hal ini pihak yang bersengketa
dapat memilih cara penyelesaian sengketa yaitu melalui pengadilan ataupun di luar
pengadilan (Teuku Firmansyah, 2019). Hal ini sesuai dengan Pasal 88 UU Jasa
Konstruksi yang berbunyi: “Penyelesaian sengketa yang timbul dari Kontrak Kerja
Konstruksi diselesaikan melalui musyawarah untuk mufakat. Dalam hal para pihak
yang bersengketa tidak menemukan kesepakatan, maka penyelesaian sengketa
ditempuh melalui tahapan upaya penyelesaian sengketa yang tercantum dalam Kontrak
Kerja Konstruksi atau dalam hal tidak tercantum dalam Kontrak Kerja Konstruksi,
para pihak bersengketa membuat suatu persetujuan tertulis mengenai tata acara
penyelesaian sengketa yang akan dipilih”.

3. Hasil, Analisa Data dan Pembahasan

3.1 Penyelesaian Sengketa Kontruksi Melalui Jalur Pengadilan

Penyelesaian sengketa kontruksi melalui pengadilan disebut juga dengan jalur


litigasi. Penyelesaian sengketa kontruksi ini terjadi ketika pihak yang bersengketa atau
pihak yang merasa dirugikan membawa kasus tersebut ke ranah hukum pengadilan
perdata untuk mendapat hasil yang bersifat final dan mengikat (Aryuda Sinaga, Bahmid,
Irda Pratiwi, 2019).

Berdasarkan pelaporan Martin Putri Nur Jannah & Dewi Nurul Musjtari (2019)
salah satu sengketa konstruksi yang disebabkan keterlambatan dalam penyelesaian
pembangunan yang tidak sesuai kontrak perjanjian yaitu proyek pembangunan gedung
Perpustakaan Grahatama Pustaka yang dimulai pada tahun 2010 dan seharusnya selesai
pada tahun 2012 sesuai kontrak perjanjian dengan Surat Perjanjian Kontrak
Nomor:011/22381008/AMPS/SKH/VI/2012. Akan tetapi proyek yang dilaksanakan PT.
Ampuh Sejahtera tersebut tidak dapat selesai sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
sehingga pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memberhentikan sementara
aktivitas kegiatan pembangunan dan membawa sengketa ke jalur Pengadilan Negeri
Bantul karena menganggap kontraktor melakukan wanprestasi serta melakukan
kelalaian sehingga terjadinya keterlambatan dalam penyelesaian pembangunan gedung
Perpustakaan Grahatama Pustaka.

Hasil putusan Pengadilan Negeri Bantul dengan Nomor Putusan


87/Pdt.G/2013/PN.Bantul yaitu PT. Ampuh Sejahtera sebagai kontraktor wajib
menyerahkan pekerjaan pembangunan kepada pengguna jasa yaitu Badan Perpustakaan
dan Arsip Daerah (BPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta dalam keadaan layak dan baik

4
serta diwajibkan membayar kerugian materiil kepada pengguna jasa berupa kekurangan
pembayaran sebesar Rp. 8.820.562.000,- (delapan milyar delapan ratus dua puluh juta
lima ratus enam puluh dua ribu rupiah) dan bunga sebesar 0,48% per Bulan dari
kekurangan pembayaran tersebut.

Penyelesaian sengketa kontruksi melalui pengadilan selain memiliki keputusan


yang bersifat final dan mengikat ternyata penyelesaian sengketa kontruksi melalui
pengadilan memiliki kekurangan diantaranya yaitu prosedurnya yang sangat lama dan
sangat memakan waktu sehingga sengketa terjadi secara berlarut-larut (I Made Wisnu
Suyoga dan Yohanes Usfunan, 2020). Proses peradilan membutuhkan waktu yang
lumayan lama sehingga menyebabkan pekerjaan kontruksi harus berhenti. Selain itu
penyelesaian sengketa melalui pengadilan juga membutuhkan biaya yang sangat besar
karena harus membayar biaya operasional proses peradilan (Jafar Sidik, Bayu Kania dan
Rizli Naufal, 2020). Penyelesaian sengketa konstruksi pada umumnya diselesaikan di
pengadilan dengan proses pengadilan yang memerlukan waktu yang cukup lama dan
biaya yang besar serta seringkali menimbulkan ketidakpastian di antara para pihak yang
menyebabkan pekerjaan konstruksi pun menjadi berhenti.

