PENGELOLAAN REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT (RSUP) Dr. SARDJITO
YOGYAKARTA
Tinjauan Terhadap Sistem dan Subsistem Rekam Medis
LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN
SEMESTER 1 TAHUN AKADEMIK 2019/2020
Disusun oleh :
TRI SUCI DIYAH PRATIWI (190205079)
UMMU NURFATHIN (1902050880)
VANIA CANTIKA (190205081)
VENY IRA NOVIASTUTI (190205082)
WIDYA PUTRI ISNAINI (190205083)
YESIKA AYU WIDYANINGSIH (190205084)
PRODI D3 REKAM MEDIK DAN INFORMASI KESEHATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERRSITAS DUTA BANGSA
SURAKARTA
2020
LEMBAR PENGESAHAN
Nama : Tri Suci Diyah Pratiwi ( 190205079 )
Ummu Nurfathin ( 190205080 )
Vania Cantika ( 190205081 )
Veny Ira Noviastuti ( 190205082 )
Widya Putri Isnaini ( 190205083 )
Yesika Ayu Widyaningsih ( 190205084 )
Mata kuliah : Kunjungan Lapangan
Semester : 1 / Tahun akademik 2019/2020
Judul : Pengelolaan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan di Rumah
Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta Tinjauan
Terhadap Sistem dan Sub Sistem Rekam Medis.
Mengesahkan,
Ketua Prodi D3 RMIK Pembimbing Laporan
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Duta Bangsa Surakarta
( Linda Widyaningrum, S.KM., MPH ) ( Aris Ocktavian Wannay, A.Md. Kes )
Mengetahui
Dekan
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Duta Bangsa Surakarta
( Warsi Maryati, S.K.M., MPH )
KATA PENGANTAR
i
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan hidayah yang telah dilimpahkan sehingga kami dapat menyelesaikan
laporan kunjungan lapangan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr.Sardjito
Yogyakarta.
Laporan kunjungan lapangan ini disusun oleh kami untuk mengetahui
sistem dan sub sistem rekam medis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP)
Dr.Sardjito Yogyakarta. Selama kunjungan kami banyak menerima bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak terutama :
1. Dr. dr. Darwito, SH., Sp.B(K).Onk Selaku Direktur Utama RSUP
Dr.Sardjito Yogyakarta.
2. Dr. Endang Suparniati, M, Kes Selaku kepala Instalasi Catatan Medis
RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta.
3. Sugeng , SKM, MM Selaku Instalasi Catatan Medis RSUP Dr.Sardjito
Yogyakarta
4. Warsi Maryati, S.K.M., MPH Selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Duta Bangsa Surakarta.
5. Aris Ocktavian Wannay, A.Md.Kes Selaku dosen pembimbing akademik.
6. Seluruh staf dan karyawan RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta yang telah
memberikan izin dsn membantu selama kegiatan.
7. Orangtua dan rekan-rekan mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Duta Bangsa Surakarta yang sudah memberikan dukungan
moril maupun materil.
Penulis menyadari bahwa Laporan Kunjungan ini masih kurang sempurna,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Penulis berharap agar
ii
laporan kunjungan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan
bagi pembaca umumnya, Atas perhatianya penulis ucapkan terima kasih.
Surakarta, Februari 2020
Penulis
iii
DAFTAR ISI
PENGELOLAAN REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN..........................i
LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................................i
KATA PENGANTAR........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................iv
DAFTAR TABEL.............................................................................................................vi
DAFTAR GAMBAR........................................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................2
C. Tujuan....................................................................................................................2
D. Manfaat..................................................................................................................3
E. Ruang lingkup........................................................................................................4
BAB II LANDASAN TEORI............................................................................................5
A. Rumah Sakit...........................................................................................................5
B. Rekam Medis.........................................................................................................7
C. Sistem dan Subsistem Rekam Medis....................................................................12
D. Sistem pengelolaan data rekam medis..................................................................35
BAB III HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN..............................................39
A. Gambaran umum RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta................................................39
B. Sistem dan Sub Sistem Rekam Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.................41
C. Sistem Penerimaan Pasien RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta..................................44
D. Sistem Pengolahan Data RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.....................................52
iv
BAB IV PENUTUP.........................................................................................................60
A. Kesimpulan..........................................................................................................60
B. Saran....................................................................................................................61
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................62
LAMPIRAN.....................................................................................................................63
v
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Jadwal melakukan retensi.....................................................................28
Tabel 3. 1 Coding Color pada Filing................................................................................56
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar2. 1 Alur pasien di fasilitas pelayanan kesehatan......................................32
Gambar2. 2 Contoh Tracer.....................................................................................34
Gambar 3. 1 Alur Prosedur TPPRJ RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.................................50
Gambar 3. 2 Alur Prosedur TPPRI RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.................................52
Gambar 3. 3 Alur Prosedur TPPGD RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta...............................53
Gambar 3. 4 Lembar Kekurangan....................................................................................55
Gambar 3. 5 Kartu Peminjam Status................................................................................60
vii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A 1. Sruktur Organisasi Rumah Sakit...................................................66
Lampiran B 1. Foto Kegiatan.................................................................................66
viii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan menjadi hal yang terpenting bagi setiap individu
masyarakat untuk itu masyarakat membutuhkan setiap layanan kesehatan.
Rumah sakit merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang memberikan
banyak fasilitas untuk membantu kesembuhan pasien. Rekam medis
merupakan salah satu bagian yang terpenting dari Rumah Sakit. Menurut
Permenkes No. 269/Menkes/Per/III/2008 Rekam Medis adalah berkas yang
berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Tujuan rekam medis adalah menunjang tercapainya tertib administrasi dalam
rangka upaya peningkatan kesehatan di rumah sakit. Dalam Pelayanan rekam
medis terdapat sistem dan sub sistem rekam medis yang diantaranya sistem
penamaan, sistem penomoran, sistem penjajaran, sistem penyimpanan, sistem
retensi dan penyusutan. Adapun sistem alur prosedur penerimaan pasien
terdiri dari 4 macam yaitu TPPRJ, TPPRI, TPPGD, dan klinik 24 jam. Dalam
sistem dan sub sistem rekam medis terdapat sistem pengolahan data rekam
medis diantaranya assembling, verifikasi kelengkapan data, koding dan
indexing, filing, analising dan reporting, penelitian dan surat keterangan
medis.
1
2
Kunjungan lapangan ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ini merupakan
salah satu program tahunan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Duta
Bangsa. RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta merupakan rumah sakit pusat dan
rumah sakit pendidikan yang mempunyai akreditasi A, dan rumah sakit
rujukan nasional. yang mana telah menerapkan sistem komputerisasi yang
terintegrasi dengan LAN dalam sistem informasi rumah sakit.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat diambil
adalah bagaimana sistem pengelolaan rekam medis dan informasi kesehatan
ditinjau dari sistem dan subsistem rekam medis di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta ?
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Mengetahui pengelolaan rekam medis dan informasi kesehatan di
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Tinjauan terhadap sistem dan sub sistem
rekam medis.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui gambaran umum meliputi sejarah rekam medis, struktur
rumah sakit dan struktur organisasi rekam medis di RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta.
3
b. Mengetahui sistem rekam medis yang meliputi sistem penamaan,
sistem penomoran, sistem penjajaran, sistem penyimpanan, sistem
penyusutan dan sistem pemusnahan.
c. Mengetahui sistem penerimaan pasien yang meliputi alur dan
prosedur pendaftaran pasien rawat jalan (TPPRJ), alur dan prosedur
pendaftaran pasien rawat inap (TPPRI), alur dan prosedur pendaftran
pasien gawat darurat (TPPGD), dan Klinik 24 jam.
d. Mengetahui sistem pengelolaan data rekam medis yang meliputi,
alur dan prosedur assembling, alur dan prosedur verifikasi
kelengkapan dokumen rekam medis , alur dan prosedur koding dan
indexing, alur dan prosedur filing, alur dan prosedur analisis dan
reporting, alur dan prosedur surat keterangan medis.
D. Manfaat
1. Bagi rumah sakit
Sebagai masukan dan pertimbangan dalam meningkatkan pelayanan
kesehatan bagi pasien di rumah sakit.
2. Bagi akademik
Menambah referensi bagi perpustakaan dan sebagai masukan untuk
meningkatkan mutu pendidikan dan kelulusannya.
3. Bagi mahasiswa
Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai:
a. Gambaran umum RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
4
b. Sistem dan sub sistem rekam medis yang meliputi sistem penamaan,
sistem penomoran, sistem penjajaran, sistem penyimpanan, sistem
penyusutan, dan pemusnahan.
c. Sistem penerimaan pasien yang meliputi:
1) Alur dan prosedur pendaftaran pasien rawat jalan (TPPRJ)
2) Alur dan prosedur pendaftaran pasien rawat inap (TPPRI)
3) Alur dan prosedur pendaftaran pasien rawat darurat (TPPRD)
4) Sistem pengelolaan data rekam medis
E. Ruang lingkup
Ruang lingkup rekam medis dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Lingkup keilmuan : rekam medis dan informasi
kesehatan
2. Lingkup Materi : pengelolaan rekam medis dan
informasi kesehatan RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta
3. Lingkup lokasi : RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Jl.
Kesehatan 1 Yogyakarta.
4. Lingkup objek : Instalansi rekam medis RSUP Dr.
Sardjiito Yogyakarta
5. Lingkup waktu, hari dan tanggal : 28 Januari 2020.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Rumah Sakit
1. Sejarah Rumah Sakit
Perkataan Rumah Sakit ( Hospital ) atau Hospitalia ( bahasa latin )
pertama kali disebutkan oleh Santo Jarome, yang berasal dari kata Hosper
atau Host yang berarti tamu. Santo Jarome menggunakan istilah tersebut
sewaktu menulis mengenai rumah sakit yang didirikan oleh Pahiola di
Roma pada tahun 390. Kemudian pada abad pertengahan rumah sakit St.
