Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL PENELITIAN

Nama : Cecep Syukria


NIMKO : 2005.4.037.0130.1.0056
Fakultas : Usshuluddin
Jurusan : Tafsir Hadist
Prgm. Studi : Strata 1 (S1)
Angkatan : 2005
Judul :

KAJIAN TEMATIK TENTANG TUJUAN AYAT-AYAT AL-AMTSAAL


AL-KAAMINAH DALAM AL-QUR'AN

PROPOSAL PENELITIAN

A. Latar Belakang Masalah.


Al-Quran Al-Karim diturunkan bagi umat manusia tidak hanya
berisi perintah, ajakan, peristiwa sejarah (kisah-kisah para Nabi, sahabat
dan lain-lain) tetapi juga di dalamnya terdapat sisi sastra yang amat
menakjubkan salah satunya amtsaal (perumpamaaan-perumpamaan)
yang dalam ilmu bayan lebih dikenal dengan tasybiih. Secara khusus
imam Al-Mawardi mengupas amtsaal ini (dalam Al-Suyuthi, tt:386)
beliau menyebutkan dalam ayat Al-Qur'an dan Al-Hadits yang menjadi
pijakan keberadaan amtsaal, seperti berikut: Al-Ankabut ayat 43:
َ‫س َومَا َي ْعقُِلهَا ِإلّا اْلعَاِلمُون‬
ِ ‫وَِتلْكَ الَْأمْثَا ُل َنضْرُِبهَا لِلنّا‬
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buatkan untuk
manusia dan tiaada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu"
Dalam surat Az-Zumar ayat 27:
َ‫َوَلقَدْ ضَرَبْنَا لِلنّاسِ فِي َهذَا اْلقُرْ َآنِ مِنْ كُ ّل مَثَ ٍل لَ َعّل ُهمْ يََتذَكّرُون‬
"Sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia, dalam Al-
Qur'an ini, setiap macam perumpamaan supaya mereka mendapat
pelajaran"
Dan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi
dari Abu Hurairah:
ّ‫صلّى ال َعلَيْ ِه وَ َسّلمَ َإن‬
َ ‫ رَ ُسوْلُ ال‬:َ‫أَخْرَجَ ُه بَْي َهقِى عَ ْن أَبِى هُرَيْ َررَ َة قَال‬

1
،ٌ‫ َومَُتشَابِهه‬،ٌ‫حكَمه‬ ْ ‫ َو ُم‬،ٌ‫ وَحَرَامه‬،ٌ‫ حَلَل‬:ٍ‫ْسهةِ َأوْجُهه‬ َ ‫ْآنه نَزَلَ َعلَى َخم‬ َ ‫اْلقُر‬
‫ِهه‬
ِ ‫َمه وَآمُِنوْا بِالَُتشَاب‬
َ ‫حك‬ ْ ‫َامه وَاتِّب ُعوْا ا ُل‬
َ ‫وََأمْثَا ٌل فَا ْع َملْوا بِالَلَ ِل وَاجَْتنُِبوْا الَر‬
.ِ‫وَاعْتَِب ُروْا بِا َلمْثَال‬
Diriwayatkan oleh Baihaqi dari Abu Hurairah Rasulullah SAW
bersabda: "Sesungguhnya Al-Qur'an itu turun dengan menggunakan
lima sisi; halal, haram, muhkam, mutasyaabih, dan amtsaal.
Kerjakanlah kehalalannya; tinggalkan keharamannya; ikutilah
muhkamnnya; imanilah mutasyaabihnya; ambilah pelajaran dari
amtsaalnya".
Amtsaal dalam Al-Qur’an memiliki tiga pola, di antara contoh-
contohnya sebagai berikut:
Dalam surat Al-Baqarah ayat 17-20 [Al-Amtsaal Al-Mushorohah
atau Al-Qiyaasiyyah];
‫ب اللّ هُ ِبنُورِهِ ْم‬َ َ‫ت مَا َح ْولَ هُ ذَه‬ ْ َ‫مََثُلهُ مْ َكمَثَلِ اّلذِي ا سَْت ْوَقدَ نَارًا َفَلمّا أَضَاء‬
( َ‫صمّ ُبكْمٌ ُعمْ ٌي َفهُمْ لَا يَرْ ِجعُون‬ ُ )17( َ‫ت لَا يُبْصِرُون‬ ٍ ‫وَتَرَ َكهُمْ فِي ُظلُمَا‬
ْ‫ج َعلُو نَ أَ صَاِب َع ُهم‬
ْ ‫ق َي‬
ٌ ‫ت َورَ ْعدٌ وَبَ ْر‬ ٌ ‫سمَا ِء فِي ِه ُظلُمَا‬ ّ ‫ب مِ نَ ال‬ٍ ّ‫) َأوْ كَ صَي‬18
ُ‫) َيكَاد‬19( َ‫ط بِاْلكَافِرِين‬ ٌ ‫ت وَاللّهُ ُمحِي‬ ِ ْ‫صوَاعِقِ َح َذرَ اْل َمو‬ ّ ‫فِي آَذَاِن ِه ْم مِنَ ال‬
‫شوْا فِي ِه َوإِذَا َأ ْظلَمَ َعلَْيهِ ْم قَامُوا‬َ َ‫ق َيخْطَفُ أَبْصَارَ ُهمْ ُكّلمَا أَضَا َء َلهُ ْم م‬ ُ ْ‫الْبَر‬
( ٌ‫س ْمعِ ِه ْم وَأَبْ صَارِ ِهمْ إِنّ اللّ هَ َعلَى كُ ّل َشيْءٍ َقدِير‬ َ ِ‫ب ب‬َ َ‫َولَ ْو شَا َء اللّ ُه َلذَه‬
)20

Artinya: Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang


menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, allah
hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka
dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka
tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti
(orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap
gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak
jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati, dan
Allah meliputi orang orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu
menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka,
mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka,
mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan
pendengaran dan penglihatan mereka, sesungguhnya Allah berkuasa
atas segala sesuatu (Q.S Al-Baqarah:17-20).
Dalam surat Al-Isra ayat 29 [Al-Amtsaal Al-Kaaminah];
‫ك وَلَا تَبْ سُ ْطهَا كُلّ الْبَ سْطِ فََت ْق ُعدَ َملُومًا‬
َ ِ‫جعَلْ َيدَ َك مَ ْغلُولَةً ِإلَى عُُنق‬
ْ ‫َولَا َت‬
)29( ‫َمحْسُورًا‬
Artinya: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu
pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu
kamu menjadi tercela dan menyesal (Q.S Al-Isra:29).
Dalam surat An-Najm ayat 58 [Al-Amtsaal Al-Mursalah];
)58 ( ٌ‫س َلهَا مِنْ دُونِ اللّهِ كَا ِشفَة‬
َ ْ‫لَي‬

