0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9K tayangan16 halaman

Laporan Kasus Internsip

Laporan kasus ini membahas pasien laki-laki berusia 60 tahun dengan keluhan utama mudah lelah dan cepat capek. Pasien didiagnosis dengan diabetes melitus dan hipertensi berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik.

Diunggah oleh

riva rainiza zuddin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9K tayangan16 halaman

Laporan Kasus Internsip

Laporan kasus ini membahas pasien laki-laki berusia 60 tahun dengan keluhan utama mudah lelah dan cepat capek. Pasien didiagnosis dengan diabetes melitus dan hipertensi berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik.

Diunggah oleh

riva rainiza zuddin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Kasus Internsip

Diabetes Melitus
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menjalani
Program Internsip di Puskesmas Lut Tawar

Disusun Oleh:
dr. Muhammad Qisthi Lazuardi Herman

Pembimbing:

dr. Linda Yanthy, M.K.M

PUSKESMAS LUT TAWAR


KABUPATEN ACEH TENGAH
PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA (PIDI)
ACEH TENGAH
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus

Diabetes Melitus

Oleh:
dr. Muhammad Qisthi Lazuardi Herman

Peserta Internsip Dokter Indonesia


Kabupaten Aceh Tengah
Provinsi Aceh
Periode 2/2022

Dokter Pendamping PIDI


Puskesmas Lut Tawar

dr. Linda Yanthy, M.K.M


NIP. 19740227200312 2 002

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus yang berjudul
“DIABETES MELITUS”. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada
Rasulullah Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari alam
kegelapan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Penyusunan Laporan Kasus ini merupakan salah satu tugas dalam menjalani
Kegiatan Program Internsip Dokter Indonesia. Penulis menyadari bahwa
penyusunan tugas Laporan Kasus ini tidak terwujud tanpa adanya bantuan dan
bimbingan serta dukungan dari dokter pembimbing. Oleh karena itu pada
kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada dr. Linda
Yanthy, M.K.M yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan tugas
Laporan Kasus ini.

Penulis telah berusaha melakukan yang terbaik dalam penulisan tugas


Laporan Kasus ini, namun penulis menyadari masih jauh dari kesempurnaan.
Segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk
penyempurnaan tulisan ini. Akhir kata penulis berharap semoga tugas ini dapat
bermanfaat bagi penulis dan semua pihak khususnya di bidang kedokteran serta
dapat memberikan sumbangan pengetahuan bagi pihak yang membutuhkan.

Takengon, 1 November 2022

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN.....................................................................................ii
KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR...............................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
BAB II LAPORAN KASUS....................................................................................2
2.1. Identitas Pasien...................................................................................................2
2.2. Anamnesis..........................................................................................................2
2.3. Pemeriksaan Fisik..............................................................................................3
2.4. Pemeriksaan penunjang......................................................................................4
2.5. Diagnosa.............................................................................................................4
2.6. Tatalaksana.........................................................................................................4
2.7. Planning.............................................................................................................5
BAB III ANALISA KASUS...................................................................................6
BAB IV KESIMPULAN.......................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................11

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. .........................................................................................................10

v
BAB I
PENDAHULUAN

Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik


dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau keduanya. Hiperglikemia adalah suatu kondisi medis berupa
peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal yang menjadi karakteristik
beberapa penyakit terutama diabetes melitus di samping berbagai kondisi lainnya.
Diabetes melitus (DM) saat ini menjadi salah satu ancaman kesehatan global.
Berdasarkan penyebabnya, DM dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu
DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestasional dan DM tipe lain.

Data RISKESDAS 2018 menjelaskan prevalensi DM nasional adalah


sebesar 8,5 persen atau sekitar 20,4 juta orang Indonesia terdiagnosis DM. Pasien
DM juga sering mengalami komplikasi akut dan kronik yang serius, dan dapat
menyebabkan kematian.

Resistensi insulin pada sel otot dan hati, serta kegagalan sel beta pankreas
telah dikenal sebagai patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe 2. Hasil
penelitian terbaru telah diketahui bahwa kegagalan sel beta terjadi lebih dini dan
lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya. Organ lain yang juga terlibat pada
DM tipe adalah jaringan lemak (meningkatnya lipolisis), gastrointestinal
(defisiensi inkretin), sel alfa pankreas (hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan
absorpsi glukosa), dan otak (resistensi insulin), yang ikut berperan menyebabkan
gangguan toleransi glukosa.

