Anda di halaman 1dari 11

PENELITIAN

Penelitian Narasi,
Fenomenologi,
Grounded
Theory(teori dasar),
Etnografi dan Studi
Kasus.

Perbandingan Kelima Pendekatan

PERBANDINGAN KELIMA PENDEKATAN


Kelima pendekatan secara umum memiliki proses lazim mengenai penelitian yang mulai
dengan sebuah permasalahan penelitian dan kemajuan terkait pertanyaan-pertanyaan
penelitian, data, analisis data dan laporan penelitian. Mereka juga menggunakan proses
pengumpulan data yang sama, penyertaan, dalam tingkatan yang bervariasi, wawancara,
pengamatan, dukumen, dan bahan audiovisual. Juga, sepasang kesamaan potensial di antara
rancangan harus dicatat. Penelitian narasi, etnografi dan penelitian studi kasus mungkin
terlihat mirip ketika unit analisis merupakan sosok individu tunggal. Benar, seorang peneliti
mungkin saja dapat mendekati studi tentang sosok individu tunggal dengan menggunakan satu
dari ketiga pendekatan ini, bagaimanapun jenis-jenis data sosok tersebut akan dikumpulkan
dan dianalisa akan dipertimbangan secara berbeda. Dalam penelitian narasi, para penyelidik
fokus pada sejarah yang dikisahkan dari seorang individu dan menata kisah ini dalam aturan
kronologis. Dalam etnografi, fokusnya pada latar sejarah individu dalam sebuah konteks
budaya dan kelompok budaya berbagi mereka. Dalam penelitian studi kasus, kasus tunggal
secara

khusus

dipilih

untuk

menggambarkan

sebuah

permasalahan

dan

peneliti

mengumpulkan deskripsi rinci mengenai latar untuk sebuah kasus. Seperti komentar Yin
(2003), Anda akan menggunakan metode studi kasus karena anda dengan sengaja ingin
mengungkap kondisi kontekstual- keyakinan dimana mereka mungkin sangat berhubungan
dengan fenomena studi anda (hlm. 13). Pendekatan penulis yang disarankan adalah jika para
peneliti mengingini studi sosok individu tunggal, pendekatan narasi atau studi kasus tunggal
mungkin dapat dipertimbangkan karena etnografi merupakan sebuah bingkai budaya yang
sangat luas. Kemudian ketika membandingkan studi narasi dengan studi kasus tunggal,
penulis merasa pendekatan narasi terlihat lebih akademis karena studi narasi ditujukan fokus
pada individu tunggal, sedangkan studi kasus seringkali melibatkan lebih dari sebuah kasus.
Dari gambaran ringkas kelima pendekatan ini, penulis dapat mengenali perbedaan
mendasar dari antara jenis penelitian kualitatif ini. Seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.1,