3.2 Penyelesaian Sengketa Kontruksi Melalui Jalur Negosiasi

Penyelesaian sengketa kontruksi melalui negosiasi merupakan suatu upaya yang


ditempuh di luar pengadilan atau non litigasi. Proses negosiasi dilakukan dengan
bertemunya secara langsung masing-masing pihak yang bersengketa dimana masing-
masing pihak saling mengutarakan apa yang mereka inginkan. Selanjutnya masing-
masing pihak saling nego atau tawar menawar hingga kesepakatan antara kedua belah
pihak terbentuk. Kesepakatan yang terbentuk mengartikan bahwa sengketa sudah selesai
dan proses negosiasi berhasil dilakukan.

Kasus sengketa kontruksi akibat keterlambatan penyelesaian pekerjaan


selanjutnya yaitu dalam pelaksanaan kontrak kerja kontruksi di PT. Tri Jaya Nasional
(Wira, I Wayan, Sagung, 2013). Penyelesaian sengketa klaim akibat keterlambatan
penyelesaian pekerjaan yang dilakukan oleh PT. Tri Jaya Nasional ditempuh melalui
jalur non litigasi atau Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) dengan cara negosiasi.
Negosiasi dilakukan antara kedua belah pihak yaitu pihak pengguna jasa kontruksi dan
pihak penyedia jasa kontruksi dimana dalam hal ini yaitu pihak PT. Tri Jaya Nasional
selaku kontraktor. Pihak PT. Tri Jaya Nasional selaku kontraktor meminta tambahan
waktu kepada pihak pengguna jasa kontruksi tanpa meminta tambahan biaya karena
keterlambatan yang terjadi disebabkan murni disebabkan oleh pihak PT. Tri Jaya
Nasional selaku kontraktor.

Kasus sengketa kontruksi selanjutnya yang diselesaikan melalui negosiasi yaitu


pada kasus PT Hutama Karya (Persero) dengan PT Petrokimia Gresik dalam perbedaan
interpretasi kontruksi klausul kontrak tentang perubahan desain kontruksi bangunan.

PT Petrokimia Gresik melakukan kontrak kerja sama dalam pembangunan proyek


di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan kontraktor yang akan mengerjakan
pembangunan proyek tersebut adalah PT Hutama Karya. Kontrak kontruksi termuat

5
dalam Surat Perjanjian Nomor:1575/TU.04.04/28/SP/2011 dengan nama pekerjaan
Proyek EPC Pengembangan Pelabuhan PT. Petrokimia Gresik.

Sengketa terjadi yaitu ketika pihak PT Petrokimia Gresik selaku pengguna jasa
meminta perubahan desain kontruksi bangunan fisik kepada PT Hutama Karya selaku
penyedia jasa kontruksi karena desain kontruksi yang telah berjalan secara fisik tidak
sesuai dengan apa yang diinginkan. Berdasarkan hal tersebut, pihak penyedia jasa
kontruksi meminta tambahan waktu serta tambahan biaya karena apabila desain berubah
berarti alat serta material yang akan dibutuhkan juga bertambah atau menyesuaikan
dengan desain yang baru sehingga otomatis biayanya akan berbeda dari yang awal serta
waktu pengerjaanyapun membutuhkan tambahan waktu. Akan tetapi klaim tersebut
ditolak oleh pihak PT Petrokimia Gresik karena menganggap bahwa perubahan desain
bangunan kontruksi merupakan tanggung jawab mutlak pihak penyedia jasa bukan
tanggung jawab dari pengguna jasa dalam hal ini yaitu pihak PT Petrokimia Gresik.
Sesuai isi surat Perjanjian pada pasal 8 angka 8.1 paragraf kedua berbunyi “Jika
perubahan-perubahan menyebabkan penambahan atau pengurangan yang berarti
dalam jumlah atau secara berarti mengubah sifat pekerjaan atau proyek, suatu
penyesuaian yang pantas yang harus dibayar kepada kontraktor dan penyesuaian
apapun atas jadwal dan jaminan-jaminan yang diperlukan sebagai akibat hal tersebut,
jika ada, akan dibuat dalam perjanjian”.

