Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Nestl adalah sebuah perusahaan multinasional di Vevey, Swiss yang
bergerak dalam bidang makanan. Didirikan pada tahun 1867 oleh Henri
Nestl. Perusahaan ini menghasilkan makanan dan minuman seperti
makanan bayi, susu, kopi, cokelat, dan lain-lain. Perusahaan ini masuk
dalam bursa saham SWX Swiss Exchange. Pada tahun 1842. Henry Nestle
membeli salah satu industri yang paling progresif dan lincah pada region itu
pada masa tersebut.. ia juga terlibat dalam memproduksi minyak kacang
(digunakan sebagai bahan baker lampu minyak), minuman keras, rum, dan
cuka. Ia juga mulai mempruduksi dan menjual air mineral bergas dan
lemonande, meskipun pada tahun-tahun krisis dari 1845 dan 1847 Nestle
menghentikan produksi air mineralnya. Nestle mulai tumbuh dan
berkembang menjadi sebuah perusahaan makanan terbesar di dunia, serta
perusahaan makanan dan minuman yang telah di percaya oleh banyak orang
di seluruh dunia secara turun temurun hingga sekarang. Perusahaan Nestle
tersebar di seluruh mancanegara, Nestl berkomitmen untuk tetap
mengembangkan produk-produk melalui inovasi dan renovasi demi
memuaskan kebutuhan konsumennya di seluruh dunia.
Perusahaan besar di dunia yang memasuki pasar internasional secara
umum telah memiliki departemen R & D dan Quality Control secara

profesional begitu pula perusahaan yang memasuki industri formula bayi


sangat diwajibkan memiliki departemen research and development (R & D)
ini dan seharusnya pula melakukan riset-riset detail bersama ahli-ahli gizi
untuk melakukan pengembangan produk secara berkelanjutan dan semakin
baik berdasar pada permintaan konsumen serta persayratan yang berlaku.
Dalam industri formula bayi ini, perusahaan diwajibkan mempunyai
ijin-ijin lengkap sesuai dengan persayaratan dari organisasi internasional
khususnya yang menangani di bidang kesehatan dan menitikberatkan pada
kesehatan bayi. Selain itu dukungan sarana lengkap baik departemen R & D
beserta peralatan risetnya maupun departemen quality controlnya. Dimana
kedua departemen ini sangat menentukan output produk khususnya formula
bayi yang benar-benar higienis dan bebas kontaminasi. Penggunaan dan
pemakaian produk formula bayi memiliki resiko efek secara jangka panjang
dan tidak kecil. Sehingga adanya tuntutan persayaratan yang tinggi dari
organisasi internasional maupun pemerintah lokal sangat dikedepankan
mengingat terjadinya kegagalan produk mempunyai resiko kehilangan
nyawa atau kematian pada sasaran pemakainya yaitu bayi. Peranan
organisasi kesehatan baik internasional maupun lokal dan pemerintah lokal
sangat menentukan kesuksesan atau kegagalan dari produk formula bayi ini.
Research and Development ( R & D ) Department pada Nestle juga
telah melakukan riset-riset penting dan pengembangan produk secara
berkala disesuikan dengan permintaan pasar dengan tetap mengikuti aturan
dan persyaratan yang berlaku. Kegiatan ini berlangsung terus-menerus
dengan tanpa melupakan evaluasi-evaluasi tindakan untuk menemukan

