Anda di halaman 1dari 17

1

PAPER SINKRONISASI ESTRUS PADA TERNAK


Untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Reproduksi

Oleh :
Ardan Legenda De A
Mirsa Ita Dewi Adiana
Ari Prayudha
Dwi Mardiko
Ibnu Satria A

135050100111093
135050100111189
135050100111098
135050100111082
135050100111154

Kelas G

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena karunia dan


hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teknologi Reproduksi.
Makalah ini membahas tentang sinkronisasi estrus pada
ternak yang meliputi manfaat sinkronisasi estrus, mekanisme
sinkronisasi estrus, teknik penggunaan berbagai hormon untuk
sinkronisasi estrus dan aplikasi sinkronisasi estrus pada berbagai
ternak. Penulisan Makalah ini tidak lepas dari bimbingan serta
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan
ini kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan,
bantuan, serta kerjasamanya hingga terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih perlu perbaikan
untuk menjadi lebih sempurna. Oleh karena itu, kami mengharap
saran dan kritik yang membangun. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Malang, 29 Februari 2016

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.........................................................................................
1
KATA PENGANTAR .......................................................................................
2
DAFTAR ISI....................................................................................................
3
BAB I PENDAHULUAN
1.1..............................................................................................
Latar Belakang
..............................................................................................
4
1.2..............................................................................................
Rumusan Masalah
..............................................................................................
5
1.3..............................................................................................
Tujuan
..............................................................................................
5
1.4..............................................................................................
Manfaat
..............................................................................................
5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Sinkronisasi Estrus
........................................................................................................................
6
BAB III PEMBAHASAN
3.1. Penjelesan Umum Sinkronisasi Estrus
........................................................................................................................
7
3.2. Manfaat dan Keuntungan Sinkronisasi Estrus
........................................................................................................................
9
3.3. Mekanisme Sinkronisasi Estrus Pada Ternak
........................................................................................................................
10
3.4. Metode Sinkronisasi Estrus Pada Ternak
........................................................................................................................
12

BAB IV PENUTUP..........................................................................................
14
4.1. Kesimpulan
........................................................................................................................
14
4.2. Saran
........................................................................................................................
14
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................
15

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pangan merupakan kebutuhan dasar yang mutlak yang harus
dipenuhi, karena merupakan pendukung kelangsungan hidup
manusia. Ketersediaan pangan hewani yang bersumber dari produk
peternakan yakni daging, susu dan telur merupakan faktor yang
sangat menentukan kualitas sumberdaya manusia. Berdasarkan
Food and Agriculture Organization of The United Nations melaporkan
bahwa tingkat konsumsi protein hewani Indonesia tahun 2013 hanya
15,7 gram/kapita/hari, jika dibandingkan dengan negara tetangga
konsumsi protein hewani Indonesia masih rendah, seperti china 37,0
gram/kapita/hari dan malaysia 41,5 gram/kapita/hari.
Salah satu faktor rendahnya konsumsi protein hewani di
Indonesia adalah masih rendahnya produksi dan populasi ternak
lokal, hal ini mengakibatkan mahalnya harga pangan sumber protein
hewani yang sulit dijangkau oleh daya beli masyarakat. Kemajuan
teknologi dibidang peternakan telah banyak dikembangkan untuk
mengatasi permasalahan rendahnya produktivitas ternak lokal
Indonesia. Salah satu teknologi yang sering diaplikasikan yaitu
teknologi Inseminasi Buatan (IB). Teknologi IB merupakan teknologi
yang efektif dan murah karena lebih sedikit menggunakan bahanbahan kimia dan biologis dibandingkan dengan teknologi transfer
embrio (TE) atau dengan teknologi fertilisasi in vitro (FIV) ( Herdis,
2000 ).
Namun demikian, pelaksanaan IB di tingkat lapangan
menuntut ketersediaan ternak betina resipien dalam jumlah
banyak dan mempunyai estrus yang serentak. Hal ini dapat dipahami
karena secara teknis dan ekonomis. Pada sisi lain, kondisi seperti ini
sangat jarang ditemukan di tingkat lapangan karena siklus estrus
antar individu sapi sangat bervariasi. Selain itu, terbatasnya
kemampuan dan waktu serta tenaga peternak untuk melakukan
pengamatan estrus menjadi salah satu faktor penghambat di dalam
upaya meningkatkan efisiensi reproduksi ternak sapi. Oleh karena itu
dibutuhkan teknologi reproduksi yang dapat menyerentakkan estrus
ternak sapi, sehingga dapat dikawinkan atau diinseminasi pada
waktu yang bersamaan untuk menghasilkan kebuntingan dan
kelahiran yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan
efisiensi reproduksi ternak sapi tersebut.
Salah satu cara yang diterapkan untuk sinkronisasi estrus
pada ternak sapi adalah menggunakan hormon luteotropik sintetik,