Artinya: tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu


selain allah (Q.S An-Najm:58) .
Meskipun pada pola ketiga ini para ulama berbeda pandangan
seperti Al-Suyuthi dan Al-Zarkasyi (Anwar, 2005:107), sebagian
mengatakan pola ini bukanlah amtsaal, dan sebagian lain berpendapat
bahwa pola ketiga ini termasuk amtsaal [al-amtsaal al-mursalah].
Kemudian Al-Mawardi menegaskan kembali tetang urgensi
amtsaal ini, sebagaimana diungkapkan Al-Suyuthi (tt:343) dalam kitab
Al-Itqoon Fii Uluum Al-Qur'an:
‫ مهن أعظهم علم القرآن علم أمثاله‬:‫قال الاوردي‬
‫والناس ف غفلة ع نه لشتغال م بالمثال وإغفال م‬
‫ والثل بل مثل كالفرس بل لام والناقة‬،‫المثلت‬
‫ قد عده الشاف عي م ا ي ب‬:‫ وقال غيه‬.‫بل زمام‬
‫ ثه‬:‫على الجتههد معرفتهه مهن علوم القرآن فقال‬
‫معرفهة مها ضرب فيهه مهن المثال الدوال على‬
‫طاعته البينة لجتناب ناهيه‬
“Menurut Al-Mawardi ilmu yang paling agung
tentang Al-Qur'an adalah mengetahui perumpamaan-
perumpamaannya, sedangkan orang-orang banyak
melalaikannya karena mereka sibuk dengan perumpamaan-

3
perumpamaan dan mereka melalaikan hal-hal yang
diumpamakan. Sedangkan perumpamaan tanpa yang
diumpamakan sepeti seekor kuda tanpa kendali dan unta tanpa
tali kekang. Adapun segolongan lain mengatakan: imam
Syafi'i telah mengnganggapnya sebagai sesuatu yang wajib
diketahui oleh seorang mujtahid mengetahuinya di antara
ilmu-ilmu Al-Qur'an, termasuk di dalamnya ilmu tentang
amtsaal yang menunjukan ketaatan kepada-Nya, yang
menjelaskan cara menjauhkan maksiat dari-Nya”.

Dalam Al-Qur'an, sejumlah ayat berbicara khusus tentang


amtsaal , menurut Shalih dalam kitabnya “Al-Tartiib Wa Al-Bayaan ‘An
Tafshiili AAyil Al-Qur’aan” jumlahnya mencapai 677 ayat, yang tersebar
di 65 surat dan terbagi ke dalam pola amtsaal Al-Qur'an secara umum.
Yang mana dalam setiap suratnya memiliki poin pembahasan tersendiri.
Selain di surat-surat yang disebutkan Shalih ini, secara khusus
Suyuthi (tt:387-388) menambahkan ayat-ayat amtsaal ini [Al-Amtsaal
Al-Kaaminah] di 12 Surat sebanyak 17 ayat, Makkiyah sebanyak 10
surat 13 ayat, dan Madaniyah sebanyak 2 surat 4 ayat yaitu: Al-Baqarah
(ayat 68 dan 260), Surat An-Nisa’ (ayat 100 dan 123), Surat Al-A’raf
(ayat 163), Surat At-Taubah (ayat47 dan 74 ), Surat Yunus (ayat 39),
Surat Yusuf (ayat 64), Surat Al-Isra (ayat 29 dan 110), Surat Maryam
(ayat 75), Surat Hajj (ayat 4), Surat Al-Furqon (ayat 42 dan 67), Surat
Al-Ahkof (ayat 11), dan Surat Nuh (ayat 27).
Dari keseluruhan ayat-ayat amtsaal yang telah penulis
kemukakan, maka penulis kian tertarik untuk melakukan penelitian
khususnya tentang Al-Amtsaal Al-Kaaminah (perumpamaan
terselubung). Karena dalam hal ini Allah SWT tidak secara tersurat
menggambarkan perumpamaan-perumpamaan namun di balik ini semua
pasti ada tujuan khusus yang dituju. Inilah inti permasalahan yang ingin
penulis ungkap dari penelitian tentang Al-Amtsaal Al-Kaaminah
tersebut.

A. Rumusan Masalah.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam latar belakang
masalah di atas, penulis membatasi fokus penelitian ini pada dua hal
yang selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, sebagai berikut:
1. Apa tujuan Al-Amtsaal Al-Kaaminah dalam Al-Qur’an?
2. Bagaimana interpretasi ayat-ayat Al-Amtsaal Al-Kaaminah dalam
Al-Qur'an?
C. Alasan Memilih Judul.
Ada dua alasan mengapa penulis memilih judul ini:
1. Alasan Objektif.
a. Al-Amtsaal Al-Kaaminah dalam Al-Qur'an ini mengandung
tujuan tersirat yang tidak banyak dibahas langsung dalam Al-
Qur'an.
b. Al-Amtsaal Al-Kaaminah dalam Al-Qur'an ini mengandung
banyak interpretasi sebagaimana yang telah tercantum dalam Al-
Qur'an.
2. Alasan Subjektif.
a. Al-Amtsaal Al-Kaaminah dalam Al-Qur'an adalah hal yang
menarik untuk dijadikan sebagai penelitian.
b. Masalah dalam tulisan ini sesuai dengan bidang yang ditekuni
oleh penulis yaitu fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadits.
D. Tujuan Penelitian.
Pada dasarnya, tujuan penelitian adalah rumusan singkat
dalam menjawab masalah penelitian (Kaelan, 2005:234). Oleh karena
itu, secara umum tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui dan
mendeskripsikan tujuan tersirat yang terkandung dalam kumpulan
ayat-ayat al-amtsaal al-kaaminah dalam Al-Qur’an. Dengan rumusan
singkat sebagai berikut:
1.Untuk mengetahui tujuan Al-Amtsaal Al-Kaaminah dalam Al-
Qur’an.
2.Ingin Mendeskripsikan interpretasi ayat-ayat Al-Amtsaal Al-
Kaaminah dalam Al-Qur’an.
E. Kegunaan Penelitian.
Kaelan (2005:235) menyatakan bahwa suatu penelitian harus
memiliki nilai guna baik secara praktis maupun akademis. Berikut
kegunaan dari penelitian ini:
1. Secara Akademis:
Sebagai bahan informasi pendahuluan yang penting bagi
penelitian-penelitian serupa yang lebih intensif di masa akan datang,
atau sebagai bahan informasi pembanding bagi penelitian lama yang
serupa namun berbeda sudut pandang. Serta berfungsi juga sebagai
tambahan literatur di Perpustakaan IDIA, berkenaan dengan kajian
tafsir.
2. Secara Praktis:
Mengkaji secara tematik tujuan ayat-ayat Al-Amtsaal Al-