solusi serta pembuatan produk-produk inovasi terbaru yang paling tepat


sasaran dan benar dalam rangka mengembangkan produk formula bayi
secara jangka panjang.
Quality Control ( QC ) Department pada Nestle juga telah melakukan
kontrol kualitas terhadap mutu dan higienitas produk formula bayi
khususnya susu bubuk sebagai nutrisi tambahan pada bayi. Ketepatan dan
disiplin kontrol sangat menentukan hasil produk hingga layak konsumsi
terutama untuk bayi.
Sasaran utama Nestle pada dasarnya adalah memasarkan produk
formula bayi berupa susu bubuk ke dunia internasional mulai negara maju,
negara berkembang, hingga ke negara dunia ketiga. Perbedaan budaya dari
berbagai negara ini dapat menentukan keputusan memakai atau tidak serta
kemampuan daya beli dari berbagai segmen sangat mempengaruhi
penggunaan atau pemakaian susu bubuk produksi dari Nestle ini.
Nestle Adalah salah satu perusahaan besar dan berkelas internasional
yang berkantor pusat di Switzerland dan pada tahun 1866 yang lebih dari
100 tahun yang lalu yang pada saat ini juga telah dikenal perusahaan yang
bergerak dalam industri formula bayi. Nestle pada tahun 1974-an mulai
memasuki dan memasarkan produk formula bayinya di dunia ketiga seperti
negara-negara di afrika selatan, pedalaman meksiko, dan philipina.
Berjalan seiring waktu dalam pemasaran susu bubuk produksi Nestle
pada negara-negara dunia ketiga, mereka Nestle mendapat kecaman dari
berbagai pihak yang berkepentingan seperti ibu-ibu bayi, organisasi

kesehatan lokal negara, dan pemerintah lokal karena produk susu bayinya
diindikasikan telah terkontaminasi dan malnutrisi untuk bayi yang
mengakibatkan kematian pada bayi. Susu bubuk yang beredar di negara
mereka yang diproduksi oleh Nestle dianggap merupakan hasil produksi
untuk percobaan penggunaan pemakaian pada bayi guna menemukan solusi
terbaik dan evaluasi untuk produk-produk baru selanjutnya. Banyak
pendapat khususnya di negara dunia ketiga ini mengatakan Nestle
membunuh bayi generasi muda mereka dan Nestle tidak mempunyai etika
dan berperilaku tidak bermoral.
Dengan berjalannya waktu, Nestle melakukan riset dan lobi
internasional dengan pihak-pihak yang berkepentingan untuk diskusi
pemecahan masalah yang terjadi guna diambil solusi yang tepat, salah
satunya dengan WHO dan UNICEF. Jalan ini ditempuh Nestle untuk jangka
panjang karena dapat digunakan sebagai acuan atau dasar pemakaian produk
Nestle serta dapat diberikan jaminan aman. Dengan penggunaan WHO Code
sebagai standarisasi serta requirement utama, maka Nestle berpegang pada
aturan ini.
Kesalahan dan kelalaian persepsi dalam pemakaian produk formula
bayi khususnya susu bubuk oleh personal atau pemakainya merupakan salah
satu faktor penyebab bisa terjadinya kematian pada bayi usia 1 2 tahun,
karena dapat terjadi kontaminasi buatan serta kurangnya pengetahuan
mendasar pentingnya air susu ibu. Dimana ibu-ibu di negara dunia ketiga ini
menganggap bahwa susu bubuk formula dapat membuat bayi terlihat lebih
tumbuh dan bersinar adalah kurang tepat menurut Nestle. Dikatakan oleh

Nestle bahwa air susu ibu tetaplah yang utama dan tidak dapat tergantikan
oleh susu bubuk formula apapun.
Dari uraian latar belakang masalah diatas mengenai penggunaan susu
bubuk formula pada bayi usia 1 2 tahun khususnya dalam pemasarannya
di negara-negara dunia ketiga yang mendapatkan kecaman dari pihak-pihak
yang berkepentingan maka dalam studi kasus ini akan diambil langkahlangkah solusi terbaik mengingat adanya permasalahan baru terkait dengan
adanya perubahan budaya dan perilaku beberapa manusia dalam cara-cara
pemasaran susu bubuk formula bayi dan peranan dari Nestle dalam
kegiatannya melawan HIV dan AIDS pada negara-negara berkembang.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasar hal-hal yang telah dikemukakan diatas, maka masalah
penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana strategi Nestle meyakinkan konsumen untuk tetap
menggunakan produk susu bubuk fomula bayi khususnya pada
negara-negara