seperti prostaglandin-F2 (PGF2). Efektivitas preparat PGF2


terbukti dapat menimbulkan respon estrus sebesar 92.3% pada
sapi Bali (Toelihere dkk., 1990). Fungsi PGF2 adalah meregresi
korpus luteum sehingga pemberiannya hanya efektif jika
dilakukan pada fase luteal di saat korpus luteum telah berfungsi
(Burhanuddin et al., 1992). Pada ternak sapi yang mempunyai siklus
estrus normal, hormon
PGF2
akan
disekresikan
oleh
endometrium jika tidak terjadi fertilisasi setelah ovulasi untuk
melisis sel-sel luteal penghasil hormon progesteron. Penurunan
kadar progesteron akan memicu proses folikulogenesis atas
peran hormon follicle stimulating hormone (FSH) yang diproduksi
oleh hipofisa anterior (Hafez, 2000).
1.2.

Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, terdapat permasalahan pokok yang dapat
diidentifikasi yaitu :
1) Bagaimana manfaat sinkronisasi estrus pada ternak?
2) Bagaimana mekanisme sinkronisasi estrus pada ternak?
3) Bagaimana teknik penggunaan berbagai hormon untuk
sinkronisasi estrus?
4) Bagaimana aplikasi sinkronisasi estrus pada berbagai jenis
ternak?

1.3.

Tujuan
Berdasarkan rumusan permasalahan di atas, terdapat tujuan
yang akan dibahas yaitu :
1) Untuk mengetahui manfaat sinkronisasi estrus pada ternak.
2) Untuk mengetahui mekanisme sinkronisasi estrus pada ternak.
3) Untuk Mengetahui teknik penggunaan berbagai hormon untuk
sinkronisasi estrus.
4) Untuk mengetahui aplikasi sinkronisasi estrus pada berbagai jenis
ternak?

1.4.

Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diambil dari pembuatan paper ini
adalah supaya mahasiswa mampu memahami dan mengetahui
perkembangan teknologi reproduksi khususnya dalam teknologi
sinkronisasi estrus pada ternak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Definisi Sinkronisasi Estrus


