Anda di halaman 1dari 18

Filosofi Adat Basandi Syarak

ISLAM DI DALAM BUDAYA


MINANGKABAU,
ADAT BASANDI SYARAK (ABS), SYARAK BASANDI KITABULLAH (SBK)
Membangkitkan Kesadaran Kolektif Akan Nilai Agama Islam
di dalam Norma Dasar Adat Basandi Syarak, Syarak
Basandi Kitabullah
Untuk Membangun Manusia Yang Unggul Dan Tercerahkan
Oleh : H. Mas’oed Abidin1

I. BUDAYA MINANGKABAU DIBANGUN DI ATAS PETA REALITAS

Adat Minangkabau dibangun di atas ”Peta Realitas” yang


dikonstruksikan secara kebahasaan (”linguistic construction of
realities”) yang direkam terutama lewat bahasa lisan berupa
pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang secara
keseluruhan dikenal juga sebagai Kato Pusako. Lewat berbagai
upacara Adat serta kehidupan masyarakat se-hari-hari, Kato
Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan PDPH di dalam
kehidupan masyarakat Minangkabau.

Pengonstruksian kebahasaan itu berlaku lewat berbagai


upacara Adat serta kehidupan masyarakat se-hari-hari, Kato
Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan PDPH di dalam
kehidupan masyarakat Minangkabau. Dengan perkataan lain,
Adat yang bersendi kepada “Nan Bana” adalah Peta Realitas
sekaligus Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan Masyarakat

1 Disampaikan sebagai Makalah di dalam diskusi dengan tema “Minangkabau


dalam Lingkaran Peradaban Melayu”, yang diselenggarakan oleh Museum
“Adityawarman” Sumatera barat, pada hari Kamis, 25 Juni 2009, bertempat di
Ruangan Auditorium Museum Adityawarman Sumatera Barat, Jalan Diponegoro,
Padang .

1 H. Mas’oed Abidin
Minangkabau.

Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “Nan


Bana” adalah Peta Realitas sekaligus Pedoman serta Petunjuk
Jalan Kehidupan Masyarakat Minangkabau.

LAND
Dalam perjalan sejarahnya menunjukkan bahwa di dalam
kehidupan sehari-hari Masyarakat Minangkabau banyak
ditemukan praktek-praktek yang kontra produktif bagi
perkembangan masyarakat seperti judi, sabung ayam dan tuak
dan lain-lain. Terterapkannya berbagai perilaku kontra-produktip
oleh beberapa bagian masyarakat menunjukkan bahwa ada
kekurangan serta kelemahan dari Adat Minangkakau Sebagai
Peta Realitas serta Petunjuk Jalan Kehidupan Bermasyarakat itu.
Kelemahan yang terperagakan itu adalah ada bagian dari Peta
Realitas yang ternyata tidak sama sebangun dengan Nan
Bana dan Nan Badiri Sandirinyo itu, yang serta merta telah
Filosofi Adat Basandi Syarak

melahirkan beberapa kekurangan pula..

1. Adat Minangkabau Sebagai Peta Realitas tidak


dilengkapi dengan Pedoman dan Petunjuk yang
memadai tentang bagaimana ia seharusnya digunakan.
Peta tanpa petunjuk jalan yang memadai tidak akan
membawa kita ke mana-mana.

2. Adat yang menjadi Pedoman serta Petunjuk Jalan


Kehidupan itu tidak dilengkapi dengan pedoman teknis
perekayasaan perilaku (”social and behavioral engineering
techniques”) yang memadai sehingga rumus-rumus dan
resep-resep pembentukan masyarakat sejahtera
berkeadilan berdasar Adat Minangkabau kurang dapat
diterapkan.

3. Akar segala kekurangan serta sebab-musabab segala


kelemahan berupa ketidak-lengkapan serta ketiadaan
“hubungan satu-satu” antara Peta Realitas dengan
Realitas itu sendiri atau antara Nan Bana dalam
pikiran manusia dengan Nan Badiri Sandirinyo itu.