dunia

ketiga

dengan

tanpa

menimbulkan

permasalahan baru ?
2. Bagaimana Nestle melakukan aktifitas dan perubahan cara
pemasaran dalam rangka memasarkan produk formula bayi terkait
adanya perubahan budaya masyarakat dan perilaku konsumen ?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
Pada umumnya pemasaran dilakukan dilakukan untuk meningkatkan
market share salah satunya mengambil segmen lebih luas dan memasarkan
produknya ke seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan ini telah membuktikan
eksistensinya secara berkala dan jangka panjang sehingga merasa mampu
untuk melakukan pemasaran produknya ke berbagai kalangan konsumen
yang berbeda budaya serta perilakunya yaitu go internasional.
Visi perusahaan

PT Nestl Indonesia adalah sebagai salah satu

produsen makanan terbesar di Indonesia memiliki misi untuk mewujudkan


masyarakat Indonesia yang lebih sehat. Selain itu, visi dari PT Nestl
Indonesia adalah:

Meraih kepercayaan konsumen, dan menjadi perusahaan makanan


dan nutrisi yang terkemuka serta terpandang di Indonesia.

Menjamin keuntungan dan kelangsungan pertumbuhan jangka


panjang dengan modal yang efisien bagi perusahaan, melalui
pelayanan

yang

mampu

meningkatkan

kualitas

kehidupan

konsumen.

Menjadi pemimpin pangsa pasar atau posisi no. 2 yang kuat di setiap
kategori Selain visi dan misi, PT Nestl Indonesia juga menetapkan
motto perusahaan mereka, yaitu Passion for Our Consumers
Melalui motto ini, PT Nestl Indonesia selalu berusaha untuk
memberikan yang terbaik bagi konsumennya.
Berdasarkan hal ini pula, PT Nestl Indonesia menerapkan beberapa

kebijakan Kualitas dan Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Lingkungan.

Kebijakan Kualitas meliputi :


1. Produk dan jasa tidak pernah mengabaikan faktor keamanan pangan
2. Selalu mematuhi peraturan yang berlaku
3. Zero waste dan zero defect
4. Berkomitmen secara terus menerus untuk meningkatkan standar
kualitas
Kebijakan Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan meliputi :
1. Karyawan dan mitra bisnis adalah alat yang paling berharga
2. Menerapkan praktek bisnis yang ramah lingkungan (mencegah
pencemaran lingkungan)
3. Mematuhi semua peraturan di bidang lingkungan dan K3
4. Menihilkan kecelakaan kerja dan keluhan masyarakat
5. Perbaikan secara terus menerus di bidang lingkungan dan PT Nestl
Indonesia selalu menerapkan nilai nilai yang selama ini menjadi
landasan bagi perusahaan dan seluruh karyawan, nilai nilai tersebut
dikenal dengan istilah PRIDE, yang merupakan singkatan dari
Passion (Semangat), Respect (menghormati), Integrity (Integritas),
Determination (Gigih), dan Excellence (Unggul).
Misi Nestl Indonesia untuk turut mewujudkan masyarakat
Indonesia yang lebih sehat melalui produk-produknya yang berkualitas,
bernutrisi dan lezat rasanya. Selain itu kami juga memfokuskan diri untuk
senantiasa memberikan informasi dan pendidikan bagi konsumen kami,
antara lain seperti tercantum dalam kemasan setiap produk kami. Dalam
menjalankan bisnisnya, Nestl berusaha untuk selalu menjalankan tanggung
jawab kepada masyarakat dan menciptakan manfaat.
Strategi Perusahaan

