Anda di halaman 1dari 38

RESPONSI

TUMOR OTAK
Pembimbing:
dr. Lely Martha Uli, Sp.S
Oleh :
Ema Fawziyah U 142011101029
Moh. Lutfi Hasbullah 142011101099

KSM ILMU PENYAKIT SARAF


RSD dr. SOEBANDI JEMBER
2018
TUMOR SISTEM SARAF PUSAT: SKDI 2
Tingkat Kemampuan 2: Mendiagnosis dan Merujuk

Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik


terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan
yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya.
Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah
kembali dari rujukan.

1
PENDAHULUAN
Tumor intrakranial dapat dibagi menjadi lesi jinak dan ganas
di dalam rongga kranial. Tumor ini dapat berupa:

 Primer: tumor intrakranial primer terjadi sekitar 10% dari


seluruh neoplasma dan 60% pada neoplasma intrakranial.
Tumor ini dapat berasal dari sel neuroepitel (glioma
primer), meningen (meningioma), sel selubung saraf
(schwannoma), hipofisis anterior (adenoma), atau
pembuluh darah (hemangioma)

 Sekunder: karsinoma metastasis (misalnya paru,


payudara) atau limfoma.
2
EPIDEMIOLOGI
 Kanker otak meliputi sekitar 85-90% dari seluruh kanker
susunan saraf pusat.
 Di Amerika Serikat insidensi kanker otak ganas dan jinak
adalah 21.42 per 100.000 penduduk per tahun (7.25 per
100.000 penduduk untuk kanker otak ganas, 14.17 per
100.000 penduduk per tahun untuk tumor otak jinak).
 Dari seluruh tumor primer susunan saraf pusat,
astrositoma anaplastik dan glioblastoma multiforme
(GBM) meliputi sekitar 38% dari jumlah keseluruhan, dan
meningioma dan tumor mesenkim lainnya 27%.
 Sisanya terdiri dari tumor otak primer yang bervariasi,
meliputi tumor hipofisis, schwannoma, limfoma SSP,
oligodendroglioma, ependimoma, astrositoma derajat
rendah, dan meduloblastoma.
3

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman NasionalT umor Otak. Jakarta: Kemenkes
PATOFISIOLOGI
 Tumor otak adalah pertumbuhan sel-sel otak yang
abnormal di dalam otak.
 Tumor otak mempunyai sifat yang berlainan dibandingkan
tumor di tempat lain. Walaupun secara histologis jinak,
mungkin akan bersifat ganas karena letaknya berdekatan
atau di sekitar struktur vital dan dalam rongga tertutup
yang sukar dicapai.

4
Cavum kranii disusun oleh:
Jaringan otak (1200 – 1400 mL) 5
CSF (70 – 140 mL)
Darah (150 mL)
PATOFISIOLOGI
Tumor di otak mendesak ketiga komponen di otak:
1. LCS
LCS yang pertama kali mengalami pendesakan dari
ruang subaraknoid dan keluar melalui dua foramen yaitu
foramen magnum dan optikum di orbita (dapat
menyebabkan papiledema)
2. Darah
Tumor akan mendesak vena  gangguan sirkulasi
dan penurunan permeabilitas dinding vena

Edema Otak

Peningkatan 6
TIK
MANIFESTASI KLINIS
 Terbagi menjadi 2 :
 Umum ( merupakan manifestasi dari peningkatan TIK)
 Spesifik ( yang menunjukan lokasi tumor )

7
MANIFESTASI UMUM
Lesi massa atau lesi desak ruang di dalam kranium dapat
menunjukkan satu atau lebih gambaran di bawah ini:
 Efek peningkatan TIK : nyeri kepala, mual dan muntah,
penurunan kesadaran, cushing respone ( TD meningkat,
nadi lambat, pernapasan tidak teratur, papiledema.
 Tanda neurologis fokal terjadi pada satu nervus atau
dalam kombinasi yang beragam, disebabkan efek langsung
dari tumor (kompresi, infiltasi atau edema)
 Gejala serebral difus: kejang dan gangguan kognitif.

8
PENINGKATAN TIK
 Peningkatan TIK menyebabkan trias klasik berupa nyeri
kepala, muntah proyektil dan papiledema.
 Papiledema jarang ditemukan pada manifestasi awal,
karena gejala ini menunjukkan adanya obstruksi dari
aliran LCS
 Peningkatan TIK dapat pula memberikan tanda dan gejala
yang berbeda dengan tumor seperti herniasi.

