Anda di halaman 1dari 33

Case Report Session

KARSINOMA REKTAL

Oleh:
Devi Yunita Purba
1010312096

Preseptor:
Prof.dr.Azamris, Sp.B(K)Onk

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU BEDAH RSUP DR.M.DJAMIL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018

0
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebelum tahun 1900 an, insiden kanker kolon dan rektal seringdiabaikan, namun

kini insiden kanker kolorektal telah meningkat secara dramatis mengikuti

perkembangan ekonomi dan industrialisasi. Saat ini, kanker kolorektal adalah

penyebab utama ketiga kematian akibat kanker pada pria dan wanita di Amerika

Serikat.1, 2 Secara statistik, sangat sulit untuk memisahkan epidemiologi kanker

rektum dan kolon karena kebanyakkan studi epidemiologi sering menganggap

kanker kolon dan kanker rektum (yaitu, kanker kolorektal) secara bersamaan.3
Di seluruh dunia, kanker kolorektal menduduki tempat ketiga dari kanker

yang sering terjadi. Pada tahun 2012, diperkirakan ada 1,36 juta kasus baru

kanker kolorektal dan 694.000 kematian. 3 Diperkirakan di Amerika Serikat pada

tahun 2016, dilaporkan sebanyak 39,220 kasus baru kanker rektal, 95,270 kasus

baru kanker kolon dan kasus kematian sebanyak 49.190 (kanker kolorektal).

Kanker kolorektal mempengaruhi laki-laki dan perempuan hampir sama. Di

antara semua kelompok ras di Amerika Serikat, Afrika Amerika memiliki sporadis

angka kejadian kanker dan kematian tertinggi kolorektal.4


Sebahagian besar kanker rectum dan kolon terdiri dari adenokarsinoma

(98%). Karsinoma rektal lainnya, termasuk karsinoid (0,4%), limfoma (1,3%),

dan sarcoma (0,3%).1, 5Sekitar 20% dari kanker kolon berkembang di sekum, 20%

di rektum, dan 10% di persimpangan rektosigmoid. Menurut insiden dan

epidemiologi, etiologi, dan patogenesis, direkomendasi skrining umum untuk

kedua kanker kolon dan kanker rektum.1

1
Di Indonesia kanker kolorektal adalah keganasan yang sering terjadi baik

pada pria dan wanita setelah kanker prostat dan kanker payudara dengan

persentase 11,5% dari jumlah seluruh pasien kanker di Indonesia. Insidensi

kanker kolorektal di Indonesia cukup tinggi,demikian juga angka kematiannya.

Data lainnya dari Depkes menunjukkan insidensi kanker kolorektal dengan

usia kurang dari 45 tahun pada 4 kota besar di Indonesia sebagai berikut,

47,85% di Jakarta, 54,5%di Bandung, 44,3%di Makassar dan 48,2%di Padang.6


1.2 Tujuan penulisan
Penulisan case report session ini bertujuan untuk memahami serta menambah

pengetahuan tentang karsinoma rektal.

1.3 Batasan Masalah


Batasan penulisan case ini membahas mengenai anatomi, definisi, epidemiologi,

etiologi dan patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan dan

prognosis karsinoma rektal.

1.4 Metode penulisan


Penulisan case ini menggunakan metode penulisan tinjauan kepustakaan merujuk

pada berbagai literatur.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Rektum
Secara anatomi rektum terbentang dari vertebre sakrum ke-3 sampai garis

anorektal. Secara fungsional dan endoskopik, rektum dibagi menjadi bagian

ampula dan sfingter. Bagian sfingter disebut juga annulus

hemoroidalis, dikelilingi oleh muskulus levator ani dan fasia coli dari fasia

supra-ani. Bagian ampula terbentang dari sakrum ke-3 ke difragma pelvis

pada insersi muskulus levator ani. Panjang rrektum berkisa 10-15 cm, dengan

keliling 15 cm pada recto-sigmoid junction dan 35 cm pada bagian ampula yang


2
terluas. Pada orang dewasa dinding rektum mempunyai 5 lapisan : mukosa,

submukosa, muskularis sirkuler, muskularis longitudinal, dan lapisan serosa.7

Gambar 1. Anatomi anus dan rektum


Perdarahan arteri daerah anorektum berasal dari arteri hemoroidalis superior,

media, dan inferior. Arteri hemoroidalis superior yang merupakankelanjutan dari a.

mesenterika inferior, arteri ini bercabang 2 kiri dan kanan.Arteri hemoroidalis

merupakan cabang a. iliaka interna, arteri hemoroidalisinferior cabang dari a.

pudenda interna. Vena hemoroidalis superior berasal dariplexus hemoroidalis

internus dan berjalan ke arah kranial ke dalam v. mesenterika inferior dan

seterusnya melalui v. lienalis menuju v. porta. Vena ini tidak berkatupsehingga

tekanan alam rongga perut menentukan tekanan di dalamnya. Karsinomarektum

dapat menyebar sebagai embolus vena ke dalam hati. Vena hemoroidalisinferior

mengalirkan darah ke v. pudenda interna, v. iliaka interna dan sistem venakava.7


Pembuluh limfe daerah anorektum membentuk pleksus halus

yangmengalirkan isinya menuju kelenjar limfe inguinal yang selanjutnya mengalir


3
kekelenjar limfe iliaka. Infeksi dan tumor ganas pada daerah anorektal

dapatmengakibatkan limfadenopati inguinal. Pembuluh rekrum di atas garis

anorektumberjalan seiring dengan v. hemoroidalis seuperior dan melanjut ke

kelenjar limfemesenterika inferior dan aorta.7


Persarafan rektum terdiri atas sistem simpatik dan parasimpatik.