Strategi Penetrasi Pasar


Menurut David (2006) yang dimaksud dengan strategi penetrasi

pasar adalah suatu strategi untuk meningkatkan pangsa pasar (market share)
suatu produk atau jasa yang sudah ada di pasar melalui usaha pemasaraan

yang lebih aktif. Strategi untuk meningkatkan pangsa pasar dapat dilakukan
melalui

upaya

meningkatkan

pemasaran
kegiatan

seperti

promosi

memperluas

dan publisitas

jaringan

distribusi,

dan meningkatkan

pelayanan. Memperluasan jaringan distribusi sangat penting dilakukan


untuk menjangkau konsumen yang lebih banyak. Saat ini PT Nestle
Indonesia hanya memasarkan ke toko-toko dan swalayan. Untuk
memperluas jaringan distribusi PT Nestle perlu memasarkan produk hingga
ke pasar secara umum hingga tersebar merata ke seluruh Indonesia.
Meningkatkan kegiatan promosi sangat penting dilakukan mengingat
Susu bayi dan biskuit bayi merupakan produk yang memiliki banyak
saingan.Promosi bisa dilakukan melalui menjadi media partner acara-acara
anak-anak yang kemudian memperkenalkan keunggulan produk yang
ditawarkan kepada konsumen. Promosi yang dilakukan selama ini lebih
sudah cukup baik menggunakan segala jenis media seperti media televisi,
off air dan media cetak, namun seiring berjalannya waktu persaingan
semakin banyak maka perlu teknis promosi yang jauh lebih menarik dan
meyakinkan konsumen.
Strategi Pengembangan Pasar
Pengembangan pasar merupakan upaya untuk memperkenalkan
produk perusahaan ke wilayah baru yang belum pernah dimasuki
sebelumnya. Strategi ini dapat dijalankan dengan mencari pasar yang belu
pernah tersentuh oleh pesaing dan mencari jaringan distribusi yang dapat
diandalkan.
Strategi Pengembangan Produk
Menurut David (2006), pengembangan produk adalah upaya untuk
memprbaiki atau memodifikasi produk atau jasa yang ada untuk
meningkatkan penjualan. Strategi ini penting ketika perusahaan menghadapi
kondisi persaingan dalam industri yang semakin ketat. Perusahaan perlu
untuk mengadakan kegiatan penelitian dan pengembangan yang baik untuk
menghasilkan produk yang berbeda dari pesaingnya sehingga mampu
meraih pangsa pasar yang belum dikuasai pesaing. Meningkatkan kualitas

produk tidak hanya dalam hal khasiat dan komposisi melainkan


memperbaharui kemasan agar lebih menarik. Kemasan yang lebih menarik
akan lebih menarik perhatian konsumen.

BAB III
PEMBAHASAN

Dalam permasalahan yang pertama ditemukan Bagaimana strategi


Nestle meyakinkan konsumen untuk tetap menggunakan produk susu bubuk
fomula bayi khususnya pada negara-negara dunia ketiga dengan tanpa
menimbulkan permasalahan baru?.Untuk mengatasi permasalahan ini maka
Nestle sebaiknya menggunakan pemilahan dalam Kriteria Segementasi
pasar yang sebelumnya harus dilakukan penelitian mengenai ekonomi
makro dan mikro dari sebagian negara-negara dunia ketiga seperti
melakukan survei dan observasi lingkungan demografi, ekonomi negara,
perilaku, budaya, gaya hidup serta politiknya. Dengan melalui tahapantahapan survei dan observasi sesuai keperluan pemasaran formula bayi
dalam bentuk susu bubuk sebagai nutrisi bayi, dapat dipastikan Nestle akan
diterima konsumen di negara-negara dunia ketiga ini. Education pada ibuibu bayi tentang tetap pentingnya air susu ibu yang tidak dapat tergantikan
akan sangat mempengaruhi perilaku konsumsi formula bayi dari Nestle ini.
Serta Penyertaan petunjuk penggunaan formula bayi secara baik dan benar
sebagai contoh mencuci botol dengan air mengalir sampai bersih lalu
direbus hingga mendidih dengan tujuan menghilangkan bakteri seminim
mungkin untuk menghindari kontaminasi pada botol-botol susu formula
sebagai nutrisi tambahan pada bayi usia dini khususnya pada usia 1 2
tahun. Berdasar pengamatan Nestle, penduduk di negara dunia ketiga masih
kurangnya pendidikan mengenai kesehatan, maka secara bersamaan Nestle

