Anda di halaman 1dari 28

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Metodologi Studi Islam
Metodologi berasal dari bahasa Yunani metodos, kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu methayang
berarti melalui atau melewati dan hodos yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang
dilalui untuk mencapai tujuan.[1]
Studi Islam adalah kajian yang mengungkapkan fenomena agama dengan berbagai pandangan kajian dan
bukan untuk mempersempit makna agama pada persoalan ketuhanan, kepercayaan, ibadah, dan sistem
peribadatan.
Nata mengatakan bahwa jika dilihat dari segi normatif islam lebih merupakan agama yang dapat berlaku
kepada paradigma ilmu pengetahuan yaitu paradigma analisis, kritis, jika dilihat dari segi historis islam
dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu, karena ia dipraktikan oleh manusia dan tumbuh serta berkembang
dalam kehidupan manusia, sehingga ia bisa disebut sebagai ilmu keislaman atau islamic studies.
Studi islam merupakan pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran islam yang dipraktikan dalam sejarah
dan kehidupan manusia. Sedang pengetahuan agama adalah pengetahuan yang sepenuhnya diambil dari
ajaran-ajaran tentang akidah ibadah, membaca Al Quran dan akhlak.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metodologi studi islam adalah sebuah kajian yang sistematis
menggunakan pendekatan empiris tentang islam sebagai ajaran agama dan islam yang berwujud
kebudayaan dalam kehidupan umat islam dengan tujuan untuk dapat lebih memahami islam secara
rasional dan dapat dipraktikan dalam kehidupan umat secara nyata.
B. Pendekatan dalam Studi Islam
1. Pendekatan Teologis Normatif dalam studi islam
Pendekatan teologis normatif termasuk salah satu pendekatan studi islam yang cukup populer dikalangan
umat islam. Pendapat ini dalam memahami agama dengan mengunakan kerangka ilmu ketuhanan yang
bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empiris dari suatu keagamaan dianggap yang paling benar
dibandingkan dengan yang lainya.
Teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama.
Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Para teolog berupaya menggunakan
analisis dan argumen-argumen rasional untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajar dalam salah satu
bidang dari topik-topik agama. Teologi memampukan seseorang untuk lebih memahami tradisi
keagamaannya sendiri ataupun tradisi keagamaan lainnya, menolong membuat perbandingan antara
berbagai tradisi, melestarikan, memperbaharui suatu tradisi tertentu, menolong penyebaran suatu tradisi,
menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam suatu situasi atau kebutuhan masa kini, atau untuk
berbagai alasan lainnya.[2]
Adapun kata normatif berarti berpegang teguh pada norma, menurut norma atau kaidah yg
berlaku.[3]Sedangkan istilah normatif adalah prinsip atau pedoman yang menjadi petunjuk manusia pada
umumnya untuk hidup bermasyarakat.
Pendekatan teologi dalam pendekatan pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada
bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar
sedangkan yang lainya adalah salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa faham-nya
lah yang paling benar sedangkan yang lainnya adalah salah, sehingga memandang faham orang lain itu
keliru, sesat, kafir, murtad dan seterusnya.
Pendekatan teologis ini erat kaitanya dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang
memandang agama dari segi ajaranya yang pokok dan asli dari tuhan yang di dalamnya belum terdapat
penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologi normatif ini agama dilihat sebagai suatu
kebenaran mutlakdari tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan tempat bersikap ideal.
Dari uraian diatas, pendekatan ini menunjukkan adanya kekurangan, antara lain: bersifat eklusif,
dogmatis, dan tidak mau mengakui kebenaran agama lain. Kekurangan pendekatan dapat dilengkapi
dengan pendekatan sosiologis.
Sedangkan kelebihan dari pendekatan teologis normatif adalah melalui pendekatan ini seorang akan
memiliki sikap mencintai dalam beragama yakni berpegang teguh kepada agama yang diyakininya
sebagai yang benar tanpa memandang dan meremehkan agama lain. Dengan pendekatan yang demikian
seseorang akan memiliki sikap fanatis terhadap agama yang dianutnya.[4]
2. Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat di artikan sebagai salah satu upaya memahami
agama dengan cara melihat wujud praktis keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
Antropologi dalam kaitan ini lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif.
Penelitian antropologi yang induktif, yaitu turun ke lapangan tanpa berpijak pada, atau setidak-tidaknya
dengan upaya pembebasan dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagai
mana yang dilakukan di bidang sosiologis.
Melalui pendekatan antropologis sebagaimana disebut di atas, kita melihat bahwa agama ternyata
berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, maka
jika kita ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka dapat dilakukan dengan cara
mengubah pandangan keagamaanya.
Dengan demikian pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena
dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan ilmu
antropologi dengan cabang cabangnya.[5]
3. Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu tentang kemasyarakatan, ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan
dengan masyarakat.Sosiologi didefinisikan secara luas sebagai bidang penelitian yang tujuannya
meningkatkan pengetahuan melalui pengamatan dasar manusia,dan pola organisasi serta
hukumnya.Sosiologi dapat juga diartikan sebagai suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan
masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.
Selanjutnya sosiologi digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam studi islam yang mencoba untuk
memahami islam dari aspek sosial yang berkembang dimasyarakat, sehingga pendidikan dengan
pendekatan sosiologis dapat diartikan sebagai sebuah studi yang memanfaatkan sosiologi untuk
menjelaskan konsep pendidikan dan memecahkan berbagai problema yang dihadapinya. Pendidikan
menurut pendekatan sosiologi ini dipandang sebagai salah satu konstruksi sosial atau diciptakan oleh
interaksi sosial. Pendekatan sosiologi dalam praktiknya, bukan saja digunakan dalam memahami
masalah-masalah pendidikan, melainkan juga dalam memahami bidang lainnya, seperti agama sehingga
munculah studi tentang sosiologi agama.
4. Pendekatan Fenomenologis
Ada dua hal yang menjadi karakteristik pendekatan fenomenologi. Pertama, bisa dikatakan bahwa
fenomenologi merupakan metode untuk memahami agama orang lain dalam perspektif netralitas, dan
menggunakan preferensi orang yang bersangkutan untuk mencoba melakukan rekonstruksi dalam dan
menurut pengalaman orang lain tersebut. Dengan kata lain semacam tindakan menanggalkan diri sendiri,
dia berusaha menghidupkan pengalaman orang lain, berdiri dan menggunakan pandangan orang lain
tersebut.
Aspek fenomenologi pertama ini sangatlah fundamental dalam studi Islam. Ia merupakan kunci untuk
menghilangkan sikap tidak simpatik, marah dan benci atau pendekatan yang penuh kepentingan dan
fenomenologi telah membuka pintu penetrasi dari pengalaman keberagamaan Islam baik dalam skala
yang lebih luas atau yang lebih baik. Konstribusi terbesar dari fenomenologi adalah adanya norma yang
digunakan dalam studi agama adalah menurut pengalaman dari pemeluk agama itu sendiri. Hal yang
terpenting dari pendekatan fenomenologi agama adalah apa yang dialami oleh pemeluk agama, apa yang
dirasakan, diakatakan dan dikerjakan serta bagaimana pula pengalaman tersebut bermakna baginya.
Kebenaran studi fenomenologi adalah penjelasan tentang makna upacara, ritual, seremonial, doktrin, atau
relasi sosial bagi dan dalam keberagamaan pelaku.
Aspek Kedua dari pendekatan fenomenologi adalah mengkonstruksi rancangan taksonomi untuk
mengklasifikasikan fenomena masyarakat beragama dan berbudaya. Tugas fenomenologis setelah
mengumpulkan data sebanyak mungkin adalah mencari kategori yang akan menampakkan kesamaan bagi
kelompok tersebut. Aktivitas ini pada intinya adalah mencari struktur dalam pengalaman beragama untuk
prinsip-prinsip yang lebih luas yang nampak dalam membentuk keberagamaan manusia secara
menyeluruh.
5. Pendekatan Filosofis
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan
dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen
dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu,
memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu
dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan
logika bahasa.