Serabutsimpatik berasal dari pleksus mesenterikus inferior yang berasal dari

lumbal 2, 3,dan 4, serabut ini mengatur fungsi emisi air mani dan ejakulasi.

Serabutparasimpatis berasal dari sakral 2, 3, dan 4, serabut ini mengatur fungsi

ereksipenis, klitoris dengan mengatur aliran darah ke dalam jaringan.

2.2 Definisi Karsinoma Rektal


Karsinoma rektal, adalah suatu tumor malignan yang muncul dari jaringan

epithelial dari rektum, yaitu bagian terakhir dari kolon. Kanker rektum sering

dikelompokkan bersama dengan kanker kolon, dan disebut kanker kolorektal.

Kanker rektum paling sering dimulai pada sel-sel yang melapisi bagian dalam

rektum. Kanker rektum sering memberi gambaran pertama sebagai polip

prakanker.

2.3 Epidemiologi

Insidensi karsinoma kolon di Indonesia cukup tinggi, demikian juga angka

kematiannya.Insidensi kanker kolorektal pada pria sebanding dengan wanita dan

lebih banyak terjadi pada usia produktif. Hal ini berbeda dengan data yang

diperoleh di negara berat dimana kanker biasanya terjadi pada pasien usia lanjut.

Perbandingan insidensi pada laki-laki dan perempuan adalah 3 berbanding 1 dan

4
kurang dari 50% kanker kolon dan rektum ditemukan di rektosigmoid.Data pasien

kanker kolorektal di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada tahun 2009 dan 2010

menunjukkan populasi usia terbanyak berada pada usia 51-60 tahun yaitu sekitar

35%.

2.4 Etiologi dan Faktor risiko


Secara umum dinyatakan bahwa untuk perkembangan kanker kolon dan

rektum merupakan interaksi berbagai faktor yakni factor lingkungan dan faktor

genetik. Faktor lingkungan yang multiple bereaksi menjadi kanker kolon dan

rektum.Terdapat 3 kelompok kanker kolon dan rektum berdasarkan

perkembangannya yaitu:8
1. Kelompok yang diturunkan (inherited) yang mencakup kurang dari 10%
2. Kelompok sporadik (70%)
3. Kelompok familial, (20%)

Kelompok yang diturunkan adalah pasien yang waktu lahir sudah dengan

mutasi sel-sel germinativum (germline mutation) pada salah satu alel dan terjadi

mutasi somatic pada alel yang lain. Contohnya adalah FAP ( Familial

Adenomatous Polyposis) dan HNPCC (Hereditary Non Polyposis Colorectal

Cancer). HNPCC terdapat pada sekitar 5% dari kanker kolon dan rektum.

Kelompok sporadik membutuhkan dua mutasi somatik, satu pada masing-masing

alelnya.

Kelompok familial tidak sesuai kedalam salah satu dari dominantly inherited

syndromes (FAP & HNPCC) dan lebih dari 35% terjadi pada umur muda.

Meskipun kelompok familial dari kanker kolon dan rektum dapat terjadi karena

5
kebetulan saja, ada kemungkinan peran dari factor lingkungan, penetrasi mutasi

yang lemah atau mutasi-mutasi germinativum yang sedang berlangsung.

Beberapa faktor gaya hidup telah dikaitkan dengan kanker kolorektal. Bahkan,

hubungan antara diet, berat badan, dan olahragaserta risiko kanker kolorektal

adalah terkuat untuk semua jenis kanker.

1. Obesitas
Seseorang yang menderita obesitas, mempunyai resiko kanker kolorektal

lebih tinggi. Kelebihan berat badan meningkatkan risiko kanker kolorektal

pada pria dan perempuan, namun hubungannya tampaknya lebih pada

pria. Dari beberapa penelitian, terjadi kenaikan resiko 15% kejadian

karsinoma kolorektal pada orang yang overweight (BMI > 25,0kg/m 2)

dibanding berat badan normal dan resiko meningkat menjadi 33% pada

obesitas.8 Diet rendah serat, tinggi karbohidrat


Diet tinggi lemak, protein (daging) dapat mengakibatkan perubahan pada

flora feses dan perubahan degradasi garam-garam empedu atau hasil

pemecahan protein dan lemak, dimana sebahagian dari zat-zat ini bersifat

karsinogenik. Diet rendah serat juga menyebabkan pemekatan zat yang

berpotensi karsinogenik dalam feses. Selain itu, masa transisi feses

meningkat, akibatnya kontak zat yang berpotensi karsinogenik dengan

mukosa usus bertambah lama.


2. Kurang Olahraga

6
Jika tidak aktif secara fisik, individu tersebut memiliki kesempatan lebih

besar untuk mengembangkan kanker kolorektal.


