Anda di halaman 1dari 3

Tanaman Meranti

Klasifikasi ilmiah
Kingdom : Plantae
Ordo : Malvales
Family : Dipterocarpaceae
Genus : Shorea
Species : Shorea spp.
Meranti termasuk marga Shorea, famili Dipterocarpaceae. Jumlah spesiesnya mencapai 130
jenis dan sebagian besar tumbuh secara alami di hutan Kalimantan dan Sumatera. Dalam
perdagangan dikenal jenis meranti kuning, meranti merah dan meranti putih. Di hutan alam
pohon meranti tembaga dapat mencapai tinggi 60 m. Batangnya lurus dan silindris dengan
diameter mencapai 100 cm dengan tinggi batang bebas cabang 30 m. Tajuknya lebar,
berbentuk payung dengan ciri berwarna coklat kekuning-kuningan seperti tembaga. Banir
mencapai tinggi 2 m. Kulit coklat keabu-abuan dengan alur dangkal. Daun lonjong sampai
bulat telur, panjang 8-14 cm, lebar 3,5-4,5 cm. Permukaan daun bagian bawah bersisik seperti
krim, tangkai utama urat daun dikelilingi domatia terutama pada pohon muda, sedang urat
daun tersier rapat seperti tangga. Buah seperti kacang yang terbungkus kelopak bunga yang
membesar. Kelopak ini berbulu jarang dengan 3 cuping memanjang sampai 10 cm dan
melebar 2 cm berbentuk sendok, 2 cuping lainnya berukuran panjang 5,5 cm dan lebar 0,3
cm. Panjang benih 2 cm, diameter 1,3 cm, bulat telur, berbulu halus dan lancip di bagian
ujungnya (Kurniyawati, 2012).
Banir menonjol tetapi tidak terlalu besar. Tajuk lebar, berbentuk payung dengan ciri
berwarna coklat kekuning-kuningan. Kulit coklat keabu-abuan, alur dangkal, kayu gubal
pucat, dan kayu teras merah tua. Daun lonjong sampai bulat telur, panjang 8 - 14 cm, lebar
3,5 - 4,5 cm. Permukaan daun bagian bawah bersisik seperti krim, tangkai utama urat daun
dikelilingi domatia terutama pada pohon muda, sedang urat daun tersier rapat seperti tangga.
Bunga kecil dengan mahkota kuning pucat, helai mahkota sempit dan melengkung ke dalam
seperti tangan menggenggam (Irwanto, 2009).
Penyebaran
Famili Dipterocarpaceae memiliki tiga sub famili yaitu Dipterocarpaceae, Pakaraimoideae
dan Monotoideae. Penyebarannya cukup luas mulai dari Afrika, Seychelles, Srilangka, India,
China hingga ke wilayah Asia Tenggara (Burma, Thailand, Malaysia, Indonesia). Jumlah

jenisnya yang sudah tercatat adalah 512 jenis dari 16 genus (Rasyid et al.tahun 1991 dalam
Irwanto, 2009). Sub famili Pakaraimoideae, pertama kali dijumpai di Guyana Selatan pada
ketinggian tempat dari 0 1800 mdpl. Marga yang termasuk sub famili ini antara ain
Pakaraimoideae. Selanjutnya sub famili terdiri dari dua marga yaitu Monotes A.Dc. dan
Margueria Gilg. Marga Monotes memiliki 36 jenis pohon dan marga Margueria memiliki
jenis pohon yang lebih sedikit. Diantara sub family tersebut di atas yang terpenting adalah
Dipterocarpaceae, karena memiliki jumlah jenis yang banyak dan diantaranya banyak yang
diperdagangkan. Sub famili ini memiliki 13 genus dan 470 jenis, diantaranya 9 genus
terdapat di Indonesia yaitu Shorea, Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Vatica,
Cotylelobium, Parashorea, Anisoptera, Upuna. Secara alam jenis-jenis Dipterocarpaceae
merupakan hutan alam campuran dan relatif masih sedikit yang sudah dibudidayakan dalam
bentuk hutan tanaman murni. Penyebaran potensi hutan alamnya di Indonesia merupakan
data sementara, karena belum ada inventarisasi secara menyeluruh (Irwanto, 2009).
Tempat tumbuh
Potensi lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan meranti akan dipengaruhi oleh potensi
tanah. Potensi tanah mempengaruhi potensi tapak (site) bagi pertumbuhan tanaman. Potensi
tanah akan dilihat pada dua aspek, yaitu aspek fisik tanah dan aspek kimia tanah. Pohon
meranti banyak terbesar di kawasan tropis Asia, mulai dari Brunei, Indonesia (terutama di
Kalimantan dan Sumatera), Malaysia (terutama di Sabah dan Serawak) dengan habitat alami
pada ketinggian yang kurang dari 600 meter di atas permukaan laut. Tanah yang baik untuk
pertumbuhan pohon ini adalah liat alluvial lahan kering pada hutan hutan dataran rendah,
meskipun dapat tumbuh pada tanah yang kadang-kadang atau selalu tergenang air, tanah
berbatu, tanah berpasir, namun kurang baik pada tanah liat berat (Rauf, 2009). Pohon meranti
tumbuh baik pada tipe iklim A dan B di daerah dengan curah hujan berkisar antara 1000-3000
mm per tahun. Suhu udara optimal yang diinginkan efektif lebih dari 30 cm, pada topografi
datar hingga miring. Pohon dewasa memerlukan sinar matahari yang cukup, namun pohon
muda akan tumbuh baik di bawah naungan (tegakan) pohon lainnya (Rauf, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
Irwanto, 2009. Pengaruh Perbedaan Naungan Terhadap Pertumbuhan Semai Shorea sp
Dipersemaian. http://www.irwantoshut.com. [24 Februari 2015].
Kurniyawati, T. W. 2012. Pengaruh Asal Populasi dan Tinggi Pangkasan Terhadap
Kemampuan Bertunas Meranti (Shorea spp.). Tesis. Universitas Negeri Yogyakarta.
Yogyakarta.
Rauf, A. 2009. Profil Arboretum USU 2006-2008. USU Press. Medan.