Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM LAPORAN KASUS

SEPTEMBER, 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

EFUSI PLEURA

Oleh :

SUCI RAMADHANI, S.Ked

Pembimbing :
dr. Zakaria Mustari Sp.PD

(Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu Penyakit


Dalam)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan, bahwa:


Nama : SUCI RAMADHANI
Judul Laporan Kasus : EFUSI PLEURA
Telah menyelesaikan Laporan Kasus dalam rangka Kepanitraan Klinik di
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Makassar.

Makassar, September 2019


Pembimbing,

dr. Zakaria Mustari, Sp.PD

i
KATA PENGANTAR

Assalammualaikum Wr. Wb.


Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas
rahmat, hidayah, kesehatan dan kesempatan-Nya sehingga Laporan Kasus dengan
judul “Efusi Pleura” ini dapat terselesaikan. Salam dan shalawat senantiasa
tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, sang pembelajar sejati yang memberikan
pedoman hidup yang sesungguhnya.
Pada kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing dr. Zakaria
Mustari, Sp.PD, yang telah memberikan petunjuk, arahan dan nasehat yang sangat
berharga dalam penyusunan sampai dengan selesainya Laporan Kasus ini.
Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan dalam penyusunan referat ini, baik dari isi maupun penulisannya.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi
penyempurnaan referat ini.
Demikian, semoga Laporan kasus ini bermanfaat bagi pembaca secara
umum dan penulis secara khususnya.

Wassalammulaikum Wr.Wb.

Makassar, September 2019

Penulis

2
BAB I

PENDAHULUAN

Efusi pleura adalah penimbunan cairan didalam rongga pleura akibat


transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. Efusi pleura bukan
merupakan suatu penyakit, akan tetapi merupakan tanda suatu penyakit. Akibat
adanya carian yang cukup banyak dalam rongga pleura, maka kapasitas paru akan
berkurang dan di samping itu juga menyebabkan pendorongan organ-organ
mediastinum, termasuk jantung. Hal ini mengakibatkan insufisiensi pernafasan dan
juga dapat mengakibatkan gangguan pada jantung dan sirkulasi darah.1,2
Di negara-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal
jantung kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia bakteri, sementara di
negara-negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia, lazim diakibatkan oleh
infeksi tuberkulosis. Efusi pleura keganasan merupakan salah satu komplikasi yang
biasa ditemukan pada penderita keganasan dan terutama disebabkan oleh kanker
paru dan kanker payudara. Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat
dijumpai pada sekitar 50-60% penderita keganasan pleura primer atau metastatik.
Sementara 5% kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi
pleura dan sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi
pleura. Diperlukan penatalaksanaan yang baik dalam menanggulangi efusi pleura
ini, yaitu pengeluaran cairan dengan segera serta pengobatan terhadap penyebabnya
sehingga hasilnya akan memuaskan.2

