Anda di halaman 1dari 26

i

MAKALAH

PENEGAKAN HUKUM KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

DOSEN PENGASUH : RIZKI SETYOBONO SANGALANG, SH.,MH

Oleh:

KELOMPOK III

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS HUKUM 2013

LEMBAR PENGESAHAAN

DISUSUN OLEH : NAMA 1. ERIK SOSANTO 2. RIA WIJAYANTI 3. MEGA SELVY 4. FRANSISCA NOVITASARI 5. LAMGANDA H SIMATUPANG 6. FERRY ERYANDI. S 7. STEVEN BELKA LAMBUNG 8. ANDREAS WINDRA IKAT 9. ARBY SUHASTRA 10. EDI SUHARTONO 11. ARIADY DWITAMA 12. BOBY SAVENDRA 13. PEBRIANDI NIM EAA 110 039 EAA 110 011 EAA 110 023 EAA 110 031 EAA 110 029 EAA 110 021 EAA 110 041 EAA 110 037 EAA 110 070 EAA 110 025 EAA 110 008 EAA 110 046 EAA 110 019 TTD ............ ............ ............ ............ ............ ............ ............ ............ ............ ............ ............ ............ ............

ii

ii

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur atas limpahan berkat dan Rahmat-Nya dari Tuhan Yang Maha Esa karena atas izinnyalah penulis masih diberikan kesempatan atas selesainya penyusunan makalah ini sebagai tambahan ilmu, tugas dan pedoman yang berjudul Penegakan Hukum Kekerasan dalam Rumah Tangga. Dalam penyusunan makalah ini saya mengumpulkan dari berbagai sumber buku-buku dan sumber lainnya yang berhubungan dengan Penegakan Hukum Kekerasan dalam Rumah Tangga yang memudahkan saya dalam menyelesaikan tugas ini. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan bagi orang yang membacanya. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak sekali kekurangan-kekurangan baik dalam penulisan, pemakaian kata, redaksional kalimat dan bahkan dalam penggunaan aturan-aturan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, hal mana ini disebabkan terbatasanya kemampuan dan pengetahuan penulis miliki, Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan penulisan makalah lebih lanjut. Akhir kata penulis berharap semoga penyusunan dan penulisan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

iii

iii

Palangka Raya, Penulis,

Desember 2013

KELOMPOK III

iv

iv

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL............................................................................................. HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... KATA PENGANTAR .......................................................................................... DAFTAR ISI ......................................................................................................... i ii iii v

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 1.2. Perumusan Masalah ..................................................................................... 1.3. Tujuan Penulisan .......................................................................................... 1.4. Manfaat Penulisan ........................................................................................ 1.5. Metode Penulisan ......................................................................................... 1.6. Sistematika penulisan ................................................................................... BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 2.2 Pengertian dan ruang lingkup Kekerasan dalam Rumah Tangga ................ Penegakan Hukum Kekerasan dalam Rumah Tangga..................... ............ 6 10 1 3 3 3 4 4

BAB 3 PENUTUP 3.1. Kesimpulan .................................................................................................. 3.2. Saran ............................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA 20 21

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan fisik, seksual, psikologis dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Dampak KDRT sangat kompleks dan mempengaruhi ketahanan individu maupun ketahanan keluarga. Sehingga memerlukan penanganan yang kompleks untuk memulihkan korban. Dalam aspek hukum diperlukan lembaga-lembaga yang berkekuatan hukum dan aparat penegak hukum serta pendamping korban KDRT yang membantu jalannya proses hukum korban KDRT. Aspek psikologi diperlukan untuk memberi kenyamanan korban untuk menyampaikan masalah kekerasan yang dialami dan membantu korban KDRT agar mampu mengambil keputusan serta pilihan yang diperlukan agar kembali berdaya. Aspek sosial diperlukan agar korban KDRT dapat hidup bebas sebagai warga masyarakat sebagaimana adanya. Korban KDRT dapat berhubungan sosial dengan tetangga dan keluarganya, tidak terisolasi dan dijauhi lingkungannya serta tidak dipersalahkan keluarganya. Untuk aspek pemenuhan HAM, diperlukan karena HAM sebagai hak-hak yang melekat pada diri manusia yaitu hak-hak dasar yang dimiliki manusia sejak ia lahir berkaitan dengan harkat dan martabat sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME tidak bisa dilanggar atau dihilangkan

