Anda di halaman 1dari 7

PENGUKURAN DEBIT AIR

Carissa Paresky Arisagy


12 / 334991 / PN / 12981
Manajemen Sumberdaya Perikanan

Intisari
Debit adalah banyaknya air yang mengalir melalui suatu penampang melintang tiap satuan
waktu. Untuk mengetahui cara pengukuran dan perhitungan debit air, maka dilakukan
praktikum pengukuran debit air yang dilaksanakan pada hari Jumat, 18 Oktober 2013
bertempat di saluran air kolam perikanan Universitas Gadjah Mada serta pada aliran selokan
Mataram. Tujuan dari pengukuran debit air adalah untuk mengetahui metode yang digunakan
dan cara penghitungan debit air. Adapun metode-metode yang digunakan dalam pengukuran
debit air meliputi Embodys float method, Rectangular weir dan 90 Triangular nocth weir.
Pengukuran debit dipengaruhi oleh angin, arus air, kedalaman, kondisi subtrat, kemiringan
perairan, serta ukuran saluran. Hasil pengukuran debit air menggunakan Embodys float
method sebesar 1,189 x 10
-1
m
3
/s dan 1,395 x 10
-1
m
3
/s, dengan Rectangular weir sebesar 8,9
x 10
-2
cfs dan 4,381 x 10
-2
cfs, sementara dengan menggunakan 90 Triangular nocth weir
sebesar 3,5 x 10
-2
cfs dan 3,592 x 10
-3
cfs. Metode yang paling efektif untuk pengukuran debit
air dari keseluruhan lokasi praktikum adalah Embodys float method, karena metode ini paling
aplikatif dibandingkan dengan metode yang lainnya.

Kata kunci : air, arus, debit, metode, saluran

PENDAHULUAN
Kegiatan budidaya perikanan sangat dipengaruhi oleh sumber air. Air merupakan hal
yang penting terutama bagi kegiatan budidaya. Untuk menunjang kegiatan tersebut diperlukan
air yang benar-benar memiliki kualitas air yang baik bagi makhluk hidup, khususnya ikan
karena nantinya air akan menjadi media hidup bagi ikan di dalam kolam. Pada kegiatan
budidaya, jumlah air yang diperlukan untuk mengairi kolam-kolam budidaya harus cukup dan
tersedia sepanjang masa budidaya. Untuk menjaga ketersediaan air pada kawasan tersebut
diperlukan sistem manajemen pengelolaan air yang baik. Salah satu cara untuk mengontrol
jumlah air yang diperlukan pada kegiatan budidaya adalah dengan mengetahui jumlah air
yang mengalir menuju kolam budidaya. Jumlah air yang mengalir tersebut dapat ditentukan
dengan mengukur debit air saluran, dengan demikian laju penggunaan air pada kolam
budidaya dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan suatu lahan tertentu. Karena pentingnya
pengukuran debit air dalam manajemen pengelolaan air tersebut, maka dirasa perlu untuk
mengetahui dan memahami lebih lanjut tentang pengukuran debit air melalui praktikum
limnologi.
Menurut Asdak (1995), debit aliran adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air)
yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Arus sebagai salah satu
faktor pembatas pada ekosistem sungai memiliki kaitan yang erat dengan debit air yang
mengalir dalam ekosistem sungai (Odum, 1993). Semakin besar kecepatan arus yang mengalir
pada suatu perairan berarti semakin besar pula debit airnya. Menurut Wetzel (2001),
pengukuran debit air dapat menggunakan beberapa metode, antara lain Embodys float
method, Rectangular weir dan 90 Triangular nocth weir. Embodys float method merupakan
suatu pengukuran secara kasar kecepatan aliran air dari perairan dengan menggunakan benda
yang mengapung dari jarak dan waktu yang telah ditentukan (Sumawidjaya, 1981). Debit air
akan mengalami peningkatan apabila air menuruni perbukitan. Hal tersebut dikarenakan oleh
peningkatan kecepatan aliran juga karena tambahan air yang mengalir dari sumber-sumber air
permukaan maupun air bawah tanah (Whitten dkk., 1999). Pengukuran debit air berguna
penting untuk mengetahui kemampuan perairan untuk dapat dimanfaatkan secara optimal
(Bronmark dan Hansson, 1998).
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara pengukuran debit air dengan berbagai
macam metode. Selain itu, praktikum ini dilakukan untuk mengetahui cara menghitung debit
air. Kemudian membandingkan metode yang lebih efektif dalam pengukuran debit air.

