Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS JURNAL / EVIDENCE BASE PRACTICE

THE SKIN GRAFT FOR BURN WUOND MANAGEMENT


TINDAKAN SKIN GARAFT PADA MANAJEMEN LUKA BAKAR
Leonardo Rieuwpassa, Kartika Lilisantosa
Hikmah Makasar Hospital.

TOMMI PRANAJAYA
220112130526

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXVII


BAGIAN ILMU KEPERAWATAN ANAK
UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
2014

DAFTAR ISI

Halaman
Cover ......................................................................................................................................... i
Daftar Isi .................................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
BAB II ANALISIS JURNAL ..................................................................................................3
BAB III PEMBAHASAN ........................................................................................................4
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN .......................................................................................5
4.1 SIMPULAN ...................................................................................................................5
4.2 SARAN ..........................................................................................................................5
Daftar Pustaka .........................................................................................................................6
Lampiran Jurnal ......................................................................................................................7

BAB I
PENDAHULUAN

Pada tanggal 26 April 2014 klien dibawa oleh keluarganya ke RSHS. Klien datang
dengan keluhan nyeri dibagian wajah, dada, tangan kanan dan kiri, kaki sebelah kanan bagian
cruris dan kaki kiri bagian betis. Sejak 6 jam yang lalu, saat klien berada dirumahnya tibatiba terjadi ledakan yang berasal dari tabung gas tiga kg didepan rumah klien kemudian klien
keluar rumah dengan dan tiba- tiba api menyambar tubuhnya dan klien mengalami luka
bakar.
Menurut Ibu klien sudah beberapa kali klien dilakukan tindakan operasi necrotomy
debrideman dan STSG tetapi klien belum kunjung sembuh juga. Ibu klien menanyakan
mengapa anaknya lam sembuh dan terus dilakukan tindakan operasi necrotomy dan
debrideman. Ibu klien mengatakan kasihan anaknya yang baru berumur 6 tahun sudah
mengalami 7 kali operasi, bagaimana dengan pengaruh obat bius terhadap anaknya. Ibu klien
khawatir dengan efek obat bius yang terlalu sering pada anaknya. Fenomena masalah pada
klien adalah adanya luka bakar grade II A-B 25% yang sudah pernah dilakukan tindakan
ND, debridemen dan STSG tetapi sebagian STSG nya tidak berhasil sehingga harus
dilakukan tindakan operasi ulang untuk mengatasi masalahnya. Tindakan penanganan
diruang perawatan adalah mengganti balutan dengan prinsip steril.
Saat dilakukan pengkajian pemeriksaan fisik pada tanggal 7 Agustus 2014 didapatkan
keadan umum tingkat kesadaran compos mentis tanda-tanda vital : nadi 110 X/ menit, suhu
36,70C, respirsi 24 X/menit. Kepala dan leher Bentuk kepala simetris, terdapat luka bakar
grade II A pada daerah prontal,luka daerah prontal terlihat kemerahan, pertumbuhan
granulasi jaringan baik, tidak ada PUS, mudah berdarah jika terkena gesekan dan tekanan.
Keadaan luka palpebra sudah membaik dan sedang dalam proses maturasi jaringan.
Konjungtiva merah muda, sklera putih, refelek pupil +/+, reflek kornea +/+. Penglihatan baik,
terbukti klien dapat melihat gambar dalam jarak 30 cm dengan baik. Bentuk hidung simetris,
tidak ada sekret, tidak ada pernafasan cuping hidung, dan tidak ada sianosis. Bibir berwarna
merah muda, tidak ada lesi, membran mukosa dan bibir lembap, rongga mulut dan lidah
bersih, gigi tidak ada karies, jumlah 20. Struktur telinga simetris, pina elastis, pendengaran
baik, terbukti klien menoleh ketika dipanggil namanya. Tidak tampak dan tidak teraba
pembesaran kelenjar tiroid dan distensi vena jugularis. Ekstremitas Terdapat luka bakar grade
II A pada lengan atas sebelah kanan 2 % dan lengan kiri 2%,yang sudah membaik dan sedang

maturasi jaringan kulit yang baru,. Ekstremitas bawah sebelah kanan 2% dan kiri 2% ,
terpasang infus RL 24 gtt/mnt di kaki kiri. Akral teraba hangat dan berwarna murah mudat,
CRT 2-3 detik. Terjadi kontraktur dan keterbatasan pergerakan persendian pada ektremitas
atas dan bawah

Oleh dokter, klien didiagosa combustio grade II A-B 25% e.c ledakan gas. Kemudian
klien dilakukan operasi Necrotomy debrideman dan STSG.
Saat ini terdapat luka post operasi STSG di wajah, dan tangan klien. Keadaan klien
baik, rencana akan dilakukan perawatan luka dan ganti balutan POD 7 di kamar operasi.
Terpasang kateter urine, klien mendapatkan terapi infus Ringer Laktat.

Hasil pemeriksaan laboratorium klien sebagai berikut:


Hb

= 12,6 g/dL

Ht

= 39%

Leukosit

= 24,300

Eritrosit

= 5,06

Trombosit

= 744.00

Natrium

= 135

Kalium

= 5,9

Kalsium

= 109

Magnesium

= 2,43

Klien mendapatkan terapi Ceftriaxone 2 x 25mg.iv , Parasetamol 3 x 250gr. Iv.