Suatu cara untuk mengatasi problema sulitnya deteksi berahi
yaitu dengan cara penerapan teknis sinkronisasi birahi, baik dengan
menggunakan sediaan progesteron dan prostaglandin (PGF2).
Dengan teknik ini problema deteksi berahi dapat dieliminir, sehingga
pelaksanaan inseminasi buatan dapat dioptimalisasi. (Salverson,
2006).
Penyerentakan berahi atau sinkronisasi estrus adalah usaha
yang bertujuan untuk mensinkronkan kondisi reproduksi ternak sapi
donor dan resipien. Sinkronisasi estrus umumnya menggunakan
hormon prostaglandin (PGF2) atau kombinasi hormon progesteron
dengan PGF2. (Huznurizal, 2008).
Penggunaan teknik sinkronisasi berahi akan mampu
meningkatkan efisiensi produksi dan reproduksi kelompok ternak,
serta mengoptimalisasi pelaksanaan inseminasi buatan, mengurangi
waktu dan memudahkan observasi deteksi berahi, dapat
menentukan jadwal kelahiran yang diharapkan, menurunkan usia
pubertas pada sapi dara, penghematan dan efisiensi tenaga kerja
inseminator karena dapat mengawinkan ternak pada suatu daerah
pada saat yang bersamaan. (Siregar, 2010).
Timbulnya estrus akibat pemberian PGF2disebabkan lisisnya
CL oleh kerja vasokonstriksi PGF2 sehingga aliran darah menuju CL
menurun secara drastis (Toelihere, 1981; Senger, 2003).
Sinkronisasi atau induksi estrus adalah tindakan menimbulkan
birahi, diikuti ovulasi fertil pada sekelompok atau individu ternak
dengan tujuan utama untuk menghasilkan konsepsi atau
kebuntingan. Sinkronisasi estrus biasanya menjadi satu paket
dengan pelaksanaan IB, baik berdasarkan pengamatan birahi
maupun IB Terjadwal (timed artificial insemination). Angka konsepsi
atau kebuntingan yang optimum merupakan tujuan dari aplikasi
sinkronisasi estrus ini. (Martinez, 2005).
Beberapa metode sinkronisasi estrus telah dikembangkan,
antara lain dengan penggunaan sediaan progesteron, prostaglandin
F2 (PGF2), serta kombinasinya dengan gonadotropin releasing
hormone (gnrh). Pemberian progesteron berpengaruh menghambat
ovulasi, prostaglandin F2menginduksi regresi korpus luteum,
sedangkan Gnrh menambah sinergi proses ovulasi (Rabiee Et Al.,
2005; Kasamanickam et al., 2006).

BAB III
PEMBAHASAN

3.1.

Penjelasan Umum Sinkronisasi Estrus


Sinkronisasi estrus merupakan teknik manipulasi siklus estrus
untuk menimbulkan gejala estrus dan ovulasi pada sekolompok
hewan secara bersamaan. Penyerentakan berahi atau sinkronisasi
estrus adalah usaha yang bertujuan untuk mensinkronkan kondisi
reproduksi ternak sapi donor dan resipien. Sinkronisasi estrus
umumnya menggunakan hormon prostaglandin (PGF2) atau
kombinasi hormon progesteron dengan PGF2. Penggunaan teknik
sinkronisasi berahi akan mampu meningkatkan efisiensi produksi
dan reproduksi kelompok ternak, serta mengoptimalisasi
pelaksanaan inseminasi buatan, mengurangi waktu dan
memudahkan observasi deteksi berahi, dapat menentukan jadwal
kelahiran yang diharapkan, menurunkan usia pubertas pada sapi
dara, penghematan dan efisiensi tenaga kerja inseminator karena
dapat mengawinkan ternak pada suatu daerah pada saat yang
bersamaan.
Kesuksesan program sinkronisasi membutuhkan pengetahuan
mengenai siklus berahi. Hari ke-0 dari merupakan hari pertama
estrus, pada saat ini biasanya perkawinan secara alami terjadi.
Hormon estrogen mencapai puncaknya pada hari ke-1 dan kemudian
menurun, level progesteron rendah karena corpus luteum (CL) belum
terbentuk. Ovulasi terjadi 12-16 jam setelah akhir standing estrus. CL
yang menghasilkan hormon progesteron terbentuk pada tempat
ovulasi dan secara cepat mengalami pertumbuhan mulai dari hari ke4 sampai ke-7, pertumbuhan ini diikuti dengan peningkatan level
progesteron. Mulai hari ke-7 sampai ke-16, CL menghasilkan
progesteron dalam level tinggi.
Selama periode ini, 1 atau 2 folikel mungkin menjadi besar,
tetapi dalam waktu yang singkat akan mengalami regresi, kira-kira
hari ke-16, prostaglandin dilepaskan dari uterus dan menyebabkan
level progesteron menjadi turun. Ketika level progesteron menurun,
level estrogen meningkat dan folikel baru mulai tumbuh, estrogen
mencapai puncaknya pada hari ke-20, diikuti tingkah laku estrus
pada hari ke-21. Pada saat ini siklus estrus kembali dimulai.
Proses
sinkronisasi
dengan
menggunakan
preparat
prostaglandin (PGF2) akan menyebabkan regresi CL akibat
luteolitik, secara alami prostaglandin (PGF2 ) dilepaskan oleh uterus
hewan yang tidak bunting pada hari ke-16 sampai ke-18 siklus yang

