Anda di halaman 1dari 4

a.

Pengertian Tafsir bi ar-Rayi


Tafsir bi ar-Rayi adalah metode penafsiran dengan cara ijtihad dan penyimpulan
melalui pemahaman sendiri serta penyimpulan yang hanya didasarkan pada rayu
semata.
b. Pengertian Tafsir Isyari
Kata al-isyarah merupakan bentuk sinonim (muradif) dari kata ad-dalil yang berarti
tanda, petunjuk, isyarat, sinyal, perintah, panggilan, nasehat, dan saran. Tafsir Isyari
menurut istilah adalah mentakwilkan al-Quran dengan makna yang bukan makna
lahiriyahnya karena adanya isyarat samar yang diketahui oleh para penempuh jalan
spiritual dan tasawuf dan mampu memadukan antara makna-makna itu dengan makna
lahiriyah yang juga dikehendaki oleh ayat yang bersangkutan.
c. Pengertian Tafsir Maudhui
Kata maudhui berasal dari bahasa arab yaitu maudhu yang merupakan isim maful dari
fiil madhi wadhaa yang berarti meletakkan, menjadikan, mendustakan dan membuatbuat. Arti maudhui yang dimaksud di sini ialah yang dibicarakan atau judul atau topik
atu sektor, sehingga tafsir maudhui berarti penjelasan ayat-ayat Alquran yang mengenai
satu judul/topik/sektor pembicaraan tertentu. Dan bukan maudhui yang berarti yang
didustakan atau dibuat-buat, seperti arti kata hadis maudhu yang berarti hadis yang
didustakan/dipalsukan/dibuat-buat. Adapun pengertian tafsir maudhui (tematik) ialah
mengumpulkan ayat-ayat al-quran yang mempunyai tujuan yang satu yang bersamasama membahas judul/topik/sektor tertentu dan menertibkannya sedapat mungkin sesuai
dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan
ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubunganhubungannya dengan ayat-ayat lain, kemudian mengistimbatkan hukum-hukum.
d. Metode Tahlili
Metode ini adalah yang paling tua dan paling sering digunakan. Menurut Muhammad
Baqir ash-Shadr, metode ini, yang ia sebut sebagai metode tajzi'i, adalah metode yang
mufasir-nya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Quran dari berbagai seginya
dengan memperhatikan runtutan ayat al-Qur`an sebagaimana tercantum dalam al-Qur`an.
Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal
hingga akhir sesuai dengan susunan Al-Qur'an. Dia menjelaskan kosa kata dan lafazh,
menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsurunsur Ijaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat
diambil dari ayat yaitu hukum fiqih, dalil syari, arti secara bahasa, norma-norma akhlak
dan lain sebagainya.
e. Metode Ijmali
Metode ini adalah berusaha menafsirkan Al-Qur'an secara singkat dan global, dengan
menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga
mudah dipahami. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili namun memiliki
perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar. Keistimewaan
tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh lapisan dan tingkatan
kaum muslimin secara merata. Sedangkan kelemahannya ada pada penjelasannya yang
terlalu ringkas sehingga tidak dapat menguak makna ayat yang luas dan tidak dapat
menyelesaikan masalah secara tuntas.
f. Metode Muqaran
Metode tafsir muqaran yaitu metode yang ditempuh seorang mufasir dengan cara
mengambil sejumlah ayat al-Quran, kemudian mengemukakan penafsiran para mufasir
terhadap ayat-ayat itu, dan mengungkapkan pendapat mereka serta membandingkan segisegi kecenderungan masing-masing yang berbeda dalam menafsirkan al-Quran. melalui
cara ini mufasir mengetahui posisi dan kecenderungan para mufasir yang sebelumnya
yang dimaksud dalam obyek kajian.