oleh siapapun. Maka sebab itu Penegakan hukum korban KDRT itu penting karena akan memberikan perlindungan kepada korban KDRT itu sendiri serta menindak pelaku dari KDRT tersebut. Berbicara mengenai upaya penegakan hukum tak mungkin lepas dari berbicara mengenai aparaturnya. Upaya penegakan hukum tentu saja harus ada aktornya. Sejauh ini kita menemukan dan merasakan fakta adanya penegakan hukum yang terus menerus dilaksanakan akan tetapi out-putnya tidak memberikan keadilan kepada masyarakat. Aparat penegak hukum atau Catur Wangsa alias Empat Pilar Penegak Hukum yang dimaksud adalah Hakim, Jaksa, Polisi dan Pengacara (atau yang sekarang secara yuridis formal disebut Advokat). Salah satu yang menjadi menarik ketika kita berbicara mengenai penegakan hukum khususnya para korban kekerasan dalam rumah tangga, yaitu sejauh manakah sudah efektifnya peraturan perundang-undangan dalam melindungi para korban kekerasan dalam rumah tangga dan bagaimanakah peran serta upaya para Aparat penegak hukum dalam menegakan hukum tersebut. Sejalan dengan uraian singakt diatas, maka penulis tertarik untuk sedikit menguraikan Permasalahan-Permasalahan yang berkaitan dengan Penegakan hukum khususnya para korban kekerasan dalam rumah tangga ini dalam bentuk makalah, dengan judul PENEGAKAN HUKUM KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Yang merupakan gambaran dan fakta hukum yang terjadi dalam kehidupan kemasyarakatan dan ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan sosial yang kiranya penting untuk dibahas.

1.2 Perumusan dan Batasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas dan isu hukum yang dikemukakan dalam penulisan ini, maka perumusan masalah yang dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) Apakah Pengertian dan ruang lingkup Kekerasan dalam Rumah Tangga ?. 2) Bagaimana upaya Penegakan Hukum Kekerasan dalam Rumah Tangga?. Terhadap dua rumusan masalah tersebut, penulis melakukan pembatasan dengan mengacu pada perspektif kajian Penegakan Hukum Kekerasan dalam Rumah Tangga. 1.3 Tujuan Penulisan Hakekat kegiatan penulisan adalah penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf keilmuan, karena manusia pada dasarnya selalu ingin tahu sebab dari suatu rentetan akibat. Demikian pula halnya dengan penulisan karya bidang tulis hukum, berupa makalah, sesungguhnya tidak lepas dari adanya suatu tujuan yang ingin dicapai yaitu sebagi berikut : 1) Mengetahui dan memahami Pengertian dan ruang lingkup Kekerasan dalam Rumah Tangga. 2) Mengetahui dan memahami Bagaimana upaya Penegakan Hukum Kekerasan dalam Rumah Tangga. 1.4 Manfaat Penulisan Adapun manfaat makalah ini adalah sebagai berikut : 1) Sebagai media untuk menambah wawasan.

2) Bahan referensi aktual . 3) Bahan bacaan dan pengetahuan 1.5 Metode Penulisan Metode yang di gunakan dalam penulisan makalah ini yang bersumber pada buku-buku referensi yang berhubungan dengan Hukum Undang-Undang Kekerasaan dalam Rumah Tangga dan situs internet yang langsung mengangkat permasalahanpermasalahan tentang perspektif kajian Penegakan Hukum Kekerasan dalam Rumah Tangga. 1.6 Sistematika Penulisan Sistematiaka penulisan makalah ini mempunyai makna deskripsi secara garis besar akan hal-hal yang mendasari isu hukum berupa rumusan masalah untuk dilakukan analisis untuk selajutnya dikembangkan dan diberikan pemahaman bersifat komprehensif sebagimana tersarikan dalam 3 (BAB) yaitu sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bermaterikan latar belakang, rumusan dan batasan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan,metodologi penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II PEMBAHASAN Merupakan uraian dalam bentuk analisis hukum secara normatif yang ditujukan untuk memberikan penjelsan secara komprehensif terhadap 2(hal) permasalahan yang dirumuskan pada bab I yaitu : 1) Pengertian dan ruang lingkup Kekerasan dalam Rumah Tangga. 2) upaya Penegakan Hukum Kekerasan dalam Rumah Tangga.