5
Kaaminah dalam Al-Qur'an, dengan harapan mampu menumbuhkan
kesanggupan rohaniah dalam menghayati seluruh perumpaman-
perumpamaan (amtsaal) kehidupan dan tata nilai islami yang berlaku
dalam syari'ah, sebagai salah satu fungsi keimanan.
F. Definisi Istilah
a. Tematik
Tematik (maudlu'i) adalah salah satu metode penafsiran Al-
Qur'an yang akhir-akhir ini lebih sering digunakan oleh beberapa
mufassir kontemporer. Menurut Shaleh (2007:55) dalam disertasinya
"Metodologi Tafsir Al-Qur'an Kontemporer Dalam Pandangan Fazlul
Rahman" mengatakan: “metode tematik adalah metode penasiran Al-
Qur'an dengan menghimpun ayat-ayat Al-Qur'an yang mempunyai
maksud yang sama dalam arti yang sama membicarakan satu topik
masalah dan menyusunnya berdasarkan kronologi serta sebab
turunnya ayat-ayat tersebut. Kemudian si penafsir mulai memberikan
keterangan dan mengambil kesimpulan”.
Menurut Muslim (1989:15) dalam bukunya Mabaahits Fii Al-
Tafsir Al-Maudluu'i secara etimologi maudluu’i (tafsir tematik) adalah:
‫الوضوع لغة من الوضع و جعل الشيئ ف مكان‬
‫ أو بعن‬،‫ سوء كان ذلك بعن الط والفض‬،‫ما‬
‫وهذا الع ن ملحوظ‬...‫اللقاء والت ثبيت ف الكان‬
‫فه التفسهي الوضوعهى لن الفسهر يرتبهط بعنه‬
‫معيه ليتجاوزه إل غيه حته يفرغ مهن تفسهي‬
.‫الوضوعى‬
“Tematik secara etimologi adalah diderivasikan dari
al-wad'u (meletakan), atau memposisikan sesuatu pada
posisinya, baik hal itu bermakna turun dan rendah ataupun
berarti melemparkan dan menancapkan sesuatu pada satu
tempat…makna ini yang menjadi perhatian dalam tafsir
tematik, karena para mufassir terikat oleh satu topik tertentu
dia tidak dapat melebihi batasan ke dalam makna lain hingga
dia menyelesaikan penafsiran topik tersebut”.

Sedangkan secara terminologi tafsir tematik menurut Muslim


(1410:15) memiliki banyak makna di antaranya:
‫هو بيان ما يتعلق بوضوع من موضوعات الياة‬
‫الفكرية أو الجتماعية أو الكونية من زاوية قرآنية‬
‫ وقيهل ههو علم‬.‫للخروج بنظريهة قرآنيهة بصهدده‬
‫ التحدة مع ن أو‬،‫يب حث ف قضا يا القرآن الكر ي‬
،‫ والنطر فيها‬،‫ عن طريق جع آياتا التفرقة‬،‫غاية‬
‫على هيئة مصههوصة بشروط مصههوصة لبيان‬
‫ وربطهها برباط‬،‫ واسهتخراج عناصهرها‬،‫معناهها‬
.‫ ولعل التعريف الخي هو الرجح‬.‫جامع‬
“Tematik adalah penjelasan hal yang terkait dengan
topik dari seluruh topik-topik kehidupan yang bersifat
epistimologi, sosiologi atau kosmologi, melalui aspek
Qur'aniyah guna memunculkan teori Al-Qur'an beserta
tujuannya. Dikatakan juga tematik adalah ilmu yang
membahas indikasi [dalil-dalil] Al-Qur'an yang memiliki satu
makna dan tujuan dengan cara menghimpun ayat-ayat Al-
Qur'an yang bevariasi, menelitinya dengan kondisi serta
syarat-syarat khusus untuk menjelaskan makna ayat-ayat
tersebut, kemudian menampilkan unsur-unsurnya dan
menyimpulkannya dengan kesimpulan yang komprehensif.
Dan definisi terakhir ini (menurut saya) adalah yang lebih
kuat”.

Al-Farmawy (Syafi'i, 2006:293) mendefinisikannya


sebagai berikut:
‫جع اليات القرآنية ذات الدف الت اشتركت ف‬
‫موضوع ما وترتيبها حسب النول ماأمكن ذلك‬
‫مع الوقوف على أسباب نزولا ث تناولا بالشرح‬
‫والبيان والتعليهق والسهتنباط وإفرادهها الدرس‬
‫النه جى الوضوع الذى يلي ها من ج يع نواحي ها‬
‫وجهات ا ووزن ا بيزان العلم ال صحيح الذى يبي‬
7
‫الباحهث معهه الوضوع على حقيقتهه ويله يدرك‬
‫هدفه بسهولة ويسر وييط به إحاطة تامة تكنه‬
.‫من فهم أبعاده والذور حياضه‬
“Tafsir tematik adalah menghimpun ayat-ayat Al-
Qur’an yang memiliki orientasi sama dalam satu topik tertentu
dan mengurutkannya sesuai sebab turunnya jika
memungkinkan ada kronologinya (asbaab al-nuzuul) ayat
tersebut, kemudian menjelaskan, menguraikan serta
mnyimpulkan hakikat ayat-ayat tersebut dari berbagai sisi
sesuai dengan kemampuan ilmu yang dimiliki peneliti. Yang
pada gilirannya peneliti akan mengetahui tujuan ayat-ayat
tersebut dengan mudah dan menyeluruh, serta mampu
menangkap makna tersirat dan terselubungya”.

Definisi operasional tematik yang peneliti maksud dalam


penelitian ini adalah salah satu bentuk kajian metode penafsiran Al-
Qur’an dengan cara menentukan satu topik kemudian menghimpun
ayat-ayat yang memiliki korelasi dengan topik sentral tersebut dan
menyusunnya sesuai kronologi dan asbaab al-nuzuul, untuk kemudian
diambil kesimpulannya.
b. Amtsaal
Amtsaal secara etimologi jamak dari matsal atau mitsil yang
memiliki banyak makna, menurut Al-Jurbu’ (1414:18) dalam disertasi
doktoralnya "Al-Amtsaal Al-Qur'aaniyah Al-Qiyaasiyyah Al-
Madlruubah Li Al-Rukni Al-Awwal Min Arkaan Al-Iimaan Al-Sittah
"Al-Iimaan Bi Allah" mendefinisikannya ke dalam beberapa makna
berikut:
.‫ النشاد‬:‫هو مأخوذ من التمثل أي‬...
"… lafadz ini diambil dari al-tamatsul artinya
membacakan sya’ir".
Kemudian makna kedua yang beliau kutip dari
kamus Lisan Al-Arab adalah:

‫يطلق لفظ "مثل" بعن وصف الشيء‬


"Lafadz mitsil atau matsal berarti sifat sesuatu" (Al-
Jurbu’, 1414:22). Menurut Abdul Rahman Bin Hasan Al-
Maidani (dalam Al-Jurbu’, 1414:24) mengatakan:
‫وقهد قرر بعهض الباحثيه العاصهرين معنه بديعا‬
‫ أن لفهظ "مَثَل" و "مِثْل" إذا اقترنها بكاف‬:‫ههو‬
.‫ وصف‬:‫ فإِن القرب تفسيها بعن‬،‫التشبيه‬
"Para peneliti kontemporer menetapkan bahwa
makna "kebahasaan" arti lafadz matsal atau mitsl jika disertai
huruf kaf al-tasybiih (metafor) maka interpretasi makna
keduanya yang lebih dekat adalah sifat.
‫ورد ف‬.‫يطلق لفظ (مَثَل) بعن (الِثْل) وهو النظي‬
‫ أصل ال ثل‬:‫بعض العا جم وكتب التفسي والل غة‬
،‫ مَثَل‬:‫ ويقال‬،‫ف كلم العرب الِثْل و هو النظ ي‬
.‫ وشبيه‬،‫ وشِبْه‬،‫ َكشَبه‬:‫ ومثيل‬،‫ومِثْل‬
Makna ketiga menurut Al-Jurbu’ (1414:31): lafadz
matsal maknanya al-mitsl berarti perbandingan. Makna
tersebut terdapat dibeberapa kamus dan kitab-kitab tafsir atau
bahasa; akar al-matsal dalam perkataan Arab al-mitsl
maknanya perbandingan (persamaan), bisa dikatakan matsal,
mitsl atau matsil seperti syabah, syibh atau syabiih.

Sedangkan menurut Manna Qathhan (1973:282) dalam


kitabnya Mabahis Ulum Al-Qur'an mendefinisikan amtsaal sebagai
berikut:
‫كال شبيه‬:‫ وال ثل وال ثل والث يل‬,‫المثال ج ع م ثل‬
‫ قول م كى سائر‬: ‫لف طا ومع ن وال ثل ف الدب‬
‫يقصد به ت شبيه حال الذى حكى ف يه بال الذى‬
‫ م ثل (رب‬،‫ أي يش به مضر به بورده‬,‫ق يل لجله‬
‫رم ية منغ ي رام) أي رب م صيبة ح صلت من‬
.‫رام شأنه أن يطىء‬

9
"Amtsaal adalah bentuk jamak dari kata mitsl
(perumpamaan) atau matsal (serupa) atau mitsil dan matsiil,
sama halnya dengan kata syabah atau syabiih. Sedangkan
amtsaal dalam bahasa sastra adalah suatu ungkapan yang
dihikayatkan dan sudah populer dengan maksud
menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu
dengan keadaan sesuatu yang karenanya perkataan itu
diucapkan. Maksudnya, menyerupakan sesuatu (seseorang
atau keadaan) dengan apa yang terkandung dalam perkataan.
Misalnya, ‫( رب رمية من غي رام‬betapa banyak lemparan panah yang
mengena tanpa sengaja). Artinya, banyak pemanah yang
mengenai sasaraan itu dilakukan pemanah yang biasanya yang
tidak tepat lemparannya."

Karena itu dalam ilmu balagah, pembahasan yang sama ini


lebih dikenal dengan istilah tasybiih, bukan amtsaal. Menurut Asy'ari
(2006:44) dalam bukunya Buku Ajar Ulum Al-Qur'an mendefinisikan
amtsaal sebagai berikut:
a. Penyerupaan sesuatu terhadap sesuatu yang lain
b. Kondisi atau kisah yang menakjubkan, seperti dalam
firman Allah surat Muhammad ayat 15.

Definisi amtsaal secara terminologi memang memiliki banyak


redaksi, Rasyid Ridha (dalam Anwar, 2005:92) mendefinisikannya
sebagai kalimat yang digunakan untuk memberi kesan dan
mengerakan hati nurani. Bila didengar terus, pengaruhnya akan
menyentuh lubuk hati yang paling dalam. Sedangkan menurut Bakar
Ismail (dalam Anwar, 2005:92) mengatakan amtsaal Al-Qur'an adalah
mengumpamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, baik dengan jalan
isti'aarah, kinaayah, atau tasybiih.
Menurut Asy'ari (2006:44) secara terminologi amtsaal
didefinisikan sebagai berikut: Pertama, menurut pakar kesusasteraan
Arab, amtsaal adalah "ungkapan tentang sesuatu yang menyerupai
yang lain yang antara keduanya terdapat kemiripan sehingga satu sama
lainnya saling memperjelas dan mempersepsikan". Kedua, menurut
pakar balagah, amtsaal adalah "kiasan multiple yang memiliki
korelasi, kemiripan, dan penggunaan kiasan ini dikenal luas oleh
publik.
Dalam penelitian ini, yang dimaksud amtsaal adalah
perumpamaan yang ada dalam Al-Qur’an yang dibuat oleh Allah SWT
agar umat manusia dapat memahami makna abstrak yang terkandung
dalam ayat-ayat amtsaal (Al-Qur’an) itu sendiri.
c. Al-Amtsaal Al-Kaaminah
Yang dimaksud dengan Al-Amtsaal Al-Kaaminah adalah
perumpamaan-perumpamaan yang secara tersurat tidak dinyatakan
oleh Al-Qur'an sebagai amtsaal terhadap suatu peristiwa yang terjadi,
tetapi kandungan maknanya yang tersirat memberikan indikasi makna
yang mirip dengan perumpamaan Arab yang dikenal luas di kalangan
mereka (Asy'ari, 2006:51).
Qathan (1973:285) mendefinisikan Al-Amtsaal Al-Kaaminah
sebagai berikut:
‫ ولكن ها‬,‫و هى ال ت ل ي صرح في ها بل فظ التمث يل‬
‫تدل على معان رائعة ف إياز يكون لا وقعها إذا‬
.‫نقلت إل ما يشبهها‬
"Yaitu matsal yang di dalamnya tidak disebutkan
dengan jelas lafadz tamsil tetapi ia menunjukkan makna-
makna yang indah, menarik dalam kepadatan redaksinya dan
mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang
serupa dengannya."

