Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN SMALL GROUP DISCUSSION (SGD)

BLOK CIRCULATION AND OXYGENATION (COB)


SEMESTER IV

HIPERVENTILASI ATAU HIPOVENTILASI

Oleh:
Nadya Gita Puspita
I1B015002
Kelompok 7

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU- ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2017
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jantung merupakan salah satu organ yang berperan penting bagi tubuh manusia
yang terletak di dalam rongga dada. Organ tersebut memiliki fungsi sebagai alat
pemompa darah dan berperan dalam sistem sirkulasi. Jaringan tubuh harus
mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah untuk proses
metabolisme (Ross & Wilson, 2011).

Jantung yang berkaitan erat dengan organ- organ lain di dalam tubuh apabila
terganggu fungsinya maka organ lain juga mengalami gangguan. Contoh dari
penyakit jantung diantaranya kardiomiopati, penyakit jantung reumatik, penyakit
jantung koroner dan penyakit katup jantung. Jantung terdiri dari empat katup yaitu
katup trikuspid, katup mitral (bikuspidalis), katup pulmonalis dan katup aorta.
Apabila katup- katup tersebut mengalami stenosis (penyempitan) dan regurgitasi
(pembocoran) maka kerja jantung menjadi terhambat. Terdapat beberapa masalah
yang diakibatkan oleh penyakit katup jantung yaitu mitral stenosis, mitral
regurgitasi, aorta stenosis dan aorta regurgitasi (Ross & Wilson, 2011).

1.2 Tujuan
Tujuan dari diskusi tentang hiperventilasi atau hipoventilasi yaitu untuk
mengetahui empat proses pernapasan, mekanisme pengaturan pernapasan melalui
sistem saraf pusat, perbedaan mekanisme pernapasan secara baroreseptor dan
kemoreseptor, mekanisme kompensasi pernapasan hiperventilasi dan hipoventilasi,
mekanisme klinis pasien yang mengalami hipoventilasi dan hiperventilasi dan
masalah keperawatan terkait hipoventilasi dan hiperventilasi.
BAB II. HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Proses Pernafasan


Menurut Syaifuddin (2006), paru merupakan tempat pertukaran gas
karbondioksida dan oksigen pada pernafasan eksterna ataupun melalui paru itu
sendiri. Tubuh manusia akan melakukan usaha memenuhi oksigen untuk proses
metabolisme dan mengeluarkan karbondioksida. Proses pernafasan itu sendiri
terbagi menjadi empat tahap, yaitu:

1.Ventilasi

4. Proses 2.
Perfusi Pernafasan Difusi

3. Transport
Gas

1. Ventilasi
Ventilasi merupakan suatu proses pertukaran udara antara atmosfer dengan
alveoli, dimana masuknya udara ke dalam paru (inspirasi) serta keluarnya
karbondioksida dari alveoli ke udara luar (ekspirasi). Ventilasi terjadi karena
adanya suatu perubahan tekanan intra pulmonal, ketika fase ekspirasi tekanan
intrapulmonal menjadi lebih tinggi daripada atmosfer sehingga udara akan
keluar dari paru. Sedangkan pada fase inspirasi tekanan pada tekanan intra
pulmonal lebih rendah daripada tekanan atmosfer sehingga udara yang ada di
atmosfer akan masuk ke dalam paru. Perubahan tekanan intra pulmonal tersebut
disebabkan karena perubahan volume thorax karena kerja dari otot- otot
pernafasan dan diagfragma (Price & Wilson, 2006).
Alveoli yang telah mengembang tidak dapat mengempis penuh karena masih
terdapat udara yang tersisa di dalam alveoli dan tidak dapat dikeluarkan
meskipun dengan ekspirasi kuat. Volume udara yang tersisa di dalam alveolus
disebut dengan volume residu. Volume residu ini sangat penting karena
menyediakan oksigen (Guyton, 2007).

2. Difusi
Difusi merupakan proses berpindahan oksigen dari alveoli ke dalam darah,
serta keluarnya karbondioksida dari darah ke alveoli. Difusi dapat terjadi karena
perbedaan tekanan, daerah yang bertekanan tinggi ke tekanan rendah. Dalam
keadaan beristirahat normal, difusi dan keseimbangan antara O2 di kapiler darah
paru dan alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total waktu kontak
selama 0,75 detik. Hal ini menimbulkan kesan bahwa paru normal memiliki
cukup cadangan waktu difusi. Ada beberapa faktor yang berpengaruh pada
difusi gas dalam paru yaitu, faktor membran, faktor darah dan faktor sirkulasi
(Guyton, 2007).

