Anda di halaman 1dari 19

ACARA II

90

PENENTUAN PANAS SPESIFIK BAHAN

A. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum acara II Penentuan Panas Spesifik Bahan ini adalah :
a. Mahasiswa mampu memahami salah satu metode penentuan panas
spesifik bahan hasil pertanian.
b. Mahasiswa dapat menentukan besarnya panas spesifik bahan hasil
pertanian.
B. Tinjauan Pustaka
a. Tinjauan Bahan
Kopi merupakan salah

satu

hasil komoditi perkebunan yang

memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan


lainnya dan berperan penting sebagai sumber devisa negara. Kopi tidak
hanya berperan penting

sebagai

sumber

devisa

melainkan

juga

merupakan sumber penghasilan bagi tidak kurang dari satu setengah


juta jiwa petani kopi di Indonesia (Rahardjo, 2012).
Tabel 2.1. Karakteristik Mutu Umum Biji Kopi
Karakteristik

Standar Mutu (%)

Biji berbau busuk dan berbau kapang

Kadar kotoran

<0.5

Serangga hidup

tidak ada

Kadar air

<12.5

Sumber: Rahardjo (2012).


Kopi merupakan sumber kafein. Kafein merupakan senyawa
alkaloid yang bersifat merangsang. Kafein banyak memiliki manfaat dan
telah banyak digunakan dalam dunia medis. Kafein dapat dibuat dari
ekstark kopi, teh dan cokelat. Kafein berfungsi untuk merangsang

aktivitas susunan saraf dan meningkatkan kerja jantung, sehingga jika


dikonsumsi dalam jumlah berlebihan akan bersifat racun dengan
menghambat mekanisme susunan saraf manusia. Rumus kimia untuk
kafein yaitu C8H10N4O2, kafein murni berbentuk kristal panjang,
berwarna putih, tidak berbau dan rasanya pahit. Didalam biji kopi kafein
berfungsi sebagai unsur rasa dan aroma. Kafein murni memiliki berat
molekul 194.19 gr, titik leleh 236C dan titik didih 178C
(Fuferti, 2013).
Tepung yang dihasilkan dari beras dapat digunakan sebagai bahan
baku dalam pembuatan kue, roti, makanan bayi dan lain- lain. Mengingat
tingginya tingkat kebutuhan konsumen, maka ketersediaan tepung dalam
jumlah yang cukup besar dengan kualitas yang bagus perlu diupayakan
secara serius. Proses pengolahan padi menjadi tepung menghasikan
tepung beras. Proses ini merupakan usaha pengecilan bentuk (ukuran)
dari bentuk asal berupa beras. Proses ini dapat dilakukan secara
tradisional ataupun secara mekanis menggunakan mesin penggiling.
Proses pengolahan tepung beras dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
secara kering dan basah. Jika proses pengoahan tepung menggunakan
sistim basah, maka hasil tepung yang dihasilkan harus dikeringkan
kembali. Hal ini penting dilakukan agar tepung beras yang dihasilkan
dapat disimpan lama

(Khatir, 2011).

b. Tinjauan Teori
Rumus hubungan antara aliran kalor dan perubahan suhu kalor
spesifik: Q = mcT, dengan c adalah besaran karakteristik material yang
disebut kalor spesifik. Karena c = Q/mT, kalor spesifik ditetapkan
dalam satuan J/kg.C (satuan SI) atau kkal/kg.C. Untuk air pada suhu
15C dan tekanan konstan 1 atm, c = 1.00 kkal/kg.C atau 4,18 103
J/kg.C dengan definisi kal dan joule; 1 kkal memerlukan kalor
menaikkan suhu 1 kg air sebesar 1C. Harga c bergantung pada beberapa