Bartholomous di London ( Inggris ) hingga sekarang masih berdiri dan
masih menyimpan beberapa berkas rekam medis yang pernah dirawat dari
tahun 1137. Pada tahun 1500 rumah sakit St. Barthelew merintis tentan
hal–hal yang baru dikerjakan oleh Medical Record Management. Seorang
dokter pada abad ke XXVI bernama Dokter William Harbey yang
menekankan arti pentingnya rekam medis, dimana dokter bertanggung
jawab atas segala catatan rekam medisnya. Kemudian pada tahun 1873
rekam medis sudah ada dan indeks pasien disimpan di rumah sakit
Penansylavania di Philadelphia ( 1752 ) yang dipelopori oleh Benyamin
Franklin. Sedangkan rumah sakit New Yorkpada tahin 1771 telah
menggunakan prosedur pasien baru yang dikerjakan pada tahun 1793. Lalu
5
6
di abad XIX tahun 1081 rumah sakit umum Massachusetts di Boston
dibuka. Memiliki rekam medis dan katalog yang lengkap, ditahun 1871
ada instruksi pasien dirawat harus dibuatkan KIUP. Serta Ny. Grece
Whiting Myers disebut sebagai ahli medical record di rumah sakit.
2. Pengertian Rumah Sakit
Rumah sakit adalah satu dari sarana kesehatan tempat
menyelenggarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah setiap
kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang bertujuan
untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.
Pengelolaan data di rumah sakit merupakan salah satu komponen yang
penting dalam mewujudkan suatu pelayanan rumah sakit yang berkualitas.
Menurut Syarat Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia
No. 286/Menkes/SK/VI/1990, rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan
yang menyelenggarakan kegiatan kesehatan serta dapat dimanfaatkan
untuk pendidikan dan penelitian, upaya pelayanan rawat jalan, pelayanan
rawat inap, pelayanan gawat darurat, pelayanan medis dan pelayanan non
medis.
Menurut Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2009 tentang rumah sakit, rumah sakit umum diklarifikasikan sebagai
berikut :
a. Rumah sakit umum kelas A.
Rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 4 ( empat ) spesialis dasar, 5 ( lima )
7
spesialis penunjang medik, 12 ( dua belas ) spesialis lain, dan 13 ( tiga
belas ) subspesialis.
b. Rumah sakit umum kelas B.
Rumah sakit umum yang mempunyai fasilita dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 4 ( empat ) spesialis dasar, 4 ( empat )
spesialis penunjang, 8 ( delapan ) spesialis lain, dan 2 ( dua )
subspesialis dasar.
c. Rumah sakit umum kelas C.
Rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan medik
pling sedikit 4 ( empat ) spesialis dasar, dan 4 ( empat ) spesialis
penunjang medik.
d. Rumah sakit umum kelas D.
Rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 2 ( dua ) spesialis dasar.
B. Rekam Medis
1. Sejarah rekam medis
Lahirnya rekam medis sama dengan lahirnya ilmu kedokteran.
Oleh karena itu rekam medis merupakan catatan dan ingatan tentang
praktek kedokteran telah dikenal orang sejak zaman Paleolithikum
25.000 SM yang ditemukan di gua batu di Spanyol. Pada zaman
Babylion, pengobatan di Mesir, Yunani, dan Roma menolis pengobatan
dan pembedahan yang penting pada dinding–dinding gua, batang kayu,
8
dan bagan tabel yang terbuat dari tanah liat yang dibakar, selanjutnya
dengan berkembangnya Hieroglyph ( tulisan mesir kuno ) ditemukan
catatan pengobatan pada dinding makam dan candi Mesir serta di atas
Papyrus ( gulungan kertas yang terbuat dari tanaman Cyperus Papyrus
yang tumbuh di sekitar aliran sungai yang berarus tenang ). Salinan
papyrus ditulis pada tahun 1600 SM yang ditemukan oleh Edwin Smith
pada abad ke 19 di Mesir dan masih tersimpan di New York Academy of
Medicine. Pada University Of Leipzig menyimpan papyrus Ebers yang
ditulis pada 1550 SM yang ditemukan di kaki mummy di dekat Thebes
pada tahun 1872.
Pada tahun 450 SM, Hippocrates dikenal sebagai “Bapak Ilmu
Kedokteran“ dan membuat rekam medis sebagai dasar-dasar
pembelajaran ilmu kedokteran serta digunakan untuk menyimpan hasil
pemeriksaan pasien, dan mencatat hasil temuannya. Putra Hippocrates
Thesalius, Dracon, dan Dexippus diajarkan cara mencatat hasil
pemeriksaan pasiennya/penemuan medis ( Rekam Medis ). Francis
Adams pada tahun 1849 menerjemahkan catatan yang ditulis oleh
Hippocrates, salah satunya adalah riwayat dan perjalanan penyakit istri
Philinus setelah melahirkan sampai meninggal. Di Roma 600 tahun
sesudah Hippocrates, seorang dokter bernama Galen mencatat riwayat
dan perjalanan penyakit pasien yang ditulis menggunakan bahasa latin.
Selanjutnya oleh Ibnu Sina ( 980-1037 ) mengembangkan catatan
tersebut berdasarkan Zaman Hippocrates.
9
2. Pengertian Rekam Medis
Rekam medis adalah keterangan baik tertulis maupun terekam
tentang identitas, anamnesa, penentuan fisik, laboratorium, diagnosa
segala pelayanan dan tindakan yang diberikan kepada pasien, dan
pengobatan baik rawat inap, rawat jalan, maupun yang mendapatkan
pelayanan gawat darurat. Jika diartikan secara sederhana, rekam medis
seakan-akan merupakan catatan dan dokumen tentang keadaan pasien,
tetapi jika dikaji lebih dalam rekam medis mempunyai makna arti lebih
luas dari pada catatan biasa. Karena segala informasi menyangkut seorang
pasien yang akan dijadikan sebagai dasar dalam menentukan tindakan
lebih lanjut dalam upaya pelayanan maupun tindakan medis lainnya yang
diberikan kepada seorang pasien yang datang ke rumah sakit. Berkas
rekam medis sebuah rumah sakit tidak boleh dikirimkan keperawatb lain
jika seandainya pasien dirujuk untuk mendapatkan perawatan di institusi
atau rumah sakit lain, tetapi yang dikirimkan cukup resume ( kesimpulan )
saja. Kelalaian dalam pengelolaan dan pemanfaatan rekam medis dapat
dikenakan sanksi oleh Dirjen Yanmed atau Direktur Rumah Sakit yang
bersangkutan. ( Buku Pedoman Catatan Medik seri 7 revisinya dibuat
berdasarkan Permenkes No. 749 a/Menkes/Per/XII/1998 ).
3. Tujuan dan Kegunaan Rekam Medis
Dalam uraian ini terdapat dua pengertian yang sangat erat kaitannya yaitu :
a. Tujuan rekam medis. Tujuan rekam medis adalah menunjang
tercapaiya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan
10
kesehatan di rumah sakit. Tanpa didukung suatu sistem pengelolaan
rekam medis yang baik dan benar, tidak akan tercipta tertib
administrasi yang merupakan salah satu faktor yang menentukan di
dalam upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit.
b. Kegunaan rekam medis. Kegunaan rekam medis dapat dilihat dari
beberapa aspek, antara lain :
1) Aspek administrasi.
Di dalam berkas rekam medis mempunyai nilai administrasi,
karena isinya menyangkut tindakan berdasarkan wewenang dan
tanggung jawab sebagai tenaga medis dan paramedis dalam
mencapai tujuan pelayanan kesehatan.
2) Aspek medis.
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai medis, karena catatan
tersebut dipergunakan sebagai dasar untuk merencakan
pengobatan/perawatan yang diberikan kepada seorang pasien dan
dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan mutu
pelayanan melalui kegiatan audit medis,
manajemen resiko klinis serta keamanan/keselamatan pasien dan
kendali biaya.
3) Aspek hukum.
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai hukum, karena isinya
menyangkut masalah adanya jaminan kepstian hukum atas dasar
keadilan, dalam rangka usaha menegakkan keadilan, Rekam Medis
11
adalah milik Dokter, Pasien, dan Rumah Sakit sedangkan isinya
yang terdiri dari Identitas Pasien, Pemeriksaan, Pengobatan,
Tindakan, dan Pelayanan lainyang telah diberikan kepada pasien
adalah sebagai infomasi yang dapat dimiliki oleh pasien sesuai
dengan peraturan danperundang-undangan yang berlaku ( UU
Praktik Kedokteran RI No. 29 Tahun 2004 Pasal 46 ayat ( 1 ),
Penjelasan ).
4) Aspek keuangan.
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai uang, karena isinya
mengandung data/informasi yang dapat dipergunakan sebagai
aspek keuangan. Kaitannya rekam medis dengan aspek keuangan
sangat erat sekali dalam hal pengobatan, terapi serta tindakan-
tindakan apa saja yang diberikan kepada seorang pasien selama
menjalin perawatan di rumah sakit, oleh karena itu penggunaan
sistem teknologi komputer di dalam proses penyelenggaraan rekam
medis sangat diharapkan sekali untuk diterapkan pada instansi
pelayanan kesehatan.
5) Aspek penelitian.
Suatu berkas rekam medis mempunyai niali penelitian karena
isinya menyangkut data dan informasi yang dapat dipergunakan
sebagai aspek pendukung penelitian dan pengembangan ilmu di
bidang kesehatan.
12
6) Aspek pendidikan.
Suatu berkas rekam medismempunyai nilai pendidikan, karena
isinya menyangkut data/informasi tentang perkembangan
kronologis dan kegiatan pelayanan medis yang diberikan kepada
pasien, informasi.
7) Aspek dokumentasi.
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai dokumentasi, karena
isinya menyangkut sumber kegiatan yang harus didokumentasikan
dan dipakai sebagai bahan pertanggung jawaban dan laporan rumah
sakit. Pendokumentasian data rekam medis seorang pasien dapat
dilaksanakan dengan mudah dan efektif sesuai aturan serta
prosedur yang telah ditetapkan.