4. Di samping itu, pengaruh kepercayaan lama serta Hindu


dan Budha telah mewarnai tata-cara dan praktek
penyembahan yang kita belum memiliki catatan yang
lengkap tentang itu.

II. MASYARAKAT MINANGKABAU ADALAH MASYARAKAT BERADAT


DAN BERADAB
Kegiatan hidup masyarakat Minangkabau dipengaruhi oleh
berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran
(”structural levels”). Yang paling mendasar tatanan nilai dan
norma dasar sosial budaya berupa Pandangan Dunia dan
Pandangan Hidup (PDPH).

3 H. Mas’oed Abidin
a. PDPH ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan
masyarakat berupa sikap umum dan perilaku
serta tata-cara pergaulan masyarakat.

b. PDPH ini merupakan landasan pembentukan


pranata sosial budaya yang melahirkan berbagai
lembaga formal maupun informal.

c. PDPH merupakan pedoman petunjuk perilaku


bagi setiap dan masing-masing anggota
masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri
maupun bersama-sama.

d. PDPH memberikan ruang (dan batasan-


batasan) bagi pengembangan kreatif
potensi manusiawi dalam menghasilkan buah
karya sosial, budaya dan ekonomi, serta karya-
karya pemikiran intelektual yang merupakan
mesin perkembangan dan pertumbuhan
masyarakat di segala bidang kehidupan.

Bila digambarkan Budaya Minangkabau bersumber kepada “Nan


Bana” sebagai bagan di bawah ini ;
Filosofi Adat Basandi Syarak

PDPH Masyarakat Minangkabau juga diungkapkan seni musik


(saluang, rabab), seni pertunjukan (randai), seni tari (tari piriang),
dan seni bela diri (silek dan galombang). Benda-benda budaya
(karih, pakaian pangulu, mawara dll), bangunan (rumah
bagonjong), serta artefak lain-lain mengungkapkan wakil fisik dari
konsep PDPH Adat Minangkabau. sehingga masing-masing
menjadi lambang dengan berbagai makna.

Konsep dasar PDPH (Adat Nan Sabana Adat) itu diungkapkan


lewat Bahasa, terutama Bahasa Lisan (Sesungguhnya
An
Minangkabau pernah memiliki tulisan berupa adaptasi dari Huruf
Pallawa dari India (pengaruh agama Hindu/Budha).

III.
Dilestarikanlewat
KONSEP BUDAYA MUSYAWARAH DAN MUPAKAIK

a. Masyarakat Minangkabau pra-ABS-SBK adalah Masyarakat


5 H. Mas’oed Abidin
Ber-Adat yang bersendikan Nan Bana, Nan Badiri
Sandirinyo. Sebagai buah hasil dari konstruksi realitas
lewat jalur kebahasaan. Hasil penerapannya di dalam
kehidupan masyarakat se-hari-hari tergantung kepada
sejauh mana ”peta realitas” itu memiliki ”hubungan satu-
satu” (”one-to-one relationship”) atau sama sebangun
dengan Realitas yang sebenarnya.

b. Konsep ”Adaik basandi ka mupakaik, mupakaik basandi


ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan
Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo” menunjukkan bahwa
sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat
Minangkabau telah mengakui keberadaan dan
memahami ”Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”, artinya
kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada kekuasaan
Tertinggi.2

Filsul dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah


mengakui dan memahami keberadaan Nan Bana, Nan Badiri
Sandirinyo. Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo termasuk Alam
Terkembang yang menjadi Guru. Keseluruhan pepatah, petatah
petitih, mamang, bidal, pantun yang berisikan gagasan-gagasan
bijak itu dikenal sebagai Kato Pusako.

