Anda di halaman 1dari 9

Metode Langsung atau Direct Method

BAB I
PENDAHULUAN

Secara historis, pembaharuan-pembaharuan pengajaran bahasa yang terjadi dari tahun
1850 sampai 1900, khususnya di Eropa, berupaya membuat pengajaran bahasa lebih efektif
dengan suatu perubahan yang radikal dari metode tata bahasa dan terjemah. [1]
Sebagaimana kelahiran metode lainnya, metode ini muncul karena ketidakpuasan
terhadap hasil pengajaran bahasa dengan metode sebelumnya dan karena ada perubahan orientasi
dan tujuan dari pengajaran bahasa asing yang dikaitkan dengan tuntutan kebutuhan nyata di
masyarakat. Menjelang abad ke-19, hubungan antar di Eropa mulai terbuka sehingga
menyebabkan adanya kebutuhan untuk bisa saling berkomunikasi aktif diantara mereka. Untuk
itu mereka membutuhkan cara baru belajar bahasa kedua karena metode yang ada dirasa tidak
praktis dan efektif. Maka pendekatan-pendekatan baru mulai dicetuskan oleh para ahli di Jerman,
Inggris, Prancis dan lain-lain, yang membuka jalan bagi lahirnya metode baru yang disebut
Metode Langsung.[2]
Metode ini dinamakan metode langsung, sebab guru langsung menggunakan bahasa asing
(bahasa Arab) yang sedang diajarkan selama pelajaran, sedangkan bahasa murid tidak boleh
digunakannya. Dalam menjelaskan arti kata-kata sukar atau kalimat hanya boleh menggunakan
gambar dan dengan peragaan.[3]
Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tentang latar belakang dan karakteristik
metode langsung, desain metode langsung, langkah-langkah penggunaan metode langsung,
contoh materi metode langsung serta kelebihan dan kekurangan metode langsung.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang dan Karakteristik Metode Langsung atau Direct Method
Direct artinya langsung. Direct Method atau metode langsung yaitu suatu cara
menyajikan materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung menggunakan bahasa asing
tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikitpun dalam
mengajar. Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik, maka guru dapat
mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemonstrasikan, menggambarkan dan lain-
lain.[4]
Metode ini berpijak dari pemahaman bahwa pengajaran bahasa asing tidak sama halnya
dengan mengajar ilmu pasti alam. Jika mengajar ilmu pasti, siswa dituntut agar dapat menghafal
rumus-rumus tertentu, berpikir dan mengingat, maka dalam pengajaran bahasa, siswa/anak didik
dilatih praktek langsung mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Sekalipun kata-
kata atau kalimat-kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami anak didik, namun
sedikit demi sedikit kata-kata dan kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat pula
mengartikannya.
Demikianlah halnya kalau kita perhatikan seorang ibu mengajarkan bahasa kepada anak-
anaknya mula-mula dengan melatih anak-anaknya langsung dengan mengajarinya menuntunnya
mengucapkan kata per-kata, kalimat per-kalimat dan anaknya menurutinya meskipun dilihat
terasa lucu. Misalnya ibunya mengajar Ayah maka anaknya menyebut Aah dan seterusnya.
Namun kelamaan si anak mengenali kata-kata itu dan akhirnya ia mengerti pula tentang
maksudnya.
Pada prinsipnya metode langsung (direct method) ini sangat utama dalam mengajar
bahasa asing, karena melalui metode ini siswa dapat langsung melatih kemahiran lidah tanpa
menggunakan bahasa ibu (bahasa lingkungannya). Meskipun pada mulanya terlihat sulit anak
didik untuk menirukannya.[5]
Metode langsung (al-thariqah al-mubasyiroh/ direct method) dikembangkan oleh Carles
Berlitz, seorang ahli dalam pengajaran bahasa di Jerman menjelang abad ke-19. Faktor
kemunculannya dilatarbelakangi oleh penolakan atau ketidak puasan terhadap metode tata
bahasa dan terjemah. Pada saat itu memang metode tata bahasa dan terjemah merupakan metode
pengajaran bahasa kedua dan asing yang populer. Akan tetapi di tengah kepopulerannya muncul