C. Sistem dan Subsistem Rekam Medis
1. Sistem Penamaan Dokumen Rekam Medis
Sistem penamaan dalam pelayanan rekam medis adalah tata-cara
penulisan nama seseorang yang bertujuan untuk membedakan satu pasien
dengan pasien yang lain dan untuk memudahkan dalam pengindeks-an
Kartu Indeks Utama Pasien ( KIUP ). Nama seseorang merupakan
identitas pribadi yang diberikan oleh orang tuanya pada saat ia lahir dan
akan dimiliki sampai setelah dia meninggal dunia. Oleh sebab itu
penulisan nama pasien di setiap formulir rekam medis sangat penting
artinya agar tidak terjadi kesalahan dalam pelayanan karena DRM yang
13
telah terisi data rekam medis pasien yang bersangkutan keliru dengan
DRM milik pasien lain. ( Shofari, 2004 ).
a. Nama orang Indonesia.
1) Nama tunggal.
Nama orang dapat terdiri dari satu kata, dua kata, atau lebih.
Nama orang hanya terdiri dari satu kata, diindeks
sebagaimananama tersebut.
Contohnya : Suwito → Suwito
2) Nama majemuk.
Nama orang Indonesia yang majemuk dan oleh si pemilik nama itu
ditulis menjadi satu, diindeks sebagaimana nama itu ditulis.
Contoh : Fahri Abdullah → Fahri Abdullah
3) Nama keluarga.
Nama orang Indonesia yang menggunakan nama keluarga, yang
diutamakan nama keluarga.
Contohnya : Drajat Dipokusumo → Dipokusumo, Drajat
4) Bukan nama keluarga.
Di Indonesia nama keluarga belum dikenal secara luas. Banyak
nama orang Indonesia yang terdiri lebih dari satu atau dua kata,
akan tetapi nama itu adalah nama sebenarnya, bukan nama
keluarga. Hal ini akan membingungkan petugas. Untuk
menghindari hal ini, maka untuk nama orang Indonesia yang terdiri
14
dari lebih dari satu atau dua kata, kata terakhir dijadikan kata
tangkap utama, atau dianggap sebagai nama keluarga.
Contoh : Bagus Prakoso → Prakoso, Bagus
5) Nama marga, suku, clan.
Nama orang Indonesia yang menggunakan nama marga, suku, atau
clan maka diutamakan nama marga, suku, dan nama clan ( kaum ).
Contoh : Erna Nasution → Nasution, Erna
6) Nama wanita yang menggunakan nama laki-laki.
Banyak wanita indonesia yang mempergunakan nama laki-laki.
Nama laki-laki mungkin adalah nama ayahnya, nama suaminya,
atau mungkin namanya sendiri ( bukan nama ayah dan nama
suami ). Tanpa memerhatikan apakah nama yang dipergunakan itu
nama suaminya, nama ayahnya, atau namanya sendiri, bagi wanita
Indonesia yang mempergunakan nama laki-laki diindeks dan ditulis
nama laki-laki dijadikan kata tangkap utama dalam mengindeks.
Contoh : Erni Johan → Johan, Erni
7) Nama pemandian.
Orang-orang kristiani biasanya menggunakan nama pemandian
atau nama baptis. Bagi orang Indonesia yang mempergunkan nama
pemandian atau baptis, maka nama tersebut diindeks dan ditulis
menurut nama terakhir.
Contoh : Bartolomeus Mrwan Suganda → Suganda, Marwan
Bortolomeus
15
8) Nama gelar.
Nama-nama yang diikuti dengan gelar, diindeks atau ditulis dengan
menuliskan gelar didalam kurung dibelakang nama. Gelar dapat
dibedakan menjadi :
a) Gelar kesarjanaan, seperti : Drs, SH, Ir,DR.
Contoh : Drs. Ir. Muhammad Hatta → Muhammad Hatta
( Drs.Ir. )
b) Gelar kepangkatan, seperti : Mayor, Jendral, Direktur,
Gubernur.
Contoh : Letjen Supratman → Supratman ( Letjen )
c) Gelar keagamaan, seperti : Pendeta, Partur, Haji, KH.
Contoh : Haji Muhidin → Muhidin ( Haji )
d) Gelar kebangsawanan, seperti : Rd, RA, Andi.
e) Gelar kekeluargaan, seperti : Tn, Nn, Ny.
9) Nama singkatan.
a) Nama singkatan yang tidak diketahui kepanjangannya.
Nama yang diiringi atau didahului dengan singkatan, tetapi
tidak diketahui kepanjangannya, yang diutamakan adalah nama
lengkapnya.
Contoh : A. Bambang Gunarso → Gunarso Bambang, A.
b) Nama singkatan yang diketahui kepanjangannya.
Apabila nama diketahui atau diiringi dengan nama singkatan,
dan singkatan itu diketahui kepanjangannya, singkatan itu
16
ditulis kepanjangannya dan diindeks menurut yang telah
dibicarakan.
Contoh : I. R Rais → Rais, Idwan Ridwan
b. Nama orang Cina, Korea, Vietnam, dan sejenisnya.
Nama asli orang Cina, Korea, Vietnam, dan sejenisnya, diindeks dan
sebagaimana aslinya.
Contoh :
Nam Jo Hyuk → Nam Jo Hyuk
Wa Yian → Wa Yian
Si Tu Mo → Si Tu Mo
c. Nama orang India, Jepang, Muang Thai, dan sejenisnya.
Dalam kaitan dengan nama-nama orang India, Jepang, Muang Thai,
dan sejenisnya, kata akhir dijadikan kata tangkap utama dalam indeks,
tanpa memperhatikan apakah kata akhir itu nama keluarga atau nama
clan.
Contoh :
Charrom Ratanatsin → Ratanatsin, Carrom
Tusiro Kobayasi → Kobayasi, Tusiro
Pandit Nehru → Nehru, Pandit
d. Nama orang Arab, Persia, Turki, dan sejenisnya.
Nama-nama orang Arab, Persia, Turki, dan sejenisnya diindeks dn
ditulis berdasarkan ketentuan sebagai berikut :
1) Nama Keluarga, nama keluarga dijadikan kata pengenal utama.
17
Contoh : Awab Sungkar → Sungkar, Awab
2) Nama menggunakan kata-kata bin, binti, ibnu, maka bagian nama
yang didahului oleh kata-kata tersebut dijadikan sebagai kata
pengenal utama.
Contoh :
Sajid bin Ali → Ali, Sajid bin
Aisyah binti Said → Said, Aisyah binti
e. Nama orang Eropa, Amerika, dan sejenisnya.
Nama orang Eropa, Amerika, dan sejenisnya diindeks dan ditulis
dengan mempergunakan ketentuan sebagai berikut :
1) Nama diindeks dan ditulis berdasarkan nama keluarga
Contoh : Henry Mill → Mill, Henry
2) Nama yang mempunyai kata sandang misalnya : Van, Van den,
Van der, Von, da, de, la.
Contoh : Joost van den Vondel → Vondel, Joost van den
2. Sistem Penomoran Dalam Dokumentasi Rekam Medis
Sistem penomoran dalam pelayanan rekam medis yaitu tata cara
penulisan yang diberikan kepada pasien yang bersangkutan. Dikatakan
sebagai bagian identitas pribadi karena dengan menyebut atau menulis
nomor rekam medis tertentu maka dapat diketahui siapa pemiliknya.
Nomor rekam medis terdiri dari 6 angka ( digit ) yang terbagi menjadi 3
kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari dua angka. Dengan
demikian maka dijumpai kelompok angka awal, tengah, dan akhir. Enam
18
angka tersebut mulai dari 00.00.00 s/d 99.99.99. Contoh untuk
membedakan kelompok angka tersebut, misalnya 48.12.06 kelompok awal
angka 48, kelompok tengah 12, dan kelompok angka akhir 06.
Menurut Shofari ( 2004 ), ada 3 sistem pemberian nomor pasien
masuk ( Admison Numbering System ) yaitu :
a. Pemberian nomor cara seri.
Pemberian nomor cara seri atau dikenal dengan Serial Numbering
System ( SNS ) adalah suatu sistem penomoran dimana setiappasien
yang berkunjung ke rumah sakit atau Puskesmas selalumendapatkan
nomor baru. Pada sistem ini, KIB praktis tidak diperlukan karena
seorang pasien dapat memiliki lebih dari satu KIB dan KIUB. Bila
datang berobat untuk kunjungan berikutnya petunjuk yang digunakan
yaitu buku register dengan cara menanyakan nama dan tanggal
terakhir berobat. Meskipun dengan cara ini pelayanan di pendaftaran
akan lebih cepat, akan tetapi cara ini akan menggunakan banyak
formulir rekam medis.
b. Pemberian nomor cara unit.
Pemberian nomor cara unit atau dikenal dengan Unit Numbering
System ( UNS )adalah suatu sistem penomoran dimana sistem ini
memberikan satu nomor rekam medis pada pasien berobat jalan
maupun pasien rawat inap dan gawat darurat serta bayi baru lahir.
Setiap pasien yang berkunjung mendapatkan satu nomor pada saat
pertama kali pasien datang ke rumah sakit atau Puskesmas, DRM
19
pasien tersebut hanya tersimpan di dalam satu folder ( berkas ) di
bawah satu nomor. Kelebihan pada sistem penomoran ini adalah
informasi klinis pasien dapat berkesinambungan karena semua data
dan informasi mengenai pasien dan pelayanan pendaftaran pasien
diletakkan dalam satu folder DRM. Kekurangnnya adalah pelayanan
pendaftaran pasien yang pernah berkunjung ( berobat ) atau sebagai
pasien lama akan lebih lama dibanding penomoran menggunakan
sistem SNS
c. Pemberian nomor cara seri unit.
Pemberian nomor cara seri unit atau dikenal dengan Serial Unit
Numbering System ( SUNS ) adalah suatu sistem pemberian nomor
dengan menggabungkan sistem seri dan sistem unit. Dimana setiap
pasien datang berkunjung ke rumah sakit atau Puskesmas diberikan
nomor baru dengan DRM baru. Kemudian setelah selesai pelayanan
berdasarkan nomor rekam medis pada DRM tersebut dicari di KIUP
untuk memastikan pasien tersebut pernah berkunjung atau tidak.