Kato Pusako itu yang kemudian dilestarikan secara formal


lewat pidato-pidato Adat dalam berbagai upacara Adat. Sastera
Lisan juga merekam Kato Pusako dala kemasan cerita-cerita
rakyat, seperti Cindua Mato, dll.

c. Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” menunjukkan


bahwa para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk
Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan,
menurut versi Tambo Alam Minangkabau) meletakkan
landasan filosofis Adat Minangkabau atas dasar

2 Di dalam ajaran Agama Islam, inilah yang dipahami dan diyakini bahwa Yang Bana
(al Haqq) itu berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Ini dapat
dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.
Filosofi Adat Basandi Syarak

pemahaman mendalam tentang bagaimana


bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk
manusia dan masyarakatnya, dan telah menjadikan
alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana” atau ayat
kauniyah. Dalam peta realitasnya, terungkap di dalam
”kato” yang menjadi mamangan, di antaranya ; “Alang
tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang
alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek
ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik
jan mangapalang, Kok tak kayo barani pakai. Baburu
kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru
kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”.

d. Konsep dasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat)


tadi kemudian menjadi kesadaran kolektif berupa
Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) manusia
dan masyarakat Minangkabau. Konsep PDPH yang
merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana
Adat) memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan,
adat istiadat yang lebih dikenal sebagai Adat nan
Diadatkan dan Adat nan Taradat.

Dari pemahaman bagaimana Alam Terkembang bekerja,


termasuk di dalam diri manusia dan masyarakatnya, direndalah
Adat Minangkabau.

IV. PEMESRAAN NILAI-NILAI ISLAM KE DALAM FILOSOFI BUDAYA


MINANGKABAU

Sesudah masuknya Islam terjadi semacam lompatan


kuantum (”quantum leap”) di dalam budaya Minangkabau,
dengan bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan
tercerahkan yang muncul menjadi tokoh-tokoh yang berperan
penting dalam sejarah kehidupan masyarakat adat Minangkabau

7 H. Mas’oed Abidin
di kawasan ini. Bagaimana gejala itu bisa diterangkan?. Semata
karena nilai yang dibawa oleh ajaran Islam mudah mengakar ke
dalam kehidupan masyarakat di Minangkabau. Orang
Minangkabau terkenal kuat agamanya dan kokoh adatnya.
Seorang anak Minangkabau di mana saja berdiam tidak akan
senang di sebut tidak beragama, dan tidak beradat.

Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, di


samakan kedudukannya dengan orang tidak berbudi pekerti atau
indak tahu di nan ampek.3 Adat Minangkabau dinamis,
menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio,
logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh
dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq
dari Rabb).

3 Sama artinya dengan bodoh. Sangat menarik pemakaian angka-angka di


Minangkabau, lebih nyata bilangan genap, realistis seperti ”kato nan ampek (4),
undang-undang nan duopuluah (20), urang nan ampek jinih, nagari nan ba ampek
suku, cupak nan duo (2), cupak usali jo cupak buatan, rumah basandi ganok, tiang
panjang jo tonggak tapi, basagi lapan (8) atau sapuluah (10) artinya angka genap.
Datang agama Islam, di ajarkan pula pitalo langik nan tujuah (7), sumbayang nan
limo wakatu, rukun Islam nan limo (5), maka secara batinnya antara adat dan
agama saling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.
Filosofi Adat Basandi Syarak

Pranata sosial budaya (”social and cultural institution”)


adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar
kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di
dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main
dalam menata kehidupan bersama (“humanly devised
constraints on actions; rules of the game.”), yang setelah masuk
Islam bersandikan Syarak dan Kitabullah.

