Anda di halaman 1dari 27

BAB 3

PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Waktu pelaksaan Kerja Praktek dimulai dari tanggal 19 Maret – 27 April


2018 yang bertempat di PT. SEMEN PADANG Tbk. Indarung VI

3.2 Proses Pembuatan/Pengolahan


3.2.1 Bahan Baku dan Produk
3.2.1.1 Bahan Baku
1. Limestone (Batu Kapur CaCO3)
2. Clay (Tanah Liat Al2O3)
3. Iron sand (Pasir besi Fe2O3)
4. Silika (SiO2)

3.2.1.2 Produk
1. Portland Cement Type I
Dipakai untuk konstruksi umum yang tidak memerlukan
persyaratan khusus terhadap panas hidrasi dan kekuatan tekan
awal. Lebih tepat digunakan pada tanah dan air yang mengandung
sulfat 0.0%-0.10% dapat juga digunakan untuk bangunan rumah
pemukiman, gedung-gedung bertingkat, dan lain-lain
2. Portland Cement Type II

Lebih tepat digunakan untuk konstruksi bangunan yang


terbuat dari beton massa yang memerlukan ketahanan sulfat lebih
tinggi (pada lokasi tanah dan air yang mengandung sulfat antara
0.10%-0.20%) dan panas hidrasi sedang, misalnya bangunan
dipinggir laur, bangunan di tanah rawa, saluran irigasi, beton massa
untuk dam-dam dan landasan jembatan.

18
19

3. Portland Cement Type V


Lebih tepat digunakan untuk konstruksi bangunan-
bangunan pada tanah atau air yang mengandung sulfat >0.20% dan
sangat cocok untuk instalasi pengolahan limbah pabrik, konstruksi
dalam air, jembatan, terowongan, pelabuhan, dan pembangkit
tenaga nuklir.
4. Super Masonory Cement
Semen ini lebih tepat digunakan untuk konstruksi
perumahan gedung, jalan dan irigasi yang struktur betonnya
maksimal 225. Dapat juga digunakan untuk bahan baku pembuatan
genteng beton, hollow brick, paving block, tegel, dan bahan
bangunan lainnya.
5. Oil Well Cement
Merupakan semen khusus yang lebih tepat digunakan untuk
pembuatan sumur minyak bumi dan gas alam dengan konstruksi
sumur minyak bawah permukaan laut dan bumi. Untuk saat ini
jenis OWC yang telah diproduksi adalah class G, HSR (high Sulfat
Resistance) disebut juga sebahai “BASIC OWC”. Bahan
additive/tambahan dapat ditambahkan/ dicampurkan hingga
menghasilkan kombinasi produk OWC untuk pemakalan pada
berbagai kedalaman dan temperatur.
6. Portland Pozzolan Cement
Adalah semen hidrolid yang dibuat dengan menggiling
terak, gypsum dan bahan pozzolan. Produk ini lebih tepat
digunakan untuk bangunan umum dan bangunan yang memerlukan
ketahanan sulfat dan panas hidrasi sedang, seperti : jembatan, jalan
raya, perumahan, dermaga, beton massa, bendungan, bangunan
irigasi dan pondasi pelat penuh.