Berdasarkan isi surat perjanjian tersebut antara pihak PT Petrokimia Gresik dan
PT Hutama Karya memiliki interpretasi yang berbeda terkait perubahan desain
kontruksi. PT Hutama Karya memiliki interpretasi bahwa karena terjadi perubahan
desain kontruksi dimana hal tersebut sepenuhnya merupakan tanggung jawab penyedia
jasa sehingga PT Hutama Karya berhak meminta tambahan waktu dan tambahan biaya.
Hal ini karena setelah ditinjau ulang terdapat penambahan beberapa material
diantaranya yaitu penambahan light steel rail JIS, splitter gate complete, brake motor 55
Kw, extend panel, cable power, cable NYAF, Motor 30 Kw, Penambahan pipa pancang
OD 1270 mm, engineering dan permodelan, cathodic protection dan pile jacket.
Sementara itu, pihak PT Petrokimia Gresik memiliki interpretasi yang berbeda, dimana
menurutnya selaku pengguna jasa sudah menjadi haknya untuk meminta perubahan
desain kontruksi tanpa memberikan tambahan biaya dan waktu karena perubahan desain
adalah resiko dari pihak penyedia jasa.

Penyelesaian sengketa kontruksi yang disebabkan perbedaan interpretasi klausul


kontrak terkait perubahan desain dimana klaim oleh pihak penyedia jasa yang meminta
tambahahan waktu dan biaya kepada pihak pengguna jasa maka dengan ini mereka
memutuskan untuk menyelesaikan dengan cara negosiasi. Tahap negosiasi dilakukan
dengan masing-masing pihak yaitu mengutarakan klaimnya, alasannya serta fakta yang
terjadi dilapangan disesuaikan dengan Surat Perjanjian. Setelah itu kedua belah pihak
saling melakukan penawaran serta permintaan. Berdasarkan negosiasi yang dilakukan
maka dihasilkan beberapa kesepakatan yaitu desain kontruksi yang mendapatkan
tambahan biaya diantaranya yaitu Brake motor 45 Kw, New extended Panel, Cable
Power, Cable NYAF, Motor 30 Kw, Perluasan loading Area serta adanya perubahan
harga borong pada klausul Surat Perjanjian

6
3.3 Penyelesaian Sengketa Kontruksi Melalui Jalur Musyawarah

Penyelesaian sengketa kontruksi secara musyawarah termasuk penyelesaian


sengketa di luar pengadilan atau non litigasi dimana masing-masing pihak saling
bertemu dan saling bermusyawarah atas perselisihan terkait pengerjaan kontruksi yang
terjadi dan saling berunding memecahkan permasalahan yang terjadi hingga mendapat
titik temu solusi atas permasalahan yang terjadi.

Sengketa konstruksi juga terjadi antara PT SCHOTT Igar Glass dan PT Rol
Natamaro Indonesia (Sri Ulisah, Bambang Eko Turisno, Ery Agus Priyono, 2017).
Berdasarkan surat perjanjian yang telah disepakati dan ditanda tangani di Cikarang
tanggal 22 Agustus 2013 oleh ke dua belah pihak dimana seharusnya pengerjaan proyek
yang dikerjakan oleh PT Rol Natamaro Indonesia harus selesai pada tanggal 31 Januari
2014. Akan tetapi ternyata PT Rol Natamaro Indonesia melakukan wanprestasi karena
lalai dalam melaksanakan tugas sehingga pengerjakan proyek mengalami keterlambatan
selama lebih dari 25 hari dari tanggal yang ditetapkan. Keterlambatan pengerjaan
proyek kontruksi selama lebih dari 25 hari yang dilakukan PT Rol Natamaro Indonesia
membuat PT SCHOTT Igar Glass melayangkan Surat Pemberitahuan Denda
Keterlambatan No. 036/Schott- ROL//2014 pada tanggal 16 Mei 2014 kepada PT Rol
Natamaro Indonesia dengan rincian denda 5% dari total Harga Tetap atau sebesar Rp
365.000.000.