Dalam hal ini, definisi operasional yang peneliti maksud


dengan Al-Amtsaal Al-Kaaminah (perumpamaan terselubung) adalah
perumpamaan yang disampaikan oleh Allah SWT tanpa menggunakan
lafadz (amtsaal) perumpamaan, guna menampakan hal yang abstrak
dengan bahasa yang indah dan singkat, yang mampu memberikan efek
bagi jiwa yang mendengarnya. Dengan kata lain Al-Amtsaal Al-
Kaaminah yaitu ungkapan yang sama sekali tidak memperlihatkan
kata matsal atau yang lain, namun menunjukkan pesan matsal dan
metafor (majaaz).
d. Jumlah Ayat-Ayat Al-Amtsal
Dalam penelitian ini, yang dimaksud jumlah ayat al-amtsaal
adalah jumlah seluruh ayat-ayat al-amtsaal [termasuk ke dalam tiga pola
amtsaal] dalam Al-Qur’an yang secara umum, amtsaal dalam Al-Qur'an
menurut Shalih (2007:76-82) ada sebanyak 677 ayat di 65 surat yang
secara langsung berbicara tentang amtsaal (perumpamaan). Semuanya

11
itu terbagi dalam dua kategori surat Makkiyah sebanyak 49 surat dan
557 ayat, sedangkan Madaniyah sebanyak 14 surat dan 120 ayat, yaitu:
dalam surat-surat Makkiyah; Surat An-Nisaa’ (ayat 10, 51, 52, 53, 54,
55, 95, 96, 153 dan 154), Surat Al-An’am (ayat 5, 6, 10, 11, 24, 37, 38,
43, 44, 45, 50,132, 133, 134, 147, 148, 149 dan 150), Surat Al-'Araf
(ayat 4, 5, 56, 57, 58,175, 176, 177 dan 185), Surat Yunus (ayat 13, 14,
22, 23, 24, 101, 102, dan 103), Surat Huud (ayat 24, 96, 97, 98, 99, 100,
101, 102, 103, 110, dan 111), Surat Yusuf (ayat 105, 106, 107, 108, 109,
dan 110), Surat Ibrahim (ayat 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19,
20, 25, dan 26), Surat Al-Hijr (ayat 10, 11, 12, dan 13), Surat An-Nahl
(ayat 26, 33, 34, 35, 36, 38, 62, 65, 75, 76, 79, 112, dan 113), Surat Al-
Isra' (ayat 11, 12, 16, 17, 58, 59, 99, 101, 102, 103, dan 104), Surat Al-
Kahfi (ayat 3233), Surat Maryam (ayat 39 dan 75), Surat Thoha (ayat 23
dan 40), Surat Al-Anbiya (ayat 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 45,
46, 50, dan 51), Surat Al-Furqon (ayat 20, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42,
43, 44, 45, dan 46), Surat Asy-Syu’ara’ (ayat 7, 8, dan 9), Surat An-
Naml (ayat 67 dan 70), Surat Al-Qoshos (ayat 57, 58, 59, 60, 61, 76,
77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, dan 84), Surat Al-Ankabut (ayat 19, 20, 38,
39, 40, 41, 42, 43, 64, 65, dan 67), Surat Rum (ayat 7, 8, 9, 10, 28, 29,
42, 47, 50, dan 51), Surat Lukman (ayat 20, 27, 28, 29, 30, 31, dan 32),
Surat As-Sajadah (ayat 18, 26, dan 27), Surat Saba (ayat 9, 15,16, 17,
18, 19, 20, 21, 34, 35, 36, 37, 38, dan 45), Surat Fathir (ayat 4, 9, 12, 19,
20, 21, 22, 25, 26, 27, 28, 42, 43, dan 44), Surat Yasin (ayat 13, 14, 15,
16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34,
35, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, dan 83), Surat As-
Shofat (ayat 69, 70, 71, 72, 73, dan 74), Surat Shaad (ayat 1, 2, 3, 12, 13,
14, 15, dan 28), Surat Az-Zumr (ayat 9, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28,
dan 29), Surat Al-Mu’min (ayat 5, 6, 21, 22, 56, 57, 58, 78, 82, 83, 84,
dan 85), Surat Fushilat (ayat 13, 14, 15, 16, 17, 18, 40, dan 45), Surat
Az-Zukhruf (ayat 6, 7, 8, 11, 23, 24, dan 25), Surat Ad-Dukhon (ayat
17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, dan 29), Surat Al-Jatsiyah
(ayat 21, 22, dan 23), Surat Al-Ahkof (ayat26, 27, 28, 33, dan 34), Surat
Qoof (ayat 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 36, 37, dan 38), Surat Adz-
Dzariat (ayat 20, 21, 22, 23, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 52, 53, 54,
dan 55), Surat Al-Qomar (ayat 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19,
20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38,
39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, dan 46), Surat Al-Mulk (ayat 18, 19, 20, 21,
dan 22), Surat Qalam (ayat 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28,
29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, d an 41), Surat Haqqoh
(ayat 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, dan 12), Surat Nuh (ayat 16, 17, 18,
19, dan 20), Surat Muzammil (ayat 15, 16, dan 17), Surat An-Nazi’at
(ayat 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32,
33, 34, 35, 36, dan 37), Surat Abasa (ayat 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31,
dan 32), Surat Al-Buruj (ayat 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14,
15, 16, 17, 18, 19, dan 20), Surat Ath-Thoriq (ayat 5, 6, 7, 8, 9, dan 10),
Surat Al-Ghosyiah (ayat 17, 18, 19, 20, dan 21), Surat al-Fajr (ayat 1,
2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, dan 14), Surat Asy-Syams (ayat 11,
12, 13, 14, dan 15), Surat Al-Fiil (ayat 1, 2, 3, 4, dan 5).
Sedangkan dalam surat-surat Madaniyah yaitu Surat Al-
Baqarah (ayat 17, 18, 19, 20, 26, 56, 66,67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 74,
171,174, 204, 205, 206, 207, 214, 243, 246, 247, 248, 249, 250, 251,
252, 253, 254, 255, 256, 257, 258, 259, 260, 261, 262, 264, 265, dan
266), Surat Ali Imran (ayat 10, 11, 12, 13, 23, 116, 117, 138, 139, 146,
147, 148, 163, dan 164), Surat Al-Anfal (ayat 20, 21, 22, 23, 47, 50, 51,
52, 53, dan 54), Surat At-Taubah (ayat 69 dan 70), Surat Ar-Ra'du (ayat
14, 16, 17, 19, 32, 33, 34, 35, 41, dan 42), Surat Al-Haj (ayat 5, 6, 7, 18,
31, 42, 45, 46, 47, 48, 63, 64, 65, 73, dan 74), Surat An-Nur (ayat 34, 35,
36, 37, 38, 39, dan 40), Surat Muhammad (ayat 1, 2, 3, 10, 11, 12, 13,
14, 15, 36, 37, dan 38), Surat Al-Hadid (ayat 20), Surat Al-Hasyr (ayat
13, 14, 15, 16, 17, 20, dan 21), Surat Al-Mumtahanah (ayat 3, 4, 5, 6,
dan 7), Surat Al-Jumu'ah (ayat 5), Surat At-Taghobun (ayat 5 dan 6),
Surat Ath-Tholaq (ayat 9 dan 10), Surat At-Tahrim (ayat 10, 11, dan 12).
Sedangkan Ja’far Bin Syamsuddin Al-Khilafah (dalam Suyuthi,
tt:388) menyebutkan contoh Al-Amtsaal Al-Mursalah di surat-surat
berikut; Surat An-Najm (ayat 57), Surat Ali Imran (ayat 92), Surat Yusuf
(ayat 51dan 41), Surat Yaasin (ayat 78), Surat Al-Hajj (ayat 10 dan 73),
Surat Huud (ayat 81), Surat Saba’ (ayat 13 dan 54), Surat Al-An’am
(ayat 67), Surat Fathir (ayat 14 dan 43), Surat Al-Isra (ayat 84), Surat
Al-Baqarah (ayat 216, 249, dan 286), Surat Al-Mudatsir (ayat 38), Surat
Al-Maidah (ayat 99 dan 100), Surat Ar-Rahman (ayat 60), Surat Yunus
(ayat 91), Surat Ar-Ruum (ayat 32 dan 41), Surat Al-Anfal (ayat 23),
Surat As-Shafaat (ayat 61), Surat Shad (ayat 24), dan Surat Al-Hasyr
(ayat 2 dan 14).
G. Kajian Pustaka.
Sejauh pengamatan penulis belum ditemukan adanya studi
yang secara spesifik dan komprehensif mengkaji tujuan ayat-ayat Al-
Amtsaal Al-Kaaminah dalam Al-Qur'an. Sejumlah tulisan yang
memuat topik ini membahas dalam wacana yang lebih luas. Secara

