Anda di halaman 1dari 17

HITUNG JENIS

LEUKOSIT

OLEH :
SEMESTER IV
PUTU RINA WIDHIASIH
KOMANG OKTARINA PUTRI
LUH PUTU DEVI KARTIKA
A.A. LIDYA NIRMALA DEWI

(P07134014002)
(P07134014004)
(P07134014006)
(P07134014008)

I DEWA AYU RIANITA PUTRI

(P07134014010)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

I.

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Mahasiswa dapat mengetahui cara menghitung jenis-jenis leukosit

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

1. Mahasiswa dapat melakukan hitung jenis leukosit dengan baik dan benar
2. Mahasiswa dapat membedakan jenis-jenis leukosit
III. METODE
Diff count
IV. PRINSIP
Apusan darah diamati dengan mikroskop binokuler pada pembesaran objektif 100x dengan
penambahan oil imersi. Diff count dilakukan pada counting area dimana eritrosit menyebar
merata. Bentuk bentuk leukosit dihitung hingga 100 sel.
V. DASAR TEORI
1. Darah
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel
darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit. Volume darah
secara keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan atau kira-kira lima liter.
( Evelyn C. Pearce, 2006)
Fungsi utama darah dalam sirkulasi adalah sebagai media transportasi, pengaturan
suhu, pemeliharaan keseimbangan cairan, serta keseimbangan basa eritrosit. Warna merah
pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein) yang
mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekulmolekul oksigen. ( Evelyn C. Pearce, 2006)

2. Komposisi Darah
Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian dari
darah. Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan
darah yang disebut plasma darah.
a. Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99% dari jumlah korpuskula).

Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai
sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen.
Sel darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang
kekurangan eritrosit menderita penyakit anemia. Keping-keping darah atau trombosit
(0,6 - 1,0%), bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah.
b. Sel darah putih atau leukosit (0,2%)
Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk
memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal
virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap.
Orang yang kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang
kekurangan leukosit menderita penyakit leukopenia.
c. Plasma darah
Pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung : albumin, bahan pembeku darah,
immunoglobin (antibodi), hormon, berbagai jenis protein, berbagai jenis garam.
( Wikipedia, 2009 )
3. Leukosit
Leukosit memiliki bentuk khas, nukleus, sitoplasma dan organel, semuanya bersifat
mampu bergerak pada keadaan tertentu. Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem
pertahanan tubuh. Leukosit ini sebagian dibentuk di sumsum tulang (granulosit, monosit
dan sedikit limfosit) dan sebagian lagi di jaringan limfe (limfosit dan sel-sel plasma).
Setelah dibentuk sel-sel ini diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk
digunakan Kebanyakan sel darah putih ditranspor secara khusus ke daerah yang terinfeksi
dan mengalami peradangan serius (Guyton, 1983).
Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih. Dilihat
dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih mempunyai granula spesifik (granulosit),
yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan
mempunyai bentuk inti yang bervariasi, Yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya
homogen dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Granula dianggap spesifik bila
secara tetap terdapat dalam jenis leukosit tertentu dan pada sebagian besar precursor (pra
zatnya) (Effendi, 2003).
Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme
terhadap zat-zat asing. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses

diapedesis. Leukosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel
dan menembus kedalam jaringan penyambung. Bila memeriksa variasi Fisiologi dan
Patologi sel-sel darah tidak hanya persentase tetapi juga jumlah absolut masing-masing
jenis per unit volume darah harus diambil (Effendi, 2003).
4. Jenis-jenis Leukosit
a. Monosit
Monosit adalah sel darah putih yang berjumlah 1-3% dalam tubuh kita yang
merupakan baris kedua pertahanan tubuh kita terhadap infeksi bakteri dan benda
asing. Monosit adalah bagian dari kelompok sistem kekebalan tubuh kita yang tidak
mempunyai butiran halus dalam sel (granula). Dalam melawan infeksi bakteri dan
benda asing, monosit dapat melawan walaupun ukuran bakteri dan benda asing lebih
besar dengan memakannya.
Monosit beredar dalam darah sekitar 300-500 mikroliter darah yang diproduksi
didalam sumsum tulang manusia dan menyerbar keseluruh tubuh dalam 3 hari
dengan masuk ke jaringan tubuh tertentu yang mengalami pematangan menjadi
makrofag yang berfungsi sebagai kekebalan tubuh. Peningkatan jumlah monosit
disebut dengan monositosis, yang dapat dijumpai pada penyakit seperti parotitis,
herpes zoster, mononucleosis, infeksiosa, toksoplasmosis, hemolitik, arthrithis, dan
masih banyak lagi.
(1)