9
MANIFESTASI SPESIFIK
 Digunakan untuk menentukan lokasi tumor dengan
melihat gejala yang timbul

10
KLASIFIKASI
Tumor Primer adalah tumor yang berasal dari otak.

Tumor Sekunder / Metastase adalah sel kanker yang tumbuh


dari luar organ lain menuju ke otak.

11
Prediksi dan Topografi Tumor SSP

12
SUPRATENTORIAL
 Lobus Frontalis
• Gyrus Precentralis: Kelemahan tangan, kaki, atau wajah kontralateral
• Area Broca: Afasia motorik (hemisfer dominan)
• Area prefrontalis:
 Perubahan kepribadian:
– Tingkah laku anti sosial
– Ketidak mampuan mengontrol diri
– Kehilangan kemauan
– Penurunan intellegensia
– Demensia bila korpus kallosum terlibat
• Lobus Paracentralis: Inkontinensia uri,
inkontinensia alvi
• Sindroma Foster-Kennedy (lesi di frontal bag basal)
– Anosmia ipsilatateral
13
– Atrofi papil ipsilatateral

– Edema papil kontralateral


LOBUS PARIETALIS

• Bagian dalam lobus parietal  “thalamus over reaction”


• Radiatio optika terputus  Quadrianopsia homonim
inferior
• Bagian posterior lobus parietal  gangguan fungsi luhur
 Agnosia, Afasia Sensorik

14
LOBUS TEMPORALIS
• Afasia sensorik Wernicke
• Gangguan lapang pandang (quadroanopsia homonim
Superior)

Hipotalamus
• Gangguan fungsi endokrin
• Regulasi temperatur
• Keseimbangan cairan dan elektrolit

15
LOBUS OKSIPITALIS
 Gangguan lap pandang; hemianopsia homonim

KORPUS KALLOSUM
 "sindroma korpus kallosum"  gangguan mental,
dementia, paraparese

16
JENIS TUMOR
 Glioma
Tumor otak yang paling sering di jumpai (45%),
berasal dari sel-sel glia sehingga tumbuh infiltratif.
Glioma dibagi menjadi glioma derajat rendah (astrositoma
grade I/II, oligodendroglioma), glioma derajat tinggi
(astrostioma anaplastik grade III, glioblastoma grade IV,
anaplastik oligodendroglioma)

17

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman NasionalT umor Otak. Jakarta: Kemenkes
Glioblastoma Multiforme
• Bentuk terbanyak
• Terbesar dan terganas (tumbuh cepat, difus)
• Metastase via likuor jarang
Astrositoma
• Sering pada serebelum anak-anak
• Ditemukan juga di lobus frontalis, temporalis, parietalis, ganglia basal dan
lobus oksipitalis.
Ependimoma
• Berasal dari jaringan ependim (epitel pelapis ventrikel bagian dalam)
• Tumbuh perlahan dan akan menyumbat ventrikel  gangguan aliran
LCS
• Sering metastase via likuor
• Diruang intrakranial ependimoma terletak di fosa kranii posterior,diatap
atau lantai ventrikel IV.
Oligodendroglioma
• Berasal dari oligodendroglia (paling jarang)
• Letaknya biasanya di supratentorial,di substansia alba lobus frontalis.
18
• Pertumbuhannya lambat, didalam tumor dapat ditemukan kalsifikasi, kista
dan dapat terjadi perdarahan.
• Metastase via likuor
MENINGIOMA

 Tumor jinak yang berasal dari membran araknoid dan


bergranulasi serta dapat berkembang menjadi ukuran besar.

 Puncak dari tumor ini umumnya pada dekade enam kehidupan


dan banyak pada wanita.