variabel, suhu (dan juga pada tekanan), tetapi untuk perubahan suhu yang
tidak terlalu besar, c sering dapat ditetapkan berharga konstan. Kalor
spesifik untuk gas lebih rumit daripada benda padat dan benda cair, yang
perubahan perubahan volumenya hanya sedikit dengan perubahan suhu
(Giancoli, 1996).
Untuk menimbulkan kenaikan suhu yang sama dari banyaknya
panas yang diperlukan adalah berbeda-beda dari bahan ke bahan.
Misalkan suhu sebuah benda naik dengan t derajat, sebagai akibat
pemberian panas padanya sebanyak Q, jadi kapasitas panas adalah
perbandingan antara banyaknya panas yang diberikan dengan kenaikan
suhu. Kapasitas panas pada umumnya dinyatakan dengan kalori per
derajat Celcius atau Btu per derajat Fahrenheit. Dalam persamaan terlihat
bahwa numerik kapasitas panas itu sama dengan jumlah panas yang
harus diberikan pada benda itu agar suhunya naik satu derajat. Kapasitas
panas jenisnya (specific heat capacity) didefinisikan sebagai kapasitas
panas per satuan massa bahan. Pada umumnya kapasitas panas jika
dinyatakan dengan kalori per gram derajat Celcius atau Btu per pound
derajat Fahrenheit (Suradji, 1998).
Dua bahan yang terbuat dari bahan yang sama memiliki kapasitas
panas yang sebanding dengan massanya. Oleh karena itu, menentukan
kapasitas panas per satuan massanya atau panas spesifik panas c merujuk
kepada massa suatu bahan. Spesifik panas suatu bahan sebenarnya
bergantung pada seberapa besar suhu.
Q = mcT = cm(Tf Ti)
Dengan panas spesifik air sebagai berikut :
c = 1 cal/g' Co = 1 Btu/lb' FO = 4186.8 J/kg' K
(Halliday et.al., 2011).
Karena panas jenis air praktis konstan meliputi jangkauan
temperatur yang lebar, panas jenis sebuah benda dengan mudah dapat

diukur dengan memanaskan benda sampai suatu temperatur tertentu yang


mudah diukur, dengan menempatkannya dalam bejana air yang massa
dan temperaturnya diketahui, dan dengan mengukur temperatur
campuran benda dan air tersebut. Jika sebuah sistem terisolasi dari
sekitarnya maka panas yang keluar dari benda sama dengan panas yang
masuk ke air dan wadahnya. Prosedur ini dinamakan kalorimetri, dan
wadah air yang terisolasi dinamakan kalorimeter. Misalkan m adalah
massa benda, c adalah panas jenis, dan Tio adalah temperatur awal. Jika Tf
adalah temperatur akhir benda dalam bejana air, maka panas yang keluar
dari benda adalah
Qkeluar = mc(Tio Tf)
panas yang diserap oleh air dan wadahnya adalah
Qmasuk = maca(Tf Tia) + mwcw(Tf Tia)
karena jumlah panas ini sama, panas jenis c benda dapat dihitung dengan
menuliskan panas yang keluar dari benda sama dengan panas yang
masuk air dan wadahnya.
Qkeluar = Qmasuk
mc(Tio Tf) = maca(Tf Tia) + mwcw(Tf Tia)
(Tipler et al., 1991).
Massa sampel tertentu (msample) adalah ditetapkan pada suhu awal
ditentukan (T1) dan kemudian ditambahkan dalam bejana adiabatik
(kalorimeter atau Dewer labu) pada suhu awal ditentukan (T 2), yang
kapasitas kalorimetrik (C calorimeter) nya harus diketahui. Kemudian,
dicampur dengan massa jenis dari cairan dengan sifat dikenal (air, secara
umum m air, Cp air) di T2 Setelah kesetimbangan termal (di T3, dimana
T2<T3<T1), Panas spesifik sampel (Cp sample) dengan demikian
diperoleh dari keseimbangan energi menggunakan Persamaan 1:

(Oliveira et al., 2012).


Panas jenis dapat ditentukan dengan metode campuran (method of
mixtures). Metode ini banyak dipakai karena caranya sederhana yaitu
dengan memasukkan bahan yang sudah diketahui masanya (WS)
kedalam kalorimeter berisi air yang sudah diketahui berat (WW) dan
kapasitas panasnya (CW). Pengukuran dengan metode campuran
didasarkan pada hukum keseimbangan panas dalam kalorimeter.
Kapasitas panas kalorimeter (HC) dapat ditentukan dengan mencampur
sejumlah air yang berbeda suhu awalnya dalam kalorimeter hingga
dicapai suhu

keseimbangan (Manalu, 2011).