3. Transport Gas
Transportasi gas merupakan proses pendistribusian O2 kapiler ke jaringan
tubuh dan CO2 jaringan tubuh ke kapiler. Pada proses transportasi O2 akan
berikatan dengan Hb membentuk oksihemoglobin (97%) dan larut dalam plasma
(3%), sedangkan CO2 akan berikatan dengan Hb membentuk
karbominohemoglobin (30%) larut dalam plasma (5%) dan sebagian menjadi
HCO3 yang berada dalam darah (65%). Saat istirahat, 5 ml oksigen
ditransportasikan oleh 100 ml darah setiap menit. Jika curah jantung 5000
ml/menit maka jumlah oksigen yang akan diberikan ke jaringan sekitar 250
ml/menit. Saat olah raga berat dapat meningkat 15 – 20 kali lipat. Transportasi
gas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu cardiac ouput, kondisi
pembuluh darah, latihan (exercise), perbandingan sel darah selara keseluruhan
(hematokrit), serta eritrosit dan kadar Hb (Hidayat, 2006).
4. Perfusi
Perfusi merupakan proses mengalirnya darah dari arteri pulmonal menuju
kapiler pulmonal. Darah ini memperfusi paru bagian respirasi dan ikut serta
dalam proses pertukaan oksigen dan karbondioksida di kapiler dan alveolus.
Sirkulasi paru merupakan 8-9% dari curah jantung. Sirkulasi paru bersifat
fleksibel dan dapat mengakomodasi variasi volume darah yang besar sehingga
digunakan jika sewaktu-waktu terjadi penurunan volume atau tekanan darah
sistemik. Dalam keadaan normal, jumlah aliran darah yang menuju kapiler
pulmonal hampir sama dengan jumlah cardiac output. Pada orang dewasa
dengan berat 50 kg, CO 5 liter/menit, jika ventilasi permenit (MV) 4 liter maka
perbandingan ventilasi (V) dengan perfusi (Q) adalah 0,8 (Siregar & Amalia,
2004).

2.2 Mekanisme Pengaturan Pernafasan Melalui Sistem Saraf Pusat


Otot-otot pernafasan diatur oleh pusat pernafasan yang terdiri dari neuron dan
reseptor pada pons dan medulla oblongata. Pusat pernafasan merupakan bagian
sistem saraf yang mengatur semua aspek pernafasan. Faktor utama pada pengaturan
pernafasan adalah respon dari pusat kemoreseptor dalam pusat pernafasan terhadap
tekanan parsial (tegangan) karbondioksida (PaCO2) dan pH darah arteri.

Peningkatan PaCO2 atau penurunan pH merangsang pernafasan. Penurunan tekanan

parsial O2 dalam darah arteri PaO2 dapat juga merangsang ventilasi. Kemoreseptor

perifer yang terdapat dalam badan karotis pada bifurkasio arteria karotis komunis
dan dalam badan aorta pada arkus aorta peka terhadap penurunan PaO2 dan pH serta

peningkatan PaCO2. Akan tetapi PaO2 harus turun dari nilai normal kira-kira

sebesar 90-100 mmHg hingga mencapai sekitar 60 mmHg sebelum ventilasi


mendapat rangsangan yang cukup berarti (Price dan Wilson, 2006).
Sumber: Mutaqqin (2008)

Menurut Guyton (2008), pengendalian pernafasan melalui sistem saraf pusat, yaitu:

1. Korteks Cerebri
Korteks cerebri berperan dalam pengaturan pernapasan yang bersifat
volunter sehingga memungkinkan untuk mengatur napas dan menahan napas.
Sebagai contoh, pada saat bicara atau makan.

2. Medulla Oblongata
Terletak pada batang otak, berperan dalam pernapasan automatik atau
spontan. Pada kedua oblongata terdapat dua kelompok neuron yaitu Dorsal
Respiratory Group (DRG) yang terletak pada bagian dorsal medulla dan Ventral
Respiratory Group (VRG) yang terletak pada ventral lateral medulla. Kedua
neuron ini berperan dalam pengaturan irama pernapasan. DRG terdiri dari
neuron yang mengatur serabut lower motor neuron yang mensyarafi otot-otot
inspirasi seperti otot intercosta interna dan diafragma untuk gerakan inspirasi
dan sebagian kecil neuron akan berjalan ke kelompok ventral. Sedangkan pada
ventral (VRG) terdiri dari neuron inspirasi dan neuron ekspirasi. Pada saat
pernafasan tenang atau normal kelompok ventral tidak aktif, tetapi jika
kebutuhan ventilasi meningkat, neuron inspirasi pada kelompok ventral
diaktifkan melalui rangsangan kelompok dorsal. Impuls dari neuron inspirasi
kelompok ventral akan merangsang motor neuron yang mensyarafi.