berfungsi untuk menghancurkan CL. Timbulnya berahi akibat


pemberian PGF2 disebabkan lisisnya CL oleh kerja vasokontriksi
PGF2 sehingga aliran darah menuju CL menurun secara drastis,
akibatnya kadar progesteron yang dihasilkan CL dalam darah
menurun, penurunan kadar progesteron ini akan merangsang
hipofisa anterior melepaskan fsh dan lh, kedua hormon ini
bertanggung jawab dalam proses folikulogenesis dan ovulasi,
sehingga terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel. Folikel-folikel
tersebut akhirnya menghasilkan hormon estrogen yang mampu
memanifestasikan gejala berahi. Kerja hormon estrogen adalah
untuk meningkatkan sensitivitas organ kelamin betina yang ditandai
dengan perubahan pada vulva dan keluarnya lendir transparan.
Prosedur sinkronisasi berahi sinkronisasi berahi pada kerbau
seperti pada sapi, paling umum menggunakan prostaglandin atau
senyawa analognya. Dengan tersedianya prostaglandin di pasaran
memungkinkan pelaksanaan sinkronisasi berahi di lapangan
beberapa senyawa prostaglandin yang tersedia antara lain 1)
reprodin (luprostiol, bayer, dosis 15 mg), 2) prosolvin (luprostiol,
intervet, dosis 15 mg), 3) estrumate (CLoprostenol, ici, dosis 500 g)
dan lutalyse (dinoprost, up john, dosis 25 mg). Cara standar
sinkronisasi berahi meliputi 2 kali penyuntikan prostaglandin dengan
selang 10-12 hari. Berahi akan terjadi dalam waktu 72-96 jam
setelah penyuntikan kedua.
Pelaksanaan inseminasi dilakukan 12 jam setelah kelihatan
berahi, atau sekali pada 80 jam setelah penyuntikan kedua. Prosedur
yang digunakan adalah: ternak yang diketahui mempunyai corpus
luteum (CL), dilakukan penyuntikan PGF2 satu kali. Berahi
biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan. Apabila
tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2
dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari. Setelah itu dilakukan
pengamatan timbul tidaknya berahi 36-72 jam setelah peyuntikan
kedua. Pemberian PGF2analog dapat menyebabkan luteolisis
melalui penyempitan vena ovarica yang menyebabkan berkurangnya
aliran darah dalam ovarium. Berkurangnya aliran darah ini
menyebabkan regresi sel-sel luteal. Regresi sel-sel luteal
menyebabkan produksi progesteron menurun menuju kadar basal
mendekati nol nmol/lt, dimana saat-saat terjadinya gejala berahi.
Regresi korpus luteum menyebabkan penurunan produksi
progesterone.

10

3.2.

