Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PEMICU 5 BLOK 13

KOMPROMIS MEDIS

Oleh:
Kelompok 5
Dosen Pembimbing:
Drg. Nurdiana, Sp. PM
Prof. dr. Malayana, Sp. PK
dr. Dairion Gatot, Sp. PD, KHOM

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
Ketua : Clarinta Simangunsong (170600201)
Sekretaris : Theresia Octavia Butar Butar (170600204)
Anggota :
Nadiyah Atika Putri (170600041)
Khoirunissa (170600042)
Gieska Lailarahma (170600043)
Vidi Putri Kurnia (170600044)
Amalia Retno Giantyana (170600046)
Jessica Angelita Claudia Br. Sinulingga (170600047)
Ummu Mahfuzzah Nur Salam (170600048)
Ayu Mayang Sari Rangkuti (170600049)
Nova Sarah Diba (170600050)
Erick Kho (170600202)
Febby Maulina (170600205)
Nada Fairuzia Soadi (170600206)
Melli Fiary Panjaitan (170600207)
Nurhalijah (170600208)
Assajdah Nasution (170600209)
Sofia Honora Sinaga (170600210)
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-
Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan tepat waktu. Makalah ini
berjudul “Kompromis Medis”
Kami mengucapkan terima kasih kepada fasilitator kami sehingga kami bisa
menemukan titik tengah dari permasalahan kami. Terima kasih juga kepada seluruh anggota
kelompok yang telah membantu supaya makalah ini bisa selesai tepat pada waktunya.
Makalah ini berisi kesimpulan yang kami dapat selama melakukan simulasi dalam
pemicu 5. Dalam makalah ini, kami memaparkan tentang Penatalaksanaan pencabutan gigi
pada pasien dengan penyakit sistemik anemia defisiensi besi. Kami berharap makalah ini bisa
bermanfaat bagi para pembaca. Kami yakin makalah ini masih ada banyak kekurangan maka
dari itu kami berharap kritik dan saran pembaca terhadap makalah kami.

Medan, 07 Mei 2019

Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari
normal. Anemia Defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi
dalam darah, artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya
pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi dalam darah. Jika
simpanan zat besi dalam tubuh seseorang sudah sangat rendah berarti orang tersebut
mendekati anemia walaupun belum ditemukan gejala-gejala fisiologis. Simpanan zat besi
yang sangat rendah lambat laun tidak akan cukup untuk membentuk sel-sel darah merah di
dalam sumsum tulang sehingga kadar hemoglobin terus menurun di bawah batas normal,
keadaan inilah yang disebut anemia gizi besi.
Menurut Evatt, anemia Defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh berkurangnya
cadangan besi tubuh. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya saturasi transferin,
berkurangnya kadar feritin serum atau hemosiderin sumsum tulang. Secara morfologis
keadaan ini diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan
kuantitatif pada sintesis hemoglobin. Manifestasi pada rongga mulut berupa atropik
glossitis, mukosa pucat, dan angular cheilitis. Atropik glossitis, hilangnya papila lidah,
menyebabkan lidah lunak dan kemerahan yang menyerupai migratoriglossitis.

1.2 Deskripsi Topik


Laki-laki 22 tahun dengan keluhan gigi geraham kanan bawah yang sudah rusak dan
sering sakit. Pasien meminta giginya untuk dicabut. Keadaan umum pasien terlihat lemas dan
lesu. Pada pemeriksaan riwayat penyakit sistemik pasien menyangkal menderita penyakit
tertentu. Pasien juga menyangkal adanya riwayat pendarahan. Pemeriksaan ekstra oral
dijumpai kulit pucat dan palpebra inferior pucat. Pemeriksaat intra oral ditemukan atrofi papilla
filiformis di anterior lidah, gigi 16 radiks dan indikasi untuk dilakukan ekstraksi. Pasien
dicurigai menderita anemia.

1.3 Learning Issue


1. Kelainan darah
2. Prosedur diagnosis penyakit mulut
3. Penatalaksanaan oral pada pasien kelainan darah
BAB II
PEMBAHASAN

1. Jelaskan pemeriksaan penunjang pada pasien tersebut!


More info :
Setelah dilakukan pemeriksaan penunjang didapatkan hasil laboratorium sebagai
berikut :
Hb = 10 g/Dl
Sel darah merah = 4,6 juta/mm3
Sel darah putih = 8.200/mm3
LED = 10 mm/jam
Trombosit = 310.000/mm3
Hematokrit = 27 vol%
MCV = 71 fL
MCH = 20 pg
MCHC = 30g/Dl

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan darah lengkap.


Pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count / CBC) biasanya digunakan
sebagai deteksi awal dalam memberikan diagnosis terhadap penyakit atau sebagai
monitoring kondisi pasien (george-gay and parker, 2003)
Pemeriksaan darah lengkap terdiri dari :

1. Hemoglobin
Hemoglobin merupakan molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai
media transport oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa
karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Kandungan zat besi yang terdapat
dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah.
Harga normal atau tidaknya kadar hemoglobin seseorang kita harus memperhatikan
faktor usia walaupun hal ini berbeda-beda disetiap lab klinik yaitu :
•bayi baru lahir : 17-22 gr/dl
• umur 1 minggu : 15-20 gr/dl
• umur 1 bulan : 11-15 gr/dl
• anak-anak : 11-13 gr/dl
• lelaki dewasa : 14-18 gr/dl
• perempuan dewasa : 12-16 gr/dl
• lelaki tua : 12,4-14,9 gr/dl
• perempuan tua : 11,7-13,8 gr/dl

2. Hematokrit
Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya jumlah sel darah merah
dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam persen (%). Nilai normal hematokrit
untuk pria berkisar 40,7% - 50,3% sedangkan wanita berkisar 36,1% - 44,3%.
Kadar hemoglobin berbanding lurus dengan kadar hematokrit sehingga peningkatan
dan penurunan hematokrit terjadi pada penyakit penyakit yang sama.
Untuk mengetahui nilai hematokrit seseorang dalam volume persen
•bila hematokrit rendah : anemia
•bila hemotropik hematokrit tinggi : polisitemia dehidrasi

3. Leukosit
Leukosit merupakan komponen darah yang berperan dalam memerangi infeksi yang
disebabkan oleh virus bakteri ataupun proses metabolik toksin dan lain-lain. Nilai
normal leukosit berkisar 4.000 - 10.000 sel/µl darah. penurunan kadar leukosit bisa
ditemukan pada kasus penyakit akibat infeksi virus, penyakit sumsum tulang, dan
lain-lain. sedangkan peningkatannya bisa ditemukan pada penyakit infeksi bakteri,
penyakit inflamasi kronis,leukemia, gagal ginjal, dan lain-lain.

4. Trombosit
Trombosit merupakan bagian dari sel darah yang berfungsi membantu dalam proses
pembekuan darah dan menjaga integritas vaskuler. Beberapa kelainan dalam
morfologi trombosit antara lain giant platelet (trombosit besar) dan platelet clumping
(trombosit bergelombang)
Nilai normal trombosit 150.000 - 400.000 sel/ µl darah.

2. Interpretasikan hasil laboratorium di atas!

a) Hemoglobin :
Nilai normal :
Pria = 13-18 g/dL
Wanita = 12-16 g/dL
Implikasi klinik :
- Penurunan nilai Hb dapat terjadi pada anemia
- Konsentrasi Hb dapat digunakan untuk menilai tingkat keparahan anemia, respons
terhadap terapi anemia, atau perkembangan penyakit yang berhubungan dengan anemia
Pada kasus Hb pasien tidak normal yaitu 10g/dL

b) MCV : Penurunan mcv terlihat pada anemia defisiensi besi dan thalassemia karna pada kasus
MCV pasien yaitu 71 fL.
mcv normal: 80-100 fL.

c) MCH : Mengindikasikan berat hemoglobin rata-rata dalam sel. penurunan MCH


mengindikasi anemia mikrositik.
MCH normal: 27 - 31 pg.
MCH pada kasus yaitu 20pg.

d) MCHC : Konsentrasi hemoglobin dalam sel serta ukuran sel. implikasi klinis: penurunan
MCH pada pasien defisiensi besi.
MCHC normal: 32-36 g/dl.
MCHC pada pasien di kasus yaitu 30 g/dL.
e) Hematokrit : Menunjukkan persentase sel darah terhadap volume darah total.
Implikasi klinik: Penurunan nilai hematokrit sebagai indikator anemia. penurunan sebesar 30%
menunjukkan anemia sedang hingga parah. pada pasien anemia karena defisiensi besi, nilai
hematokrit akan lebih rendah karena sel mikrositik terkumpul pada volume kecil, walaupun
jumlah sel darah terlihat normal. nilai normal hematokrit sekitar 3x hemoglobin.
Hematokrit normal: 45-52%.