banyak ketidak puasan dibanyak kalangan, sehingga muncullah kritik bahkan penolakan
terhadap metode ini.[6]
Meskipun metode langsung merupakan reaksi kuat terhadap metode tata bahasa dan
terjemah, namun orang-orang telah lebih dulu menggunakannya dalam mengajarkan bahasa
asing. Nababan (1993:15) menyebutkan bahwa penggunaanya telah berlangsung sekitar abad ke-
15 ketika para pemuda Romawi diberi pelajaran bahasa Yunani oleh guru-guru bahasa dari
Yunani. Namun penggunaan metode langsung pada waktu itu tidak benar-benar sebagai metode
langsung, kelangsungannya dapat dikatakan tidak murni seratus persen, sebab dalam beberapa
hal masih menggunakan bahasa ibu dan kedua. Baru mulai tahun 1920-an, beberapa ahli
pengajaran yang secara terpisah menggunakan metode langsung secara murni dan sistematis.[7]
Metode ini dikembangkan atas dasar asumsi bahwa proses belajar bahasa kedua atau
bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu. Juga didasarkan atas asumsi yang bersumber dari
hasil-hasil kajian psikologi asosiatif. Berdasarkan kedua asumsi tersebut, pengajaran bahasa
khususnya pengajaran kata dan kalimat harus dihubungkan langsung dengan benda, sampel, atau
gambarnya, atau melalui peragaan, permainan peran, dan lain sebagainya. Dalam metode ini,
pembelajar harus dibiasakan berpikir dalam bahasa target, oleh karena itu penggunaan bahasa
ibu dihindari sama sekali.[8]
Adapun karakteristik atau ciri pokok metode langsung ini antara lain adalah sebagai
berikut:[9]
1. Tujuan utama pengajaran bahasa adalah penguasaan bahasa sasaran secara lisan agar siswa dapat
berkomunikasi dalam bahasa sasaran.
2. Materi pelajaran berupa, buku teks yang berisi daftar kosa kata dan penggunaannya dalam
kalimat. Kosa kata itu umumnya kongkrit dan ada di lingkungan siswa, serta bisa diperagakan.
3. Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif, yaitu dimulai dari contoh-contoh kemudian
diambil kesimpulan.
4. Kosa kata kongkrit diajarkan melalui demonstrasi, peragaan, benda langsung dan gambar.
Sedangkan kosa kata abstrak diajarkan melalui asosiasi, konteks dan definisi.
5. Kemampuan komunikasi lisan dilatih secara tepat melalui tanya jawab yang terencana dalam
pola interaksi yang bervariasi.
6. Baik kemampuan berbicara maupun menyimak dilatih bersama-sama.
7. Guru dan siswa sama-sama aktif, anmun guru lebih banyak memberikan stimulus berupa contoh
ucapan, peragaan dan pertanyaan, sementara siswa hanya merespon dalam bentuk menitukan,
menjawab pertanyaan, memperagakan dan lain-lain.
8. Ketepatan pelafalan dan tata bahasa ditekankan.
9. Bahasa sasaran (bahasa Arab) digunakan sebagai bahasa pengantar secara kuat, dan penggunaan
bahasa ibu harus dihindari.
10. Kelas diciptakan sebagai lingkumgan bahasa sasaran buatan atau meyerupai kolam bahasa
para siswa berlatih bahasa secara langsung.
Ada yang perlu dicatat disini, bahwa metode langsung menyamakan antara belajar bahasa
asing dengan belajar bahasa ibu, maka proses dan pemerolehannya dianggap sama. Pandangan
tersebut tidak sepenuhnya benar, sebab psikologi belajar bahasa ibu tidak sama dengan psikologi
belajar bahasa kedua dan bahasa asing. Dalam pemerolehan bahasa ibu, seorang anak tidak ada
pilihan lain, dan ia merasa ada kebutuhan untuk berkomunikasi lisan dengan orang lain
disekelilingnya, kebutuhan ini dipenuhi dengan menguasai bahasa ibu secepat mungkin.
Sedangkan dalam pemerolehan bahasa kedua dan bahasa asing, seorang pelajar tidak merasakan
adanya kebutuhan yang mendesak, dan ia mengetahui masih ada pilihan lain yakni menggunakan
bahasa ibu. Perbedaan karakteristik pemerolehan masing-masing bahasa ini tentu saja
berimplikasi pada karakteristik pengajarannya.[10]
Teori tabula rasa yang dikeluarkan oleh John Locke yang memandang bahwa pada saat
seseorang anak lahir, seperti kertas putih yang belum digunakan, maka jiwanya/otaknya kosong,
lalu lingkungan yang mengisi jiwa/otaknya. Dari pengaruh lingkungan inilah memiliki ide-ide