Manfaat dan Keuntungan Sinkronisasi Estrus pada Ternak


Sinkronisasi atau induksi estrus adalah tindakan menimbulkan
birahi, diikuti ovulasi fertil pada sekelompok atau individu ternak
dengan tujuan utama untuk menghasilkan konsepsi atau
kebuntingan. Sinkronisasi estrus biasanya menjadi satu paket
dengan pelaksanaan IB, baik berdasarkan pengamatan birahi
maupun IB terjadwal (timed artificial insemination). Angka konsepsi
atau kebuntingan yang optimum merupakan tujuan dari aplikasi
sinkronisasi estrus ini.
Manfaat dari tindakan sinkronisasi estrus pada sapi ada
beberapa, antara lain:
1) Optimalisasi dan efisiensi pelaksanaan IB. Dengan teknik ini
dimungkinkan pelaksanaan IB secara massal pada suatu waktu
tertentu.
2) Mengatasi masalah kesulitan pengenalan birahi. Subestrus atau
birahi tenang yang umum terjadi pada sapi perah dan potong di
Indonesia dapat diatasi dengan teknik sinkronisasi estrus.
3) Mengatasi masalah reproduksi tertentu, misalnya anestrus post
partum (anestrus pasca beranak).
4) Fasilitasi program perkawinan dini pasca beranak (early post
partum breeding) pada sapi potong dan perah. Teknik ini dapat
digunakan untuk mempercepat birahi kembali pasca beranak,
pemendekkan days open (hari-hari kosong) dan pemendekkan
jarak beranak.
5) Manajemen reproduksi resipien pada pelaksanaan transfer
embrio sapi. Dalam program transfer embrio, embrio beku
maupun segar (diambil dari sapi donor pada hari ke 7 setelah
estrus) ditransfer ke resipien pada fase siklus estrus yang sama.
Sinkronisasi estrus biasanya digunakan untuk maksud tersebut.

Adanya Kegiatan sinkronisasi estrus ini diharapkan dapat


meningkatkan kinerja reproduksi sapi Madura, meningkatkan
produktivitas sapi Madura, meningkatkan penghasilan peternak,
meningkatkan jumlah Akseptor IB, dan membantu program
pemerintah dalam swasembada daging Tahun 2014, sehingga
diharapkan kegiatan ini dapat diadakan secara berkelanjutan di
tahun- tahun berikutnya.

11

Fungsi Sinkronisasi Estrus


a. Mengurangi waktu untuk menemukan hewan birahi
b. Memberi kemudahan bagi penggunaan inseminasi buatan,
terutama pada kawanan sapi pedaging, dengan memberi
perlakuan pada hewan secara berkelompok.
c. Dalam hubungan dengan prosedur saat ovulasi, agar dapat
melakukan inseminasi sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan sebelumnya
d. Memungkinkan memberi makan hewan dalam kelompok yang
seragam, terutama bila ini menyangkut perubahan ransum
sesuai dengan fase kebuntiongan.
e. Sebagai kelanjutan dari pembiakan serentak, membatasi
keseluruhan periode kelahiran pada kawanan atau kelmpok
ternak
f. Memungkinkan melakukan pengawasan kelahiran dengan tujuan
mengurangi kematian anak baru lahir dan pengaturan
pengasuhan anak pada induk lain
g. Setelah pengendalian perkawinan yang berhasil, memungkinkan
untuk melakukan penyapihan, penggemukan, dan pemasaran
kawanan ternak yang seragam.
h. Memudahkan pemanfaatan transfer embrio (Hunter, 2000)
Keuntungan siklus estrus pada ternak adalah sebagai berikut
(Ismaya, 1998):
1) Memudahkan dan efisiensi deteksi birahi.
2) Memudahkan dalam pelaksanaan kawin buatan.
3) Memudahkan tata laksana pemberian pakan ternak bunting.
4) Memudahkan tatalaksana kelahiran dan pemeliharaan anak.
5) Memudahkan tatalaksana penggemukan anak jantan.
6) Memudahkan tatalaksana pemibibitan.

3.3.

Mekanisme Sinkronisasi Estrus pada Ternak

Sikronisasi estrus pada sapi dapat dilakukan dengan


beberapa cara yaitu :
1. Menghilangkan corpus luteum atau enukleasi luteal
a. Perusakan fisik pada CL dngan menggunakan jari melalui
rektum, pada saat CL dalam keadaan berfungsi (masak).
b. Perlu tenaga yang profesional.
c. 50 60 % dari sekelompok sapi yang peka, empat hari
kemudian akan birahi.
d. Resiko hemorhagia dan perlekatan fimbria (Ismaya, 1998).

