Anda di halaman 1dari 6

TEORI KEPRIBADIAN LUDWIG KLAGES

Oleh: Ubaii Achmad

A. Pengantar.
Klages memakai cara pendekatan pensifatan dan menentang cara pendekatan
tipologis. Namun cara pendekatan tipologi itu sama sekali tidak memuaskan Klages
karena tidak dapat memenuhi fungsinya untuk memahami sesama manusia. Seorang
ahli tipologi sudah puas dengan memasukkan seseorang ke dalam tipe begini atau
tipe begitu. Ahli tipologi sudah menyediakan kategori-kategori tertentu sebagai
wadah untuk mengkategorikan manusia ke dalam golongan-golongan atau tipe
tertentu. Dalam tiap-tiap wadah itu telah disediakan daftar sifat-sifat tertentu,
sehingga individu- individu yang dikirakan memiliki sifat-sifat yang terdapat pada
masing-masing wadah itu, tinggal memasukkan saja ke wadah yang ini atau wadah
yang itu. Cara bekerja yang demikian itu dipandang oleh Klages terlalu kasar atau
terlalu dangkal, sebab sifat-sifat yang disebut pada masing-masing tipe atau wadah itu
hanya sifat-sifat pada garis besar saja, sehingga kalau seseorang telah dimasukkan ke
dalam salah satu tipe, maka sifat khas individualnya justru terpaksa diabaikan. Jadi
menurut Klages dengan cara pendekatan tipologis itu orang tidak dapat mendekati
kepribadian secara layak.

B. Aspek-Aspek Kepribadian.
Klages mengemukakan ada 3 aspek kepribadian, yaitu :

1. Materi Kepribadian.
Materi atau bahan merupakan salah satu aspek daripada kepribadian berisikan
semua kemampuan (daya) pembawaan beserta talent-talentnya. Materi ini
merupakan modal pertama yang disediakan oleh kodrat untuk dipergunakan dan
diperkembangkan oleh manusia.
Klages membedakan antara ingatan dan mengenang kembali. Ingatan
merupakan suatu kenyataan vital, daya untuk mengingat kembali kesan-kesan, dan
membanding-bandingkan kesan-kesan yang lama serta yang baru. Ingatan ini
berfungsi tanpa disadari, tanpa ingatan maka proses-proses kerohanian tak akan
dapat berfungsi apa-apa. Tanpa ingatan itu maka orang tak akan dapat mengenal
kembali sesuatu, tidak
akan mempunyai kebiasaan tingkah laku dan tidak akan dapat berfantasi. Jadi
singkatnya ingatan ini memungkinkan manusia untuk mengingat kembali
(recognition), mengingat kebiasaan tingkah laku, mempunyai harapan-harapan akan
kesan-kesan yang akan diterimanya, mengenangkan kesan-kesan yang waktu dan
berfantasi.
Daya mengenang atau mengingat kembali (Erinerungsvermogen,the capacity
of recollection,herinneringsvermogen). Daya mengingat kembali ini dibedakan dari
ingatan berdasarkan atas kenyataan, bahwa kedua hal tersebut adanya pada
seseorang individu itu belum tentu mempunyai korelasi positif. Orang dapat
menjumpai individu yang kuat sekali, tetapi apa yang ada dalam ingatannya itu sukar
sekali untuk ditimbulkan ke dalam kesadaran. Sebaliknya banyak juga individu yang
ingatannya tidak kuat, tidak dapat menyimpan kesan-kesan secara baik, tapi apa yang
ada dalam ingatannya itu dengan mudah dapat ditimbulkan kembali dalam
kesadaran.

2. Struktur Kepribadian.
Klages memberikan pengertian tentang istilah struktur. Istilah ini adalah
sebagai pelengkap daripada istilah materi. Bila materi dipandang sebagai isi, bahan,
maka struktur dipandang sebagai sifat-sifat bentuknya atau sifat-sifat formalnya.
Menurut Klages tingkah laku adalah sifat pribadi yang mempunyai nilai konstan. Ada
3 soal yang dikemukakan oleh Klagesdalam struktur itu, yaitu :