 Sifatnya cenderung menekan jaringan sekitar dibanding


menginfiltrasi

 Lokasi yang paling umum : parasagital, alur olfaktorius, sela


tuberkulum, dan sayap sfenoidalis

19

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman NasionalT umor Otak. Jakarta: Kemenkes
20
TUMOR SELUBUNG SARAF (NEUROFIBROMA
DAN SCHWANNOMA)

 Schwannoma berasal dari sel schwan


 Neurofibroma berasal dari sel Schwan tak bermielin dan sel –sel
lain pada nervus perifer seperti fibroblas
 Lokasi utama schwannoma: pada sudut serebelopontin.
 Gambaran klinis klasik dari Schwannoma terbatas pada kanalis
auditoris yang menyebabkan kehilangan pendengaran unilateral,
disfungsi vestibuler dan tinnitus.
 Oleh karena penyebaran tumor, gangguan pendengaran dan
keseimbangan memburuk, gejala dapat mengarah ke kompresi
struktur lain misalnya pada n. Trigeminal (trigeminal neuralgia),
n. Fasialis (kelemahan otot).
21

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman NasionalT umor Otak. Jakarta: Kemenkes
22
23
NEURILEMOMA (NEUROFIBROMA)

Tumor berasal dari sel schwann. Sering terjadi pada umur >
40 tahun. Ditemukan pada 30% dari semua tumor spinalis.

25
 Di intrakranial tumor berlokasi pada N VIII di meatus
akustikus internus. MAI didapatkan destruksi pada foto
rontgen.
 Lesi pada N VII, V, IX dan X.

 Neurilemoma dapat timbul di kanalis vertebralis akan


meluas keluar foramen intervertebralis yang dikenal
dengan dumbbell tumor.

24
MEDULOBLASTOMA

Tumor ditemukan pada anak anak. Terletak

26
pada : garis tengah serebelum. Konsistensinya lunak
sehingga tumor dapat menjadi besar kemudian dapat
bermetastase ke medula spinalis dan permukaan otak
via likuor.

 Sangat ganas  Prognosis buruk.

25
ADENOMA HIPOFISE
Tumor berasal dari sel adenohipofise serebri (lobus
anterior). Bila terjadi perluasan menyebabkan hemianopsia
bitemporal dan gangguan visus. Pada pemeriksaan

27
funduskopi terlihat atropi papil primer.

Ada tiga bentuk adenoma hipofise :


1. Adenoma kromofob
Gejala : panhipopituitarism; amenorea, impotensi, bulu
rontok, gemuk, chusing sindrom, buta dan koma.
2. Adenoma eosinofilik
Gejala : gigantisme dan akromegali
3. Adenoma basofilik 26
Gejala: Bisanya sangat kecil dan asimptomatik
TUMOR OTAK SEKUNDER
 Epidemiologi
Metastasis otak adalah tumor otak sekunder yang
jumlahnya empat kali melebihi jumlah tumor otak primer. Di
Amerika Utara terdapat 98.000-170.000 kasus baru
metastasis otak per tahunnya. Angka ini akan terus
bertambah dengan meningkatnya populasi lanjut usia serta
meningkatnya tatalaksana diagnostik yang lebih baik dan
kemajuan terapi mutakhir pada keganasan lokal dan
sistemik. Tumor primer dapat berasal dari kanker paru
(50%), payudara (15-25%), melanoma (5-20%), kolorektal dan
ginjal. Sebanyak 15% pasien metastasis otak tidak diketahui
lokasi tumor primernya.

27
DIAGNOSIS
Diagnosis tumor otak sekunder ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.

 Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik


Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, dapat
dijumpai tanda dan gejala seperti pada tumor otak primer,
yang dapat berupa tanda peningkatan tekanan intrakranial,
sakit kepala, mual/muntah, gejala fokal, kelumpuhan/paresis
tanpa gangguan sensorik, penekanan saraf kranialis, kejang;
dan perubahan perilaku, letargi, dan penurunan kesadaran

28
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 CT Scan Otak
Pada 50% kasus pemeriksaan CT scan otak terdapat gambaran lesi
metastasis soliter (tunggal) sejak pasien pertama kali mendapatkan
gangguan klinis neurologis. Gambaran CT scan umumnya dapat berupa lesi
bulat, berbatas tegas dengan peritumoral edema yang lebih luas (fingers of
edema). Bila terdapat lesi multipel maka jumlah lesi terbanyak yang tampak
adalah jumlah yang paling benar (Chamber’srule).

 MRI Otak
<30% pasien didapatkan lesi soliter. Pemeriksaan MRI lebih sensitif
daripada CT scan terutama di daerah fossa posterior.