Dasar Pendekatan Filsafat Islam
Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai
berbagai segi dari kehidupan manusia. Sumber ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu adalah
alquran dan hadis.
Keberadaan filsafat islam menimbulkan pro dan kontra. Sebagian yang berpikiran maju dan bersifat
liberal cenderung mau menerima pemikiran filsafat Islam. Bagi mereka yang berpikiran tradisional
kurang mau menerima filsafat.
Islam menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran filsafat, itulah yang disebut filsafat Islam bukan
karena orang yang melakukan kefilsafatan itu orang muslim, tetapi dari segi obyek membahas mengenai
keislaman.
Hubungan filsafat Islam dengan filsafat modern ,secara khusus terdapat berbagai usaha yang ditujukan
untuk menemukan hubungan antara keduanya,baik sumber maupun pengantar-pengantar filsafat modern.
Batasannya yaitu terdapat pola titik persamaan dalam pandangan dan pemikiran.
6. Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan
memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.
Pendekatan kesejarahan amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam
situasi yang kongkrit bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini
kuntowijaya telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang yang dalam hal ini islam
menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari alquran, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada
dasarnya kandungan alquran itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi konsep-konsep dan
bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan
dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari
konteks historisnya karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang
memahaminya.seseorang yang ingin memahami alquran secara benar misalnya, yang bersangkutan harus
mempelajari sejarah turunya alquran atau kejadian kejadian yang mengiringi turunya alquran yang
selanjutnya disebut sebagai ilmu Asbab an Nuzul (ilmu tentang sebab sebab turunya ayat ayat alquran)
yang pada intinya berisi sejarah turunya ayat alquran. Dengan ilmu asbabun Nuzul ini seseorang akan
dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenan dengan hukum tertentu dan
ditujukan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya.
7. Pendekatan Politis
Secara harfiah, politik dapat diartikan sebagai usaha atau rekayasa yang diatur sedemikian rupa dalam
rangka mencapai tujuan. Dengan pengertian ini politik yang dalam bahasa arabnya dikenal dengan
istilah al-siyasah berlaku pada semua aspek kehidupan seperti pendidikan, keluaraga, ekonomi, budaya,
keagamaan, dan lain sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, politik sering dikaitkan dengan
urusan pemerintahan tersebut, tampaknya yang paling menonjol dibandingkan dengan pengertian politik
lainnya.
Politik yang bersifat demokratis akan mewarnai pelaksanaan pendidikan yang demokratis. Sebaliknya,
politik yang bercorak otoriter totaliter akan mempengaruhi pelaksanaan pendidikan yang bercorak
totaliter dan otoriter pula.
Signifikansi dan implikasi politik dan pengembangan madrasah atau pendidikan islam, pada umumnya,
bagi para penguasa muslim sudah jelas. Madrasah-madrasah tersebut didirikan untuk menunjang
kepentingan-kepentingan politik tertentu dari penguasa muslim, diantaranya untuk menciptakan dan
memperkokoh citra penguasa sebagai orang orang yangmempunyai kesalehan, minat, dan kepedulian
kepada kepentingan umat, dan ini lebih penting lagi sebagai pembeda antara ortodoksi dan lainnya.
Semua ini, menurut Azyumardi Azra, pada gilirannya akan memperkuat legitimasi penguasa berkaitan
dengan rakyat yang mereka pimpin.
8. Pendekatan Psikologis
Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari Yunani, yaitu dari kata psyche yang berarti "jiwa", dan
logos yang berarti ,"ilmu". Jadi, secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari
tentang gejala-gejala kejiwaan.
Secara garis besar, psikologi juga banyak kaitannya dengan agama, menurut Jalalludin dalam bukunya
Psikologi Agama, psikologi agama merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah
laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta
dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing.
Hasil kajian psikologi juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan, seperti bidang
pendidikan, interaksi sosial, perkembangan manusia dan lain sebagainya. Dalam bidang pendidikan di
sini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap
pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat
berfungsi dan berperan sebagai hakikat kejadiannya. Jadi dalam pengertian pendidikan Islam ini tidak
hanya dibatasi oleh institusi atau lapangan pendidikan tertentu, pendidikan Islam diartikan dalam ruang
lingkup yang luas.
Salah satu contohnya pendidikan dalam keluarga, pendidikan pertama pada anak adalah keluarga, dari
keluarga anak belajar banyak hal seperti sopan-santun, belajar mengenal agama sampai pada tolerasi dan
kasih sayang. Karena ibaratnya keluarga merupakan lingkungan kecil yang membentuk suatu karakter
pada diri anak. Oleh sebab itu diharapkan orang tua sebagai pendidik sekaligus modelling bagi anak,
dapat memberikan contoh yang baik, karena pada dasarnya anak belajar dari apa yang dia lihat, apa yang
dia model, hal ini kaitannya dengan psikologi perilaku.
9. Pendekatan Interdisipliner
Pendekatan interdisliner yang dimaksud disini adalah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan
atau sudut pandang (perspektif). Dalam studi misalnya menggunakan pendekatan sosiologis, historis dan
normatif secara bersamaan. Pentingnya penggunaan pendekatan ini semakin disadari keterbatasan dari
hasil-hasil penelitian yang hanya menggunakan satu pendekatan tertentu. Misalnya, dalam mengkaji teks
agama, seperti Al-Quran dan sunnah Nabi tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan tekstual, tetapi
harus dilengkapi dengan pendekatan sosiologis dan historis sekaligus, bahkan masih perlu ditambah
dengan pendekatan yang lainnya.
http://mzwahyu.blogspot.com/2011/12/metodologi-studi-islam.html

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pendekatan Teologis
Pendekatan teologis sering disebut juga sebagai perpektif timur,Pendekatan teologis berarti pendekatan
kewahyuan atau pendekatan keyakinan peneliti itu sendiri.dimana agama tidak lain merupakan hak
prerogatif tuhan sendiri.realitas sejati dari agama adalah sebagaimana yang dikatakan oleh masing-masing
agama.[1]pendekatan seperti ini biasanya dilakukan dalam penelitian suatu agama untuk kepentingan
agama yang diyakini peneliti tersebut untuk menambah pembenaran keyakinan terhadap agama yang
dipeluknya itu.
Yang termasuk kedalam penelitian teologis ini adalah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh ulama-
ulama,pendeta,rahib terhadap suatu subjek masalah dalam agama yang menjadi tanggung jawab
mereka,baik disebabkan oleh adanya pertanyaan dari jamaah maupun dalam rangka penguatan dan
mencari landasan yang akurat bagi suatu mazhab yang sudah ada.
Pendekatan teologis memahami agama secara harfiah atau pemahaman yang menggunakan kerangka ilmu
ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap
sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.[2]
Amin Abdullah dalam bukunya metodologi study islammengatakan, bahwa teologi, sebagaimana kita
ketahui, tidak bisa tidak, pasti mengacu kepada agama tertentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri,
komitmen, dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subjektif, yakni bahasa sebagai
pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran-teologis.
Pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk
forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan
tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainnya sebagai salah. Aliran teologi
yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan paham lainnya salah,
sehingga memandang paham orang lain itu keliru, sesat,kafir, murtad dan seterusnya. Demikian pula paham
yang dituduh keliru,sesat, dan kafir itu pun menuduh kepada lawannya sebagai yang sesat dan kafir. Dalam
keadaan demikian, maka terjadilah proses saling meng-kafir-kafirkan, salah menyalahkan dan seterusnya.