Kekerabatan yang erat telah menjadi benteng yang kuat


dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan
wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Nilai-
nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib
mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi
sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing
manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

‫ن‬
َ ‫م‬ِ ‫م‬ْ ‫ه‬
ُ ‫ج‬
ُ ‫ر‬ِ ‫خ‬
ْ ُ ‫مُنوا ي‬َ ‫ءا‬
َ ‫ن‬ ِ ّ ‫ي ال‬
َ ‫ذي‬ ّ ِ ‫ول‬َ ‫ه‬ ُ ّ ‫الل‬
َ َ‫ن ك‬
‫فُروا‬ َ ‫ذي‬ ِ ّ ‫وال‬
َ ‫ر‬ِ ‫ت إ َِلى الّنو‬ ِ ‫ما‬َ ُ ‫الظّل‬

9 H. Mas’oed Abidin
‫ن‬ ُ ّ ُ َ‫أ‬
َ ‫م‬
ِ ‫م‬
ْ ‫ه‬
ُ َ ‫ن‬ ‫جو‬
ُ ‫ر‬
ِ ‫خ‬
ْ ُ ‫ي‬ ‫ت‬
ُ ‫غو‬ ‫طا‬ ‫ال‬ ‫م‬
ُ ‫ه‬
ُ ‫ؤ‬ ‫يا‬
َ ِ ‫ل‬ ‫و‬
ْ
‫ت‬ َ ُ ‫ر إ َِلى الظّل‬
ِ ‫ما‬ ِ ‫الّنو‬
Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang
mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada
nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-
pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain
Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah
Allah) kepada berbagai kegelapan …. (Al-Baqarah, 257).

Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan, generasi


Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi
Kitabullah mampu bertahan. Melalui pengamatan ini tidak dapat
disangkal bahwa Islam telah berpengaruh kuat di dalam Budaya
Minangkabau.

Maka, tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya


(Meta-environment) yang dibentuk oleh nilai-nilai ajaran Islam
sebagai PDPH atau way of life dikawal dengan membentuk
lembaga pemerintahan ”tigo tungku sajarangan” yang menata
kebijakan “macro-level” (dalam hal ini “adat nan sabana adat,
adat istiadat, dan adat nan taradat) bagi pengaturan kegiatan
kehidupan masyarakat untuk kemaslahatan “anak nagari”
Minangkabau.

Dengan demikian setiap dan masing-masing anggota pelaku


kegiatan sosial, budaya dan ekonomi pada tingkat sektoral
(meso-level) maupun tingkat perorangan (micro-level) dapat
mengembangkan seluruh potensi dan kreativitasnya sehingga
terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul
dan tercerahkan.

V. ABS SBK MERUPAKAN BATU POJOK BANGUNAN MASYARAKAT


MINANGKABAU
Filosofi Adat Basandi Syarak

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan


hasil kesepakatan -- Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam di
awal abad ke 19 -- dari dua arus besar (”main-streams”)
Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat
Minangkabau yang sempat melewati konflik yang melelahkan.
Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah
memberikan peluang tumbuhnya beberapa angkatan ”generasi
emas” selama lebih satu abad berikutnya. Peristiwa sejarah yang
menghasilkan Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam dapat
disikapi dan diibaratkan bagaikan “siriah nan kambali ka
gagangnyo, pinang nan kambali ka tampuaknyo”.

Dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepada Nan


Bana, Nan Badiri Sandirinyo, disepakati menjadi “Adat
Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK).4

PDPH masyarakat Minangkabau sejak dahulu, terutama bila


dilihat pada rentang waktu lebih satu abad (1800-1950), telah
melahirkan angkatan-angkatan “generasi emas”, dengan
mengamalkan tatanan dan nilai adat dan keyakinan yang berjalin
berkelindan dalam sebuah adagium “Adat Basandi Syarak,
Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK). Sehingga tidak tertolak
alasan bahwa ABS-SBK itu, telah menjadi Pandangan Dunia dan

