Anda di halaman 1dari 6

Candidiasis orofaring yang berhubungan dengan penggunaan inhaler steroid pada

pasien asma kronik: Laporan kasus


Abstrak
Candidiasis atau oral thrush merupakan infeksi jamur oleh spesies Candida, dimana Candida
albicans merupakan agen penyebab yang paling sering. Infeksi disebabkan oleh Candida
albicans dinamakan candidiasis. Candidiasis sering disebut sebagai penyakit orang sakit
karena ini muncul saat imunitas host atau pertahanan host menurun atau terganggu. Salah
satu komplikasi yang dapat berhubungan dengan penggunaan jangka panjang inhaler steroid
dapat menimbulkan candidiasis nasofaring atau orofaring. Setiap kali pasien asma yang
menggunakan inhaler steroid melaporkan adanya lesi mukosa oral, maka harus dicurigai
adanya candidiasis orofaring yang dipicu steroid. Ini merupakan laporan kasus pasien lakilaki berusia 55 tahun yang menggunakan inhaler steroid dan tampak candidiasis orofaring.
Kata kunci: Candida albicans; Candidiasis; Mukokutan kronik; Oral; Immunosupresi; Asma
bronkial
Pendahuluan
Candidiasis atau oral thrush merupakan infeksi jamur yang disebabkan oleh spesies Candida,
dimana Candida albicans merupakan jenis yang paling umum. Candidiasis oral juga dikenal
sebagai oral candidosis, moniliasis, oral mycosis, oral yeast infection atau stomatitis candida.
Pada umumnya, candidiasis oral dibagi menjadi candidiasis akut atau kronik. Baru-baru ini,
candidiasis dibagi menjadi candidiasis oral primer dimana kondisinya hanya terbatas pada
mulut dan candidiasis oral sekunder dimana terdapat bagian tubuh lain yang terlibat selain
mulut. Sebagian besar infeksi candida dapat dirawat dan mengakibatkan komplikasi minimal
seperti kemerahan, rasa gatal dan tidak nyaman, walaupun komplikasi dapat menjadi parah
atau fatal jika tidak dirawat pada populasi tertentu. Hal ini umumnya terjadi pada pasien yang
sedang dalam keadaan imun yang sangat terganggu.
Pada pasien immunocompetent, candidiasis biasanya berupa infeksi lokal pada kulit atau
membran mukosa termasuk rongga mulut (thrush), faring, atau esofagus, saluran pencernaan,
kandung kemih, atau alat kelamin. Sistem imun yang melemah atau tidak berkembang, atau
penyakit metabolik seperti diabetes mellitus atau terapi immunosupresif yang lama
merupakan faktor predisposisi candidiasis. Penyakit atau kondisi yang berhubungan dengan
candidiasis meliputi infeksi human immunodeficiency virus (HIV) atau acquired

immunodeficiency syndrome (AIDS), mononukleosis infeksius, perawatan kanker, terapi


steroid, stress, dan defisiensi nutrisi.
Organisme tertanam dalam lapisan superfisial epitelium dan perawatannya harus bertujuan
supaya agen antijamur berkontak dengan daerah yang terkena (aplikasi topikal). Obat
antijamur yang biasa digunakan untuk merawat candidiasis yaitu clotrimazole, nystatin,
fluconazole dan ketoconazole. Ini merupakan dasar pemikiran pemberian obat anti jamur
topikal dalam perawatan candidiasis dan terapi anticandida harus dirawat inap paling kurang
14 hari.
Walaupun tidak ada lesi oral yang muncul secara langsung dari asma bronkial, efek tidak
langsung terapi obat asma dapat menyebabkan lesi klinis. Pasien yang paling cenderung
menimbulkan manifestasi oral yaitu pasien asma kronik yang menggunakan inhaler steroid.
Inhaler kortikosteroid merupakan bahan terapeutik utama dalam penanganan asma bronkial.
Kontak berulang inhaler steroid pada mukosa oral dapat menyebabkan perkembangan
candidiasis pseudomembranous akut (oral thrush) karena pertumbuhan berlebihan jamur pada
daerah immunosupresi lokal. Infeksi yang dipicu steroid ini terdiri dari koloni Candida
albicans yang tampak sebagai lesi putih yang terletak umumnya pada palatum lunak dan
orofaring. Nantinya lapisan putih akan terkelupas dan meninggalkan daerah kemerahan.
Namun, membersihkan plak akan menunjukkan permukaan mukosa yang berwarna merah,
dan berdarah. Disfonia, suara parau dan rasa tidak nyaman pada faring dapat terjadi
bersamaan dan merupakan tanda tambahan penggunaan inhaler steroid yang terus-menerus.
Pasien juga dapat mengeluhkan rasa terbakar saat makan makanan pedas, seperti di daerah
India dimana konsumsi cabai tinggi.
Laporan Kasus
Pasien laki-laki berusia 55 tahun datang ke departemen Oral Medicine and Radiology dengan
keluhan rasa kasar dan terkelupasnya jaringan dalam mulut sejak dua sampai tiga bulan lalu.
Mulutnya tampak normal sampai tiga bulan sebelumnya. Selanjutnya mulut menjadi terasa
kasar. Dia mengalami rasa terbakar saat mengonsumsi makanan pedas dan terdapat pula rasa
gatal. Pasien memiliki riwayat asma bronkial sejak sepuluh tahun yang lalu. Dia
menggunakan inhaler bronkodilatator selama 7 tahun dan sekitar tiga bulan yang lalu dia
mengubahnya menjadi inhaler steroid seperti diberikan oleh dokter. Pada pemeriksaan
intraoral, terdapat daerah erosif pada permukaan dorsal lidah ke arah ujung lidah (Gambar 1).
Terdapat pula lesi eritematus diffus pada palatum lunak, uvula, lipatan palatoglossal, dan