BAB III PENUTUP Pada BAB penutup ini penulis mencoba mensarikan hal-hal yang telah dideskripsikan pada BAB I-BAB II didepan, dalam bentuk suatu kesimpulan dan dilengkapi saran-saran sebagai masukan positif bagi semua pihak.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian dan ruang lingkup Kekerasan dalam Rumah Tangga 2.1.1 Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga Kekerasan dalam Rumah Tangga seperti yang tertuang dalam Undangundang No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, memiliki arti setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan

kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Masalah kekerasan dalam rumah tangga telah mendapatkan

perlindungan hukum dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 yang antara lain menegaskan bahwa: a. Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebes dari segala bentuk kekerasan sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-undang Republik Indonesia tahun 1945. b. Bahwa segala bentuk kekerasan, terutama Kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia, dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk deskriminasi yang harus dihapus.

c. Bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga yang kebanyakan adalah perempuan, hal itu harus mendapatkan perlindungan dari Negara dan/atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan d. atau ancaman kekerasan, penyiksaan, atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan. e. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagai dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu dibentuk Undang-undang tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. 2.1.2 Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam : a. Kekerasan fisik Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat. Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar, memukul, meludahi, menarik rambut (menjambak), menendang, menyudut dengan rokok, memukul/melukai dengan senjata, dan sebagainya. Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur-bilur, muka lebam, gigi patah atau bekas luka lainnya. b. Kekerasan psikologis / emosional Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang

mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan

psikis berat pada seseorang. Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan, komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri, mengisolir istri dari dunia luar, mengancam atau ,menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak. c. Kekerasan seksual Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya, memaksa melakukan hubungan seksual, memaksa selera seksual sendiri, tidak memperhatikan kepuasan pihak istri. d. Kekerasan ekonomi Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Contoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri,bahkan menghabiskan uang istri. 2.1.3 Faktor-Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga Strauss A. Murray mengidentifikasi hal dominasi pria dalam konteks struktur masyarakat dan keluarga, yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (marital violence) sebagai berikut: a. Pembelaan atas kekuasaan laki-laki Laki-laki dianggap sebagai superioritas sumber daya dibandingkan dengan wanita, sehingga mampu mengatur dan mengendalikan wanita.

b. Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi Diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi wanita untuk bekerja mengakibatkan wanita (istri) ketergantungan terhadap suami, dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan kekerasan. c. Beban pengasuhan anak Istri yang tidak bekerja, menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh anak. Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak, maka suami akan menyalah-kan istri sehingga tejadi kekerasan dalam rumah tangga. d. Wanita sebagai anak-anak Konsep wanita sebagai hak milik bagi laki-laki menurut hukum, mengakibatkan kele-luasaan laki-laki untuk mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. Laki-laki merasa punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorang bapak melakukan kekerasan terhadap anaknya agar menjadi tertib. e. Orientasi peradilan pidana pada laki-laki Posisi wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya, diterima sebagai pelanggaran hukum, sehingga penyelesaian kasusnya sering ditunda atau ditutup. Alasan yang lazim dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga.

10

2.2 Penegakan Hukum Kekerasan dalam Rumah Tangga 2.2.1 Peran Aparat Penegak Hukum dalam Penanganan KDRT Berbicara mengenai peran aparat penegak hukum dalam penanganan KDRT tak lepas dari tinjauan hak-hak korban. seperti yang telah ditentukan dalam Pasal 13 UU Nomor 23 Tahun 2004 Salah satunya adalah perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. Hak perlindungan adalah segala upaya yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada korban yang dilakukan oleh pihak keluarga, masyarakat, advokat, lembaga sosial, kepolisian, kejaksaan, pengadilan atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan. 1. Peran Kepolisian (Pasal l6) Perlindungan oleh polisi dilakukan dalam waktu 1 X 24 jam terhitung sejak mengetahui atau menerima laporan KDRT. Kepolisian wajib segera memberikan perlindungan sementara pada korban. Perlindungan sementara diberikan paling lama 7 (tujuh) hari sejak korban diterima atau ditangani. Dalam waktu 1 X 24 jam terhitung sejak pemberian perlindungan kepolisian wajib meminta surat penetapan pemerintah perlindungan dari pengadilan. Dalam memberikan perlindungan sementara kepolisian dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping dan / atau pembimbing rohani untuk mendampingi korban.