penulis menyajikan sejumlah dimensi untuk membedakan di antara kelima pendekatan. Pada
tingkat yang paling bawah, kelimanya berbeda dalam hal mengenai apa yang sedang mereka
lengkapi pada fokus mereka atau objek utama dari studi. Penyelidikan sebuah kehidupan
merupakan hal yang berbeda dari proses generalisir sebuah teori atau penggambaran perilaku
sebuah kelompok budaya. Selain itu, meski adanya tumpang tindih dalam menentukan dari
mana asal disiplin ilmunya, sejumlah pendekatan memiliki tradisi disiplin ilmu sendiri
(misalnya teori dasar berasal dari sosiologi, etnografi mengakar pada antropologi atau
sosiologi) dan yang lainnya memiliki latarbelakang interdisiplin ilmu yang luas (misalnya,
narasi dan studi kasus). Pengumpulan data memiliki keragaman dalam hal penggunaan istilah
dalam titik tekannya (misalnya, lebih banyak pengamatan dalam etnografi, lebih banyak
wawancara dalam teori dasar) dan kesinambungan pengumpulan data (misalnya, hanya
wawancara dalam fenomenologi, bentuk rangkap pengumpulan data dalam penelitian studi
kasus untuk menyajikan potret kasus yang mendalam). Pada tahap analisis data, perbedaanperbedaan tersebut sangat nampak. Tidak hanya menyangkut satu perbedaan khusus mengenai
sebuah analisis (misalnya teori dasar sangat bersifat unik, penelitian narasi kurang terumus
dengan baik), tetapi sejumlah langkah yang diambil juga bervariasi (misalnya, langkah yang
luas dalam fenomenologi, sejumlah kecil langkah-langkah dalam etnografi). Hasil dari setiap
pendekatan berupa laporan tertulis mengambil bentuk semua proses-proses sebelumnya.
Narasi tentang kehidupan seseorang membentuk penelitian narasi. Penggambaran sebuah inti
pengalaman fenomena menjadi sebuah fenomenologi. Sebuah teori seringkali tergambar
dalam sebuah model visual, menekankan pada teori dasar dan sebuah pandangan yang
menyeluruh tentang bagaimana kelompok budaya berbagi beraktifitas dihadirkan dalam
etnografi. Sebuah studi mendalam mengenai sebuah sistem atau kasus yang terbatas (atau
sejumlah kasus) menjadi sebuah studi kasus.
Terkait dengan dimensi tabel 4.1. terhadap disain penelitian dalam kelima pendekatan
akan menjadi fokus bab selanjutnya. Para peneliti mendapatinya begitu membantu untuk

memahami poin ini secara umum menggambarkan secara keseluruhan struktur dari kelima
pendekatan. Mari periksa pada tabel 4.2. tentang struktur masing-masing pendekatan.

Tabel 4.1
Narasi
Menyelidiki
kehidupan
seorang
individu

Fenomenologi
Memahami inti
pengalaman

Teori Dasar
Mengembangkan
sebuah teori dasar
dalam data yang
berasal dari
lapangan penelitian

Etnografi
Menggambarkan
dan menafsirkan
sebuah kelompok
budaya berbagi

Jenis
Permasalahan
yang paling
sesuai untuk
disain

Keperluan
untuk
mencerikan
pengalaman
individu

Keperluan untuk
menggambarkan
inti sebuah
fenomena
kehidupan

Mendasarkan
sebuah teori dalam
sudut pandang
partisipan

Menggambarkan
dan menafsirkan
pola berbagi
budaya sebuah
kelompok

Latar belakang
disiplin ilmu

Penggambara
n dari ilmu
kemanusiaan
meliputi
antropologi,
leteratur,
sejarah,
psikologi, dan
sosiologi
Mempelajari
satu atau lebih
individu

Penggambaran
dari ilmu
psikologi dan
pendidikan

Penggambaran dari
ilmu sosiologi

Penggambaran dari
ilmu sosiologi

Mempelajari
beberapa
individu yang
berbagi sebuah
pengalaman

Mempelajari proses,
tindakan atau
interaksi yang
meliputi banyak
individu

Mempelajari
sebuah kelompok
yang berbagi
budaya yang sama

Bentuk
pengumpulan
data

Mengutamaka
n penggunaan
wawancara
dan dokumen

Mengutamakan
penggunaan
wawancara dengan
20-60 individu

Strategi
analisa data

Menganalisa
data untuk
sejarah,
pengisahan
kembali
kisah/sejarah,
pengembanga
n tema, sering
menggunakan
sebuah
rentetan
kronologi
Mengembang
kan sebuah

Mengutamakan
penggunaan
wawancara
dengan individu
meskipun
dokumen,
observasi, dan
seni mungkin
pula dapat
dipertimbangkan
Menganalisa
data untuk
pernyataan
penting,
pemaknaan unit,
tekstural dan
deskripsi
struktural,
deskripsi tentang
sebuah esensi

Mengutamakan
penggunaan
pengamatan dan
wawancara, tetapi
mungkin
pengumpulan
sumber data lain
selama waktu
perpanjangan di
lapangan penelitian
Menganalisa data
melalui deskripsi
kelompok budaya
berbagi, tema-tema
tentang kelompok.