3. Merokok
Merokok berhubungan dengan kenaikan resiko terbentuknya adenoma dan

juga kenaikan resiko perubahan adenoma menjadi kanker kolorektal.


4. Konsumsi Alkohol
Pembatasan konsumsi alcohol 2 kali dalam sehari pada laki-laki dan 1

kali/ hari pada wanita dapat meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan

risiko terkena kanker kolorektal.

2.5 Patogenesis
Kanker rektum dapat disebabkan karena polip pada usus, colitis ulseratif,

kebiasaan makan(tinggi karbohidrat, rendah serat), faktor genetik pembawa sel-

sel kanker yang menyusup sertamerusak jaringan normal dan meluas ke dalam

strutktur sekitarnya sehingga mengakibatkanpertumbuhan (proliferasi) sel-sel

yang mengandung DNA baru. oleh karena pertumbuhan sel-sel tidak dapat

dikontrol sehingga mengakibatkan DNA mengalami kerusakan. DNA yang

sudahmengalami kerusakan bergabungan dengan DNA normal yang

membentuk RNA baru.


Terbentuknya RNA abnormal mengakibatkan pembelahan sel (mitosis)

yang tidak terkendalisehingga mengakibatkan munculnya sel-sel ganas (kanker

rektum). Ketika telah terjadi kanker rectum maka tubuh berespon dengan

pelepasan protein reseptor yang mana protein reseptortersebut akan merangsang

syaraf pada sistem syaraf pusat sehingga menyebabkan munculnyasensasi nyeri.

kanker rectum juga menyebabkan peningkatan sel-sel point di hipotalamus

yangmana hipotalamus akan berespon dengan stimulus peningkatan suhu tubuh

sehingga pasienmengalami hipertermia. pertumbuhan kanker pada rectum


7
mengakibatkan penyempitan jalannya feses menuju ke anus dan tidak

seimbangnya penyerapan air pada feses di usus sehingga muncullah konstipasi.

kanker rectum juga dapat menyebabkan penyerapan sari-sari makanan pada usus

mengalami gangguan kontrol syaraf yang mengatur penyerapan sari-sarimakanan

pada ileum sehingga kebutuhan ATP tidak terpenuhi yang berdampak pada

perasaankeletihan pada penderita Ca Rectum. Sel kanker dapat terlepas

dari tumor primer danmenyebar ke bagian tubun yang lain (paling sering ke

hati).
Gambar 2. Patofisiologi karsinoma rektum
Tumor kanker rektum menyebar dengan menginvasi dinding usus. Setelah

melintasi melalui lapisan otot dalam dinding usus, ia memasuki pembuluh

limfatik, menyebar ke kelenjar getah bening lokal dan kemudian regional.

Kadang-kadang kanker rektum dapat menyebar secara hematogen ke hati, yang

8
merupakan daerah yang paling umum dari metastasis dari tumor ini. Organ lain

yang mungkin akan terpengaruh adalah paru-paru, tulang (jarang), dan bahkan ke

otak.
Jika banyak sel tumor melewati dinding usus, mereka cenderung mengapung

di sekitar sebagai sejumlah kecil cairan dalam perut dan dapat meliputi dari usus

(peritoneum). Cirang ini menghasilkan nodul kecil di seluruh perut yang

mengganggu jaringan dan menyebabkan produksi asites dalam jumlah besar.

Penyebaran langsung dari rektum dapat menyebabkan tumor di kandung kemih

pada laki-laki dan menyebabkan fistula. Pada wanita mungkin menyerang vagina

atau organ panggul yang berdekatan.9

2.6 GEJALA KLINIS


Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada kanker rektal antara lain ialah :
 Perubahan pada kebiasaan BAB atau adanya darah pada feses, baik itu darah

segar maupun yang berwarna hitam.


 Diare, konstipasi atau merasa bahwa isi perut tidak benar benar kosong saat

BAB
 Feses yang lebih kecil dari biasanya
 Keluhan tidak nyama pada perut seperti sering flatus, kembung, rasa penuh

pada perut atau nyeri


 Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya
 Mual dan muntah,
 Rasa letih dan lesu
 Pada tahap lanjut dapat muncul gejala pada traktus urinarius dan nyeri pada

daerah gluteus.

2.7 DIAGNOSIS
Diagnosis karsinoma kolorektal ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan

fisik, dan pemeriksaan penunjang.8


a. Anamnesa
Gejala yang dapat ditemukan antara lain :
← - Perdarahan peranum disertai peningkatan frekuensi defekasi dan/ atau diare
9
← selama minimal 6 minggu (semua umur)
← - Perdarahan peranum tanpa gejala anal (diatas umur 60tahun)
← - Peningkatan frekuensi defikasi atau diare selama minimal 6 minggu (> 60
← tahun)
← - Massa teraba pada fossa iliaca dekstra (semua umur)
← - Tanda-tanda obstruksi mekanik ileus

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mencari kemungkinan metastase

sepertipembesaran KGB atau hepatomegali. Pemeriksaan colok dubur dapat

dilakukan pada setiap penderita dengan gejala anorektal untuk menilai keutuhan

sfingter ani, menentukan ukuran dan derajat fiksasi serta jarak tumor dari garis

anokutan. Lokasinya 1/3 tengah dan 1/3 distal rektum.

c. Pemeriksaan penunjang
Terdapat 3 macam pemeriksaan penunjang yang efektif dalam diagnosis yaitu

barium enema, endoskopi dan CT scan. Test yang dianjurkan sebagai berikut :
1. Jumlah sel-sel darah untuk evaluasi anemia.
2. Test Guaiac pada feces untuk mendeteksi bekuan darah di dalam feces,

karena semua kanker kolorektal mengalami perdarahan intermitten.