Keterlambatan penyelesaian proyek karena diawali dengan kolom atau tiang


beton berdasarkan gambar kontruksi atau soft drawing dari PT SCHOTT Igar Glass
ternyata tidak dapat presisi dengan bangunan yang sudah ada sehingga PT Rol
Natamaro Indonesia meminta pihak PT SCHOTT Igar Glass untuk membuat soft
drawing baru. Oleh karena terjadi permasalahan awal di lapangan tersebut membuat
pihak PT Rol Natamaro Indonesia meminta permohonan tambahan waktu kepada pihak
PT SCHOTT Igar Glass.

Menanggapi Surat Pemberitahuan Denda dari PT SCHOTT Igar Glass maka PT


Rol Natamaro Indonesia menolak denda keterlambatan dengan alasan bahwa
keterlabatan penyelesaian proyek disebabkan karena faktor diluar dugaan dan diluar
kemampuan mereka serta keterlambatan ini bukanlah disebabkan oleh kelalaian atau
sengaja untuk melakukan wanprestasi. Pihak PT Rol Natamaro Indonesia menjelaskan
bahwa mereka telah mengirimkan surat permohonan perpanjangan waktu kepada PT
SCHOTT Igar Glass dengan nomor Surat No. 01/AM/PT.ROL/X/2013 pada tanggal 28
Oktober 2013 dan Surat No. 004/Schott/ROL/I/2014 pada tanggal 27 Januari 2014.
Surat permohonan perpanjangan waktu yang dikirimkan oleh PT Rol Natamaro
Indonesia nyatanya tidak diberi respon oleh PT SCHOTT Igar Glass. Berdasarkan surat
permohonan yang dikirimkan oleh PT Rol Natamaro Indonesia sudah sesuai dengan
Pasal 3.7.1 butir 3 pada surat perjanjian dimana jika tenggat waktu kontruksi tidak
sesuai dengan rencana pelaksanaan maka pihak PT Rol Natamaro Indonesia wajib
menginformasikan kepada PT SCHOTT Igar Glass dimana hal ini sudah dilakukan oleh
pihak PT Rol Natamaro Indonesia.

7
Menanggapi hal itu PT SCHOTT Igar Glass memberi alasan bahwa tidak
diresponnya surat permohonan penambahan waktu oleh PT Rol Natamaro Indonesia
karena hal itu bukan suatu kewajiban dan tidak ditetapkan dalam surat perjanjian
dimana dalam hal ini pihak PT SCHOTT Igar Glass tetap tidak dapat menerima alasan
apapun dari pihak PT Rol Natamaro Indonesia karena sebelumnya pihak pengawas PT
SCHOTT Igar Glass telah berupaya mengingatkan kepada PT Rol Natamaro bahwa
pengerjaan proyek tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Berdasarkan
pertimbangan itu pihak PT SCHOTT Igar Glass memutuskan kontrak kerja sama
kontruksi dengan dalih bahwa adanya kecacatan atau terdapatnya kerusakan bangunan
saat masa pemeliharaan sehingga hal ini membuat pihak PT SCHOTT Igar Glass
merasa PT Rol Natamaro Indonesia tidak serius dan tidak bertanggung jawab secara
maksimal akan tugas-tugas yang harus dilakukan sesuai dengan perjanjian kontrak
selama proses pengerjaan proyek kontruksi yang dilakukan. Akan tetapi PT Rol
Natamaro Indonesia merasa keberatan atas pemutusan kontrak kerja tersebut dan
memperkuat penolakan dengan dalih bahwa PT SCHOTT Igar Glass telah membuat
keputusan denda keterlambatan secara sepihak.

Berdasarkan kasus sengketa kontruksi yang terjadi antara PT SCHOTT Igar Glass
dan PT Rol Natamaro Indonesia menurut kacamata penulis hal ini memang disebabkan
karena kesalahan dari PT Rol Natamaro Indonesia karena masalah diawali kesalahan
perencanaan. Seharusnya kesalahan perencanaan bisa di tanggulangi secara cepat oleh
tim atau pihak PT Rol Natamaro Indonesia sehingga mereka harus mengejar
ketertinggalan dengan bekerja lebih ekstra lagi agar penyelesaian proyek dapat selesai
sesuai deadline waktu yang ditetapkan dalam surat perjanjian.