3. Sistem Penyimpanan Dalam Dokumen Rekam Medis
Berdasarkan Permenkes No.749a tahun 1989 tentang rekam medis,
DRM harus disimpan dengan tata-cara tertentu. Selain itu, karena DRM
termasuk arsip seperti ketentuan yang ditunjuk dalam UU No. 7/1971
tentang ketentuan-ketentuan pokok kearsipan, maka DRM pun harus
dikelola dandilindungi sehingga aman dan terjaga kearsipannya.
Perlindungan tersebut meliputi tempat atau alat yang digunakan untuk
20
menaruh, meletakkan, menyimpan arsip, melindungi, menjaga informasi
yang dihasilkan dan diterima. Keselamatan arsip dari bahaya atau
kerusakan dan pencurian oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan
usaha penyimpanan, penggandaan, pengawetan arsip. Sehubungan dengan
DRM berisi data individual yang bersifat rahasia, maka setiap lembar
formulir DRM harus dilindungi dengan cara dimasukkan ke dalam folder
atau map sehingga folder yang berisi data dan informasi hasil pelayanan
yang diperoleh pasien secara individu. Penyimpanan DRM bertujuan :
a. Mempermudah dan mempercepat ditemukannya kembali DRM yang
disimpan dalam rak filling.
b. Mudah dalam pengambilan dari tempat penyimpanan.
c. Mudah dalam pengembalian ke rak setelah diambil.
d. Melindungi DRM dari bahaya pencurian, bahaya, kerusakan fisik,
kimiawi dan biologi.
Dengan demikian maka diperukan sistem penyimpanan dengan
mempertimbangkan jenis sarana dan peralatan yang digunakan,
tersedianya tenaga ahli dan kondisi organisasi.
Ditinjau dari sistem pemusnahan atau penyatuan DRM, maka cara
penyimpanan dibagi menjadi 2 cara yaitu :
1) Sistem Sentralisasi
Sentralisasi yaitu suatu cara penyimpanan berkas rekam medis seorang
pasien dalam satu kesatuan dimana dokumen rekam medis rawat inap,
21
rawat jalan, dan gawat darurat milik seorang pasien menjadi satu folder
( map ).
Keuntungan :
a) Data dan informasi hasil pelayanan dapat berkesinambungan
karena menyatu dalam suatu folder sehingga riwayatnya dapat
dibaca seluruhnya.
b) Mengurangi jumlah biaya yang digunakan untuk peralatan dan
ruangan.
c) Tata kerja dan persatuan mengenai kegiatan pencatatan medis
mudah disentralisasikan.
d) Memungkinkan peningkatan efisiensi kerja petugas penyimpanan
karena dokumen rekam medis milik seorang pasien berada dalam
satu folder.
e) Mudah dalam menerapkan sistem unit record.
Kekurangan :
Filling ( tempat penyimpanan ) dokumen rekam medis harus jaga 24jam
karena sewaktu-waktu diperlukan unutk pelayanan UGD 24 yang
dibuka 24 jam.
2) Sistem Desentralisasi
Desentralisasi suatu sistem penyimpanan dengan cara memisahkan
formulir rekanm medis pasien rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat milik seorang pasien dipisahkan dalam folder ( map ) yang
berbeda.
22
Keuntungannya :
a) Efisiensi waktu sehingga pasien mendapat pelayanan yang lebih
cepat.
b) Beban kerja yang dilaksanakan petugas lebih ringan.
Kekurangannya :
a) Terjadinya duplikasi data dalampembuatan rekam medis yaitu data
dan informasi pada pasien dapat disimpan lebih dri satu folder.
b) Biaya yang diperlukan untuk peralatan dan ruangan lebih banyak.
4. Sistem Penjajaran Dokumen Rekam Medis
Dokumen rekam medis yang disimpan ke dalam rak penyimpanan
tidak ditumpuk, melainkan disusun berdiri sejajar dengan yang lain.
Penjajaran DRM mengikuti urutan nomor rekam medis dengan 3 cara
yaitu :
a. Straight Numerical Filling ( SNF ).
Sistem penjajaran dengan nomor langsung yaitu suatu sistem
penyimpanan DRM dengan mensejajarkan folder DRM berdasarkan
urutan langsung nomor rekam medisnya pada rak penyimpanan.
Misalnya keempat rekam medis berikut ini akan disimpan dalam satu
rak secara berurutan , yaitu 46-50-23, 46-50-24, 46-50-25.
b. Terminal Digit Filling ( TDF ).
Sistem penjajaran dengn sistem ngka akhir atau TDF yaitu suatu
sistem penyimpanan DRM dengan mensejajarkab folder DRM
berdasarkan urutan nomor rekam medis pada 2 angka kelompok akhir.
23
Contoh, nomor-nomor dengan 6 angka, yang dikelompokkan menjadi
3 kelompok masing-masing terdiri 2 angka. Angka pertama adalah
kelompok 2 angka yang terletk paling kanan, angka kedua adalah
angka yang terletak ditengah dan angka ketiga adalah 2 angka yang
terletak paling kiri.
48 12 06
Angka Angka kedua Angka
ketiga Pertama
( Tersier ) ( Sekunder ) ( Primer )
Contoh :
Seksi 02 Seksi 26 Seksi 30
48-52-02 00-06-26 98-99-30
49-52-02 01-06-26 99-99-30
c. Middle Digit Filling ( MDF ).
Sistem penjajaran dengan sistem angka tengah atau MDF, yaitu suatu
sistem penyimpann DRM dengan mensejajarkan folder DRM
berdasarkan urutan nomor rekam medis pada 2 angka kelompok
tengah.Cara menjalankannya sama dengan TDF yang membedakan
adalah pada saat penyimpanan DRM. Dalam hal ini angka yang
terletak ditengah-tengah menjadi angka pertama, pasangan angka yang
terletak di paling kiri menjadi angka kedua, dan kelompok angka
paling kanan menjadi angka ketiga.
24
Contoh :
58-78-98
58-78-99
58-79-00
58-79-01
5. Sistem Penyusutan ( Retensi ) dan Pemusnahan Dokumen Rekam Medis
Landasan hukum yang digunakan dalam penyelenggaraan sistem
pengabadian dan pemusnahan yaitu :
a. Permenkes 249a tahun 1998 tentang Rekam Medis.
b. Surat Edaran Direktorat Jendral Pelayanan Medik No.
HK.00.06.1.5.01160 tahun 1995 tentang Petunjuk Teknis
PengadaanFormulir Dasar Rekam Medis dan Pemusnahan Rekam
Medis di Rumah Sakit.
Tujuan utamanya yaitu mengurangi bebanpenyimpanan DRM dan
mengabadikan formulir-formulirrekam medis yang memiliki nilai guna.
Untuk itu, maka dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Penyisiran.
Penyisiran DRM yaitu suatu kegiatan pengawasan rutinterhadap
kemungkinan kesalahan letak DRM dan mengembalikannya pada
letaknya sesuai dengan sistem penjajaran yang digunakan. Kegiatan
ini dilakukan bersamaan dilakukannya pencatatan DRM yang sudah
dinyatakan diretensi.
25
b. Retensi atau penyusutan DRM.
Retensi atau penyusutan DRM yaitu suatu kegiatan Memisahkan
antara DRM yang masih aktif dengan DRM yang dinyatakan non aktif
atau in-aktif. Kegiatan retensi dilakukan oleh petugas penyimpanan
( filling ) secara periodik. Dokumen rekam medis yang diretensi harus
disimpan pada ruang terpisah dari DRM aktif dengan cara
mengurutkan sesuai urutan tanggal terkhir berobat, selanjutnya
berdasarkan penyakitnya. Sebelum melakukan retensi perlu disusun
jadwal retensi. Berdasarkan Surat Edaran Pelayanan Medik tentang
Pemusnahn Rekam Medis jadwal retensi sebagai berikut :
26
Tabel 2. 1 Jadwal melakukan retensi
No Kelompok Aktif Inaktif
. RJ RI RJ RI
1. Umum 5 th 5 th 2 th 2 th
2. Mata 5 th 10 th 2 th 2 th
3. Jiwa 10 th 5 th 5 th 5 th
4. Orthopedi 10 th 10 th 2 th 2 th
5. Kusta 15 th 15 th 2 th 2 th
6. Ketergantungan 15 th 15 th 2 th 2 th
Obat
7. Jantung 10 th 10th 2 th 2 th
8. Paru 5 th 10 th 2 th 2 th
Anak : Sesuai kebutuhan
KIUP : Disimpan permanen
Keterangan : RJ = Rawat Jalan; RI = Rawat Inap
c. Penilaian nilai guna rekam medis
Suatu kegiatan penialian terhadap formulir-formulir rekam medis
yang masih perlu diabadikan atau sudah boleh dimusnahkan.
Penilaian nilai guna ini dilakukan oleh Tim Pemusnah DRM yang
diteteapkan oleh direktur rumah sakit atau pimpinan sarana pelayanan
kesehatan. Tata cara penilaian formulir rekam medis, berkas rekam
medis yang dinilai adalah berkas rekam medis yang telah 2 tahun
inaktif. Indikator yang digunakan untuk menilai berkas inaktif yaitu:
27
1) Seringnya rekam medis digunakan untuk pendidikan dan
penelitian.
2) Mempunyai nilai guna primer yaitu:
a) Administratif
b) Hukum
c) Keungan
d) IPTEK
3) Mempunyai nilai guna primer yaitu pembuktian dan sejarah.
Memisahkan formulir rekam medis yang harus diabadikan yaitu:
a) Ringkasan masuk dan keluar
b) Resume penyakit
c) Lembar operasi
d) Identifikasi bayi lahir
e) Lembar persetujuan tindakan medis
f) Lembar kematian (laporan sebab kematian; biasanya sudah
menyatu pada formulir ringkasan masuk-keluar)
g) Berkas rekam medis tertetu, sesuai dengan kepentingan
pelayanan meliputi indeks, register, formulir rekam medis
tertentu yang ditetapkan oleh diektur rumah sakit.
d. Pengabadian dan pemusnahan rekam medis
Pemusnahan adalah proses kegiatan penghacuran secara fisik arsip
rekam medis yang telah berakhir fugsi dan nilai gunanya. Sebagai
28
media penyimpanan dapat menggunakan scanner dan microfilm
seseuai dengan ketemtuam yang ditetapkan.