4 Sunguhpun sampai saat ini kita tidak mempunyai bukti sejarah, bila hari dan
tanggal sesunguhnya peristiwa sejarah itu terjadi, namun semua masyarakat
menerima sebagai satui peristiwa yang mengubah PDPH Masyarakat Adat
Minangkabau. Sebagai hasil penelitian sejarah, Dobin menyebutkan bahwa, sejak
abad 17 di Minangkabau, surau telah mengajarkan kepada masyarakat… “agar
menerima lima pokok Islam dan hidup sebagai orang Islam yang baik” … dan
dinyatakan pula bahwa salah satu fungsi surau adalah mengajarkan silat Melayu …
dan seorang guru biasanya mempunyai sejumlah pemuda yang bisa dipersenjatai
dan disiapkan untuk menghadapi bentrokan … Dan, dengan tindakan (kesiapan) itu,
para perampok menjadi takut merampok dan menjual orang-orang tahanan mereka
… di antaranya di Ampek Angkek sejak pertengahan 1790 di bawah kepemimpinan
surau (Tuanku Nan Tuo) menjadikan negerinya mengalami kemajuan besar dalam
pengaturan urusan dagang, yang kemudian dilanjutkan murid beliau yang tersebar,
di antaranya Jalaluddin mendirikan surau di Koto Lawas (Koto Laweh) di lereng
Gunung Merapi sebagai nagari penghasil akasia dan kopi, untuk “membangun
masyarakat mulsim” yang sungguh-sungguh …Demikian di tulis oleh Christine
Dobin, dalam bukunya “Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi,
Minangkabau 1784-1847”, edisi Indonesia, Komunitas Bambu, Maret 2008, ISBN
979-3731-26-5, di halaman 198 – 225.

11 H. Mas’oed Abidin
Pandangan Hidup (PDPH) yang menata seluruh kehidupan
masyarakat Minangkabau dalam arti kata dan kenyataan yang
sesungguhnya.

Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai


lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan alim
ulama ”suluah bendang anak nagari” maupun ”cadiak pandai”
(cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik), yang
berkiprah di tataran nusantara serta dunia internasional.

Generasi beradat dan beragama yang kuat dalam


Masyarakat Adat Minangkabau itu telah menjadi ujung tombak
kebangkitan budaya dan politik bangsa Indonesia pada awal abad
ke 20, serta dalam upaya memerdekakan bangsa ini di
pertengahan abad 20. Sebagai kelompok etnis kecil yang hanya
kurang dari 3% dari jumlah bangsa ini, peran kunci yang
dilakukan oleh sejumlah tokoh besar dan elit pemimpin
berbudaya asal Minangkabau terwakili-lebih (over-represented) di
dalam kancah perjuangan dan kemerdekaan bangsa ini.

Alhamdulillah, Minangkabau sebagai kelompok etnis kecil


pernah berada di puncak piramida bangsa ini (”the
pinnacle of the country’s culture, politics and
economics”). Putera-puteri terbaik berasal dari budaya
Minangkabau pernah menjadi pembawa obor peradaban (”suluah
bendang”) bangsa Indonesia ini.

ABS-SBK merupakan landasan yang memberikan lingkungan


sosial budaya yang melahirkan kelompok signifikan manusia
unggul dan tercerahkan, menjadi asas pembinaan ”anak nagari”.
Maka dapat dinyatakan bahwa Masyarakat Minangkabau (dahulu
itu, 1800-1950) merupakan salah contoh dari Masyarakat Madani
Yang Beradat dan Beradab.

VI. MASYARAKAT BER-ADAT BERADAB HANYA MUNGKIN JIKA


DILANDASI KITABULLAH
Filosofi Adat Basandi Syarak

Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin


lenyap, manakala memahami fatwa adat, “Kayu pulai di Koto
alam, batangnyo sandi ba sandi, Jikok pandai kito di alam,
patah tumbuah hilang baganti”. Secara alamiah (natuurwet)
adat itu akan selalu ada dalam prinsip. Jika patah akan tumbuh
(maknanya hidup dan dinamis), mengikuti perputaran masa yang
tidak mengenal kosong. Menjadi dominan ketika dikuatsendikan
oleh keyakinan agama akidah tauhid, dengan bimbingan
kitabullah (Alquran) bahwa yang hilang akan berganti. Apa yang
ada di tangan kita akan habis, apa yang ada di sisi Allah akan
kekal abadi.5
Dilaksanakannya adagium Adat Basandi Syarak Syarak, dan
Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) maka tali hubungan antara
Adat Sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan dibuhul-
eratkan dengan ajaran Islam yang menekankan kepada akhlak
mulia (karimah).