1. Jelaskan kaidah-kaidah yang menjadi pedoman para Ulama dalam menafsirkan alQuran?
Jawab:
2. Sebutkan syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mufassir dalam menafsirkan alQuran?
Jawab:
Menafsirkan Al-Quran merupakan amanah berat. Oleh karena itu, tidak setiap orang
memiliki otoritas untuk mengemban amanah tersebut. Siapa saja yang ingin menafsirkan
Al-Quran harus memenuhi syarat-syarat tertentu.
Syarat mufassir secara umum terbagi menjadi dua: aspek pengetahuan dan aspek
kepribadian.
a. Syarat Pertama: Aspek Pengetahuan
Imam Jalaluddin As-Suyuthy dalam Al-Itqn f Ulm al-Qurn menyebutkan
lima belas ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mufassir, yakni:
1) Bahasa Arab karena dengannya seorang mufassir mengetahui penjelasan kosakata
suatu lafal dan maksudnya sesuai dengan objek
2) Nahwu karena suatu makna bisa saja berubah-ubah dan berlainan sesuai dengan
perbedaan irab.
3) Tashrf (sharaf) karena dengannya dapat diketahui bin (struktur) dan shghah
(tense) suatu kata.
4) Isytiqq (derivasi) karena suatu nama apabila isytiqqnya berasal dari dua subjek
yang berbeda, maka artinya pun juga pasti berbeda. Misalnya () , apakah
berasal dari ( ) atau ().
5) Al-Mani karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkb (komposisi) suatu
kalimat dari segi manfaat suatu makna.
6) Al-Bayn karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkb (komposisi) suatu
kalimat dari segi perbedaannya sesuai dengan jelas tidaknya suatu makna.
7) Al-Bad karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkb (komposisi) suatu
kalimat dari segi keindahan suatu kalimat.
8) Ilmu qirah karena dengannya dapat diketahui cara mengucapkan Al-Quran dan
kuat tidaknya model bacaan yang disampaikan antara satu qri dengan qri
lainnya.
9) Ushluddn (prinsip-prinsip dien) yang terdapat di dalam Al-Quran berupa ayat
yang secara tekstual menunjukkan sesuatu yang tidak boleh ada pada Allah taala.
Seorang ahli ushul bertugas untuk menakwilkan hal itu dan mengemukakan dalil
terhadap sesuatu yang boleh, wajib, dan tidak boleh.
10) Ushul fikih karena dengannya dapat diketahui wajh al-istidll (segi penunjukan
dalil) terhadap hukum dan istinbth.
11) Asbbun Nuzl (sebab-sebab turunnya ayat) karena dengannya dapat diketahui
maksud ayat sesuai dengan peristiwa diturunkannya.
12) An-Nsikh wa al-Manskh agar diketahui mana ayat yang muhkam (ditetapkan
hukumnya) dari ayat selainnya.
13) Fikih.
14) Hadits-hadits penjelas untuk menafsirkan yang mujmal (global) dan mubham
(tidak diketahui).
15) Ilmu muhibah, yaitu ilmu yang Allah taala anugerahkan kepada orang yang
mengamalkan ilmunya.
Menurut Ahmad Bazawy Adh-Dhawy , maka ia harus menguasai tiga syarat
pengetahuan tambahan selain lima belas ilmu di atas. Tiga syarat pengetahuan
tersebut adalah:
1) Mengetahui secara sempurna ilmu-ilmu kontemporer hingga mampu memberikan
penafsiran terhadap Al-Quran yang turut membangun peradaban yang benar agar
terwujud universalitas Islam.
2) Mengetahui pemikiran filsafat, sosial, ekonomi, dan politik yang sedang
mendominasi dunia agar mufassir mampu mengcounter setiap syubhat yang
ditujukan kepada Islam serta memunculkan hakikat dan sikap Al-Quran Al-Karim

terhadap setiap problematika kontemporer. Dengan demikian, ia telah


berpartisipasi dalam menyadarkan umat terhadap hakikat Islam beserta
keistimewaan pemikiran dan peradabannya.
3) Memiliki kesadaran terhadap problematika kontemporer. Pengetahuan ini sangat
urgen untuk memperlihatkan bagaimana sikap dan solusi Islam terhadap problem
tersebut.
b. Syarat Kedua: Aspek Kepribadian
Adapun syarat kedua yang harus terpenuhi pada diri seorang mufassir adalah syarat
yang berkaitan dengan aspek kepribadian. Yang dimaksud dengan aspek kepribadian
adalah akhlak dan nilai-nilai ruhiyah yang harus dimiliki oleh seorang mufassir agar
layak untuk mengemban amanah dalam menyingkap dan menjelaskan suatu hakikat
kepada orang yang tidak mengetahuinya. Para ulama salaf shalih mengartikulasikan
aspek ini sebagai adab-adab seorang alim. Imam Abu Thalib Ath-Thabary
mengatakan di bagian awal tafsirnya mengenai adab-adab seorang mufassir,
Ketahuilah bahwa di antara syarat mufassir yang pertama kali adalah benar
akidahnya dan komitmen terhadap sunnah agama.
3. Jelaskan tentang persamaan dan perbedaan antara metode maudhui dengan metode tafsir
muqaran?
Jawab:
No

Metode Maudhui

Metode Muqaran

1.

Mufassir tidak berbicara tema lain


selain tema yang sedang dikaji.

Mufassir menjelaskan al-Quran


dengan apa saja yang ditulis oleh
para mufassir.

2.

Mufassir tidak terikat dengan uraian


para mufassir.

Mufassir terikat dengan uraian para


mufassir.