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Efusi pleura adalah adanya penumpukan cairan dalam rongga (kavum) pleura
yang melebihi batas normal. Dalam keadaan normal terdapat 10-20 cc cairan.1 Efusi
pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleura atau merupakan suatu keadaan
terdapatnya cairan pleura dalam jumlah yang berlebihan di dalam rongga pleura,
yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran
cairan pleura. Dalam konteks ini perlu di ingat bahwa pada orang normal rongga
pleura ini juga selalu ada cairannya yang berfungsi untuk mencegah melekatnya
pleura viseralis dengan pleura parietalis, sehingga dengan demikian gerakan paru
(mengembang dan mengecil) dapat berjalan dengan mulus. Dalam keadaan normal,
jumlah cairan dalam rongga pleura sekitar 10-20 ml. Cairan pleura komposisinya
sama dengan cairan plasma, kecuali pada cairan pleura mempunyai kadar protein
lebih rendah yaitu < 1,5 gr/dl.1,2
Ada beberapa jenis cairan yang bisa berkumpul di dalam rongga pleura antara
lain darah, pus, cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi.
Adapun jenis-jenis cairan yang terdapat pada rongga pleura antara lain :
1. Hidrotoraks
Pada keadaan hipoalbuminemia berat, bisa timbul transudat. Dalam hal ini
penyakitnya disebut hidrotorak dan biasanya ditemukan bilateral. Sebab-sebab
lain yang mungkin adalah kegagalan jantung kanan, sirosis hati dengan asites,
serta sebgai salah satu tias dari syndroma meig (fibroma ovarii, asites dan
hidrotorak).3
2. Hemotoraks
Hemotorak adalah adanya darah di dalam rongga pleura. Biasanya terjadi
karena trauma toraks. Trauma ini bisa karna ledakan dasyat di dekat penderita,
atau trauma tajam maupu trauma tumpul. Kadar Hb pada hemothoraks selalu
lebih besar 25% kadar Hb dalam darah. Darah hemothorak yang baru diaspirasi
tidak membeku beberapa menit. Hal ini mungkin karena faktor koagulasi sudah
terpakai sedangkan fibrinnya diambil oleh permukaan pleura. Bila darah aspirasi
4
segera membeku, maka biasanya darah tersebut berasal dari trauma dinding
dada. Penyebab lainnya hemotoraks adalah:3
 Pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya
ke dalam rongga pleura.
 Kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang
kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura.
 Gangguan pembekuan darah, akibatnya darah di dalam rongga pleura
tidak membeku secara sempurna, sehingga biasanya mudah dikeluarkan
melelui sebuah jarum atau selang.
3. Empiema
Bila karena suatu infeksi primer maupun sekunder cairan pleura patologis
iniakan berubah menjadi pus, maka keadaan ini disebut piotoraks atau empiema.
Pada setiap kasus pneumonia perlu diingat kemungkinan terjadinya empiema
sebagai salah satu komplikasinya. Empiema bisa merupakan komplikasi dari:
 Pneumonia
 Infeksi pada cedera di dada
 Pembedahan dada
4. Chylotoraks
Kilotoraks adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan kil/getah
bening pada rongga pleura. Adapun sebab-sebab terjadinya kilotoraks antara
lain: 4
 Kongenital, sejak lahir tidak terbentuk (atresia) duktus torasikus, tapi
terdapat fistula antara duktus torasikus rongga pleura.
 Trauma yang berasal dari luar seperti penetrasi pada leher dan dada, atau
pukulan pada dada (dengan/tanpa fratur). Yang berasal dari efek operasi
daerah torakolumbal, reseksi esophagus 1/3 tengah dan atas, operasi
leher, operasi kardiovaskular yang membutuhkan mobilisasi arkus aorta.
 Obstruksi Karena limfoma malignum, metastasis karsinima ke
mediastinum, granuloma mediastinum (tuberkulosis, histoplasmosis).
Penyakit-penyakit ini memberi efek obstruksi dan juga perforasi

5
terhadap duktus torasikus secara kombinasi. Disamping itu terdapat juga
penyakit trombosis vena subklavia dan nodul-nodul tiroid yang menekan
duktus torasikus dan menyebabkan kilotoraks.1,2

B. Epidemiologi
Estimasi prevalensi efusi pleura adalah 320 kasus per 100.000 orang di negara-
negara industri, dengan distribusi etiologi terkait dengan prevalensi penyakit yang
mendasarinya. Secara umum, kejadian efusi pleura adalah sama antara kedua jenis
kelamin. Namun, penyebab tertentu memiliki kecenderungan seks. Sekitar dua
pertiga dari efusi pleura ganas terjadi pada wanita. Efusi pleura ganas secara
signifikan berhubungan dengan keganasan payudara dan ginekologi. Efusi pleura
yang terkait dengan lupus eritematosus sistemik juga lebih sering terjadi pada
wanita dibandingkan pada pria.2

C. Etiologi dan Klasifikasi


Efusi pleura merupakan hasil dari ketidakseimbangan tekanan hidrostatik dan
tekanan onkotik. Efusi pleura merupakan indikator dari suatu penyakit paru atau
non pulmonary, dapat bersifat akut atau kronis. Meskipun spektrum etiologi efusi
pleura sangat luas, efusi pleura sebagian disebabkan oleh gagal jantung kongestif,
pneumonia, keganasan, atau emboli paru.2
Efusi pleura umumnya diklasifikasikan berdasarkan mekanisme pembentukan
cairan dan kimiawi cairan menjadi 2 yaitu atas transudat atau eksudat. Transudat
hasil dari ketidakseimbangan antara tekanan onkotik dengan tekanan hidrostatik,
sedangkan eksudat adalah hasil dari peradangan pleura atau drainase limfatik yang
menurun. Dalam beberapa kasus mungkin terjadi kombinasi antara karakteristk
cairan transudat dan eksudat.1,2,3
Klasifikasi berasarkan mekanisme pembentukan cairan:

1. Transudat
Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu adalah
transudat. Transudat terjadi apabila terjadi ketidakseimbangan antara tekanan
kapiler hidrostatik dan koloid osmotic, sehingga terbentuknya cairan pada satu

6
sisi pleura melebihi reabsorpsinya oleh pleura lainnya. Biasanya hal ini terjadi
pada:6
 Meningkatnya tekanan kapiler sistemik
 Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner
 Menurunnya tekanan koloid osmotic dalam pleura
 Menurunnya tekanan intra pleura
Penyakit-penyakit yang menyertai transudat adalah:
 Gagal jantung kiri (terbanyak)
 Sindrom nefrotik
 Obstruksi vena cava superior
 Asites pada sirosis hati (asites menembus suatu defek diafragma atau
masuk melalui saluran getah bening).
2. Eksudat
Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membrane kapiler yang
permeabelnya abnormal dan berisi protein berkonsentrasi tinggi dibandingkan
protein transudat. Bila terjadi proses peradangan maka permeabilitas kapiler
pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi
bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga pleura.
Penyebab pleuritis eksudatif yang paling sering adalah karena mikobakterium
tuberkulosis dan dikenal sebagai pleuritis eksudatif tuberkulosa. Protein yang
terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari saluran getah bening.
Kegagalan aliran protein getah bening ini (misalnya pada pleuritis
tuberkulosis) akan menyebabkan peningkatan konsentasi protein cairan pleura,
sehingga menimbulkan eksudat.6
Penyakit yang menyertai eksudat, antara lain:
 Infeksi (tuberkulosis, pneumonia)
 Tumor pada pleura
 Iinfark paru,
 Karsinoma bronkogenik
 Radiasi,

7
 Penyakit dan jaringan ikat/ kolagen/ SLE (Sistemic Lupus Eritematosis).

D. Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan
dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk
secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi yang terjadi
karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstitial submesotelial
kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura. Selain itu cairan
pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura. Pergerakan cairan dari pleura
parietalis ke pleura visceralis dapat terjadi karena adanya perbedaan tekanan
hidrostatik dan tekanan koloid osmotik. Cairan kebanyakan diabsorpsi oleh sistem
limfatik dan hanya sebagian kecil yang diabsorpsi oleh sistem kapiler pulmonal.
Hal yang memudahkan penyerapan cairan pada pleura visceralis adalah terdapatnya
banyak mikrovili di sekitar sel-sel mesothelial. Bila penumpukan cairan dalam
rongga pleura disebabkan oleh peradangan. Bila proses radang oleh kuman
piogenik akan terbentuk pus/nanah, sehingga terjadi empiema/piotoraks. Bila
proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan
hemotoraks. 1,2,6

E. Manifestasi Klinis
Pasien dengan penderira efusi pleura biasanya mengalami sesak napas, batuk,
dan sesekali nyeri dada dengan sensasi tajam tanpa menjalar yang disebut nyeri
pleuritik. Riwayat dengan penyakit jantung, ginjal, dan kerusakan hati bisa
menyebabkan efusi transudat. Pasien dengan riwayat kanker dapat menyebabkan
efusi pleura maligna. pembengkakan kaki atau trombosis vena dalam dapat
menyebabkan efusi yang berhubungan dengan emboli paru.7

F. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang


Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis yang baik dan pemeriksaan fisik
yang teliti. Diagnosis pasti ditegakkan dari pungis percobaan, biopsi, dan analisa
cairan pleura.6

8
1. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan radiologi (Rontgen thorak)