Mendeskripsikan
isi pengalaman

Penerapan sebuah
teori yang

Unit Analisis

Penulisan
laporan

Perbandingan Karakteristik Kelima Pendekatan Kualitatif

Karakteristik
Fokus

Menganalisa data
melalui pengkodean
terbuka,
pengkodean poros,
dan pengkodean
seleksi

Mendeskripsikan
bagaimana sebuah

Studi Kasus
Mengembangkan
sebuah gambaran
dan analisis
mendalam sebuah
kasus tunggal atau
kasus ganda
Menyediakan
sebuah
pemahaman
mendalam
mengenai sebuah
atau banyak kasus
Penggambaran
dari ilmu
psikologi, hukum,
ilmu politik dan
kesehatan

Mempelajari
sebuah peristiwa,
sebuah program,
sebuah aktivitas
dan melibatkan
banyak individu
Menggunakan
banyak sumber,
seperti wawancara,
pengamatan,
dokumen dan alat
perlengkapan
sehari-hari

Menganalisa data
melalui deskripsi
kasus dan tema
kasus sama seperti
tema-tema lintas
kasus

Mengembangkan
sebuah analisa

nrasi tentang
kisah
kehidupan
seseorang

Tabel 4.2
Pendekatan
pelaporan
Struktur
umum studi

digambarkan dalam
sebuah bingkai

aktivitas kelompok
budaya berbagi

rinci mengenai
sebuah atau lebih
banyak kasus

Struktur Pelaporan Masing-Masing Pendekatan


Narasi

Fenomenologi

Teori Dasar

Etnografi

Pendahuluan
(masalah,
pertanyaan)

Pendahuluan
(masalah,
pertanyaan)

Pendahuluan
(masalah,
pertanyaan)

Pendahuluan
(masalah,
pertanyaan)

prosedur
penelitian
(sebuah narasi,
pentingnya
individu,
pengumpulan
data, hasil
analisis)
Pelaporan
kisah/sejarah

prosedur
penelitian(sebuah
asumsi
fenomenologi dan
filosofis,
pengumpulan
data dan analisis)

Prosedur penelitian
(teori dasar,
pengumpulan data,
hasil analisis)

Prosedur penelitian
(etnografi,
pengumpulan data,
hasil analisis)

Pernyataanpernyataan
penting
Makna
pernyataanpernyataan

Pengkodean terbuka

Deskripsi budaya

Pengkodean poros

Analisis tema
budaya

Tema-tema
pemaknaan

Pengkodean
selektif, model dan
proposisi teoritis

Bentuk-bentuk
pengenalan
makna
(peristiwa,
proses, epipanis,
tema)
Ringkasan

Deskripsi yang
mendalam
mengenai
fenomena

Diskusi mengenai
teori dan
mempertentangkan
dengan literatur
yang sudah ada

Penafsiran,
pengalaman
pembelajaran,
pertanyaan yang
timbul

Diadaptasi dari
karya Denzin,
1989a, 1989b

Diadaptasi dari
karya Moustakas,
1994

Para individu
menteorisasikan
tentang
kehidupan
mereka
Mengenali
segmentasi
narasi

Diadaptasi dari
karya Strauss dan
Corbin, 1990

Diadaptasi dari
karya Wolcott

Studi Kasus
Memasukkan
peredupan
Pendahuluan
(masalah,
pertanyaan, studi
kasus,
pengumpulan data,
hasil analisis)

Deskripsi
kasus/kasus-kasus
dan isinya
Pengembangan
permasalahan

Rincian tentang
masalah terpilih
Pernyataan yang
tegas

Penutupan
/penyorotan
Diadaptasi dari
karya Stake, 1995)