Dengan demikian, antara satu aliran dan aliran lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai. Yang ada
hanyalah 1ketertutupan (eksklusifisme), sehingga yang terjadi adalah pemisahan dan terkotak-kotak.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwapendekatan teologi semata-mata tidak dapat
memecahkanmasalah esensial pluralitas agama saat sekarang ini. Terlebih-lebih lagi kenyataan demikian
harus ditambahkan bahwa doktrin teologi, pada dasarnya memang tidak pernah berdiri sendiri, terlepas
dari jaringan institusi atau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung
keberadaannya. Kepentingan ekonomi, sosial, politik, pertahanan selalu menyertai pemikiranteologis yang
sudah mengelompok dan mengkristal dalam satu komunitas masyarakat tertentu. Bercampur aduknya
doktrin teologi dengan historisitas institusi sosial kemasyarakatan yang menyertai dan mendukungnya
menambah peliknya persoalan yang dihadapi umat beragama.[3]
Uraian di atas bukan berarti kita tidak memerlukan pendekatan teologi dalam memahami agama, karena tanpa
adanya pendekatan teologis, keagamaan seseorang akan mudah cair dan tidak jelas
identitas dan pelembagaannya.Proses pelembagaan perilaku keagamaan melalui mazhab-mazhab sebagai-
mana halnya yang terclapat dalam teologi jelas diperlukan. Antara lain berfungsi untuk mengawetkan ajaran
agama dan juga berfungsi sebagai pembentukan karakter pemeluknya dalam rangka membangun masyarakat
ideal menurut pesan dasar agama. Tetapi, ketika tradisi agama secara sosiologis mengalami reifikasi atau
pengentalan, maka bisa jadi spirit agama yang paling "hanif' lalu terkubur oleh simbol-simbol yang
diciptakan dan dibakukan oleh para pemeluk agama itu sendiri. Pada taraf ini sangat mungkin orang lalu
tergelincir menganut dan meyakini agama yang mereka buat sendiri, bukan lagi agama yang asli, meskipun
yang bersangkutan tidak menyadari.
Sikap eksklusifisme (ketertutupan) teologis dalam memandang perbedaan dan pluralitas agama sebagaimana
tersebut di atas tidak saja merugikan bagi agama lain,tetapi juga merugikan diri sendiri karena sikap
semacam itu sesungguhnya mempersempit masuknya kebenaran-kebenaran baru yang bisa membuat hidup
ini lebih lapang dan lebih kaya dengan nuansa
2. Pendekatan Antropologis
yaitu pendekatan kebudayaan; artinya, Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan
sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik dan sistemkeagamaan yang
tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sebagai suatu sistem ide,wujud ataupun nilai dan norma yang
dimiliki oleh anggota masyarakat yang mengikat seluruh anggota masyarakat.[4]
Sistem budaya agama itu memberikan pola kepada seluruh tingkah laku anggota masyarakat, dan
melahirkan hasil karya keagamaan yang berupa karya fisik, dari bangunan tempat ibadah seperti mesjid,
gereja, Pura & klenteng,sampai pada upacara yang sangat sederhana seperti tasbih.
Contoh Pendekatan Antropologis telah dilakukan diantaranya oleh EB.Taylor. Tylor mengadakan penelitian
pada bangsa-bangsa primitif. ia meneliti suku bangsa yang palingsederhana di Afrika dan Asia.salah satunya
suku Asmat.berdasarkan penelitiannya, ternyata suku bangsa yang paling
sederhana (primitif) mempercayai roh animisme. Menurutnya,tahap awal agama adalah kepercayaan
animisme;kepercayaan bahwa alam semesta ini mempunyai jiwa. Bentuk sekecil apa pun dari
benda bagian alam semesta mempunyai roh yangmenggerakkan dan yang membuat ia hidup.
Kepercayaan ini fundamental dan universal.artinya, bisa berada di semua bangsa dan masyarakat serta
bisa

menerangkan pemujaan terhadap orang mati, pemujaan terhadap leluhur atau nenek moyang, juga
menjelaskan asal mula para dewa. Dalam tahap berikutnya, animisme
berkembang menjadi

pemujaanterhadap dewa-dewa (politeisme), dan dalam perkernbanganselanjutnya,
kemudian berkembang lagi menjadi pemujaanterhadap Tuhan Yang Esa (monoteisme).[5]
Dengan demikian,pendekatan antropologis sangatdibutuhkan dalam memahami ajaran agama serta menjelaskan
hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia,karena dalam ajaran agama tersebut terdapat
uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan antropologi.
3. Pendekatan Normatif
Pendekatan normatif erat kaitannya dengan pendekatan teologis.pendekatan normatif yaitu suatu
pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannyayang pokok dan asli dari Tuhan yang di dalamnya
belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis ini agama dilihat sebagai suatu
kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikit pun dan tampak bersikap ideal. Dalam kaitan
ini agama tampil sangat prima dengan seperangkat cirinya yang khas. Untuk agama Islam misalnya, secara
normative pasti benar, menjunjung nilai-nilai luhur. Untuk bidang social, agama tampilmenawarkan nilai-
nilai kemanusiaan, kebersamaan, kesetiakawanan, tolong menolong, tenggang rasa, persamaan derajat dan
sebagainya. Untuk bidang ekonomi agama tampil menawarkan keadilan, kebersamaan, kejujuran,
dan saling menguntungkan. Untuk bidang ilmu pengetahuan, agama tampil mendorong pemeluknya agar
memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang setinggi-tingginya, menguasai keterampilan, keahlian dan
sebagainya. Demikian pula untuk bidang kesehatan, lingkungan hidup, kebudayaan, politik dan sebagainya
agama tampil sangat ideal dan yang dibangun berdasarkan dalildalil yang terdapat dalam ajaran agama
yang bersangkutan.[6]
http://putracotkala.blogspot.com/2011/02/pendekatan-teologinormatif-dan.html

Barbagai Pendekatan di dalam memahami Agama
Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif didalam memecahkan
berbagai masalah yang dihadapi manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan
atau berhenti sekedar disampaikan dalam khotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara
yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntunan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini
banyak menggunakan pendekatan teologis normative dilengkapi dengan pemahaman agama yang
menggunakan pendekatan lain, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap
masalah yang timbul.
Berkenaan dengan pemikiran diatas, maka pada bab ini pembaca akan di ajak untuk mengkaji berbagai
pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami agama. Hal demikian perlu dilakukan, karena
melalui pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya.
Sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan tersebut, tidak mustahil agama menjadi sulit difahami
oleh masyarakat, tidaj fungsional, dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan masalah kepada agama
lain, dan hal ini tidak boleh terjadi.
Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan toelogis normative antropologis, sosiologis,
psikologis, historis, kebudayaan, dan pendekatan filosofis. Adapaun yang dimaksud dengan pendekatan
disini adalah cara pandang atau paradigm yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya
digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, jalaluddin rahmat mengatakan bahwa agama
dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigm. Reailitas keagamaan yang diungkapkan
mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Karena itu, tidak ada persoalan
apakah penelitian agama itu penelitian ilmu sosial, penelitian legalistic atau penelitian filosofis.
Untuk lebih jelasnya berbagai pendekatan tersebut dapat dikamukakan sebagai berikut:
A. Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologi normative dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya
memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan
bahwa wujud empiric dari suatu kegamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan
yang lainnya. Amin Abdullah mengatakan, bahwa teologi, sebagai mana kita ketahui, tidak bisa tidak
pasti mengacu pada agama tetentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen, dan dedikasi yang
tinngi dan penggunaan bahasa yang bersifat subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai
pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teoligis.
Dalam islam sendiri, secara tredisional, dapat dijumpai teologi mutazilah, teologi asyariyah, dan
Maturidiyah. Dan sebelumnya terdapat pula teologi yang bernama Khawarij dan Murjiah. Menurut
pengamatan Sayyed Hosein Nasr, dalam era kotemporer ini ada 4 prototipe pemikiran keagamaan islam,
yaitu pemikiran keagamaan fundamentalis, modernis mesianis, dan tradisionalis. Keempat prototype
pemikiran tersebut sudah barang tentu tidak mudah disatukan dengan begitu saja. Masing-masing
mempunyai keyakinan teologi yang seringkali sulit unutk didamaikan.
Dari pemikiran tersebut, dapat diketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah
pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing
bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar
sedangkan yang lainnya sebagai salah.
Dari uraian tersebut terlihat bahwa pendektan teologis dalam memahami agama menggunakan cara
berfikir deduktif, yaitu cara berfikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya,
karena ajaran yang berasal dari tuhan, sudah pasti benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan lebih dahulu
melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi.