13
umum, amtsaal dalam Al-Qur'an menurut Shalih (2007:76-82) ada
sebanyak 677 ayat di 65 surat yang secara langsung berbicara tentang
amtsaal (perumpamaan). Semuanya itu terbagi dalam dua kategori
surat Makkiyah sebanyak 49 surat dan 557 ayat, sedangkan
Madaniyah sebanyak 14 surat dan 120 ayat, lebih spesifik lagi tentang
Al-Amtsaal Al-Kaaminah ada sebanyak 12 surat 17 ayat, Makkiyah
sebanyak 10 surat 13 ayat, dan Madaniyah sebanyak 2 surat 4 ayat
(Suyuthi, tt:385-386).
Amtsaal Al-Qur’an merupakan satu sisi sastra yang ada di
dalam Al-Qur’an itu sendiri yang memiliki berbagai keistimewaan.
Seiring hal tersebut di atas maka tak heran jika orang Arab dan
bangsa-bangsa lain di dunia umumnya dalam berkomunikasi sesama
mereka mengunakan amtsaal terlebih lagi Allah SWT yang memang
“pakar” pencipta salah satu mukjizat Al-Qur’an itu sendiri.
Kesimpulannya, baik manusia sebagai makhluk, maupun Tuhan
sebagai khalik, Kedua-duanya memakai amtsaal dalam
berkomunikasi; namun, amtsaal yang digunakan keduanya pasti
memiliki banyak perbedaaan (Baidan, 2005:248).
Jika ditinjau dari sisi dakwah sebenarnya amtsaal memiliki
peran yang amat penting. Dalam hal ini banyak para ulama ulum Al-
Qur’an mengatakan bahwa amtsaal sebagai media dakwah akan lebih
mengena pada objeknya, lebih mantap dalam menyampaikan nasihat
dan lebih kuat pengaruhnya (Anwar, 2005:113).
Di sisi lain, banyak aspek ajaran Islam yang bersifat abstrak
yang tidak logis, seperti gambaran pahala sedekah seseorang yang
akan hilang jika disertai sifat riya. Akan tetapi setelah gambaran ini
diformalisasikan dalam bentuk perumpamaan, yakni sirnanya tanah di
atas batu akibat hujan yang menimpanya (surat Al-Baqarah ayat 264),
maka gambaran itu menjadi lebih mudah dipahami (Anwar, 2005:113-
114)
Penelitian tentang amtsaal ini sudah pernah dilakukan oleh
Al-Jurbu’ dalam disertasi doktoralnya di bidang akidah pada fakultas
Dakwah dan Usshuluddin Universitas Islam Nabawiyyah Madinah
(07/07/1414 H). Judul disertasinya Al-amtsaal Al-Qur'aaniyyah Al-
Qiyaasiyyah Al-Madlruubah Li Ar-Rukni Al-Awwal Min Arkaan Al-
Iimaan Al-Sittah “Al-Iimaan Bi Allah”.
Penelitian memfokuskan objek pada urgensi al-amtsaal al-
mushorohah atau al-amtsaal al-qiyaasiyyah sebagai salah satu objek
yang diteliti dalam Al-Qur’an kaitannya dengan rukun iman yang
pertama. Dia mengemukakan bahwa:
،‫ الهيهة العظيمهة للمثال القرآنيهة عامهة‬:‫ههو‬...
.‫واليانية منها خاصة‬
“… karena secara umum amtsaal Al-Qur’an sangat
urgen sekali, khususnya pada sisi keyakinan (keimanan)”. (Al-
Jurbu’, 1414:1). Lebih lanjut lagi beliau mengungkapkan
bahwa:
‫والمثال القرآن ية ُيفَ صّل ال ب ا آيا ته من ال جج‬
‫ سبحانه‬- ‫ بي ال ذلك‬.‫ ونوها‬،‫والعب والواعظ‬
‫ ب عد أن أورد مثل لبيان حال الدن يا و ما تؤول‬-
‫ و قد أشاد ال سبحانه بأمثال القرآن مبي نا‬...‫إل يه‬
،‫أنه اشتمل على كل مثل من الق يتاجه الناس‬
‫ و ما ب قي‬.‫وأن السهبيل قد ا ستبان بتلك المثال‬
.‫على الناس إل أن يتفكروا با ويتذكروا‬
“Adapun amtsaal Al-Qur’an Allah SWT
memperinci ayat-ayatnya sebagai argumentasi, i’tibar, nasihat
dan lainnya. Demikian itu Allah SWT-jelaskan-setelah Dia
membuat perumpamaan sebagai penjelasan tentang kondisi
dunia beserta isinya...Allah SWT juga telah membuat amtsaal
Al-Qur’an sebagai penjelasan bahwa amtsaal mencakup
seluruh perumpamaan kebenaran yang dibutuhkkan oleh umat
manusia, sehingga jalan kebenaran menjadi jelas olehnya,
umat manusia hanya tinggal mentafakurinya dan
merenungkannya”. (Al-Jurbu’, 1414:3).

Dalam mengumpulkan data penelitiannya, peneliti


menggunakan metode analisis terperinci (al-manhaaj al-tafshiili al-
tahliili). Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan dua metode,
metode global (al-thoriiqoh al-mujmalah), dan metode terperinci (al-
thoriiqoh al-mufasholah).