a) Temperamen.
Klages melukiskan temperamen itu sebagai sifat daripada struktur. Orang-
orang yang biasanya disebut temperamen sanguinis menunjukkan sifat-sifat yang
tak dikenal lelah dengan kuatnya menuju ke suatu tujuan yang disadarinya benar-
benar. Tetapi tidak semua orang yang sanguinis demikian sifatnya. Ada juga
orang- orang sanguinis yang banyak “petingkah”, mudah berubah dan mudah
tertarik oleh hal-hal lain. Sebaliknya orang-orang yang biasa disebut temperamen
phlegmatis menunjukkan sifat-sifat serba lambat tidak punya minat dan apathis,
disamping itu ada juga orang-orang phlegmatis yang suka bertindak, tetapi sekali
menyala harus memenangkan kekuatan yang besar. Jadi semisal gunung berapi.
Klages juga memberikan corak-corak tertentu dalam tindakan Sanguinis.
Suasana perasaan seperti juga halnya kemauan dan afek, berakar pada tempo. Dari
suasana hati yang aktif dan ekspansif inilah terdapat seorang sanguinis yang tidak
pernah merasa puas, tidak sadar dan tetap arahnya. Klages juga menerangkan
tentang temperamen pleghmatis adalah kebalikan daripada orang yang
bertemperamen sanguinis. Temponya lambat, suasana hatinya depresif, daya
reaksi berat.
Antara sifat-sifat struktur dan materi itu bannyak terdapat afinitas
(hubungan), sehingga ada seorang sanguinis yang besar sekali dinamika
berpikirnya, lebih abstrak dan mempunyai kecakapan berpikis spekulatif.
Sebaliknya seorang pleghmatis lebih tertarik kepada kenyataan-kenyataan.
Berpikirnya juga konkret, kadang-kadang kurang dinamikanya dan di lain pihak
jalan pikiran yang singkat pendek dan cenderung ke arah intinya saja.

b) Perasaan.
Tiap-tiap perasaan memiliki dua sifat pokok, yaitu :

1) Di dalam tiap perasaan terletak kegiatan batin (inner activity).


Yang dimaksud dengan kegiatan batin ialah daya untuk membeda-bedakan
keinginan-keinginan yang terkandung dalam perasaan. Menurut Klages dalam tiap
perasaan itu terkandung keinginan. Ada dua macam keinginan yaitu keinginan
menerima dan keinginan menolak.

2) Di dalam tiap perasaan terdapat corak perasaan, yaitu taraf-taraf kejelasannya.


Klages membedakan perasaan afek dan suasana perasaan. Suatu perasaan
akan menjadi afek apabila faktor keinginan menonjol ke muka. Pada afek orang
lebih melihat getaran daripada corak atau warna kemarahan. Sebaliknya suasana
perasaaan lebih menonjolkan warna-warna tertentu dan corak-corak tertentu.
Kesedihan, kerinduan adalah suasana perasaan. Ditinjau dari fungsinya, ada dua
hal dalam suasana perasaan itu, yaitu :

o Suasana perasaan yang ekspansif, arahnya tertuju ke luar, sentrifugal


o Suasana perasaan yang depresif, arahnya tertuju ke dalam, sentripetal.
Sejalan dengan afek itu, Klages membagi juga kemauan menjadi tiga sifat, yaitu:
1) Aktif.
2) Pasif.
3) Reaktif.

Kemauan yang aktif adalah kemauan yang selalu bergerak dari sesuatu tujuan
ke tujuan yang lainnya. Ini merupakan komponen yang tak dapat dielakkan untuk
sesuatu perbuatan. Hal yang demikian ini dalam pembicaraan sehari-hari disebut
kemauannya kuat. Kesanggupan untuk berkemauan, bertekun dan menaati
terutama berdasarkan kepada kemauan yang pasif. Dalam pembicaraan sehari-
hari hal yang demikian itu disebut berketetapan hati, tahan menderita dan besar
kemauannya untuk mengatasi rintangan.
Kemauan menampakkan diri dalam bentuknya yang reaktif dalam sifat keras
kepala dan keras hati. Juga disini kerjasama antara dua kekuatan yang saling
berlawanan itu dapat digambarkan dengan rumus bangun seperti pada perasaan
itu, jadi :