3. CEA (carcinoembryogenic antigen) adalah ditemukannya glikoprotein di

membran sel pada banyak jaringan, termasuk kanker kolorektal. Antigen ini

dapat dideteksi oleh radioimmunoassay dari serum atau cairan tubuh lainnya

dan sekresi. Karena test ini tidak spesifik bagi kanker kolorektal dan positif

pada lebih dari separuh pasien dengan lokalisasi penyakit, ini tidak termasuk

dalam skreening atau test diagnostik dalam pengobatan penyakit. Ini

10
terutama digunakan sebagai prediktor pada prognosis postoperative dan

untuk deteksi kekambuhan mengikuti pemotongan pembedahan.


Jika ditemukan tumor dari salah satu pemeriksaan diatas, biopsi harus dilakukan.

Deteksi perluasan tumor primer dan infiltrasinya dapat dilakukan dengan pelvic

Ct scan, MRI, USG Transabdominal dan foto toraks. Metode yang paling efektif

menentukan metastase hepar adalah kombinasi antara palpasi hepar dan USG

hepar.
Deteksi dini dapat dilakukan pada 2 kelompok yaitu populasi umum dan

kelompok risiko tinggi. Pada populasi umum dilakukan pada usia diatas 40 tahun.

Karena kanker kolorektal sering berkembang lamban dan penanganan stadium

awal sangat dibutuhkan, maka organisasi kanker Amerika merekomendasikan

prosedur skreening rutin bagi deteksi awal penyakit. Rekomendasinya sebagai

berikut :
1. Pemeriksaan rektal touche untuk semua orang usia lebih dari 40 tahun.
2. Test Guaiac untuk pemeriksaan darah feces bagi usia lebih dari 50 tahun.
3. Sigmoideskopi tiap 3 – 5 tahun untuk tiap orang usia lebih dari 50 tahun.

2.8 STADIUM
Ketika diagnosis rectal cancer sudah dipastikan, maka dilakukan prosedur untuk

menetukan stadium tumor. Hal ini termasuk computed tomography scan) dada,

abdomen, dan pelvis, complete blood count (CBC), tes fungsi hepar dan ginjal,

urinanalysis, dan pengukuran tumor marker CEA (carcino embryonic

antigen).Tujuan dari penentuan stadium penyakit ini ialah untuk mengetahui

perluasan dan lokasi tumor untuk menentukan terapi yang tepat dan menentukan

prognosis.
Stadium penyait pada kanker rektal hampir mirip dengan stadium pada kanker

kolon. Awalnya, terdapat Duke's classification system, yang menempatkan

11
klanker dalam 3 kategori stadium A, B dan C. Sistem ini kemudian dimodofikasi

oleh Astler-Coller menjadi 4 stadium (Stadium D), lalu dimodifikasi lagi tahun

1978 oleh Gunderson & Sosin.

Pada perkembangan selanjutnya, The American Joint Committee on Cancer

(AJCC) memperkenalkan TNM staging system, yang menempatkan kanker

menjadi satu dalam 4 stadium (Stadium I-IV).

1. Stadium 0
Pada stadium 0, kanker ditemukan hanya pada bagian paling dalam rektum.yaitu

pada mukosa saja. Disebut juga carcinoma in situ.

12
2. Stadium I
Pada stadium I, kanker telah menyebar menembus mukosa sampai lapisan

muskularis dan melibatkan bagian dalam dinding rektum tapi tidak menyebar

kebagian terluar dinding rektum ataupun keluar dari rektum. Disebut juga Dukes

A rectal cancer.

13
3. Stadium II
Pada stadium II, kanker telah menyebar keluar rektum kejaringan terdekat namun

tidak menyebar ke limfonodi. Disebut juga Dukes B rectal cancer.

Stadium II kanker rektum dibagimenjadi IIA, IIB, danIIC:

14
- Stadium IIA: Kanker telah menyebar melalui lapisan otot dinding rektum ke
serosa (lapisan terluar) dari dinding rektum.
- Stadium IIB: Kanker telah menyebar melalui serosa (lapisan terluar) dari

dinding
rektum tapi belum menyebar ke organ terdekat.
- Stadium IIC: Kanker telah menyebar melalui serosa (lapisan terluar) dari

dinding
rektum ke organ terdekat.

4. Stadium III
Pada stadium III, kanker telah menyebar ke limfonodi terdekat, tapi tidak

menyebar kebagian tubuh lainnya. Disebut juga Dukes C rectal cancer.