Garis panduan dalam tabel 4.2. dapat digunakan dalam perancangan sebuah artikel
jurnal dari sebuah penelitian yang panjang, bagaimanapun dikarenakan sejumlah langkah
dalam setiap pendekatan tersebut, mereka juga memiliki kemampuan terapan seperti bab-bab
dari sebuah disertasi atau sebuah buku kerja yang tebal. Penulis memperkenalkannya karena
pembaca dengan sebuah bekal pengetahuan sebagai pengantar dari masing-masing
pendekatan, sekarang dapat mengurai secara umum rancang bangun sebuah studi. Tentu saja,

rancang bangun ini akan memunculkan dan dapat membentuk secara khusus dengan cara
penyimpulan studi, tetapi ia menyediakan sebuah kerangka kerja untuk sebuah disain
persoalan untuk ditindaklanjuti. Penulis menganjurkan garis panduan ini sebagai ramburambu umum saat ini. Pada bab lima, kita akan memeriksa artikel-artikel jurnal yang
diterbitkan dari kelima pendekatan tersebut, dimana masing-masing studi menggambarkan
sebuah dari kelima pendekatan dan menyelidiki struktur tulisan dari setiap kelima pendekatan
tersebut.

Ringkasan
Dalam bab ini, penulis menggambarkan masing-masing kelima pendekatan terhadap
pendekatan penelitian, -penelitian narasi, fenomenologi, teori dasar, etnografi dan studi kasus.
Penulis menyediakan sebuah definisi (pengertian), sejumlah sejarah pengembangan
pendekatan mengenai pendekatan, dan bentuk-bentuk utama yang dipahami daripadanya dan
penulis merinci prosedur utama untuk pelaksanaan sebuah studi kualitatif. Penulis juga
mendiskusikan sejumlah tantangan utama dalam pelaksanaan setiap pendekatan. Untuk
menyoroti sejumlah perbedaan di antara pendekatan tersebut, penulis menyediakan sebuah
tabel ulasan yang memperbandingkan karakteristik fokusnya, jenis permasalahan penelitian
yang ditujukan padanya, latar belakang disiplin ilmu yang mendasarinya, unit analisis, bentuk
pengumpulan data, strategi analisis data dan tentunya tahap akhir yang lumrah yaitu penulisan
laporan. Penulis juga menyediakan garis panduan mengenai struktur setiap pendekatan yang
mungkin berguna dalam perancangan sebuah studi pada masing-masing kelima jenis. Pada
bab selanjutnya, kita akan memeriksa kelima studi yang menggambarkan seriap pendekatan
dan melihat lebih dekat struktur campuran dari setiap jenis pendekatan.

Bacaan Pengaya

Terdapat sejumlah bacaan yang dapat memperluas ulasan singkat dari masing-masing kelima
pendekatan penyelidikan ini. Pada bab 1, penulis telah menyajikan buku-buku utama yang
akan digunakan untuk memahami diskusi tentang setiap pendekatan. Di sini penulis
menyediakan daftar yang lebih melimpah terkait rujukan yang juga menyertakan kegiatankegiatan-kegiatan utama.
Dalam penelitian narasi, penulis akan mendasarkan pada karya Denzin (1989a,
1989b), Czarniawska (2004), dan khususnya karya Clandinin dan Conelly (2000). Penulis
juga menambahkan dalam daftar buku ini tentang sejarah hidup (angrosino, 1989a), metodemetode humanistik (Plummer, 1983), dan sebuah buku pegangan yang komprehensif dalam
penelitian narasi (Clandidnin, 2006).
Angrosino, M.F. (1989a). Documents of interaction: Biography, and life history in social
science perspective. Gainesville: university of Florida Press
Clandinin, D,J., dan Conelly (Ed). (2006). Handbook of narrative inquiry; Mapping a
methodology. Thousand Oaks, CA: Sage.
Clandinin, D,J., dan Conelly, F.M. (2000). Narrative inquiry: Experience and story in
qualitative research. San Fransisco: Josey-Bass
Czarniawska, B. (2004). Narrative in social science research, London: Sage
Denzin, N.K. (1989a). Interpretive biography. Newburry Park, CA: Sage
Denzin, N.K. (1989b). Interpretive interactionism. Newburry Park, CA: Sage
Elliot, J. (2005). Using narrative in social research: Qualitative and quantitative approaches.
London: Sage
Plummer, K. (1983). Documents of life: An introduction to the problems and litarature of a
humanistic method. London: George Allen & Unwin
Untuk fenomenologi, buku-buku mengenai metode penelitian fenomenologi oleh Moustakas
(1994) dan sebuah pendekatan hermenetik oleh Van Mannen (1990) akan menyediakan
sebuah landasan bab-bab selanjutnya. Panduan prosedural lain untuk penyelidikan meliputi
Giorgi (1985), Polkinghorne (1989), Van Kaam (1966), Colaizzi (1978), Spiegelberg (1982),
Dukes (1984), Oiler (1986) dan Tesch (1990). Untuk perbedaan-perbedaan mendasar antar

