Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

HADITS-HADITS TENTANG PERSAUDARAAN


Diajuhan untuk Memenuhi Tugas A-Hadits
Dosen Pengampu: ………………………….

LOGO

Disusun Oleh:
…………………

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM
BANDUNG
2020
A. PENDAHULUAN

Manusia adalah mahluk sosial yang selalu membutuhkan perhatian, teman


dan kasih sayang dari sesamanya. Setiap diri terikat dengan berbagai bentuk
ikatan dan hubungan, diantaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi dan
hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut
adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Fitrah
inilah yang ditegaskan oleh islam. Lebih lagi terhadap sesama muslim.
Sebagai seorang muslim diwajibkan untuk menjalin tali persaudaraan dengan
muslim lainnya. Dimana persaudaraan itu merupakan pertalian persahabatan
yang serupa dengan hubungan kekeluargaan.Islam sangat memahami hal
tersebut, oleh sebab itu hubungan persaudaraan harus dilaksanakan dengan
baik.

Persaudaraan sesama muslim biasanya dalam kontek agama diartikan


sebagai Ukhuwah islamiyah. Kata islamiyah yang dirangkaikan dengan kata
ukhwah lebih tepat dipahami sebagai adjektiv, sehingga ukhuwah islamiyah
berarti persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan umat islam.
Sesama umat islam hendaknya saling tolong-menolong, tidak ada kedengkian
dan hasad buruk sehingga menjadikan persaudaraan muslim menjadi jauh
karenanya. Dalam Al-Qur’an dan Hadits telah banyak disebutkan tentang hak
dan kewajiban antara sesama muslim. Dan darinya dapat dirasakan nikmatnya
iman.

Hubungan persaudaraan sesama muslim mempunyai kewajiban untuk


saling membantu, saling menghormati, menjenguk ketika sakit, mengantarkan
sampai ke kuburan ketika meninggal dunia, saling mendoakan, larangan
saling mencela, larangan saling menghasud dan lain sebagainya.

Semangat persaudaraan di antara sesama Muslim hendaknya didasari


karena Allah semata, karena ia akan menjadi barometer yang baik untuk
mengukur baik-buruknya suatu hubungan. Dalam hadits Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang bersaudara dengan seseorang karena Allah, niscaya
Allah akan mengangkatnya ke suatu derajat di surga yang tidak bisa
diperolehnya dengan sesuatu dariamalnya.” (HR. Muslim)

Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui dalil-dalil serta


intisari dari hadis-hadis nabi yang memaparkan tentang pentingnya kaum
muslim bersaudara dengan muslim yang lainnya, karna ini merupakan satu
kewajiban yang mesti dilaksanakn dengan dasar perintah Allah Swt dan nabi
Muhammad. Sebagai bukti takwa kepada allah dan nabinya. Tujuan
pembuatan makalah ini juga sekaligus bentuk pelaksanaan tugas dari dosen
sebagai kewajiban penulis dalam mengikuti pembelajaran mata kuliah al-
Hadist.
B. PEMBAHASAN
B.1 Pengertian Persaudaraan (ukhuwwah) Dalam Islam
Persaudaraan (ukhuwwah) dalam Islam dimaksudkan bukan
sebatas hubungan kekerabatan karena faktor keturunan, tetapi yang
dimaksud dengan persaudaraan dalam Islam adalah persaudaraan yang
diikat oleh tali aqidah (sesama muslim) dan persaudaraan karena
fungsi kemanusiaan (sesama manusia makhluk Allah Swt.). Kedua
persaudaraan tersebut sangat jelas dicontohkan oleh Rasulullah Saw.,
yaitu mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar,
serta menjalin hubungan persaudaraan dengan suku-suku lain yang
tidak seiman dan melakukan kerja sama dengan mereka.
Hubungan antara mereka dalam hal kasih sayang, cinta dan
pergaulan diibaratkan hubungan antara anggota badan, yang satu sama
lain saling membutuhkan, merasakan, dan tidak dapat dipisahkan. Jika
salah satu anggota badan tersebut sakit, anggota badan lainnya ikut
merasakan sakit. (Syafe'i, 2000:201)
Dalam hadits lainnya dinyatakan bahwa hubungan antara seorang
mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang
saling melengkapi. Bangunan tidak akan berdiri jika salah satu
komponennya tidak ada ataupun rusak. Hal itu menggambarkan
betapa kokohnya hubungan antara umat Islam. (Syafe'i, 2000:201)
Itulah salah satu kelebihan yang harus dimiliki oleh kaum mukmin
dalam hubungan antara sesame kaum mukminin. Sifat egois atau
mementingkan diri sendiri sangan ditentang oleh Islam. Sebaliknya
umat Islam memerintahkan umatnya untuk bertsatu dan saling
membantu karena persaudaran seiman lebih erat daripada
persaudaraan sedarah. Itulah yang akan menjadi pangkal kekuatan
kaum muslimin. Setiap muslim merasakan penderitaan saudaranya
dan mengulurkan tangannya untuk membantu sebelum meminta, yang
bukan didasarkan atas “take and give” tetapi berdasarkan lillah.
(Syafe'i, 2000:201)
Keadaan seperti itu dapat dicontohkan oleh kaum mukminin pada
masa kempemimpinan Rasulullah SAW di Madinah ketika beliau
dengan para sahabat hijrah ke Madinah. Di kota inilah, persaudaraan
antara umat Islam terlihat sangat nyata. Penduduk kota Madinah
menyambut kedataangan kaum Muhajirin dengan suka cita, melebihi
sambutan kepada orang lain karena pertalian darah atau keluarga.
Segala kepentingan dan keperluan kaum Muhajirin, mulai dari tempat
tinggal, makanan serta kebutuhan lainnya mendapat santunan dari
pendudukkota Madinah. Tidak mengherankan jika penduduk Madinah
mendapat sambutan kaum Anshar, yakni kaum penolong dan pembela
dalam arti yang luas, tanpa mengharapkan balasan apapun. (Syafe'i,
2000:201)
Salah satu landasan utama yang mempu menjadikan umat bersatu
atau bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau akidah. Ini telah
dibuktikan oleh bangsa Arab yang belum Islam selalu berperang dan
bercerai berai, tetapi setelah mereka menganut agama Islam dan
memiliki pandangan yang sama (way of life) baik lahir maupun batin,
mereka dapat bersatu. Akan tetapi persamaan akidah yang dimaksud
disini adalah dalam arti sebenarnya, lahir-batin bukan hanya label atau
pengakuan saja. Jika tidak demikian, persamaan akidah tidak mungkin
dapat mempersatukan dan mengembalikan kejayaan kembali umat
Islam seperti pada masa pendahulu Islam. (Syafe'i, 2000:203)
Namun demikian, tidak berarti bahwa umat Islam dilarang untuk
berhubungan dan berdahabat dengan umat selain Islam. Umat Islam
pun dianjurkan untuk berhubungan dengan mereka karena pada
dasarnya semua manusia itu berasal dari bapak yang sama, yakni
Adam.
Allah SWT berfirman:
َ ‫َكانَ النَّاسُ أُ َّمةً َوا ِح َدةً فَبَ َع‬
َ ‫ث هَّللا ُ النَّبِيِّينَ ُمبَ ِّش ِرينَ َو ُم ْن ِذ ِرينَ َوأَ ْنزَ َل َم َعهُ ُم ْال ِكت‬
‫َاب‬
‫اختَلَفَ فِي ِه إِاَّل الَّ ِذينَ أُوتُوهُ ِم ْن بَ ْع ِد‬ ْ ‫اختَلَفُوا فِي ِه ۚ َو َما‬ ْ ‫اس فِي َما‬ ِ َّ‫ق لِيَحْ ُك َم بَ ْينَ الن‬ِّ ‫بِ ْال َح‬
ِّ ‫اختَلَفُوا فِي ِه ِمنَ ْال َح‬
‫ق‬ ُ ‫َما َجا َء ْتهُ ُم ْالبَيِّن‬
ْ ‫َات بَ ْغيًا بَ ْينَهُ ْم ۖ فَهَدَى هَّللا ُ الَّ ِذينَ آ َمنُوا لِ َما‬
ٍ‫ستَقِيم‬
ْ ‫اط ُم‬}ٍ ‫ص َر‬ ِ ‫بِإِ ْذنِ ِه ۗ َوهَّللا ُ يَ ْه ِدي َم ْن يَ َشا ُء إِلَ ٰى‬
Artinya:
“Manusia adalah umat (bangsa) yang satu lalu diutus oleh Tuhan
Nabi-Nabi yang menjadi pembawa berita gembira dan menyampaikan
peringatan. Dan diturnkan-Nya bersama mereka (Nabi-Nabi tersebut)
kitab yang mengandung kebenaran supaya dia memberikan keputusan
antara sesama manusia dalam persoalan-persoalan yang mereka
perselisihkan.”
Intisari ayat terebut menegaskan bahwa pada dasarnya manusia
merupakan satu rumpun keluarga, yang berasal dari satu nenek
moyang yaitu Adam dan Hawa. Oleh karena itu, tidaklah patut saling
bermusuhan hanya karena perbedaan keturunan, bangsa, atau agama
jika mereka kaum kafir tidak memerangi umat Islam, bahkan
sebaliknya dalam Islam dianjurkan untuk saling mengenal.
Selanjutnya umat manusia dibedakan menjadi dua bagian, yaitu
mereka yang menaati aturan yanga da dalam kitab yang dibawa oleh
para Rasul dan mereka yang tidak mau menaatinya. Yang paling
mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya.
(Syafe'i, 2000:204)
Perilaku yang Mencerminkan Sikap Persaudaraan (Ukhuwwah):
1. Menjenguk/mendoakan/membantu teman/orang lain yang sedang
sakit atau terkena musibah.
2. Mendamaikan teman atau saudara yang berselisih agar mereka
sadar dan kembali bersatu.
3. Bergaul dengan orang lain dengan tidak memandang suku,
bahasa, budaya, dan agama yang dianutnya.
4. Menghindari segala bentuk permusuhan, tawuran, ataupun
kegiatan yang dapat merugikan orang lain.
5. Menghargai perbedaan sukur, bangsa, agama, dan budaya
teman/orang lain.