Keterlambatan penyelesaian proyek yang dilakukan oleh PT Rol Natamaro


Indonesia mengakibatkan kerugian bagi pihak PT SCHOTT Igar Glass diantaranya
keterlambatan pembayaran tagihan, kerugian pada produksi alat serta keterlambatan
perencanaan produksi yang telah direncanakan PT SCHOTT Igar Glass yaitu tanggal 1
Februari 2014. Kerugian-kerugian yang dialami oleh PT SCHOTT Igar Glass atas
keterlambatan penyelesaian proyek oleh PT Rol Natamaro Indonesia inilah yang
menyebabkan PT SCHOTT Igar Glass meminta denda keterlambatan.

Penyelesaian sengketa kontruksi yang terjadi antara PT SCHOTT Igar Glass dan
PT Rol Natamaro Indonesia diatur dalam perjanjian kontrak pada Pasal 16.2, yaitu:
“Perselisihan akan diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat antara Kontraktor
dan Klien. Jika musyawarah tidak tercapai dalam waktu 30 (tiga puluh) hari, sengketa
tersebut akan diselesaikan melalui Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) untuk
mendapatkan putusan yang diterima kedua belah pihak. Kedua belah pihak sepakat
untuk tunduk kepada semua ketentan dan prosedur dari BANI dan keputusan BANI
harus diterima oleh kedua belah pihak dan bersifat final dan mengikat bagi para
pihak.”.

Berdasarkan hal tersebut kedua belah pihak menyelesaikan sengketa kontruksi


melalui musyawarah. Penyelesaian secara musyawarah dilakukan agar proses kasus
dapat diselesaikan secara cepat, tidak berbelit-belit serta tidak ada pengeluaran dana

8
tambahan. Musyawarah dilakukan antara Lardis Manullang selaku direktur PT Rol
Natamaro Indonesia dan Subagyo Wirjantoro selaku PT SCHOTT Igar Glass.

Hasil musyawarah dalam rangka penyelesaian sengketa kontruksi yaitu kedua


belah pihak sepakat bahwa PT SCHOTT Igar Glass tidak jadi melakukan pemutusan
hubungan kontrak serta pihak PT Rol Natamaro Indonesia membayar denda
keterlambatan kepada PT SCHOTT Igar Glass sebesar 5% (lima persen) dari nilai
proyek untuk keterlambatan 25 hari dan langsung dipotong dari tagihan sehingga total
denda yang harus dibayar yaitu sebesar Rp365.000.000.

3.4 Penyelesaian Sengketa Kontruksi Melalui Jalur Konsultasi

Penyelesaian sengketa kontruksi melalui konsultasi termasuk cara penyelesaian


sengketa di luar pengadilan atau non litigasi. Proses penyelesaian sengketa dilakukan
oleh pihak konsultan kepada klien dengan memberikan saran-saran dalam mengatasi
permasalahan teknis pekerjaan kontruksi yang terjadi dilapangan. Konsultan ini
biasanya merupakan konsultan pengawas ataupun konsultan perencana yang berperan
dominan dalam proses pekerjaan proyek kontruksi.

3.5 Penyelesaian Sengketa Kontruksi Melalui Jalur Arbitrase

Penyelesaian sengketa secara arbitrase termasuk cara penyelesaian sengketa di


luar pengadilan atau non litigasi dengan suatu badan Arbitrase yang menangani suatu
sengketa kontruksi. Menurut Beny Yandi (2019) Arbitrase adalah suatu cara dalam
menyelesaikan sengketa kontruksi yang termasuk sengketa perdata di luar pengadilan
umum berdasarkan surat perjanjian kontrak dimana masing-masing pihak sepakat
memilih penyelesaian sengketa secara arbitrase yang dituangkan tertulis oleh pihak I
dan Pihak II yang bersengketa.