Jika kegiatan penilaian terhadap nilai guna rekam medis dari DRM
inaktif sudah dilakukan, maka tim pemusnahan rekam medis membuat
serangkaian kegiatan yang meliputi:
1) Membuat daftar pertelahan yaitu daftar telaah nlai guna rekam
medis dengan mengelompokkan DRM berdasarkan jenis penyakit
dan kepentingan sesuai dengan kasusnya dan kebijakan rumah
sakit.
2) Membuat acara pemusahan rekam medis yang ditangani ketua dan
diketahui sekretaris
3) Melaksanakan pemusnahan dengan cara:
a) Dibakar dengan menggunakan incenetor atau diabakar biasa
b) Dicacah, dibuat bubur
c) Khusus untuk formulir rekam medis yang sudah rusak atau
sudah tidak bisa dibaca dapat langsung dimusnahkan dengan
terlebih dahulu membuat pernyataan diatas kertas segel oleh
rumah sakit.
29
6. Tempat penerimaan pasien.
Merupakan gerbang pelayanan disuatu fasilitas pelayanan
kesehatan. Beberapa pasien memutuskan berobat disuatu fasilitas
pelayanan kesehatan dengan mempertimbangkan tempat penerimaan
pasien yang nyaman dan petugas yang memuaskan. Selain fasilitas yang
mendukung, petugas dapaat penerimaan pasien harus menguasi jalur alur
pasien, alur berkas rekam medis dan prosedur penerimaan pasien, sehingga
patugas dapat memberikan pelayanan dan informasi yang tepat dan cepat
(Budi,2011).
Alur pasien menggambarkan tentang bagan tahapan pelayanan dari
awal pasien datang sampai pelayanan berkahir atau pulang dari suatu
fasilitas pelayanan kesehatan. Dibawah ini merupakan alur pelayanan
pasien dan alur berkas rekam medis disuatu fasilitas pelayanan kesehatan.
30
Pasien
TPP RJ/UGD
Poliklinik/UGD
RawatInap
tidak
Ya
TPP RI Farmasi
BangsalPerawatan
Bank
.
ak
Tid
Pulang
PelayanaPen
ujang
Ya
PelayananPenujang
Gambar2. 1 Alur pasien di fasilitas pelayanan kesehatan
Selain penerimaan pasien terdiri dari beberapa bagian, yaitu
Tempat Penerimaan Pasien Rawat Jalan (TPPRJ), Tempat Penerimaan
Pasien Rawat Inap (TPPRI). Perincian masing-masing kegiatan yang akan
dijelaskan dibawah ini:
31
a. Tempat Penerimaan Pasien Rawat Jalan (TPPRJ)
Tempat penerimaan pasien rawat jalan (TPPRJ) disebut juga Loket
Pendaftaran Rawat Jalan. Fungsi utamanya dalam pelayanan kepada
pasien atau keluarganya sehingga baik buruknya mutu pelayanan akan
dinilai disini. Maka fungsi TPPRJ yaitu:
1) Pencatat identitas ke formulir rekam medis rawat jalan, data dasar
pasien, KIB, KIUP, dan buku register pendaftaran raawat jalan.
2) Pemberi nomor rekam medis sesuai kebijakan yang penomoran
yang ditetapkan.
3) Penyedia DRM baru untuk pasien baru.
4) Penyedia DRM lama untuk pasien lama melalui bagian filing.
5) Penyimpanan dan penggunan KIUP.
6) Pendistribusi DRM untuk pelayanan rawat jalan.
7) Penyedia informasi jumlah kunjungan pasien rawat jalan.
Deskribsi pokok kegiatan pelayanan rekam medis di TPPRJ sebagai
berikut:
Menyiapkan formulir dan catatan serta nomor rekam medis yang
diperlukan untuk pelayanan. Formulir yang perlu dipersiapkan yaitu:
a) Formulir DRM rawat jalan baru yang telah diberi nomor rekam
medis.
b) Buku register pendaftaran pasien rawat jalan ialah buku yang berisi
catatan identitas pasien sebagai catatan pendaftaran.
32
c) Buku ekspedisi adalah buku yang digunakan untuk serah terima
DRM yang jelas siapa penerimanya.
d) KIUP (Kartu Indeks Utama Pasien) ialah kartu indeks yang
digunakan sebagai petunjuk pencarian kembali identitas pasien.
e) KIB/KTTP (Kartu Indeks Berobat/ Kartu Tanda Pengenak Pasien)
ialah kartu identitas yang diserahkan kepada pasien untuk
digunakan kembali bila datang berobat lagi.
f) Tracer ialah karu yang digunakan untuk petunjuk ( keluarnya )
DRM dan rak filing sehingga dapat digunakan untuk peminjaman
DRM ke filing.
RS__________________________________
TRACER
No. RM :
Tgl. Pengambilan :
Namapenerima :
Unit pengguna :
Digunakanuntuk :
Digunakanoleh :
No. Suratijin :
Gambar2. 2 Contoh Tracer.
g) Buku catatan pengguna nomor rekam medis
Menanyakan kepada pasien yang datang, apakah sudah pernah
berobat, apabila belum pernah berobat berarti pasien baru dan bila
sudah pernah berarti pasien lama.
33
b. Tempat Penerimaan Pasien Rawat Inap (TPPRI)
Tempat penerimaan pasien rawat inap (TPPRI) atau ruang penerimaan
pasien rawat inap (RPP) atau pusat rimah sakit adalah salah satu bagian
di rumah sakit yang kegiatannya mengatur penerimaan dan pendaftaran
pasien yang akan rawat inap. Sistem pelayanan TPPRI berbeda antara
satu yang dirawat inap yaitu:
1) Semua pasien rawat inap harus melalui pemeriksaan melalui pasien
dan rawat dan gawat darurat.
2) TPPRI dapat menerima pasien langsung melalui pasien dan rawat
jalan serta gawat darurat.
Tugas pokoknya adalah mencatat mutasi pasien rawat inap yaitu keluar
masuknya pasien dibangsal rawat inap sehingga dapat diperoleh
informasi yang akurat tentang tempat tidur (TT) kosong dan nama-
nama pasien yang sedang di rawat inap. Peran dan fungsinya sebagai
pusat informasi pelayanan rawat inap rumah sakit dan pengatur
penggunaan TT bangsal rawat inap rumah sakit dan pengatur pengguna
TT atau mutasi pasien yang diperoleh dan informasi bangsa atau sensus
harian rawat inap (SHRI). Selain itu, dikembangkan pula sebagai pusat
informasi kesehatan secara on line termasuk konsultasi kesehatan bagi
masyarakat dalam wilayah diaman rmah sakit berada.
c. Tempat Penerimaan Pasien Gawat Darurat (TPPGD)
Unit Gawat Darurat atau Instalansi Gawat Darurat (IGD) adalah salah
satu pelayanan klinis rumah sakit yang memberikan pelayanan selama
34
24 jam pada kasus-kasus gawat atau darurat, gawat tidak darurat,
gawat darurat tidak gawat atau gawat dan darurat. Penentuan jenis
kasus tersebut jantung keadaan pasien yang diitetapkan oleh dokter
yang bertugas di UGD. Dalam cara pencatatan data pelayanan klinis ke
dalam formulir rekam medis terhadap kasus-kasus tersebut sama saja,
yang membedakan hanyalah cara pelayanan klinisnya.
Tugas pokok pelayanan rekam medis di UGD yaitu melakukan
pencatatan. Untuk mempercepat pelayanan di UGD, sebaiknya antara
petugas layanan administrasi dengan petugas pelayanan klinis
dibedakan. Pelayanan administrasi, di UGD dilakukan oleh petugas
TPPGD. Selain melakukan endaftaran pasien seperti halnya pelayanan
TPPRJ, sering kali merangkup sebagai peneriman bayaran. Hal ini
dikarenakan terbatasnya jumlah tenaga. Bila tenaganya cukup tugas
tersebut tidak dirangkap.
d. Klinik 24 Jam.
Kemudahan akses terhadap layanan publik kesehatan menjadi faktor
penunjang kehidupan yang penting dalam kehidupan masyarakat.
Untuk meningkatkan layanan kesehatan kepada masyarakat maka
diperlukan basis data klinik 24 jam yang dapat membantu menyimpan
data pasien, obat dan pengobatan pasien. Layanan tersebut juga
dimaksudkan untuk menangani pasien-pasien Instalasi Gawat Darurat
(IGD) yang belum mendapat tempat.
35
D. Sistem pengelolaan data rekam medis
1. Sistem assembling
Assembling berarti merakit, tetapi untuk kegiatan assembling
berkas rekam medis di fasilitasi pelayanan kesehatan tidaklah hanya
sekedar merakit atau satu halaman yang lain seseuai dengan aturan yang
berlaku. Pengurutan halaman ini dimulai dari berkas rekam medis rawat
darurat, rawaat jalan dan rawat inap. Pergantian pada masing-masing
pelayanan akan diberikan kertas pembatas yang menonjol sehingga dapat
mempermudah pencarian foermulir yang harus ada pada berkas rekam
medis ( Budi,2011 ).
2. Verifikasi kelengkapan data
Verifikasi kelengkapan data rekam medis berfungsi untuk
mengecek kembali berkas rawat inap dan kelengkapannya. Selain itu,
verifikasi juga bertujuan untuk mengecek atau menyamakan dengan data
yang ada di dalam komputer setelah itu dilihat apakah sesuai atau belum.
Berkas dokumen harus lengkap dan sesuai prosedur yang ada. Apabila
berkas tidak lengkap maka wajib dikembalikan ke bagian yang
bertanggung jawab.
3. Sistem pelayanan di koding dan indeksing
Indeks dalam arti bahasa yaitu daftar kata atau istilah penting yang
tedapat dalam buku tersusun kata atau istilah tersebut ditemukan. Kegiatan
pengindeksan adalah pembuatan tabulasi sesuai dengan kode yang sudah
dibuat ke dalam kartu indek. Hasil pengumpulan data dari indek yang lain
36
sebagai bahan untuk penyajian data statistik kesehatan. Bagain koding dan
indeksing (K/I) adalah salah satu bagian dalm unit rekam medis yang
mempunyai tugas pokok
a. Mencatat dan meneliti kode penyakit dari diagnosis yang ditulis
dokter, kode operasi dari tindakan yang ditulis dokter atau petugas
kesehatan lainnya dan kode sebab kematian dari sebab kematian yang
ditetapkan dokter.
b. Mencatat hasil pelayanan ke dalam formulir indeks penyakit, indeks
operasi atau tindakan medis, indeks sebab kematian indeks dokter
sesuai dengan ketentuan mencatat indeks.
c. Menyimpan indeks tersebut sesuai dengan ketentuan menyimpan
indeks.
