Anda di halaman 1dari 4

Analisis resepsi merupakan bagian khusus dari studi khalayak yang

mencoba mengkaji secara mendalam proses aktual di mana wacana


media diasimilasikan melalui praktek wacana dan budaya khalayaknya.
Ada tiga elemen pokok dalam metodologi resepsi yang secara eksplisit
bisa disebut sebagai the collection, analysis, and interpretation of
reception data ( Jensen, 1999: 139) . diantaranya:
1. Mengumpulkan data dari khalayak. Data bisa diperoleh melalui
wawancara mendalam (baik individual maupun kelompok). Dalam hal ini
lebih ditekankan perolehan data melalui wawancara kelompok yang akrab
disebut focus group interview, sebagaimana pernah dilakukan oleh Jensen
(1999).
2. Menganalisis hasil atau temuan dari wawancara atau rekaman proses
jalannya diskusi, peneliti akan mengkaji catatan wawancara tersebut yang
berupa ratusan transkrip wawancara yang di dalamnya kemudian bisa
disarikan berbagai kategori pernyaatan, pertanyaan, komentar dsb.
3. Peneliti melakukan interpretasi terhadap pengalaman bermedia dari
khalayaknya. Dalam hal in i peneliti tidak sekedar mencocokkan model
pembacaan sebagaimana yang telah dirumuskan dalam acuan teoritis
melainkan justru mengelaborasikan dengan temuan yang sesungguhnya
terjadi di lapangan sehingga memunculkan model atau pola penerimaan
yang riil dan lahir dari konteks penelitian sesungguhnya.
Sedangkan menurut McRobbie (1991 di dalam CCMS:2002) analisis
resepsi merupakan sebuah pendekatan kulturalis dimana makna media
dinegosiasikan oleh individual berdasarkan pengalaman hidup mereka.
Dengan kata lain pesan-pesan media secara subjektif dikonstruksikan
khalayak secara individual.
Peran aktif khalayak di dalam memaknai teks media dapat terlihat pada
premis-premis dari Model encoding/decoding Stuart Hall yang merupakan
dasar dari analisis resepsi:

Peristiwa yang sama dapat dikirimkan atau diterjemahkan lebih dari

satu cara.

Pesan selalu mengandung lebih dari satu potensi pembacaan.

Tujuan pesan dan arahan pembacaan memang ada, tetapi itu tidak akan
bisa menutup hanya menjadi satu pembacaan saja: mereka masih
polisemi (secara prinsip masih memungkinkan munculnya variasi
interpretasi).

Memahami pesan juga merupakan praktek yang problematik,

sebagaimanapun itu tampak transparan dan alami. Pengiriman pesan


secara satu arah akan selalu mungkin untuk diterima atau dipahami
dengan cara yang berbeda.
Teks media biasanya mengarahkan pemaknaan khalayak ke arah yang
diinginkan. Untuk mengetahui makna dominan yang ditawarkan oleh
media, kita bisa melakukan analisis struktur internal dari teks.
Menurut Hall (di dalam Osullivan et al. 1994),terdapat tiga tipe utama
dari pemaknaan atau pembacaan khalayak terhadap teks media:
a. The dominant-hegemonic; terjadi jika seseorang atau sekelompok
orang melakukan pemaknaan sesuai dengan makna dominan
(preferred reading) yang ditawarkan oleh teks media.
b. The negotiated reading; mengakui legitimasi dari kode dominan,
tapi mengadaptasi pembacaan sesuai kondisi sosial mereka.
c. The oppositional reading, yang menghasilkan pembacaan radikal
terhadap teks atau yang berlawanan dengan preferred reading.
Analisis resepsi berargumen jika khalayak berada dalam kerangka budaya
yang sama dengan produser teks, maka pembacaan oleh khalayak
terhadap teks kemungkinan masih sama dengan produksi tekstual.
Sebaliknya, kalau anggota khalayak berada pada posisi sosial yang
berbeda (dalam hal kelas atau gender, misalnya) dari para produsen teks,
khalayak akan bisa memaknai teks itu secara alternatif atau berbeda

Sumber: http://hapsarinarrative.blogspot.com/2011/12/analisis-resepsi.html

http://sinaukomunikasi.wordpress.com/2012/02/16/mengkaji-khalayakmedia-dengan-metode-penelitian-resepsi/

Tugas kuliah
Analisis Resepsi

Disusun Oleh :

Wisnu Krisminanda
L 100090094

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI


FAKULTAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013