Pendekatan teologis ini selanjutnya erat kaitanya dengan pendekatan normative, yaitu pendekatan yang
memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan yang asli dari tuhan yang didalamnya belum
terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis ini agama dilihat sebagai suatu
kebenaran mutlak dari tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan tampak bersikap ideal.
B. Pendekatan Atropologis
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan bagai slah satu upaya memahami
agama dengan cara melihat wujud praktis keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh
manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Antropologi dalam kaitan ini
bagaimana dikatakan oleh Dawan Rahadjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya
partisipatif.
Melalui pendekatan sntrolpologis sebagaimana tersebut diatas terlihat dengan jelas hubungan agama
dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula agama terlihat akrab dan fungsional
dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.
Pendekatan antropologis seperti itu di perlukan adanya, sebab banyak berbagai hal yang dibicarakan
agama hanya bisa dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis.
C. Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara
manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama,
cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula
kepercayaannya, keyakinan yang member sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam setiap
persekutuan hidup manusia.
Dari beberapa peryataan diatas terlihat bahwa sosiologi adalah Ilmu yang menggambarkan tentang
keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang paling
berkaitan. Dengan ilmu ini fenomena sosila dapat dianalisis dengan faktor-faktor yang mendorong
terjadinya hubungan, mobilitas sosial serta keyakinan-keyakinan yang mendasari terjadinya proses
tersebut.
Selanjutnya, sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal
demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara
proporsial dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam agama islam dapat
dijumpai peristiwa nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa jadi penguasa di Mesir. Mengapa
dengan melaksanakan tugasnya nabi Musa harus dibantu oleh Nabi Harun, dan masih banyak lagi contoh
yang lain. Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus dapat ditemukan hikmahnya
dengan bantuan ilmu sosial. Tanpa ilmu sosial peristiwa-peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan sulit pula
dipahami maksudnya. Di sinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran
agama.
Dalam bukunya berjudul Islam Alternatif, Jalaluddin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya
perhatian agama yang dalam hal ini Islam terhadap masalah sosial dengan mengajukan lima alas an
sebagai berikut:
Pertama, dalam al_quran atau kitab-kitab hadits, proporsi terbesar kedua sumber hukum Islam itu
berkenaan dengan urusan muamalah.
Kedua, bahwa ditekankannya masalah muamalah (sosial) dalam Islam ialahn adanya kenyataan bahwa
bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh
diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan), melainkan dengan tetap dukerjakan
sebagaimana mestinya.
Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar dari pada
ibadah yang bersifat perorangan.
Keempat, dalam Islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena
melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan
dengan masalah sosial.
Kelima, dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran
lebih besar dari pada ibadah sunnah.
D. Pendekatan Filosofis
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah.
Selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta
berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat atau
hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik objek formanya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar,
asas, dan inti yang terdapat dibalik yang bersifat lahiriyah.
Berfikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan
maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama.
Pendekatan filosofis yang demikian itu sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Kita misalnya
membaca buku berjudul Hikmah Al-Tasyri wa Falsafatuhu yang ditulis oleh Muhammad Al-Jurjawi.
Dalam buku tersebut AL-Jurjawi berupaya mengungkapkan hikmah yang terdapat dibalik ajaran-ajaran
agama Islam.
Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengamalan agama yang bersifat
formalistic, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong
tanpa arti. Yang mereka dapatkan dari pengamalan agama tersebut hanyalah pengakuan formalistic.
Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya
E. PENDEKATAN HISTORIS
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan
memperhatikan unsur tempat, waktu obyek, latar belakang dan prilaku dan peristiwa tersebut. Menurut
ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya,
siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun
dalam situasi yang konkrit bahkan berkaitan dengan sosial kemasyarakatan.
Melalui pendekatan ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan
penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks
historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang-orang yang memahaminya.
Seseorang yang ingin memahami alquran secara benar misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari
sejarah turunnya alQuran atau sejarah-sejarah yang mengiringi turunnya alQuran yang selanjutnya
disebut sebagai ilmu asbabul nuzul yang pada intinya berisi sejarah turunnya ayat alQuran. Dengan ilmu
Asbabul nuzul ini seseoarang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang
berkenaan dengan hukum tertentu dan ditujukan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya.
F. PENDEKATAN KEBUDAYAAN
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, kebudayaan di artikan sebagai hasil kegiaytan dan penciptaan
bathin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat; dan berarti pula kegiatan (usaha)
batin (akal dan sebagainya) untuk menciptakan sesuatu termasuk hasul kebudayaan.
Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan kmengerahkan
segenap potensi bathin yang dimilikinya.
Kebuadayaan yang demikian selanjutnya dapat dipergunakan untuk memahami agama yang terdapat pada
tataran empiris atau agama yang tampil dalam bentuk foramal yang menggejala di amsayarakat. Pengalam
agama yang ada di masyarakat tersebut diproses oleh penganutnya dari sumber agama, yaitu wahyu
melalui penalaran. Kita misalnya membaca kitab fiqih, maka fiqih yang merupakan pelaksana dari nash
al-Quran maupun hadits sudah melibatkan unsur penalaran dan kemampuan unsur manusia. Dengan
demikian, agama menjadi kebudayaan atau membumi di tengah-tengah masyarakat.
G. PENDEKATAN PSIKOLOGI
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat
diamatinya. Menurut Zakiyah Darajat perilaku seseorang yang tampak lahiriyah terjadi karena
dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya.
Dalam ajaran agama banyak kita jumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap bathin seseorang.
Misalnya sikap beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt., sebagai orang yang shaleh, orang yang berbuat
baik, orang yang shadiq (jujur), dan sebagainya. Semua itu adalah gejala-gejala kejiwaan yang berkaitan
dengan agama.
Dalam ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan
diamalkan seseorang juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama kedalam jiwa
seseorang sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan ilmu ini agama akan menemukan cara yang tepat dan
cocok untuk menanamkannya.
Dari uraian tersebutkita melihat ternyata agama dapat dipahami melalui berbagai pendekatan. Dengan
pendekatan itu semua orang akan sampai pada agama. Seseorang teolog, sosiolog, antropolog, sejarawan,
ahli ilmu jiwa, dan budayawan akan sampai pada pemahaman agama yang benar. Di sini kit melihat
bahwa agama bukan hanya monopoli kalangan teolog dan normative belaka, melainkan agama dapat
dipahami semua orang sesuai dengan pendekatan dan kesanggupan yang dimilikinya. Dari keadaan
demikian seseorang akan memiliki kepuasan dari agama karena seluruh persoalan hidupnya mendapat
bimbingan dari agama.
http://solafussholeh.blogspot.com/2013/03/barbagai-pendekatan-di-dalam-memahami.html

BAB II
PEMBAHASAN
A. Penelitian Agama dan Penelitian Keagamaan
Penelitian agama (research on religion) lebih ditekankan pada aspek pemikiran (thought) dan interaksi
sosial. Pada aspek pemikiran, menggunakan metode filsafat dan ilmu-ilmu chomaniora. Sedangkan pada
aspek interaksi sosial, yakni penelitian keagamaan sebagai produk interaksi sosial, menggunakan
pendekatan sosiologi, antropologi, historia atau sejarah sosial yang biasa berlaku dan sebagainya.
Misalnya : penelitian tentang perilaku jamaah haji di daerah tertentu, hubungan ulama dengan keluarga
berencana, penelitian tentang perilaku ekonomi dalam masyarakat muslim.
Dalam pandangan Middleton : Penelitian agama Islam adalah penelitian yang objeknya adalah substansi
agama Islam, seperti kalam, fikih, akhlak, dan tasawuf. Sedangkan dala pandangan Juhaya S. Praja :
Penelitian agama adalah penelitian tentang asal usul agama, dan pemikiran serta pemahaman penganut
ajaran agama tersebut terhadap ajaran yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian ada dua hal bidang penelitian agama :
1. Penelitian tentang sumber ajaran agama yang telah melahirkan disiplin ilmu tafsir dan ilmu hadits.
2. Pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran yang terkandung dalam sumber ajaran agama itu, yakni
ushul fiqh yang merupakan metodologi ilmu islam.