Gambar 1. Efusi pleura sinistra. Sudut Costophrenicus yang tumpul


karena efusi pleura

Gambar 2. Efusi pleura dextra

Gambar 3. Efusi pleura sinistra massif. Tampak mediastinum terdorong


kontralateral

9
Gambar 4. Efusi pleura bilateral

Gambar 6. Gambaran efusi pleura pada foto posisi lateral

b. Torakosentesis
Aspirasi cairan pleura (torakosentesis) sebagai sarana diagnostik maupun
terapeutik. Pelaksanaannya sebaiknya dengan posisi duduk. Aspirasi
dilakukan pada bagian bawah paru sela iga garis aksilaris posterior dengan
jarum abbocath nomor 14 atau 16. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak
melebihi 1000-1500 cc pada setiap aspirasi.6

10
c. Analisa cairan pleura
 Warna Cairan
Biasanya cairan pleura berwama agak kekuning-kuningan. Bila agak
kemerah-merahan, ini dapat terjadi pada trauma, infark paru, keganasan.
adanya kebocoran aneurisma aorta. Bila kuning kehijauan dan agak
purulen, ini menunjukkan adanya empiema.6
 Biokimia
Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang
perbedaannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 6

Di. samping pemeriksaan tersebut di atas. secara biokimia


diperiksakan juga pada cairan pleura kadar pH dan glukosa. Biasanya
merendah pada penyakit-penyakit infeksi, artitis reumatoid dan neoplasma
atau kadar amilas yang biasanya meningkat pada pankreatitis dan
metastasis adenokarsinoma. 6
 Sitologi
Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk
diagnostik penyakit pleura, terutama bila ditemukan sel-sel patologis atau
dominasi sel-sel tertentu.
 Bakteriologi
Biasanya cairan pleura steril, tapi kadang-kadang dapat mengandung
mikroorganisme, apalagi bila cairannya purulen, (menunjukkan empiema). Efusi
yang purulen dapat mengandung kuman-kuman yang aerob ataupun anaerob.
11
Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah : Pneumokok, E.
coli, Kleibsiella, Pseudomonas, Entero-bacter. Pada pleuritis tuberkulosa, kultur
cairan terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif
sampai 20%.6

G. Penatalaksanaan
Efusi yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi
melalui sela iga. Bila cairan pusnya kental sehingga sulut keluar atau bila
empiemanya multilokular maka perlu tindakan operatif. Bisa juga sebelumnya
dibantu dengan cairan garam fisiologis atau larutan antiseptik (betadine).
Pengobatan secara sistemik hendak segera diberikan tetapi ini tidak berarti bila
tidak diiringi pengeluaran cairan dengan adekuat. 6
Untuk mencegah kembali terjadinya efusi pleura setelah aspirasi (pada efusi
pleura maligna) dapat dilakukan pleurodesis yakni melengketnya pleura parietalis
dan pleura viseralis. Zat-zat yang dapat dipakai berupa tetrasiklin, bleomisin,
korinebakterium parvum, Tio-tepa, dan flourourasil.6

H. Prognosis
Prognosis pada efusi pleura bervariasi sesuai dengan etiologi yang mendasari
kondisi itu. Namun pasien yang memperoleh diagnosis dan pengobantan lebih dini
akan lebih jauh terhindar dari komplikasi daripada pasien yang tidak
memedapatkan pengobatan dini.4
Efusi ganas memiliki prognosis yang sangat buruk, dengan kelangsungan hidup
rata-rata 4 bulan dan berarti kelangsungan hidup kurang dari 1 tahun. Efusi dari
kanker yang lebih responsif terhadap kemoterapi, seperti limfoma atau kanker
payudara, lebih mungkin untuk dihubungkan dengan berkepanjangan kelangsungan
hidup, dibandingkan dengan mereka dari kanker paru-paru atau mesothelioma.
Efusi parapneumonic, ketika diakui dan diobati segera, biasanya dapat di
sembuhkan tanpa gejala sisa yang signifikan. Namun, efusi parapneumonik yang
tidak terobati atau tidak tepat dalam pengobatannya dapat menyebabkan fibrosis
konstriktif. 4,5