Nilai kalor merupakan jumlah energi kalor yang dilepaskan bahan


bakar pada waktu terjadinya oksidasi unsur-unsur kimia yang ada pada
bahan bakar tersebut. Nilai kalor atas atau highest heating value (HHV)
adalah nilai kalor yang diperoleh dari pembakaran 1 kg bahan bakar
dengan memperhitungkan panas kondensasi uap (air yang dihasilkan dari
pembakaran berada dalam wujud cair). Nilai kalor bawah atau lowest
heating value (LHV) adalah nilai kalor yang diperoleh dari pembakaran 1
kg bahan bakar tanpa memperhitungkan panas kondensasi uap (air yang
dihasilkan

dari

pembakaran

berada

dalam

wujud

gas/uap)

(Napitupulu, 2006).
Satuan panas Q adalah perubahan panas yang dihasilkan suatu badan
selama proses tertentu. Satuan kilokalori (kkal) adalah panas yang
diperlukan untuk menaikkan temperatur air dari 14,5 C menjadi 15,5 C,
sedangkan satu kalori (kal) sama dengan 10-3. Dalam teknik sering
dijumpai satuan British thermal unit (Btu) yaitu panas untuk menaikkan
temperatur air dari 63 F menjadi 64 F, dimana 1 kkal = 1000 kal = 3,968
Btu. Dalam proses kimia atau fisika dijumpai satuan Joule (J) atau kalori
(kal) dimana 1 J = 0,2389 kal (Chaidir dkk, 2006).

Efisiensi termal merupakan perbandingan antara suhu yang terpakai


(suhu rataan pada output) dengan suhu yang tersedia (suhu rataan pada
ruang bakar) dan suhu rataan pada input. Efisiensi tungku merupakan
perbandingan antara energi yang keluar dari tungku (yang siap digunakan)
dengan energi yang tersedia. Hal ini tidak hanya tergantung pada baiknya
efisiensi pembakaran bahan bakar tetapi juga pada panas yang hilang pada
tungku oleh mekanisme pindah panas (Ahmad dkk, 2011).
Dalam pengukuran kalor jenis bahan pangan, biasanya digunakan
metode campuran. Metode ini menggunakan prinsip kesetimbangan kalor
yaitu kalor yang diberikan bahan sama dengan kalor yang diterima oleh
sistem kalorimeter. Metode ini paling sering digunakan karena sederhana.
Metode ini juga dapat digunakan untuk mengukur kalor jenis buahbuahan atau biji-bijian. Dalam penelitian yang dilakukan, didapatkan
kalor jenis kopi biasa sebesar 10,08 kal/ oC atau jika dibagi dengan ratarata massa kopi sebesar 10,3553 gram dihasilkan panas jenis kopi sebesar
0,973 kal/goC (Fuferti, 2013). Pada percobaan yang dilakukan untuk ratarata kapasitas panas tepung beras sebesar 0,2294 kal/goC (Huang, 1994).

C. Metode Percobaan
a. Alat
1. Alat pencatat
2. Gelas Beker
3. Kalorimeter 1 unit
4. Kompor listrik
5. Pengukur waktu
6. Termometer
7. Timbangan
b. Bahan

1. Kopi bubuk
2. Tepung beras
3. Air murni
c. Cara Kerja
Penimbangan kalorimeter dan pengukuran suhu (T1)

Penimbangan 100 gram aquades, pengukuran suhu (T2) dan


pemasukkan ke dalam kalorimeter
Penimbangan 25 gram tepung beras / kopi, dilakukan pemanasan
sampai suhu 80C (T3)

Pemasukkan segera tepung beras / kopi ke dalam kalorimeter yang


telah berisi air, pengadukan dan pengukuran suhu campuran (T4)

D. Pembahasan
Tabel 2.2 Hasil Percobaan Panas Spesifik Bahan Hasil Pertanian
Kel.

Nama Bahan

Massa (gr)

Suhu (0C)

Q (kal)

C (kal/g0C)