Sedangkan penelitian keagamaan (Religion research) lebih mengutamakan pada agama sebagai system
atau system keagamaan. Penelitian agama yang sasarannya adalah agama sebagai gejala social, maka
digunakan metodologi penelitian social. Sedangkan penelitian keagamaan yang objeknya adalah agama
sebagai produksi interaksi social yakni tindakan dan sikap manusia. Miaslnya : Interaksi ulama dan
umara dalam kehidupan politik.
Dengan demikian penelitian keagamaan adalah penelitian tentang praktek-praktek agama yang dilakukan
oleh manusia secara individual dan kolektif. Dalam penelitian keagamaan terdapat 3 bidang penelitian :
1. Perilaku individu dan hubungannya dengan masyarakatnya yang didasarkan atas agama yang
dianutnya.
2. Perilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik perilaku politik, budaya maupun yang lainnya yang
mendefinisikan dirinya sebagai penganut suatu agama.
3. Ajaran agama yang membentuk pranata sosial, corak perilaku, dan budaya masyarakat beragama.
Penelitian (research) adalah upaya sisitematis dan objektif untuk mempelajari suatu masalah dan
menemukan prinsip-prinsip umum. Selain itu, penelitian juga berarti juga upaya pengumpulan informasi
yang bertujuan untuk menambah pengetahuan. Pengetahuan manusia tumbuh dan berkembang
berdasarkan kajian-kajian sehingga terdapat penemuan-penemuan, sehingga ia siap merevisi
pengetahuan-pengetahuan masa lalu mellui penemuan-penemuan baru.
Penelitian dipandang sebagai kegiatan ilmiah karena menggunakan metode keilmuan, yakni gabungan
antara pendekatan rasional memberikan kerangka pemikiran yang koheren dan logis. Sedangkan
pendekatan empiris merupakan kerangka pengujian dalam memastikan kebenaran. Metode ilmiah adalah
usaha untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan kesangsian sisitematis. Metode
ilmiah dalam penelitian telah dijelaskan oleh Moh. Nasir.
Criteria metode ilmiah, sebagaimana dijelaskan Moh. Nazir, adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan fakta
2. Berdasarkan dari prasangka
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisis
4. Menggunakan hipotesis
5. Menggunakan ukuran objektif
6. Menggunakan teknik kuantitatif
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam metode ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Memilih dan mendefinisikan masalah
2. Survey terhadap data yang tersedia
3. Memformulasikan hipotesis
4. Membangun kerangka analisis serta alat-alat dalam menguji hipoteis
5. Mengumpulkandata primer
6. Mengelola, menganalisis, dan membuat interpretasi
7. Membuat generalisasi atau kesimpulan
8. Membuat laporan.
Agama sebagai objek penelitian sudah lama diperdebatkan. Harun Nasution menunjukkan pendepat yang
menyatakan bahwa agama, karena merupakan wahyu, tidak dapat menjadi sasaran penelitian ilmu social,
dan kalaupun dapat dilakukan, harus menggunakan metode khusus yang berbeda dengan metode ilmu
social.
Namun, para ilmuan beranggapan bahwa agama merupakan objek kajian atau penelitian, karena agama
merupakan bagian dari kehidupan social cultural. Jadi, penelitian agama bukanlah meneliti hakikat agama
dalam arti wahyu, melainkan meneliti manusia yang menghayati, meyakini, dan memperoleh pengaruh
dari agama. Dengan kata lain, penelitian agama bukan meneliti kebenaran teologi atau filosofi tetapi
bagaimana agama itu ada dalam kebudayaan dan system social berdasarkan fakta atau realitas sosio-
kultural. Jadi, kata Ahmad Syafii Mufid, kita tidak mempertentangkan antara penelitian agama dengan
penelitian social terhadap agama. Dengan demikian, kedudukan penelitian agama adalah sejajar dengan
penelitian-penelitian lain; yang membedakannya hanyalah objek kajian yang ditelitinya.
M. Atho Mudzhar mengetakan bahwa perbedaan antara penelitian agama dengan penelitian keagamaan
perlu disadari karena perbedaan tersebut membedakan jenis metode penelitian yang diperlukan. Untuk
penelitian agama sebagai doktrin, pintu bagi pengembangan suatu metodologi penelitian tersendiri sudah
terbuka, bahkan sudah ada yang pernah merintisnya. Adanya ilmu ushul al-fiiqh sebagai metode untuk
istinbath hukum dalam agama islam dan ilmu mushthalah al-hadits sebagai metode untuk menilai akurasi
sabda Nabi Muhammad SAW merupakan bukti bahwa keinginan untuk mengembangkan metdologi
penelitian tersendiri bagi bidang pengetahuan agama ini pernah muncul.
Untuk penelitian keagamaan yang sasarannya agama sebagai gejala social, kita tidak perlu membuat
metodologi penelitian tersendiri.
B. Model-Model Penelitian Keagamaan
Adapun model penelitian yang ditampilkan di sini disesuaikan dengan perbedaan antara penelitian agama
dan penelitian hidup keagamaan. Djamari, dosen Pascasarjana IKIP Bandung, menjelaskan bahwa kajian
sosiologi agama menggunakan metode ilmiah. Pengumpulan data dan metode yang digunakan antara lain:
Analisis sejarah
Dalam hal ini, sejarah hanya sebagai metode analisis atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat
menyajikan gambaran tentang unsure-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Pendekatan
sejarah bertjuan untuk menemukan inti karakter agama dengan meneliti sumber kliasik sebelum
dicampuri yang lain.
Analisis lintas budaya
Dengan membandingkan pola-pola social keagamaan dibeberapa daerah kebudayaan, sosiologi dapat
memperoleh gambaran tentang korelasi unsure budaya tertentu atau kondisi sosiokultural secra umum.
Eksperimen
Eksperimen dapat dilakukan dalam penelitian agama, misalnya untuk mengevakuasi perbedaan hasil
belajar dari beberapa model pendidikan agama.
Observasi partisipatif
Dengan partisipasi dalam kelompok, penelitian dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks
religius. Orang yang diobservasi boleh mengetahui bahwa dirinya sedang diobservasi atau secara diam-
diam.
Riset survey dan analisis statistic
Penelitian survey dilakukan dengan penyusunan kuesioner, interview dengan sample dari suatu populasi.
Sample dapat berupa organisasi keagamaan atau penduduk suatu kota atau desa. Prosedur penelitian ini
dinilai sangat berguna untuk memperlihatkan korelasi dari karakteristik keagamaan tertentu dengan sikap
social atau atribut keagamaan tertentu.
Analisis isi
Dengan metode ini, peneliti mencoba mencari keterangan dari teme-tema agama, baik berupa tulisan,
buku-buku khotbah, doktrin maupun deklarasi teks, danyang lainnya.
Selain itu model-model penelitian agama juga terbagi beberapa macam yaitu :
1. Model Penelitian Tafsir
Yaitu suatu contoh, ragam, acuan atau macam dari penelitian secara seksama terhadap penafsiran Al-
Quran yang pernah dilakukan generasi terdahulu untuk diketahui secara pasti tentang berbagai hal yang
terkait dengannya.
objek pembahsasan tafsir adalah Al-Quran yang merupakan sumber-sumber ajaran Islam. Pemahaman
terhadap ayat-ayat Al-Quran melalui penafsiran-penafsirannya, mempunyai peranan sangat besar bagi
maju mundurnya umat.
Sekaligus penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka, misalnya :
a. Model Quraish Shihab
Model penelitian tafsir yang dikembangkan beliau lebih banyak bersifat ekploratif, deskriptif, analitis,
dan perbandingan. Yaitu model penelitian yang berupaya menggali sejauh mungkin produk tafsir yang
dilakukan ulama-ulama tafsir terdahulu berdasarkan berbagai literature tafsir baik yang bersifat primer
(ditulis ulama tafsir yang bersangkutan) maupun ulaa lainnya.