3. Pons
Pada pons terdapat 2 pusat pernapasan yaitu pusat apneutik dan pusat
pnumotaksis. Pusat apneutik terletak di formasio retikularis pons bagian bawah.
Fungsi pusat apneutik adalah untuk mengkoordinasi transisi antara inspirasi dan
ekspirasi dengan cara mengirimkan rangsangan impuls pada area inspirasi dan
menghambat ekspirasi. Sedangkan pusat pneumotaksis terletak di pons bagian
atas. Impuls dari pusat pneumotaksis adalah membatasi durasi inspirasi, tetapi
meningkatkan frekuensi respirasi sehingga irama respirasi menjadi halus dan
teratur, proses inspirasi dan ekspirasi berjalan secara teratur pula.
2.3 Mekanisme Pernafasan secara Baroreseptor dan Kemoreseptor
Menurut Sherwood (2006), perbedaan mekanisme pernafasan baroreseptor dan
kemoreseptor, yaitu:
a. Pernafasan Baroreseptor
Baroreseptor terdapat di sinus karotis dan arkus aorta yang bekerja sangat
cepat untuk mengkompensasi perubahan tekanan darah. Secara kontinu,
baroreseptor menghasilkan potensial aksi sebagai respon terhadap tekanan di
dalam arteri. Jika tekanan arteri meningkat, potensial aksi juga akan meningkat
sehingga kecepatan pembentukan potensial aksi di neuron eferen yang
bersangkutan juga akan meningkat. Begitu juga sebaliknya saat terjadi
penurunan tekanan darah. Di saat tekanan arteri terlalu tinggi, pusat kontrol
kardiovaskuler berespon dengan mengurangi aktivitas simpatis dan
meningkatkan aktivitas parasimpatis. Sinyal-sinyal eferen ini menurunkan
kecepatan denyut jantung, menurunkan volume sekuncup, menimbulkan
vasodilatasi arteriol dan vena serta menurunkan curah jantung dan resistensi
perifer total, sehingga tekanan darah kembali normal. Begitu juga sebaliknya
jika tekanan darah turun di bawah normal.
b. Pernafasan Kemoreseptor
Kemoreseptor tersebut peka terhadap kadar O2 rendah atau keasaman tinggi
pada darah. Fungsi utama dari kemoreseptor yaitu secara refleks meningkatkan
aktivitas pernapasan sehingga lebih banyak O2 yang masuk atau lebih banyak
CO2 pembentuk asam yang ke luar. Apabila kandungan oksigen turun atau
kadar karbondioksida dalam darah meningkat, maka kemoreseptor yang berada
di arkus aorta dan pembuluh-pembuluh darah besar di leher mengirim impuls ke
pusat vasomotor dan terjadilah vasokonstriksi, selanjutnya peningkatan tekanan
darah membantu mempercepat darah kembali ke jantung dan ke paru. Dengan
meningkatnya tekanan darah akan mengakibatkan peningkatan pada pengiriman
potensial aksi ke pusat pengontrolan kardiovaskuler. Di samping itu reseptor ini
juga akan menyampaikan impuls eksitatorik ke pusat kardiovaskuler.

2.4 Mekanisme Kompensasi Pernafasan Hiperventilasi dan Hipoventilasi


2.4.1 Hiperventilasi
Menurut Price & Wilson (2006), hiperventilasi merupakan upaya tubuh
dalam meningkatkan jumlah O2 dalam paru agar pernafasan lebih cepat dan
dalam. Hiperventilasi dapat disebabkan karena kecemasan, infeksi, keracunan
obat-obatan, keseimbangan asam basa seperti osidosis metabolic. Tanda-
tanda hiperventilasi adalah takikardi, nafas pendek, nyeri dada, menurunnya
konsentrasi dan disorientasi. Kompensasi pada hiperventilasi yaitu:
2.4.2 Hipoventilasi
Terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi
penggunaan O2 tubuh atau untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup. Biasanya
terjadi pada keadaaan atelektasis (Kolaps Paru). Tanda-tanda dan gejalanya
pada keadaan hipoventilasi adalah nyeri kepala, penurunan kesadaran,
disorientasi, ketidak seimbangan elektrolit (Tarwoto dan Wartonah, 2006).
Menurut Price & Wilson (2006), mekanisme kompensasi pada hipoventilasi,
yaitu mekanisme buffer tetapi hanya berperan sedikit.