1,2

Kopi

24,9

80

946,37

0,927

Air

100,0

31

800

1,000

Kalorimeter

122,4

30

146,5128

0,133

Campuran

39

Tepung Beras

23,9

80

646,734

0,615

Air

100

30

800

1,000

Kalorimeter

116,1

33

46,3239

0,133

Campuran

36

Kopi

24,5

80

897,02

0,893

Air

100

31,5

800

Kalorimeter

121,8

33

96,6378

0,133

Campuran

39

3,4

5,6

7,8,9

10,11,12

13,14

Tepung Beras

22

80

677,336

0,716

Air

100

31

600

Kalorimeter

116,3

32

77,3395

0,133

Campuran

37

Kopi

24,1

80

877,433

0,888

Air

100

31

800

Kalorimeter

116,4

34

77,406

0,133

Campuran

39

Tepung Beras

22,7

80

865,687

0,908

Air

100

30

800

Kalorimeter

123,9

34

65,415

0,133

Campuran

38

Sumber : Laporan Sementara

Dalam praktikum acara II Penentuan Panas Spesifik Bahan dengan


menggunakan sampel kopi bubuk dan tepung beras dapat diketahui besar
kapasitas panas jenis pada dua sampe tersebut. Kapasitas panas adalah
perbandingan antara banyaknya panas yang diberikan dengan kenaikan
suhu. Kapasitas panas pada umumnya dinyatakan dengan kalori per
derajat Celcius atau Btu per derajat Fahrenheit. Dalam persamaan terlihat
bahwa numerik kapasitas panas itu sama dengan jumlah panas yang
harus diberikan pada benda itu agar suhunya naik satu derajat. Kapasitas
panas jenisnya (specific heat capacity) didefinisikan sebagai kapasitas
panas per satuan massa bahan. Pada umumnya kapasitas panas jika
dinyatakan dengan kalori per gram derajat Celcius atau Btu per pound
derajat Fahrenheit (Suradji, 1998).
Pada percobaan penentuan panas spesifik atau panas jenis suatu
bahan pangan biasanya digunakan metode campuran. Metode ini
menggunakan prinsip kesetimbangan kalor yaitu kalor yang diberikan
bahan sama dengan kalor yang diterima oleh sistem kalorimeter. Metode
ini paling sering digunakan karena sederhana. Metode ini juga dapat

digunakan untuk mengukur kalor jenis buah- buahan atau biji-bijian


(Fuferti, 2013).
Pada percobaan acara II Penentuan Panas Spesifik Bahan,
digunakan alat kalorimeter untuk mengukur panas spesifik kopi dan
tepung beras. Untuk melakukan pengukuran digunakan kalorimeter.
sangat penting apabila kalorimeter diisolasi dengan baik sehingga hanya
dalam jumlah minimum kalor dipertukarkan degan lingkungan luarnya.
Satu kegunaan yang sangat pentng adalah penentuan kalor jenis zat-zat.
Pada teknik yang dikenal dengan metode campuran, satu sampel yang
dipanaskan sampai temperatur tinggi yang diukur dengan akurat, dan
dengan cepat ditempatkan pada air dingin kalorimeter. Kalor yang hilang
pada sampel tersebut akan diterima oleh air dan kalorimeter. Dengan
mengukur temperatur akhir campuran tersebut, kalor jenis dapat dihitung
(Giancoli, 2001). Pada dasarnya, prinsip kalorimeter adalah kedua bahan
dengan temperatur berbeda dimasukkan pada sebuah sistem terisolasi
dari sekitarnya maka panas yang keluar dari benda sama dengan panas
yang masuk ke air dan wadahnya (Tipler, 1991).
Pada percobaan penentuan panas spesifik pada tepung beras,
pertama kita menghitung besarnya Q air yang diperoleh dari massa air
dikalikan panas spesifik air dikalikan selisih suhu akhir campuran dan
suhu awal air sehingga diperoleh Q air sebesar 800 kal. Selanjutnya
menghitung Q kalorimeter dengan cara yang sama dan diperoleh hasil
65,415 kal. Kemudian menentukan c bahan (tepung beras) yang
diperoleh dari persamaan Q bahan sama dengan Q air ditambah Q
kalorimeter dan nilainya sebesar 0,908 kal/gC. Selanjutnya menentukan
Q bahan dengan perhitungan massa tepung beras dikali c tepung beras
dikalikan dengan selisih suhu tepung beras dan suhu campuran sehingga
diperoleh hasil 865,687 kal. Menurut Huang (1994), nilai panas spesifik
tepung beras sebesar 0,2294 kal/gC. Hasil percobaan tidak sesuai