Fungsi Monosit
Menghancurkan sel-sel asing.
Mengangkat jaringan yang telah mati
Membunuh sel-sel kanker
Pembersih dari fagositosis yang dilakukan neutrofil
Meransang jenis sel darah putih yang lain dalam melindungi tubuh
Menunjukkan perubahan dalam kesehatan pasien dengan banyak sedikitnya monosit

dalam tubuh.
(2) Ciri-Ciri Monosit
Berjumlah 1-10% dalam sel darah putih
Mempunyai waktu hidup yang lebih lama dari neutrofil
Memiliki sifat fagosit dan motil dengan inti bulat
Monosit dapat bergerak atau berimigrasi dengan cepat
Memiliki bentuk yang persis sama dengan kacang
Beredar dalam darah sekitr 300-500 mikroliter
Tidak mempunyai butiran halus dalam sel (granula).

Peningkatan pada jumlah Monosit berhubungan dengan : Pemulihan dari infeksi


akut; Infeksi akibat virus (viral); Infeksi parasit; Penyakit kolagen; Kanker.
Sedangkan, penurunan pada jumlah Monosit berhubungan dengan : Inveksi HIV;
Rematik Artristis; Steroid; Kanker.
b. Basofil
Basofil adalah sel darah putih yang berjumlah 0,01-0,03% dari tubuh kita.
Basofil memiliki banyak granula sitoplasmik dengan jumlah dua lobus. Basofil
merupakan kelompok dari granulosit yang dapat bergerak keluar menuju ke jaringan
tubuh tertentu. Basofil akan bekerja disaat adanya reaksi alergi pada tubuh dengan
mengeluarkan histamin, sehingga pembuluh darah menjadi besar. Jumlah basofil
akan bertambah banyak atau meningkat jika meningkatnya jumlah alergi. Bertambah
banyak jumlah basofil disebut dengan basofilia.
(1) Fungsi Basofil
Basofil berfungsi memberi reaksi antigen dan alergi dengan mengaktifkan atau
mengeluarkan histamin sehingga terjadi peradangan
Mencegah adanya penggumpalan dalam pembuluh darah
Membantu dalam memperbaiki luka
Memperbesar pembuluh darah
(2) Ciri-Ciri Basofil
Bersifat fagosit, dan basa
Basofil biasanya berwarna biru
Berbentuk U dan berbintik-bintik
Basofil berdiameter sekitar 12-15 mikrometer
Berjumlah 0,01-0,3% pada sel darah putih
Granula yang kasar
Inti yang tidak bersegmen
Basofil dibentuk di sumsum tulang
Peningkatan pada jumlah Basofil berhubungan dengan : Kanker; Reaksi alergi;
dan Infeksi. Dan penurunan pada jumlah Basofil berhubungan dengan : Stress;
Beberapa alergi; dan Hipertiroidisme (gondok).
c.

Neutrofil
Neutrofil adalah Sel darah putih yang berjumlah 50-60% dalam darah yang
merupakan kelompok granulosit karna memiliki butiran halus (granula). Neutrofil

juga diakatakan sebagai polymorphonuclear dikarenakan selnya memiliki bentuk


yang aneh. dan memiliki 3 inti sel. Neutrofil adalah sel yang paling pertama
menghadang dan melawan bakteri, virus dan benda asing lainnya yang berperan
dalam proses peradangan. Dari sifat fagosit yang dimilikinya, neutrofil menyerang
dengan menggunakan serangan respiratori yang memakai berbagai macam substansi
yang mengandung hidrogen peroksida, oksigen radikal bebas, hipoklorit.
Neutrofil diproduksi dalam sumsum tulang dengan hasil produksi neutrofil
sekitar 100 milliar neutrofil dalam sehari, dan akan meningkat menjadi sepuluh kali
lipat jika terjadi inflamasi kuat. Setelah keluar dari sumsum tulang, akan mengalami
6 tahap morgolis, yakni mielocit, metameolocit, neutrofil non segmen (band),
neutrofil segmen.
(1) Fungsi Neutrofil
Menanggapi mikroba
Antibiotik dalam tubuh
Berfungsi dalam proses peradangan
Menghancurkan mikro organisme dan benda asing dengan memakannya atau

fagositosis
Sebagai sel pertahanan tubuh dalam melawan infeksi
Membantu menghapuskan stimulus yang berbahaya penyebab matinya sel