11

Setelah memperoleh perlindungan sementara, hak lain berkaitan proses hukum dan kepolisian korban memperoleh hak penanganan perkara secara cepat. Dalam Undang-Undang Kepolisian wajib segera melakukan

penyelidikan setelah mengetahui atau menerima laporan tentang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) Untuk lebih jelas proses pelaporan di Kepolisian antara lain : a. Pembuatan laporan Polisi. Pelapor/korban melaporkan kekerasan yang dialaminya ke kantor Kepolisian di wilayah Tempat Kejadian Perkara (TKP). b. Pembuatan visum et repertum. Polisi akan membuat surat pengantar visum et repertum di Rumah Sakit yang ditunjuk. c. Pemeriksaan korban/pelapor. Pemeriksaan korban dituangkan ke dalam BAP yang berisi kronologi kejadian. d. Pemeriksaan saksi-saksi. Pemeriksaan saksi-saksi dituangkan ke dalam BAP yang berisi keterangan saksi yang mendukung keterangan korban. e. Pemeriksaan tersangka. Setelah pemeriksaan dianggap selesai yang dilakukan Kepolisian yaitu apabila berkas penyidikan sudah dianggap lengkap maka polisi akan melimpahkan berkas ke Kejaksaan. Jika Kejaksaan merasa berkas belum

12

lengkap maka berkas dikembalikan ke Kepolisian untuk melengkapi catatancatatan yang diberikan Jaksa Penuntut Umum. Jika berkas sudah lengkap maka dinyatakan perkara sudah P-21 (siap disidangkan). 2. Peran Kejaksaan (Pasal 10) Selanjutnya Jaksa Penuntut Umum akan menyusun Surat Dakwaan berisi pasal-pasal yang didakwakan kepada terdakwa atas perbuatan yang telah dilakukannya. Berkas Perkara dan Surat Dakwaan kemudian dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan. Lebih jelas lagi peran aparat penegak hukum dalam proses persidangan yaitu : a. Sidang Pembacaan Dakwaan. Merupakan sidang pertama di pengadilan dimana Jaksa Penuntut Umum membacakan Surat Dakwaan di muka pengadilan. b. Sidang Pemeriksaan Korban. Hakim, Jaksa Penuntut Umum dan Pengacara Terdakwa memberika pertanyaan. Korban memberikan keterangan. c. Sidang Pemeriksaan Saksi-saksi. Hakim, Jaksa Penuntut Umum dan Pengacara Terdakwa memberikan pertanyaan. Saksi memberikan keterangan. Apabila berbeda dengan BAP maka yang diakui pengadilan adalah keterangan di muka pengadilan. d. Sidang Pemeriksaan Terdakwa.

13

Hakim, Jaksa Penuntut Umum dan Pengacara Terdakwa memberikan pertanyaan kepada terdakwa. Apabila berbeda dengan BAP maka yang diakui pengadilan adalah keterangan di muka pengadilan. e. Sidang Pembacaan Tuntutan. Tuntutan diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum berisi fakta-fakta persidangan, pasal yang dilanggar dan tuntutan hukuman. f. Sidang Pembacaan Pledoi/Pembelaan. Pembelaan diajukan oleh Terdakwa/Pengacara Terdakwa sebagai tangkisan atas dalil-dalil tuntutan Jaksa Penuntut Umum. g. Sampai Sidang Pembacaan Putusan oleh Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut. 3. Peran Pengadilan (Pasal 28) Sementara itu, undang-undang juga mengatur tentang peran pengadilan dalam memberikan perlindungan terhadap korban, khususnya mengenai pelaksanaan mekanisme perintah perlindungan. Kepolisian harus meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. Setelah menerima permohonan itu, pengadilan harus: a. Mengeluarkan surat penetapan yang berisi perintah perlindungan bagi korban dan anggota keluarga lain. b. Atas permohonan korban atau kuasanya, pengadilan dapat