yang diserap anak itu melalui indranya. Jika dikaitkan dengan pemerolehan bahasa, ini diartikan
bahwa anak yang sudah menguasai bahasa ibu sudah tidak kosong lagi jiwa atau otaknya. Karena
itu pemerolehan bahasa kedua/asing tidak akan dikuasainya semudah bahasa ibunya.[11]
B. Desain Metode Langsung
1. Tujuan (Umum dan Khusus)
Para guru yang menggunakan metode langsung bertujuan agar para siswa bisa
mempelajari bagaimana caranya berkomunikasi dalam bahasa sasaran. Untuk bisa melakukan hal
tersebut dengan sukses, penting bagi para siswa untuk belajar berpikir dalam bahasa sasaran.[12]
2. Model Silabus
Silabus yang digunakan dalam metode langsung didasarkan pada berbagai situasi
(seperti: satu unit akan berisi dari ungkapan-ungkapan yang digunakan di bank dan unit yang lain
berisi ungkapan-ungkapan ketika berbelanja) atau berbagai topik (seperti:geografi, uang, atau
cuaca). Tata bahasa diajarkan secara induktif; yaitu para siswa diperkenalkan dengan contoh-
contoh terlebih dahulu lalu mereka berusaha memahami kaidah-kaidah atau generalisasi kaidah
yang berada di balik contoh-contoh tersebut. Para siswa mempratikkan kosakata dengan
menggunakan kata-kata baru tersebut dalam kalimat-kalimat lengkap. Dengan demikian
pemilihan materi ajar lebih ditekankan pada pengajaran kosakata daripada tata bahasa.[13]
3. Jenis Kegiatan Pembelajaran
Meskipun perhatian terhadap keempat keterampilan berbahasa (membaca, menulis,
berbicara, dan mendengarkan) terjadi sejak awal, tetapi komunikasi lisan dianggap sebagai dasar.
Dengan demikian, latihan membaca dan menulis didasarkan pada latihan membaca dan menulis
didasarkan pada latihan lisan yang telah dipratikkan terlebih dahulu oleh siswa. Pelafalan yang
benar juga mendapatkan perhatian sejak awal pelajaran.
Kemampuan berbahasa yang lebih diutamakan adalah kemampuan berbicara bukan
kemampuan menulis. Oleh karena itu, para siswa belajar berbicara sehari-hari dengan wajar
dalam bahasa sasaran. Mereka juga mempelajari budaya dan sejarah masyarakat penutur bahasa
sasaran. Mereka juga mempelajari budaya dan sejarah masyarakat penutur bahasa sasaran,
geografi negeri atau negara-negara di mana bahasa itu digunakan sebagai bahasa percakapan,
dan informasi tentang kehidupan sehari-hari para pembicara bahasa sasaran.
Guru-guru yang menggunakan metode ini berkeyakinan bahwa siswa perlu
menghubungkan makna dan bahasa sasaran secara langsung. Untuk melakukan hal ini, ketika
guru memperkenalkan suatu kata atau frasa baru, ia akan mendemonstrasikan maknanya melalui
pemakaian realita, gambar-gambar, atau pantomim, ia tidak pernah menerjemahkannya ke dalam
bahasa siswa. Bahasa ibu tidak boleh digunakan di dalam kelas. Para siswa berbicara sebagian
besar dalam bahasa sasaran dan mereka berkomunikasi seolah-olah mereka dalam situasi dan
topik yang riil.
4. Peranan Guru, Siswa dan Bahan Ajar
Meskipun guru mengarahkan aktivitas di kelas, peran siswa lebih aktif dibandingkan
peran mereka dalam metode tata bahasa- terjemah. Dalam metode ini, guru dan siswa seperti
mitra dalam pembelajaran, di samping berfungsi sebagai sebagai seorang mitra, guru juga adalah
seorang fasilitator, ia menunjukkan kepada para siswa apa kesalahan yang mereka lakukan dan
bagaimana cara mengoreksi kesalahan tersebut.
Interaksi kelas pembelajaran berasal dari kedua belah pihak, dari guru kepada para siswa
dan sebaliknya, dari siswa kepada guru, meskipun inisiasi dari siswa sering berada dalam
pengarahan guru. Para siswa juga berbicara antara yang satu dengan yang lain.
Evaluasi dalam metode langsung dilakukan lebih banyak secara informal, para siswa
diminta untuk menggunakan bahasa, bukan untuk menunjukkan pengetahuan mereka sekitar
bahasa. Mereka diminta untuk melakukannya baik dengan keterampilan lisan maupun tulisan.
Sebagai contoh, para siswa bisa jadi diwawancarai secara lisan oleh guru atau boleh jadi diminta
untuk menulis suatu alinia tentang sesuatu yang sudah mereka pelajari.[14]