Universitas Pamulang
20

3.2.2 Deskripsi Proses

1. Tahap penambangan bahan mentah (quary). Bahan dasar semen


adalah batu kapur, tanah liat, pasir besi, dan pasir sicilia. Bahan
baku yang biasanya di tambang sendiri yaitu limestone dan silica.
bahan baku dan bahan tambahann seperti iron sand, clay, gypsum,
pozzoland ini dibeli. Limestone ini ditambang dengan cara
peledakan. Setelah itu limestone tersebut dimasukkan kedalam alat
crusher untuk memperkecil ukurannya setelah di perkecil,
material-material tersebut ditransport menggunakan alat transport
long belt yang kapasitasnya 2.200 ton/jam dan dimasukkan
bersamaan dengan bahan baku lainnya kedalam masing-masing
storage (penyimpanan).
2. Dari storage limestone, limestone ini dimasukan ke dalam hopper
limestone dengan bantuan alat penarikan distorage yaitu Bridge
Reclaimer dan ditransport ke dalam hopper limestone dengan
menggunakan alat transport belt conveyor. Begitu juga dengan
silica, iron sand dan clay bedanya hanya pada alat penarikannya
saja. Untuk silica menggunakan alat penarikan yaitu Side
Reclaimer, untuk iron sand menggunakan Loader dan untuk clay
menggunakan Bucket Chain Reclaimer (BCR).
3. Dari masing-masing hopper, bahan baku tersebut diumpankan
dengan menggunakan Dosimat Feeder dan ditransport
menggunakan belt conveyor dan dimasukan kedalam Raw Mill.
Pada saat sebelum masuk kedalam raw mill bahan baku tersebut
melewati alat Magnetik Separator yang terdapat diatas belt
conveyor alat tersebut berfungsi untuk memisahkan/menarik besi
yang terdapat pada bahan baku agar tidak terbawa kedalam raw
mill.
4. Didalam raw mill bahan baku tersebut digiling. Hasil dari
penggilingan di raw mill disebut dengan raw mix. Raw mix tersebut
ditarik oleh fan untuk masuk kedalam cyclone. Didalam raw mill

Universitas Pamulang
21

terdapat alat separator yang berfungsi untuk memisahkan raw mix


kasar dan raw mix halus. Untuk raw mix halus akan dimasukan
kedalam cyclone dan untuk raw mix kasar biasa disebut dengan
reject akan digiling kembali bersamaan dengan material yang baru.
Raw mix yang halus tersebut dimasukkan kedalam cyclone, cyclone
ini berfungsi untuk memisahkan gas dan raw mix (produk). Raw
mix (produk) nya jatuh dan ditranspot menggunakan air slide untuk
dimasukkan kedalam CF Silo dan udaranya dibuang ke cerobong.
Sebelum dibuang kecerobong gas panas tersebut dialirkan ke Bag
House Filter (BHF). BHF ini berfungsi untuk menyaring udara
sebelum dibuang kecerobong.
5. Raw mix yang berada di CF Silo tersebut turun ke Dld Tank
(tempat penampungan sementara) dan diumpankan ke preheater
(pemanasa awal). Pemanasan dipreheater ini menggunakan bahan
bakar fine coal. Fine coal adalah hasil penggilingan raw coal
didalam coal mill. Di preheater ini terjadi proses kalsinasi dari
proses kalsinasi ini terbentuklah oksida-oksida pembentuk clinker.
Proses kalsinasi tersebut sebagai berikut :
CaCo3  CaO + CO2
6. Bahan baku dari preheater ini kemudian dimasukkan kedalam
rotary kiln. Di rotary kiln ini biasa disebut dengan pemanasan
finishing. Di rotary kiln terjadi proses kalsinasi lanjutan suhu
pemanasannya mencapai 1400ºC. di kiln ini terjadi reaksi-reaksi
logam sehingga terbentuk mineral-mineral baru, yaitu :
 C3S (3CaO. SiO2)
 C2S (2CaO. SiO2)
 C3A (3CaO. Al2O3)
 C4AF (4CaO. Al2O3.Fe2O3)
 Mineral-mineral ini biasa disebut dengan Clinker.