mempertimbangkan untuk menetapkan suatu kondisi khusus yakni

14

pembatasan gerak pelaku, larangan memasuki tempat tinggal bersama, larangan membuntuti, mengawasi atau mengintimidasi korban. Apabila terjadi pelanggaran perintah perlindungan maka korban dapat melaporkan hal ini kepada kepolisian, kemudian secara bersamasama menyusun laporan yang ditujukan kepada pengadilan. Setelah itu, pengadilan wajib memanggil pelaku untuk mengadakan penyelidikan dan meminta pelaku untuk membuat pernyataan tertulis yang isinya berupa kesanggupan untuk mematuhi perintah perlindungan. Apabila pelaku tetap melanggar surat pernyataan itu, maka pengadilan dapat menahan pelaku sampai 30 hari lamanya. 4. Peran Advokat (Pasal 25) Dalam hal memberikan perlindungan dan pelayanan bagi korban maka advokat wajib: a. memberikan konsultasi hukum yang mencakup informasi mengenai hakhak korban dan proses peradilan, b. mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan dalam sidang pengadilan dan membantu korban untuk secara lengkap memaparkan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya, dan c. melakukan koordinasi dengan sesama penegak hukum, relawan pendamping, dan pekerja sosial agar proses peradilan berjalan sebagaimana mestinya.

15

2.2.2 Faktor-faktor yang mendukung dalam penanganan Penegakan Hukum KDRT a. Peraturan perundang-undangan Perlu kiranya diperbanyak kegiatan sosialisasi masalah hukum dan perundang-undangan yang berkaitan masalah ini kepada masyarakat, terutama UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang tergolong baru terbit dan baru disahkan oleh negara sehingga masyarakat tahu, sadar, dan memahami isi undang-undang tersebut untuk sekaligus dijadikan pemahaman diri dalam prilaku kehidupan mereka b. Sarana dan Prasarana Sarana adalah alat bantu disebut juga dengan fasilitas (facilities), keadaan (circumstances) yang menyebabkan kemudahan dalam

melakukan sesuatu. Dilain pihak sarana juga disebut segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat untuk mencapai maksud dan tujuan. Sedangkan prasarana disebut juga dengan infrastructure diartikan sebagai keterpaduan antara sistem dan bangunan fisik. Antara prasarana dan sarana terdapat satu keterpaduan makna yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Dalam konteks ini faktor sarana dan prasarana pendukung dalam penegakan hukum KDRT ialah Mendirikan Ruang dan Pelayanan Khusus (RPK), sebagai tempat penanganan kasusKDRT dan pelanggaran anak, serta Membentuk unit Pelayanan

16

Perempuan dan Anak (PPA) di tingkat kepolisian sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2007. c. Sumber Daya Manusia Sumber Daya Manusia yang dimaksud ialah aparat penegakan hukumnya. Dalam konteks ini faktor Sumber Daya Manusia pendukung dalam penegakan hukum KDRT ialah meningkatkan kemampuan personil Ruang dan Pelayanan Khusus (RPK) dalam penyidikan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dilakukan melalui pendidikan, sehingga akan menambah pengetahuan personil RPK tentang penyidikan secara umum ini dilakukan di intansi kepolisian, , serta bagaimana upaya pencegahan dan menangani pelanggarnya, dan Menjalin kerjasama dengan Kementerian

Pemberdayaan Perempuan menyusun suatu manual atau buku saku pegangan polisi dalam menangani kasus KDRT. d. Masyarakat dan Budaya Masih rendahnya kesadaran untuk berani melapor dikarenakan masyarakat sendiri enggan melaporkan permasalahan dalam rumah tangganya. Masyarakat ataupun pihak yang tekait dengan KDRT, baru benar-benar bertindak jika kasus KDRT sampai menyebabkan korban, baik fisik yang parah maupun kematian, itupun jika diliput oleh media massa; Faktor budaya pun mendukung hal tersebut, diantara kalangan Masyarakat yang khusus menganut patriarkis/patrilineal ditandai dengan

17

pembagian kekuasaan yang sangat jelas antara lakilaki dan perempuan dimana lakilaki mendominasi perempuan. Selain itu juga pandangan bahwa cara yang digunakan orang tua untuk memperlakukan anak anaknya, atau cara suami memperlakukan istrinya, sepenuhnya urusan mereka sendiri yang mana tidak boleh dicampuri oleh pihak lain, termasuk aparat penegak hukum; Maka yang dimkasud dengan faktor pendukung Masyarakat dan Budaya dalam penegakan hukum KDRT ialah Menyelenggarakan berbagai seminar/lokakarya bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang ketentuan/ peraturan yang terkait dengan masalah perlindungan hukum terhadap KDRT sehingga diharapakan masyarakat menjadi tanggap dalam menyikapi segala bentuk kekerasaan dilingkungan sekitarnya yang menyakut KDRT.