Secara epidemiologik, diabetes seringkali tidak terdeteksi sehingga sering


dikatakan bahwa onset diabetes adalah 7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan,
sehingga morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi
dini. Perubahan perilaku rural-tradisional menjadi urban juga menjadi salah satu
hal yang memppengaruhi epidemiologi diabetes, dimana faktor lainnya seperti
usia, aktifitas, obesitas, dan diistribusi lemak tubuh masih tetap berpengaruh

1
BAB II
LAPORAN KASUS
2.1.Identitas Pasien
Nama : Tn. MS
Usia : 60 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Toweren Toa
No Rekam Medis : 0000214807239
Tanggal Periksa : 04 Agustus 2022

2.2. Anamnesis
Keluhan Utama :
Mudah lelah
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan badan terasa mudah lelah, cepat capek dan
lemas yang telah dirasakan sejak beberapa minggu terakhir. Pasien mengeluhkan
rasa lelah menggangu aktifitas pasien di ladang. Pasien juga mengaku akhir akhir
ini sering BAK terutama pada malam hari. Pasien juga mengaku sering minum
dan sering mengkonsumsi makanan ringan sehingga perut terasa membuncit.
Pasien juga mengeluhkan rasa nyeri dan tidak nyaman pada sekitar leher belakang
bawah yang menjalar hingga ke bahu dan lengan. Keluhan dirasakan sejak
beberapa hari terakhir. Pasien mengaku tidak ada pantangan makanan selama ini.
Pasien merupakan penderita hipertensi yang rutin mengkonsumsi obat anti
hipertensi yang didapatkan dari puskesmas.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien memiliki penyakit hipertensi dan rutin mengkonsumsi obat dari
puskesmas
Riwayat Penyakit Keluarga :
Disangkal
Riwayat Pemakaian Obat :
Amlodipine 1x5mg
Riwayat Kebiasaan Sosial

2
Pasien sehari hari bekerja sebagai petani. Pasien mengaku merokok namun lupa
sejak usia berapa tahun. Saat ini pasien merokok sekitar 1 bungkus sehari.

2.3. Pemeriksaan Fisik


a. Vital Sign
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah: 150/100 mmHg
Nadi : 90 x/menit, irreguler, kuat angkat, T/V cukup
F. napas : 17x/menit
Suhu : 36,8oC
BB : 60 kg
TB : 153 cm
IMT : 25.6
b. Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kulit : Pucat (-) Ikterus (-)
Mata : Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
Telinga : Normotia, dbn
Hidung : Sekret (-), dbn
Mulut : Sianosis (-), dbn
Leher : Pembesaran KGB (-) TVJ R-2 cmH2O
Thorax
a. Paru
Anterior
Inspeksi : Simetris, Retraksi (-), bentuk dada normal, spider naevi (-)
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler (+), Rhonki (-/-)Wheezing(-/-)
Posterior
Inspeksi : Simetris, Retraksi (-), bentuk dada normal, spider naevi (-)
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler (+), Rhonki (-/-)Wheezing(-/-)

3
b. Jantung
Inspeksi : Pulsasi ictus kordis tidak terlihat
Palpasi : Pulsasi ictus kordis teraba
Perkusi : Batas jantung normal, tidak ada pembesaran
Auskultasi: : BJ I> BJ II reguler, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : Distensi (-)
Palpasi :Nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, nyeri tekan (-), splenomegaly
(-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Peristaltik normal
Anus : tidak diperiksa
Ekstremitas
Superior : CRT < 2 detik, palmar eritemma (-/-), sianosis (-/-). Edema (-/-)
Inferior : CRT < 2 detik, palmar eritemma (-/-), sianosis (-/-). Edema (-/-)

2.4. Pemeriksaan penunjang


Laboratorium
Hasil
Jenis Pemeriksaan Nilai Rujukan
(04/08/2022)
Gula darah sewaktu 225 <200 mg/dl
Kolesterol total 295 150 - 200 mg/dL
Asam urat Pria : 3.6 – 8.5mg/dL
7.4*
Wanita : 2.3 – 6.6mg/dL

2.5. Diagnosa
1. Diabetes melitus tipe 2 non obese
2. Hipertensi stage II
3. Hiperkolesterolemia
4. Hiperurisemia
2.6.Tatalaksana
- Captopril 2x12.5mg
- Simvastatin 1x20mg

4
- Allopurinol 1x100mg
- Metformin 2x500mg
2.7. Planning
- Darah rutin
- KGDP, KGD2PP
- EKG
- Profil lipid
- Cek fungsi ginjal
- HbA1c
- Cek fungsi hati