12

2. Penyuntikan Progesteron
a. Penyuntikan selama 18 -20 hari (50 mg/hari).
b. Menghambat fase luteal melalui umpan balik negatif.
c. Kelemahannya yaitu injeksi memerlukan waktu dan tenaga,
timbulnya birahi bervariasi kurang lebih 5 hari, fertilisasi
menurun/rendah (Ismaya, 1998).
3. Pemberian progestagen aktif per oral (mulut)
a. Mengatasi kesulitan kedua diatas dan lebih tepat untuk
kelompok ternak yang besar dikandang dan terprogram
pemberian pakannya
b. Progestagen sintetik yaitu melengestrol Asetat (MGA) dan
Medroxiprogesteron (MPA), namun lebih bagus MGA
daripada MPA.
c. Pemberian lewat pakan selama 15-18 hari dan birahi terjadi
3-5 hari kemudian setelah penghentian perlakuan.
d. Fertilisasi rendah (42%) dan menjadi 82 % pada estrus
berikutnya.
e. Pemberian esterogen dan gonadotropin menghambat MGA,
fertilisasi tetap rendah (Ismaya, 1998).
4. Implan silastik
a. Implan silastik yang mengandung MGA ditanam dibawah kulit
leher atau dibawah kulit luar telinga selama 22-64 hari
b. 36-72 jam setelah penghentian perlakuan terjadi birahi 64 %
(Ismaya, 1998).
5. Spons intravagina
a. Progesteron juga dapat dimasukan ke vagina dengan
memakai spons, diharapkan dapat menghasilkan estrus yang
baik.
b. Pemasangan spons selama 18-21 hari dan birahi akan
tampak 24-72 jam setelah pengambilan spons dari vagina.
c. Kelemahan: spons sering berubah tempat, kerusakan
mukosa vagina dan serviks.
d. Progesteron releasing intra vagina device (PRID) adalah alat
intravagina pelepas progesteron dengan speculum pada
bagian vagina anterior (Ismaya, 1998).
e. Dengan penyuntikan PMSG (750-2000 IU) sebelum dan
sesudah pengeluaran spons dapat meningkatkan birahi dan
fertilisasi (Ismaya, 1998).
6. Progestagen dalam waktu singkat
a. Untuk meningkatkan fertilisasi prostagen diberikan 9-12
hari saja.
b. Sebelumnya disuntikan 5-7,5 mg EB dan 50-250 mg
progesteron dan setelah penghentian perlakuan, maka 56
jam kemudian birahi dan dapat di IB (Ismaya, 1998).
7. Injeksi prostaglandin PGF 2alfa

13

a. Publikasi pertama mengenai terapi prostalglandin baru


muncul tahun 1970 dan terus berkembang sejalan
ditemukannya analog prostaglandin.
b. Lebih sederhana dan mencegah menurunya fertilisasi.
c. Penyuntikan intra muskular tunggal untuk fase luteal dan
ganda (10-12 hari) untuk yang heterogen fasenya, IB
dilakukan 58-72 jam atau 72 dan 96 jam (IB Ganda)