C. Langkah-langkah Penggunaan Metode Langsung
Langkah-langkah penyajian dalam metode ini bisa bervariasi, namun secara umum
adalah sebagai berikut:[15]
1. Guru memulai penyajian materi secara lisan, mengucapkan satu kata dengan menunjuk
bendanya atau gambar benda itu, meragakan sebuah gerakan atau mimik wajah. Pelajar
menirukan berkali-kali sampai benar pelafalannya dan faham maknanya.
2. Latihan berikutnya berupa tanya jawan dengan kata tanya ma, hal, ayna dan sebagainya,
sesuai dengan tingkat kesulitan pelajaran, berkaitan dengan kata-kata yang telah disajikan.
Model interaksi bervariasi, biasanya dimulai dengan klasikal, kemudian kelompokan dan
akhirnya individual, baik guru maupun siswa.
3. Setelah guru yakin bahwa siswa menguasai materi yang disajikan, baik dalam pelafalan maupun
pemahaman makna, siswa diminta membuka buku teks. Guru memberikan contoh bacaan yang
benar kemudian siswa diminta membaca secara bergantian.
4. Kegiatan berikutnya adalah menjawab secara lisan pertanyaan atau latihan yang ada dalam buku,
dilanjutkan dengan mengerjakannya secara tertulis.
5. Bacaaan umum yang sesuai dengan tingkatan siswa diberikan sebagai tambahan, misalnya
berupa cerita humur, cerita yang mengandung hikmah, dan bacaan yang mengandung ungkapan-
ungkapan indah. Karena pendek dan menarik, biasanya siswa menghafanya diluar kepala.
6. Tatabahasa diberikan pada tingkat tertentu secara induktif.
7. Siswa didirong untuk berani berbicara tidak perlu takut salah.