Universitas Pamulang
22

7. Kemudian clinker ini didinginkan dengan menggunakan alat


crossbar cooler hingga suhunya 100ºC. Di crossbar cooler ini
memilki 10 fan yang berfungsi untuk mendinginkan clinker
tersebut. Dan dibagian ujung dari crossbar cooler ini terdapat alat
crusher berfungsi untuk mengecilkan ukuran dari clinker
barangkali masih ada ukuran clinker yang ukurannya masih besar.
Setelah itu clinker ini ditransport menggunakan alat pan conveyor
untuk dimasukkan ke dalam Clinker Silo. Untuk clinker bagus
dimasukkan ke dalam clinker silo dan untuk clinker yang kurang
bagus dimasukkan kedalam Unburn Silo. Di unburn silo ini clinker
tidak dibuang tetapi disimpan jikalau pabrik indarung I , II, III, IV,
dan V membutuhkannya.
8. Dari clinker silo ini, clinker ditransport menggunakan air slide
menuju Cement mill. Di cement mill ini clinker digiling bersamaan
dengan bahan tambahan (Gypsum dan Pozzoland). Di cement mill
ini juga terdapat separator yang berfungsi untuk memisahkan
semen halus dan semen kasar. Untuk semen halus ditarik
menggunakan fan dan masuk kedalam cement silo sedangkan
untuk semen yang kasar digiling kembali.
9. Dari cemen silo ini semen ditransport ke Bin cement. Semen ini
dipacking dan dijual ke konsumen.

Universitas Pamulang
23

3.2.3 Diagram Alir Proses

Gambar 3.1 Proses Pembuatan Semen Pabrik Indarung VI

Universitas Pamulang
24

3.3 Spesifikasi Alat

3.3.1 Spesifikasi Alat Utama

Dalam proses pembuatan semen terdapat alat-alat utama dalam proses


pembuatannya, yaitu :

3.3.1.1 Raw Mill

Gambar 3.2 Raw Mill


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Spesifikasi raw mill yang digunakan di PT. Semen Padang Indarung VI :

1. Kapasitas - 750 THP (dry basis)


2. Tipe mill : OK Mill 54-6R
3. Air Separator RAR-M 70
4. Feed Size Limit : 0% > 140 mm, max 2% > 90 mm
5. Feed Moisture : max 15%
6. Memiliki 6 buah roller

Universitas Pamulang
25

3.3.1.2 Rotary Kiln

Gambar 3.3 Rotary kiln


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Spesifikasi kiln yang digunakan di PT. Semen Padang Indarung VI :

1. Kapasitas Operasi Kiln – 8.000 TPD


2. Kapasitas Desain Kiln – 9.000 TPD
3. Panjang – 86 m
4. Diameter – 5.5 m
5. Memiliki 3 pondasi, 3 roda dan 3 tyre
6. Kemiringan : 4º
7. Kecepatan 3-5 rpm

Universitas Pamulang
26

3.3.1.3 Coal Mill

Gambar 3.4 Coal Mill


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Spesifikasi coal mill yang digunakan di PT. Semen Padang Indarung VI :

1. Kapasitas Coal Mill – 80 TPH


2. 1 unit Bag House Filter
3. Konsumsi Power 30 kWh/ton
4. Memiliki 3 buah roller

3.3.1.4 Crossbar Cooler

Gambar 3.5 Crossbar Cooler


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Universitas Pamulang
27

Spesifikasi crossbar cooler yang digunakan di PT. Semen Padang


Indarung VI :

1. Kapasitas Desain – 9.000 TPD


2. Klinker Crushing
3. Suhu klinker keluaran cooler harus 65ºC diatas suhu kamar
4. Heat Recoperation 78%
5. Mempunyai 10 fan
6. 1 Unit Elektrostatic Precipitator
7. Power Consumption 22 kWh/ton klinker

3.3.1.5 Cement Mill

Gambar 3.6 Cement Mill


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Spesifikasi cement mill yang digunakan di PT. Semen Padang Indarung VI


:

1. Kapasitas cement mill – 2 × 250 TPH


2. High Efficiency Classifier
3. 1 Unit Bag House Filter
4. Power Consumption 26 kWh/ton
5. Memiliki 4 buah roller

Universitas Pamulang
28

3.3.2 Alat Pendukung Operasi

3.3.2.1 Hopper

Gambar 3.7 Hopper


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Hopper adalah alat yang digunakan untuk tempat penampungan sementara


dari material yang nantinya akan digunakan untuk pembuatan semen, seperti
limestone, silica, clay, dan iron sand. Prinsip kerja dari hopper yaitu untuk
mempermudah aliran padatan keluar dengan bantuan alat dosimat feeder sebagai
alat penimbang berapa banyak material yang akan diumpankan ke dalam raw mill.