f) Tes LED : Tes yang bertujuan mengukur seberapa cepat eritrosit menggumpal
Nilai normal :
Pria = <15mm/1 jam
Wanita = <20mm/1 jam
Pada kasus yaitu 10m/jam

g) Eritrosit :
Nilai normal :
Pria = 4,4 – 5,6 x 106 sel/mm3
Wanita = 3,8 – 5,0 x 106 sel/mm3
Pada kasus eritrosit pasien Normal.

e) Leukosit :
nilai normal : 3200 – 10.000/mm3
pada kasus yaitu normal, yaitu 8.200/mm3

f) Trombosit :

nilai normal : 170 – 380 x 103/mm3

Trombosit pada kasus yaitu 310.000/mm3

3. Sebutkan diagnosis lengkap penyakit sistemik pada pasien tersebut!

Diagnosis pada kasus diatas adalah anemia defisiensi besi, karena pemeriksaan
laboratorium pada anemia defisiensi besi dapat dijumpai pada pengukuran kadar
hemoglobin dan indeks eritrositnya didapatkan anemia hipokromik mikrositer dengan
penurunan kadar hemoglobin. Yang dimana anemia dengan hipokrom mikrositik yaitu
anemia dengan ukuran eritrosit yang lebih kecil dari normal dan mengandung
konsentrasi hemoglobin yang lebih kecil dari normal.

Untuk menegakkan diagnosis penyakit sistemik pasien tersebut diperoleh dari :

▪️Anamnesis : pasien menyangkal menderita penyakit sistemik dan memiliki riwayat


pendarahan. Kemungkinan pasien tidak mengetahui bahwa dia menderita penyakit
tertentu

▪️Keadaan umum : pasien terlihat lemas dan lesu

▪️Pemeriksaan ekstra oral : kulit pucat & palpebra inferior pucat. Merupakan gejala khas
dari anemia
▪️Pemeriksaan intraoral : atrofi papila di anterior lidah. Merupakan gejala khas dari
anemia

▪️Pemeriksaan penunjang : Hb, Hct, indeks eritrosit (MCH, MCV, MCHC) yang rendah
merupakan tanda dari anemia defisiensi besi.

4. Bagaimanakah perawatan penyakit sistemik pasien tersebut?

1. Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan

Mengkonsumsi pangan hewani dalam jumlah cukup. Namun karena harganya cukup
tinggi sehingga masyarakat sulit menjangkaunya. Untuk itu diperlukan alternatif yang
lain untuk mencegah anemia gizi besi. Memakan beraneka ragam makanan yang
memiliki zat gizi saling melengkapi termasik vitamin yang dapat meningkatkan
penyerapan zat besi, seperti vitamin C. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25-
250mg dapat meningkatkan penyerapan zat besi sebesar 2-5 kali.

2. Suplemen zat besi

Pemberian suplemen zat besi mengunrtungkan karena dapat memperbaiki status


hemoglobin dalam waktu yang relatif singkat. Di Indonesia pil besi yang umum
digunakan dalam suplementasi zat besi adalah fenosus sulfat. Dosis anjuran 3x200 mg.
Setiap 200 mg sulfat fenosus mengandung 66 mg besi elemental. Pemberian sulfat
fenosus 3x200 mg mengakibatkan absorbsi besi sedangkan 50mg/hari dapat
meningkatkan eritropoiesis 2-3 kali normal.

3. Diet

Sebaiknya diberikan makanan bergizi dengan tinggi protein terutama yang berasal dari
protein hewani.

4. Terapi besi parental

Terapi ini sangat efektis tetapi memiliki efek samping lebih berbahaya dan lebih mahal.
Indikasi :
- Intoleransi terhadap pemberian oral
- Kepatuhan terhadapat berobat rendah
- Penyerapan besi terganggu, seperti gastrektomi
- Keadaan dimana kehilangan darah yang banyak sehingga tidak cukup di kompensasi oleh
pemberian besi oral .