juga melakukan riset dan diskusi bersama organisasi-organisasi lokal


maupun internasional dalam rangka mensukseskan pemasaran formula
bayinya.
Serta berdasar permasalahan yang berikutnya yaitu : Bagaimana
Nestle melakukan aktifitas dan perubahan cara pemasaran dalam rangka
memasarkan produk formula bayi terkait adanya perubahan budaya
masyarakat dan perilaku konsumen ? . Untuk melakukan dan
merealisasikan pemasaran formula bayi khususnya di negara-negara dunia
ketiga, telah diambil langkah oleh Nestle dengan cara melobi organisasi
lokal dan internasional sebagai partner kerja sama sehingga terbentuk
kolaborasi yang saling mempengaruhi. Nestle mengimplementasikan
Strategi Adaptasi dan Komunikasi dengan menggunakan Dual Adaptation
dan Product Invention dimana berusahaa mengkomunikasikan secara
bersama dengan diskusi dengan pihak-pihak terkait sebagai pengontrol
maupun partner pemasaran produknya.
Sebagai pengontrol kualitas produk, Nestle bekerja bersama WHO
dengan menggunakan syarat dan requirement berdasar kode-kode WHO
yang telah ditetapkan sehingga formula bayi yang dikonsumsi telah dijamin
layak konsumsi oleh bayi. Begitu pula dengan organisasi UNESCO sebagai
pihak kontroler peredaran produk formula bayi dimana penertiban industri
formula bayi haruslah memenuhi standarisasi-standarisasi tertentu untuk
mencapai hasil produk yang paling aman dan terjamin sehingga resiko
kematian bayi dapat dihilangkan atau seminim mungkin.

Kecaman dan perlawanan dari organisasi kesehatan lokal dan


pemerintah setelah adanya statement Neslte membunuh bayi di negara dunia
ketiga yang disebabkan kurangnya edukasi atau pendidikan betapa
pentingnya air susu ibu sebagai nutrisi utama sangatlah kurang. Mereka
menganggap bahwa nutrisi dari formula bayi produk Nestle adalah yang
terbaik di satu sisi, akan tetapi di sisi lain pihak Nestle tidak mengeluarkan
statement seperti mereka. Yang pada akhirnya diputuskan oleh Nestle untuk
merubah cara pemasaran melalui beberapa rumah sakit bersalin sebagai
partner pemasaran produk, selain dapat memberikan masukan edukasi pada
masyarakat lokal juga dapat memberikan nilai benefit bagi Nestle. Cara
pemasaran yang tepat sasaran sangat dipengaruhi oleh perubahan perilaku
konsumen serta budaya masyarakat lokal sehingga Nestle juga perlu
mengkomunikasikan secara berkala dengan pihak terkait seperti organisasi
lokal, pemerintah, serta partner pemasaran lokalnya.
Mempertahankan Merk dan Produk
Dari awal, Nestle percaya bahwa menyusui adalah hal terbaik bagi
bayi. Pendiri Nestle, Henri Nestle, menyatakan hal ini pada tahun 1867 dan
hinggi kini pernyataan itu masih dipegang teguh oleh Nestle. Susu formula
ciptaan Henri Nestle didesain untuk menyelamatkan hidup bayi, karena
pada saat itu tingkat kematian bayi sangat tinggi di Switzerland. Berangkat
dari nilai ini, maka Nestle tidak pernah mengganti nama mereknya, karena
nama Nestle bukan sekedar nama, istilah, tanda atau simbol, lebih dari itu,
Nestle merupakan sebuah janji perusahaan untuk secara konsisten
memberikan kualitas yang terbaik bagi konsumen. Sehingga dalam praktik