18

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Bentuk-bentuk kekerasan yang umum diketemukan dalam kekerasan dalam rumah tangga antara lain kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan kekerasan ekonomi. Berbagai Perlindungan terhadap Korban kekerasan dalam rumah tangga seperti berhak mendapatkan perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial atau pihak lain baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan dimana sudah diatur didalam UU. No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Bahkan Peran aparat penegak hukum, yaitu kepolisian, advokat dan pengadilan, dalam memberikan perlindungan dan pelayanan kepada korban kekerasan dalam rumah tangga, diatur secara khusus yaitu, sebagai berikut: a. Kepolisian Diatur dalam ketentuan Pasal l6 UU No. 23 Tahun 2004. Pada waktu kepolisian menerima laporan kekerasan dalam rumah tangga, harus segera dijelaskan kepada korban bahwa mereka mendapatkan pelayanan dan pendampingan. Kepolisian memperkenalkan identitas mereka dan segera wajib melakukan penyelidikan serta wajib melindungi korban. Selanjutnya kepolisian akan meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. Kepolisian dapat melakukan penangkapan dan penahanan terhadap pelaku.

18

19

b. Kejaksaan Diatur dalam ketentuan Pasal 1 butir 4 dan Pasal 10 huruf a UU No 23 tahun 2004. Pada Tahap penuntutan (to carry out accusation) adalah berkas perkara yang diterima pihak kejaksaan dilakukan penelitian apakah perkara/kasus tersebut dapat atau tidak dilimpahkan ke pengadilan negeri, apabila berkas perkara belum lengkap maka berkas dikembalikan kepihak penyidik untuk dilengkapi dan apabila berkas perkara dinyatakan lengkap maka penyidik wajib menyerahkan tersangka berikut barang bukti.Sehingga dalam hal tersebut dapat dikatakan, lembaga kejaksaan mempunyai peranan juga dalam memberikan perlindungan terhadap korban c. Advokat Diatur dalam ketentuan Pasal 25 UU. No. 23 Tahun 2004. Di dalam memberikan perlindungan dan pelayanan, advokat wajib memberikan konsultasi hukum mengenai hak-hak korban dan proses peradilan. Mendampingi korban pada penyidikan dan pemeriksaan di dalam sidang, serta melakukan koordinasi dengan sesama penegak hukum, relawan pendamping, dan pekerja sosial agar proses peradilan berjalan sebagaimana mestinya. d. Pengadilan Diatur dalam ketentuan Pasal 28 sampai dengan 34, 37 dan 38 UU. No. 23 Tahun 2004. Pengadilan harus mengeluarkan surat penetapan perintah perlindungan bagi korban dan anggota keluarga lain yang diajukan oleh kepolisian.

20

3.2 Saran Adapun saran yang dapat penulis sampaikan untuk mencegah agar tidak menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga antara lain peningkatan pendidikan sehingga dapat menyadari hak-hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan warga masyarakat. Serta peningkatan kesempatan kerja dan lapangan kerja bagi yang merata tidak membedakan gender antara laki-laki dan perempuan, sehingga secara ekonomi tidak tergantung sepenuhnya kepada salah satu pihak. Sosialisasi peraturan perundang-undangan yang memberikan perlindungan kepada korban khususnya sosialisasi Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga lengkap dengan peran dan fungsi Ruang Pelayanan Khusus (RPK). Memberikan advokasi dan pendampingan bagi korban serta Memberikan advokasi kebijakan pemerintah di dalam menyusun peraturan-peraturan yang melindungi istri.

21

DAFTAR PUSTAKA Marlyn Jane Alputila, Peran Kepolisian Dalam Proses Penyidikan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Polres Ambon, Jurnal Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin, Makassar, 2012 di akses tanggal 3 Desember 2013

Midwifejaniezt

(2012),

Makalah

Kdrt,

midwifejaniezt.blogspot.com/2012/12

/makalah-kdrt.htmldi akses tanggal 3 Desember 2013

Saptadi Agung Priharyanto, Peran Aparat Penegak Hukum dan Pendamping Korban dalam Penanganan KDRT ( Studi Kasus LBH Apik Jakarta, P2TP2A Provinsi DKI Jakarta dan Unit PPA Bareskrim Polri ), Tesis , Program Studi Kajian Stratejik Ketahanan Nasional Program Pascasarjana Universitas Indonesia Jakarta, 2011