METODOLOGI
Praktikum pengukuran debit air ini dilakukan pada hari Jumat, tanggal 18 Oktober
2013 pada pukul 13.30 WIB hingga pukul 16.30 WIB. Tempat pelaksanaan praktikum ini
berada di saluran air kolam Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada
serta pada aliran Selokan Mataram. Pengukuran debit air dengan menggunakan metode
Rectangular weir dan 90 Triangular nocth weir lokasi praktikumnya dibagi menjadi dua
bagian, yaitu pada saluran I dan saluran II. Sementara, untuk Embodys float method,
dilakukan di aliran selokan Mataram yang melintasi jurusan Perikanan Universitas Gadjah
Mada.
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran debit air antara lain bola
pingpong, meteran, Rectangular weir, 90 Triangular north weir, timer/stopwatch, penggaris
dan alat tulis. Metode yang digunakan pada pengukuran debit air kali ini dengan Embodys
float method, Rectangular weir dan 90 Triangular nocth weir.
Pada setiap saluran dilakukan pengukuran debit air menggunakan tiga metode, yaitu
Embodys float method, Rectangular weir dan 90 Triangular nocth weir. Embodys float
method dilakukan dengan menentukan panjang selokan yang akan diukur kecepatan arusnya,
menghitung waktu yang digunakan bola ping pong untuk menempuh jarak yang telah
ditentukan. Konstanta perairan diketahui dengan melihat keadaan dasar perairan. Mengukur
kedalaman selokan yang akan diukur debit airnya. Debit air dapat dihitung dengan rumus: R =
WDAL/T, dimana R = debit air (m3/s), W = lebar selokan (m), D = kedalaman selokan (m),
L = jarak yang ditempuh (m), A = konstanta, dan T = waktu tempuh pelampung (sekon).
Metode Rectangular weir dan 90
o
Triangular nocth weir, memiliki cara kerja yang hampir
sama, yakni dengan menentukan lebar weir, membendung selokan, mengukur tinggi perairan,
dan mengukur ketinggian air. Rumus untuk menghitung debit air dengan metode Rectangular
weir adalah Q = 3,33 x H
3/2
(L-0,2H), dimana Q = debit air (cfs), H = tinggi weir (feet), dan L
= lebar weir (feet). Sementara Rumus untuk menghitung debit air dengan metode 90
o

Triangular nocth weir adalah Q = 2,54 x H, dimana Q = debit air (cfs), dan H = tinggi weir
(feet).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan dan pengukuran debit air di masing-masing lokasi dapat dilihat
pada tabel 1. Masing-masing metode memberikan gambaran fisik yang bervariasi dari
masing-masing saluran.
Tabel 1. Data pengukuran debit air
Metode Lokasi Hasil 1 Hasil 2
Embody's Float (m
3
/s)
Sungai I 0,1189 -
Sungai II 0,1395 -
Rectangular Weir (cfs)
Sungai I 0,0890 0,0789
Sungai II 0,0438 0,06147
90oC Triangular Notch Weir (cfs)
Sungai I 0,0350 0,0279
Sungai II 0,003592 0,0158