(nekrosis).
Membuat daerah yang kekurangan racun
(3) Ciri-Ciri Neutrofil
Mempunyai 3 inti sel
Berjumlah 50-60% dalam darah
Sebagai polymorphonuclear
Merupakan kelompok granulosit.
Bersifat fagosit
Hasil produksi neutrofil sekitar 100 milliar neutrofil dalam sehari
Neutrofil berukuran sekitar 8 mm
Memiliki waktu hidup sekitar 6-20 jam
d. Limfosit
Limfosit adalah sel darah putih berjumlah 20-25% dalam tubuh yang merupakan
jumlah terbanyak kedua setelah neutrofil. Limfosit dibentuk di dalam sumsum tulang
dan di limfa. Limfosit juga dibagi menjadi dua macam yakni limfosit kecil dan
limfosit besar. Hasil dari produksi limfosit 1 kubik kurang lebih 8000 sel darah putih.
jika sel tersebut mengalami peningkatan atau bertambah banyak maka akan

menyebabkan penyakit leukimia atau kanker darah. Limfosit terbagi atas 6 jenis
yakni Limfosit B, Sel T Helper, Sel T sitotoksit, Sel T memori, dan Sel T Supresor.
Limfosit B memproduksi antibodi, Sel T Helper mengaktifkan dan mengarahkan
sistem kekebalan tubuh mikroorganisme, Sel T Sitotoksit mengeluarkan bahan kimia
dalam menghancurkan patogen, Sel T memori sistem kekebalan tubuh dalam
mengetahui patogen tertentu. Sel T Supresor untuk melindungi sel normal tubuh.
(1)

(2)

Fungsi Limfosit
Menghasilkan antibodi
Mengaktifkan sistem kekebalan tubuh
Mengeluarkan bahan kimia dan menghancurkan pathogen
Melindungi sel normal tubuh
Mengetahui patogen tertentu
Berubah menjadi antibodi (sel Plasma)
Melawan kanker
Ciri-Ciri Limfosit
Limfosit berjumlah 20-25% dari keseluruhan sel darah putih
Dibentuk di dalam sumsum tulang dan limfa
Berinti sel satu
Tidak dapat bergerak dengan leluasa
Memiliki warna biru pucat
Berbentuk oval/bulat,
Tidak bergranula dan tidak motil
Peningkatan pada jumlah Limfosit berhubungan dengan : Infeksi virus;
Infeksi bakteri; Kanker. Penurunan pada jumlah Limfosit berhubungan dengan :
Steroid; imunodefisiensi; Gagal ginjal; Kanker; Lupus.

e.

Eosinofil
Eosinofil adalah sel darah putih berjumlah 7% dari dalam sel darah putih dan
mengalami peningkatan terkait dengan adanya asma, alergi dan demam. Eosinofil
memiliki diameter 10 hingga 12 mikrometer. Eosinofil merupakan kelompok dari
granulosit yang bertugas dalam melawan parasit yang memiliki jangka waktu 8
hingga 12 hari. Eosinofil memiliki sejumlah zat kimiawi seperti ribonuklease,
histamin, lipase, eosinofil peroksidase dan deoksribonuklease serta beberapa macam
asam amino.
(1) Fungsi Eosinofil
Mencegah alergi
Menghancurkan antigen antibodi

(2)

Berfungsi dalam menghancurkan parasit-parasit besar


Berperan dalam respon alergi
Ciri-Ciri Eosinofil
Mempunyai nukleus dengan jumlah dua lobus
Bersifat fagosit dan bersifat asam
Biasanya berwarna merah
Berbentuk mirip seperti bola, dengan berukuran 9 mm dalam segar
Memiliki diamter 10-12 mikrometer
Mempunyai jangka waktu hidup dengan 8 sampai 12 hari
Dibentuk di sumsum tulang
Granula kasar dan padat
Inti berada ditengah
Peningkatan pada jumlah eosinofil berhubungan dengan : Reaksi alergi; Parasit

infeksi; Infeksi kulit kronis; Kanker. Penurunan jumlah eosinofil berhubungan


dengan : Stress; Steroid (obat anti radang)

No Gambar

Keterangan

Neutrofil Stab/bend
Keberadaan: Bentuk sel: oval
atau bulat
Warna sitoplasma: pink
Bentuk inti: semicircular
Tipe kromatin: condensed

Nukleolus: tidak terlihat


2

Neutrofil Segmen
Bentuk sel: oval atau bulat
Warna sitoplasma: pink
Bentuk inti: obulated (normall
kurang dari 5 lobus)
Tipe kromatin: condensed
Nukleolus: tidak terlihat

Limfosit
Bentuk: bulat, kadang-kadang
oval
Warna sitoplasma: biru
Granularitas: tidak ada
Bentuk inti: bulat atau agak
oval
Tipe kromatin: homogen, padat
Nukleolus:

tidak

terlihat,

kadang-kadang hampir tidak terlihat ,


satu nukleolus kecil

Monosit
Monosit khas dengan sitoplasma biru
lembayung

yang

berisi

vakuola-

vakuola kecil.