Pada stadium IIIA: Kanker telah menyebar melalui mukosa (lapisan terdalam)

dari dinding rektum ke submukosa (lapisan jaringan di bawah mukosa) dan

mungkin telah menyebar ke lapisan otot dinding rektum. Kanker telah menyebar

ke setidaknya satu tapi tidak lebih dari 3 kelenjar getah bening terdekat atau sel

kanker telah terbentuk di jaringan dekat kelenjar getah bening; atau kanker telah

15
menyebar melalui mukosa (lapisan terdalam) dari dinding rektum ke submukosa

(lapisan jaringan di bawah mukosa). Kanker telah menyebar ke setidaknya 4

tetapi tidak lebih dari 6 kelenjar getah bening di dekatnya.

Pada stadium IIIB:


-Kanker telah menyebar melalui lapisan otot dinding rektum ke serosa (lapisan

terluar) dari dinding rektum atau telah menyebar melalui serosa tetapi tidak untuk

organ terdekat. Kanker telah menyebar ke setidaknya satu tapi tidak lebih dari 3

kelenjar getah bening terdekat atau sel kanker telah terbentuk di jaringan dekat

kelenjar getah bening; atau kanker telah menyebar ke lapisan otot dinding rektum

atau serosa (lapisan terluar) dari dinding rektum.


-Kanker telah menyebar ke setidaknya 4 tetapi tidak lebih dari 6 kelenjar getah

bening di sekitarnya; atau


-Kanker telah menyebar melalui mukosa (lapisan terdalam) dari dinding rektum

ke submukosa (lapisan jaringan di bawah mukosa) dan mungkin telah menyebar

ke lapisan otot dinding rektum. Kanker telah menyebar ke 7 atau lebih kelenjar

getah bening di dekatnya.

16
Pada stadium IIIC:
-Kanker telah menyebar melalui serosa (lapisan terluar) dari dinding rektum tapi

belum menyebar ke organ terdekat. Kanker telah menyebar ke setidaknya 4 tetapi

tidak lebih dari 6 kelenjar getah bening di sekitarnya; atau


- Kanker telah menyebar melalui lapisan otot dinding rektum ke serosa (lapisan

terluar) dari dinding rektum atau telah menyebar melalui serosa tetapi belum

menyebar ke organ terdekat. Kanker telah menyebar ke 7 atau lebih kelenjar getah

bening di sekitarnya; atau


-Kanker telah menyebar melalui serosa (lapisan terluar) dari dinding rektum dan

telah menyebar ke organ terdekat. Kanker telah menyebar ke satu atau lebih

kelenjar getah bening terdekat atau sel kanker telah terbentuk di jaringan dekat

kelenjar getah bening.

5. Stadium IV
Pada stadium IV, kanker telah menyebar kebagian lain tubuh seperti hati, paru,

atau ovarium. Disebut juga Dukes D rectal cancer.

17
Tahap IVA: Kanker mungkin telah menyebar melalui dinding rektum dan

mungkin telah menyebar ke organ-organ atau di sekitarnya kelenjar getah bening.

Kanker telah menyebar ke salah satu organ yang tidak dekat dubur, seperti hati,

paru-paru, atau ovarium, atau ke kelenjar getah bening jauh.


Tahap IVB: kanker mungkin telah menyebar melalui dinding rektum dan

mungkin telah menyebar ke organ-organ atau di sekitarnya kelenjar getah bening.

Kanker telah menyebar ke lebih dari satu organ yang tidak dekat dubur atau ke

dalam lapisan dari dinding perut.


2.9 PENATALAKSANAAN
Ada berbagai jenis pengobatan untuk pasien dengan kanker rektum. Empat jenis

pengobatan standar yang digunakan:


1. Operasi
2. Terapi radiasi

18
3. Kemoterapi
4. Terapi target

Pembedahan
Pembedahan adalah pengobatan yang paling umum untuk semua tahap kanker

rektum. Kanker ganas tersebut diangkat menggunakan salah satu jenis berikut

operasi:10
a. Polypectomy: Jika kanker ditemukan dalam bentuk polip, polip sering

diangkat sewaktu kolonoskopi.


b. Eksisi lokal: Jika kanker ditemukan pada permukaan dalam rektum dan belum

menyebar ke dinding rektum, kanker dan sejumlah kecil jaringan sehat di

sekitarnya diangkat.
c. Reseksi: Jika kanker telah menyebar ke dinding rektum, bagian dari rektum

dengan kanker dan jaringan sehat di dekatnya diangkat. Kadang-kadang

jaringan antara rektum dan dinding perut juga diangkat. Kelenjar getah bening

di dekat rektum dikeluarkan dan diperiksa di bawah mikroskop untuk tanda-

tanda kanker.
d. Ablasi radiofrekuensi: Penggunaan probe khusus dengan elektroda kecil yang

membunuh sel-sel kanker. Kadang-kadang probe dimasukkan langsung

melalui kulit dan hanya anestesi lokal diperlukan. Dalam kasus lain, probe

dimasukkan melalui sayatan di perut. Hal ini dilakukan di rumah sakit dengan

anestesi umum.
e. Cryosurgery: Sebuah pengobatan yang menggunakan alat untuk membekukan

dan menghancurkan jaringan abnormal. Jenis pengobatan juga disebut

cryotherapy.
f. Panggul exenteration: Jika kanker telah menyebar ke organ lainnya di dekat

rektum, kolon desenden, dan kandung kemih diangkut. Pada wanita, leher rahim,

vagina, ovarium, dan kelenjar getah bening di dekatnya mungkin diangkat.