Debit air adalah besarnya aliran yang mengalir melalui suatu penampang melintang
per satuan waktu, biasanya dinyatakan dalam satuan meter per detik atau liter per detik
(Cholik, 1991). Debit air juga dapat diartikan sebagai volume air yang mengalir ke satu titik
tiap satuan luas (Welch, 1948). Debit air dipengaruhi oleh bentuk saluran air, kondisi dasar
perairan, ukuran saluran air, dan kemiringan lahan (Sumawidjaja, 1991). Semakin besar
ukuran batuan pada dasar perairan dan semakin tinggi curah hujan, pergerakan air akan
semakin kuat dan kecepatan arus semakin tinggi, sehingga akan mempengaruhi debit air
(Effendy, 2003).
Dalam praktikum ini metode-metode yang digunakan untuk mengukur debit air antara
lain Embodys float method, Rectangular weir dan 90 Triangular nocth weir. Pada percobaan
pengukuran debit air dengan menggunakan metode Embodys float yang pertama diperoleh
hasil 1,189 x 10
-1
m
3
/s, sementara pada pengukuran kedua diperoleh hasil 1,395 x 10
-1
m
3
/s
perbedaan dari kedua hasil tersebut tidak terlalu signifikan. Perbedaan tersebut dapat
disebabkan oleh perbedaan waktu tempuh pada masing-masing pelampung (ping-pong).
Perbedaan waktu tempuh tersebut dapat diakibatkan oleh faktor lingkungan. Faktor
lingkungan seperti angin atau hambatan berupa sampah, bebatuan dapat mempengaruhi laju
pelampung, sehingga menyebabkan perbedaan waktu tempuhnya. Selain itu bentuk pingiran
serta bentuk dasar perairan yang tidak rata juga dapat mempengaruhi akurasi nilai debit air
yang diperoleh (Subiantoro, 2007).
Berdasarkan hasil percobaan antara metode Rectangular weir dan 90 Triangular
nocth weir pada saluran I menunjukkan hasil pengukuran debit air sebesar 0,089 cfs dan 0,035
cfs. Berdasarkan kedua hasil tersebut terdapat perbedaan antara kedua hasil tersebut. Hal
tersebut dapat diakibatkan oleh adanya perbedaan nilai H dari masing-masing percobaan.
Perbedaan nilai H tersebut dapat diakibatkan oleh adanya perbedaan ketinggian aliran air
yang melewati weir.
Pada saluran II, apabila dibandingkan antara kedua metode yang dilakukan yakni
Rectangular weir dan 90 Triangular nocth weir, memperoleh hasil 4,381 x 10
-2
cfs untuk
pengukuran debit air dengan metode Rectangular weir dan 3,592 x 10
-2
cfs untuk pengukuran
debit air dengan metode 90 Triangular nocth weir.
Apabila dibandingkan secara keseluruhan pada saluran II, metode yang lebih cocok
digunakan adalah Embodys float method, sebab metode tersebut lebih mudah diaplikasikan
pada berbagai jenis saluran. Meskipun menurut Subiantoro (1997), metode 90 Triangular
nocth weir memiliki hasil perhitungan yang relatif efektif (lebih teliti) dari pada pendugaan
metode lain, sebab dengan metode tersebut prinsip-prinsip hidrolika dapat diterapkan. Akan
tetapi, metode 90 Triangular nocth weir tidak mudah diaplikasikan pada perairan dengan
saluran yang lebar.
Pada saluran I metode yang lebih cocok digunakan adalah Embodys float method.
Metode tersebut lebih bersifat universal dibandingkan dengan metode-metode lainnya. Sebab
akan sulit menghitung / menentukan nilai debit air dengan menggunakan Weir di saluran yang
lebar, maupun pada saluran yang berkedaaman rendah.
Pada praktikum ini pengukuran debit air dengan Embodys float method dilakukan di
aliran selokan Mataram yang melintasi Jurusan Perikanan UGM. Bentuk saluran tersebut
besar dan kedalamannya rendah. Substrat pada saluran tersebut adalah berbatu, sehingga
konstanta perairannya 0,8. Percobaan Embodys float method dilakukan dengan
menghanyutkan bola ping-pong sebanyak 3x. Sementara pengukuran debit air dengan metode
Rectangular weir dan 90 Triangular nocth weir dilakukan di saluran perairan kolam Jurusan
Perikanan UGM yang dibagi dalam dua saluran dengan 2x pengukuran pada masing-masing
saluran. Kedua saluran yang digunakan dalam pengukuran tersebut memiliki dasr yang
berlumpur sehingga konstanta perairannya 0,9.
Pengukuran debit air dengan metode Embodys float, Rectangular weir dan 90
Triangular nocth weir tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Seperti
Embodys float method merupakan metode pengukuran yang paling sederhana sehingga setiap
orang dapat melakukannya, sebab hanya membutuhkan alat-alat yang sederhana seperti
meteran, bola ping-pong, dan stopwatch. Hal tersebutlah yang menyebabkan metode
Embodys float mudah diaplikasikan baik pada perairan dangkal maupun dalam. Pada
percobaan pengukuran debit air dengan metode Embodys float tampak kurang akurat sebab
pelampung (bola ping-pong) tidak bergerak lurus melainkan berkelak-kelok, sehingga
mempengaruhi hasil debit. Bola tidak berjalan lurus sebab saluran air yang digunakan lebar.
Embodys float method akan lebih efektif apabila digunakan pada saluran air yang kecil.
Kekurangan metode Embodys float adalah metode tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor
luar seperti angin dan gangguan permukaan (Subiantoro, 2007). Kelebihan metode
Rectangular weir adalah tidak membutuhkan banyak pengukuran dan tidak terpengaruh oleh
konstanta periran, sementara kekurangannya adalah untuk mengaplikasikannya sulit sebab
harus membuat weir terlebih dahulu, selain itu saat dibendung juga ada beberapa air yang
lolos, serta sulitnya dalam mengatur ketinggian air saat membendung. Kelebihan metode 90
Triangular notch weir adalah tidak memerlukan banyak pengukuran., sehingga meminimalisir
kesalahan, tidak terpengaruh konstanta perairan, data yang diperoleh lebih teliti dan akurat
karena prinsip-prinsip hidrolika dapat diterapkan. Metode 90 Triangular notch weir cocok
digunakan pada perairan yang kecil dan kurang efektif apabila diterapkan pada perairan yang
lebar maupun pada perairan yang memiliki nilai kedalaman yang rendah. Meskipun bisa
dilakukan pada perairan yang lebar dan besar, namun akan dibutuhkan biaya yang besar untuk
membangun weir menurut Sastrodarsono (1995).
Berdasarkan teori memang metode 90 Triangular notch weir merupakan metode
yang paling efektif karena memiliki tingkat ketelitian yang tinggi, namun apabila ditinjau dari
keseluruhan saluran menurut saya metode yang paling sesuai untuk praktikum ini adalah
Embodys float method, sebab metode ini mudah diaplikasikan baik pada saluran air kolam
Jurusan Perikanan maupun pada aliran selokan Mataram yang melintasi Jurusan Perikanan.
Berbeda dengan metode 90 Triangular notch weir yang apabila diaplikasikan pada
penggukuran debit air sungai yang melintasi Jurusan Perikanan UGM, akan sulit dilakukan
dan ditentukan nilai debit airnya, sebab pada saluran ini kedalaman airnya sangat rendah. Di
samping itu, bentuk dasarnya pun tidak beraturan dengan bentuk saluran yang besar. Dengan
demikian akan sulit untuk membuat bendungan untuk mengukur debit airnya sehingga
menurut saya pengukuran debit air dengan menggunakan metode ini kurang efektif.
Debit air dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah bentuk saluran air,
kondisi dasar perairan, ukuran saluran air dan kemiringan lahan (Sumawidjaja, 1991).
Semakin besar ukuran bebatuan pada dasar perairan dan semakin tinggi curah hujan,
pergerakan air akan semakin kuat dan kecepatan arus akan semakin tinggi, sehingga akan
mempengaruhi debit air (Effendy, 2003).
Pengukuran debit air sangat penting dalam bidang perikanan, terutama untuk program
studi Manajemen Sumberdaya Perikanan. Pada program studi tersebut ilmu tentang
pengukuran debit air dapat diaplikasikan pada bidang konservasi lingkungan perairan,
khususnya pada perairan lentik. Pengukuran debit air tersebut dapat digunakan sebagai dasar
penentuan kualitas lingkungan perairan.
Di samping itu, pengukuran debit air juga berguna untuk mengetahui organisme yang mampu
hidup atau mendiami lingkungan periran dengan debit-debit tertentu untuk keperluan
klasifikasi. Selain itu, ilmu tentang pengukuran debit air juga dapat bermanfaat untuk
penanggulangan banjir serta pencegahan dampak banjir agar dapat segera dilakukan langkah-
langkah selanjutnya.