B.2 Dalil-Dalil Tentang Persaudaraan Sesama Muslim

Al-Hujurat [49]: 10

‫إِنَّ َما ْال ًم ْؤ ِمنُوْ نَ إِ ْخ َوةٌ فَأَصْ لِحُوْ ا} بَ ْينَ أَ َخ َو ْي ُك ْم َواتَّقُوْ ا هللاَ لَ َعلَّ ُك ْم تُرْ َح ُموْ ن‬

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu,


damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada
Allah supaya kalian mendapatkan rahmat”. (QS al-Hujurat [49]: 10).

Al-hadist

ْ‫ص}لّى هللا َعلَ ْي} ِه َو َس}لّ َم ق}}ا َل ْال ُم ْس}لِ ُم أَ ُخ}}و‬


َ ِ‫ضى هللا َع ْنهُ َما اَ ٌّن َرسُوْ َل هللا‬
ِ ‫ع َْن َع ْب ِد ا هللِ ْب ِن ُع َم َر َر‬
)‫ (أخرجه البخاري‬.‫أخ ْي ِه َكانَ هللاُ فِي َحا َجتِه‬ ِ ‫ْال ُم ْسلِ ِم ال يَضْ لِ ُمهُ َوال يُ ْسلِ ُمهُ َو َم ْن كاَنَ فِي َحا َج ِة‬

Ibnu Umar meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: “ seorang


muslim adalah saudara dari seorang muslim (lainya); dan dia tidak
akan memperlakukanya tidak adil, atau dia tidak meninggalkanya
sendirian (menjadi korban ketidak adilan orang lain); dan barang
siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi
kebutuhanya.” (HR Bukhari).

Secara Bahasa Ukhuwah Islamiyah berarti Persaudaraan Islam.


Adapun secara istilah ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan
spiritual yang dikaruniakan Allaah kepada hamba-Nya yang beriman
dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang,
persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara
seakidah. Dengan berukhuwah akan timbul sikap saling
menolong,saling pengertian dan tidak menzhalimi harta maupun
kehormatan orang lain yang semua itu muncul karena Allaah semata.

Adapun pengertian yang lebih luasnya tentang persaudaraan ini


terdapat dalam ayat al-hujurot yaitu ayat Innamâ al-Mu‘minûn
ikhwah. (Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara).
Siapapun, asalkan Mukmin, adalah bersaudara. Sebab, dasar ukhuwah
(persaudaraan) adalah kesamaan akidah. Akan tetapi dalam penjelasan
surat al-hujurat ayat 11, bahwasanya yang disebut dengan
persaudaraan sesama muslim mengandung arti sama dekatnya dengan
hubungan persaudaraan senasab. Karna disini al-quran dan agama
memandang sesame muslim merupakan saudara sekandung, dimana
islam dan al-qurannya merupakan induk dari kaum muslimin.

Bahkan dalam syairpun dikatakn dengan jelas bahwasanya islam


sebagai ayah. Ini menandakan muslim satu dengan lainnya
mempunyai hubungan erat bagaikan bangunan satu dengan yang
lainnya.paparan seperti inipun diperkuat dengan hadist-hadis nabi
Muhammad saw.

Dalam Ayat ini menghendaki ukhuwah kaum Mukmin harus benar-


benar kuat, lebih kuat daripada persaudaraan karena nasab. Hal itu
tampak dari: Pertama, digunakannya kata ikhwah—dan kata ikhwan—
yang merupakan jamak dari kata akh[un] (saudara). Kata ikhwah dan
ikhwan dalam pemakaiannya bisa saling menggantikan. Namun,
umumnya kata ikhwah dipakai untuk menunjuk saudara senasab,
sedangkan ikhwan untuk menunjuk kawan atau sahabat. Dengan
memakai kata ikhwah, ayat ini hendak menyatakan bahwa ukhuwah
kaum Muslim itu lebih daripada persahabatan atau perkawanan biasa.

Hubungan antara kaum muslim dengan muslim lainnya dalam hal


kasih saying, cinta, dan pergaulan diibaratkan hubungan antara
anggota badan, yang satu sama lain saling membutuhkan, merasakan,
dan tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu anggota badan tersebut
sakit, anggota badan lainnya ikut merasakan sakit.

Dalam hadits lain dinyatakan bahwa hubungan antara seorang


mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang
saling melengkapi. Bangunan tidak akan berdiri kalau salah satu
komponennya tidak ada ataupun rusak. Hal itu menggambarkan
betapa kokohnya hubungan antara sesame umat Islam.

Itulah salah satu kelebihan yang seharusnya dimiliki oleh kaum


mukmin dalam berhubungan anatara sesame kaum mukminin. Sifat
egois atau mementingkan diri sendiri sangat ditentang dalam Islam.
Sebaliknya umat Islam memerintahkan umatnya untuk bersatu dan
saling membantu karena persaudaraan seiman lebih erat daripada
persaudaraan sedarah. Itulah yang menjadi pangkal kekuatan kaum
muslimin, setiap muslim merasakan penderitaan saudaranya dan
mengulirkan tangannya untuk membantu sebelum diminta yang bukan
didasrakan atas “take and give” tetapi berdasarkan Illahi. Salah satu
landasan utama yang mampu menjadikan umat bersatu atau
bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau akidah. Ini telah
dibuktikan oleh bangsa Arab yang sebelum Islam selalu berperang dan
bercerai-berai tetapi setelah mereka menganut agama Islam dan
memiliki pandangan yang sama baik lahir maupun batin, mereka dapat
bersatu. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis yng diriwayatkan
oleh imam bukhori dalam kitabnya.