Menurut beliau corak-corak penafsiran yang dikenal selama ini diantara lain :
1) Corak sastra bahasa, yang timbul akibat kelemahan-kelemahan orang Arab sendiri di bidang sastra,
sehingga dirasakan kebutuhan untuk menjelaskan kepada mereka tentang keistemewaan kedalaman arti
kandungan Al-Quran di bidang ini.
2) Corak filsafat dan teologi, akibat penerjamahan kitab filsafat yang mempengaruhi sementara pihak,
serta akibat masuknya penganut agama-agama lain ke dalam Islam yang denga sadar atau tidak masih
mempercayai beberapa hal dari kepercayaan lama mereka.
3) Corak penafsiran ilmiah, akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan usaha penfsiran untuk memahami
ayat-ayat Al-Quran sejalan dengan perkembangan ilmu.
4) Corak penafsiran fiqh dan hukum, akibat perkembangan ilmu fikih dan terbentuknya mazhab fikih
yang setiap golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran-penafsiran
mereka terhadap ayat-ayat hukum.
5) Corak tasawuf, akibat timbulnya gerakan-gerakan sufi sebagai reaksi terhadap kecenderungan
berbagai pihak terhadap materi, sebagai konpensasi terhadap kelemahan yang dirasakan.
6) Corak sastra budaya kemasyarakatan, bermula pada Syaikh Muh. Abduh, yaitu satu corak tafsir
yang menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat Al-Quran yang berkaitan langsung dengan kehidupan
masyarakat, serta usaha-usaha yang menanggulangi penyakit masyarakat berdasarkan pertunjuk-petunjuk
ayat, serta bahasa yang dimengerti dan indah didengar.
2. Model Penelitian Hadits
Sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Quran, hadist juga telah menjadi bahasan kajian
menarik, dan tiada henti-hentinya. Para ahli sudah banyak melakukan penelitian terhadap hadits, baik dari
segi keotentikan kandungannya maknanya, maupun fungsinya dalam mejelaskan kandungan Al-Quran.
Bagi kalangan akademis, adanya berbagai hasil penelitian, hadits telah membuka peluang untuk
diwujudkannya suatu displin kajian Islam yaitu studi bidang hadits.
Penelitian yang bisa dilakukan adalah :
1. Bersifat deskriptif analitis. Dala penelitian ini, maka bahan-bahan penelitian dikaji adalah berupa
bahan kepustakaan yang ditulis pakar hadits, ditambah dengan bahan-bahan penunjang.
2. Bersifat eksploratif dengan pendekatan historis, dan disajikan secara deskriptif analitis. Yakni dalam
system penyajiannya menggunakan pendekatan kronologis waktu dala sejarah. Bahan-bahan penelitian
diperoleh dari berbagai literature hadits sepanjang perjalanan kurun waktu.
3. Bersifat ekploratif dengan pendekatan fiqh. Yakni membahas, mengkaji dan menyelami sedalam-
dalamnya berbagai persoalan actual yang muncul di masyarakat. Kemudian status hukumnya berpijak
kepada konteks hadits tersebut.
4. Metode tematik. Masing-masing hadits dikelompokkan, misalnya tentang hadits politik, wanita, dan
sebagainya
5. Penelitian isnad dan sanad. Mengambil beberapa hadits yang berkenaan dengan suatu topic,
kemudian diteliti tentang sanad tersebut. Kemudian baru sisimpulkan status hadits tersebut.
3. Model Penelitian Fiqh/Hukum Islam
Keberadaan fiqh/hukum Islam memang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Karena
manusia memerlukan ketetapan hukum yang dapat memandu dan membimbing perjalanan umat manusia.
Untuk melihat apakah produk hukum Islam masih sejalan dengan tuntutan zaman dan bagaimana hukum
Islam itu dikembangkan dalam rangka merespon dan menjawab secara konkret berbagai masalah yang
muncul di masyrakat, maka perlu adanya penelitian.
Objek penelitian fiqh Islam :
1. Kitab-kitab fiqh
2. Keputusan-keputusan peradilan agama
3. Perundang-undangan
4. Kompilasi hukum Islam
5. Fatwa
Penelitian hukum Islam dapat dilakukan dengan penelitian ekploratif, deskriptif dengan menggunakan
pendekatan hisotris. Bisa pula dengan penelitian uji teori atau uji asumsi (hipotesa),
1. Apakah pakai ushul fiqh
2. Ada tidaknya pengaruh social-politik
3. Mengapa MUI inkonsisten
Selain itu juga diperkenalkan metode baru dalam penelitian yaitu dengan menggunakan pendekatan
social/hukum social. Yang dengan itu muncul sosiologi hukum Islam. Dengan demikian sama sekali tidak
mengganggu kesucian dan kesakralan Al-Quran yang menjadi sumber hukum Islam. Sebab yang
dipersoalkan bukan mempertanyakan releva dan tidaknya Al-Quran. Tetapi yang dipersoalkan adalah
hasil pemahaman terhadap ayat-ayat ahkam itu masih dengan tuntunan zaman atau tidak.
4. Model Peneletian Filsafat Islam
Filsafat Islam sebagai suatu disiplin ilmu dapat diketahui melalui 5 ciri ,yaitu :
1. Dilihat dari segi sifat dan coraknya
Filsafat Islam bersumber pada Al-Quran dan Al-Hadits, karena itu berbeda dengan filsafat Yunani dan
filasafat Barat.
2. Dilihat dari segi ruang lingkup pembhasannya
Filsafat Islam mencakup bidang kosmologi (fisika atau alam raya), metafisika (ketuhanan),kehidupan
dunia dan akhirat, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.
3. Dilihat dari segi datangnya.
Filsafat Islam sejalan dengan perkembangan ajaran Islam, hal ini manakala ajaran Isla memerlukan
penjelasan secara rasional dan filosofis.
4. Dilihat dari segi yang mengembangkannya.
Filsafat Islam dikembangkan oleh orang-orang Islam itu sendiri terutama berkaitan materi pemikiran
filsafat, bukan kajian sejarah filsafat.
Filsafat sebagai suatu disiplin ilmu dengan ilmu keislaman dapat diteliti dengan berbagai metode dan
pendekatan pada umumnya penelitian yang dilakukan bersifat penelitian kepustakaan , yaitu penelitian
yang menggunakan bahan-bahan bacaan sebagai sumber rujukannya.
Pendekatan yang sering digunakan adalah :
a. Pendekatan historis
Meneliti latar belakang munculnya pemikiran filsafat dalam Islam. Meneliti tentang sejarah timbulnya
pemikiran filsafat Islam yang dimulai kontak pertama Islam dengan Yunani.
b. Pendekatan substansi
Berusaha mengemukakan berbagai pemikiran filsafat yang dihasilkan dari berbagai tokoh tersebut.
c. Pendekatan komparatif studi..
Berusaha mengemukakan latar belakang pemikiran yang menyebabkan mengapa kedua tokoh tersebut
mengemukakan pendapatnya seperti itu.
d. Pendekatan tokoh.
Berusaha mengemukakan hasil pemikiran filsafat Islami dari tokoh yang diteliti.
e. Pendekatan kawasan.
Berusaha mengelompokkan para filosof ke dalam kelompok Timur dan Barat. Membagi tokoh-tokoh
filosof menurut tempat tinggal mereka.
f. Pendekatan campuran.
Menurut Amin Abdullah, bahwa selama ini, sebagian penelitian filsafat Islam yang dilakukan para ahli
berkisar pada masalah sejarah filsafat Islam bukan materi filsafat Islam. Oleh karena itu sulit diharapkan
dapat melahirkan para filosof baru.
http://muhammadnurhadi.wordpress.com/2011/05/30/makalah-pendekatan-di-dalam-memahami-
agama/

PENGANTAR STUDI ISLAM
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Studi Islam
Istilah Studi Islam dalam bahasa Inggris adalah Islamic Studies, dan dalam bahasa Arab adalah Dirasat
al-Islamiyah. Ditinjau dari sisi pengertian, Studi Islam secra sederhana dimaknai sebagai kajian islam.