 Work-up Diagnostik Tumor Primer


Sebelum dilakukan pengambilan sampel tumor metastasis di otak,
dilakukan pencarian lokasi tumor primer antara lain dengan foto
toraks atau CT scan toraks untuk menyingkirkan tumor paru;
mammografi pada wanita; dan tumor marker. 29
TATALAKSANA
1. Edema otak dan peningkatan TIK
Pemberian kortikosteroid sangat efektif untuk
mengurangi edema serebri dan memperbaiki gejala
yang disebabkan oleh edema serebri, yang efeknya
sudah dapat terlihat dalam 24-36 jam
(deksametason dengan dosis bolus intravena 10 mg
dilanjutkan dosis rumatan 16-20mg/hari intravena
lalu tappering off 2-16 mg (dalam dosis terbagi)
bergantung pada klinis.
Mannitol tidak dianjurkan diberikan karena
dapat memperburuk edema, kecuali bersamaan
dengan deksametason pada situasi yang berat,
seperti pascaoperasi
30

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman NasionalT umor Otak. Jakarta: Kemenkes
2. Tatalaksana Nyeri
Nyeri kepala akibat kanker otak bisa
disebabkan akibat traksi langsung tumor terhadap
reseptor nyeri di sekitarnya. Gejala klinis nyeri
biasanya bersifat lokal atau radikular ke
sekitarnya, yang disebut nyeri neuropatik.
Pilihan obat nyeri adalah parasetamol dengan
dosis 20mg/berat badan perkali dengan dosis
maksimal 4000 mg/hari
Jika komponen nyeri neuropatik yang lebih
dominan, maka golongan antikonvulsan menjadi
pilihan utama, seperti gabapentin 100-
1200mg/hari, maksimal 3600mg/hari
31

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman NasionalT umor Otak. Jakarta: Kemenkes
3. Kejang
Kejang dapat diterapi dengan antikonvulsan :
Levetiracetam lebih dianjurkan (Level A) dan
memiliki profil efek samping yang lebih baik
dengan dosis antara 20-40 mg/kgBB, serta dapat
digunakan pasca operasi kraniotomi.

32

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman NasionalT umor Otak. Jakarta: Kemenkes
4. Pembedahan
Operasi pada kanker otak dapat bertujuan untuk
menegakkan diagnosis yang tepat, menurunkan tekanan
intrakranial, mengurangi kecacatan, dan meningkatkan
efektifitas terapi lain. Reseksi tumor pada umumnya
direkomendasikan untuk hampir seluruh jenis kanker
otak yang operabel.
Tidak semua tumor dapat diangkat, terutama jika
berada pada posisi yang sulit seperti pada saya os.
Sfenoid.
Teknik operasi meliputi membuka sebagian tulang
tengkorak dan selaput otak pada lokasi tumor. Tumor
diangkat sebanyak mungkin kemudian sampel jaringan
dikirim ke ahli patologi anatomi untuk diperiksa jenis
tumor 33

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman NasionalT umor Otak. Jakarta: Kemenkes
5. Radioterapi
Radioterapi memiliki banyak peranan pada
berbagai jenis kanker otak. Radioterapi diberikan
pada pasien dengan keadaan inoperabel, sebagai
adjuvant pasca operasi, atau pada kasus rekuren
yang sebelumnya telah dilakukan tindakan
operasi.

34

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman NasionalT umor Otak. Jakarta: Kemenkes
6. Kemoterapi Sistemik dan Terapi Target
kemoterapi bertujuan untuk menghambat
pertumbuhan tumor dan meningkatkan kualitas
hidup semaksimal mungkin.

7. Kemoterapi intratekal
Memberikan antikanker langsung pada
susunan saraf pusat melalui prosedur lumbal
pungsi.
PROGNOSIS
 Prognosis tumor otak tergantung pada jenis dan
stadium tumor, lokasi, ukuran, usia pasien dan
keadaan klinis ketika dilakukan proses
diagnosis.
 Umumnya didapatkan tingkat proporsi hidup 1
tahun secara keseluruhan pada tumor ganas
stadium tinggi sebesar kurang dari 50%
 Pada tumor jinak terutama meningioma,
neurofibroma, dan tumor hipofisis mungkin
didapatkan pengangkatan tumor seluruhnya
sehingga terapi dapat berhasil.
Terima kasih