19
Setelah kanker ganas tersebut diangkat, spesialis bedah akan:
-
melakukan anastomosis (menjahit bagian-bagian yang sehat dari rektum

bersama-sama, menjahit rektum yang tersisa untuk usus besar, atau menjahit

usus ke anus);

-
membuat stoma (pembukaan) dari rektum ke luar tubuh untuk kotoran

melewati. Prosedur ini dilakukan jika kanker terlalu dekat dengan anus dan

disebut kolostomi. Sebuah tas ditempatkan di sekitar stoma untuk

mengumpulkan kotoran. Kadang-kadang kolostomi yang dibutuhkan hanya

sampai rektum telah sembuh, dan kemudian dapat dibalik. Jika seluruh rektum

dibuang, kolostomi mungkin permanen.


-
terapi radiasi dan / atau kemoterapi dapat diberikan sebelum operasi untuk

mengecilkan tumor, membuatnya lebih mudah untuk mengangkat kanker, dan

membantu dengan kontrol buang air besar setelah operasi. Pengobatan yang

diberikan sebelum operasi disebut terapi neoadjuvant. Bahkan jika semua

kanker yang dapat dilihat pada saat operasi dihapus, beberapa pasien dapat

diberikan terapi radiasi dan / atau kemoterapi setelah operasi untuk

20
membunuh sel-sel kanker yang tersisa. Pengobatan diberikan setelah operasi,

untuk menurunkan risiko kanker akan datang kembali, disebut terapi adjuvan.

Terapi Radiasi

-
Terapi radiasi adalah perawatan kanker yang menggunakan x-ray energi tinggi

atau jenis lain radiasi untuk membunuh sel-sel kanker atau menjaga mereka

dari tumbuh. Ada dua jenis terapi radiasi:


o terapi radiasi eksternal menggunakan mesin di luar tubuh untuk

mengirim radiasi terhadap kanker.


o Terapi radiasi internal menggunakan zat radioaktif yang disegel dalam

jarum, bibit, kawat, atau kateter yang ditempatkan secara langsung ke

dalam atau dekat kanker.


-
Cara terapi radiasi diberikan tergantung pada jenis dan stadium kanker yang

sedang dirawat. terapi radiasi eksternal digunakan untuk mengobati kanker

rektum.
-
Terapi radiasi preoperative jangka pendek digunakan dalam beberapa jenis

kanker rektum. Perawatan ini menggunakan lebih sedikit dan lebih rendah

dosis radiasi dari pengobatan standar, diikuti dengan operasi beberapa hari

setelah dosis terakhir.

Kemoterapi

- Kemoterapi adalah pengobatan kanker yang menggunakan obat untuk

menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau dengan

menghentikan pembelahan sel. Ketika kemoterapi diminum atau disuntikkan ke

dalam pembuluh darah atau otot, obat memasuki aliran darah dan dapat mencapai

sel-sel kanker di seluruh tubuh (sistemik kemoterapi). Ketika kemoterapi


21
ditempatkan langsung dalam cairan serebrospinal, organ, atau rongga tubuh

seperti perut, obat terutama mempengaruhi sel-sel kanker di daerah-daerah

(kemoterapi regional).

-
Chemoembolization dari arteri hepatik adalah jenis kemoterapi regional yang

dapat digunakan untuk mengobati kanker yang telah menyebar ke hati. Hal ini

dilakukan dengan memblokir arteri hepatik (arteri utama yang memasok darah ke

hati) dan menyuntikkan obat antikanker antara penyumbatan dan hati. arteri hati

kemudian membawa obat ke dalam hati. Hanya sejumlah kecil obat mencapai

bagian-bagian lain dari tubuh. penyumbatan bisa sementara atau permanen,

tergantung pada apa yang digunakan untuk memblokir arteri. Hati terus menerima

darah dari pembuluh darah portal, yang membawa darah dari lambung dan usus.
-
Cara kemoterapi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang

dirawat.

Terapi Target
-
Terapi Target adalah jenis pengobatan yang menggunakan obat-obatan atau zat

lain untuk mengidentifikasi dan sel-sel kanker tertentu serangan tanpa merusak

sel normal.
-
Terapi antibodi monoklonal adalah jenis terapi yang ditargetkan digunakan untuk

pengobatan kanker rektum.Terapi antibodi monoklonal menggunakan antibodi

yang dibuat di laboratorium dari satu jenis sel sistem kekebalan tubuh. antibodi

ini dapat mengidentifikasi zat pada sel kanker atau zat normal yang dapat

membantu sel-sel kanker tumbuh. Antibodi melekat pada zat dan membunuh sel-

22
sel kanker, menghambat pertumbuhan mereka, atau menjaga mereka dari

penyebaran. antibodi monoklonal yang diberikan melalui infus. Mereka dapat

digunakan sendiri atau untuk membawa obat-obatan, racun, atau bahan radioaktif

langsung ke sel-sel kanker.