Dari hasil penelitian ini terungkap bahwa, penelitian ini lebih


memfokuskan pada aspek al-amtsaal al-qiyaasiyyah, meskipun ini

15
memiliki penyempitan objek hanya pada satu pola amtsaal, namun
dengan kata lain belum menyentuh pola amtsaal yang kedua. Yaitu
Al-Amtsaal Al-Kaaminah (perumpamaan terselubung), lebih dari itu
masih pada tahap pembahasan satu sisi amtsaal kaitannya dengan
rukun iman pertama “iman kepada Allah SWT”.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, peneliti akan
mengkaji secara khusus ayat-ayat Al-Amtsaal Al-Kaaminah dalam Al-
Qur'an, lebih spesifik lagi tujuan tersirat yang ada dalam ayat-ayat
tersebut. Selanjutnya, peneliti akan meneruskan kajian pada
interpretasi ayat-ayat Al-Amtsaal Al-Kaaminah secara mauduu’i
(tematik).
H. Metode Kajian
a. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam hal ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif
karena mengingat objek studi beserta sifat masalahnya tergolong
pada riset kepustakaan (library reserch), dan kajiannya disajikan
secara deskriptif dan analisis.
b. Sumber Data
Adapun data-data yang menyangkut ayat-ayat Al-Amtsaal Al-
Kaaminah dalam Al-Qur'an, ditelusuri sebagai sumber data
primernya adalah Al-Qur’an dan kitab-kitab tafsir. Sementara data
yang berkaitan dengan data analisis (data sekunder) dilacak dari
literatur atau hasil penelitian terkait, di antaranya: Al-Amtsaal Fii
Al-Qur’aan (1986) karya Ibnu Qayyim Aj-Jauziyyah, Fashl Maqool
Fii Syarh Kitaab Al-Amtsaal (1971) karya Abu 'Abid Al-Bakry, Al-
Amtsaal Min Al-Kitaab Wa Al-Sunnah (1985) karya Al-Hakim At-
Tirmidzi, Mabahits Fii Al-Tafsiir Al-Maudluu'i (1989) karya
Musthafa Muslim, Al-Burhaan Fii Uluum Al-Qur'aan (1391) karya
Abdullah Al-Zarkasy, Al-Itqoon Fii Uluum Al-Qur'aan (Tt) karya
Jalaluddin As-Suyuthi, Mabaahits Fii Uluum Al-Qur'aan (1393)
karya Manna Al-Qotton, Tafsiir Ibnu Katsiir (1999) karya Abu Al-
Fida Isma'il Bin Umar Ibnu Katsir, Tafsiir Fii Dhlilaal Al-Qur'aan
(tt) Karya Sayyid Quthb. Sumber data sekunder ini diperlukan dalam
rangka mempertajam analisis persoalan.
b. Teknik Pengumpulan Data.
Untuk teknik pengumpulan data peneliti mengunakan
dokumentasi yaitu dengan menginventarisir setiap bahan tertulis,
data-data, literatur, dan penelitian-penelitian yang masih terkait
dengan objek kajian ini. Yang berguna sebagai sumber yang stabil,
bukti suatu pengujian dan sesuai dengan penelitian kualitatif
(Moleong, 2005:216-217).
c. Analisi Data
Adapun dalam analis data, peneliti menggunakan semiotik,
dengan salah satu bentuknya analis isi (content analysis), dan
dengan beberapa metode sebagai berikut:
1. Interpretasi.
Peneliti berusaha untuk melakukan telaah terhadap ayat-ayat
yang menjadi objek kajian ini untuk menangkap arti dan tujuan
yang dimaksudkan oleh mufassir secara khas (Bakker dan
Zubair, 1999:79). Dalam hal ini, penulis tidak hanya memahami
naskah seperti apa yang diungkapkan oleh mufassir tersebut.
Tetapi juga berusaha mendeskripsikan makna yang terkandung
di balik bahasa dalam ayat-ayat Al-Amtsaal Al-Kaaminah.
2. Komparasi
Dengan metode ini penulis akan menguraikan pandangan
beberapa mufassir tentang ayat-ayat Al-Amtsaal Al-Kaaminah
untuk kemudian membandingkannya. Menurut Bakker dan
Zubair (1990: 87) perbandingan tersebut dapat dilakukan pada
hal yang berkenaan dengan perumusan masalah, pendekatan,
pemakaian istilah, dan argumentasi. Namun, dalam menjalankan
komparasi itu arti-arti yang berbeda tidak hanya ditempatkan
berdampingan satu sama lain, akan tetapi disintesiskan dalam
satu perkembangan dinamis yang bersinambung (Bakker dan
Zubair 1990: 81).
3. Koherensi Intern
Dalam hal ini, peneliti akan berusaha menyesuaikan satu
sama lain segala arti konsep dengan cara konsisten (Bakker dan
Zubair 1990: 79), pada beberapa pemikiran mufassir tentang
objek kajian ini.

4. Deskripsi.
Peneliti berusaha menguraikan secara teratur (Bakker
dan Zubair 1990: 81) seluruh konsepsi mufassir yang sesuai
dengan tema kajian. Yaitu dengan memberikan deskripsi
mengenai ayat-ayat Al-Amtsaal Al-Kaaminah yang
diinterpretasikan oleh mufassir dalam kitabnya, khususnya
kajian tentang ayat-ayat Al-Amtsaal Al-Kaaminah dalam Al-