3.4. Metode Sinkronisasi Pada Ternak


Pada Babi
Bahan yang digunakan adalah bahan kimia bukan steroid
yang diberikan melalui ransum selama 20 hari. Setelah itu pemberian
dihentikan dan 5 hari setelah penghentian akan terjadi estrus secara
serentak.
Selain itu bisa juga digunakan PGF2 alpha melalui suntikan intra
muskuler dengan dosis 8 mg/ekor,ini dilakukan pada hari ke 12 dari
siklus berahi maka berahi akan muncul 1-3 hari kemudian.
Pada Domba
Sinkronisasi pada domba dapat dilakukan dengan dua cara:
a. Pemberian progesterone dengan suntikan intra muskuler,intra
vena, dan intra vagina. Melalui intra vagina adalah dengan jalan
mencelupkan spons yang telah berisi larutan progesterone dan
dimasuk kan kedalam saluran reproduksi betina yang tidak
bunting selama 14-19 hari. Spons ini berbentuk bulat panjang
sebesar ibu jari dengan panjang nya sekitar 4 cm dan
dibelakangnya diikat dengan tali nilon 2 hari setelah penarikan
spons yang berisi progesterone dan diserap oleh vagina
sehingga masuk keperedaran darah dan menekan kejadian
berahi,
berahi
akan
terjadi
1-3
hari
kemudain.
Secara fisologis,setelah penarikan spons maka suplay
progesterone akan terhenti ini menyebabkan ransangan pada
hipofisa untuk mengeluarkan FSH dan LH,selanjutnya folikel
akan tumbuh pata taraf yang matang sehingga terjadilah estrus.
b. Pemberian PGF2 alpha secara umum dilakukan dengan
suntikan intra muskuler dengan dosis 6-8 mg/ekor.Berahi akan
muncul 1-3 hari kemudian.

Pada Sapi
Pada sapi sering digunakan PGF2 alpha yang berfungsi
menghancurkan korpus leteum yang sedang berfungsi dan tidak

14

efektif pada korpus luteum yang sedang tumbuh. Pada dasarnya


korpus luteum tumbuh pada 0-5 hari setelah estrus dan pada hari 616 korpus luteum berfungsi. Cara penyuntikan PGF2 alpha.
a) Penyuntikan satu kali
Pada cara ini sebua betina yang tidak bunting disuntik
dengan PGF2 alpha,estrus akan terjadi 1-3 hari kemudian.
Secara teori kebrhasilan cara ini sekitar 75% kerena
diperkirakan 25% ny masih berada pada kondisi estrus sampai
5 hari setelah estrus.untuk mendapatkan hasil 100% maka
diperlukan penyuntikan kedua.
b) Penyuntikan dua kali
Semua betina yang tidak bunting disuntik dengan PGF 2
alpha, kemudian penyuntikan diulangi lagi pada hari kesebelas
(11).Berahi terjadi secara serentak 1-3 hari kemudian dan 100%
berahi. Dosis PGF 2 alpha adalah 5 35 mg/ekor.
3.5.

Perbedaan Angka Kebuntingan yang Birahi Alami dan Birahi


Sinkronisasi
Fertilitas yang dihasilkan dari estrus hasil sinkronisasi menurut
laporan laporan dari negara maju dan berdasarkan pengalaman
pribadi penulis dapat dikatakan sama dengan hasil dari estrus alami.
Inseminasi buatan berdasarkan deteksi birahi alami mempunyai
angka konsepsi normal 60 75%, sedangkan sinkronisasi estrus
dengan inseminasi terjadwal juga menghasilkan angka yang sama.
Pada aplikasi sinkronisasi estrus dengan inseminasi buatan terjadwal
pelaksanaannya akan lebih efisien, karena tanpa diperlukan lagi
deteksi birahi. Hasil konsepsi dari sinkronisasi estrus dan inseminasi
buatan memang tidak dapat dibandingkan dengan hasil kawin alami
dengan pejantan langsung. Pejantan sapi sesungguhnya merupakan
detektor birahi terbaik bagi sapi betina, dalam aplikasi IB peran
deteksi itu digantikan oleh manusia yaitu peternak dan inseminator
dengan hanya mengandalkan visualisasi gejala estrus. Perkawinan
alam pada sapi secara bebas tanpa diatur manusia (natural mating)
normal dapat mencapai hasil 90% atau lebih, bahkan kalau sapi Bali
yang dipelihara ekstensif dapat mendekati 100%. Hasil konsepsi
aplikasi teknologi sinkronisasi estrus baku diharapkan tidak kurang
dari 60% hasil konsepsinya apabila persyaratan minimum sapi betina
akseptor sinkronisasi dipenuhi.
BAB IV
PENUTUP

15

4.1.