hermenetik dan empiris atau fenomenologi transendental, lihat Lopez dan Willis (2004) dan
untuk sebuah diskusi tentang permasalahan lebih spesifik dan mendalam, lihat LeVasseur
(2003). Sebagai tambahan, untuk mengkaji lebih mendalam landasan yang kuat dalam
(memahami bahwa) asumsi filosofis itu penting dan seseorang mungkin akan memeriksa
karya Husserl (1931, 1970), Marleau-Ponty (1962), Natanson (1973), dan Stewart dan
Mickunas (1990) untuk latar belakang ini.
Colaizzi, P.F. (1978). Psychological research as the phenomenologist views it. In R. Vaile &
M. King (Eds), Existential phenomenological alternatives for psychology (pp. 48-71). New
York: Oxford University Press.
Dukes, S. (1984). Phenomenological methodology in the human sciences, Journal of Religion
and Health, 23, 197-203.
Giorgi, A. (Ed). (1985). Phenomenology and psychological research. Pitsburgh, PA:
Duquesne University Press.
Husserl, E. (1931). Ideas: General introduction to pure phenomenology (D. Carr, Trans).
Evanston, IL: Northwestern University Press
Husserl, E. (1970). The crisis of European sciences and transcendental phenomenology (D.
Carr, Trans). Evanston, IL: Northwestern University Press
LeVasseur, J.J. (2003). The problem with bracketing in phenomenology. Qualitative Health
Reaserch, 31 (2), 408-420
Lopez, K. A, & Willis, D. G. (2004). Descriptive versus interpretive phenomenology: Their
contribution to nursing knowledge. Qualitative Health Research, 14 (5), 726-735.
Merleau-Ponty, M. (1962). Phenomenology of perception (C. Smith, Trans). London:
Routledge & Kegan Paul.
Moustakas, C. (1994). Phenomenological research methods. Thousand Oaks, AC: Sage.
Natanson, M. (Wd). (1973). Phenomenology and the social sciences. Evanston, IL:
Northewstern University Press
Oiler, C. J. (1986). Phenomenology: The method. In P. L. Munhall & C. J. Oiler (Eds).,
Nursing reaserch: A qualitative perspective (pp. 69-82). Norwalk, CT: Appleton-CemturyCrofts.
Polkinghorne, D.E. (1989). Phenomenological research methods. In R. S. Valle & S. Halling
(Eds.), Existential-phenomenological perspectives in psychology )pp. 41-60). New York:
Plenum.