pemasaran yang spesifik menangani produk, Nestle selalu memberikan


harapan bagi konsumen dengan adanya jaminan standar kualitas merek
Nestle, konsumen akan terus membeli produk dari lini produk Nestle
(Makanan bayi, susu formula, kopi, sereal, hingga makanan binatang dan
kosmetika). Dalam mempertahankan merek dan memperbaikinya, Nestle
tidak hanya respek pada kuasa hukum dan memformulakan aturan, tapi juga
respek terdapat sejumlah organisasi sosial yang memberi kritikan-kritikan
tajam. Selama krisis, Nestle tetap bertahan pada label merek yang
mengusung nama besar Henri Nestle dan menggunakan beberapa instrumen
komunikasi pemasaran seperti promosi pejualan dan mengiklankan image,
namun hal ini sangat dilakukan dengan penuh kehati-hatian, khususnya
untuk produk susu formula, tahun 1982. Untuk dapat terus maju, Nestle
memakai strategi pemasaran manajemen merek yakni family branding. Di
mana Nestle memasukkan beberapa produk setara ke dalam satu merek.
Seperti susu formula untuk anak-anak, Nestle mempunyai beberapa lini
produk, seperti Milo dan Dancow dan kosmetika wanita, Nestle memiliki
Lancome dan Loreal. Keuntungan yang didapat Nestle adalah dengan
menerapkan family branding, beberapa produk setara namun tidak saling
bersaing akan dapat dipromosikan dengan hanya menggunakan satu even
promosi dan konsumen akan dilibatkan pengalaman mereka terhadap satu
merek yang telah mereka kenal. Sehingga bila Nestle membuat lini produk
baru, maka Nestle dapat memasukkan produk baru tersebut ke dalam merek
yang telah populer, akan menuntun konsumen untuk lebih mudah membeli,
menerima produk baru dan menguatkan citra merek tersebut. Namun

konsekuensinya, Nestle harus terus dapat menjaga konsistensi kualitas


produk dan nilai merek, karena apabila ada satu produk yang memiliki
kualitas di bawah standar, maka bisa terjadi penurunan penjualan di setiap
lini produk. Selain itu, hingga kini susu formula Nestle yang bernama
Lactogen juga masih dipertahankan, padahal pada saat musibah terjadi,
Lactogen-lah yang menjadi pemicu terjadinya pemboikotan. Menurut opini
penulis, Nestle mempertahankan produk Lactogen, karena Nestle merasa
bahwa Lactogen memiliki kualitas terbaik dan dapat dipakai sebagai
pengganti ASI dalam kasus-kasus tertentu (Ibu tidak memiliki pasokan ASI
yang cukup, Ibu mengidap virus HIV, Ibu bekerja sehingga tidak punya
cukup waktu untuk menyusui dan lain sebagainya). Selain itu bila Nestle
mengganti nama, secara tidak langsung Nestle mengaku salah, padahal
musibah terjadi hanya karena masalah misscommunication.
Mengenai strategi pemasaran 4P yaitu produk, price, place dan
promotion pada kasus susu formula Nestle adalah sebagi berikut:

Product : Pada negara berkembang, kebutuhan utama adalah pada


produk dengan harga murah dan makanan berprotein tinggi. Hal ini
dilihat sebagai peluang bagi Nestle dengan melaksanakan forward
invention, yaitu mengembangkan produk yang memenuhi kebutuhan
nutrisi masyarakat. Pemasaran produk harus didukung dengan
promosi yang tepat sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Salah
satu contoh adalah produk bubur bayi yang dipasarkan di Indonesia
melihat kebutuhan nutrisi balita Indonesia dan disesuaikan dengan
kebiasaan mengkonsumsi bubur beras merah untuk bayi. Hal ini

dikombinasikan untuk menciptakan keunggulan produk bubur bayi


beras merah di Indonesia. Masyarakat akan mudah menerima produk
bubur tersebut karena sudah terbiasa memberikan bubur beras merah
untuk bayi, ditambah bubur nestle lebih praktis dalam penyajian dan
ditambahkan susu, vitamin dan kandungan gizi lain yang penting
untuk pertumbuhan balita.