BAB II
ANALISIS JURNAL

Jurnal didapatkan dengan menggunakan keyword Luka Bakar melalui search.google


cendikia.com dan ditemukan jurnal tentang Skin Graft Pada Manajemen Luka Bakar.
Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa:
Salah satu permasalahan pada penatalaksanaan luka bakar adalah penutupan luka.
Fokus permasalahan yang kerap muncul setelah dilakukan prosedur eskarotomy dan
debridemen, yaitu intervensi bedah untuk penutupan luka. Eksisi dan skin grafting awal
terbukti meningkatkan angka kelangsungan hidup, mengurangi infeksi, menurunkan lama
perawatan di rumah sakit dan mengurangi resiko terbentuknya jaringan parut. Intervensi
STSG dilakukan pada lua bakar derajat 3 dan derajat 2 dalam yang diperkirakan waktu
penyembuhan spontan nya lebih ari 3 minggu. STSG paling diharapkan untuk menutup luka
bakar karena besifat permanen dan tidak akan ditolak. Komplikasi yang paling bahaya dan
tidak diharapkan adalah terdapatnya bahaya infeksi sistemik dan lokal pada daerah luka bakar
yang dapat menyebabkan tidak berhasilnya skin grafting yang di pasang atau ditanam.
Dalam studi ini, menjelaskan mengenai persentase dan derajat luka pada paseien luka
bakar terhadap morbiditas dengan permasalahan pada penatalaksanaan penutupan luka
bakar , yang menggunakan teknik STSG dan FTSG. Hasil penelitian eksisi dan skin grafting
awal terbukti meningkatkan angka kelangsungan hidup, mengurangi infeksi, menurunkan
lama perawatan rumah sakit dan mengurangi resiko terbentuknya jaringan parut. Penentuan
dilakukannya eksisi dan skin graft berdasarkan derajat kedalaman luka bakar. Pemilihan jenis
skin graft disesuaikan dengan luas luka bakar dan lokasi yang terkena luka bakar. Penelitian
dilakukan dengan pendekatan analisis retrospektif.

BAB III
PEMBAHASAN

Dari hasil analisis jurnal diketahui bahwa ada dua pilihan tindakan pembedahan yang
dilakukan pada pasien dengan luka bakar adalah STSG dan FTSG. Dimana keduanya samasama berpeluang untuk terjadinya komplikasi post operasi. Namun, angka kejadian
komplikasi post operasi lebih besar pada pasien yang dilakukan pembedahan eksisi dan
tindakan graft dengan perdarahan 100- 200 ml setiap 1 % TBSA yang dieksisi.
Pada kasus An.R, dilakukan tindakan operasi necrotomi debrideman dan STSG
dimana pada tindakan ini dilakukan insisi kulit donor dari bagian paha kaki kiri dan kanan.
Didalam jurnal disebutkan bahwa pembedahan ND + STSG menghasilkan angka kejadian
komplikasi infeksi post operasi yang rendah. Pada klien An.R, terdapat luka post operasi
STSG yang masih tertutup oleh kasa yang direncanakan akan dibuka pada POD 7 untuk
melihat hasil grafting pada bagian muka an kedua tangan bagian humerus.. An.R hanya
mengeluh nyeri dengan skala nyeri 3 (0-5) pada POD 1-2, sedangkan pada saat POD 3, An.R
tidak mengeluhkan kembali nyeri dari luka post operasi. Pembedahan rentan terhadap infeksi
karena dilakukannya insisi yang menghasilkan luka post op lebih besar, namun tergantung
bagaimana cara melakukan perawatan luka tersebut, jika tetap menjaga kesterilan saat
melakukan perawatan luka, maka infeksi dapat diminimalisir.
Luka post operasi An.R mulai diganti balutan pada saat POD 7, kemudian setiap hari
luka tersebut diganti balutannya. Penggantian balutan dilakukan dengan prinsip steril guna
mencegah infeksi.

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan
-

Eksisi dan skin graft awal terbukti meningkatkan kelangsungan hidup, mengurangi
infeksi, menurunkan lama perawatan rumah sakit.

Penentuan dilakukan eksisi dan skin graft berdasarkan derajat kedalaman dan luasnya
luka bakar.

Donor bisa berasal dari tubuh sendiri (autograft) atau (xenograft).

Penggantian balutan dilakukan pada POD 7. Sebaliknya jika ada eksudasi berlebihan,
terlihat balutan yang jenuh maka dalam 24-48 jam pertama setelah dilakukan bedah
dapat dilakukan penggantian balutan.

Komplikasi lain yang bisa terjadi adalah infeksi sistemik dan lokal pada daerah luka
bakar yang berkaitan dengan penggantian pembalut.

4.2 Saran
-

Selalu menjaga prinsip steril saat mengganti balutan pada pasien post operasi

Perlu dilakukan studi lebih lanjut mengapa komplikasi infeksi post operasi lebih
banyak terjadi pada pasien yang dilakukan pembedahan dengan derajat luka yang
luas.

DAFTAR PUSTAKA

B ryant RA, Nix DP. Acute&chronic wounds: current management concepts, 3rd ed.
Philadelphia: Elsiver ; 2007. P.361-87.
Cameron Current surgical therapy, 9th ed. Philadelphia: 2006. P.1066-74.
Kagan RJ, Peck MD, Ahrenholz DH, Hickerson WL, Holmes JH, Korentager RA, et al.
Suergical management of the burn wound and se of skin substitutes. 2009.
Moenadjat Y luka bakar masalah dan tatalaksana, ed.4. jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009.p.
132-49.
Thorne CH, Beasley RW, Aston SJ, Bartlett SP, Gurtner GC, Spear SL. Grabb and Smith
plastic surgery, 6th ed. Philadelphia. Lippincott Williams&Wilkins; 2007.