ِ َ‫}ؤ ِم ِن َك ْالبُ ْني‬


‫}ان‬ ْ ‫}ؤ ِمنَ لِ ْل ُم‬
ْ }‫صلَّى هللا َعلَيْ} ِه َو َس}لَّ َم قَ}}ا َل أِ َّن ْال ُم‬ َ ‫ع َْن أَبِي ُم َسى ع َِن النَّبِ ِّي‬
)‫ (أخرجه البخاري‬.ُ‫صابِ َعه‬ َ َ‫ضهُ بَ ْعضًا َو َشب َ}َّك أ‬ ُ ‫يَ ُش ُّد بَ ْع‬

"abu musa meriwayatkan, nabi saw bersabda: “kaum mukmin adalah


bersaudara satu sama lain ibarat (bagian-bagian dari) suatu
bangunan satu bagian memperkuat bagian lainnya.” dan beliau-
menyelibkan jari-jari disatu tangan dengan tangan yang lainnya agar
kedua tangannya tergabung." (HR. Bukhori)

Perumpamaan orang mukmin dengan orang mukmin lainnya, dimana


mereka bagai sebuah bangunan gedung yang unsur-unsurnya tertata
kait-mengait dan saling memperkuat maka komunitas mukmin
haruslah bersedia saling tolong menolong, saling membela, saling
mendukung dan saling memperkuat dalam menghadapi segala
kemaslahatan, baik yang bersifat lokal dan interlokal. Demikian pula
kaum muslimin ketika tangan mereka saling merapat, kemampuan
mereka saling membantu, jiwa mereka saling mencintai, masyarakat
mereka saling mengikat, maka mereka bertambah kuat dan akan
menciptakan kemuliaan yang megah.

Sebagaimana yang dikutip Rahmat Syafei dari perkataan quraisy


syihab, dalam bukunya yang berjudul wawasan al-quran tafsir
maudhu’I dst. bahwasanya M Quraisy Shihab berpendapat ada empat
macam bentuk persaudaraan, hal ini berdasarkan ayat-ayat yang ada
dalam Al-Qur’an itu sendiri,

1. Ukhuwah ‘ubudiyyah atau saudara kesemakhlukan dan


ketundukan kepada Allah.
2. Ukhuwah Insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat
manusia adalah bersaudara karena berasal dari seorang ayah dan
ibu. Rasulullah SAW juga menekankan hal ini melalui sebuah
hadits.
3. Ukhuwah Wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam
keturunan dan kebangsaan.
4. Ukhuwah fi ad-din al-Islam, persaudaraan muslim. Rasulullah
SAW bersabda: Artinya: “Kalian adalah saudara-saudaraku,
saudara-saudara kita adalah yang dating sesudah (wafat)ku”.
B.3 Memelihara Silaturahmi Sesama Muslim

Silaturahmi secara bahasa berasal dari dua kata, yakni silah


(hubungan) dan Rahim (Rahim perempuan) yang mempunyai arti
Hubungan nasab, kata al-Arham (rahim) diartikan sebagai
Silaturahmi. Namun pada hakikatnya silaturahmi bukanlah sekedar
hubungan nasab, namun lebih jauh dari itu hubungan sesama muslim.
merupakan bagian dari silaturrahmi, sehingga Allah SWT mengibarat
kan umat Islam bagaikan satu tubuh. Sebagaimana firman-Nya :

َ‫إِنَّ َما ْال ًم ْؤ ِمنُوْ نَ إِ ْخ َوةٌ فَأَصْ لِحُوْ ا} بَ ْينَ أَ َخ َو ْي ُك ْم َواتَّقُوْ ا هللاَ لَ َعلَّ ُك ْم تُرْ َح ُموْ ن‬

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu


damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah
supaya kamu m endapat rahmat. (QS al-Hujurat:10).

Silaturrahim merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan


membawa berkah. Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan
melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk
melaksanakan amal shalih ini. Demikian banyak dan mudahnya alat
transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum
muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturrahim merupakan satu
kebutuhan yang dituntut fitrah manusia? Karena dapat
menyempurnakan rasa cinta dan interaksi sosial antar umat manusia.
Silaturahmi juga merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta
ketinggian akhlak seseorang.

Silaturahmi merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan


membawa berkah. Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan
melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk
melaksanakan amal shalih ini. Demikian banyak dan mudahnya alat
transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum
muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturahmi merupakan satu
kebutuhan yang dituntut fitrah manusia? Karena dapat
menyempurnakan rasa cinta dan interaksi sosial antar umat manusia.
Silaturahmi juga merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta
ketinggian akhlak seseorang.

Sesungguhnya silaturahmi juga merupakan amal shalih yang penuh


berkah, dan memberikan kepada pelakunya kebaikan di dunia dan
akhirat, menjadikannya diberkahi di manapun ia berada, Allah swt
memberikan berkah kepadanya di setiap kondisi dan perbuatannya,
baik yang segera maupun yang tertunda.

Betapa penting silaturahmi dalam kehidupan umat islam terutama


dalam pendidikan. Hal ini karena menyambung silaturahmi
berpengaruh terhadap pendidikan karena bekal hidup di dunia dan
akhirat, orang yang selalu menyambung silaturhami akan
dipanjangkan usianya dalam arti akan dikenang selalu.

