Anda di halaman 1dari 3

TUGAS TT1 PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DI SD

Nama : Rina Susiani


NIM : 856209916

Soal

1. Jelaskan beserta contoh pandangan yang mengungkapkan proses pemerolehan bahasa


pertama!
2. Bagaimana karakteristik proses pemerolehan bahasa!
3. Jelaskan perbedaan pembelajaran terpadu lintas materi dengan pembelajaran terpadu
lintas kurikulum!
4. Dalam pembelajaran bahasa konsep pendekatan, metode dan teknik saling berhubungan,
jelaskan hubungan diantara ketiga konsep tersebut!
5. Jelaskan proses pemerolehan bahasa pertama dan bahasa kedua!

Jawaban

1. Ada 3 pandangan yang mengungkapkan proses pemerolehan bahasa pertama,


diantaranya
a. Pandangan Nativistis
Pandangan nativistis berpendapat bahwa anak dilahirkan telah dibekali kemampuan
berbahasa dan seperangkat Alat Pemerolehan Bahasa (Language Acquisition Device
atau disingkat LAD). Jadi, dengan adanya bekal tersebut, yang dibutuhkan anak
dalam memperoleh bahasanya adalah rangsang-rangsang dari alam sekitar untuk
“menghidupkan” apa yang ada di dalam perangkat bahasa tersebut.
Contoh: Aisyah terlahir dari ayah dan ibu yang berbahasa Minang. Akan tetapi di
dalam keseharian penuturan bahasa dalam keluarga dan masyarakat sekitar
menggunakan bahasa Indonesia. Aisyah menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat
komunikasinya.
b. Pandangan Behavioristis
Menurut pandangan behavioristis, penguasaan bahasa anak ditentukan oleh
rangsangan yang diberikan lingkungannya. Pandangan Behavioristis menyoroti aspek
perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan
(stimulus), reaksi (response), dan penguatan (reinforcement). Perilaku bahasa yang
efektif adalah membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan. Reaksi ini akan
menjadi suatu kebiasaan jika reaksi tersebut dibenarkan. Dengan demikian, anak
belajar bahasa pertamanya.
Contoh: Fiana yang berumur 16 bulan mencoba mencoret buku kakaknya dan
ibunya melihat itu, lalu Ibunya segera mengatakan, “Jangan! Jangan!” sambil
mengambil secara halus pena yang dipegangnya tadi. Kata “Jangan! Jangan!” tadi
diharapkan tindakan ibunya Fiana ini akan menimbulkan respons makna yang tidak
menyenangkan bagi Fiana. Jika hal ini terjadi berulang kali dan respons emosional
sudah ditransferkan maka pembiasaan telah berhasil. Dengan demikian, ibu tersebut
telah berhasil mengajarkan makna “Jangan”. Dengan kata lain, Fiana memahami
makna “Jangan” yang berarti suatu larangan.
c. Pandangan Kognitif
Pandangan kognitif menganggap bahwa perkembangan bahasa berlandaskan pada
perkembangan kognitif. Perkembangan ini tergantung pada keterlibatan anak secara
aktif dengan lingkungannya. Perkembangan kognitif ini pun bertahap sehingga
perkembangan keterampilan berbahasa juga bertahap sesuai dengan urutan
perkembangan kognitif. Menurut piaget untuk lebih memahami hubungan antara
perkembangan kognitif dan perkembangan bahasa yang berkenaan dengan tahap
sensori-motor, tahap paling awal dari perkembangan intelektual pada anak.
Contoh: Aulia masih berumur kurang lebih 5 bulan. Dalam kesehariannya bayi ini
menunjukkan tindakan-tindakan tersebut tampak inteligensi. Gerakan-gerakan
refleksnya yang pertama, membawanya memahami dunianya. Pada tahap sensor-
motor ini, menurut Piaget, inteligensi anak, baru tampak dalam bentuk aktivitas
motorik (menghisap, meraih, menggoyang-goyangkan badan, menunjuk sesuatu, dan
sebagainya), sebagai reaksi stimulasi sensori. Pada sub-tahap ini anak dapat
mengenal objek, jika benda itu dialaminya secara langsung. Bagi anak berumur
kurang lebih 8 bulan, objek tidak ada atau tidak ada eksistensinya lagi, begitu benda
itu hilang dari penglihatannya. Baru menjelang akhir umur satu tahun, anak dapat
memahami bahwa benda itu permanen. Apakah objeknya dilihat atau tidak, benda
tetap ada sebagai benda dan memiliki sifat permanen. Hal ini disebut kepermanenan
objek (object permanence). Setelah dapat memahami kepermanenan objek, anak
mulai memakai simbol untuk mewakili objek yang tidak hadir di depan matanya.
Simbol ini adalah kata-kata awal yang diucapkan anak. Oleh karena itu,
kepermanenan objek adalah kunci untuk menuju kepenguasaan bahasa. Dengan
demikian, keterampilan berbahasa muncul sesudah tercapainya perkembangan
kognitif dan perkembangan bahasa paralel dengan tahap-tahap perkembangan
kognisi.