KESIMPULAN
Pengukuran debit air dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu Embodys float,
Rectangular weir dan 90 Triangular notch weir. Debit air dihitung berdasarkan volume air
yang mengalir ke satu titik tiap satuan luasnya. Debit juga dapat dihitung berdasarkan
besarnya aliran air yang mengalir melalui penampang melintang tiap satuan waktu. Metode
yang efektif untuk mengukur debit air pada saluran air kolam Jurusan Perikanan UGM adalah
90 Triangular notch weir, sedangkan pada aliran selokan Mataram Embodys float method
lebih efektif untuk digunakan. Secara keseluruhan dari berbagai macam saluran yang diuji,
metode yang paling efektif dalam pengukuran debit air adalah Embodys float method.

SARAN
Untuk mempermudah dalam membandingkan metode yang sesuai, perlu diberikan
nilai standar debit air dari masing-masing lokasi percobaan, sehingga dapat lebih mudah
untuk menentukan metode yang terbaik. Nilai standar debit air tersebut dapat ditentukan
dengan menggunakan alat-alat pengukuran yang lebih modern dan akurat seperti misalnya
water current meter.

DAFTAR PUSTAKA
Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
Bronmark, C dan L.A. Hansson. 1998. The Biology of Lakes and Ponds. Oxford University
Press. Oxford. 216p.
Cholik. 1991. Produktivitas Primer Perairan Bendung Gerak Seraya (BGS) di Kabupaten
Banyumas. Seminar Nasional Limnologi. Perhimpunan Biologi Indonesia Cabang
Yogyakarta.
Effendy, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Odum, E. P. 1993. Dasar Dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Sastrodarsono, T. 1995. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan. PT Pradnaya Paramita.
Jakarta.
Subiantoro. 1997. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Universitas
Indonesia Press. Jakarta.
Sumawidjadja, K. 1991. Limnologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Welch, P. S. 1948. Lymnological Method. McGraw-Hill Book Company Inc. New York.
Wetzel, R. G. 2001. Limnology; Lake and River Ecosystems. Academic Press. New York.
Whitten, T. R. E. 1991. Ekologi Jawa-Bali. Prehallindo, Jakarta.