D. Contoh Materi
Contoh dibawah ini dikutip dari buku Durus al-Lughah al-Arabiyah Jilid Satu, oleh
Imam Zarkasyi dan Imam Syubani yang dipakai di Pondok Modern Gontor.



Sebagaimana disebutkan dimuka, dalam metode langsung penggunaan bahasa ibu sangat
dihindari. Oleh karena itu, materi disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan guru
melakukan paragaan dan penunjukan langsung benda asli, gambar atau model (tiruan benda)
ketika mengenalkan mufradat dan struktur kalimat yang baru.
Dalam metode ini, untuk tingkat pemula, nahwu tidak diajarkan secara khusus, tapi
melalui apa yang disebut dengan al-nahwu al-wazhifi (nahwu fungsional) seperti dalam contoh
berikut (dicuplik dari buku yang sama).
--------- --------

-------- ---------

Dalam contoh diatas, materi nahwu mengenai isim tafdhil tidak dijelaskan definisinya
atau cara-cara pembentukannya, tapi langsung pada contoh-contoh dan dilatihkan pemakaiannya
dalam kalimat. Pada tingkat berikutnya (pra-menengah atau menengah), qawaid bisa diajarkan
berdiri sendiri sebagai sebuah mata pelajaran tapi dengan cara induktif, yaitu dimulai dengan
contoh-contoh penjelasan, kemudian kesimpulan kaidah, dan diakhiri dengan latihan-latihan.
Salah satu buku yang banyak digunakan adalah al-Nahwu al-Wadhih oleh Ali al-Jarim dan
Musthafa Amin terbitan Dar-al-Maarif Kairo.


E. Kelebihan dan Kekurangan Metode Langsung
Metode langsung merupakan protes terhadap metode tata bahasa dan terjemah. Dilihat
dari sisi ini metode langsung sedikit lebih maju dibanding metode sebelumnya. Walau demikian
tetap saja metode langsung memiliki kelemahan, terutama jika dilihat dari konsep dasar dan
kritikan para ahli yang ditujukan kepadanya.[16]
Diantara aspek kelebihannya adalah:
1. Dengan kedisiplinan mendengarkan dan menggunakan pola-pola dialog secara teratur para
pelajar bisa terampil dalam menyimak dan berbicara, sebab prioritas utamanya memang
menyimak dan berbicara.
2. Dengan banyaknya peragaan/demonstrasi, gerakan, penggunaan gambar, bahkan belajar di alam
nyata para pelajar bisa mengetahui banyak kosa kata.
3. Dengan banyak latihan pengucapan secara ketat dalam bimbingan guru para pelajar bisa
memiliki lafal yang relatif lebih mendekati penutur asli.
4. Para pelajar mendapat banyak latihan dalam bercakap-cakap, khususnya mengenai topik-topik
yang sudah dilatih dalam kelas. Hal ini dapat membantu mereka dalam menganalogikan pola-
pola percakapan dalam tospik-topik lain.
Diantara aspek kekurangannya:
1. Metode ini memiliki prinsip-prinsip yang mungkin dapat diterima oleh sekolah-sekolah yang
jumlah pelajarnya tidak banyak. Maka dimungkinkan akan mendapat kesulitan jika diterapkan.
2. Metode ini menuntut para guru yang mempunyai kelancaran berbicara seperti penutur asli.
3. Metode ini mengandalkan kemahiran guru dalam menyajikan materi, bukan buku-buku teks
yang baik.
4. Metode ini menghindari penggunaan bahasa ibu dan bahasa kedua atau terjemahan. Hal ini
justru bisa menghambat kemajuan pelajar, sebab banyak waktu dan tenaga terbuang dalam
menerangkan kata abstrak (tak bisa diragakan atau gambarkan) atau konsep tertentu dalam
bahasa asing. Padahal jika diterjemahkan akan memakan waktu sebentar saja.
5. Melihat poin nimor empat diatas, kesalahan penafsiran makna dalam bahasa asing yang
dipelajari bisa terjadi. Sementara itu kesalahan yang keluar dari guru akan sulit diketahui
dibandingkan dengan kesalahan yang keluar dari pelajar, sebab jika pelajar melakukan kesalahan
dalam pol-pola tertentu maka dapat dideteksi segera.
6. Jika dicermati konsep yang mengatakan bahwa pemerolehan bahasa ibu dengan bahasa kedua
dan bahasa asing itu sama, maka secara psikologis konsep ini tidak memiliki dasar teori yang
kuat.