Universitas Pamulang
29

3.3.2.2 Cyclone

Gambar 3.8 Cyclone


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Cyclone Separator adalah alat yang menggunakan prinsip gaya sentrifugal


dan tekanan rendah karena adanya perputaran untuk memisahkan material
berdasarkan perbedaan masa jenis dan ukuran.

Prinsip kerja cyclone :

1. Gas atau aliran fluida di injeksikan melalui pipa input.


2. Bentuk kerucut cyclone menginduksikan aliran gas atau fluida untuk
berputar, menciptakan vortex.
3. Partikel dengan ukuran atau kerapatan yang lebih besar didorong ke arah
luar vortex.
4. Gaya gravitasi menyebabkan partikel-partikel tersebut jatuh ke sisi kerucut
menuju tempat pengeluaran.
5. Partikel dengan ukuran atau kerapatan yang lebih kecil keluar melalui
bagian atas dari cyclone melalui pusat yang bertekanan rendah.
6. Cyclone membuat suatu gaya sentrifugal yang berfungsi untuk
memisahkan partikulat dari udara kotor.
7. Gaya sentrifugal timbul saat partikulat didalam udara masuk ke puncak
kolektor silindris pada suatu sudut dan diputar dengan cepat mengarah

Universitas Pamulang
30

kebawah seperti pusaran air. Aliran udara mengalir secara melingkar dan
partikulat yang berat mengarah kebawah setelah menabrak ke arah dinding
cyclone dan meluncur kebawah.

3.3.2.3 Gas Conditioning Tower (GCT)

Gambar 3.9 Gas Conditioning Tower


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Gas Conditioning Tower adalah auxiliary equipment di pabrik semen yang


digunakan untuk menurunkan temperature gas panas dari preheater yang akan
menuju electrostatic precipitator (EP). Pengkondisian ini dilakukan untuk
meningkatkan dewpoint gas yang menjadi parameter penting bagi performance
EP. Selain itu penuruna temperature akan meningkatkan humidity/moisture dan
resistivitas gas sehingga meningkatkan efisiensi penangkapan dust particle yang
terbawa oleh gas.

Prinsip kerja GCT sebagai berikut :

1. Berfungsi untuk mengkondisikan temperature gas sebelum masuk Bag


House Filter (BHF) 110ºC - 140ºC.

Universitas Pamulang
31

2. Gas didinginkan dengan water spray lance (campuran air dan udara tekan)
yang ditembakkan melalui nozzle yang terdapat pada spray lance.
3. Spray air yang terjadi di dalam GCT akan membentuk kabut yang
bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan total air sehingga
kecepatan perpindahan panasnya juga akan meningkat.
4. Sebagian debu akan tertangkap butiran air dan ditampung di dalam dust
hopper untuk transport ke system.

3.3.2.4 Bag House Filter (BHF)

Gambar 3.10 Bag House Filter


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Bag House Filter adalah alat Dedusting (pengumpul debu) yang sering
digunakan di pabrik semen. Banyak bag filter yang digunakan untuk Dedusting.
Bag filter merupakan alat dedusting yang paling efektif dari beberapa jenis dust
collector. Bag filter dapat menyaring 99% debu halus yang bercampur udara
panas. Efisiensi bag filter yang tinggi disebabkan oleh media yang digunakan
untuk menangkap debu. Bag filter menggunakan cloth bag sebagai media
penangkap debu. Udara yang tercampur debu dimasukan kedalam bag house

Universitas Pamulang
32

dengan memanfaatkan hisapan fan. Udara akan melewati cloth bag, sedangkan
debu yang terbawa udara akan tertahan oleh cloth bag. Udara yang akan tertahan
cloth bag selanjutnya akan dijatuhkan dan akan dimasukkan ke transport produk.