Orang yang selalu bersilaturahmi tentunya akan memiliki banyak


teman dan relasi, sedangkan relasi merupakan salah satu factor yang
akan menunjang kesuksesan seseorang dalam berusaha. Selain dengan
banyaknya teman akan memperbanyak saudara dan berarti pula ialah
meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Hal ini karena telah
melaksanakan perintah-Nya, yakni menghubungkan silaturahmi. Bagi
mereka yang bertakwa Allah akan memberikan kemudahan dalam
setiap urusannya. (Syafe'i, 2000:207)

Allah SWT berfirman :

ُ ‫) َويَرْ ُز ْقهُ ِم ْن َحي‬۳( ‫ق هَّللا َ يَجْ َعلْ لَهُ َم ْخ َرجًا‬


ُ‫ْث اَل يَحْ تَ ِسب‬ ِ َّ‫َو َم ْن يَت‬

Artinya : “Barang siapa yang bertakwa pada Allah, niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah
yang tiada disangka-sangka.” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3).
Rezeki yang diberikan Allah SWT mungkin tidaklah banyak
menurut pandangan manusia, tetapi rezeki tersebut penuh dengan
berkah. Rezeki yang sedikit tetapi berkah lebih bermanfaat daripada
banyak, tetapi tidak mengandung berkah. Selain itu, orang yang selalu
memperbanyak silaturahmi akan memberikan banyak peluang dalam
berusaha sehingga akan membuka pintu rezeki baginya. Kalau suatu
ketika dia ditimpa kesusahan atau berada dalam kesulitan, ia akan
mendapatkan bantuan dan pertolongan dari relasinya.Bagi mereka
yang suka bersilaturahmi akan dipanjangkan usianya adalah sangat
logis meskipun memerlukan pemahaman dan persepsi yang berbeda.
Memang benar umur manusia itu sudah dibatasi dan tidak ada
seorangpun yang mempu mengubah kehendak Allah tersebut. (Syafe'i,
2000:208)

Hal itu telah jelas dinyatakan dalam Al-Quran:

َ‫َخ َ}ر هَّللا ُ نَ ْفسًا إِ َذا َجا َء أَ َجلُهَا ۚ َوهَّللا ُ خَ بِي ٌر بِ َما تَ ْع َملُون‬
ِّ ‫َولَ ْن يُؤ‬

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian)


seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha
Mengenal apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Al-Munafiqun: 11)

Agar terlaksananya jalinan silaturahmi antar muslim sebagai


bentuk persaudaraan sesama muslim sehingga lantas adanya
pemberitahuan mengenai keutamaan silaturahmi itu sendiri sebagai
bentuk dorongan atau motifasi agar umat muslim melaksanakn dengan
gigih, kemudian sebagai antisipasi agar pecahnya persaudaraan
sesama muslim karna jarang melaksakan silaturahmi maka dengan
demikian mesti ada pelarangan sebagai ancaman bagi seorang muslim
yang meninggalkannya.
Keutamaan Silaturrahim

Silaturahmi merupakan bentuk ibadah dan bagian perintah nabi


muhammad terhadap umatnya. Maka agar dilaksanakan oleh para
umatnya sehingga nabi memberikan hadiah yaitu berupa iming-iming
keutaman yang mulia dan agung melalui hadisnya.

‫ َم ْن‬: ‫ قَ}}ا َل َر ُس}و ُل هَّللَا ِ ص}}لى هللا علي}}ه وس}}لم‬:‫ع َْن أَبِي هُ َري َْرةَ رضي} هللا عنه قَا َل‬
ُ‫ (أَ ْخ َر َج} ه‬.ُ‫ص}لْ َر ِح َم} ه‬
ِ َ‫}ر ِه فَ ْلي‬
ِ }َ‫أَ َحبَّ أَ ْن يُ ْب َسطَ َعلَ ْي} ِه فِي ِر ْزقِ} ِه َوأَ ْن يُ ْن َس}أ َ لَ}هُ فِي أَث‬
ِ ‫اَ ْلب‬.
ّ ‫ُخَار‬
)ُ‫ي‬

Dari Abi Hurairah ra. Ia berkata : bersabda rasulullah saw. : “


Barang siapa yang ingin di luaskan rizqinya dan di panjangkan
umurnya maka hendaknya ia menyambung silaturahmi”. (H.R
Bukhari)

Hadits yang agung ini memberikan salah satu gambaran tentang


keutamaan silaturahmi. Yaitu dipanjangkan umur pelakunya dan
dilapangkan rizkinya.

Adapun penundaan ajal atau perpanjangan umur, terdapat satu


permasalahan; yaitu bagaimana mungkin ajal diakhirkan? Bukankah
ajal telah ditetapkan dan tidak dapat bertambah dan berkurang
sebagaimana firmanNya:

ْ َ‫َولِ ُك ِّل أُ َّم ٍة أَ َج ٌل فَإِ َذا َجآ َء أَ َجلُهُ ْم الَيَ ْستَأْ ِخرُونَ َسا َعةً َوالَي‬
.‫ستَ ْق ِد ُمون‬

Artinya: “Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat


mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)
memajukannya.” (QS Al A’raf: 34).