4. Jelaskan sejarah hidup Ibnu Katsir dan bagaimana corak penafsiran al-Quran menurut
Ibnu Katsir?
Jawab:
a. Sejarah Hidup Ibnu Katsir
Ibnu Katsir dilahirkan di Basyra, 700 H/1300 M, dan wafat di Damakus bulan
Syaban 774 H/Februari 1373. Nama lengkapnya adalah Imaduddin Ismail bin Umar bin
Katsir. Ia seorang ulama yang terkenal dalam ilmu tafsir, hadits, sejarah, dan fiqih. Ia
berguru kepada banyak ulama terkenal, termasuk Ibnu Taimiyah. Semasa muda,
Imaduddin Ismail menduduki banyak jabatan penting di bidang pendidikan. Beliau juga
menjadi guru besar di Masjid Umayyah Damaskus. Ia juga aktif menulis buku tafsir,
yakni Tafsir Ibnu Katsir yang terdiri dari 10 jilid. Juga Fadail al-Quran (Keutamaan
Alquran). Dia juga menulis buku sejarah. Salah satu yang paling terkenal adalah alBidayah wa an-Nihayah (Permulaan dan Akhir), yang sering dijadikan rujukan utama
dalam penulisan sejarah Islam. Ibnu Katsir juga menulis banyak buku hadits dan fiqih.
Sebut saja, Kitab Jami as-Masanid wa as-Sunan (Kitab Penghimpunan Musnad dan
Sunan), al-Kutub as-Sittah (Kitab-kitab Hadis yang Enam), dan al-Mukhtasar
(Ringkasan).
Ibnu Katsir (Imam al-Hafidz Imaduddin Abul-Fida Ismail bin Katsir) merupakan
salah seorang ulama tafsir terkemuka. Karyanya, Tafsir Ibnu Katsir, merupakan salah
satu tafsir klasik Alquran yang menjadi pegangan kaum Muslimin selama berabad-abad.
Ibnu Katsir telah melakukan suatu kajian tafsir dengan sangat teliti, dilengkapi dengan
hadis-hadis dan riwayat-riwayat yang masyhur. Kecermatan dan kepiawannya dalam
menafsirkan Kitab Suci Alquran yang mulia, menjadikan Tafsir Ibnu Katsir sebagai kitab
rujukan di hampir semua majelis kajian tafsir di seluruh dunia Islam.
Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri, kedalaman kajian dan terjadinya
banyak pengulangan di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir menjadikan kitab itu tebal dan
berjilid-jilid. Atas dorongan para ulama Yaman, Maroko, Mesir, Arab Saudi, dan

Libanon, akhirnya Muhammad Nasib ar-RifaI (seorang ulama asal Suriah) meringkas
kitab tafsir itu menjadi hanya empat jilid saja. Penerbit Gema Insani telah
menerjemahkan dan menerbitkan keempat jilid lengkap buku Ringkasan Tafsir Ibnu
Katsir itu.
b. Corak Penafsiran al-Quran menurut Ibnu Katsir
Adapun dari segi corak, tafsir Ibnu Kasir tergolong kepada tafsir yang bercorak bil
masur, karena dalam upaya menafsirkan suatu ayat beliau sangat dominan dalam
menafsirkannya menggunakan riwayat, pendapat sahabat, serta tabiin, meskipun
sebagian kecilnya beliau menggunakan royu. Secara umum, langkah-langkah
penafsirannya dapat dibagi sebagai berikut:
1) Menafsirkan ayat dengan ayat, yaitu beliau menjelaskan maksud suatu ayat dengan
ayat yang lain.
2) Menafsirkan ayat dengan riwayat atau hadis, yaitu ketika beliau tidak menemukan
ayat yang mempunyai keterkaitan dengan ayat yang sedang di tafsirkan, maka beliau
mencari riwayat yang menjelaskan ayat tersebut. Akan tetapi, sekalipun beliau
menemukan ayat lain yang berhubungan dengan ayat yang sedang beliau tafsirkan,
beliau tetap mencantumkan hadis atau riwayat. Namun hanya berfungsi untuk
melengkapi penjelasan.
3) Menafsirkan ayat dengan perkataan sahabat, yakni dalam menafsirkan suatu ayat
terkadang Imam Ibnu Kasir menukil perkataan sahabat yang berkenaan dengan ayat
tersebut.
4) Menafsirkan ayat dengan perkataan tabiin. Dalam corak tafsir bi al-masur
penafsiran al-Quran dengan menukil perkataan tabiin adalah cara yang paling akhir.
5) Menafsirkan ayat dengan royu. Sebenarnya ini adalah cara yang tidak disenangi oleh
Ibnu Kasir, namun beliau membolehkannya asal memenuhi syarat-syarat tertentu.