Prinsip kerja BHF, sebagai berikut :

1. Udara kotor masuk melalui bagian kiri bawah bag filter.


2. Kemudian masuk ke tabung filter, dimana udara akan disaring
3. Sebagian besar partikel debu yang besar akan jatuh ke dalam draig
chain dan ditransport menggunakan air slide untuk masuk ke
dalam CF silo.
4. Sedangkan partikel yang kecil akan menempel pada dinding filter.
5. Setelah melalui filter udara akan mengalir ke atas memasuki ruang
udara bersih dan terus keluar melalui outlet bagian kanan atas.

3.3.2.5 Cerobong (Stack)

Gambar 3.11 Cerobong


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Cerobong adalah alat yang berfungsi sebagai ventilasi pembuangan gas


panas atau asap yang dihasilkan dari proses industri. Cerobong asap biasanya
tersusun secara vertikal atau mendekati vertikal, dalam arti secara vertikal.Pada

Universitas Pamulang
33

umumnya cerobong asap dapat dijumpai pada industri-industri atau yang biasa
dikenal stack.

3.3.2.6 Elektrotatic Precipitator (EP)

Gambar 3.12 Elektrostatic Precipitator


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Eletrostatic precipitator (EP) adalah alat yang digunakan untuk


menangkap partikel-partikel (misalnya debu) dengan menggunakan prinsip
elektrostatik. Dari asal katanya, precipitator adalah alat yang digunakan untuk
mengendapkan sesuatu. Sedangkan elektrotatic adalah sebuah fenomena listrik
dimana muatan listrik berpindah dari satu potensial tinggi ke potensial rendah
tanpa adanya bagian yang bergerak.

Prinsip kerja electrostatic precipitator (EP), sebagai berikut :

1. Melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik yang
terbentuk antara discharge electrode dengan collector plate, flue gas yang
mengandung butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada saat
melewati medan listrik, partikel debu tersebut akan terionisasi sehingga
partikel debu tersebut menjadi bermuatan negative (-).

Universitas Pamulang
34

2. Partikel debu yang bermuatan negative (-) selanjutnya menempel pada


pelat-pelat pengumpul (collector plate). Debu yang dikumpulkan di
collector plate dipindahkan kembali secara periodic dari collector plate
melalui suatu getaran (rapping). Debu ini kemudian jatuh ke bak
penampung, dan dipindahkan (transport) ke ash silo dengan cara
dihembuskan (vacuum).

3.3.3 Alat Penarikan Material


3.3.3.1 Bridge Scraper

Gambar 3.13 Bridge Scraper


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Bridge Scraper adalah alat penarikan material, dimana alat tersebut


beroperasi dengan dua pile. Satu pile ditumpuk sewaktu pile yang lainnya ditarik.
Material yang memasuki storage dengan belt conveyor di discharge dari stacker
yang bergerak dengan kecepatan tertentu sepanjang storage pada relnya. Jaraknya
di atas puncak pile dijaga minimum untuk mengurangi emisi debu.

Keuntungan bridge scraper adalah :

1. Cocok untuk material yang kering sampai tingkat stick sedang.


2. Pengumpanan langsung ada free flowing material.
3. Penyetelan dapat dilakukan dengan efisien untuk bahan mentah yang
komposisi kimiannya bervariasi dalam rentang waktu yang panjang.
4. Kapasitas storage dapat dinaikan.