-
Bevacizumab adalah antibodi monoklonal yang mengikat protein yang disebut

faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF). Hal ini dapat mencegah

pertumbuhan pembuluh darah baru yang tumor perlu tumbuh. Cetuximab dan

panitumumab adalah jenis antibodi monoklonal yang mengikat ke reseptor faktor

protein yang disebut pertumbuhan epidermal (EGFR) pada permukaan beberapa

jenis sel kanker. Hal ini dapat menghentikan sel-sel kanker tumbuh dan

membelah.10

2.10 PROGNOSIS
Secara keseluruhan 5-year survival rates untuk kanker rektal adalah sebagai

berikut
 Stadium I - 72%
 Stadium II - 54%
 Stadium III - 39%
 Stadium IV - 7%
50% dari seluruh pasien mengalami kekambuhan yang dapat berupa kekambuhan

lokal, jauh maupun keduanya. Kekambuhan lokal lebih sering terjadi. Penyakit

kambuh pada 5-30% pasien, biasanya pada 2 tahun pertama setelah operasi.

Faktor – faktor yang mempengaruhi terbentuknya rekurensi termasuk kemampuan

ahli bedah, stadium tumor, lokasi, dan kemapuan untuk memperoleh batas - batas

negatif tumor.
Tumor poorly differentiated mempunyai prognosis lebih buruk dibandingkan

dengan well differentiated. Bila dijumpai gambaran agresif berupa ”signet ring

cell” dan karsinoma musinus prognosis juga buruk.


23
Rekurensi lokal setelah operasi reseksi dilaporkan mencapai 3-32% penderita.

Beberapa faktor seperti letak tumor, penetrasi dinding usus, keterlibatan kelenjar

limfa, perforasi rektum pada saat diseksi dan diferensiasi tumor diduga sebagai

faktor yang mempengaruhi rekurensi lokal.

BAB 3
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Penderita
Nama : Ny. M
Umur : 64 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Solok
No. MR : 946836
3.2 Anamnesis
Keluhan utama:
Buang air besar berdarah yang meningkat sejak 10 hari sebelum masuk rumah

sakit
Riwayat penyakit sekarang
- Buang air besar berdarah yang meningkat sejak 10 hari sebelum masuk

rumah sakit. Keluar darah dari anus sejak lebih kurang 6 bulan sebelum

24
masuk rumah sakit. Darah menetes dan disertai lendir. Darah berwarna

merah segar.
- Pasien mengalami BAB seperti feses kambing (+), sejak 6 bulan yang lalu.
- Pasien mengalami nyeri saat BAB sejak 6 bulan yang lalu.
- Riwayat trauma tidak ada.
- Riwayat pemakaian antikoagulan tidak ada.
- Nafsu makan pasien berkurang sejak 3 bulan yang lalu.
- Badan terasa lemah (+) sejak 3 bulan yang lalu.
- Mual (-), muntah (-)
- Demam tidak ada
- Sakit kepala hebat (-)
- Sesak nafas (-)
- Riwayah diare (-), konstipasi(+).
- BAK tidak ada keluhan
Riwayat penyakit dahulu:
Riwayat Diabetes mellitus sejak 5 tahun yang lalu, dan sekarang mendapat terapi

injeksi insulin
Riwayat Hipertensi sejak 2 tahun yang lalu
Riwayat penyakit keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang menderita keganasan.
Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan
- Pasien tidak bekerja
- Riwayat merokok (-), Riwayat konsumsi alkohol (-)
- Riwayat makan sayuran dan buah-buahan kurang
3.3 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik Umum
KeadaanUmum : Sakit sedang
Kesadaran : komposmentis kooperatif
Gizi : Sedang
TinggiBadan : 158 cm.
BeratBadan : 60 kg
Tek. darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Nafas : 21 kali/menit
Suhu : 36,50C.
Kulit : Teraba hangat, tampak pucat

Status Internus
Rambut : Beruban, tidak mudah dicabut
Mata : konjungtiva anemis (+/+) ,sklera tidak ikterik.
Hidung : Tidak ditemukan kelainan
Telinga :Tidak ditemukan kelainan
Gigi dan mulut : Karies (+)
25
Leher : JVP 5-2 cmH2
KGB : Tidak teraba pembesaran KGB di inguinal
Paru:
Inspeksi : simetris kiri - kanan, gerakan pernafasan normal
Palpasi : fremitus ki=ka
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara nafas bronkovesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung:
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari lat. LMCS RIC V
Perkusi : batas jantung normal
Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada.

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, edema (-)

Status Lokalis Regio Abdomen


Inspeksi : Distensi (-), DC (-), DS (-)
Palpasi: Nyeri tekan (-) nyeri lepas(-), supel, shifting dullness (-)
Perkusi: Timpani
Auskultasi: Bunyi usus (+)

Anus :

RT : anus: Tampak perdarahan, teraba massa ukuran 7x6x3 cm,

permukaan berpapil, konsistensi keras, batas tidak tegas

abses(-).