Jawaban para ulama tentang masalah ini sangatlah banyak. Di


antaranya,
Pertama, Yang dimaksud dengan tambahan di sini, yaitu tambahan
berkah dalam umur. Kemudahan melakukan ketaatan dan
menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya di akhirat,
serta terjaga dari kesia-siaan.

Kedua, Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yang


terdapat di Lauh Mahfudz dan semisalnya. Umpama usia si fulan
tertulis dalam Lauh Mahfuzh berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia
menyambung silaturahim, maka akan mendapatkan tambahan 40
tahun, dan Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya
(apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah tidak). Demikian
ini ditinjau dari ilmu Allah. Apa yang telah ditakdirkan, maka tidak
akan ada tambahannya. Bahkan tambahan tersebut adalah mustahil.
Sedangkan ditinjau dari ilmu makhluk, maka akan tergambar adanya
perpanjangan (usia).

Ketiga, Yang dimaksud, bahwa namanya tetap diingat dan dipuji.


Sehingga seolah-olah ia tidak pernah mati. Demikianlah yang
diceritakan oleh Al Qadli, dan riwayat ini dha’if (lemah) atau bathil.
Wallahu a’lam. [Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi, bab
Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha (16/114)]:

Tidak hanya itu saja keutamaan-keutamaan silaturahmi, tetapi


masih banyak Keutamaan silaturahmi yang lainnya yang diriwayatkan
oleh para muhaddistin dalam kitab-kitabnya, hal ini terbukti dengan
keutamaan yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
dalam banyak hadits yang berbeda-beda perowi. Diantaranya
keutamaan tersebut,

Pertama, Silaturahmi merupakan salah satu tanda dan kewajiban


iman. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
dalam hadits Abu Hurairh, beliau bersabda, dipanjangkan umur dan
dilapangkan rizkinya oleh allah
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
hendaklah bersilaturahmi.” (Mutafaqun ‘alaihi).

Kedua, Mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah Ta’ala .


Sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam ,

Artinya: “Allah menciptakan makhlukNya, ketika selesai


menyempurnakannya, bangkitlah rahim dan berkata,”Ini tempat
orang yang berlindung kepada Engkau dari pemutus rahim.” Allah
menjawab, “Tidakkah engkau ridha, Aku sambung orang yang
menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?” Dia
menjawab,“Ya, wahai Rabb.”” (Mutafaqun ‘alaihi).

Ibnu Abi Jamrah berkata,“Kata ‘Allah menyambung’, adalah


ungkapan dari besarnya karunia kebaikan dari Allah kepadanya.”

Sedangkan Imam Nawawi menyampaikan perkataan ulama dalam


uraian beliau,“Para ulama berkata, ‘hakikat shilah adalah kasih-
sayang dan rahmat. Sehingga, makna kata ‘Allah menyambung’
adalah ungkapan dari kasih-sayang dan rahmat Allah.” [Lihat syarah
beliau atas Shahih Muslim 16/328-329]

Ketiga, Silaturahmi adalah salah satu sebab penting masuk syurga


dan dijauhkan dari api neraka. Sebagaimana sabda beliau
Shallallahu’alaihi Wasallam,

Artinya: “Dari Abu Ayub Al Anshari, beliau berkata, seorang


berkata,”Wahai Rasulullah, beritahulah saya satu amalan yang dapat
memasukkan saya ke dalam syurga.” Beliau Shallallahu’alaihi
Wasallam menjawab,“Menyembah Allah dan tidak
menyekutukanNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan
bersilaturahmi.”” (Diriwayatkan oleh Jama’ah).
Larangan Memutuskan Silaturahmi

Sudah menjadi sunnatullah bahwa hubungan sesama manusia


tidaklah selamanya baik, ada problem dan pertentangan. Hidup adalah
perjuangan, tantangan, pengorbanan, dan sekaligus perlombaan anatar
sesama manusia. Tidak heran kalau terjadi gesekan antar sesama dan
tidak mungkin dapat dihindarkan. Namun demikian, gesekan atau
permusuhan tersebut jangan sampai diperpanjang hingga melebihi tiga
hari yanag ditandai dengan tidak saling menegur sapa dan saling
manjauhi. Hal ini tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Memang benar
setiap manusia memiliki ego dan gengsi sehingga hal ini sering
mengalahkan akal sehat akan tetapi untuk apa mempertahankan gengsi
bila hanya menyebabkan pelanggaran aturan agama dalam
berhubungan dengan sesama. (Syafe'i, 2000:212)

Di antara cara efektif untuk membuka kembali hubungan yang


telah terputus adalah dengan mengucapkan salam sebagai tanda
dibukanya kembali hubungan kekerabata. Ini bukan bahwa orang yang
memulai salam berarti telah kalah tetapi ia telah melakukan perbuatan
sangat mulia dan terpuji di sisi Allah SWT.

Adapun dalil yang mengenai tentang pelarangangan memutuskan


silaturahmi dipaparkan oleh imam bukhori dan imam muslim dalam
kitabnya dengan beradasarkan riwayat Abi Ayub ra.