Universitas Pamulang
35

3.3.3.2 Side Reclaimer

Gambar 3.14 Side Reclaimer


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Side Reclaimer adalah alat penarikan material dengan scraper chain yang
mengambil satu lapisan pada satu waktu dari pile. Scraper chain dipasang blade
yang membawa material ke discharge point outgoing conveyor.

Side Reclaimer digunakan pada storage untuk material bulk yang relative
kecil. Stockpile ditempatkan dalam posisi memanjang. Penarikan pada satu pile
dilakukan sementara cone shell stacking pada pile yang lain.

Material memasuki storage dengan belt conveyor. Titik dischargenya


dijaga dekat dengan puncak pile untuk mengurangi emisis debu. Alternative lain
untuk stacking adalah dengan menggunakan tripper car.

Keuntungan side reclaimer adalah :

1. Cocok untuk material yang sticky.


2. Tipe material yang berbeda dapat ditumpuk (stack) dan ditarik
(reclaim) dari pile yang terpisah.
3. Penggunaan ruangan yang optimum dapat dicapai dengan
menggunakan tripper.
4. Kapasitas storage dapat dengan mudah diperbesar.

Universitas Pamulang
36

3.3.3.3 Bucket Chain Reclaimer (BCR)

Gambar 3.15 Bucket Chain Reclaimer (BCR)


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Bucket Chain Reclaimer (BCR) adalah alat penarikan material di desain untuk
sticky bulk material. Storage biasanya memiliki dua stacking bridge, masing-
masing pada ujung storage. Materil masuk ke storage dengan belt conveyor pada
satu sisi storage. Kemudian material di discharge ke upper conveyor pada
stacking bridge dan dilanjutkan ke lower conveyor yang bisa bergerak bolak balik
yang menumpuk material dalam arah longitudinal sesuai dengan metode windrow.

Sistem bucket chain yang dilengkapi dengan scraper arm, ditahan pada
kemiringan tertentu dari bridge girders. Mulai dari pit-wall, kedalaman potong
material ditentukan dengan menggerakan reclaimer dalam arah longitudinal ke
pile. Kemudian material ditarik pada permukaan pile secara penuh ketika sistem
scraper chain bergerak ke pit-wall yang satu lagi. Potongan baru dalam arah
longitudinal telah dibuat pada sistem scraper chain bergerak kearah yang
berlawanan.

Universitas Pamulang
37

Keuntungan bucket chain reclaimer adalah :

1. Cocok untuk material yang sangat sticky.


2. Sistem yang ekonomis untuk storage yang besar di desain untuk
pengumpanan langsung pada mill.
3. Penggunaan ruangan yang optimum dan atap mudah dipasang.

3.3.4 Alat Trasportasi


3.3.4.1 Belt Conveyor

Gambar 3.16 Belt Conveyor


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Belt Conveyor adalah alat trasportasi yang cukup sederhana yan digunakan
untuk mengangkut unit atau curah dengan kapasitas besar. Alat tersebut dari
sabuk yang tahan terhadap pengangkutan benda padat. Sabuk yang digunakan
pada belt conveyor ini dapat dibuat dari berbagai jenis bahan. Misalnya dari karet,
plastik, kulit atapun logam yang tergantung dari jenis dan sifat bahan yang akan
diangkut. Untuk mengangkut bahan-bahan yang panas, sabuk yang digunakan
terbuat dari logam yang tahan terhadapt panas.

Fungsi belt conveyor adalah :


1. Kontruksi arah pengangkutan horizontal.
2. Kontruksi arah pengangkutan diagonal/miring.
3. Kontruksi arah pengangkutan horizontal dan diagonal

Universitas Pamulang
38

Prinsip kerja nya yaitu material masuk melalui inlet chute dan diangkut
dengan belt. Drive pulley digerakan oleh motor sehingga belt akan bergerak akibat
adanya gaya gesek belt dengan drive pulley.