4. Kesimpulan

Berdasarkan hasil, analisa data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa


penyelesaian kontruksi dapat dilakukan secara litigasi atau melalui pengadilan dan
melalui non litigasi diantaranya yaitu melalui negosiasi, musyawarah, konsoliasi serta
arbitrase.

Daftar Pustaka
Djanika, S. S. 2018. Mitigasi Sengketa Hukum dalam Kontrak Kerja Konstruksi. Hand
Out Workshop, 1-9

Firmansyah, T. 2019. Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi yang Menggunakan


APBN di Aceh. Media Syari’ah, Vol. 21, No. 1, 177-187

Huda, M. 2009. Pengenalan dan Proses Penyelesaian Klaim (Sengketa) dalam


Penyelenggaraan Proyek Kontruksi di Indonesia. Inovasi, Vol.XVII, No.1, 54-63

9
Ismanto, H, dan Hardjomuljadi, S. 2018. Analisis Pengaruh Dewan Sengketa &
Arbitrase terhadap Penyelesaian Sengketa Konstruksi Berdasarkan Fidic
Condition Of Contract 2017. Jurnal Konstruksia, Vol 10, No. 1, 10-15

Karolus, E. 2018. Analisis Penyelesaian Sengketa Kontruksi di Indonesia. Jurnal


Legislasi Indonesia,Vol 15, No.3, 211-222

Putri, M., dan Nurul, D. 2019. Penyelesaian Sengketa Wanprestasi Akibat


Keterlambatan Pelaksanaan Perjanjian Konstruksi Bangunan. UIR Law Review,
Volume 03, Nomor 02, 41-49

Poerdyatmono, B. 2007. Alternatif Penyelesaian Sengketa Kontruksi. Jurnal Teknik


Sipil, Vol.8, No.1, 78-90

Sidik, J., Kania, B., Naufal, R. 2020. Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi di Luar
Pengadilan Bagi Pelaku Usaha Jasa Konstruksi di Jawa Barat. Jurnal Pengabdian
Tri Bahkti, Vol.2, No.1, 21-27

Sinaga, A, Bahmid, Pratiwi, I. 2019. Pertanggungjawaban Kontraktor terhadap Sebuah


Kontrak Kerja tang Telah Melewati Batas Waktu Kontrak. Jurnal Pionir LPPM
Universitas Asahan, Vol. 5, N0. 4, 203-216

Suyoga, I, M, W., & Usfunan, Y. 2020. Penyelesaian Sengketa Kontrak Kerja


Konstruksi Melalui Ajudikasi dan Perbandingan dengan Arbitrase. Jurnal Hukum
Kenotariatan, Vol.5. No.2, 240-241

Udi, D.A., Fitriyanti, F., Ma’Arif, F., Baldah, N., Utoyo, B. 2020. State of The Art
Perselisihan Kontrak Konstruksi di Indonesia. INERSIA, Vol. XVI No. 2, 1-13

Ulisah, S., Turisno, B.E., Priyono, E.A. 2017. Penyelesaian Perselisihan Wanprestasi
akibat Keterlambatan Pelaksanaan Perjanjian Jasa Konstruksi Antara PT
SCHOTT IGAR GLASS dan PT Rol Natamaro Indonesia. Diponegoro Law
Jurnal, Vol. 2, No.2, 1-13

Wibowo, P., Hilmy, U., Djumikasih. Penyelesaian Sengketa antara Pengguna Jasa
dengan Penyedia Jasa dalam Hal Perbedaan Interpretasi Klausul Kontrak tentang
Perubahan Desain Konstruksi Bangunan (Studi Kontrak antara PT Hutama Karya
(Persero) dengan PT Petrokimia Gresik). Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum
Brawijaya. Vol.1, No.1, 1-18

Wira, A. A., Wiryawan, I., W, Darmadi, S. W. 2013. Penyelesaian Sengketa


Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan dalam Pelaksanaan Kontrak Kerja
Konstruksi di PT. Tri Jaya Nasional. Jurnal Hasil Riset, Vol 1, No,1, 1-5

Yandie, B. 2019. Penyelesiaan Sengketa Kontrak Konstruksi pada Proyek Pemerintah


yang Mencantumkan Klausula Arbitrase. Journal of Law and Policy
Transformation, Vol.4, No.1, 18-35.

10