Sfingter: menjepit kuat

Mukosa: berbenjol

Ampula: lapang

3.4 Hasil pemeriksaan Laboratorium


Hb: 10,1 gr/dl
Leukosit : 12.430/mm3
Trombosit: 387.000/mm3
Hematokrit: 30%
26
PT: 9,9 detik
APTT: 36,9 detik
Kesan : Anemia ringan, leukositosis
3.5 Diagnosis Kerja
- Tumor rekti susp. maligna
- Anemia ringan
- DM tipe II
- Hipertensi
3.6 Pemeriksaan Penunjang

Rontgen toraks

Kesan: Cor dan pulmo tak tampak kelainan

Kolonoskopi

27
Hasil : Scope masuk sepanjang 50 cm. Scope tidak dapat diteruskan karena

lapangan pandang ditutupi oleh feses. Tampak polip rekti. Tak tampak

divertikel.
Kesimpulan: Polip rekti

3.7 Tatalaksana
- IVFD RL 12 jam/kolf
- Ceftriaxon 2x1 gr

28
- Ketorolac 3x30 mg
- Ranitidine 2x30 mg
- Polipektomi

29
BAB 4

DISKUSI

Telah dirawat pasien perempuan, 64 tahun di bangsal bedah RSUP

Dr.M.Djamil, Padang dengan diagnosis tumor rekti suspek Maligna, anemia

ringan, DM tipe II, dan Hipertensi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil

anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari hasil anamnesis ditemukan buang air besar

berdarah yang meningkat sejak 10 hari sebelum masuk rumah sakit. Pada pasien

juga ditemukan pola BAB yang berubah, keluhan gastrointestinal yaitu nyeri saat

BAB.
Dari riwayat kebiasaan juga didapatkan diet pasien yang kurang serat dapat

menjadi salah satu dari risiko yang mengarah ke penyakit yang diderita oleh

pasien. Jadi dari anamnesis dapat mengarah ke suatu keganasan di

gastrointestinal, umumnya saluran cerna bawah karena darah berwarna merah

segar.
Status generalis didapatkan kunjungtiva anemis dan kulit pucat, pada hasil

laboratorium ditemukan Hb 10,1 mg/dl. Pada status lokalis di region abdomen,

tampak distensi tidak ada. Pada palpasi, supel nyeri tekan dan nyeri lepas tidak

ada, asites negatif. Rectal touche anus terdapat benjolan keras dan tidak rata,

sfingter tidak menjepit kuat, mukosa tidak licin. Dari status lokalis didapatkan

bahwa terdapat kelainan berupa tumor di daerah rektum pasien.


Pada pemeriksaan laboratorium, pada pasien ini didapatkan terjadi anemia

ringan dan leukositosis. Dari koloskopi abdomen menunjukkan kesan suatu polip.

Pasien ditatalaksana dengan polipektomi, dari hasil pembedahan dilakukan

30
pemeriksaan patologi anatomi. Setelah tindakan polipektomi pasien boleh pulang

besok.

31
DAFTAR PUSTAKA
1. Giovannucci E, Wu K. Cancers of the colon and rectum. Schottenfeld D,
Fraumeni J, eds. Cancer. Epidemiology and Prevention. 3rd ed. Oxford
University Press; 2006.
2. American Cancer Society. Cancer Facts & Figures 2016. American Cancer
Society. Tersedia
dari:http://www.cancer.org/acs/groups/content/@researchdocuments/documen
t/ acspc-047079.pdf. Diakses pada 28Novenber, 2016.
3. Ferlay J, Soerjomataram I, Ervik M, et al.: GLOBOCAN 2012 v1.0, Cancer
Incidence and Mortality Worldwide. Lyon, France: International Agency for
Research on Cancer, 2013. IARC CancerBase No. 11.
4. Albano JD, Ward E, Jemal A, et al.: Cancer mortality in the United States by
education level and race. J Natl Cancer Inst 99 (18): 1384-94, 2007.
5. Anagnostopoulos G, Sakorafas GH, Kostopoulos P, et al. Squamous cell
carcinoma of the rectum: a case report and review of the literature. Eur J
Cancer Care (Engl). 2005 Mar. 14(1):70-4. [Medline].
6. Rizqan, M. 2014 Kanker Kolorektal. Skripsi, Universitas Diponegoro,
Semarang, Jawa tengah.
7. Lili K. 2009. Karsinoma Rektum. Fakultas Kedokteran Riau, Pekan Baru
8. Azril Zahari. Deteksi Dini, Diagnosa, dan Penatalaksanaan Kanker
Kolon dan Rektum. Tanpa Tahun[disitasi pada 5 Agustus 2012].
Tersedia
dari:http://repository.unand.ac.id/12202/1/Deteksi_Dini,_Diagnosa_dan_Penat
Penatalaks_Kanker_Kolon_dan_Kerektum.pdf
9. Virtual Medical Centre. Rectal Cancer (Adenocarcinoma of the rectum. 2002.
Tersedia dari :http://www.myvmc.com/diseases/rectal-cancer-
adenocarcinoma-of-the-rectum/. Diunduh pada 28 November 2016
10. National Cancer Institute. Colorectal cancer, Rectal Cancer treatment. 2016.
Tersedia darihttps://www.cancer.gov/types/colorectal/patient/rectal treatment-
pdq#section/_196. Diunduh pada 28 November 2016.

32