Pengrtian Studi Islam sebagai kajian islam sesungguhnya memiliki cakupan makna dan penertian yang
luas.Hal ini wajar adanya sebab sebuah istilah akan memiliki makna tergantung kepada mereka yang
menafsirkannya.Karena penafsir memiliki latar belakang yang berbeda satu sama lainnya, baik latar
belakang studi, bidang keilmuan, pengalaman, maupun berbagai perbedaan lainnya, maka rumusan dan
pemaknaan yang dihasilkannyapun juga akan berbeda.
Selain itu, kata Studi Islam sendiri merupakan gabungan dari dua kata, yaitu kata Studi dan kata Islam.
Kata studi memiliki berbagai pengertian.Rumusan Lester Crow dan Alice Crow menyebutkan bahwa
Studi adalah kegiatan yang secara sengaja diusahakan dengan maksud untuk memperoleh keterangan,
mencapai pemahaman yang lebih besar, atau meningkatkan suatu ketrampilan.
Sementara kata Islam sendiri memiliki arti dan makna yang jauh lebih kompleks. Kata Islam berasal dari
kata Aslama yang bararti patuh dan berserah diri. Kata ini berakar pada kata silm yang berarti selamat,
sejahtera, dan damai.
Adapun pengertian Islam secara terminologis sebagaimana yang dirumuskan para ahli ulama dan
cendikiawan bersifat sangat beragam tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Salah satu rumusan
definisi Islam adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada nabi Muhammad Saw.[1]
Sedangkan Studi Islam dibarat dikenal dengan istilah Islamic Studies,secara sederhana dapat dikatakan
sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. Usaha mempelajari
agama Islam tersebut dalam kenyataannya bukan hanya dilaksanakan oleh kalangan umat islam saja,
melainkan juga dilaksanakan oleh orang-orang diluar kalangan umat islam.[2]
Studi keislaman dikalangn umat islam sendirinya tentunya sangat berbeda tujuan dan motivasinya dengan
yang dilakukan oleh orang-orang diluar kalangan umat islam. Dikalangan umat islam, studi keislaman
bertujuan untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran islam agar mereka dapat
melaksanakan dan mengamalkannya dengan benar. Sedangkan diluar kalangna umat islam, studi
keislaman bertujuan untuk mempelajari seluk-beluk agama dan praktik-praktik agama yang berlaku
dikalangan umat islam, yang semata-mata sebagai ilmu pengetahuan. Namun sebagaimana halnya dengan
ilmu-ilmu pengetahuan tentang seluk-beluk agama dan praktik-praktik keagamaan islam tersebut bias
dimanfaatkan atau digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu, baik yang bersifat positif maupun negative.
B. Ruang lingkup Studi Islam
Menurut Muhammad Nur Hakim, tidak semua aspek agama khususnya islam dapat menjadi obyek studi.
Dalam konteks Studi Islam, ada beberapa aspek tertentu dari islam yang dapat menjadi obyek studi, yaitu:
1. Islam sebagai doktrin dari tuhan yang kebenarannnya bagi pemeluknya sudah final, dalam arti
absolut, dan diterima secara apa adanya.
2. Sebagai gejala budaya yang berarti seluruh apa yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya
dengan agama, termasuk pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.
3. Sebagai interaksi sosial yaitu realitas umat islam.
Sementara menurut Muhammmad Amin Abdullah terdapat tiga wilayah keilmuan agama islam yang
dapat menjadi obyek studi islam:
1. Wilayah praktek keyakianan dan pemahaman terhadap wahyu yang telah diinterpretasikan
sedemikian rupa oleh para ulama, tokoh panutan masyarakat pada umumnya. Wilayah praktek ini
umumnya tanpa melalui klarifikasi dan penjernihan teoritik keilmuan yang di pentingkan disisni adalah
pengalaman.
2. Wilayah tori-teori keilmuan yang dirancang dan disusun sistematika dan metodologinya oleh para
ilmuan, para ahli, dan para ulama sesuai bidang kajiannya masing-masing. Apa yang ada pada wilayah ini
sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah teori-teori keilmuan agama islam, baik secara deduktif
dari nash-nash atau teks-teks wahyu , maupun secara induktif dari praktek-praktek keagamaan yang hidup
dalam masyarakat era kenabian, sahabat, tabiin maupun sepanjang sejarah perkembangan masyarakat
muslim dimanapun mereka berada.
3. Telaah teritis yang lebih popular disebut metadiscourse, terhadap sejarah perkembangan jatuh
bangunnya teori-teori yang disusunoleh kalangan ilmuan dan ulama pada lapis kedua. Wilayah pada lapis
ketiga yang kompleks dan sophisticated inilah yang sesungguhnya dibidangi oleh filsafat ilmu-ilmu
keislaman.
Sedangkan menurut M.Atho Mudzhar menyatakan bahwa obyek kajian islam adalah substansi ajaran-
ajaran islam, seperti kalam, fiqih dan tasawuf. Dalam aspek ini agama lebih bersifat penelitian budaya hal
ini mengingat bahwa ilmu-ilmu keislaman semacam ini merupakan salah satu bentuk doktrin yang
dirumuskan oleh penganutnya yang bersumber dari wahyu Allah melalui proses penawaran dan
perenungan.[3]
C. Tujuan Studi Islam
Studi Islam sebagai usaha untuk mempelajari secara mendalam tentang islam dan segala seluk beluk yang
berhubungan dengan agama islam sudah barang tentu mempunyai tujuan yang jelas, yang sekaligus
menunjukan kemana Studi Islam tersebut diarahkan. Dengan arah dan tujuan yang jelas itu, maka dengan
sendirinya Studi Islam akan merupakan usaha sadar dan tersusun secara sistematis.
Adapun arah dan tujuan Studi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa sebenarnya (hakikat) agam islam itu, dan
bagaimana posisi serta hubungannya dengan agama-agama lain dalam kehidupan budaya manusia.
Sehubungan dengan ini, Studi Islam dilaksanakan berdasarkan asumsi bahwa sebenarnya agama islam
diturunkan oleh Allah adalah untuk membimbing dan mengarahkan serta menyempurnakan pertumbuhan
dan perkembangan agama-agama dan budaya umat dimuka bumi.
2. Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama islam yang asli, dan bagaimana
penjabaran dan operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya peradaban islam
sepanjang sejarahnya. Studi ini berasumsi bahwa agama islam adalah fitrah sehingga pokok-pokok isi
ajaran agama islam tentunya sesuai dan cocok dengan fitrah manusia. Fitrah adalah potensi dasar,
pembawaan yang ada, dan tercipta dalam proses pencipataan manusia.
3. Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam yang tetap abadi dan
dinamis, dan bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarahnya. Studi ini berdasarkan asumsi bahwa agama
islam sebagai agama samawi terakhir membawa ajaran yang bersifat final dan mampu memecahkan
masalah kehidupan manusia, menjawab tantangan dan tuntutannya sepanjang zaman.Dalam hal ini
sumber dasar ajaran agama islam akan tetap actual dan fungsional terhadap permasalahan hidup dan
tantangan serta tuntutan perkembangan zaman tersebut.
4. Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran agama islam, dan
bagaimana realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya
dan peradaban manusia pada zaman modern ini. Asumsi dari studi ini adalah, islam yang meyakini
mempunyai misi sebagai rahmah li al-alamin tentunya mempunyai prinsip dasar yang bersifat universal,
dan mempunyai daya dan kemampuan untuk membimbing, mengarahkan dan mengendalikan factor-
faktor potensial dari pertumbuhan dan perkembangan system budaya dan peradaban modern.[4]
D. Pendekatan dan Metodologi Studi Islam
Untuk melakukan Studi Islam ada beberapa istilah yang perlu dipahami dengan baik. Pemahaman
terhadap istilah-istilah ini akan memudahkan untuk memasuki bidang studi islam. Istilah-istilah tersebut
adalah pendekatan, metode dan metodologi. [5]
Pendekatan adalah cara memperlakuakan sesuatu Sementara metode merupakan cara mengerjakan
sesuatu . Sedangkan metodologi yaitu langkah-langkah praktis dan sistematis yang ada dalam ilmu-ilmu
tertentu yang sudah tidak dipertanyakan lagi karena sudah bersifat aplikatif.