17
Qur'an untuk menelusuri tujuan tersirat di balik ayat-ayat
tersebut.
I. Sistimatika Pembahasan.
Adapun penulisan sistematika dalam pembahasan ini dibagi dalam
sub-sub pembahasan yaitu.
Adapun BAB Pertama membahas penjelasan yang menyangkut
latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan memilih judul, tujuan
penelitian, kegunaan penelitian, definisi istilah, kajian pustaka, metode
penelitian dan sistematika pembahasan.
Pada BAB Kedua. Penulis hendak mengetengahkan bahasan
global tentang tafsir tematik (maudluu’i) dan amtsaal dalam Al-Qur'an.
Dalam hal ini dibagi menjadi dua sub bagian yang akan diperinci
pembahasannya sebagai berikut: Pertama, Tinjauan Tentang Tafsir
Tematik (maudluu’i). 1) Pengertian Tafsir Tematik (maudluu’i). 2)
Langkah-Langkah Mengunakan Tafsir Tematik (maudluu’i). 3) Beberapa
Contoh Tafsir Tafsir Tematik (maudluu’i). 4) Tokoh-Tokoh Tafsir
Tematik (maudluu’i). 5) Keistimewaaan Tafsir Tematik (maudluu’i).
Kedua, Tinjauan Tentang Amtsaal. 1) Definisi Amtsaal. 2) Macam-
Macam Amtsaal Dalam Al-Qur'an. 3) Manfaat Amtsaal. 4) Tujuan
Amtsaal Al-Qur'an. 5) Urgensi Amtsaal Al-Qur'an. 6) Contoh-Contoh
Amtsaal.
Adapun pada BAB Ketiga akan membahas tentang Al-Amtsaal
Al-Kaaminah yang meliputi definisi dari beberapa mufassir atau ulama
ulum Al-Qur’an, klasifikasi dan contoh ayat-ayat Al-Amtsaal Al-
Kaaminah, interpretasi ayat-ayat tersebut dan tujuan (tersiratnya)
menurut beberapa mufassir kemudian melengkapi bahasan dengan
hadis-hadis terkait, dan asbaab al-nuzuul ayat-ayat tersebut jika ada.
Sedangkan pada BAB Keempat, berisi penutup yang mencakup
kesimpulan dari hasil penelitian serta saran-saran untuk para pembaca
dan peneliti selanjutnya.
I. Daftar Pustaka (Sementara)
Abd. Ar-Rahman, Kholid. 1994. Shofwah Al-Bayaan Li Ma’aani Al-
Qur’aan Al-Kariim Mudzayyilan Bi Asbaab Al-Nuzuul Li Al-
Suyuuthi. Kairo: Daar Al-Basyaair Wa Daar Al-Salam.
‘Abid Al-Bakry, Abu. 1971. Fashl Maqool Fii Syarh Kitaab Al-Amtsaal.
Libanon: Mu’asasah Al-Risalah. Al-Maktabah Al-Syaamilah versi
2.0. http://www.alwarraq.com
Al-Jurbu’, 1414. Al-Amtsaal Al-Qura'aniyah Al-Qiyaasiyyah Al-
Madlruubah Li Al-Rukni Al-Awwal Min Arkaan Al-Iimaan Al-
Sittah "Al-Iimaan Bi Allah". Disertasi tidak diterbitkan. Madinah:
Program Pasca Sarjana Universitas Islam Nabawiyah Madinah.
Al-Maktabah Al-Syaamilah versi 2.0. http://www.alwarraq.com
Anwar, Rosihon. 2005. Ilmu Tafsir. Bandung: CV Pustaka Setia.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Kuantitatif Suatu
Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Ashfahani Al-, Rogib. Tt. Mufrodat Ghoriib Al-Qur'aan. Dimsaq: Daar
An-Nasyr. Al-Maktabah Al-Syamilah versi 2.0.
http://www.alwarraq.com
Asy'ari, Bashri. 2006. Buku Ajar Ulumul Qur'an. Pamekasan: Stain
Pamekasan Press.
At-Tirmidzi, Ali Al-Hakim. 1985. Al-Amtsaal Min Al-Kitaab Wa Al-
Sunnah. Beirut: Daar Ibn Zaidun. Al-Maktabah Al-Syaamilah
versi 2.0. http://www.alwarraq.com
Baidan, Nashruddin. 2005. Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Bakker, Anton, dan Zubair, Charris, Achmad. 1990. Metodologi
Penelitian Filsafat. Jogjakarta: Kanisius.
Bell, Judith. 2006. Doing Your Research Project. Terjemahan oleh
Jacobus Embu Lato. Jakarta: PT INDEKS.
Fath, Kutwa, dkk. 2003. Pedoman Penulisan Skripsi (PPS). Sumenep
Madura: Al-Amien Printing.
Hamidi. 2007. Metode Penelitian Dan Teori Komunikasi; Pendekatan
Praktis Penulisan Dan Laporan Penelitian. Malang: UMM Press.
Jauziyah, Ibnu Qayyim Al-. 1986. Al-Amtsaal Fii Al-Qur’aan Al-
Kariim. Thontho: Maktabah As-Shohabah. Al-Maktabah Al-
Syaamilah versi 2.0. http://www.alwarraq.com
Kaelan. 2005. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta:
Paradigma.
Lwrence, Bruce. 2008. The Quran A Bioghraphy. Bandung: SEMESTA

19
Inspirasi
Manawy, M. Abdurro’uf Al-. 1410. Al-Tauqiif ‘Ala Muhimmaat Al-
Ta’aarif. Beirut: Daar Al-Fikr. Al-Maktabah Al-Syaamilah versi
2.0. http://www.alwarraq.com.
Moleong, Lexi J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Rosda.
Muslim, Musthafa. 1989. Mabaahits Fii Al-Tafsiir Al-Mauduu'i. Beirut:
Daar El-Qolam
Naisaburi, Ahmad Al-Wahidi Al-, 1968. Asbaab Al-Nuzuul. Kiro:
mussasah al-halaby. Al-Maktabah Al-Syaamilah versi 2.0.
http://www.alwarraq.com

Nur Tanjung, Bahdin dan Radial, H. 2005. Pedoman Penulisan Karya


Ilmiah (Proposal, Skripsi, Dan Tesis); Dan Mempersiapkan Diri
Menjadi Penulis Artikel Ilmiah. Jakarta: Kencana.
Qattan, Manna' Al-. 1973. Mabaahits Fii Uluum Al-Qur'aan. Surabaya:
Hidayah
Saifullah dkk. 2004. Ulumul Qur'an. Ponorogo: Prodial Pratama Sejati
(PPS) Press.
Suyuthi, Jalaludin. Tt. Al-Itqoon Fii Uluum Al-Qur'aan. Al-Maktabah
Al-Syaamilah versi 2.0. http://www.alwarraq.com
Shaleh, Syukri Ahmad. 2007. Metodologi Tafsir Al-Qur'an Kontemporer
Dalam Pandangan Fazlul Rahman. Jakarta: Gaung Persada Press
Jakarta
Shalih, Muhammdad Zakki. 2007. Al-Tartiib Wa Al-Bayaan ‘An Tafshiili
AAyi Al-Qur’aan. Terjemahan oleh Mochtar Zoerni, B.A.
Surabaya: Bina Ilmu
Shihab, Quraish. 2004. Membumikan Al-Qur'an. Bandung: PT Mizan
Pustaka
_____________.2007. Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Tematik Atas
Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: PT Mizan Pustaka
Syafi’i, Rachmat. 2006. Pengantar Ilmu Tafsir. Bandung: Pustaka Setia.
Yayasan Penyelenggara Al-Qur'an. 1989. Al-Qur'an dan Terjemahnya.
Surabaya: Departemen Agama Republik Indonesia.
Zarkasy, Abu ‘Abdullah Al-. 1391. Al-Burhaan Fii Uluum Al-Qur’aan.
Beirut: Daar El Ma’rifah. Al-Maktabah Al-Syaamilah versi 2.0.
http://www.alwarraq.com