Kk = Dk
Dh

Keterangan : Kk : adalah kekuatan kemauan


Dk : adalah daya kemampuan
Dh : adalah daya hambatan

c) Daya ekspresi.
Manusia mempunyai dorongan-dorongan nafsu. Dorongan-dorongan nafsu ini
adalah proses jiwa, dorongan-dorongan nafsu itu baru dapat disaksikan bila telah
menampakkan diri dalam proses-proses jasmaniah seperti misalnya perubahan
detak jantung, perubahan pernafasan,dll. Pernyataan proses-proses kejiwaan itu
disebut secara teknik ekspresi. Juga ekspresi ini pun sebagai sifat struktur
tergantung kepada dua kekuatan yang saling berlawanan, yaitu keadaan
perangsang dan hambatan untuk ekspresi. Saling berhubungan antara kedua
kekuatan yang saling berlawanan itu dapat dirumuskan sebagai berikut :
P
E=
H
Di mana : E : adalah ekspresi
P : adalah keadaan perangsang
He : adalah hambatab ekspresi

Menurut Klages yang menjadi hambatan ekspresi adalah penguasaan diri.


Penguasaan diri ini harus menjadi kekuatan imbangan daripada nafsu-nafsu. Tiap-
tiap orang mempunyai kekuatan penguasaan diri itu masing-masing itu, yang satu
sama lain berbeda-beda. Karena itulah maka dapat disaksikan adanya bebrapa
orang yang sudah menunjukkan perubahan ekspresi oleh perangsang yang kecil,
sebaliknya terdapat juga orang-orang yang oleh gelombang yang besar-besarpun
belum menampakkan perubahan ekspresi. Daya ekspresi itu adalah bagian
daripada kemampuan dasar.

3. Kualitas Kepribadian ( Sistem Dorongan-dorongan ).


Antara kemauan dan perasaan terjadilah perlawanan atau kebalikan yang
sedalam-dalamnya. Perlawanan ( antagonisme ) inilah yang menjadi dasar daripada
siatem dorongan-dorongan Klages. Kemauan dapat mengikuti atau melawan
perasaan, tetapi tak dapat memanggilnya atau menimbulkannya. Perasaan baru dapat
dibangkitkan bilamana kemauan dilumpuhkan atau ditundukkan.Sifat kemauan
adalah aktivitas, kebebasan, sedangkan sifat perasaan adalah bergantung dan
berhubungan. Dalam kemauan “AKU” berkuasa, dalam perasaan “AKU” dikuasai oleh
“sesuatu”. Jika kemauan itu didorong oleh nafsu mempertahankan “AKU”,
menyerahkan “AKU” (diri) kepada yang dihadapi.
Jadi ada dua nafsu, yaitu nafsu mempertahankan diri dan nafsu menyerahkan
diri. Yang menjadi pendukung prinsip ke”AKU”-an, daya persepsi tindakan yang
menarik garis pemisah antara subyek dan obyek adalah roh (Geist), yang
menempatkan diri berhadapan dengan dunia sekitarnya, sedangkan yang menjadi
pendukung perasaan disebut oleh Klages jiwa (seele). Roh adalah representasi
daripada anasir kehidupan. Antara jiwa dan tubuh tak ada pertentangan, dalam
kehidupan hayati kedua
hal tak terpisahkan, sedangkan antara jiwa dan roh terjadi ketegangan yang tiada
henti- hentinnya. Jadi ditinjau secara teoritis murni, ada dua bentuk kepribadian, yaitu
:

a) Kepribadian yang dikuasi oleh roh ( der Geist )


b) Kepribadian yang dikuasai oleh jiwa ( die Seele )

Disamping hal-hal yang telah dikemukakan itu Klages mengadakan pembagian-


pembagian lain yang lebih teliti. Pembagian mengenai soal ini, yang biasa dikenal
sebagai sistem dorongan-dorongan, berkisar pada tiga pengertian besar, yaitu : (1)
Penguasaan diri, (2) Nafsu rohaniah, (3) Hawa nafsu.
Penguasaan diri akan ada apabila “AKU” yang lebih stabil menguasai “AKU”
yang lebih labil. “AKU” yang lebih stabil itu disebut “aku yang umum”atau roh (Geist).
Apabila roh itu tertuju kepada penyerahan diri terjadilah nafsu rohania, sedangkan
kalau yang menuju ke penyerahan diri itu adalah “Aku Pribadi”(aku yang labil)
terjadilah hawa nafsu. Apabila roh menuju ke pertahanan diri terjadilah keinsyafan,
sedangkan jika yang menuju kepertahanan diri itu “Aku pribadi” terjadilah egoisme.

Sumber:
http://illarezkiwanda.blogspot.com/2012/04/teori-kepribadian-ludwig-klages.html

Anda mungkin juga menyukai