3.3.4.2 Air Slide

Gambar 3.17 Air Slide


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Air Slide adalah alat transportasi yang digunakan pada material halus
untuk pengangkutan dari ketinggian tertentu. Alat ini dipasang dengan kemiringan
tertentu (sekitar 6-12º). Air slide terdiri dari box memanjang dengan sekat
mendatar oleh bahan porous yang terbuat dari canvas atau keramik.

Prinsip kerja air slide yaitu material di transport dalam bentuk powder
kering. Fan akan meniupkan udara melalui kamar (box) bagian bawah dan
menembus canvas sehingga material akan terfluidisasi.

Universitas Pamulang
39

3.3.4.3 Drag Chain

Gambar 3.18 Draig Chain


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Draig Chain adalah alat yang digunakan untuk mentransportasikan


material baik powder maupun granular. Penggunaannya pada jarak pendek dan
tahan terhadap material dengan tempetatur tinggi hingga 650ºC. Drag chain
biasanya dipasangkan casing tertutup sehingga lebih cocok untuk penggunaan
material berupa powder. Kelemahan dari drag chain adalah sifatnya yang mudah
haus karena sering terjadi gesekan baik antara material dengan chain, chain
dengan bottom liner dan wear block atau rail. Penggunaan chain biasanya pada
material dengan densitas yang lebih rendah.

Universitas Pamulang
40

3.3.4.4 Bucket Elevator

Gambar 3.19 Bucket Elevator


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Bucket Elevator adalah suatu alat untuk memindahkan bahan yang arahnya
vertical, atau tinggi. Alat ini terdiri atas rantai yang tidak berujung. Bucket
elevator digunakan untuk mentranfer material dari permukaan tanah ketinggian
tertentu. Ini terdiri dari sabuk katun atau karet yang berjalan pada 1 pulley drive
dibagian atas dan katrol yang satu lagi didorong, yang dibagian bawah didalam
casing palsu. Sabuk dilengkapi dengan ember dibeberapa interval tertentu. Bucket
mengangkat bahan dari permukaan ketingkat yang lebih tinggi dan ember
dikosongkan sementara bergerak disekitar katrol atas oleh tindakan sentrifugal.

Prinsip kerja bucket elevator yaitu material masuk melalui bagian loading
dan masuk kedalam bucket. Bucket bergerak ke atas karena rantai atau belt yang
dihubungkan dengan motor. Pada bagian atas material akan terlempar keluar
akibat ada gaya sentrifugal ketika bucket berputar balik.

Universitas Pamulang
41

3.3.4.5 Screw Conveyor

Gambar 3.20 Screw Conveyor


(Sumber : Indarung VI, 2018)

Screw Conveyor adalah alat yang berfungsi untuk mentransfer material


yang didalam alat ini terdapat continuous spiral flight yang terikat dalam satu
shaft dan dimasukan dalam pipa. Alat ini terdiri dari baja yang memiliki spiral
atau helical fin yang tertancap pada shaft dan berputar dalam suatu saluran
berbentuk U (trough) tanpa menyentuhnya sehingga helical fin mendorong
material ke trough. Conveyor dibuat dengan ukuran panjang 8-12 ft yang dapat
bersatu untuk memperoleh panjang tertentu. Dimeternya bervariasi dari 3-24 in.

Prinsip kerjanya yaitu material masuk pada bagian feedchute. Material


terdorong kedepan akbat adanya putaran pada screw flight, screw flight berputar
dikarenakan adanya putaran shaft yang berasal dari motor.

Universitas Pamulang
42

3.4 Utilitas

3.4.1 Unit Utilitas

3.4.1.1 Penyediaan Air

Air yang digunakan untuk kebutuhan proses dan keperluan rumah tangga
diperoleh dari sungai didaerah Rasak Bungo. Sebelum digunakan untuk
proses maupun keperluan rumah tangga dan kantor air diolah terlebih dahulu,
dimana proses pengolahan air ini meliputi proses sedimentasi, filtrasi, dan
flokulasi. Air dialirkan melalui kanal untuk mengalami proses pengendapan
partikel besar yang dapat mengendap dengan sendirinya, kemudian disaring
menggunakan saringan mikro strainer sebelum masuk ke bak penampungan.
Saringan mikro strainer digunakan untuk menyaring kotoran yang tidak
terendapkan di kanal.