Spiegelberg, H. (1982). The phenomenological movement (3rd ed). The Hague, Netherlands:
Martinus Nijhoff
Stewart, D., & Mickunas, A. (1990). Exploring phenomenology: A guide to the field and its
literature (2nd wd). Athens: Ohio University Press
Tesch, R. (1990). Qualitative research: Analysis types and software tools. Bristol, PA: Falmer
Press
Van Kaam, M. (1966). Existential foundations of psychology. Pitsburgh, PA: Dusquesne
University Press
Van Mannen, M. (1990). Researching lived experiences: Human sciences for an action
sensitive pedagogy. Albany: State University of New York Press.
Dalam penelitian teori dasar, periksa buku karya Strauss dan Corbin (1990) yang sangat
dianjurkan sebelum meninjau karyanya yang lain Glaser dan Strauss (1967), Glaser (1978),
Strauss (1978), Glaser (1992), atau edisi terbaru karya Strauss dan Corbin (1998). Apa yang
tersedia pada buku karya Strauss dan Corbin (1998) yang penulis yakin (memiliki) sebuah
panduan prosedural terbaik daripada buku karya mereka yang diterbitkan pada tahun 1998.
Untuk ulasan metodologi yang gamblang mengenai teori dasar, periksa karya Charmaz
(1983), Strauss dan Corbin (1994) dan Chenitz dan Swanson (1986). Khususnya karya yang
sangat membantu, yaitu buku-buku Charmaz (2006) mengenai penelitian teori dasar ditinjau
dari perspektif kontruksionis dan perspektif postmodern dalam karya Clarkes (2005).
Charmaz,K. (1983). The grounded theory method: An explication and interpretation. In R.
Emerson (Ed), Contemporary field research (hlm. 109-126). Boston: Little, Brown
Charmaz, K. (2006). Constructing grounded theory. London: Sage.
Chenitz, W. C, & Swanson, J. M. (1986). From practice to grounded theory: Qualitative
research in nursing. Menlo Park, CA: Addison-Wesley.
Clarke, A. E. (2005). Situational analysis: Grounded theory after the postmodern turn.
Thousand Oaks, CA: Sage
Glaser, B. G. (1978). Theoretical sensitivity. Mill Valley, CA: Sosiology Press
Glaser, B.G. (1992). Basics of grounded theory analysis. Mill Valley, CA: Sosiology Press
Glaser, B.G., & Strauss, A. (1967). The discovery of grounded theory. Chicago: Aldine.

Strauss, A. (1987). Qualitative analysis for social scientists. New York: Cambridge University
Press
Strauss, A., & Corbin, J. (1990). Basics of qualitative research: Grounded theory procedures
and techniques. Newbury Park, CA: Sage
Strauss, A., & Corbin, J. (1994). Grounded theory methodology: An overview. In N. K.
Denzin & Y. S. Lincoln (Eds), Handbook of Qualitative research (hlm. 273-285). Thousand
Oaks, CA: Sage.
Strauss, A., & Corbin, J. (1998). Basics of qualitative research: Grounded theory procedures
and techniques (2nd ed.). Newbury Park, CA: Sage

Sejumlah buku-buku terkini yang membahas tentang etnografi akan menyediakan landasan
bagi bab-bab berikutnya: Atkinson, Coffey dan Delamont (2003); volume pertama dalam
rangkaian sarana para etnografi, Disain dan Pelaksanaan Penelitian Etnografi, sama baiknya
dengan enam volume lainnya dalam rangkaian karya LeCompte dan Schensul (1999); dan
Wolcott (1994b, 1999). Sumber lain tentang etnografi termasuk Spradley (1979, 1980),
Fetterman (1998), dan Madison (2005).
Atkinson, P., Coffey, A., & Delamont, S. (2003). Key themes in qualitative research:
Continuities and changes. Walnut Creek, CA: Alta Mira
Fetterman, D. M. (1998). Ethnography: step by step (2nd ed). Thousand Oaks, CA: Sage
LeCompte, M. D., & Schensul, J.J. (1999). Designing and conducting ethnographic research
(Ethnographers toolkit, Vol. 1). Walnut Creek, CA: Alta Mira
Madison, D. S. (2005). Critical ethnography: Method, ethics, and performance. Thousand
Oaks, CA: Sage.
Spradley, J. P. (1980). Participant Observation. New York: Holt, Rinchart & Winston.
Wolcott, H. F. (1994b). Transforming
an interpretations. Thousand Oaks, CA: Sage

qualitative

data:

Description,

analysis

Wolcott, H. F. (1999). Ethnography: A way of seeing. Walnut Creek, CA: Alta Mira
Dan akhirnya, untuk penelitian studi kasus, silahkan merujuk pada karya Stake (1995) atau
buku-buku terkini seperti karya Lincoln dan Guba (1985), Merriam (1988), dan Yin (2003).

10

Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. Beverly Hills, CA: Sage.
Merriam, S. (1988). Case study research in education: A qualitative approach. San Fransisco:
Jossey- Bass
Stake, R. (1995). The art of case study research. Thousand Oaks, CA: Sage
Yin, R. K. (2003). Case study Research: design and method (3rd ed). Thousand Oaks, CA.
Sage.

11