GA

Peta Alam Semest


ABS-SBK berkembang menjadi konsep dasar Adat Nan Sabana
Adat, yang diungkap&Petunjuk/Pedoman
lewat Bahasa, dan direkam sebagai Kato

Hidup Manusia
5 QS.16, an-Nahl : 96.

13 H. Mas’oed Abidin
Pusako, serta memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan
masyarakat. Rentang sejarah membuktikan bahwa penerapan
ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur
bagi seluruh anggota masyarakat dalam mengembangkan
segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia
dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.
Walau berada dalam lingkungan yang sulit penuh tantangan,
sejak zaman kolonialisme hingga ke masa-masa perjuangan,
budaya Minangkabau dengan ABS-SBK terbukti mampu
menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang
signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di
kawasan ini. Keunggulannya ada pada falsafah adat yang
mencakup isi yang luas. Akhlak karimah berperan dalam
kehidupan yang mengutamakan kesopanan dan memakaikan
rasa malu yang dipelihara sesungguh hati, sebab malu jo sopan
kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso, ketika menerapkan
ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”.

Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang


raso jo malu, bak kayu lungga pangabek,
pangabek dan Nak urang Koto
Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang,
habihlah raso jo pareso.
pareso
Filosofi Adat Basandi Syarak

Adat adalah aturan satu suku bangsa, pagar keluhuran tata


nilai yang dipusakai. Di dalamnya ada perpaduan ilmu rancang,
seni, budaya, mutu, material, keyakinan agama yang menjadi
dasar rancang bangun sosial berkualitas, dengan citra “nan elok
di pakai, nan buruak di buang, usang-usang di pabaharui, lapuak-
lapuak di kajangi”. Maknanya sangat selektif dan moderat.

Bimbingan keyakinan agama yang sahih (Islam),


menekankan pentingnya sikap malu (haya’ – raso pareso), iman
kepada Allah, yakin kepada akhirat, mengenali hidup akan mati,
menjadikan aqidah (tauhid) benteng yang kuat dalam
menggerakkan umat menjadi cerdas sesuai pantun adat,

“Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago,
Indak nan indah pado budi, indak nan indah pado baso”,

“Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri, ameh


bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan di haragoi”,

“Dulang ameh baok ba –laia, batang bodi baok pananti, utang


ameh buliah di baie, utang budi di baok mati”,

“Pucuak pauh sadang tajelo, panjuluak bungo galundi, Nak


jauah silang sangketo, Pahaluih baso jo basi”,

“Anjalai tumbuah di munggu, sugi-sugi di rumpun padi, nak


pandai rajin baguru, nak tinggi naiakkan budi”.6

Sebagai ujud pengamalan Firman Allah:

ٌ‫طاِئَفة‬
َ ‫ل ِفْرَقٍة ِمْنُهْم‬ّ ‫ن ُك‬ ْ ‫ل َنَفَر ِم‬
َ ‫ن ِلَيْنِفُروا َكاّفًة َفَلْو‬
َ ‫ن اْلُمْؤِمُنو‬
َ ‫َوَما َكا‬
َ ‫حَذُرو‬
‫ن‬ ْ ‫جُعوا ِإَلْيِهْم َلَعّلُهْم َي‬َ ‫ن َوِلُيْنِذُروا َقْوَمُهْم ِإَذا َر‬ِ ‫ِلَيَتَفّقُهوا ِفي الّدي‬
“Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya
kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan
diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu

6 Tidak ada yang lebih indah daripada budi dan basabasi. Yang dicari bukan emas
dan bukan pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai. Hutang
emas dapat di bayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa, perhalus
basa dan basi (budi pekerti yang mulia). Jika ingin pandai rajin belajar, jika ingin
tinggi (mulia), naikkan budi pekerti.