َ ‫ُّوب رضي} هللا عنه أَ َّن َرس‬


َ }َ‫ُول هَّللَا ِ ص}}لى هللا علي}}ه وس}}لم ق‬
ُّ‫ الَ يَ ِح} ل‬:‫}ال‬ َ ‫ع َْن أَبِي أَي‬
,‫}رضُ هَ} َذا‬ ِ }‫ َويُ ْع‬,‫}رضُ هَ} َذا‬ ِ }‫ فَيُ ْع‬,‫}ال يَ ْلتَقِيَ}}ا ِن‬
ٍ }َ‫ث لَي‬ }َ ْ‫لِ ُم ْس}لِ ٍم أَ ْن يَ ْه ُج} َر أَ َخ}}اهُ فَ}}و‬
ِ َ‫ق ثَال‬
ٌ َ‫َوخَ ْي ُرهُ َما} اَلَّ ِذي يَ ْبدَأُ بِال َّسالَ ِم ( ُمتَّف‬
)‫ق َعلَ ْي ِه‬

Dari Abu Ayub ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda :


“tidak di halalkan bagi seorang muslim memusuhi saudaranya lebih
dari tiga hari, sehingga jika bertemu saling berpaling muka, dan
sebaik-baik keduanya adalah yang mendahului memberi salam”.
(Mutafaqqun ‘alaih)

Islam menganjurkan untuk menyambung hubungan dan bersatu


serta mengharamkan pemutusan hubungan, saling menjauhi, dan
semua perkara yang menyebabkan lahirnya perpecahan. Karenanya
Islam menganjurkan untuk menyambung silaturahim dan
memperingatkan agar jangan sampai ada seorang muslim yang
memutuskannya. Dan Nabi shalllallahu alaihi wasallam mengabarkan
bahwa bukanlah dikatakan menyambung silaturahmi ketika seorang
membalas kebaikan orang yang berbuat kebaikan kepadanya, yakni
menyambung hubungan dengan orang yang senang kepadanya. Akan
tetapi yang menjadi hakikat menyambung silaturahmi adalah ketika
dia membalas kebaikan orang yang berbuat jelek kepadanya atau
menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan
dengannya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa balasan


disesuaikan dengan jenis amalan. Karenanya, barangsiapa yang
menyambung hubungan silaturahminya maka Allah juga akan
menyambung hubungan dengannya, dan di antara bentuk Allah
menyambungnya adalah Allah akan menambah rezekinya, menambah
umurnya, dan senantiasa memberikan pertolongan kepadanya.

Sebaliknya, siapa saja yang memutuskan hubungan silaturahimnya


maka Allah juga akan memutuskan hubungan dengannya. Dan ketika
Allah sudah memutuskan hubungan dengannya maka Allah tidak akan
perduli lagi dengannya, Allah akan menjadikannya buta dan tuli, dan
menimpakan laknat kepadanya. Dan siapa yang mendapatkan laknat
maka sungguh dia telah dijauhkan dari kebaikan dan rahmat Allah
Ta’ala yang Maha Luas.
Dampak yang ditimbulkan bila silaturahim diantara kita putus,
sangatlah besar, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Di antaranya
adalah sebagai berikut :

1. Segala amalnya tidak berguna dan tidak berpahala. Walaupun kita


telah beribadah dengan penuh keikhlasan, siang dan malam, tetapi
bila kita masih memutus tali silaturahim dan menyakiti hati
orang-orang Islam yang lain, maka amalannya tidak ada artinya di
sisi Allah SWT.
2. Amalan shalatnya tidak berpahala. Sabda Rasulullah SAW :
"Terdapat 5 (lima) macam orang yang shalatnya tidak
berpahala, yaitu : isteri yang dimurkai suami karena
menjengkelkannya, budak yang melarikan diri, orang yang
mendemdam saudaranya melebihi tiga hari, peminum khamar
dan imam shalat yang tidak disenangi makmumnya."
3. Rumahnya tidak dimasuki malaikat rahmat. Sabda Rasulullah
SAW : "Sesungguhnya malaikat tidak akan turun kepada kaum
yang didalamnya ada orang yang memutuskan silaturahmi."
4. Orang yang memutuskan tali silaturahmi diharamkan masuk
surga. Sabda Rasulullah SAW : " Terdapat 3 (tiga) orang yang
tidak akan masuk surga, yaitu : orang yang suka minum khamar,
orang yang memutuskan tali silaturahmi dan orang yang
membenarkan perbuatan sihir."

Bahaya Memutuskan Silaturrahim

َ‫ ال‬: ‫ قَا َل َرسُو ُل هَّللَا ِ صلى هللا عليه وس}}لم‬:‫ال‬ ْ ‫ع َْن ُجبَي ِْر ب ِْن ُم‬
َ َ‫ط ِع ٍم رضي هللا عنه ق‬
ٌ َ‫يَ ْد ُخ ُل اَ ْل َجنَّةَ قَا ِط ٌع ( ُمتَّف‬
)‫ق َعلَ ْي ِه‬

Dari Jubair bin Muth’im ra. Ia berkata : bersabda Rasulullah saw. :


“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan”.
(Mutafaqun ‘alaih).
Orang yang memutuskan silaturahmi adalah orang yang dilaknat
oleh Allah. Dosa yang dipercepat oleh Allah untuk diberi siksa di
dunia dan akhirat adalah memutuskan silaturahmi (selain berbuat
zalim). 0rang yang memutuskan silaturahmi doanya tidak dikabulkan
oleh Allah. 0rang yang memutuskan silaturahmi tidak akan masuk
surga. Bila dalam suatu kaum terdapat orang yang memutus
silaturahmi, maka kaum itu tidak akan mendapat rahmat dari Allah.