4. Sistem filing
Bagian filing adalah salah satu bagia dalam unit rekam medis yang
mempunyai tugas pokok yaitu :
a. Menyimpan DRM dengan metode tertentu sesuai dengan kebijakan
penyimpanan DRM.
b. Mengambil kembali (retriev) DRM untuk berbagai keperluan.
c. Menyusutkan (merentetensi) DRM sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan sarana pelayanan kesehatan.
d. Memisahkan penyimpanan DRM in-aktif dari DRM aktif.
Peran dan fungsinya dalam pelayanan rekam medis untuk
melindungi terhadap kerahasiaan isi,harus dibuat papan pengumuman
37
bahwa selain petugas rekam medis dilarang masuk. Peraturan lainnya
dalam dasar dasar penyelenggaraan rekam medis dan sistem penyimpanan
dan penjajaran rekam medis.
5. Sistem analisis dan reporting
Bagian analising dan reporting (A/R) adalah salah satu bagian
dalam unit rekam medis yang mempunyai tugas pokok :
a. Mengumpulkan data kegiatan rumah sakit dari sensus harian yang
dicatat oleh unit pelayanan pencatat data kegiatan rumah sakit
b. Merekap sensus harian sebagai dasar laporan kegiatan rumah sakit
(RL_1)
c. Mengumpulkan data mengolah data penyakit rawat jalan dan rawat
inap seabagaidasar laporan morbiditas (RL_2a) dan (RL_2b)
d. Mengumpulkan data mengolah data penyakt khusus rawat inap dan
status imunisasi sebagai dasar laporan keadaan rumah sakit (RL_3).
e. Sebagai pengumpul dan pengolah data rekam medis sehingga dapat
,menghasilkan informasi untuk keputusan manajemen.
7. Penelitian
Penelitian bertujuan untuk meneliti apakah ada dokumen rekam
medis yang keluar dari ruang rekam medis atau tidak. Biasanya dokumen
rekam medis tidak boleh keluardari ruang rekam medis adalah dokumen
yang benar benar dibutuhkan seperti :
a. Untuk penelitian
b. Laporan khusus
38
c. Pasien rawat inap lagi
Pasien yang meminjamkan dokumen rekam medis tidak
diperbolehkan membawa dokumen.
8. Surat keterangan medis
Kegiatan yang menjadi tanggung jawab bagian statistic di unir
rekam medis yaitu pembuatan surat keterangan rekam medis. Berdasarkan
Soegandhi (2006) ada 2 macam surat keterangan medis ,yaitu surat
keterangan medis untuk pengadilan dan non pengadilan. Contoh surat
keterangan medis yang dibuat untukkeperluan pengadilan berupa visum et
repertum. Syarat pembuatan visum et repertum harus dengan disertakan
surat pengantar dari kepolisian. Untuk contoh surat keterangan medis non
pengadilan diamtaranya surat keterangan medis untuk asuransi, surat
kelahiran, surat kematian, surat keterangan dirawat, dan syrat keterangan
sehat.
BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran umum RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta merupakan gabungan dari empat
Rumah Sakit milik Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM)
yang memiliki disiplin ilmu dan format rekam medis yang berbeda serta
letaknya terpisah. Rumah Sakit tersebut yaitu:
1. Rumah Sakit di Pugeran merupakan rumah sakit disiplin ilmu kedokteran
anak.
2. Rumah Sakit di Mangkuwilayan merupakan rumah sakit dengan disiplin
ilmu bedah.
3. Rumah Sakit di Mangkuyudan (Obsygn) merupakan rumah sakit dengan
disiplin ilmu kandungan.
4. Rumah Sakit di Loji kecil merupakan rumah sakit dengan disiplin ilmu
kedokteran mata.
Gagasan mendirikan Rumah Sakit umum dan pendidikan pada satu
lokasi guna pendidikan calon dolter dan doketr ahli serta pengembangan
penelitian, pertama kali dicetuskan oleh prof. Dr. Sardjito pada tahun 1954,
karena dirasakan pula adanya kebutuhan mendesak perlunya Rumah Sakit
Pemerintah (RSUP) guna melengkapi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta Jawa Tengah
bagian Selatan. Perjuangan tersebut baru berhasil tahun anggaran 1970/1971
39
40
menggunakan biaya dari Depaetemen Kesehatan RI dengan lokasi di Pigil,
sayangnya setelah ditinjau oleh Departemen Kesehatan RI dianggap tidak
memadai. Maka pembangunan RSUP dipindahkan ke daerah Sekip dengan
nama RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta penggunaan nama tersebut untuk
mengenang dan jasa-jasa Prof. Dr. Sardjito.
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta didirikan dengan SK Menkes RS
no.126/Ka/B. VII/74 tanggal 13 juni 1974, yaitu sebagai RSU tipe B. Tugas
utamanya adalah melakukan pelayanan kesehatan masyarakat dan
melaksanakan sistem rujukan bagi mahasiswa DIY dan Jawa Tengah bagian
Selatan, serta dimanfaatkan guna kepentingan pendidikan calon dokterdan
dokter ahli Fakultas Kedokteran (FK) UGM.
Berdasarkan Sk bersama antara Menkes RI dan Mentri P& K RI
No. 522/Menkes/SKB/X/81 no. 0283a/U/1981 tanggal 2 Oktober 1981 telah
dilakukan penggabungan RS UGM ke dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
dengan memanfaatkan fasilitas pemerintah, baik dana, peralatan maupun
tenaga Departemen Kesehatan RI, Departeme Pendidikan & Kebudayaan
serta instansi lain terkait. Pada tanggal 8 Februari 1982 RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta telah dibuka secara resmi olrh Presiden Soeharto. Pada tahun
1982-1998 UPT –Depkes Swadana Non PNBP, tahun 1998-2000 menjadi
PNBP dan mulai tahun 2000-2005 RSUP DR. Sardjito Yogyakarta berubah
menjadi Perjan (BUMN), tahun 2006-2009 UPT Depkes BLU RS.
Adapun visi dan misi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ialah visinya
menjadikan RSUP Dr. Sardjito menjadi salah satu rumah sakit atau instalasi
41
medis unggulan dalm bidang pelayanan, pendidikan, penelitian dan menjadi
rumah sakit rujukan nasional, serta dipergunakan sebagi panutan dan lahan
praktik wilayah Daerah Isimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian Selatan
maupun seluruh Indonesia. Sedangkan misi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
ialah Memberukan pasien di bidfang rekam medis secara tepat dan akurat
sebagai bagian dari pelaksanaan tertib administrasi dalam rangka menunjang
sistem manajemen rumah sakit, senantiasa menjaga kerahasiaan rekam medis
dari pihak-pihak yang tidak berkepentingan, Meningkatkan profesionalisme
di bidang rekam medis dengan mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah baim
ditingkat regional, nasional maupun internasional, Melaksanakan pendidikan
dan penelian di bidang kesehatan untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan karyawan.
B. Sistem dan Sub Sistem Rekam Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
1. Sistem Penamaan.
Sistem penamaan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta menggunakan
sistem penamaan langsung dengan KTP (Kartu Tanda Penduduk).
Contohnya, apabila di KTP tertulis Sri Wahyuni berarti diindeks dan
ditulis Sri Wahyuni. Hal tersebut sesuai dengan teori Shofari,B.2004.
Pengelolaan Sistem Rekam Medis-1. Semarang. Yang berbunyi : nama
merupakan suatu identitas yang paling pokok dalam diri seseorang. Nama
juga dapat membedakan antara orang yang satu dengan orang yang lain.
42
Suatu bangsa, suku, atau Negara mempunyai cara dan ciri tersendiri
didalam penulisan nama seseorang.
2. Sistem Penomoran.
Sistem penomoran yang digunakan di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta adalah Unit Numbering System. Hal tersebut sesuai dengan
teori Shofari,B.2004. Pengelolaan Sistem Rekam Medis-1. Semarang.
Yang berbunyi : Ada 3 sistem pemberian nomor ( Admission Numbering
System), yaitu :
Pemberian nomor secara unit atau dikenal dengan UNS ( Unit Numbering
System ) adalah sistem penomoran yang memberikan satu nomor rekam
medis pada pasien rawat jalan maupun rawat inap, gawat darurat dan bayi
baru lahir. Setiap pasien mendapat satu nomor pada saat pertama kali
pasien datang ke rumah sakit atau puskesmas dan digunakan untuk
selamanya.
3. Sistem Penjajaran.
Sistem Penjajaran di RSUP Dr. Sardjito menggunakan sistem
penjajaran Terminal Digit Filing (TDF) yaitu menggunakan dua digit
terakhir sebagai pedoman. Sistem penjajaran di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta juga menggunakan kode warna untuk mambantu proses
penjajaran dokumen rekam medis. Hal tersebut sesuai dengan teori
Shofari,B.2004. Pengelolaan Sistem Rekam Medis-1. Semarang. Yang
berbunyi :
43
Sistem penjajaran yaitu suatu cara penyimpanan DRM ke dalam rak
penyimppana yang disusun bediri sejajar atau satu dengan yang lainnya.
Penjajaran nomor DRM ada tiga cara yaitu :
TDF adalah sistem penjajaran dengan angka akhir penjajaran dokumen
rekam medis dengan mensejajarkan folder dikumen rekam medis
berdasarkan urutan nomor rekam medis pada dua angka kelompok akhir.
Misalnya :
08-24-23 25-11-02
09-24-23 26-11-02
4. Sistem Penyimpanan.
Penyimpanan dokumen rekam medis yang digunakan RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta yaitu sentralisasi. Hal tersebut sesuai dengan teori
Shofari,B.2004. Pengelolaan Sistem Rekam Medis-1. Semarang. Yang
berbunyi : sistem sentralisasi yaitu suatu cara penyimpana berkas rekam
medis seorang pasien dalam satu kesatuan. Dokumen rekam medis rawat
jalan dan rawat inap disimpan menjadi satu folder atau satu map.