Besi parental dapat diberikan secara instrasukular dalam satu intravena. Efek samping akan
timbul adalah reaksi anafilaksis, sakit kepala, mual dan . Tetapi besi ini bertujuan untuk
mengembalikan kadar hb dan mengisi besi sebesar 500-1000mg. Dosis dapat diberikan
sekaligus atau bisa beberapa kali.
5. Pemberian vitamin C
6. Transfusi darah
7. Terapi kausal : tergantung penyebab
Misal, pengobatan cacing tambang, pengobatan hemoroid, pengobatan menoragia.
Terapi kasual harus dilakukan, bila tidak dilakukan maka anemia akan kambuh
kembali

5. Manifestasi oral apa saja yang lain yang dapat terjadi pada pasien dengan
penyakit sistemik seperti kasus di atas?
a. Kandidiasis
Faktor predisposisi candidiasis adalah defisiensi besi. Defisiensi besi menyebabkan kerusakan
pada sistem-sistem enzim yang bergantung pada zat besi, sehingga pada akhirnya sel epitel
rongga mulut menipis. Penipisan ini memudahkan perlekatan, pertumbuhan dan invasi
C.albicans ke dalam epitel rongga mulut.
▫️Penyembuhan luka yang lama karena aliran darah menurun ke daerah yang luka
▫️Pembesaran gingiva namun ini jarang terjadi

b. SAR
Merupakan ulserasi pada rongga mulut yang menyebabkan rasa sakit, tunggal atau multiple,
dangkal, bulat/lonjong. Etiologi SAR belum diketahui secara pasti, namun diduga ada
beberapa faktor pemicu seperti genetik, trauma, imunologi yabg abnormak, penyakit saluran
oencernaan, hormonal, HIV, stress, infeksi, defisienai nutrisi(zat besi, vit B12, asam folat),
dan kelainan hematologi.
Patofisiologi anemia dapat menyebabkan SAR yaitu anemia menyebabkan aktivitas enzim-
enzim ada mitokondria dalam sel menurun karena terganggunya transpor oksigen dan nutrsi
sehingga menghambat diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel. Akibatnya proses diferensiasi
terminal sel-sel epitel menuju stratum korneum terhambat dan selanjutnya mukosa mulut
akan menjadi lebih tipis oleh karena hilangnya keratinisasi normal, ateopi, dan lebih mudah
mengalami ulserasi. Anemia juga menyebabkan terjadinya kerusakan imunitas seluler,
berkurangnya aktivitas bakterisisdal dan leukosit PMN, respon antibodi tidak adekuat dan
abnormalitas pada jaringan epitel. Kondisi ini sering terjadi pada seseorang yang
menderitadefisiensi asam folat, vitamin B12, dan zat besi dimana ketiganya penting untuk
prose eritropoisis sel darah merah dalam sirkulasi darah, mengangkut oksigen dan
hemoglobin ke jaringan.

c. adanya Atropik Glossitis, berupa hilangnya papila lidah, lidah lunak, kemerahan yang
menyerupai Migratori Glossitis = Geographic Tongue. Suatu kondisi lidah yang asymptomatic
mempengaruhi 1-2% populasi, berupa lesi kemerahan pada lidah, tidak disertai indurasi
dibatasi sedikit peninggian pada lidah, pinggir nyata dengan warna yang variatif dari abu-abu
sampai putih.
d. Angular chellitis
Reaksi yang sering dimulai dengan penyimpangan mukokutaneus dan berlanjut hingga kulit.
Angular chellitis di karakteristikkan oleh kemerahan yang menyebar, bentuknya seperti fisur-
fisur, kulit yang terkikis , ulser yang permukaanya berlapis dan di sertai gelaja yang subjectif (
rasa terbakar, nyeri, dan rasa sakit ).
Gejala awal rasa gatal pada sudit mulut dan terlihat tampilan meradang dan bintik merah,
pada awalnya hal ini tidak berbahaya, tetapi akan terasa nyeri disudut mulut dan mudah
berdarah yang di karenakan oleh gerakan mulut seperti tertawa dan berbicara. Kasus
unilateral pada angular chellitis sering terjadi dikarenakan trauma perawatan dental dan
trauma pada sudut bibir. Sedangkan kasus bilateral terjadi jika penderita dengan penyakit
sistemik seperti anemia, penyakit bisa bervariasi dari beberapa hari hingga tahun, tergantung
etiologinya