Basofil
Sitoplasma: Berwarna agak merah
muda sampai tidak berwarna
Inti: tertutup granula. tampak seperti
bayangan, umumnya mempunyai 2-4
lobus.

Eusinofil
Sitoplasma: Dipenuhi oleh granula
besar, berwarna orange kemerahan Inti:
Umumnya tidak lebih dari 2 lobus.
Bentuk seperti kacamata. Kromatin :
kasar, clumping.

5. Diferential Count (Hitung Jenis Leukosit)

Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama dibuat sediaan apus darah yang
diwarnai dengan pewarna Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di bawah
mikroskop dan hitung jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Hitung jenis
leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan pembesaran 100x kemudian
dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis leukosit hapusan
darah tepi yang akan digunakan perlu diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis
sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak
boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak boleh bergerombol (Ripani,2010).
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit.
Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam
melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil.
Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi
dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari
masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel
maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/l).
Hitung jenis leukosit dapat dilakukan dgn alat diff-counter atau secara manual dari
tabel seperti :

Hasilnya dilaporkan sebagai :


Eosinofil / Basosil / Neutrofil Stab / Neutrofil Segmen / Limfosit / Monosit
4

59

27

Shift to the left : peningkatan neutrofil stab dengan atau tanpa leukositosis biasanya
terjadi pada infeksi bacterial.
Nilai normal hasil pemeriksaan darah tepi :

Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari
neutrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga
bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari satu lapangan ke lapangan lain.
Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%. Bila pada hitung jenis leukosit,
diperoleh eritrosit berinti lebih dari 10 per 100 leukosit, maka jumlah leukosit/l perlu
dikoreksi. Berikut ini merupakan beberapa hasil yang mungkin diperoleh pada hitung
jenis leukosit:
a.

Netrofilia
Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil melebihi nilai normal.
Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan logam berat,
gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan, kehilangan darah dan kelainan
mieloproliferatif.
Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi, seperti
penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas peradangan dan

pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus hemolyticus dan Diplococcus


pneumoniae menyebabkan netrofilia yang berat, sedangkan infeksi oleh Salmonella
typhosa dan Mycobacterium tuberculosis tidak menimbulkan netrofilia. Pada anakanak netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada penderita yang
lemah, respons terhadap infeksi kurang sehingga sering tidak disertai netrofilia.
Derajat netrofilia sebanding dengan luasnya jaringan yang meradang karena jaringan
nekrotik akan melepaskan leukocyte promoting substance sehingga abses yang luas
akan menimbulkan netrofilia lebih berat daripada bakteremia yang ringan. Pemberian
adrenocorticotrophic hormone (ACTH) pada orang normal akan menimbulkan
netrofilia tetapi pada penderita infeksi berat tidak dijumpai netrofilia.
Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan dilepasnya
granulosit muda keperedaran darah dan keadaan ini disebut pergeseran ke kiri atau
shift to the left.
Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai netrofilia
ringan dengan sedikit sekali pergeseran ke kiri. Sedang pada infeksi berat dijumpai
netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda. Infeksi tanpa netrofilia atau dengan
netrofilia ringan disertai banyak sel muda menunjukkan infeksi yang tidak teratasi
atau respons penderita yang kurang.
Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda degenerasi, yang
sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar dan gelap yang disebut
granulasi toksik. Disamping itu dapat dijumpai inti piknotik dan vakuolisasi baik
pada inti maupun sitoplasma
b. Eosinofilia
Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil melebihi nilai normal.
Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin yang dilepaskan pada
reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang menarik eosinofil.
Penyebab lain dari eosinofilia adalah penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi
parasit, kelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik
kronik.
c.

Basofilia

Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil melebihi nilai normal.
Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik.
Pada penyakit alergi seperti eritroderma, urtikaria pigmentosa dan kolitis ulserativa
juga dapat dijumpai basofilia. Pada reaksi antigen-antibodi basofil akan melepaskan
histamin dari granulanya.
d. Limfositosis
Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit
melebihi nilai normal. Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti
morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti tuberkulosis, sifilis,
pertusis dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti leukemia limfositik kronik dan
makroglobulinemia primer.
e.