Kesimpulan
Sinkronisasi estrus merupakan teknik manipulasi siklus estrus
untuk menimbulkan gejala estrus dan ovulasi pada
sekolompok hewan secara bersamaan.
- Metode penggunaan sinkronisasi estrus dapat dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu penggunaan sediaan
progesteron, prostaglandin F2a(PGF2a), dan kombinasinya
dengan gonadotropin releasing hormone (GnRH).
- Manfaat sinkronisasi estrus adalah diantara meningkatkan
efisiensi penggunaan inseminasi buatan, efisiensi deteksi
estrus atau birahi, menekan biaya inseminasi buatan,
mengatasi masalah pendeteksian birahi, dan mengatasi
masalah reproduksi tertentu seperti anestrus post partum.
-

4.2.

Saran
Sebaiknya sinkronisasi estrus pada ternak lebih digalakkan
lagi dan disosialisasikan kepada peternak dan diaplikasikan secara
terprogram karena memiliki tingkat keberhasilan yang sama
dibandingkan birahi alami.

16

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Peternakan. 2014. Kegiatan Sinkronisasi Estrus pada Sapi


Madura.http://disnak.pamekasankab.go.id/index.php/berita/15
1-kegiatan-sinkronisasi-estrus-pada-sapi-madura
(online).
Diakses pada 28 Februari 2016.
Hastono. 2012. Upaya Peningkatan Efisiensi Reproduksi Ternak
Domba Di Tingkat Petani-Ternak. Lokakarya Nasional Domba
dan Kambing. Balai penelitian ternak : 236-240
Husnurrizal. 2008. Sinkronisasi Birahi Dengan Preparat Hormon
Prostaglandin
(PGF2a).
Lab.
Reproduksi.
Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala.
Kasimanickam, R., Collins, J. C., Wuenschell, J., Currin, J. C., Hall,
J. B. and Whittier, D. W. (2006).Effect Of Timing Of
Prostaglandin Administration, Controlled Internal Drug
Release Removal And Gonadotropin Releasing Hormone
Administration On Pregnancy Rate In Fixed-Time AI Protocols
In Crossbred Angus Cows. Theriogenology 65: 1-14.
Martinez, M. F., Kastelic, J. P. , Bo, G. A., Caccia, M. and Mapletoft,
R. J. (2005) Effect Of Oestradiol And Some Of Its Esters On
Gonadotrophin Release And Ovarian Follicular Dynamics In
CIDR Treated Beef Cattle. J. Anim. Sci. 86: 37-52.
Putro, Prabowo Purwono.2013. Dinamika Folikel Ovulasi Setelah
Perlakuan Sinkronisasi Estrus dengan Implan Progesteron
Intravagina pada Sapi Perah. Jurnal sain veteriner. Vol 31(2) :
128-137.
Ratnawati, Dian dan L. Affandhy. 2008. Implementasi Sinkronisasi
Ovulasi Menggunakan Gonadotrophin Releasing Hormone
(Gnrh) Dan Prostaglandin (Pgf2) Pada Induk Sapi Bali.
Seminar nasional teknologi peternakan dan veteriner : 72-76
Salverson, R.( 2006).Manipulation Of The Oestrus Cycle In Cow.
South Dakota State University- Cooperative Extension
Service-USDA, USA.
Senger, P .L. 2003. Pathways To Pregnancy And Parturition.
Washington State University Research & Technology Park.
2nd ed.. Current Conception Inc., Washington.
Siregar, T.N., T. Armansyah, A. Sayuti dan Syafruddin. 2010.
Tampilan Reproduksi Kambing Betina Lokal Yang Diinduksi
Berahinya Dilakukan Dengan System Sinkronisasi Cepat.
Jurnal Veteriner11(1):30-35.

17

Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit


Angkasa, Bandung.
Toelihere, M. R. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Penerbit
Angkasa. Bandung.