Berikut akan diuraikan beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam studi islam:
1. Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan
memperhatikan unsur tempat, waktu objek, latar belakang, dan pelaku peristiwa tersebut, sedangkan
Yang dimaksud pendekatan historis adalah meninjau suatu permasalahan dari sudut peninjauan sejarah,
dan menjawab permasalahan, serta menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah.
Sejarah atau historis adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa atau kejadian masa lalu yang
menyangkut kejadian atau keadaan sebenarnya. Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik
dari alam idealis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat
adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan di alam empiris dan
historis.[6]
2. Pendekatan Filosofis
Yang dimaksudkan pendekatan filosofis adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat
dan berusaha untuk menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan metode analisis
spektulatif. Pada dasarnya filsafat adalah berpikiran untuk memecahkan masalah atau pertanyaan dan
menjawab suatu persoalan, namuk demikian tidak semua berpikir untuk memecahkan dan menjawab
suatu permasalahan dapat disebut filsafat yang dimaksud filsafat disini adalah berpikir secara sistematis,
radikal dan universal. Di samping itu,filsafat mempunyai bidang (objek yang dipikirkan) sendiri,yaitu
bidang atau permasalahan yang bersifat filosofis yakni bidang yang terletak diantara dunia ketuhanan
yang ghaib dengan dunia ilmu pengetahuan yang nyata. Dengan demikian filsafat yang menjembatani
kesenjangan antara maslah-masalah yang bersifat keagamaan semata-mata dengan masalah yang bersifat
ilmiah.
3. Pendekatan Ilmiah
Yang dimaksud pendekatan ilmiah adalah meninjau dan menganalisis suatu permasalahan atau objek
studi dengan menggunakan metode ilmiah pada umumnya. Diantara ciri pokok dari pendekatan ilmiah
adalah terjaminnya objektifitas dan keterbukaan dalam studi. Objektifitas suatu studi akan terjamin jika
kebenarannya bisa dibuktikan dan didukung oleh dat empiris, konkret, dan rasional. Sedangkan
keterbukaan suatu studi terjadi jika kebenaran bisa dilacak oleh siapa saja. Disamping itu,pendekatan
ilmiah selalu siap dan terbuka menerima kritik terhadap kesimpulan studinya.
4. Pendekatan Doktriner
Adapun pendekatan doktriner atau pendekatan studi islam secara konvensioanal merupakan pendekatan
studi di kalangan umat islam yang berlangsung adalah bahwa agama islam sebagai objek studi diyakini
sebagai sesuatu yang suci dan merupakan doktrin-doktrin yang berasal dari illahi yang mempunyai nilai
(kebenaran) absolut, mutlak dan universal. Pendekatan doktriner juga berasumsi bahwa ajaran islam yang
sebenarnya adalah ajaran islam yang berkembang pada masa salaf yang menimbulkan berbagai mazhab
keagamaan,baik teologis maupun hukum-hukum atau fiqih,yang kemudian di anggap sebagai doktrin-
doktrin yang tetap dan baku.[7]
5. Pendekatan Normatif
Maksud pendekatan normative adalah studi islam yang memandang masalah dari sudut legal formal dan
atau normatifnya. Maksud legal formal adalah hubungannya dengan halal dan haram, boleh atau tidak dan
sejenisnya. Sementara normatif adalah seluruh ajaran yang terkandug dalam nash. Dengan demikian,
pendekatan normatif mempunyai cakupan yang sangat luas. Sebab seluruh pendekatan yang digunakan
oleh ahli ushul fiqih (usuliyin), ahli hukum islam (fuqoha), ahli tafsir (mufassirin), dan ahli hadist
(muhadditsin) yang berusaha menggali aspek legal-formal dan ajaran islam dari sumbernya adalah
ternasuk pendekatan normatif.[8]
Kelima pendekatan tersebut dimaksudkan bukanlah sebagai pendekatan-pendekatan yang dilaksanakan
secara terpisah satu dengan yang lainnya, melainkan merupakan satu kesatuan sistem yang dalam
pelaksanaannya secara serempak yang satu melengkapi lainnya (complement) atau merupakan system
pendekatan system (systemic approach) .
Dalam hubungannya dengan Studi Islam, metodologi berarti membahas kajian-kajian seputar berbagai
macam metode yang bisa digunakan dalam Studi Islam.
Adapun metode studi islam secara lebih rinci dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Metode Ilmu Pengetahuan
Metode ilmu peuju pengetahuan atau metode ilmiah yaitu cara yang harus dilalui oleh proses ilmu
sehingga dapat mencapai kebenaran. Oleh karenanya maka dalam sains-sains spekulatif mengindikasikan
sebagai jalan menuju proposisi-proposisi mengenai yang ada atau harus ada, sementara dalam sains-sains
normative mengindikasikan sebagai jalan menuju norma-norma yang mengatur perbuatan atau pembuatan
sesuatu.
2. Metode Diakronis
Suatu metode mempelajari islam menonjolkan aspek sejarah. Metode ini memberi kemungkinan adanya
studi komparasi tentang berbagai penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam islam,
sehinggga umat islam memiliki pengetahuan yang relevan, hubungan sebab akibat dan kesatuan integral.
Metode diakronis disebut juga metode sosiohistoris, yakni suatu metode pemahaman terhadap suatu
kepercayaan, sejarah atau kejadian dengan melihat suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan yang
mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan, dan lingkungan dimana kepercayaan, sejarah atau
kejadian itu muncul.
3. Metode Sinkronis-Analistis
Suatu metode mempelajari islam yang memberikan kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna bagi
perkembangan keimananan dan mental intelek umat islam. Metode ini tidak semata-mata mengutamakan
segi aplikatif praktis, tetapi juga mengutamakan telaah teoritis.
4. Metode Problem Solving (hill al-musykilat)
Metode mempelajari islam yang mengajak pemeluknya untuk berlatih menghadapi berbagai masalah dari
satu cabang ilmu oengetahuan dengan solusinya. Metode ini merupakan cara penguasaan ketrampilandari
pada pengembangan mental-intelektual, sehingga memiliki kelemahan, yakni perkembangan pemikiran
umat islam mungkin hanya terbatas pada kerangka yang sudah tetap dan akhirnya bersifat mekanistis.
5. Metode Empiris
Suatu metode mempelajari islam yang memungkinkan umat islam mempelajari ajarannya melalui proses
realisasi, dan internalisasi norma dan kaidah islam dengan satu proses aplikasi yang menimbulakan suatu
interaksi sosial, kemudian secar deskriptif proses interaksi dapat dirumuskan dan suatu norma baru.
6. Metode Deduktif (al-Manhaj al-Isthinbathiyah)
Suatu metode memahami islam dengan cara menyusun kaidah secar logis dan filosofis dan selanjutnya
kaidah itu diaplikasikan untuk menuntukan masalah yang dihadapi. Metode ini dipakai untuk sarana
meng-istinbatkan hukum-hukum syara, dan kaidah-kaidah itu benar bersifat penentu dalam masalah-
masalah furu tanpa menghiraukan sesuai tidaknya dengan paham mazhabnya.
7. Metode Induktif (al-Manhaj al-Istiqraiyah)
Suatu metode memahami islam dengan cara menyusun kaidah hokum untuk diterapkan kepada masalah-
masalahfuru yang disesuaikan denagn madzhabnya terlebih dahulu. Metode pengkajiannya dimulai dari
masalah-masalah khusus, lalu dianalisis, kemudian disusun kaidah hokum dengan catatan setelah terlebih
dahulu disesuaikan dengan paham mazhabnya.[9]
http://zahlulrizka.blogspot.com/