dengan teori dikarenakan beberapa faktor, diantaranya kesalahan saat


membaca skala termometer sehingga penentuan suhu kurang tepat.
Pada percobaan penentuan panas spesifik pada kopi, pertama
menghitung besarnya Q air yang diperoleh dari massa air dikalikan panas
spesifik air dikalikan selisih suhu akhir campuran dan suhu awal air
sehingga diperoleh Q air sebesar 800 kal. Selanjutnya menghitung Q
kalorimeter dengan cara yang sama dan diperoleh hasil 77,406 kal.
Kemudian menentukan c bahan (kopi) yang diperoleh dari persamaan Q
bahan sama dengan Q air ditambah Q kalorimeter dan nilainya sebesar
0,888 kal/gC. Selanjutnya menentukan Q bahan dengan perhitungan
massa kopi dikali c kopi dikalikan dengan selisih suhu kopi dan suhu
campuran sehingga diperoleh hasil 877,433 kal. Menurut Fuferti (2013),
kalor jenis kopi biasa sebesar 10,08 kal/oC atau jika dibagi dengan ratarata massa kopi yaitu 10,3553 gram dihasilkan kalor jenis kopi sebesar
0,973 kal/goC. Hasil percobaan tidak sesuai dengan teori dikarenakan
beberapa faktor, diantaranya kesalahan saat membaca skala termometer
sehingga suhu kurang tepat dan terlalu lama jeda waktu antara
pemanasan kopi ke proses pencampuran dalam kalorimeter sehingga
suhu kopi kurang dari 80C.
Percobaan menentukan panas spesifik bahan pertanian dapat
diaplikasikan dalam berbagai bidang. Salah satunya dapat diaplikasikan
dalam bidang pangan. Sebagai contoh, dalam pembuatan produk pangan
seperti Sala Lauak (Febriana, 2014), perlu diketahui panas spesifiknya
agar kandungan gizi pada bahan pertanian seperti tepung beras dapat
terjaga mutunya.
E. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum acara II Penentuan Panas Spesifik Bahan ini
adalah:
1. Panas spesifik (c) adalah banyaknya kalor (Q) yang dibutuhkan untuk
menaikkan suhu (T) satu satuan massa (m) benda sebesar satu derajat.

2. Panas spesifik tepung beras yang diperoleh dari percobaan sebesar 0,908
kal/gC.
3. Panas spesifik kopi yang diperoleh dari percobaan sebesar 0,888 kal/gC.
4. Aplikasi dibidang pangan penentuan panas spesifik bahan adalah
mengetahui panas spesifik bahan pangan agar kualitas gizi pangan tetap
terjaga.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Ary Mustofa., Ekoyanto Pudjiono, dan Arif Bambang Setyawan. 2011.
Rancang Bangun dan Uji Performansi Tungku Keramik Berpipa Spiral
dengan Bahan Bakar Padat. Jurnal Teknologi Pertanian, Vol. 12 (3) : 181186. Universitas Brawijaya. Malang.
Chaidir, Andi., Sugondo dan Aslina Br Ginting. 2006. Karakterisasi Panas Jenis
Zircaloy-4 Sn Rendah (ELS) dengan Variabel Konsentrasi Fe. Jurnal
Teknologi Bahan Nuklir, Vol.2 (1) : 1-2. Batan.Serpong.
Fuferti, Mega Aysah Z., Syakbaniah, dan Ratnawulan. 2013. Perbandingan
Karakteristik Fisis Kopi Luwak (Civet coffee) dan Kopi Biasa Jenis
Arabika. Pillar of Physics,Vol. 2, Hal. 69-70.
Giancoli, Douglas C., 1996. Fisika Jilid 1 Edisi Empat. Erlangga. Jakarta.
Halliday, David., Robert Resnick dan Jearl Walker. 2011. Fundamentals Of
Physics 9th Edition. John Wiley & Sons, Inc. Hoboken.
Huang, Rei-May., Wei Hsien Chang, Yung-Ho Chang, dan Cheng Yi-Lii. 1994.
Phase Transition of Rice Starch and Flour Gels. Cereal Chemistry
Vol.71, No.2, Hal. 203.
Khatir, Rita., Ratna, dan Wardani. 2011. Karakteristik Pengeringan Tepung Beras
Menggunakan Alat Pengering Tipe Rak. Jurnal Ilmiah Pendidikan
Biologi, Biologi Edukasi Vol. 3, No. 2, Hal. 1.
Manalu, Lamhot P. dan Wahyu Purwanto. 2011. Penentuan Sifat Termofisik
Mahkota Dewa (Thermal Properties of Phaleria Macrocarpha). Jurnal
Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 13, No. 3, Hal.178.
Napitupulu, Farel H. 2006. Pengaruh Nilai Kalor (Heating Value) Suatu Bahan
Bakar Terhadap Perencanaan Volume Ruang Bakar Ketel Uap
Berdasarkan Metode Penentuan Nilai Kalor Bahan Bakar yang
Dipergunakan. Jurnal Sistem Teknik Industri, Vol.7 (1) : 60 65. USU.
Sumatra Utara.
Oliveira, J. M., Lessio, B. C., Morgante, C. M., Santos, M. M. and Augusto, P. E.
D. 2012. Specific Heat (Cp) Of Tropical Fruits: Caj, Cashew Apple,
Cocoa, Kiwi, Pitanga, Soursop Fruit And Yellow Melon. International
Food Research Journal 19 (3) : 811-814. Unicamp. Brazil
Rahardjo, Pudji. 2012. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika
dan Robusta. Penebar Swadaya. Jakarta
Suradji, 1998. Pengantar Fisika Teknik. UNS Press. Surakarta
Tipler, Paul A. 1991. Fisika untuk Sains dan Teknik. Erlangga. Jakarta.