Untuk air domestik, sebelum digunakan terlebih dahulu dilakukan


treatmen dengan cara memompakan air kedalam mixing chamber. Didalam
mixing chamber ditambahkan aluminium sulfat dan natrium karbonat yang
berperan sebagai flokulator yaitu menggumpalkan partikel tersuspensi yang
akan mengendap secara gravitasi (proses flokulasi). Kemudian ditambahkan
klorin sebagai desinfektan untuk membunuh bakteri yang terdapat dalam air
serta dipompakan kedalam bak sedimentasi. Setelah pengendapan sempurna,
air dipompakan menggunakan saringan pasir (sand filter) sehingga air dapat
digunakan untuk proses maupun keperluan rumah tangga.

3.4.1.2 Penyediaan Tenaga Listrik

PT. Semen Padang hampir seluruh alat produksi dan penerangan


membutuhkan energi listrik kecuali proses pembakaran untuk memenuhi
kebutuhan energi listrik yang tinggi, PT. Semen Padang mendapat supply
energi listrik dari :

Universitas Pamulang
43

1. Pembangkit Tenaga Listrik Sendiri

a. PLTA

PLTA Kuranji 
PLTA ini dibangun pada tahun 1929 dan diperbaharui tahun 1994.
berlokasi sekitar 5,2 km dari pabrik. Mempunyai tiga unit
generator dan tiga unit turbin. Airyang dibutuhkan diperoleh dari
bendungan yang dibuat di sungai Padang Jernih.

PLTA Rasak Bungo


PLTA ini di bangun pada tahun 1970 untuk memenuhi kebutuhan
listrik di Indarung I berlokasi 1,7 km dari pabrik. Mempunyai dua
unit turbin dan unit generator. PLTA ini menggunakan air yang
dibendung dari sungai Lubuk Paraku dan sungai Air Baling.
Listrik yang dihasilkan digunakan untuk pertambangan di bukit
Ngalau yang ditransmisikan melalui kabel bawah tanah.

b. PLTD

PLTD I (1929-1974)
PLTD ini terdiri dari dua unit pembangkit daya yang dihasilkan
adalah 2 X3000 kVA.

PLTD II (1978-sekarang)
Terletak di pabrik Indarung II, yang terdiri dari tiga unit
pembangkit. PLTD ini pada umumnya digunakan untuk keperluan
Indarung I, III, IV serta untuk perumahan. Daya yang dihasilkan
adalah 3 X 6250 kVA.
2. Sumber Tenaga Listrik PLN

Tenaga listrik dari PLN diperlukan untuk kebutuhan untuk pabrik


Indarung II, III, IV, V dan VI. Tenaga listrik dari PLN berasal dari
PLTA Maninjau yang ditransmisikan ke Indarung.

Universitas Pamulang
44

3. Penyediaan Bahan Bakar


a) Bahan Bakar Batu Bara
Untuk memudahkan dalam penggunaannya, batu bara digiling
mencapai kehalusan sekitar 15-25% residu diatas ayakan 90µ dan
dikeringkan sampai kadar airnya sekitar 3-5%.

b) Bahan Bakar Solar


Bahan bakar solar yang dipakai untuk proses pembakaran dalam
kiln digunakan sebagai bahan penambah pembakaran pendahuluan,
bahan bakar ini diganti dengan batu bara untuk pembakaran
selanjutnya, Bahan bakar solar juga dipakai sebagai bahan bakar
pada PLTD yang digunakan oleh PT Semen Padang.

Universitas Pamulang