orofaring dengan bercak putih yang dapat dikeruk (Gambar2). Pada saat membersihkan
dengan hati-hati daerah bercak putih ini, terlihat mukosa eritematus di bawahnya yang
cenderung berdarah. Terdapat pula bercak yang berdarah. Daerah eritematus memiliki
tampilan diffus. Lesi yang dipertimbangkan sebagai diagnosa banding yaitu eritroplakia,
erosive lichen planus dan stomatitis alergik.

Gambar 1: Foto klinis menunjukkan lesi


candidiasis pada lidah

Gambar 2: Foto klinis menunjukkan lesi


candidiasis pada palatum

Smear dibuat mengerok lesi dan dikirim untuk evaluasi sitologi. Laporan tersebut
meyakinkan diagnosis candidiasis. Pasien dianjurkan untuk menghentikan penggunaan
inhaler steroid dan disarankan untuk melanjutkan dengan inhaler bronkodilatator setelah
berkonsultasi dengan dokter pasien. Pasien juga disarankan untuk mengaplikasi secara
topikal clotrimazole tiga kali sehari selama 2 minggu. Pasien dievaluasi setelah tiga minggu
dan terdapat pengurangan seluruh lesi.
Diskusi
Infeksi jamur berada di peringkat ketiga di antara infeksi yang disebabkan oleh
mikroorganisme setelah infeksi virus dan bakteri. Tidak seperti bakteri dan virus, sel jamur
lebih besar dan dinding mereka mengandung ergosterol dan beta-linked polisakarida.

Candida albicans merupakan jamur yang tumbuh sebagai bentuk ragi dan sel filamentous
serta merupakan agen penyebab utama infeksi oportunistik oral dan genital pada manusia.
Candida albicans tampak pada sekitar 80% dari populasi manusia di dalam rongga mulut, dan
saluran pencernaan tanpa menyebabkan efek merugikan dan sebagai mikroorganisme
komensal normal. Pertumbuhan berlebih jamur ini mengakibatkan candidiasis. Candidiasis
biasanya mulai terjadi saat imunitas host menurun akibat beragam penyebab.
Faktor utama yang bertanggung jawab terhadap keadaan imunosupresif yaitu pemberian
steroid jangka panjang, penggunaan terus-menerus antibiotik, terapi imunosupresif setelah
transplantasi organ, infeksi HIV, dan pada pasien lanjut usia. Sebagian besar infeksi candida
dapat dirawat dan menghasilkan komplikasi minimal seperti kemerahan, rasa gatal, dan
ketidaknyamanan atau rasa sakit, walaupun komplikasi ini dapat menjadi parah dan fatal jika
tidak dirawat pada populasi tertentu dan pada pasien yang imunitasnya sangat terganggu.
Pada manusia normal, spesies candida terdapat dalam jumlah lebih sedikit (kurang dari 200
sel per ml saliva). Pertumbuhan berlebih jamur tersebut mengakibatkan candidiasis, istilah
tersebut diberikan untuk infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans. Jumlah organisme
Candida yang lebih banyak dibutuhkan untuk terjadinya infeksi. Pada sebagian besar kasus,
infeksi candida dimulai saat imunitas host menurun karena beberapa faktor seperti
penggunaan terus-menerus antibiotik atau terapi imunosupresif, kemoterapi atau radioterapi
kanker, diabetes melitus pada bayi atau pasien lanjut usia, pengguna gigi tiruan lepasan,
pasien dengan lesi mukosa oral sebagai infeksi sekunder, leukemia, dll.
Asma bronkial yang merupakan gangguan pernafasan yang berhubungan dengan angka
insidensi, prevalensi, dan kematian yang tinggi pada populasi umum semakin meningkat saat
ini. Penyakit ini memiliki ciri-ciri sesak nafas, nafas pendek, batuk dan mengi akibat
menyempitnya jalan nafas bronkial oleh spasme otot, pembengkakan mukosa atau sekret
pada hidung dan bronkus. Reaksi alergi imun yang kompleks dianggap sebagai faktor
penyebab. Hambatan aliran udara lebih berat pada saat ekspirasi. Ini merupakan masalah
kesehatan yang sangat serius bagi anak-anak, dewasa muda, dan dewasa. Hambatan aliran
udara pada asma bronkial sebagian besar merupakan akibat dari penyakit inflamasi kronik
pada jalan napas dengan karakteristik adanya hambatan aliran udara. Hambatan aliran udara
biasanya reversibel, tapi secara keseluruhan tidak semua kasus dapat kembali seperti semula.
Itu dapat berupa serangan akut yang mengancam nyawa atau kronik dengan gejala ringan
sampai sedang. Penanganan asma bronkial meliputi menghindari alergen, hiposensitisasi