12
BAB III

ILUSTRASI KASUS

A. IdentitasPasien

Nama : Tn. SDN

Umur : 70 tahun

JenisKelamin : Laki-laki

Alamat : Panangga

Masuk RS : 22 Agustus 2019

Tgl periksa : 24 Agustus 2019

B. Anamnesis ( Autoanamnesis)
 Keluhan utama: Nyeri dada sebelah kanan
 Riwayat penyakit sekarang:
Pasien masuk ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dada sebelah kanan yang
disertai sesak dan batu yang dirasakan kurang lebih 1 minggu sebelum masuk
ke rumah sakit. Batuk disertai lendir berwarna hijau. Pasien juga mengalami
demam. Nyeri dada yang dirasakan pasien semakin bertambah jika pasien
duduk. Riwayat merokok pada pasien ada. Nafsu makan dan nafsu minum pada
pasien baik.
 Riwayat penyakit dahul disangkal.
 Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga pasien dengan riwayat keganasan dan tidak ada keluarga
dengan gejala yang sama.
 Riwayat pekerjaan, kebiasaan, dans sosial ekonomi
Ekonomi menengah dan riwayat merokok

13
C. Pemeriksaan umum
 Keadaan umum : Tampak sakit sedang
 Kesadaran : Komposmentis
 Tanda – tanda Vital :
- Tensi :130/60 mmHg
- Nadi : 76 x/menit
- Nafas : 26x /menit
- Suhu : 37,3 °C
D. Pemeriksaan fisis
1. Mata :
 konjunctiva anemis (-/-)
 Sclera tidak ikterik
 Pupil isokor, 2 mm/2mm
 Reflex cahaya (+/+)
2. Leher :pembesaran KGB (-), JVP tidak meningkat
3. Thorax :
 Paru :
- Inspeksi : Bentuk dada simetris, kanan kiri dan gerak pernafasan
simetris, kanan=kiri.
- Palpasi : Focal fremitus melemah pada lapangan paru kanan
- Perkusi : Lapangan paru kanan redup. Lapangan paru kiri sonor
- Auskultasi : Lapangan paru kanan vesikuler melemah.
Lapangan paru kiri vesikuler. Wheezing (-/-), Ronkhi (-/-)
 Jantung :
- Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat.
- Palpasi : Ictus cordis tidak teraba.
- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal.
- Auskultasi: Bunyi jantung S1 dan S2 normal, murmur (-), gallop (-).
 Abdomen :
- inspeksi : Perut datar, venektasi (-), inflamasi (-), scar (-)

14
- Auskultasi : Bising usus (+) normal.
- Perkusi : Timpani.
- Palpasi : Hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan epigastrium (-).
 Ekstremitas : Akral hangat. Udem ekstremitas (-)
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG :
 Pemeriksaan rontgen thorax tanggal 22 Agustus 2019

 Pemeriksaan laboratorium
- WBC : 21.7 x 103 /µL
- RBC : 4,09 x 106/ µL
- HGB : 12,1 gr/dl
- PLT : 212 x 103/ µL

15
F. RESUME

Seorang pasien laki-laki berusia 70 tahun datang ke RSUD. Syekh Yusuf


dengan keluhan chest pain bagian dextra disertai batuk dan dispneu selama kurang
lebih 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengalami demam. Nyeri
dada yang dirasakan semakin bertambah jika dalam posisi duduk. Setelah
anamnesis lebih lanjut pasien juga memiliki riwayat merokok.

Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan prehipertensi dan lainnya dalam


batas normal. Pada pemeriksaan fisis didapatkan focal fremitus sebelah kanan
melemah serta perkusi pada lapangan paru kanan pekan dan auskultasi didapatakan
bunyi napas pada lapangan thorax kanan melemah.

Pada pemeriksaan penunjang radiologi dalam hal ini foto rontgen


didapatkan kesan efusi pleura dextra, pneumonia dextra, dan dilatatio et
atherosclerosis aorta. Pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis.