5. Sistem Penyusutan (Retensi) dan Pemusnahan.
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta memilih tim khusus untuk
penyusutan (Retensi) RSUP Dr. Sardjito Yogyarakta telah dilakukan
penyusutan dokumen rekam medis pada tahun 2013, dengan
memindahkan dokumen rekam medis dari dokumen aktif menjadi
dokumen non-aktif. Hal tersebut sesuai dengan teori Shofari,B.2004.
Pengelolaan Sistem Rekam Medis-1. Semarang. Yang berbunyi :
44
penyusutan dan pemusnahan adalah kegiatan pengurangan jumlah formulir
yang terdapat di dalam rekam medis dengan cara memilah mila nilai guna
dari tiap-tiap formulir atau dengan memisahkan dokumen rekam medis
aktif dan in-aktif.
C. Sistem Penerimaan Pasien RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
1. Alur dan prosedur pendaftaran pasien rawat jalan (TPPRJ)
Merupakan tempat pendaftaran dan pemberian informasi data pasien
kepada petugas pendaftaran di TPPRJ. TPPRJ bertanggung jawab terhadap
kebenaran dan informasi identitas pasien rawat jalan. Pasien ditanyai dan
diminta keterangan mengenai identitas pribadi yang benar untuk keperluan
kelengkapan data di rumah sakit. TPPRJ RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
sudah berbasis komputerisasi dan modern, serta setiap harinya kurang
lebih menerima sekitar 800-900 orang pasien. Pendaftaran pasien dimulai
loket TPPRJ dibuka pada pukul 07.30-14.00 WIB.
Dokumen yang harus dibawa oleh TPPRJ antara lain:
a. KIB ( Kartu Inentitas Berobat )
b. KIUP (Kartu Indeks Utama Pasien)
c. Formulir rawat jalan yang diberikan oleh petugas TPPRJ ke
poliklinik yang dituju pasien.
Sistem penerimaan pasien rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
tebagi menjadi 4 yaitu:
45
1) Penerimaan pasien baru dengan jaminan. Berikut alur
penerimaan pasien baru dengan jaminan:
a) Rujukan (pengantar)
b) Mengisi identitas
c) Validasi jaminan
d) Pengesahan jaminan
e) Registrasi pasien baru
(1). Kartu pasien
(2). Lembar jaminan
(3). Rekam medis baru
f) Klinik
g) Rawat jalan atau rawat inap
h) Apotek
i) Pulang
2) Penerimaan pasien baru tanpa jaminan. Berikut alur
penerimaannya pasien baru tanpa jaminan:
a) Isi identitas
b) Registrasi
(1). Kartu pasien
(2). Rekam medis baru
(3). Rincian biaya pelayanan rawat jalan
c) Kasir atau bank
d) Klinik
46
e) Apotek
f) Rawat jalan atau rawat inap
3) Penerimaan pasien lama dengan jaminan. Berikut ini alur
penerimaan pasien lama dengan jaminan
a) Rujukan
b) Kartupasien
c) Validasi kelengkapan jaminan
d) Pengesahan jaminan
e) Registrasi
(1) Tracer
(2)Rekam medis
(3)Lembar jaminan
f) Klinik
g) Rawat jalan atau rawat inap
h) Apotek
i) Pulang
d. Penerimaan pasien lama tanpa jaminan. Berikut alur penerimaan
pasien tanpa jaminan:
1) Kartupasien.
2) Registrasi.
a) Tracer.
b) Rekammedis lama.
c) Rincian biaya pelayanan rawat jalan.
47
3) Kasir atau bank
4) Klinik.
5) Rawat jalan atau rawat inap.
6) Apotek.
7) Pulang atau rawat inap.
8) Berikut alur pendaftaran pasien rawat jalan di RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta.
48
Tempat Pendaftaran
Pasien Rawat Jalan
Kartu Px
Pasien Baru File
Jaminan
Distribusi
Poliklinik
Rawat Inap
Bangsal
Perawatan
Tempat Pendaftaran
Pasien Rawat Inap
Gambar 3. 1 Alur Prosedur TPPRJ RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
2. Alur dan Prosedur Pasien Rawat Inap (TPPRI)
TPPRI di RSUP DR. Sardjito Yogyakarta merupakan tempat
penerimaan sekaligus pengaturan pasien rawati nap.TPPRI erat kaitannya
49
dengan unit rawat inap dimana bagian ini memberikan informasi tentang
bangsal atau ruangan, tempat tidur kosong dan kelas perawatan yang
diinginkan pasien yang sesuai dengan adminis tration note. TPPRI tempat
pendaftaran khusus yang PNS, BPJS, KIS dan bedadengan yang umum.
Pasien yang rawat inap harus ke TPPRI untuk memesan tempat atau
bangsal dari poliklinik.Jika TPPRI dapat menerima pasienl angsung dari
dokter, maka ruang filing harus dibuka selama 24 jam dan fungsi TPPRI
harus dapat dijalan kandisini. Jika TPPRI menerima pasien langsung,
maka formulir tambahan yang disediakan adalah:
a. Buku catatan nomor rekam medis.
b. Kartu identitas berobat (KIB).
c. Kartu indeks utama pasien (KIUB).
Alur prosedur pendaftaran rawat inap (TPPRI) di RSUP DR. Sardjito
Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1) Klinik.
2) Pengantar rawat inap.
3) Registrasi rawat inap.
4) Persetujuan rawat inap.
5) Persetujuan penanggung jawab biaya.
6) Rekam medis rawat inap.
7) Ruang rawat inap.
50
Pasien TPPRI URI
Informasi Kosong info TT DRM pasien
Pengunjung
Filing
URJ Assembling
Gambar 3. 2 Alur Prosedur TPPRI RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
3. Alur Prosedur Pendaftaran Pasien Gawat Darurat (TPPGD).
TPPGD adalah tempat pelayanan pendaftaran pasien di rumah sakit
yang melayani selama 24 jam setiap hari, untuk melayani pasien yang
mengalami keadaan darurat. RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sendiri
alurdan prosedurnya hamper sama dengan pendaftaran pasien rawat jalan,
perbedaannya hanya terdapat pada pasien masuk harus ditangani terlebih
dahulu sebelum identitas. Berikut merupakan alur TPPGD di RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta:
a. Isi identitas/ menunjukan kartu pasien.
b. Registrasi.
c. Kartupasien / tracer.
d. Rekam medis baru atau rekam medis lama.
51
e. Rincian biaya.
f. Kasi ratau bank.
g. Ruangan UGD.
h. Rawat jalan atau rawat inap.
i. Apotek.
j. Pulang atau rawat inap.
Tempat Pendaftaran
PasienBaru DRM Baru
Apotek Rawat jalan atau rawat inap Ruang UGD
Pulang atau bangsal
Gambar 3. 3 Alur Prosedur TPPGD RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
4. Klinik 24 Jam.
Kemudahan akses terhadap layanan publik kesehatan menjadi
faktor penunjang kehidupan yang penting dalam kehidupan masyarakat.
Untuk meningkatkan layanan kesehatan kepada masyarakat maka
diperlukan basis data klinik 24 jam yang dapat membantu menyimpan data
pasien, obat dan pengobatan pasien. Layanan tersebut juga dimaksudkan
untuk menangani pasien-pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang belum
mendapat tempat.
52
D. Sistem Pengolahan Data RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
1. Alur dan prosedur assembling dokumen rekam medis.
Assembling adalah bagian instalasi rekam medis yang bertugas
meneliti dan menganalisa kelengkapan dokumen rekam medis (DRM)
yang telah dikembalikan di Unit Rawat Jalan (URJ) maupun di Unit Rawat
Inap (URI) bersama sensus harian, serta mengendalikan nomor rekam
medis bertujuan agar pasien tidak mendapatkan nomor lebih dari satu. Di
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dokumen rekam medis (DRM) yang
dikembalikan rangkap dua yaitu ICM untuk instalasi bagian yang
bersangkutan. Dalam penyerahan harus di tulistanggal nya lalu para
petugas memberikan dokumen tersebut disusun menurut standar
penyusunan lalu masuk computer .Setelah lengkap dokumen rekam medis
(DRM) diserahkan kebagian koding untuk dilakukan pengkodean
sedangkan sensus harian kebagian analising reporting.
2. Alur dan prosedur verifikasi kelengkapan dokumen rekam medis.
Bagian verifikasi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta berfungsi
untuk mengecek kembali berkas-berkas rawat inap dan kelengkapannya.
Tujuannya untuk mengecek atau menyamakan dengan data di computer,
dengan cara menuliskan nomor rekam medis pasien di computer setelah itu
dilihat apakah sudah sesuai atau belum, setelah sama antara identitas
pasien pada berkas rekam medis dengan computer, selanjutnya adalah
melihat atau mengecek tandatangan dokter yang merawat. Apabila dalam
53
berkas tersebut adake kurangan baik tandatangan dokter atau ringkasan
masuk dan keluar maka berkas dokumen tadi wajib dikembalikan ke
assembling dan bangsal.Dengan melampirkan lembaran kekurangan
seperti berikut :
LEMBAR KEKURANGAN
1. Ringkasan keluar dan masuk
2. Resume (ringkasan setelah penderita keluar dari rumah
sakit)
3. Rekam medis inti
4. Laporan kematian dan sebab kematian
Gambar 3. 4 Lembar Kekurangan
3. Alur dan prosedur coding dan indexing.
Coding dan indexing berfungsis ebagai peneliti dan pengkoreksi
penulisan kode penyakit dan tindakan atau operasi. Pencarian kode
penyakit petugas rekam medis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
menggunakan ICD X ( Internasional Clasification Of Disease rev-10th )
dan ICD elektronik. Untuk mencari suatu penyakit petugashan yang
memasukkan kata kunci suatu penyakit (leadterm) yang benar setelah itu
tinggal di enter sudah muncul nama penyakitnya dan kodenya. Disamping
itu petugas juga memakai ICD-x volume 1 dan 3, kalau untuk tindakan
menggunakan ICOPIM dan ICD –9 CM.