Price : Fleksibel harga adalah faktor kunci keberhasilan Nestle di


pasar global misalnya susu formula Lactogen menjadi merek
penjualan terbesar yang terjual habis pada harga yang sama seperti
produk-produk berkualitas rendah lain sambil mempertahankan
kualitas.

Place : Produk Nestle memiliki area bisnis utama mereka di Eropa


dari mana mereka mendapatkan hampir 90 persen dari penjualan dan
pendapatan. Produk tidak langsung dilemparkan ke dalam pasar,
prosedur lengkap yang diikuti termasuk semua hal yang hakiki dari
produsen, Distributor, grosir, pengecer dan akhirnya ke konsumen.
Produk Nestle tersedia di berbagai outlet besar, sebagai perusahaan
selalu melihat ke depan untuk memperluas outletnya.

Promotion : Strategi promosi perusahaan yang direncanakan sangat


baik, iklan di media cetak dan elektronik bersama dengan billboard
yang memiliki gambar menggoda membuktikan baik untuk merek.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Dari pembahasan diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan


seperti dan saran sebagai berikut ini :
1. Nestle dapat menggunakan strategi pemasaran secara berkala dan
berkolaborasi dengan partner lokal seperti organisasi maupun
pemerintah melalui program edukasi berkelanjutan secara jangka
panjang dalam memasarkan inovasi-inovasi produk formula bayi.
2. Nestle tetap memeberikan produk sampling berupa pemakaian gratis
melalui rumah sakit rumah sakit lokal dengan tidak meninggalkan
etika dan moral.
3. Nestle dapat memberikan produk paket dengan non formula bayi
dalam arti produk luar seperti bedak, sabun, dan sebagainya sebagai
bentuk kepedulian terhadap bayi dan ibu bayi yang tidak beresiko
tinggi seperti kehilangan nyawa.
4. Produk formula bayi sangat dipengaruhi oleh budaya masyarakat
khususnya ibu bayi, maka Nestle dapat melakukan pemasaran
produk formula bayinya melalui produk-produk pendukung yang
digunakan oleh ibu bayi secara langsung seperti susu bubuk khusus
ibu hamil yang telah direkomendasikan oleh organisasi kesehatan.
5. Nestle melakukan survei dan observasi mengenai segemntasi pasar
berdasar budaya masyarakat dan perlikau konsumen tiap negara di

bagian negara dunia ketiga sehingga pemasaran formula bayi akan


tepat sasaran.
Sedangkan saran yang dapat dikemukakan pada studi kasus ini adalah
sebagai berikut :
1. Tetap melakukan pendekatan edukasi pada ibu bayi sebagai pelaku
pemakai formula bayi dalam rangka memberikan formula bayi
tersebut pada bayi-bayinya.
2. Memberikan kontribusi yang signifikan selain benefit atau
keuntungan secara profit seperti mendanai program-program
kesehatan dan imunisasi.
3. Mengedepankan promosi dalam bentuk sponsor dalam kegiatan
peduli terhadap permasalahan yang beredar di masyarakat seperti
sponsor dan bantuan dalam menanggulangi atau memerangi HIV dan
AIDS dengan ikut mensupport kegiatan anti AIDS.

DAFTAR PUSTAKA

Kotler, Philip., Keller, Kavin Lane. 2009. Manajemen Pemasaran Ed. Ke-13
Jilid 2
Sumber internet:
https://agneskurniawan.wordpress.com/2007/10/21/nestle-tempo-doeloe/
http://liecietie.blogspot.co.id/2012/10/nestle.html
http://meilianasarihasibuan.blogspot.co.id/2012/04/tugas-manajemenstrategi-planning.html