BAB III
KESIMPULAN
Menjelang abad ke-19 di Jerman metode langsung ini dikembangkan oleh Carles Berlitz, seorang
ahli dalam pengajaran bahasa. Metode langsung atau direct method ini merupakan metode yang
memprioritaskan pada keterampilan berbicara, dan muncul sebagai reaksi ketidakpuasan
terhadap metode sebelumnya yaitu metode gramatika terjemah.
Metode langsung menyamakan antara belajar bahasa asing dengan belajar bahasa ibu, maka
proses dan pemerolehannya dianggap sama. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar, sebab
psikologi belajar bahasa ibu tidak sama dengan psikologi belajar bahasa kedua dan bahasa asing.
Desain metode langsung diantaranya meliputi 4 hal yaitu: (1) Tujuan (umum dan khusus), (2)
Model Silabus, (3) Jenis Kegiatan Pembelajaran, (4) Peranan Guru, Siswa dan Bahan Ajar.
Munculnya metode langsung telah melahirkan banyak perbaikan dalam pengajaran bahasa
kedua/asing di dunia. Berkat kehadiran metode ini pengajaran bahasa berangsur-angsur sudah
beralih dari pengajaran bahasa untuk penguasaan tata bahasa menuju pengajaran bahasa untuk
komunikasi dengan bahasa sasaran.
Dalam metode langsung ini tata bahasa diajarkan secara induktif tanpa adanya penjelasan-
penjelasan tentang aturan-aturan tata bahasa, sebuah cara yang dianggap sebagai sebuah
kemajuan dalam pengajaran bahasa.
Di dalam kelas yang menggunakan metode langsung, bahasa siswa tidak digunakan dan kosakata
baru diperkenalkan dengan media atau demonstrasi, sedangkan terjemahan dihindari
sepenuhnya.
Metode langsung ini seperti halnya metode lainnya, yaitu memiliki kekurangan dan kelebihan.



DAFTAR PUSTAKA
Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011).
Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, Cet-5, 2012).
Aziz Fachrurrazi & Erta Mahyudin, Pembelajaran Bahasa Asing Metode Tradisional dan
Kontemporer,(Jakarta: Bania Publishing, 2010).
Bisri Mustofa & Abdul Hamid, Metode & Strategi Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-MALIKI
PRESS, Cet ke-2, 2012).
Syamsuddin Asyrofi dkk, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN
Sunan Kalijaga, 2006).
Tayar Yusuf & Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1995).
Wa Muna, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta: Teras, 2011).
Zulkifli, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Konvensional dan Kontemporer), (Pekanbaru Riau,
Zanafa Publishingm 2011).




[1] Bisri Mustofa & Abdul Hamid, Metode & Strategi Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-MALIKI
PRESS, Cet ke-2, 2012), hlm. 33.
[2] Zulkifli, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Konvensional dan Kontemporer), (Pekanbaru Riau,
Zanafa Publishingm 2011), hlm. 19.
[3] Wa Muna, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta: Teras, 2011),
hlm.85.
[4] Tayar Yusuf & Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1995), hlm.152-153.
[5] Tayar Yusuf & Syaiful Anwar, Metodologi, hlm. 153.
[6] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011),
hlm.177-176.
[7] Acep Hermawan, Metodologi, hlm.176.
[8] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, Cet-5, 2012), hlm. 47.
[9] Syamsuddin Asyrofi dkk, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN
Sunan Kalijaga, 2006), hlm. 103.
[10] Acep Hermawan, Metodologi, hlm.178.
[11] Acep Hermawan, Metodologi, hlm.178.
[12] Aziz Fachrurrazi & Erta Mahyudin, Pembelajaran Bahasa Asing Metode Tradisional dan
Kontemporer, (Jakarta: Bania Publishing, 2010), hlm. 55.
[13] Aziz Fachrurrazi & Erta Mahyudin, Pembelajaran, hlm. 55.
[14] Aziz Fachrurrazi & Erta Mahyudin, Pembelajaran, hlm. 56.
[15] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi, hlm. 49.
[16] Acep Hermawan, Metodologi, hlm. 182-184.
Diposkan oleh Maman Pranata di 01.54
Reaksi:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: MAKALAH, PENDIDIKAN