4. Alur dan prosedur analising and reporting.
Dibagian ini merupakan terminal dari kegiatan pengumpulan dan
pengolahan data-data rekam medis seperti: data pasien dan semua data
yang ada di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Semua data yang telah masuk
ke unit rekam medis ini, akan di olah menjadi informasi yang akan
disajikan dalam bentuk laporan guna pengambilan keputusan management
di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Laporan-laporan yang dibuatada 2
macamyaitu:
a. Laporan intern
1) Laporan kunjungan dan jumlah pengunjung.
2) Laporan jumlah pasien yang dirawat.
3) Laporan perawatan yang dilakukan kepada pasien.
4) Laporan BOR (jumlah ruangan dan tempat tidur).
5) Laporan BTO (jumlah pasien keluar dari tempat tidur) masing
masing.
6) Laporan lama pasien di rawat inap.
b. Laporan ekstern.
1) Laporan mordibitas RL 1 yaitu laporan mengenai seluruh kegiatan
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta selama 3 bulansekali.
2) Laporan morbiditas RL 2a yaitul aporan tentang morbiditas rawat
inap tahunan. Laporan morbiditas RL 2b yaitu laporan tentang
morbiditas rawat jalan.
3) Laporan morbiditas RL 2a 1 yaitu laporan mengenai pasien khusus
rawat inap bulanan.
4) Laporan morbiditas RL 2a 2 yaitu laporan mengenai penyakit
khusus.
5) Laporan morbiditas RL 2c yaitu laporan mengetahui status
imunisasi laporan ini termasuk laporan bulanan semua laporan-
laporan ini selanjutnya akan dikirim ke Depkes Pusat.
5. Alur dan prosedur filing.
Filing adalah suatu ruangan di inti rekam medis yang bertanggung
jawab terhadap penyimpanan retensi dan pemusnahan dokumen rekam
medis.RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta penjajarannya menggunakan system
Terminal Digit Filing (TDF) yaitu menggunakan dua digit angka terakhir
sebagai pedoman.Selain itu menggunaka ndua digit terakhir di rumah sakit
tersebut juga menggunakan system kodewarna (coding colour) dalam
proses penyimpanan ada sebelas macam warna berbeda yang digunakan
yaitu :
Tabel 3. 1 Coding Color pada Filing
Warna Ungu
Warna orange
Warna hijau tua
Warna biru muda
Warna pink
Warna coklat
Warna hijau muda
Warna biru tua
Warna kuning
Warna merah
Warna hitam
Warna-warna ini digunakan sesuai nomor rekam medis dua digit terakhir
yang ditempelkan pada map atau folder bagian depan. Warna-warna ini
berfungsi untuk mengetahui apakah penyimpanan sudah sesuai dengan
tempatnya atau belum.Guna mempermudah pengambilan dokumen rekam
medis, maka setiap dokumen harus disiapkan TRACER ( kartu petunjuk
kemana dokumen keluar) terlebih dahulu. Warna tracer yang digunakan:
a. Hijau dan biru : rawat jalan
b. Merah dan orange : penelitian
c. Hitam : penggabungan
Adapun isi tracer adalah sebagai berikut:
a. Nomor rekam medis.
b. Nama Lengkap.
c. Penyakit.
d. Tanggal kunjungan.
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dalam penyimpanan berkas rekam medis
menggunakan system rak terbuka. Sebelum menggunakan rak terbuka
sebenarnya tempat penyimpanannya menggunakan rak tertutup tetapi
karena banyaknya dokumen pasien dan rak nya tidak mampu menampung
sehingga rak yang digunakan adalah rak terbuka selain itu dengan
digunakannya rak terbuka lebih dapat memudahkan petugas mengambil
dan mengecek dokumen rekam medis yang tersimpan.Selain itu proses
penyimpanan menggunakan system sentralisasi yaitu semua data-data dari
Unit Rawat Jalan maupun Rawat Inap dijadikan satu untuk kemudian
diolah menjadi satu informasi rumah sakit.
6. Alur dan prosedur penelitian.
Penelitian di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta berfungsi untuk
meneliti atau mengecek apakah ada dokumen rekam medis yang keluar
dari ruang rekam medis ataut idak. Biasanya dokumen rekam medis yang
boleh keluar dari ruang rekam medis adalah dokumen yang benar-
benardibutuhkan seperti:
a. Untuk penelitian.
b. Laporan kaskus.
c. Pesan yang mondok lagi.
Petugas yang ingin meminjam biasanya diberi kartu peminjaman seperti di
bawah ini:
Gambar 3. 5 Kartu Peminjam Status
KARTU PEMINJAM KASKUS
Nama :___No. RM_
Tgl Masuk :___Ke._
Keperluan :_____
Tanda Tangan :_____Tgl.__
Nama peminjam :______
7. Alur dan prosedur Surat Keterangan Medis.
a. Surat Asuransi.
Apabila pasien masuk ke rumah sakit dengan membawa surat asuransi
maka pasien wajib melampirkan surat – surat lain yaitu :
1) Surat Permohonan dari kantor polisi yang ditunjukan ke rumah
sakit.
2) Surat Kuasa, adapun pengisian surat kuasa jika :
a) Suami dan Isteri maka harus dilampirkan fotocopy KTP pasien
beserta materai 6000
b) Di Isi oleh ahli waris jika :
(a).Suami dan Isteri harus dilengkapi akta nikah.
(b).Orang tua dan anak harus dilengkapi dengan akta kelahiran.
b. Surat Jasa Raharja.
Apabila pasien dating kerumah sakit dengan membawa surat jasa
raharja, maka persyaratanya sama dengan persyaratan yang ditunjukan
pada pasien yang membawa surat asuransi namun permohonan wajib
dating sendiri dengan mengisi formulir :
1) Jika pasien sendiri maka dilampirkan fotocopy KTP dengan
materai 6000.
2) Jika ahli waris :
a) Suami dan Isteri diminta melengkapi akta nikah.
b) Orang tua dan anak diminta melengkapi akta kelahiran.
c. Duplikasi Surat Kematian.
Apabila pemohon ingin meminta duplikat syarat kematian saudara dan
kerabat dari rumah sakit maka pemohon wajib memenuhi persyaratan
dari rumah sakit.
d. Duplikat Surat Kelahiran.
Untuk meminta duplikat surat kelahiran, adapun persyaratan yang harus
ditunjukan sama dengan persyaratan yang ditunjukan kepada pemohon
sama dengan persyaratan yang diajukan kepada pemohon yang meminta
duplikat surat kematian.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam kunjungan lapangan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta banyak
wawasan dan pengetahuan kami dapatkan adapun kesimpulan dari
pelaksanaan kunjungan lapangan ini yaitu :
1. RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta merupakan rumah sakit tipe A yang
menjadi rumah sakit rujukan nasional.
2. RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta menggunkan sistem penamaan asli
sesuai dengan KTP, menggunakan sistem penomoran Unit Numbering
System, sistem penjajaran Terminal Digit Filling dan sitem
penyimpanan Sentralisasi. Sistem penyusutan dan pemusnahan DRM di
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta memiliki tim tersendiri dan telah
dilakukan penyusutan pada tahun 2013 dan pemusnahan berkas rekam
medis pada tahun 2015.
3. RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta memiliki alur prosedur penerimaan
pasien yaitu TPPRI,TPPRJ,TPPGD dan klinik 24 jam.
4. Pengelolaan data rekam medis pasien melalui Assembling,verivikasi
data, coding dan indexing, analizing dan reporting dan filling.
Menggunkan kode warna untuk dapat mempermudah pencarian data.
60
61
B. Saran
Adapun saran yang ingin penulis sampaikan adalah :
1. Ruang filing / penyimpanan harus lebih diperhatikan dalam hal rak atau
penyimpanan dokumen rekam medis serta dijaga kelayakannya agar
dokumen tersebut tidak rusak karena disimpan dalam jangka waktu yang
lama.
2. Adanya penambahan staff instalasi catatan medis yang bertugas di ruang
coding. Dikarenakan jumlah DRM yang harus di coding sangatlah banyak
3. Sebagai rumah sakit pelayanan sekaligus rumah sakit berpendidikan
bertipe A Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta dengan
Universitas Duta Bangsa Surakarta hendaknya dapat meningkatkan kerja
sama dan memelihara hubungan baik yang selama ini telah terjalin.
DAFTAR PUSTAKA
Alamysah, D. 2012. Manajemen Pelayanan Kesehatan.Yogyakarta: Nuha
Medika.
Budi, S. C. 2011. Manajemen Unit Kerja Rekam Medis.Yogyakarta: Quantum
Sinergis Media.
Departemen Kesehatan RI.2006. Pedoman Penyelenggaraan dan Prosedur
Rekam Medis di Indonesia Revisi II. Jakarta.
Shofari, B. 2004. Pengelolaan Sistem Rekam Medis-1. Semarang.
Purmana, Beni dan Renny Alfiani N. “Analisis dan Perancangan Sistem
Jambi”. Jurnal Managemen Sistem Informasi Vol 6, No.2.
Diterbitkan Desember 2016
Diakses dari https://ejournal.unsrat.ac.id// pada tanggal 4 Januari
2020 pukul 09:30 WIB.
Topan, Mohammad, dkk. “Perancangan Sistem Informasi Managemen
Rumahsakit Berbasis Web Studi Kasus ; Rumah sakit TNI AU
Lanud Sam Ratulangi” E-Jurnal Teknik Informatika Vol 6, No. 1.
Diterbitkan Januari 2015
Diakses dari https://ejournal.unsrat.ac.id// pada tanggal 4 Januari
2010 pada pukul 09.35 WIB.
62
LAMPIRAN
Lampiran A 1. Sruktur Organisasi Rumah Sakit
Lampiran B 1. Foto Kegiatan
Halaman Depan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
63
64
Tempat Pendaftaran Pasien
Tempat Pendaftaran Pasien Secara Mandiri
65
Ruang Arsip Dokumen Rekam Medis
Ruang Instalasi Catatan Medik
66
Ruang Pelayanan Surat Keterangan Medis.
74