Sebagai mana tersirat dalam firman Allah yang berbunyi,

َ َ ‫ض َوتُقَطِّعُوا أَرْ َحا َم ُك ْم أُوْ لَئِكَ الَّ ِذينَ لَ َعنَهُ ُم هللاُ فَأ‬
‫ص َّمهُ ْم‬ ِ ْ‫فَهَلْ َع َس ْيتُ ْم إِن تَ َولَّ ْيتُ ْم أَن تُ ْف ِسدُوا فِي ْاألَر‬
َ ‫َوأَ ْع َمى أَ ْب‬
‫صا َرهُ ْم‬

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat


kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan
Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya
telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" (QS.
Muhammad :22-23)

Begitu juga dipaparkan didalam sabda Rasulullah shallallahu


'alaihi wa sallam dengan bunyinya "Tidaklah seorang muslim
memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan
memutuskan silaturahmi melainkan Allah akan beri padanya tiga hal:

1. Allah akan segera mengabulkan do’anya,


2. Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan
3. Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal." Para
sahabat lantas mengatakan, "Kalau begitu kami akan
memperbanyak berdo’a." Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
lantas berkata," Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan
do'a-do'a kalian"." (HR. Ahmad)
Dalam hadist yang lainnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
juga bersabda,

artinya : "Tidak ada dosa yang Allah swt lebih percepat siksaan
kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat
selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi" (HR
Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

Artinya : "Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya


terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi (HR Muslim).

C. Kesimpulan

Salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang mukmin ialah mencintai


saudaranya sendiri sebagaiman ia mencintai dirinya sendiri. Hal itu
direalisasika dalam kehidupan sehari – hari dengan berusaha untuk menolong
dan merasakan kesusahan maupun kebahagiaansaudaranya seiman yang
didasarkan atas keimanan yang teguh kepada Allah SWT. Dia tidak berfikir
panjang untuk menolong saudaranya sekalipin sesuatu yang diperlukan
saudaranya adalah benda yang paling di cintainya. Sikap ini timbul karena ia
merasakan adanya persamaanantara dirinya dan saudaranya seiman. Ikatan
persaudaraan dalam Islam lebih kuat daripada ikatan nasab dan darah karena
landasannya adalah iman kepada Allah.

Persaudaraan merupakan hal yang umum, persaudaraan yang timbul


karena saling memperkuat ikatan–ikatan persaudaraan dan sebagai fakor
untuk mencapainya kesejahteraan masayarakat Islam. Setiap manusia
memiliki kewajibannya dengan adanya rasa cinta, penghargaan,
penghormatan dan pelaksanaan berbagai kewajiban – kewajiban yang harus
dilaksanakan. Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan Islam telah digariskan oleh
Allah SWT.Dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya dan
benar-benar diamalkan.

Hubungan persaudaraan inilah yang menjadikan sesama muslim


mempunyai kewajiban untuk saling membantu, saling menghormati,
menjenguk ketika sakit, mengantarkan sampai ke kuburan ketika meninggal
dunia, saling mendoakan, larangan saling mencela, menghasud dan lain
sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI

Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhori, Shahih al-Bukhori, (Beirut:


Dar al-fikr. tt)

Imam Ali Ash-Shabuni, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Bandung: Jabal, 2013)

Ust.Alhafidh, Ust.Masrap Suhaemi, Terjemah Riadhus Shalihin, (Surabaya:


Mahkota, 1986)

M. Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ Wal Marjan (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1979)

Imam Bukhari, Shahih Adabul Mufrad (Yogyakarta: Pustaka Ash-Shahihah,


2010)

Al Asqani, Al Hafidz bin Hajar, Terjamah lengkap Bulughul Maram, (Jakarta :


Akbar, 2009).

Al Khauli, Muhammad Abdul Aziz, Menuju Akhlak Nabi, (Semarang: Pustaka


Nuun, 2006)

Ali, Maulana Muhammad, Kitab Hadits Pegangan, (Jakarta: Darul Kutubil


Islamiyah, 1992)

Ash Shidieqy, Teungku Muhammad Hasbi, Mutiara Hadits 1, (Semarang: Pustaka


Rizki Putra, 2002)

Baroja’i Umar bin Ahmad, Akhlaku lil Banin, (Surabaya: Nubhan Wa


Auwalawah, tt)

Hasan, Syamsi, Hadis Qudsi, (Surabaya: Ameliaq Surabaya, tt)

Syafe’i, Rahmat, Alhadist, (Bandung: Pustaka Setia, 2000)

Muflihzainalsufyan, http://muflihzainalsufyan.blogspot.co.id/2016/01/makalah-
terlengkap-persaudaraan-sesama.html (diakses 3 Juli 2020)

Bacaanmadani, http://www.bacaanmadani.com/2016/12/pengertian-persaudaraan-
ukhuwwah-dalam.html (diakses 3 Juli 2020)

Arrisalah, http://arrisalah.org/artikel-terbaru/keutamaan-silaturrahmi.html (diakses


3 Juli 2020)