G. Diagnosis kerja :
 Efusi Pleura dextra
H. RENCANA PENATALAKSANAAN
 Non Farmakologi
- Bed rest
- Diet tinggi kalori tinggi protein
 Farmakologi
- Infus futrolit : aminofluid
- Cefoperazone / 12 jam /IV
- Dexamethasone amp/ 8 jam/ IV
- Fiopraz / 12 jam/ IV
- Ifalmin 3 x 1
- Codein 20mg 3x1
- Acetylsistein 2 x 1
- Pemasangan O2

16
PEMBAHASAN

Dari hasil anamnesis pasien mengeluhkan nyeri dada yang dirasakan 1


minggu sebelum masuk ke rumah sakit dan disertai sesak napas dan batuk lendir
berwarna hijau. Nyeri dada yang dirasakan pasien semakin berat jika posisi duduk
namun sesak pasien berkurang jika posisi duduk. Sesak pasien juga memberat jika
pasien mengalami batuk. Batuk yang dialami pasien batuk lendir berwarna hijau
dimana ini dikaitkan dengan infeksi pada saluran napas pasien yang didukung oleh
pemeriksaan rontgen thorax menunjukkan adanya pneumonia. Pada pemeriksaan
fisik thorax didapatkan inspeksi normal, perkusi terdengar redup pada lapangan
paru kanan, vocal fremitus kanan melemah pada saat palpasi dilakukan, dan
auskultasi terdengar suara nafas vesilkuler melemah pada lapangan paru kanan.
Beberapa hal yang mungkin menyebabkan hal di atas antara lain, adanya cairan
pada rongga pleura, atau terdapat massa di paru kanan. Pada pasien ini pemeriksaan
dikonfirmasi melalui rontgen thorax, hasil pemeriksaan rontgen thorax
menunjukkan adanya efusi pleura. Jika dihubungkan dengan gejala yang terdapat
pada pasien , pasien dengan sesak nafas dengan adanya penumpukan cairan di
rongga paru dextra kemudian disertai dengan adanya batuk berlendir hijau
merupakan ada tanda-tanda infeksi pada paru pasien, hal sesuai dengan teori
penyebab dari efusi pleura itu sendiri dimana bisa disebabkan oleh adanya infeksi
entah itu infeksi tuberkulosis ataupun pneumonia. Bila penumpukan cairan dalam
rongga pleura disebabkan oleh peradangan. Bila proses radang oleh kuman
piogenik akan terbentuk pus/nanah, sehingga terjadi empiema/piotoraks. Bila
proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan
hemotoraks.

Kemudian pada pemeriksaan fisis ditemukan nyeri dada, penderita juga


mengeluh demam menggigil yang naik turun, Manifestasi klinis pada efusi pleura
cenderung disebabkan oleh penyakit yang mendasarinya. Pneumonia akan
menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis, sementara efusi
malignan dapat mengakibatkan dispnea dan batuk. Ukuran efusi akan menentukan
keparahan gejala. Pada beberapa kasus penderita umumnya asimptomatis atau

17
memberikan gejala demam ringan ,dan berat badan yang menurun seperti pada efusi
yang lain.

Pada hasil pemeriksaan Radiologi terdapat perselubungan homogen


hemithorax dextra yang menutupi sinus dengan kesan Efusi pleura dextra. Pada
penatalaksanaan tentunya terdapat terapi non farmakologi berupa istirahat yang
cukup serta diet tinggi kalori dan tinggi protein pada farmakologi kita berikan
antibiotik karena pasien terdapat infeksi , serta pemasangan O2 dan Combivent
nebulisasi jika perlu, codein diberikan untuk meredakan gejala batuk pada pasien.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Firdaus, Denny. Efusi Pleura. RSUD Dr.H.Abdul Moeloek. Bandar


Lampung. 2012

2. Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis


Proses-Proses Penyakit. Vol 2. Ed. 6. Jakarta EGC. 2005.

3. Halim H. Penyakit-penyakit pleura, dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam,


Jilid III, edisi ke-5. Jakarta: Interna Publishing.2014. Hal 211

4. Thabrani Rab, Prof. Dr. H. “Penyakit Pleura”. Edisi Pertama. Trans Info
Media : Jakarta. 2010

5. Rofiq ahmad. Thorax. http://emedicine.medscape.com/article/299959-


overview diakses tanggal 8 Mei 2013 . 2001.

6. Halim, Hadi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Ed. VI. Jakarta:
Interna Publishing. 2014.

7. McGrath EE, Anderson PB. Diagnosis of Pleural Efussion: A Systematic


Approach. American Journal of Critical Care. 2011. Vol-20. No-2

19