LAMPIRAN

A. Analisis Hasil Percobaan Panas Spesifik Kopi


Massa kopi setelah pemansan
= (massa kopi + gelas beker setelah pemanasan) (massa gelas beker)
= 152,5 g 128,4 g
= 24,1 g
Q = m.c.T
Qair

= m air .c air . (T4 T2)


= 100 g . 1 kal/gC . (39 31)C
= 100 . 8 kal
= 800 kal

Qkal

= m kal .c kal . (T4 T1)


= 116,4 g . 0,133 kal/gC . (39 34)C
= 116,4 . 0,133 . 5 kal
= 77,406 kal
Qbahan = Qair + Qkal

mbahan .cbahan. (T3 T4) = 800 kal + 77,406 kal


24,1 g . cbahan . (80 39)C

877,406 kal

24,1 g . cbahan . 41C =

877,406 kal

cbahan =

877,406 kal
988,1 g /C

cbahan = 0,888 kal/gC


Qbahan = mbahan.cbahan . (T3 T4)

= 24,1 g . 0,888 kal/gC . (80 39)C


= 24,1 . 0,888 . 41 kal
= 877,433 kal

B. Analisis Hasil Percobaan Panas Spesifik Tepung Beras


Massa tepung beras setelah pemansan
= (massa tepung beras + gelas beker setelah pemanasan) (massa gelas
beker)
= 120,3 g 97,6 g
= 22,7 g
Q = m.c.T
Qair

= m air .c air . (T4 T2)


= 100 g . 1 kal/gC . (39 31)C
= 100 . 8 kal
= 800 kal

Qkal

= m kal .c kal . (T4 T1)


= 123,9 g . 0,133 kal/gC . (38 34)C
= 123,9 . 0,133 . 4 kal
= 65,915 kal
Qbahan = Qair + Qkal

mbahan .cbahan. (T3 T4) = 800 kal + 65,915 kal


22,7 g . cbahan . (80 38)C

865,915 kal

22,7 g . cbahan . 42C =


cbahan =

865,915 kal
865,915 kal
953,4 g/C

cbahan = 0,908 kal/gC


Qbahan = mbahan.cbahan . (T3 T4)
= 22,7 g . 0,908 kal/gC . (80 38)C
= 22,7 . 0,908 . 42 kal
= 865,687 kal

LAMPIRAN

Gambar 1.1 Kompor Listrik

Gambar 1.2 Tepung Beras

Gambar 1.3 Penimbangan

Kalorimeter

Gambar 1.4 Kalorimeter

Gambar 1.5 Pengukuran Suhu Air

Gambar 1.6 Pemanasan Sampel