2. Bagaimana karakteristik proses pemerolehan bahasa!


1. Terjadi secara Biologis atau potensi bawaan (kodrat) yang memungkinkannya
mampu berbahasa.
2. Memerlukan Lingkungan social (orang tua, saudara, kerabat, keluarga, teman atau
anggota masyarakat) sebagai contoh dan model berbahasa.
3. Dipengaruhi oleh factor Inteligensi yang memungkinkan seseorang dalam berpikir
atau bernalar, serta termasuk memecahkan suatu masalah.
4. Faktor Motivasi dalam berbahasa sangat penting serta meningkatkan gairah anak
untuk terus belajar dan menguasai berbahasanya lebih baik lagi.
Adapun karakteristik pemerolehan bahasa menurut Tarigan dkk, (1998) antaralain:
a. Berlangsung dalam situasi informal, anak-anak belajar bahasa tanpa beban, dan di
luar sekolah
b. Pemilikan bahasa tidak melalui pembelajaran formal dilembaga-lembaga pendidikan
seperti sekolah atau kursus
c. Dilakukan tanpa sadar atau secara spontan
d. Dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna
bagi anak.

3. A. PEMBELAJARAN TERPADU LINTAS MATERI


Pembelajaran dengan cara memadukan atau mengintegrasikan antara materi-materi
yang ada dalam mata pelajaran tersebut. Misalnya dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia ada empat keterampilan maka keempat keterampilan tersebut dilatihkan
secara terpadu, tidak berdiri sendiri-sendiri.
B. PEMBELAJARAN TERPADU LINTAS KURIKULUM
Pembelajaran dengan jalan memadukan beberapa materi dari beberapa mata pelajaran.
Misalnya, materi Agama dalam hal ini tentang akhlak dipadukan dengan
matapelajaran Bahasa Indonesia, atau materi mata pelajaran Sejarah dipadukan
dengan materi dari mata pelajaran Geografi begitu seterusnya.

4. Hubungan antara pendekatan, metode, dan teknik dalam pembelajaran merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Istilah pendekatan, metode, dan
teknik pada dasarnya memiliki perbedaan antara satu dan yang lain. Pendekatan dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.
Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct
instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Teknik adalah jalan,
alat, atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan peserta didik ke
arah tujuan yang ingin dicapai (Gerlach dan Ely dalam Uno, 2008:2). Metode
pembelajaran dapat didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru dalam menjalankan
fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran
lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan tertentu, sedangkan teknik adalah cara yang
digunakan dan bersifat implementatif. Masih berkenaan dengan pendekatan, metode, dan
teknik, dalam pembelajaran bahasa Indonesia, misalnya dikenal beberapa macam
pendekatan, di antaranya pendekatan keterampilan proses, pendekatan CBSA,
pendekatan komunikatif, pendekatan integratif, pendekatan kebermaknaan (whole
language), dan pendekatan yang populer dewasa ini, yaitu PAKEM (pembelajaran aktif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan). Istilah pendekatan dalam konteks pembelajaran
bahasa mengacu kepada teori-teori tentang hakikat bahasa dan pembelajaran bahasa yang
berfungsi sebagai landasan dan prinsip pembelajaran bahasa (Syafi‟ie dalam Rahim,
2005: 31).

5. A. Pemerolehan bahasa pertama (B1) adalah bahasa yang pertama kali dipelajari dan
dikuasai oleh seorang anak. Bahasa pertama itu biasanya hanya satu bahasa atau dua
bahasa yang dikuasai anak secara bersamaan. Pemerolehan bahasa pertama (B1)
memang sangat erat hubungannya dengan perkembangan kognitif anak. Jika anak dapat
menghasilkan ucapan-ucapan yang berdasar pada tata bahasa yang teratur rapi, tidaklah
secara otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai bahasa yang
bersangkutan dengan baik. Melalui bahasa, khusus bahasa pertama (B1), seorang anak
belajar untuk menjadi anggota masyarakat. B1 menjadi salah satu sarana untuk
mengungkapkan perasaan, keinginan, dan pendirian, dalam bentuk-bentuk bahasa yang
dianggap representative.
B. Pemerolehan bahasa kedua (B2) adalah bahasa yang dipelajari dan dikuasai anak
setelah menguasai satu bahasa. Dalam konteks anak Indonesia, yang menyandang status
B2 itu dapat bahasa daerah, bahasa indosesia atau bahasa asing. Tergantung pada bahasa
mana yang pertama dikuasai anak lebih dahulu. Proses pemerolehan bahasa kedua lebih
cenderung dilakukan lewat proses pembelajaran bahasa secara formal seperti (1)
terpimpin, melalui pembelajaran khusus, (2) alamiah, melalui kegiatan langsung
berbahasa dalam suasana nyata atau (3) terpimpin dan alamiah.