5
BAB III
ANALISA KASUS

Pasien seorang laki laki dengan usia 60 tahun, bekerja sebagai petani dan
memiliki kebiasaan merokok. Diabetes melitus merupakan suatu kelompok
penyakit metabolik dengan katarkteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Penyakit ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah bertambahnya usia,
kebiasaaan aktifitas fisik dan gaya hidup, terutama makanan yang cenderung
terpengaruh oleh globalisasi sehingga penyakit degeneratif dan metabolik semakin
banyak muncul1,2

Pasien datang dengan keluhan badan mudah lelah, cepat capek dan merasa
lemas. Pasien juga mengeluhkan mulai sering kencing terutama pada malam hari,
perut terasa membuncit karena pasien mulai sering memakan cemilan dibanding
sebelumnya. Diabetes melitus memiliki gejala khas dan tidak khas. Gejala khas
DM diantara lain poliuria (sering BAK), polidipsia (sering minum) polifagia
(sering makan), dan adanya penurunan berat badan tanpa hal yang jelas. DM juga
memiliki gejala tidak khas seperti lemas, kesemutan, luka yang sulit sembuh,
gatal, mata kabur, gangguan ereksi dan prutis vulva. Dari anamnesis pada pasien
ini didapatkan pasien memiliki beberapa gejala khas seperti sering BAK, banyak
minum dan memakan cemilan. Pasien juga memiliki gejala tidak khas seperti
badan terasa lemas2.

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar GDS pasien 295.


Terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk melakukan
pengecekan kadar gula dalah pasien dalam membantu menegakkkan diagnosis
diabetes melitus, yaitu

 Glukosa plasma sewaktu, yaitu hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari
tanpa memperhatikan waktu makan terakhir pasien
 Glukosa plasma puasa, dimana pemeriksaan dilakukan setelah pasien
tidak mendapatkan intake kalori selama sedikitnya 8 jam

6
 Tes toleransi glukosa oral, yaitu suatu keadaaan khusus dimana sesuai
standar WHI dimana diberikan beban glukosa setraea dengan 75 gram
glukosa anhidrus yang dilarutkan kedalam air2.

Dalam penegakan diagnosis diabetes melitus, terdapat beberapa kriteria


dalam penegakannya berdasarkan gejala klinis dan hasil laboratorium, diantara
lain

1. Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu >200mg/dL, atau


2. Gejala klasik DM + glukosa plasma puasa >126mg/dL, atau
3. Glukosa plasma 2 jam pada TTGO >200mg/dL, atau
4. Pemeriksaan HbA1c >6.5% dengan metode yang terstandarisasi oleh
National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP) dan
Diabetes Control and Complication Trial assay (DCCT)3

Gambar 1. Alur penegakan diagnosis Diabetes Melitus4

7
Berdasarkan kriteria diagnosis tersebut, maka pasien ini sesuai dengan
kriteria diagnosis (1), dimana pasien memiliki gejala klasik DM yaitu polidipsia,
poliruia, dan polifagia, serta kadar glukosa plasma puasa 295mg/dL, memenuhi
kriteria diagnosis DM (1)2.

Pasien mendapatkan terapi berupa Metformin dengan dosis 2x500mg.


metformin merupakan golongan biguanid yang bekerja meningkatkan penggunaan
glokosa pada jaringan perifer sehingga menurunkan kadar glukosa dalam darah
dan dan menghambat absorpsi glukosa di susu setelah asupan makanan.
Metformin juga dapat menstimulasi Glukagon like Peptide 1 dari gastrointestinal
yang menekal produksi glukagon pada sel alfa pankreas sehingga mengurangi
hiperglikemia saat puasa. Pemilihan metformin juga didasarkan atas beberapa
sifat biguanid lainnya. Metformin tidak memiliki efek stimulasi pada sel beta
pankreas sehingga tidak mengakibatkan hipoglikemia dan penambahan berat
badan. Metformin juga memiliki efektivitas yang cukup sebagai monoterapi,
dengan dosis harian 250-300mg dan lama kerja 6-8 jam, metformin dapat
diberikan dengan frekuensi 1-3 kali per hari bergantung kebutuhan pasien4.