6. Apa yang harus dipertimbangkan dalam perawatan kelainan intra oral pada kasus
tersebut?
Dari pemeriksaan laboratorium pasien tersebut termasuk ke dalam kategori resiko tinggi.
Kriteria pasien yang termasuk resiko tinggi adalah sebagai berikut:
- Anemia diketahui saat evaluasi dental dengan pemeriksaan laboratorium
menunjukkan darah lengkap MCV, MCH, MCHC abnormal

- Anemia yang penyebabnya tidak diketahui dan hematokrit < 30%

- Anemia disertai koagulopati (Hematokrit >30% tetapi bleeding time besar)

- Perdarahan spontan, berapapin hasil labnya

Pasien pada kasus tersebut termasuk anemia diketahui saat evaluasi dental dengan
pemeriksaan laboratorium menunjukkan darah lengkap MCV, MCH, MCHC abnormal
Maka pertimbangan perawatan kelainan intraoralnya adalah:
- Tetapkan prosedur dental yang minimal

- Waspada terhadap kemungkinan terjadi perdarahan dan hindari terjadinya luka

- Hindari pemakaian aspirin dan obat lainnya penyebab hemolysis

- Tunda perawatan elektif sampai status klinis optimal dan hematokrit lebih dari
30% dan pasien tidak menunjukkan tanda-tanda anemia lagi.

Jadi untuk gigi 16 yang akan dilakukan ekstraksi sebaiknya ditunda dahulu dan pasien dirujuk
ke dokter ahli untuk dilakukan perawatan anemianya karena dikhawatirkan terjadi
perdarahan abnormal dan luka lama sembuh apabila dilakukan pencabutan.
7. Bagaimana perawatan rongga mulut pada kasus tersebut?

a) sesuaikan dengan pertimbangan sistemik saat melakukan tatalaksana pada oral


pasien, dimana pasien termasuk risiko tinggi
b) pra perawatan: cari penyebab keparahan pada rongga mulut dan nilai aktivitas
penyakit oralnya. kasus: positif anemia dan atrofi papilla.

Tatalaksana glossitis atrofi


Glossitis atrofi: hampir seluruh papil lidah menghilang, biasanya lidah akan berubah menjadi
merah gelap. glositis juga dapat disebabkan oleh penyakit sistemik seperti anemia, defisiensi
vitamin b, lichen planus oral, dan eritema multiform.
kondisi glositis dapat disembuhkan dengan antiinflamasi oral seperti sanorine atau tantum
verde, digunakan dua kali sehari dengan mengumurjannya 15 ml. Selain itu, tentunya glossitis
juga dapat disembuhkan jika penyebab radang dihilangkan.

Tatalaksana untuk radiks gigi 16


Tunda perawatan sampai status klinis optimal Htc >30%
Karena pasien merasa lemah dan lesu, perlu diberikan suplemen zat besi R/sangobion 250mg
cap x

8. Persiapan apa saja yang sebaiknya dilakukan sebelum tindakan pencabutan gigi
pada kasus tersebut?

a. Pastikan pasien dalam kondisi kategori risiko rendah, dimana hematokrit normal Htc
>30%, asimtomatik dan pemeriksaan MCV, MCH, MCHC juga menunjukkan angka
normal
b. Dokter gigi juga mempersiapkan waktu yang tepat dengan pencabutan dalam waktu
singkat dan meminimalisir stress yang ada untuk menghindari sewaktu waktu akan terjadi
pendarahan abnormal
c. Meyakinkan dan mensugesti pasien bahwa perawatan akan baik-baik saja
d. Mempersiapkan analgesik dan antibiotik untuk menghilangkan sakit pasca
pencabutan
e. Kemungkinan transfusi darah jika anemia yang mendasarinya parah
f. Melakukan pemeriksaan radiografi jika diperlukan untuk melihat radiks pada gigi
yang ingin dicabut

DAFTAR PUSTAKA

1. Bakta, IM. 2007. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta. Penerbit Buku


Kedokteran EGC.
2. Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, 11(1)
3. Faruq H. Analisis Darah Lisis Terhadap Nilai Trombosit. JLB. 2018. 2(1):
11-13.
4. Maharani LA, Hening T. Stomatitis Aphtous Reccurent karen Anemia.
Dentofasial 2010; 9(1): 39-46