alergen, pemberian oksigen, inhalasi bronkodilatator atau kortikosteroid, serta pemberian


kortikosteroid sistemik.
Candidiasis orofaring atau nasofaring merupakan salah satu komplikasi yang berhubungan
dengan terapi steroid jangka panjang, khususnya pada pasien dengan asma bronkial. Namun,
hal ini sering salah didiagnosa atau diabaikan. Dokter gigi memiliki peran penting dalam
mengenali lesi ini dan untuk memulai cara penanganan yang tepat. Penting untuk mencatat
riwayat medis dengan teliti dalam mengidentifikasi masalah klinis ini. Walaupun terapi anticandida topikal efektif dalam penanganan candidiasis orofaring, pemberian terapi anticandida saja tidak cukup pada pasien asma yang terus menggunakan inhaler steroid. Cara
penanganan yang paling tepat yaitu mengubah pengobatan menjadi jenis non-steroid setelah
berkonsultasi dengan dokter pasien dan secara bersamaan memberikan terapi anti-candida.
Jika pasien menggunakan inhaler steroid, tepat bagi dokter gigi untuk memeriksa mukosa
orofaring dan nasofaring jika terdapat perkembangan candidiasis. Lesi awal muncul sebagai
daerah kemerahan dan selanjutnya lesi dapat meluas, dan sering memiliki pseudomembran
keabu-abuan.

Mengerok

pseudomembran

membuka

daerah

kemerahan

dengan

kecenderungan berdarah.
Pada kasus yang dilaporkan ini, inhaler steroid diganti setelah berkonsultasi dengan dokter
pasien dan pasien diberitahukan untuk aplikasi topikal cotrimoxazole. Satu hal yang harus
ditanamkan saat merawat pasien dengan candidiasis orofaring yaitu memberitahukan pasien
untuk menggunakan pengobatan anti-jamur setidaknya untuk dua minggu untuk
menghilangkan infeksi secara menyeluruh. Saat pasien dievaluasi dalam follow-up, gejala
sudah hilang secara menyeluruh.
Kesimpulan
Candida albicans merupakan mikroorganisme komensal umum dalam rongga mulut dan
pertumbuhan

berlebihannya

dapat

mengakibatkan

candidiasis.

Candidiasis

sering

digambarkan sebagai penyakit orang yang sakit yaitu infeksi oportunistik yang umumnya
tampak pada host yang sistem imunnya terganggu. Infeksi candida lokal dapat pula
berhubungan dengan penggunaan gigi tiruan, khususnya pada pasien yang tidak
membersihkan gigi tiruan dan tetap menggunakannya pada saat tidur. Walaupun tidak sering,
kontak berulang mukosa dengan inhaler steroid yang digunakan dalam perawatan asma
bronkial dapat menyebabkan perkembangan candidiasis akut pseudomembranous (oral
thrush) karena pertumbuhan berlebih jamur pada daerah yang mengalami penurunan imun

lokal. Pada pasien ini, candidiasis berkembang pada daerah lidah, orofaring, dan palatal. Ini
merupakan daerah dimana inhaler steroid berkontak. Walaupun tidak sering, ketika pasien
yang menggunakan inhaler steroid melaporkan adanya lesi mukosa oral khususnya pada
daerah yang ditunjukkan tadi, maka harus dicurigai adanya candidiasis oral yang dipicu
steroid. Pada pasien seperti ini, pemberian pengobatan anti-jamur yang tepat akan sangat
membantu dalam mengurangi gejala dan mengontrol infeksi.