Pada pemeriksaan pada pasien juga didapatkan beberapa hal lain yang
abnormal seperti tekanan darah 150/100mmHg, kolesterol total 295mg/dL dan
kadar asam urat 7.9mg/dL. Pasien juga mendapatkan terapi lain berupa Captopril
dengan dosis 2x12.5mg per hari untuk hipertensi pasien, Simvastatin 1x20mg
untuk dislipidemia pasien dan Allopurinol 1x100mg untuk hiperurisemia pasien.
Berdasarkan beberapa temuan ini, maka pasien dicurigai mengalami sindroma
metabolik, meskipun dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut terutapa pada profil
lipid untuk menentukan kadar kolesterol LDL, HDL dan TG. Sindroma metabolik
merupakan suatu keadaan terjadinya beberapa kelainan yang dapat meningkatkan
resiko terjadinya penyakit jantung, resistensi insulin dan diabetes, serta gangguan
neurologis pada seseorang5. Kriteria penegakan sindroma metabolik antara lain

 Berat badan : lingkar pinggang yang meningkat (pria >90cm, wanita


>80cm) ditambah 2 kriteria lain
 Lipid : trigliserida >150mg/dL atau dalam terapi, HDL <40mg/dL pada
pria atau <50mg/dL pada wanita atau dalam pengobatan

8
 Tekanan darah : sistolik >130mmHg atau diastol >85mmHg atau dalam
terapi
 Glukosa : >100mg/dL, termasuk pasien diabetes

Pada pasien didapatkan peningkatan tekanan darah (dalam terapi


hipertensi), profil lipid (kolesterol total), dan kadar glukosa darah (terdiagnosis
diabetes), sehinngga pasien dicurigai mengalami sindroma metabolik6.

Pada pasien dengan diabetes dan curiga sindroma metabolik, terapi anti
hipertensi yang direkomendasikan adalah Angiotensin Converting Enzyme
inhibitor (ACE-i) atau Angiotensin Receptor Blocker, dimana kedua pilihan ini
dapat memperbaiki kinerja kardiovaskular. Berdasarkan hal tersebut maka pasien
di terapi dengan Captopril yang merupakan golongan ACE-I dengan dosis
2x12.5mg/hari, menggantikan terapi dengan Calcium Channel Blocker (CCB)
sebelumnya3

Untuk terapi dislipidemia pada pasien diabetes direkomendasikan


menggunakan golongan statin untuk menurunkan kadar LDL serta mengurangi
terjadinya komplikasi kardiovaskular. Pada pasien diberikan Simvastatin dengan
dosis 1x20mg3. Pasien juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan profil lipid
untuk mengetahui kadar kolesterol LDL dan TG yang sebenarnya.

Pada peningkatan asam urat pada pasien diberikan terapi berupa


penghambat xanthine oksidase yaitu Allopurinol dengan dosis 1x100mg.
Pemberian allopurinol bertujuan untuk mengurangi kadar asam urat pada pasien
dan mencegah timbulnya gejala gout7.

9
BAB IV
KESIMPULAN

Telah dilaporkan suatu kasus pasien laki laki berusia 60 tahun dengan
keluhan badan lemas. Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluh badan lemas
disertai dengan keluhan seperti sering buang air kecil, sering minum dan sering
memekan cemilan. Pasien mengaku tidak memiliki riwayat penyakit DM
sebelumnya. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan GDS 225mg/dl,
kolesterol total 295mg/dL dan asam urat 7.4mg/dL. Berdasarkan gejala klinis dan
hasil laboratorium, pasien memenuhi untuk didiagnosis dengan diabetes melitus
tipe 2. Pengobatan diabetes mulai dilakukan pada pasien dengan golongan
biguanid yaitu Metformin dengan dosis pemberian 2x500mg. Pasien juga
mendapatkan pengobatan terkait kondisi lain yang ditemukan pada pasien seperti
hipertensi, hiperkolesterol dan hiperurisemia yang disesuaikan dengan keadaan
diabetes pasien. Pasien harus diberikan edukasi tentang diet dan pencegahan
komplikasi pada diabetes untuk menghindari keadaan yang lebih parah terjadi.

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Suyono S. Diabetes Melitus di Indonesiia. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit


Dalam. Edisi 6. Interna Publishing; 2014. hal. 2315–22.
2. Purnamasari D. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. In: Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 6. Interna Publishing; 2014. hal. 2323–7.
3. Soelistijo SA, Swastika K, Lindarto D. Pedoman Pengelolaan dan
Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. PB PERKENI; 2021.
119 hal.
4. Soegondo S. Farmakoterapi pada Pengendalian Glikemia Diabetes Melitus
Tipe 2. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 6. Interna Publishing;
2014. hal. 2328–35.
5. Swarup S, Goyal A, Grigorova Y, Zeltser R. Metabolic Syndrome. In:
StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022.
Tersedia pada: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459248/
6. Soegondo S, Purnamasari D. Sindrom Metabolik. In: Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi 6. Interna Publishing; 2019. hal. 2535–63.
7. Kambayana G. Tatalaksana Komprehensif Gout. Surabaya: Pertemuan
Ilmiah Nasional (PIN) PAPDI ke 17; 2019. hal. 49.

11

Anda mungkin juga menyukai