2.5 Mekanisme Klinis Pasien yang mengalami Hiperventilasi dan Hipoventilasi


Menurut Price & Wilson (2006), mekanisme klinis yang terjadi pada pasien yang
mengalami hiperventilasi pada umumnya ventilasi alveolus yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan metabolisme yang berlebihan. Hal tersebut akan
menyebabkan alkalosis (peningkatan pH darah melebihi pH normal 7,4) akibat
ekskresi CO2 berlebihan dari paru. Penurunan PCO2 pada hiperventilasi akan
menyebabkan reaksi bergeser ke kiri sehingga menyebabkan terjadi penurunan
konsentrasi H+ (kenaikan pH).
Menurut Price & Wilson (2006), mekanisme klinis yang terjadi pada pasien
yang mengalami hipoventilasi (ventilasi alveolus yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan metabolisme) akan menyebabkan asidosis (penurunan) kadar pH darah
di bawah pH normal 7,4) akibat retensi CO2 oleh paru. Peningkatan PCO2
menyebabkan reaksi menuju ke kanan, menimbulkan kenaikan H+ (penurunan pH).
Hipoventilasi terjadi pada keadaan yang mempengaruhi pompa pernapasan. Retensi
CO2 juga dihubungkan dengan emfisema dan bronkitis kronik akibat udara yang
terperangkap dalam paru.
2.6 Masalah Keperawatan terkait Hiperventilasi dan Hipoventilasi
Masalah keperawatan terkait pada hipoventilasi dan hiperventilasi dalam NANDA,
yaitu:
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi dan
hipoventilasi
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan hipoventilasi
3. Perfusi jaringan kardiopulmonal tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi
4. Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan HR dan irama
jantung
BAB III. KESIMPULAN

Dari uraian bab-bab sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa jantung


terdiri dari empat katup yaitu katup trikuspid, katup mitral (bikuspidalis), katup
pulmonalis dan katup aorta. Katup semilunaris (katup arteri pulmonalis dan
katup aorta) berfungsi untuk mencegah aliran balik darah yang berasal dari aorta
dan arteri pulmonalis kembali ke ventrikel selama diastolik. Sedangkan katup
Atrioventrikular (katup bikuspidalis dan katup trikuspidalis) berfungsi untuk
mencegah aliran balik darah yang berasal dari ventrikel menuju ke atrium
selama fase sistolik. Mekanisme kerja katup jantung yaitu katup akan menutup
apabila tekanan distal lebih besar daripada tekanan dalam ruang proksimal
katup, sedangkan katup akan membuka apabila tekanan dalam ruang jantung
yang terletak di proksimal katup lebih besar dari tekanan dalam ruang atau
pembuluh darah di sebelah distal katup.

Apabila katup- katup tersebut mengalami stenosis (penyempitan) dan


regurgitasi (pembocoran) maka kerja jantung menjadi terhambat. Terdapat
beberapa masalah yang diakibatkan oleh penyakit katup jantung yaitu mitral
stenosis, mitral regurgitasi, aorta stenosis dan aorta regurgitasi. Penatalaksanaan
gangguan katup jantung secara umum yaitu sangat dipengaruhi oleh derajat
kelainan katup dan gejala yang dialami pasien. Derajat penyakit jantung dapat
dikelompokkan berdasarkan derajat kelainan penyakit jantung katup, adanya
gejala dan gangguan irama jantung. Masalah keperawatan yang menjadi prioritas
utama gangguan katup jantung yaitu penurunan curah jantung berhubungan
dengan perubahan volume sekuncup.
DAFTAR PUSTAKA

Guyton, A.C. and Hall, J.E. 2006. Textbook of Medical Physiology. 11 th ed.
Philadelphia, PA, USA: Elsevier Saunders.

Guyton, A.C. & J.E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta:
EGC.

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. 2014. NANDA International Nursing Diagnoses:


Definitions & Classification, 2015–2017. 10nd ed. Oxford: Wiley Blackwell.

Price, S. A. dan Wilson, L. M. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis ProsesProses


Penyakit, Edisi 6, Volume 2. Jakarta: EGC.

Ross and Wilson. 2011. Dasar-dasar Anatomi dan Fisiologi. Salemba Medika:
Jakarta.

Syaifuddin, 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Ed 3. Jakarta:


EGC.