15 H. Mas’oed Abidin
pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan
untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara
mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan
kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya
– kekampung halamannya --, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

VII. KRISIS BUDAYA MINANGKABAU MINIATUR DARI KRISIS


PERADABAN MANUSIA

Budaya Minangkabau memang mengalami krisis. Tidak lagi


melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki peran sentral di dalam
berbagai segi kehidupan di tataran nasional, kawasan dan global.
Nyaris gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang
subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul
dan tercerahkan.

Dalam satu sudut pandang, krisis budaya Minangkabau


menggambarkan krisis yang dihadapi Ummat Manusia pada Alaf
ke Tiga ini. Dari sisi kemanusiaan, ada beberapa kemungkinan
penyebab. Kemungkinan pertama, Ilmu sebagai Peta Alam
Terkembang ternyata tidak sama dengan Realitas Di
Alam Nyata. Artinya ada “batas Ilmu”, yaitu wilayah di mana
“ignora mus et ignozabi mus”, kita manusia tidak tahu, dan
tidak akan pernah tahu atau memiliki ilmu tentang itu.
Filosofi Adat Basandi Syarak

Jika kita merujuk kepada Kitabullah -- Al-Qur’an --, kita akan


menemukan gejala dari yang mendera Umat Manusia itu,
adalah perilaku manusia menjadi penyebab utamanya,
“.....Telah menyebar kerusakan di muka bumi akibat
ulah manusia”.

Simpulannya, krisis yang dihadapi manusia moderen dikarenakan


kebanyakannya telah menjauh dari agama langit, bahkan
dari konsep-konsep agama itu sendiri, baik dalam pikiran
apalagi dalam perbuatan/kegiatan mereka.

Jika dikaitkan dengan kondisi dan situasi masyarakat


Minangkabau di abad ke 21 ini, mungkin telah ada jarak yang
cukup jauh antara ABS-SBK sebagai konsep PDPH (Pandangan
Dunia dan Pandangan Hidup) dan kenyataan hidup se hari-hari.
Asumsi atau dugaan ini menjadi penjelas serta alasan kenapa
budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal
membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi
persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan

VIII. SIMPULAN-SIMPULAN :

17 H. Mas’oed Abidin
Masyarakat Unggul dan Tercerahkan Mampu Dicetak Menjadi
SDM yang disebut “Ulul Albaab” dengan Menanamkan Nilai-Nilai
Ajaran Islam dan Adat Budaya, khusus bagi Masyarakat Adat
Minangkabau serta digali dari Al-Qur’an. Para “ulul albaab”
adalah mereka yang unggul dan tercerahkan, yang di dalam
dirinya tergabung zikir, yakni hidup dengan penuh kesadaran
akan keberadaan Allah Ta’ala dengan segenap aspek hubungan-
Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya, dan
fikir, berarti membuat Peta Kenyataan sesuai dengan Petunjuk
dan Ajaran Allah Ta’ala sebagaimana diuraijelaskan Alquran dan
ditafsir-terapkan oleh Rasul lewat Sunnah sebagai Teladan Utama
(Uswatun Hasanah).

Khulasahnya, penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan


perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar
dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah.
Dengan demikian, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-
budaya yang akan melahirkan masyarakat Minangkabau yang
unggul dan tercerahkan dengan kekuatan akidah dan akhlak
menurut Kitabullah.
“Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang,
Satitiak jadikan lauik,
Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.
Melaksanakan ABSSBK adalah melahirkan sikap cinta ke nagari,
bersikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas. Membentuk
umat yang kuat dengan sehat fisik, sehat jiwa, sehat pemikiran, dan
sehat social, ekonomi, konstruktif (makruf).

Wassalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh,

Padang, 25 Juni 2009

Anda mungkin juga menyukai