Monositosis
Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit melebihi nilai normal.
Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti leukemia monositik
akut dan leukemia mielomonositik akut; penyakit kollagen seperti lupus eritematosus
sistemik dan reumatoid artritis; serta pada beberapa penyakit infeksi baik oleh
bakteri, virus, protozoa maupun jamur.
Perbandingan antara monosit : limfosit mempunyai arti prognostik pada
tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif, perbandingan antara
jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama dengan 1/3, tetapi pada
tuberkulosis aktif dan menyebar, perbandingan tersebut lebih besar dari 1/3.

f.

Netropenia
Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari nilai
normal. Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan yaitu
meningkatnya pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan pembentukan
netrofil dan yang terakhir yang tidak diketahui penyebabnya.
Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang memendek
karena drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin bekerja sebagai hapten dan
merangsang pembentukan antibodi terhadap leukosit. Gangguan pembentukan dapat
terjadi akibat radiasi atau obat-obatan seperti kloramfenicol, obat anti tiroid dan
fenotiasin; desakan dalam sum-sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak

diketahui sebabnya misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan
rickettisa; cyclic neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia.
g.

Limfopenia
Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari nilai
normal. Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit yang menurun seperti pada
penyakit Hodgkin, sarkoidosis; penghancuran yang meningkat yang dapat
disebabkan oleh radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis; dan kehilangan yang
meningkat seperti pada thoracic duct drainage dan protein losing enteropathy.

h. Eosinopenia dan lain-lain


Eosinopenia terjadi bila jumlah eosinofil kurang dari nilai normal. Hal ini dapat
dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan infeksi berat;
juga dapat terjadi pada hiperfungsi korteks adrenal dan pengobatan dengan
kortikosteroid.
Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan basofil,
sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian, jumlah
basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna dalam
klinik. Pada hitung jenis leukosit pada pada orang normal, sering tidak dijumlah
basofil maupun eosinofil.

VI. ALAT & BAHAN


A. Alat
1. Mikroskop binokuler
B. Bahan
1. Sediaan apus darah
2. Oil imersi
3. Tissue lensa
VII.CARA KERJA
1.
2.

Semua alat dan bahan yang diperlukan dipersiapkan


Mikroskop dihidupkan dengan menekan tombol on

3.

Sediaan apusan darah yang telah diwarna atau dicat diletakkan di atas meja

4.

mikroskop
Sediaan diamati pada pembesaran lensa objektif 10X untuk menemukan lapang

5.

pandang
Pembesaran lensa objektif diubah ke pembesaran 100X dengan penambahan oil

6.

imersi
Diamati sediaan apus darah, dicari daerah counting area (daerah pembacaan dimana

7.

pada daerah ini eritrosit tampak tersebar merata


Penghitungan jenis leukosit dilakukan pada counting area dengan penghitungan
sebanyak 100 sel leukosit, melipuiti basofil, eosinofil, neutrofil stab, neutrofil

8.

segmen, limfosit, dan monosit.


Hasil diff count dinyatakan dalam %

DAFTAR PUSTAKA
Andre. 2012. Perubahan Jumlah Leukositdan Hitung Jenis Leukosit Terhadap Jumlah Trombosit
Pada Penderita Dengan Dugaan Infeksi Dengue Yang Dirawat Di Departemen Ilmu
Penyakit Dalam R.S. Dr. Hasan Sadikin Fakultas Kedokteran Universitaspadjadjaran,
Bandung
[Online]
Tersedia
:
Perubahan_Jumlah_Leukosit_Dan_Hitung_Jenis_Leukosit_Terhadap_Jumlah_Trombosit_
Pada_Penderita_Dengan_Dugaan_Infeksi_Dengue_Yang_Dirawat_Di_Departemen_Ilmu
(Diakses : 5 Mei 2016; 10:03)
Anonim.2014.Fungsi Dan Ciri-Ciri Dari Jenis-Jenis Sel Darah Putih (Leukosit) [Online]
Tersedia:
Http://Www.Artikelsiana.Com/2014/12/Fungsi-Dan-Ciri-Ciri-Dari-JenisJenis.Html (Diakses : 5 Mei 2016; 10:01)
Dian Natalia, Dkk.2013.Jumlah Total Dan Diferensial Leukosit Mencit (Mus Musculus) Pada
Evaluasi In Vivo Antikanker Ekstrak Spons Laut Aaptos. [Online] Tersedia :
Http://Digilib.Its.Ac.Id/Public/Its-Undergraduate-13533-Paper-723939.Pdf (Diakses : 5
Mei 2016; 10:05)
Eka

Syam Putra . 2013. Macam-Macam Jenis Leukosit. [Online] Tersedia :


Http://Ekapakketu.Blogspot.Co.Id/2013/01/Macam-Macam-Jenis-Leukosit.Html (Diakses:
5 Mei 2016; 10:09)